Anda di halaman 1dari 15

Proses Pengolahan Sampah Dengan Menggunakan Metode Insernasi,

Sanitary Landfill, Pembuatan Kompos Dan Daur Ulang

Revansyah Maullana1), M.Idris2), dan Ananda Ranu Bachtiar3).

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta,
Indonesia.

Tanggal naskah diusulkan: 04 Desember 2020

Abstrak
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya sebuah
proses. Sampah juga dapat didefenisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya,
dalam proses – proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah. Yang ada hanya produk –
produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Pengelolaan
sampah kota merupakan salah satu isu hangat yang telah banyak dibicarakan oleh masyarakat
dunia beberapa tahun belakangan ini. Di mana berkaitan juga dengan pelayanan sanitasi dan
pencegahan pencemaran lingkungan. Sampah perkotaan ini jika tidak diolah dengan baik,
dapat merusak estetika kota, menimbulkan bau dan mencemari lingkungan. Bau dapat timbul
karena dekomposisi anaerobik sampah yang mencapai kurang dari 1 % dari total emisi.
Meskipun hanya sedikit dampaknya, hal ini berakibat buruk bagi lingkungan baik fisik
maupun kimia. Dalam proses pengolahan limbah ada empat jenis pengolahan sampah yang
saat ini banyak diterapkan untuk pengolahan sampah yaitu teknologi pengomposan sampah,
teknologi pembakaran sampah, teknologi daur ulang sampah dan sanitary landfill.

Kata Kunci : Sanitary landfill, pengomposan, pembakaran, dan daur ulang sampah.

Abstract

Waste is unwanted residual material after the end of a process. Waste can also be
defined by humans according to the degree of use, in natural processes there is actually no
concept of waste. There are only products produced after and during this natural process.
Municipal waste management is one of the hot issues that has been widely discussed by the
world community in recent years. Where also related to sanitation services and prevention of
environmental pollution. If not treated properly, this urban waste can damage the aesthetics
of the city, cause odors and pollute the environment. Odors may arise due to the anaerobic
decomposition of waste which accounts for less than 1% of total emissions. Although only a
few impacts, this is bad for the environment both physically and chemically. In the waste
treatment process, there are four types of waste processing which are currently widely
applied to waste processing, namely waste composting technology, waste incineration
technology, waste recycling technology and sanitary landfill.

Keywords: Sanitary landfill, composting, incineration, and waste recycling.

1. PENDAHULUAN
Pengelolaan sampah kota merupakan salah satu isu hangat yang telah banyak
dibicarakan oleh masyarakat dunia beberapa tahun belakangan ini. Di mana berkaitan
juga dengan pelayanan sanitasi dan pencegahan pencemaran lingkungan. Sampah
perkotaan ini jika tidak diolah dengan baik, dapat merusak estetika kota, menimbulkan
bau dan mencemari lingkungan. Bau dapat timbul karena dekomposisi anaerobik sampah
yang mencapai kurang dari 1 % dari total emisi. Meskipun hanya sedikit dampaknya, hal
ini berakibat buruk bagi lingkungan baik fisik maupun kimia.
Pengelolaan limbah padat terpadu merupakan tugas yang mencakup pemenuhan
kendala dari aspek teknis, ekonomis dan sosial. Hal ini mengombinasikan antara jarak
pengumpulan dan meotde pengolahan yang digunakan untuk menangani semua material
dalam sampah dengan cara yang efektif, ramah lingkungan, ekonomis dan segi sosial
yang dapat diterima.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.18 Tahun 2008, pengelolaan
sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang
meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Terdapat 2 kelompok utama pengelolaan
sampah, yaitu:
a. Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari pembatasan
terjadinya sampah, guna-ulang dan daur-ulang.
b. Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari:
• Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai
dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.
• Pengumpulan: dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari
sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan
sampah terpadu.
• Pengangkutan: dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari
tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan
sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir.
• Pengolahan: dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah
sampah.
• Pemrosesan akhir sampah: dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau
residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Pada saat ini, Kabupaten Yogyakarta mempunyai 1 TPA yaitu TPA Jalupang. TPA
Jalupang sudah dioperasikan sejak tahun 2003 dan direncanakan berakhir operasinya
pada tahun 2013. Kapasitas daya tampung TPA Jalupang sebesar 400 ribu meter kubik.
Sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dibuang ke TPA Jalupang yang berada di Desa
Wancimekar Kecamatan Kota Baru. TPA ini mempunyai luas sekitar 2,5 Ha. Kondisinya
saat ini sudah mulai penuh karena hampir 90% dari total lahan yang sudah ada yaitu
sebesar 2,25 Ha dimanfaatkan untuk pembuangan sampah secara Open Dumping.

Pada tahun 2008, TPA ini sudah menggunakan sistem sanitary landfill. Tujuan dari
sanitary landfill adalah untuk mengisolasi limbah padat dari lingkungan. Hal ini berarti
bahwa tidak ada zat-zat berbahaya dari imbah padat yang bisa mencapai lingkungan
dalam jumlah yang tidak dapat diterima. Isolasi bahan limbah dari lingkungan dicapai
dengan menyediakan penghalang. Penghalang sebagian dibangun di atas tanah dan
sebagian di bawah permukaan tanah (subsurface). Hasil dari paket tersebut adalah
sebagai penahan yang bisa dibangun baik untuk tujuan sel sanitary baru TPA atau dalam
kasus upaya perbaikan pada TPA yang ada. Namun seiring dengan berjalannya waktu,
penerapan sanitary landfill belum berjalan secara optimal. Seperti halnya dalam hal
pengelolaan gas dan pengelolaan air lindi. Terlebih juga, sistem sanitary landfill juga
mempunyai umur pakai yang perlu diprediksi. Hal ini terkait dengan seberapa lama
sampah yang dapat ditimbun dalam suatu sel landfill. Harapannya terdapat upaya
pengembangan TPA sebagai bentuk antisipasi serta perpanjangan dari umur TPA saat ini.
Hingga saat ini belum dilakukan prediksi umur pakai landfill. Kekhawatiran dapat timbul
jika lahan TPA semakin sempit dan suatu saat nanti terjadi overload pada TPA.
Pengembangan TPA dapat berupa pembuatan sel landfill baru di area TPA ataupun
penambangan landfill (landfill mining) yang sudah ada, akan tetapi ruang lingkup
pengembangan yang dipilih untuk tugas akhir ini yaitu hanya pembuatan sel landfill
baru.

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tahap akhir dari pengelolaan sampah yaitu
pembuangan. Di mana pembuangan ini dilakukan di TPA, Tempat Pemrosesan Akhir.
Menurut UU No. 18 Tahun 2008, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) merupakan tempat
dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya. TPA merupakan tempat
dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap
lingkungan sekitarnya. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia
nomor 3 tahun 2013, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuangan
sampah di TPA ini. Pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud dilakukan dengan
menggunakan: a. metode lahan urug terkendali; b. metode lahan urug saniter; dan/atau c.
teknologi ramah lingkungan. Pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud dilakukan
di TPA, meliputi kegiatan: penimbunan/pemadatan; penutupan tanah; pengolahan lindi;
dan penanganan gas.

Dalam proses pengolahan limbah ada empat jenis pengolahan sampah yang
diterapkan untuk pengolahannya, yaitu :

1. Sanitary Landfill
Beberapa pengertian tentang sanitary landfill dari beberapa ahli persampahan
yang sebenarnya pada intinya tidak jauh berbeda. Sanitary Landfill adalah sistem
penimbunan sampah secara sehat dimana sampah dibuang di tempat yang rendah
atau parit yang digali untuk menampung sampah, lalu sampah ditimbun dengan
tanah yang dilakukan lapis demi lapis sedemikian rupa sehingga sampah tidak
berada di alam terbuka (Tchobanoglous et al., 1993). Sanitary landfill merupakan
sarana pengurugan sampah ke lingkungan yang disiapkan dan dioperasikan secara
sistematis, dengan penyebaran dan pemadatan sampah pada area pengurugan, serta
penutupan sampah setiap hari. Sanitary landfill merupakan metode yang dilengkapi
dengan sistem pengumpul gas dan instalasi pengelolaan lindi, sehingga
pencemaran yang disebabkan oleh TPA dapat diminimisasi dan dikontrol.
2. Pengomposan Sampah
Pengomposan merupakan salah cara dalam mengolah bahan padatan organik
untuk menjadi kompos yang secara nasional ketersediaan bahan organik dalam
sampah kota cukup melimpah yaitu antara 70–80 %. Sayangnya, sebagian besar
sampah kota belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai kompos. Pada dasarnya
pengomposan merupakan proses degradasi materi organik menjadi stabil melalui
reaksi biologis mikroorganisme dalam kondisi yang terkendali. Teknologi
pengomposan sampah yang dilakukan saat ini sangat beragam ditinjau dari segi
teknologi maupun kapasitas produksinya antara lain : pengomposan dengan cara
aerobik, pengomposan dengan cara semi aerobik, pengomposan dengan reaktor
cacing, dan pengomposan dengan menggunakan additive.
3. Pembakaran Sampah ( Insinerasi )
Insinerasi atau pembakaran sampah adalah teknologi pengolahan sampah yang
melibatkan pembakaran bahan organik. Insinerasi dan pengolahan sampah
bertemperatur tinggi lainnya didefinisikan sebagai pengolahan termal. Insinerasi
material sampah mengubah sampah menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran,
partikulat, dan panas. Teknologi pembakaran sampah dalam skala besar/skala kota
dilakukan di instalasi pembakaran yang disebut juga dengan insinerator. Dengan
teknologi ini, pengurangan sampah dapat mencapai 80 % dari sampah yang masuk,
sehingga hanya sekitar 20% yang merupakan sisa pembakaran yang harus dibuang
ke TPA. Sisa pembakaran ini relatif stabil dan tidak dapat membusuk lagi,
sehingga lebih mudah penanganannya. Pemanfaatan sisa abu hasil pembakaran ini
dapat digunakan antara lain sebagai pengganti tanah penutup lahan TPA, pasca
penambangan, sebagai tanah urug, sebagai campuran bahan konstruksi (batako,
paving block, dsb), dan sebagai campuran kompos. Teknologi ini kurang
direkomendasi mengingat proses pembakaran sampah menghasilkan gas-gas yang
dibuang ke udara dan bisa menyebabkan problem lain, seperti kerawanan gangguan
kesehatan akibat efek samping gas-gas pembakaran tersebut. Beberapa penelitian
yang dilakukan gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah berpotensi
menyebabkan karsinogenik.
4. Daur Ulang
Daur ulang adalah suatu proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi
bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat
menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru,
mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi
gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur
ulang juga merupakan salah satu strategi suatu pengelolaan sampah padat yang
terdiri atas pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, pendistribusian dan pembuatan
produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah
modern dan bagian ketiga dalam proses hierarki sampah 4R (Reduce, Reuse,
Recycle, and Replace).

2. METODE PELAKSANAAN

2.1 Waktu dan tempat

Pelaksanaan program ini dilaksanakan di kota Yogyakarta,program ini dilaksanakan


selama 6 bulan pada lokasi yang berbeda.

2.2 Prosedur Penelitian

Ada empat jenis pengolahan sampah yang saat ini banyak diterapkan untuk
pengolahan sampah yaitu teknologi pengomposan sampah, teknologi pembakaran
sampah, teknologi daur ulang sampah dan sanitary landfill.

2.2.1 Pengomposan

Sampah Pengomposan merupakan salah cara dalam mengolah bahan padatan


organik untuk menjadi kompos yang secara nasional ketersediaan bahan organik
dalam sampah kota cukup melimpah yaitu antara 70 – 80 %. Sayangnya,
sebagian besar sampah kota belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai
kompos.

Alat pengolah sampah organik ini terdiri dari sebuah drum sebagai tempat
terjadinya proses pengomposan. Drum proses pengomposan dilengkapi dengan
saringan berlubang dibagian tengah, sehingga hasil pupuk cair dan padatnya
bisa didapatkan secara langsung. Proses pengomposan yang digunakan adalah
secara aerob, maka dilakukan pengadukan secara manual. Sebagai pelengkap
akan disertakan juga larutan EM4, sarung tangan, sekop, termometer, gunting.
Kapasitas sampah organik yang bisa diolah adalah sebanyak 8 kg. Alat
pengompos ini merupakan alat sederhana yang bisa juga dibuat oleh warga. Alat
ini dioperasikan secara manual. Hal ini berarti proses pencacahan, pemasukan
sampah dalam drum, pemberian EM4, pengadukan, dan pembalikan dilakukan
secara manual. Pencacahan terhadap sampah organik diperlukan agar proses
pengomposan berlangsung lebih cepat. Pengadukan dan pembalikan dibutuhkan
agar bakteri yang membantu proses pengomposan masih tetap aktif. proses
pengomposan ini akan berlangsung selama 20-40 hari dengan pembalikan setiap
3 hari.

Secara umum, kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah sebagai


berikut:

1. Sosialisasi kepada warga Desa Burai tentang teknologi pemanfaatan


sampah organik.
2. Perancangan instalasi alat pengolah sampah organik (menentukan lokasi
dan spesifikasi teknis alat).
3. Membuat alat pengolah sampah organik dan pemasangan alat di lokasi.
4. Sosialisai dan pelatihan teknik pembuatan pupuk kompos organik.
5. Sosialisai manfaat pupuk kompos.
6. Sosialisai keuntungan yang bisa didapatkan warga dengan memanfaatkan
alat pengolah sampah organik.
7. Evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan.

2.2.2 Pembakaran

Pada metode pembakaran sampah menggunakan teknologi incinerator,


incinerator merupakan suatu alat berupa tungku pembakaran yang dapat
digunakan untuk pengolahan limbah padat dari industri maupun domestik.
Adapun bahan dan alat yang digunakan pada metode ini yaitu besi plat, besi
siku, semen tahan api, batu tahan api jenis C31, isolasi asbes, wool, burner
kecil, termo kopel, pressure gauge, tangki bahan bakar minyak, mur baut, pipa
dan peralatan las, panel kontrol, centrifugal fan, kompresor ¼ fan.

Pada tahapan design incinerator akan dibuat dengan klasifikasi operasi secara
manual dan sistem pembakaran lengkap, prototipe incinerator didesign untuk
pembakaran limbah padat dengan suhu 1000°C, volume tungku 0,4 m 3, sistem
kontinyu dengan bahan bakar minyak tanah yang disemprotkan dengan
kompresor. Incinerator ini memiliki dua ruangan pembakaran yaitu ruangan
pembakaran utama berfungsi membakar limbah padat, sedangkan ruangan
kedua berfungsi menyempurnakan sisa gas yang belum sempurna terbakar.
Ruangan pembakaran pertama mempunyai feeding terletak di anak tangga
teratas sedangkan dihadapan anak tangga terbawah dipasang burner, dasar
incinerator dibuat berbentuk tangga untuk mempermudah bahan yang dibakar
kontak dengan api dari burner yang terletak pada anak tangga terbawah.
Pembuatan dinding samping dan depan pembuatan feeding, jendela kontrol,
tempat pemasangan termokopel, pressure gate dan cerobong. Limbah padat
akan jatuh dari tangga teratas bersamaan dengan terbakarnya limbah padat di
tangga terbawah. Untuk kelancaran pemasukan sampah atau limbah padat di
feeding sebaiknya di sampah tersebut dihaluskan terlebih dahulu seukuran batu
kerikil.

2.2.3 Daur Ulang

Pada metode ini Penelitian dilakukan dengan mengkaji material yang terbagi
ke dalam tiga kelompok besar yaitu bahan daur ulang, bahan pendamping daur
ulang, dan bahan pendamping non daur ulang. Pada bahan daur ulang
merupakan material utama yang dikaji dalam penelitian. Dalam penelitian yang
dilakukan, bahan daur ulang yang digunakan adalah sampah plastik yang terdiri
dari berbagai jenis sampah plastik, kemudian bahan pendamping daur ulang
adalah material tambahan yang penggunaannya bertujuan untuk
memaksimalkan kualitas dari produk daur ulang yang dihasilkan. Bahan
pendamping daur ulang yang digunakan di antaranya resin cair, katalis, cat
resin, epoxy spray paint, dan serbuk kaca. Bahan pendamping non daur ulang
adalah bahan penelitian yang digunakan dalam proses penciptaan produk
fashion sebagai hasil penelitian yang penggunaannya terlepas dari proses daur
ulang sampah plastik. Bahan pendamping non daur ulang yang digunakan dalam
penelitian di antaranya plat kuningan, manik-manik, kain beludru, kain keras,
dan kawat tembaga. Setelah dilakukan pemilihan jenis sampah, sampah diolah
pada tahapan proses sebagai berikut :

1. Eksplorasi
Sampah Plastik Eksplorasi material sampah plastik dilakukan dengan
menggunakan metode fabrikasi di antaranya pemotongan, pemanasan,
pelunakan, pembentukan, pengerjaan menggunakan mesin, dan
penghalusan. Secara umum semua proses dalam metode fabrikasi dilakukan
menggunakan peralatan sederhana yang mudah diperoleh seperti gunting,
alat pertukangan, heat gun, mesin kempa, dan sebagainya.
2. Pemotongan
Dalam penelitian yang dilakukan, proses pemotongan atau cutting
merupakan tahapan pembuatan sampah kemasan plastik menjadi
potonganpotongan kecil. Proses ini bertujuan untuk menyamarkan label
produk, gambar, serta tulisan yang terdapat pada kemasan plastik sehingga
produk yang dihasilkan tidak terlihat sebagai produk daur ulang dari sampah
kemasan plastik. Proses pemotongan dapat dilakukan secara manual
menggunakan gunting atau menggunakan mesin. Eksplorasi pada proses
pemotongan terdiri dari berbagai jenis bentuk potongan misalnya potongan
besar, potongan kecil, potongan berbentuk, dan sebagainya.
3. Pemanasan dan Pelunakan
Proses pemanasan dan pelunakan adalah proses pembentukan material
plastik menggunakan teknik heat transfer. Proses pemanasan dan pelunakan
dilakukan pada potongan-potongan sampah kemasan plastik hasil dari
proses pemotongan menggunakan mesin kempa dan heat gun. Tahapan ini
bertujuan merekatkan potongan-potongan sampah kemasan plastik menjadi
bentuk lembaran sehingga memudahkan pengaplikasian material tersebut di
proses-proses selanjutnya. Selain menggunakan mesin kempa, proses heat
transfer juga menggunakan heat gun. Proses pemanasan menggunakan heat
gun diberikan pada potongan-potongan panjang sampah kemasan plastik
agar dapat berubah bentuk menjadi seperti benang.
4. Pembentukan dan Pencetakan
Dalam penelitian yang dilakukan, proses pembentukan dilakukan dengan
cara melunakkan material sampah plastik menggunakan teknik heat transfer
kemudian dicetak. Pencetakan material sampah kemasan plastik dilakukan
seperti proses pembentukan keramik menggunakan cetakan master yang
terbuat dari material tahan panas seperti gypsum, silicon rubber, kayu, batu,
dan sebagainya. Proses pencetakan untuk material daur ulang bubuk resin
dan pecahan resin dilakukan dengan mencapurkan salah satu bahan atau
campuran antara keduanya dengan resin bening sebelum dimasukan ke
dalam cetakan yang telah disediakan. Setelah bahan dicampurkan dan
ditambahkan katalis sebagai perekat dan pengeras maka bahan campuran
dituangkan ke dalam cetakan dan didiamkan selama +- 2 jam atau hingga
bahan mengering. Setelah bahan mengering maka material dapat dilepaskan
dari cetakan untuk dilakukan tahapan-tahapan selanjutnya.
5. Pengerjaan Menggunakan Mesin
Dalam penelitian yang dilakukan, proses pengerjaan menggunakan mesin
atau machining adalah proses pembentukan material daur ulang dilakukan
menggunakan alat pertukangan baik yang sederhana maupun yang canggih
untuk mencapai suatu kondisi material yang diinginkan. Proses pengerjaan
menggunakan mesin terdiri dari proses pengerjaan menggunakan mesin
gerinda untuk menghaluskan dan memoles material daur ulang agar
memiliki permukaan yang halus dan rata dan proses pelubangan dengan
menggunakan mesin bor. Pelubangan bertujuan untuk membuat lubang
sebagai tempat masuknya benang pada pengaplikasian material daur ulang
sebagai produk.
6. Finishing
Proses finishing atau penghalusan merupakan proses terakhir yang
dilakukan setelah melalui proses-proses sebelumnya. Pada proses finishing,
dilakukan pelapisan clear spray agar material hasil daur ulang terlihat rapi
dan mengilap.
Gambar 1. Diagram Penerapan Teknologi Pengolahan Sampah Perkotaan dan
Pemanfaatannya.

2.2.4 Sanitary landfill


1. Perencanaan TPA
Pada metode ini langkah awal yang dilakukan yaitu Perencanaan TPA
dengan metode Sanitary Landfill Aspek teknis dalam perencanaan Tempat
pemrosesan akhir dengan metode sanitary landfil meliputi : Desain Landfill
TPA yaitu perencanaan yang dilakukan (Persiapan lahan, Pembentukan
lapisan dasar landfill, Peletakan sampah, yaitu rencana bentuk sel dan fase,
Cek stabilitas lereng sampah FK (Faktor Aman) > 1,5 menggunakan metode
fellenius), perancangan perletakan pipa gas metan, desain kapasitas kolam
penampung lindi yaitu penyaluran lindi, perhitungan debit lindi, kolam
penampung lindi, kemudian gambar desain. 2. Desain Perletakan Sampah
Desain Perletakan Sampah (Fase dan Sel) Air Tanah di TPA harus
cukup dalam, sehingga dalam perencanaan ini dipilih Sanitary Landfill
dengan penimbunan sampah metode Trench, lahan pengembangan akan
digunakan semaksimal mungkin sebagai area penimbunan. Setelah itu
dilakukan desain lapisan dasar TPA agar cairan lindi tidak merembes
kedalam tanah

Gambar 2. Detail Lapisan Dasar TPA Randuagung

3. Perletakan Pipa Gas Metan


Dalam perletakan pipa gas metan secara vertikal dan horizontal dengan
jarak antar pipa adalah 10 m, kedalaman penanaman pipa minimal 75%
dari kedalaman total Landfill.
4. Perencanaan Drainase
Perencanaan Drainase direncanakan agar air hujan yang turun tidak
masuk ke area sekitar Landfill TPA Randuang, maka direncanakan
drainase TPA Randuagung.

Gambar 3. Saluran Drainase

5. Kolam Penampung sementara lindi


Besaran kolam penampung sementara lindi tergantung dari air lindi
yang dihasilkan, kolam penampung disini selain menampung air lindi juga
untuk menetralisirkan air lindi, dan hujan debit yang dihasilkan pada
perhitungan ini berasal dari intensitas hujan yang sudah didapat dengan
kala 10 tahun.

Gambar 3. Kolom Penampungan Sementara Lindi

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari penelitian terdapat empat jenis pengolahan sampah yang saat ini banyak
diterapkan untuk pengolahan sampah yang pertama yaitu teknologi pengomposan
sampah. Alat pengolah sampah organik ini terdiri dari sebuah drum sebagai tempat
terjadinya proses pengomposan. Proses pengomposan yang digunakan adalah secara
aerob, maka dilakukan pengadukan secara manual. Pencacahan terhadap sampah organik
diperlukan agar proses pengomposan berlangsung lebih cepat.
Pengolahan sampah selanjutnya yaitu teknologi pembakaran sampah. Pada metode
pembakaran sampah menggunakan teknologi incinerator yang merupakan suatu alat
berupa tungku pembakaran yang dapat digunakan untuk pengolahan limbah padat dari
industri maupun domestik. Incinerator ini memiliki dua ruangan pembakaran yaitu
ruangan pembakaran utama berfungsi membakar limbah padat, sedangkan ruangan kedua
berfungsi menyempurnakan sisa gas yang belum sempurna terbakar.
Kemudian pengolahan sampah dengan teknologi daur ulang sampah. Pada metode
penelitian ini dilakukan dengan mengkaji material yaitu bahan daur ulang menggunakan
berbagai jenis sampah plastik. Selanjutnya bahan pendamping daur ulang menggunakan
material tambahan yang bertujuan untuk memaksimalkan kualitas dari produk daur ulang
yang dihasilkan seperti resin cair, katalis, cat resin, epoxy spray paint, dan serbuk kaca.
Material yang terakhir yaitu bahan pendamping non daur ulang yang digunakan dalam
proses penciptaan produk fashion sebagai hasil penelitian dengan bahan plat kuningan,
manik-manik, kain beludru, kain keras, dan kawat tembaga. Setelah dilakukan pemilihan
jenis sampah, sampah diolah pada tahapan proses eksplorasi, pemotongan, pemanasan
dan pelunakan, pembentukan dan pencetakan, pengerjaan menggunakan mesin, dan
finishing.
Pengolahan sampah yang terakhir yaitu sanitary landfill. Pada metode ini langkah
awal yang dilakukan yaitu Perencanaan TPA dengan metode Sanitary Landfill, kemudian
desain perletakan sampah (Fase dan Sel) air tanah di TPA yang harus cukup dalam
sehingga dalam perencanaan ini dipilih Sanitary Landfill dengan penimbunan sampah
metode Trench, perletakan pipa gas metan secara vertikal dan horizontal, perencanaan
drainase agar air hujan yang turun tidak masuk ke area sekitar Landfill TPA Randuang,
dan kolam penampung sementara lindi yang besaran kolam penampung sementara lindi
tergantung dari air lindi yang dihasilkan.

4. KESIMPULAN

Prose pengelolaan sampah adalah suatu proses pengumpulan, pengangkutan,


pengolahan, mendaur ulang dari material sampah. Biasanya mengacu pada material
sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi
dampak terhadap kesehatan, lingkungan, atau estetika. Dalam proses pengolahan limbah
ini ada empat jenis pengolahan sampah yang diterapkan untuk pengolahannya, yaitu :

1. Sanitary Landfill adalah sistem penimbunan sampah secara sehat dimana sampah
dibuang di tempat yang rendah atau parit yang digali untuk menampung sampah,
lalu sampah ditimbun dengan tanah yang dilakukan lapis demi lapis sedemikian
rupa sehingga sampah tidak berada di alam terbuka.
2. Pengomposan sampah yang dilakukan saat ini sangat beragam ditinjau dari segi
teknologi maupun kapasitas produksinya antara lain : pengomposan dengan cara
aerobik, pengomposan dengan cara semi aerobik, pengomposan dengan reaktor
cacing, dan pengomposan dengan menggunakan additive.
3. Pembakaran Sampah ( Insinerasi ) Insinerasi atau pembakaran sampah adalah
teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik.
Dengan teknologi ini, pengurangan sampah dapat mencapai 80 % dari sampah
yang masuk, sehingga hanya sekitar 20% yang merupakan sisa pembakaran yang
harus dibuang ke TPA.
4. Daur Ulang Daur ulang adalah suatu proses untuk menjadikan suatu bahan bekas
menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya
dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang
baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan
emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru.
REFERENSI

[1] Ying D., Chuanyu C., Bin H., Yueen X., Xuejuan Z., Yingxu C. dan Weixiang W.
Characterization and Control of Odorous Gasesat a Landfill Site: A Case Study In
Hangzhou, China. Journal of Waste Management, Vol. 32, pp. 317–326.

[2] McDougall F.R., White P., Franke M. dan Hindle P. 2001. Integrated Waste
Management: A Life Cycle Inventory (2nded.). Blackwell Science: Oxford UK.

[3] Chena Y.C., Chen K.S., Wu C.H. 2003. Numerical Simulation of Gas Flow Around a
Passive Vent In a Sanitary Landfill. Journal of Hazardous Materials B100, 39–52.

[4] Tchobanoglous G., Theisen H. dan Vigil S.A. 1993. Integrated Solid Waste Management
Engineerng Principles and Management Issues. New York : McGraw-Hill.

[5] Nana Rukmana D. W., Florian Steinberg, Robert van der Hoff, 1993, Manajemen
pembangunan prasarana perkotaan , Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan
Ekonomi dan Sosial (Indonesia).