Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH EVIDANCE BASED TERBARU

PADA KELUARGA BERENCANA

(Analisa evidance basednya dan perkembangan KB terbaru)

DI SUSUN 0LEH :
Nama : Shely Sagita Putri

Nim : 193001070085

Dosen Pengampu : Lailatul Badriah S,ST.,M.Kes.

PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN


UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI
TAHUN 2020

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha


Penyayang, segala puji hanya baginya. Semoga sholawat beserta salam senantiasa
tercurahkan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga
dan para sahabatnya, dan juga kepada para pengikutnya yang setia hingga akhir
zaman.
Puji syukur Alhamdulilah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah, inayah-Nya. Sehingga
penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Makalah dengan
judul “Evidance Based Terbaru Pada Keluarga Berencana
Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa
Universitas Asiwangsa jambi. kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah
ini masih jauh dari sempurna, karena masih banyak kekurangan dan kesalahan.
Maka kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
meyempurnakan makalah ini.
Dengan makalah ini, kami mengharapkan semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan berguna bagi penulis serta pembaca pada umumnya.

Jambi, November 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Tujuan ....................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI
A. Evidance based ......................................................................... 3
B. Devinisi Kontrasepsi ................................................................. 4
C. Evidance based KB pada wanita ...................................................
D. Metode Kontrasepsi Terkini ....................................................... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 21
DAFTARPUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evidence based artinya berdasarkan bukti, tidak lagi berdasarkan pengalaman
atau kebiasaan semata. Semua harus berdasarkan bukti dan bukti inipun tidak
sekedar bukti. Tapi bukti ilmiah terkini yang bisa dipertanggung jawabkan.
Pada awalnya, kontrasepsi sering kali dianggap sebagai cara untuk
menjarangkan kehamilan atau mengurangi jumlah penduduk. Seiring dengan
perkembangan, masalah kontrasepsi tersebut, kini menjadi bagian dari masalah
kesehatan reproduksi. Keberadaan metode dan alat-alat kontrasepsi terkini,
memaksa para penyelenggara pelayanan Keluarga Berencana untuk
memperbaharui pengetahuannya. Masalah-masalah kontrasepsi telah memasuki
tahapan yang jauh lebih rumit, yaitu menyangkut masalah kesetaraan gender dan
hak asasi manusia.
Teknologi kontrasepsi berkembang sangat pesat dalam waktu tiga dasawarsa
terakhir ini. Standarisasi pelayanan kontrasepsi secara nasional dan oleh Badan
Internasional (misal: WHO) telah diterbitkan secara berkala.
Sayangnya,perkembangan tersebut tidak selalu diikuti dengan cermat oleh para
petugas kesehatan dan keluarga berencana di Indonesia.
Berbagai kontroversi timbul dalam perkembangan teknologi kontrasepsi
selama ini, khususnya mengenai dampak negatif penggunaan kontrasepsi bagi
wanita dalam jangka panjang. Banyak berbagai pertanyaan yang diajukan tentang
berbagai risiko negatif penggunaan kontrasepsi, tetapi sangat sedikit penyampaian
informasi tentang dampak positif kontrasepsi kepada kesehatan reproduksi wanita.
Padahal, kontrasepsi tidak hanya memiliki dampak negatif, tetapi memiliki
dampak positif seperti mencagah jenis kanker tertentu dan anemia yang seringkali
dijumpai pada wanita di Indonesia.
Oleh karena itu, secara berkala perlu dilakukan sosialisasi “contraceptive
technology update” bagi para ilmuwan, petugas pelayanan kesehatan dan KB agar

1
mereka mampu mengikuti perkembangan alat, obat dan cara kontrasepsi terkini.
Dengan meningkatnya pengetahuan mereka, pelayanan KB di Indonesia
diharapkan dapat meningkat kualitasnya, sehingga sasaran KB yang ditetapkan
dalam Pembangunan Nasional dapat dicapai.
Teknologi Kontrasepsi Terkini (TKT) atau Contraceptive Technology Update
(CTU) merupakan suatu upaya untuk pemutakhiran informasi dan teknologi
kontrasepsi. Penggunaan istilah teknologi terkini, tidaklah indentik dengan
penggunaan peralatan canggih dan piranti yang mahal. Istilah ini diartikan sebagai
teknologi tepat guna dan sesuai untuk institusi pelayanan dengan sumber daya
terbatas, dilaksanakan oleh petugas yang kompeten, dan memberi manfaat
maksimal bagi masyarakat atau keluarga yang membutuhkan pelayanan
kontrasepsi berkualitas. Pemahaman tentang teknologi terkini, juga diharapkan
dapat mengurangi/menghilangkan masalah barier medik diantara petugas klinik
yang sebelumnya menjadi penghambat akses bagi keluarga yang membutuhkan
pelayanan KB.
Adanya perkembangan ilmu kedokteran dan kebidanan yang sangat pesat
membuat temuan dan hipotesis yang diajukan pada waktu yang lalu secara cepat
digantikan dengan temuan yang baru yang segera menggugurkan teori yang
sebelumnya. Sementara hipotesis yang diujikan sebelumnya bisa saja segera
ditinggalkan karena muncul pengujian – pengujian hipotesis baru yang lebih
sempurna.Misalnya saja pada dunia kebidanan adalah munculnya kontrasepsi
Suntik KB hormonal pada pria, Pil Kontrasepsi Non Hormonal Pada Pria.hingga
Intra Uterine System (IUS) yang merukan pembaharuan dari kontrasepsi Intra
Uterine Device (IUD). IUS mempunyai banyak kelebihan dibanding tembaga
IUD. IUS lebih efektif mencegah kehamilan. Siklusnya menjadi lebih ringan,
cepat dan tidak terlalu menyakitkan.
Bagaimanapun juga, pemberi pelayanan KB tentunya memerlukan penyegaran
pengetahuan dan keterampilan yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi
kontrasepsi maupun perkembangan ilmu terbaru untuk meningkatkan akses dan
mutu pelayanan KB bagi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian
besar pemberi pelayanan KB adalah para bidan. Program KB di Indonesia tidak

2
akan berhasil tanpa hadirnya bidan. Bidan merupakan ujung tombak penyedia
layanan KB. Hal senada tercantum dalam Kepmenkes No.
1464/Menkes/PER/X/2010 yang menyatakan bahwa bidan dalam menjalankan
praktiknya berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi pelayanan
kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, pelayanan KB, dan pelayanan kesehatan
reproduksi perempuan. Para anggota IBI diharapkan dapat meningkatkan dan
mempertahankan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi terstandar. Standarisasi
pelayanan KB telah ada dalam kebijakan Depkes RI yang meliputi keahlian,
kompetensi, peralatan, sarana, prasarana, dan manajemen klinik. Oleh karenanya,
melalui pelatihan ini diharapkan kualitas pelayanan KB akan semakin meningkat
sesuai dengan standar sehingga dapat memuaskan klien/akseptor KB, yang pada
gilirannya dapat meningkatkan jumlah akseptor KB.
Itulah Evidence Based Midwifery atau yang lebih dikenal dengan EBM adalah
penggunaan mutakhir terbaik yang ada secara bersungguh sungguh, eksplisit dan
bijaksana untuk pengambilan keputusan dalam penanganan pasien perseorangan
(Sackett et al,1997).
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan ilmu terbaru atau Evidence Based
dalam bidang kebidanan.
2. Untuk mengetahui lebih jelas teknologi kontrasepsi terkini
3. Untuk mengetahui implikasi teknologi kontrasepsi terkini terhadap
pelayanan kebidanan
C. Manfaat Makalah
1. Sebagai bahan pembantu materi yang akan dipelajari pada mata kuliah
keluarga berencana
2. Sebagai bahan diskusi bagi mahasiswa dalam memahami implikasi
teknologi kontrasepsi terkini terhadap pelayanan kebidanan

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Evidence Based
EBM didirikan oleh RCM dalam rangka untuk membantu
mengembangkan kuat profesional dan ilmiah dasar untuk pertumbuhan tubuh
bidan berorientasi akademis. RCM Bidan Jurnal telah dipublikasikan dalam satu
bentuk sejak 1887 (Rivers, 1987), dan telah lama berisi bukti yang telah
menyumbang untuk kebidanan pengetahuan dan praktek. Pada awal abad ini,
peningkatan jumlah bidan terlibat dalam penelitian, dan dalam membuka kedua
atas dan mengeksploitasi baru kesempatan untuk kemajuan akademik. Sebuah
kebutuhan yang berkembang diakui untuk platform untuk yang paling ketat
dilakukan dan melaporkan penelitian. Ada juga keinginan untuk ini ditulis oleh
dan untuk bidan. EBM secara resmi diluncurkan sebagai sebuah jurnal mandiri
untuk penelitian murni bukti pada konferensi tahunan di RCM Harrogate, Inggris
pada tahun 2003 (Hemmings et al, 2003). Itu dirancang „untuk membantu bidan
dalam mendorong maju yang terikat pengetahuan kebidanan dengan tujuan utama
meningkatkan perawatan untuk ibu dan bayi „(Silverton, 2003).
EBM mengakui nilai yang berbeda jenis bukti harus berkontribusi pada
praktek dan profesi kebidanan berorientasi komunitas. Jurnal kualitatif mencakup
aktif serta sebagai penelitian kuantitatif, analisis filosofis dan konsep serta
tinjauan pustaka terstruktur, tinjauan sistematis, kohort studi, terstruktur, logis dan
transparan, sehingga bidan benar dapat menilai arti dan implikasi untuk praktek,
pendidikan dan penelitian lebih lanjut.
Menurut Sackett et al. Evidence-based (EB)adalah suatu pendekatan medik
yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan
kesehatan penderita. Dengan demikian, dalam prakteknya, EB memadukan antara
kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling
dapat dipercaya.
Pengertian lain dari evidence based adalah proses yang digunakan secara
sistematik untuk menemukan, menelaah/me-review, dan memanfaatkan hasil-hasil

4
studi sebagai dasar dari pengambilan keputusan klinik. Jadi secara lebih rincinya
lagi, EB merupakan keterpaduan antara :
1. bukti-bukti ilmiah, yang berasal dari studi yang terpercaya (best research
evidence)
2. keahlian klinis (clinical expertise)
3. nilai-nilai yang ada pada masyarakat (patient values).
Publikasi ilmiah adalah suatu pempublikasian hasil penelitian atau sebuah
hasil pemikiran yang telah ditelaaah dan disetujui dengan beberapa petimbangan
baik dari acountable aspek metodologi maupun accountable aspek ilmiah yang
berupa jurnal, artikel, e-book atau buku yang diakui.
Penggunaan kebijakan dari bukti terbaik yang tersedia sehingga tenaga
kesehatan (Bidan) dan pasien mencapai keputusan yang terbaik, mengambil data
yang diperlukan dan pada akhirnya dapat menilai pasien secara menyeluruh dalam
memberikan pelayanan kehamilan(Gray, 1997).
Praktek kebidanan sekarang lebih didasarkan pada bukti ilmiah hasil
penelitian dan pengalaman praktek terbaik dari para praktisi dari seluruh penjuru
dunia. Rutinitas yang tidak terbukti manfaatnya kini tidak dianjurkan lagi.

B. Definisi Kontrasepsi
Kontrasepsi asal kata dari „kontra‟ yang berarti mencegah/ menghalangi
dan „konsepsi‟ yang berarti pembuahan/pertemuan antara sel telur dengan sperma.
Jadi kontrasepsi diartikan sebagai cara untuk mencegah terjadinya kehamilan
sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma. Kontrasepsi dapat
menggunakan berbagai macam cara, baik dengan menggunakan hormon, alat
ataupun melalui prosedur operasi
Menurut Kamus BKKBN (2011) Kontrasepsi adalah Obat atau alat untuk
mencegah terjadinya konsepsi (kehamilan).Jenis kontrasepsi ada dua macam,
yaitu kontrasepsi yang mengandung hormonal (pil, suntik dan implant) dan
kontrasepsi non-hormonal (IUD, Kondom).
Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal itu
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

5
1. Dapat dipercaya;
2. Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan;
3. Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan;
4. Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus;
5. Tidak memerlukan motivasi terus-menerus;
6. Mudah pelaksanaanya;
7. Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat;
8. Dapat diterima penggunaanya oleh pasangan yang bersangkutan.
C. Evidence Based Keluarga Berencana (KB) Pada Wanita
1. Metode Penggunaan Kontrasepsi Selama Masa Postpartum
Pembaruan Kriteria Penggunaan Kontrasepsi (US MEC) Berdasarkan CDC, 2010
Revisi Metode Penggunaan Kontrasepsi Selama Masa Postpartum.Penggunaan
kontrasepsi selama masa postpartum penting dilakukan untuk mencegah kehamilan yang
tidak diinginkan dan memperpanjang interval kelahiran, yang dapat menimbulkan masalah
kesehatan ibu dan anak. Pada tahun 2010, CDC telah mempublikasikan U.S. Medical Eligibility
Criteria for Contraceptive Use (US MEC) yang merupakan pedoman penggunaan kontrasepsi,
yang dilengkapi dengan evidence-based sebagai pertimbangan dalam pemilihan metode
kontrasepsi. Dalam pemilihan metode kontrasepsi ini, keamanan penggunaan menjadi hal utama
yang harus diperhatikan khususnya untuk wanita yang dengan karakteristik atau kondisi
kesehatan tertentu, termasuk wanita yang masih dalam masa postpartum. Baru-Baru ini, CDC
telah melakukan penilaian terhadap evidence yang memberikan informasi mengenai keamanan
penggunaan kontrasepsi hormonal pada masa postpartum.
Laporan ini merupakan ringkasan dari penilaian tersebut dan hasil dari revisi pedoman
penggunaan kontrasepsi. Revisi rekomendasi ini berisi bahwa wanita post partum tidak boleh
menggunakan kontrasepsi hormonal kombinasi selama masa 21 hari setelah melahirkan oleh
karena resiko tinggi untuk mendapatkan tromboemboli vena (TEV) selama masa ini. Masa 21-
42 hari postpartum, pada umumnya wanita tanpa faktor resiko TEV dapat memulai penggunaan
kontrasepsi hormonal kombinasi, tetapi wanita yang memiliki resiko TEV (riwayat TEV
sebelumnya atau post melahirkan secara caesar), tidak boleh menggunakan metode kontrasepsi
ini. Nanti, setelah masa 42 hari postpartum, barulah tidak ada pembatasan penggunaan

6
kontrasepsi hormonal kombinasi yang berdasarkan pada keadaan pasien tersebut setelah
melahirkan.ataupun tidak.

D. Metode Kontrasepsi Terkini

Saat ini, lebih dari 100 juta perempuan di Afrika Tengah, Selatan, sub-
Sahara dan Asia Tenggara memiliki kebutuhan keluarga berencana yang belum
terpenuhi karena faktor yang terkait metode. Alasan utama adalah kekhawatiran
perempuan terhadap efek samping alat kontrasepsi saat ini. Selain itu, mereka
ingin tambahan pilihan metode yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Perempuan lainnya memiliki suami yang menentang penggunaan keluarga
berencana dan mereka ingin metode yang dapat digunakan secara terselubung.
Tantangan struktural juga menciptakan rintangan. Metode long-acting (jangka
panjang) membutuhkan infrastruktur klinis untuk penyisipan dan penghapusan
kontrasepsi, dan metode short-acting memerlukan kunjungan berkelanjutan ke
penyedia layanan untuk pengambilan berkala. Bagaimana kita dapat mengisi
kesenjangan dan memperluas pilihan bagi para perempuan itu?

Kontrasepsi suntik adalah salah satu metode yang paling populer di


seluruh dunia, namun tingkat penghentian dapat setinggi 50 persen pada tahun
pertama, seringkali karena perempuan melewatkan tindak lanjut. Sebuah metode
suntik dengan interval yang lebih panjang antar injeksi ulang akan lebih
memudahkan wanita dan penyedia, dan kemungkinan lebih berjangka panjang
dibandingkan dengan pilihan injeksi saat ini. Kemungkinan lain adalah implan
biodegradable yang tidak memerlukan tindakan pengambilan, yang mungkin sulit
untuk diakses dalam sumber daya yang terbatas, atau sistem implan reservoir yang
dapat dihentikan dan diteruskan oleh seorang wanita tanpa pernah harus dihapus.

Selain itu, upaya sedang dilakukan untuk mengembangkan metode mudah


yang memberikan perlindungan ganda terhadap kehamilan dan infeksi/ penyakit
menular seksual, termasuk HIV. Pendekatan non-steroid akan mengatasi
kebutuhan perempuan yang ingin menghindari efek samping dari metode

7
hormonal umum, sementara pendekatan non operasi untuk sterilisasi bisa lebih
aman bagi perempuan yang tidak ingin anak lagi.

Keterjangkauan adalah masalah penting. Teknologi yang paling inovatif


sering terlalu mahal bagi perempuan di negara-negara termiskin. Hal ini terutama
berlaku untuk beberapa metode long-acting. Meskipun tersedia untuk lebih dari
25 tahun, penggunaan implan masih terbatas di negara berkembang hingga saat
ini, sebagian besar karena biaya. Meningkatnya ketersediaan implan yang lebih
terjangkau berpotensi untuk meningkatkan akses dan membantu menurunkan
harga implan secara keseluruhan. Sistem hormone-releasing intrauterine system
(dikenal sebagai Mirena) yang telah sangat populer di pasar Amerika dan Eropa
hanya tersedia pada skala yang sangat kecil di negara berkembang, karena harga
tinggi.

Selama empat dasawarsa terakhir ini, teknologi kontrasepsi telah


berkembang dengan pesat. Perkembangan tersebut diarahkan agar teknologi
kontrasepsi dapat mengatasi masalah pertumbuhan penduduk secara maksimal.
Dengan kata lain, aspek kegagalan penggunaan kontrasepsi (terjadinya kehamilan)
adalah satu-satunya pertimbangan utama dalam pengembangan alat dan obat
kontrasepsi (Coffee dan Salak, 1998). Kedepan perkembangan teknologi
kontrasepsi perlu mempertimbangkan hak-hak reproduksi dan aspek kesetaraan
gender, sehingga tidak terjadi ketimpangan dalam perkembangan teknologi
kontrasepsi antara metode pria dan wanita. Saat ini kontrasepsi perempuan telah
berkembang secara pesat dengan berbagai alternatif dan angka kegagalan yang
sangat rendah (Kammen, Oudshoorn, 2004). Sebaliknya, kontrasepsi pria masih
terbatas jenisnya, karena tidak dikaitkan dengan upaya mewujudkan hak-hak
reproduksi seseorang dan aspek kesetaraan gender. Masalah inilah yang menjadi
landasan mengapa perkembangan teknologi kontrasepsi perlu lebih mengarah
pada teknologi kontrasepsi pria (Keder, 2002).

Perkembangan pemenuhan hak-hak reproduksi menuntut pemahaman


yang lengkap dan akurat tentang alat dan obat kontrasepsi yang diperlukan.

8
Tuntutan ini, semakin hari semakin nyata, sehingga sekarang disadari bahwa
aspek keadilan dalam melakukan pengaturan kehamilan terjadi ketimpangan yang
menyolok antara pria dan perempuan. Sampai hari ini, jenis dan jumlah alat dan
obat kontrasepsi masih didominasi bagi perempuan. Sementara itu, pemahaman
perilaku terhadap pengaturan kelahiran juga masih didominasi bagi perempuan
dan kurang dapat mampu menjelaskan perilaku pria. Tidak aneh apabila dalam
praktek sehari-hari bidang kedokteran kontrasepsi lebih banyak yang dilayani bagi
perempuan dibanding laki-laki (Kammen, Oudshoorn, 2004). Pada beberapa
dekade terakhir ini, banyak penelitian difokuskan kepada perkembangan
efektivitas dan keamanan kontrasepsi pria. Idealnya kontrasepsi pria itu harus
memiliki khasiat jangka lama, tetapi bersifat reversibel dalam hal menyebabkan
azoospermia (tidak adanya sperma didalam semen). Menurunkan jumlah sperma
relatif lebih sulit bila dibandingkan dengan menghambat terjadinya ovulasi pada
wanita. Hal ini karena jumlah sperma sekali ejakulasi dapat melebihi 20-40 juta
sperma, sedangkan wanita umumnya hanya untuk menghambat satu sel telur
untuk setiap bulannya.

Tantangan umum perkembangan obat kontrasepsi pria terutama dalam hal:

1. Menekan jumlah sperma yang dikeluarkan.


2. Variasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan azoospermia.
3. Meminimalkan efek metabolik yang tidak diinginkan.

Selain metode hormonal kontrasepsi pria, berbagai penelitian kontrasepsi


pria telah difokuskan pada metode immunocontraception (Suri, 2005). Metode ini
pada prinsipnya juga didasarkan pada metode hormonal dan telah dikembangkan
sampai tahapan uji klinik pada manusia. Disamping itu dilakukan pula penelitian
dengan metode SMA (Styrene maleic anhydride) yaitu metode non bedah yang
menggunakan pendekatan metode non hormonal untuk kontrasepsi pria. Cara
kerjanya melalui perusakan membran sperma, mengurangi fungsi sperma, dan
menghambat fertilisasi. Dari review berbagai penelitian juga dapat disimpulkan

9
bahwa beberapa obat kontrasepsi non-hormonal pernah digunakan, namun belum
aman (Lopez et al, 2005).

Masalahnya ialah beberapa metode yang dikembangkan sampai saat ini


masih belum dapat diedarkan di pasaran sebagai mana alat kontrasepsi pada
perempuan. Masih diperlukan uji klinik yang lebih luas sebelum digunakan untuk
kepentingan program keluarga berenacana. Untuk itu perlu pemahaman lebih
lanjut agar perkembangan metode kontrasepsi pria dapat dipahami oleh semua
pihak.

Penemuan terkini Alat Kontrasepsi perkembangan teknologi memang


terus berkembang dan tidak terkecuali dengan alat kontrasepsi. beberapa alat
kontrasepsi diantaranya :

1. Metode Modern
a. Kontrasepsi Hormonal
1) Suntik KB hormonal pada pria

Alat kontrasepsi akan semakin bermacam pilihan dan tentunya akan


menjadi alternative bagi pasangan suami isteri untuk menentukan metode
keluarga berencananya. Selama ini alat kontrasepsi suntikan ataupun pil Kb
hanya monopoli kaum wanita. Namun dengan penemuan yang terbaru ini,
lelaki sudah bisa menggunakan alat kontrasepsi suntik. Disatu sisi hal ini
mungkin menguntungkan kaum wanita karena bisa bergantian menggunakan
alat kontrasepsi, namun dilain pihak juga khawatir penemuan ini akan makin
menumbuhsuburkan perilaku seks bebas lelaki karena pria tidak takut lagi akan
menghamili pasangan yang sah.

Keterlibatan laki-laki dalam penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia


memang masih rendah. Selain kondom, vasektomi (memotong saluran benih
untuk menghambat transportasi sperma) merupakan pilihan dari jenis
kontrasepsi yang saat ini tersedia untuk pria. Untuk mencari alternatif
kontrasepsi terbaru, kini para ahli tengah meneliti kontrasepsi pria yang lebih
efektif, yakni suntikan testoteron. Berdasarkan uji coba terhadap 1.045 pria

10
sehat berusia 20-45 tahun di Cina, suntikan testoteron terbukti efektif sebagai
alat kontrasepsi pria.

Para responden yang memiliki pasangan usia subur tersebut disuntik


dengan 500 miligram formula testoteron setiap bulan selama 30 bulan. Hasil
penelitian menunjukkan angka kegagalan (terjadinya kehamilan) hanya 1,1 per
100 pria dalam kurun waktu 24 bulan. Para peneliti juga melaporkan tidak
ditemukannya efek samping dalam penggunaan suntikan ini. Selain itu, setelah
penghentian suntikan, kemampuan memproduksi sperma pada laki-laki
tersebut kembali normal.

2) Desogestrel

Selain itu para peneliti di Manchester telah mengkombinasikan pemberian


desogestrel (digunakan pada pil kontrasepsi untuk wanita) dan koyo yang
mengandung testosterone untuk digunakan sebagai kontrasepsi pada pria. Cara
kerjanya adalah : desogestrel akan menghentikan produksi testosterone di testis
sehingga produksi sperma juga terhenti, sedangkan koyo testosterone akan
menyediakan kebutuhan testosterone yang diperlukan oleh bagian tubuh yang
lain (tanpa adanya testosterone, maka pria akan Kehilangan bulu-bulu di wajah
dan payudara akan membesar). Akan tetapi kesuksesan metode ini pada pria
yang penggunakannya hanya sekitar 60 %.

Oleh sebab itu, maka penggunaan kontrasepsi hormonal pada pria sampi
saat ini masih dalam tahap penelitian lebih lanjut, walaupun tidak mustahil
suatu saat nanti akan ada kontrasepsi hormonal untuk pria yang se-efektif dan
se-aman seperti kontrasepsi hormonal untuk wanita.

3) Androgen

Metode kontrasepsi pria dalam bentuk injeksi testosteron ester (testosteron


enanthate) pertama kali diuji klinik di Eropa dan Amerika Serikat tahun 1970.
Dosis testosteron yang dicobakan sangat tinggi (200 mg intramuskuler injeksi)
sehingga merupakan dosis supra-fisiologis. Pada relawan laki-laki sehat

11
“testosteron enanthate” berhasil memacu terjadinya azoospermia pada 40-50
persen peserta, sedangkan oligozoospermia berat terjadi pada 35- 45 persen.
Antara tahun 1985 dan 1995, WHO mendanai dua penelitian multi-senter antar
negara tentang penggunaan adrogen tersebut. Hasilnya apabila telah terjadi
azoospermia dan atau oligozoospermia berat karena rangsangan androgen dari
luar tersebut maka pengaruhnya sebagai kontrasepsi dapat dijamin. Pada
penelitian kedua, dilakukan uji klinik dengan memberikan injeksi testosteron
enanthate 200 mg/minggu selama 18 bulan kepada 500 pria. Pada enam bulan
pertama, sementara menunggu proses terjadinya azoospermia atau
oligozoospermia berat maka pasangannya menggunakan kontrasepsi jenis lain.

Androgen meningkatkan masa tubuh (body mass), kepadatan mineral


tulang, dan menurunkan lemak tubuh. Tergantung dasar penilaian yang
dipakai, bagi beberapa laki-laki dari negara sedang berkembang hal tersebut
dapat dilihat memberikan benefit yang positif. Kadar testosteron darah yang
melibihi nilai ambang batas fisiologis dapat meningkatkan kejadian jerawat
dan berat badan.

4) Androgen dan Kombinasi dengan Progestin

Bahan lain yang dapat menekan gonadotropin, misalnya progestin, akan


dapat mengurangi kadar androgen yang diperlukan untuk kontrasepsi pria
karena memiliki pengaruh yang saling sinergistik. Beberapa jenis progestin dan
testosteron pernah diteliti sebelumnya. Penilitian beberapa waktu
membandingkan pengaruh injeksi testosteron enthantate 100 mg/ minggu
dengan testosteron yang dikombinasi dengan pemberiaan levonogestrel per oral
dengan dosis 250 µg per hari. Hasilnya menunjukkan kombinasi antara
androgen dengan progestin memberikan efikasi 94 persen, sedangkan androgen
tanpa progestin hanya 61 persen. Proses menjadi azoospermia atau
oligozoospermia dapat dicapai masing-masing dalam waktu 8,9 minggu untuk
kombinasi androgen dengan progestin dan14,4 minggu untuk androgen tanpa
kombinasi. Penelitian berikutnya dapat membuktikan bahwa dosis

12
levonorgestrel dapat diturunkan menjadi 125 µg per hari tanpa penurunan
supresi spermatogenik tetapi menurunnya berat badan dan supresi serum HDL
dengan penambahan progestin per oral. Testosterom enanthate telah dicoba
diberikan bersama injeksi depotmedroksi progesterone acetat (DMPA),
desogestrel oral, dan cyproterone acetate (progestin dengan antiandrogenik).
Pada semua penelitian ini terlihat bahwa progestin memperkuat efek androgen.
Testosteron undecanoate telah diteliti bersama-sama pill levonogestrel (250
µg/hari) dan injeksi norethisterone enathate (200 mg/6 bulan secara i.m.).
Kombinasi antara testosteron undecanoate dengan norethisterone enanthate
sangat efektif dalam menekan spermatogenesis menjadi azoospermia,
sedangkan kombinasi dengan levonorgestrel oral menjadi semakin lemah.
Demikian juga kombinasi antara testosteron pelet (800 mg) bersama-sama
dengan DMPA (300 mg injeksi) sangat efektif sehingga terjadi azoospermia.
Tidak seperti halnya injeksi, testosteron tempel (patch) kombinasi dengan
levenorgestrel secara oral atau implan memiliki pengaruh yang lemah terhadap
proses azoospermia, hanya berkisar 25-30 persen. Penelitian lain sedang atau
baru saja diselesaikan antara lain: 1)kombinasi testosteron undecanoate
dengan injeksi norethisterone, injeksi DMPA, atau etonogestrel impan, 2)
testosteron peelt dengan DMPA injeksi, levonorgesterel, atau etonogestrel
impan, 3) 7-α metil-19-nor-testosteron (MENT) implan dan levonorgestrel
impant, dan 4) testosteron decanoate injeksi dengan etnogestrel oral atau
implan. Cyproterone acetate (CPA) adalah progestin dalam bentuk oral yang
sangat kuat sekali. Apabila CPA diberikan secara tersendiri, maka terjadi
penurunan kadar serum testosteron dan hipogonadism. CPA dikombinasi
dengan testosteron enanthate (100 mg/minggu atau 250 mg/ 2 atau 3 minggu
sekali), pengobatan menghasilkan azoospermia atau hampir mendekati
azoospermia disemua subjek pria yang dikaji. Pada subyek tersebut tidak
didapatkan perubahan serum lipid. Dosis tinggi CPA (50 mg atau lebih)
menurunkan hematokrit darah, meskipun testosteron diberikan pada dosis
fisiologis. Penurunan dosis CPA menjadi 20 mg/hari akan menghilangkan
gejala tersebut. CPA sekarang tidak dicoba lagi sebagai obat kontrasepsi pria.

13
Progestin lain yang memiliki aksi anti-androgenik adalah dienogest. Penelitian
mulai dilakukan pada obat baru ini dan hasilnya belum dipublikasikan.

Androgen Selektif dan Modulator Progestin Reseptor (SPRM)Modulator


steroid reseptor tertentu bertugas merancang molekul yang bekerjanya dapat
bersifat agonistik pada steroid pada jaringan target tertentu, atau bekerja
antagonistik pada steroid yang sama tetapi ditempat yang berbeda. Contoh
untuk ini ialah modulator estrogen reseptor tertentu (selective oestrogen
receptor modulators atau disingkat SERMS), misalnya tamoxifen dan raloxifen
yang memiliki sifat agonis di tulang tetapi antagonis di payudara. Tamoxifen
bekerja agonis di uterus, raloxifen tidak. MENT adalah modulator selektif
androgen reseptor yang bekerja agonis pada glandula pituitaria dan otot tetapi
kurang poten untuk merangsang pertumbuhan prostat dan testosteron. Pada
penelitian klinis, MENT terbukti dapat memelihara fungsi seksual pada laki-
laki yang mengalami defisiensi androgen. Atas dasar beberapa penelitian ini
pabrik farmasi mulai mencari obat yang dapat diberikan sekali sehari, tetapi
memiliki efek agonistik sebagai androgen ke hipotalamus, otot, sumsum tulang
dan efek antagonis yang netral terhadap kelenjar prostat. Demikian juga SPRM
sedang dikembangkan untuk berpengaruh supresif terhadap gonadotropin yang
mengendalikan progesteron tetapi memiliki efek minimal pada metabolisme
lipid dan karbohidrat. Secara teoritis, hybrid antara SARM dan SPRM dapat
diproduksi dan dipakai untuk kontrasepsi hormonal bagi pria.

5) Androgen dan GnRH Antagonis

GnRH agonis pada perempuan sangat kuat potensinya untuk tidak


menimbulan ovulasi. GnRH agonis pada pria tidak dapat dipakai untuk
memprediksi terjadinya proses spermatogenesis. GnRH agonis, jika diberikan
dengan dosis yang tinggi, atau infuse bersama-sama androgen pada laki-laki
maka akan terjadi supresi pengeluaran hormon LH dan FSH. Namun demikian,
cara ini belum belum berhasil menekan sampai kondisi azospermia dan
oligozoozpermia. Disisi lain, GnRH antagonis (diberikan secara injeksi

14
subkutan secara harian) dan dikombinasikan dengan androgen akan memiliki
pengaruh yang sangat kuat. Namun demikian obat ini dapat menimbulkan
gatal-gatal dikulit, karena reaksi yang mirip terhadap histamin dari luar tubuh.

6) Androgen dan Kombinasi dengan Estrogen

Penelitian pada tikus dan kera-kera menunjukkan bahwa kombinasi


estradiol implant dengan testosteron implan menghasilkan supresi dari
spermatogenesis yang terlihat lebih lengkap. Estrogen kemungkinan memiliki
potensi menimbulkan efek samping dan merangsang terjadinya gynaecomastia.
Sementara itu, estrogen juga memiliki efek menguntungkan pada tulang serta
menurunkan kadar HDL. Spermatogenesis terhambat tetapi bukan karena efek
estradiol dan testosteron yang semula diduga memilki efek additif.

b. Pil Kontrasepsi Non Hormonal


1) )Ekstrak Tanaman Gandarusa (Justicia gendarussa)

Saat ini tengah dikembangkan metode kontrasepsi bagi pria dari ekstrak
tanaman Gandarusa. salah seorang peneliti dari universitas Airlangga
Surabaya, Drs. Bambang Prayogo, Apt. yang meneliti khasiat dari tanaman
Gandarusa dan pengaruhnya sebagai kontrasepsi alami bagi pria. Kandungan
kimia tanaman gandarusa adalah Alkaloid, saponin, Flavonoid, Polifenol,
Alkaloid yustisina dan minyak atsiri, bagian tanaman yang digunakan adalah
seluruh bagian tumbuhan.

Tanaman gandarusa memiliki sifat antispermatozoa, dan saat ini proses


penelitian tersebut sudah memasuki uji klinis. Menurut Drs. Bambang, cara
kerja senyawa ekstrak gandarusa ini mirip seperti metode hormonal KB.
Yakni menurunkan aktifitas enzim hialuronidase didalam spermatozoa,
sehingga sel sperma tidak mampu menembus sel telur. Pada fase pertama
penelitiannya, dilibatkan 36 subyek sehat dan subur. Setelah itu, obyek
penelitian dilipatgandakan menjadi 120 pasangan usia subur (PUS). Dari hasil
uji klinik tersebut, ternyata 100 persen memiliki hasil maksimal. Tidak terjadi
kehamilan pada si wanita. Dalam uji coba ketiga ini Drs. Bambang telah

15
mengujikan hasil temuannya kepada sekira 350 pasangan muda subur. Proses
uji coba ini masih berjalan dan sebentar lagi akan mendapatkan hasil yang
maksimal.

Diungkapkan Bambang untuk membuat kapsul dibutuhkan waktu yang


sangat lama. Bukan hanya satu atau dua tahun, tetapi membutuhkan waktu
puluhan tahun karena langsung bersentuhan dengan masyarakat. Mulai
mencari bahan, memproses secara ilmiah yang benar-benar steril, hingga
pengujian di masyarakat. Dalam uji coba itu, pasangan muda harus minum
kapsul setiap hari sekali selama 30 hari. Serangkaian penelitian panjang
selama bertahun-tahun ini memang benar-benar membuktikan ekstrak daun
gandarusa sudah terbukti efektif untuk mencegah kehamilan bagi sang istri.
Meski berhubungan dengan pasangan, dengan mengonsumsi pil KB pria ini
secara teratur kelahiran bisa dicegah. Bahkan para pria yang merupakan
akseptor KB tersebut mengaku makin jantan. Saat ini proses pengembangan
itu sudah selesai, sehingga 2012 diperkirakan pil KB pria pertama di dunia ini
bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

Dalam penelitian didapati penggunaan pil KB khusus pria ini tak akan
mengakibatkan menurunnya gairah seks. Bambang mengharapkan tidak ada
penyalahgunaan untuk hal-hal yang tidak semestinya. Pria yang
mengonsumsinya dijamin tetap bisa melakukan rutinitas pemenuhan
kebutuhan batinnya, tanpa takut pasangannya mengalami kehamilan. Jadi tak
perlu takut. Hanya saja yang perlu dicatat adalah jika benar ini sudah
diedarkan jangan sampai disalah gunakan.

Gandarusa, merupakan tanaman herbal yang sudah dimanfaatkan oleh


sebagian besar masyarakat sebagai tanaman obat. Menurut situs Wikipedia,
tanaman gandarusa ini selain memiliki sifat antispermatozoa juga memiliki
efek analgetik, antidiuretik. Menurut salah seorang pembudidaya gandarusa,
Tini Hartini, Gandarusa ini bisa digunakan sebagai obat anti nyeri ketika
keseleo.

16
2) Suntikan styrene maleic anhydride (SMA)

Metode non hormonal mempunyai onset yang cepat dan sedikit


dipengaruhi oleh fungsi psikologi lainya yang berkaitan dengan fungsi
androgen. Sumber potensial alami dari kontrasepsi non-hormonal terutama
gossypol, neem dan tripterygium. Obat non hormonal lainnya yang potensial
dan reversibel antara lain adalah vaksin dan suntikan styrene maleic
anhydride (SMA) yang disuntikan kedalam vas deferen.

Obat yang berasal dari sumber natural yang telah banyak diuji cobakan
sebagai kontrasepsi pria adalah gossypol. Gossypol berasal dari tanaman
kapas dan dapat menghambat pergerakan sperma dan pematangan sperma
(spermatogenesis). Studi yang dilakukan di China menemukan bahwa
gossypol menekan spermatogenesis pada sebagian besar pria, tetapi
oligospermia tidak terjadi secara konsisten dan reversible. Gossypol juga
dapat menyebabkan turunnya kalium dalam darah (hipokalemia). Neem dan
tripterygium juga berasal dari tumbuhan dan keduanya digunakan sebagai
kontrasepsi pria. Keduanya menimbulkan efek pada spermatogenesis, yang
dilakukan pada percobaan pada binatang. Neem adalah tanaman asli dari
India, dan sudah digunakan untuk percobaan dalam pengobatan. Tripterigium
wilfordii (TW) dan tripterigium hypoglaucum (TH) adalah tumbuhan yang
berasal dari genus yang sama, dan telah lama digunakan sebagai pengobatan
tradisional China. Isolasi bahan aktif dari tripterigium sudah diuji cobakan
untuk kontrasepsi pada manusia. Dari beberapa penelitian yang ada, Lopez et
al (2005) menyimpulkan bahwa meskipun ada indikasi bahwa obat-obat
tersebut memiliki pengaruh terhadap sperma, namun belum cukup bukti
untuk menjadikan obat-obat tersebut sebagai obat kontrasepsi dalam program
kesehatan masyarakat. Gossypol masih memiliki masalah utama berupa:
toksisitas, efikasi yang rendah, dan reversabilitas yang lambat atau tidak
sempurna. Penelitian TW dan TH perlu dilanjutkan karena masih sedikitnya
bukti-bukti yang nyata tentang pengaruh obat tersebut terhadap sperma.

17
Metode non hormonal mempunyai cara kerja yang lebih cepat dan
ketergantungan pada peran hormon androgen relatif lebih rendah. Dari review
berbagai penelitian dapat disimpulkan bahwa kontrasepsi non-hormonal
sudah bisa digunakan (Lopez et al, 2005). Namun demikian, kombinasi
hormon progestin dan testosteron lebih menjanjikan dibanding metode obat
non-hormonal. Pada umumnya, baik obat hormonal dan non-hormonal
efektifitas dan keamanan masih belum diketahui dengan pasti, sehingga
masih memerlukan uji klinik yang lebih besar. Pendekatan non hormonal
mempunyai beberapa keuntungan potensial dibandingkan pendekatan
hormonal.

3) Nifedipine

Adalah jenis obat yang termasuk calcium channel blockers (CCBs).


Penelitian menunjukkan CCBs bisa menghambat saluran kalsium dalam
membran sel sperma. Hal itu akan berdampak menghambat kerja sperma
tetapi tidak berpengaruh pada produksinya. Seseorang yang mengonsumsi
nifedipine jumlah spermanya tetap tetapi fungsinya menurun.

4) Ultrasound

Saat ini, peneliti dari Universitas North Carolina, AS, sedang menguji
apakah gelombang ultrasound bisa menjadi metode kontrasepsi baru bagi
pria. Penelitian ini menemukan, gelombang ultrasound di bagian testis
diketahui cukup aman menghentikan produksi sperma selama enam bulan.
Prinsip kerjanya adalah menembakkan ultrasound ke testis supaya produksi
sperma turun sampai tingkat nol. Angka ini merupakan angka ideal untuk
mencegah terjadinya konsepsi atau kehamilan. Namun, para peneliti masih
berkutat untuk mencari tahu cara mengembalikan kesuburan pria setelah
melakukan metode ini. Pasalnya, ada kemungkinan pria ingin memiliki anak
lagi.
Mengembalikan kesuburan menjadi isu penting, karena sekali testis
berhenti memproduksi sperma dan cadangan sperma dikosongkan, pria akan

18
menjadi tidak subur sementara. Menurut Dr James Tsuruta alat kontrasepsi ini
dapat diandalkan selama 6 bulan, dengan biaya murah dan termasuk
kontrasepsi non-hormonal dengan satu kali perawatan. Dr Tsuruta juga
menambahkan, metode ultrasound ini sudah umum digunakan sebagai
instrumen terapi dalam kedokteran olahraga atau klinik terapi fisik. Maka itu,
diharapkan tujuan jangka panjang penelitian ini adalah menciptakan alat KB
yang sesuai untuk pria, tanpa membahayakan kesuburan.
c. AKDR Update
Jenis AKDR terbaru yaitu skyla, memiliki ukuran yang lebih kecil dari
AKDR mirena.Mengandung levonorgestrel.Jenis Skyla ini dapat digunakan
dalam jangka waktu 3 tahun, sedangkan Mirena dapat digunakan dalam jangka
waktu 5 tahun.Skyla dapat digunakan oleh wanita yang belum memiliki anak
dan mirena digunakan pada wanita yg sudah memiliki anak.
Jenis AKDR yang lain adalah AKDR progestin dengan dua jenis yaitu
prigestase yang mengandung progesterone dan mirena yang mengandung
levonorgestrel. Cara kerjanya menutup jalan pertemuan sperma dan sel telur,
mengurangi jumlah sperma yang bisa masuk tuba falopi (tempat sel telur),
menjadikan selaput lendir rahim tipis dan tidak siap ditempati sel telur, serta
meng-inaktifkan sperma.
Kontrasepsi ini sangat efektif dan bisa dipasang selama satu
tahun.Keuntungan lainnya adalah tidak berpengaruh terhadap ASI, kesuburan
cepat kembali, dapat digunakan bersama dengan obat tuberculosis, epilepsi,
dan hormon estrogen untuk wanita perimenopause. Keterbatasannya perlu
dilakukan pemeriksaan dalam, harga dan pemasangan relatif mahal,
memerlukan tenaga kesehatan khusus, menyebabkan amenore pada
penggunaan jangka panjang, menurunkan kadar HDL kolesterol, memicu
pertumbuhan mioma dan kanker payudara, serta meningkatkan resiko rangang
panggul. Kontraindikasi pengguna AKDR progestin adalah hamil (bisa
menyebabkan keguguran), perdarahan per vagina yang belum jelas
penyebabnya, keputihan, menderita salah satu penyakit reproduksi, dan
menderita kanker.

19
AKDR progestin bisa dipasang selama siklus haid, 48 jam setelah
melahirkan, enam bulan pertama untuk ibu yang menyusui secara eksklusif,
serta pasca keguguran jika tidak mengalami infeksi. Kerugian Progestin adalah
versi sintetis dari progesteron, yaitu hormon seks wanita, yang memainkan
peran penting dalam kehamilan.Progestin adalah salah satu hormon yang
digunakan dalam terapi penggantian hormon yang banyak digunakan untuk
mengobati gejala-gejala menopause.Akan tetapi, suntikan progestin juga telah
dikaitkan dengan kegagalan perawatan kesuburan.Peneliti menemukan risiko
baru dalam penelitian terhadap ketiga kelompok wanita tersebut. Semua alat
kontrol kelahiran yang digunakan dalam penelitian ini terbukti efektif dan tidak
satupun dari peserta mengalami perubahan berat badan dan peningkatan kadar
kolesterol atau tekanan darah.
d. MOW tanpa sayatan
Teknik terbaru sterilisasi wanita, yakni operasi tanpa sayatan pada perut
mulai dikembangkan.Teknik tersebut menggunakan pendekatan histereskopi
streilisasi wanita. Sebelumnya, ada dua teknik operasi sterilisasi wanita pada
umumnya, yaitu melalui sayatan ± 10 cm pada perut (minilaparatomi) atau
menggunakan teknik minim sayatan ± 1,5 – 2 cm pada perut (laparoskopi).
Teknik terbaru telah dikembangkan sejak lama dan terus dimodifikasi sehingga
lebih aman dan nyaman.Sekarang, dengan teknologi terkini dan penemuan
peralatan-peralatan terbaru yang sangat kecil serta menggunkan bahan dasar
terpercaya, teknik tersebut mulai diterima dunia kedokteran dan masyarakat
awam.Teknik ini menggunkan alat berupa histereskopi yang dimasukkan ke
dalam rahim melalui vagina dan mulut rahim.

20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Evidence based artinya berdasarkan bukti, tidak lagi berdasarkan
pengalaman atau kebiasaan semata. Semua harus berdasarkan bukti dan bukti
inipun tidak sekedar bukti. Tapi bukti ilmiah terkini yang bisa dipertanggung
jawabkan.
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan upaya itu
dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen.Penggunaan
kontrasepsi merupakan salah satu variebel yang mempengaruhi
fertilisasi.(Prawirohardjo, 2006).Sedangkan kontrasepsi menurut BKKBN,
2012 adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma.
Teknologi Kontrasepsi Terkini (TKT) atau Contraceptive Technology
Update (CTU) merupakan suatu upayauntuk pemutakhiran informasi dan
teknologi kontrasepsi. Penggunaan istilah teknologi terkini, tidaklah indentik
dengan penggunaan peralatan canggih dan piranti yang mahal. Istilah ini
diartikan sebagai teknologi tepat guna dan sesuai untuk institusi pelayanan
dengan sumber daya terbatas, dilaksanakan oleh petugas yang kompeten, dan
memberi manfaat maksimal bagi masyarakat atau keluarga yang
membutuhkan pelayanan kontrasepsi berkualitas. Pemahaman tentang
teknologi terkini, juga diharapkan dapat mengurangi/menghilangkan masalah
barier medik diantara petugas klinik yang sebelumnya menjadi penghambat
akses bagi keluarga yang membutuhkan pelayanan KB.
Adanya teknologi kontrasepsi terkini akan terus mengantisipasi
beberapa hambatan dalam penggunaan alat kontrasepsi, sehingga dapat
mengurangi efek samping, menambah kenyamanan dalam menggunakan
kontrasepsi. Untuk itu setiap tenaga kesehatan harus mengetahui teknologi-
teknologi kontrasepsi terkini, dan dalam hal ini Pemerintah telah mengadakan
pelatihan-pelatihan CTU di daerah-daerah agar pelatihan ini berdistribusi
merata disegala daerah.

21
DAFTAR PUSTAKA

Ananda, Kunsila.2012. Suntikan KB Untuk Pria. Diperoleh tanggal 19 September


2013 melalui http://www.merdeka.com/sehat/vasalgel-suntikan-kb-untuk-
pria.html

Anawalt BD, Herbst BD, Herbst KL et al. Desogestrel plus testosterona


effectively suppresses spermatogenesis but also causes modest weight
gain and high density lipo protein suppression. Fertility and Sterility
2000;14:704-714.

Baker HWG. Management of Male infertility.Ballière’s Clinical Endocrinology


and Metabolism 2000;14(3):409-422
Bilian X. Intrauterine Devices. Best Practice & Research Clinical
andGynaecology2002;16(2):155-168.
Bonanomi M, Lucente G, Silvestrini B. Male fertility: core chemical structure in
pharmacological research. Contraception 2002;65:317-320.
Bray JD, Zhang Z,Winneker RC, Lyttle CR. Regulation of gene expression by
RA-910, a novel progesterone receptor modulator, in T47D cells. Steroids
2003;68:995-1003.
Ferro VA, Khan MA, Latimer VS, Brown D, Urbanski HF, Stimson WH.
Immunoneutralisation of GnRH-I, without cross-reactivity to GnRH-II, in
the development of a highly specific antifertility vaccine for clinical and
veterinary use. J Reprod Immunol 2001;51:109–29.
Hartanto, hanafi. 2004. ”Keluarga Berencana dan Kontrasepsi”. Jakarta :
Muliasari

22