Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KEPERAWATAN BENCANA

“DOKUMENTASI DAN PELAPORAN HASIL PENILAIAN BENCANA”

OLEH :

KELOMPOK 6

KELAS B12-B

Ni Wayan Purwaningsih 19.322.3152

Ni Wayan Sinta Aprilia 19.322.3153

Ni Wayan Sukrimi 19.322.3154

Ni Wayan Sulasmi 19.322.3155

Ni Wayan Widiana Sari 19.322.3156

Nurma Tyas Purnama Sari 19.322.3157

Pande Made Bayu Wedhayana 19.322.3158

Putu Pertiwi Ratna Dewi 19.322.3159

Rifi Agni Ferlita 19.322.3160

Veronika Debie Komalasari 19.322.3161

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

TAHUN AJARAN 2020


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat beliaulah penulis bisa membuat dan
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Dokumentasi Dan Pelaporan Hasil
Penilaian Bencana”.

Besar harapan penulis agar karya tulis ini dapat bermanfaat untuk
meningkatkan penguasaan kompetensi mahasiswa sesuai dengan standar
kompetensi yang diharapkan. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis
harapkan sebagai upaya penyempurnaan makalah ini dimasa mendatang dan
diakhir kata penulis ucapkan terimakasih.

Denpasar, 10 November 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

JUDUL

KATA PENGANTAR ………………………………………………………… i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ………………………………………………………….…... 1


1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………….….. 1
1.3 Tujuan …………………………………………………………………….… 2
1.4 Manfaat ……………………………………………………………………... 2
1.5 Metode Penulisan ………………………………………………………….... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Dokumentasi Dan Pelaporan Hasil Penilaian Bencana …….………….…..... 3

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ………………………………………………………………… 16

3.2 Saran ……………………………………………………………………….. 16

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik
oleh faktor alam dan faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda dandampak psikologis. Definisi tersebut menyebutkan
bahwa bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia.
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dan
aktivitas manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor.
Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan
darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan
struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung
pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan
mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul
bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Sebelum melakukan
terapi definitif, penting untuk melakukan seleksi korban dilapangan, untuk
menentukan prioritas mana korban yang harus diselamatkan terlebih dahulu.
Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Badan
Nasional Penanggulangan Bencana tersebut juga mendefinisikan
mengenaibencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Sejarah
Lembaga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbentuk tidak
terlepas dari perkembangan penanggulangan bencana pada masa kemerdekaan
hinggabencana alam berupa gempa bumi dahsyat di Samudera Hindia pada
abad 20. Sementara itu, perkembangan tersebut sangat dipengaruhi pada
konteks situasi, cakupan dan paradigma penanggulangan bencana.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah Dokumentasi Dan Pelaporan Hasil Penilaian Bencana?

1
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dokumentasi dan pelaporan hasil penilaian bencana?

1.4 Manfaat
Manfaat penulisan yang penulis dapatkan dalam pembuatan makalah ini yaitu
sebagai tenaga kesehatan khususnya perawat wajib mengetahui dan mampu
memahami dokumentasi dan pelaporan hasil penilaian bencana.

1.5 Metode Penulisan


Dalam penyusunan makalah ini, metode yang penulis gunakan yaitu tinjauan
pustaka dan media internet. Penulis mencari sumber dari berbagai media
tersebut sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Dokumentasi Dan Pelaporan Hasil Penilaian Bencana


Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
menjelaskan bahwa bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa
yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana nonalam
adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa
nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemic,
dan wabah penyakit.
Bencana social adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
social antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan terror. Sedangkan
kejadian bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat
berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun
kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari
satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian.
Kementerian Pekerjaan Umum dalam Muta’ali (2014) pada Penyusunan
Program Penanganan Bencana Alam Bidang Penataan Ruang
mengelompokkan bencana berdasarkan penyebabnya menjadi tiga jenis, yaitu
bencana alam, bencana akibat ulah manusia, dan bencana kombinasi.
a. Bencana Alam (natural disaster)
Bencana alam merupakan fenomena atau gejala alam yang disebabkan oleh
keadaan geologi, biologis, seismis, hidrologis atau disebabkan oleh suatu
proses dalam lingkungan alam mengancam kehidupan, struktur dan
perekonomian masyarakat serta menimbulkan malapetaka. Bencana yang
termasuk bencana alam antara lain : wabah penyakit, gelombang laut

3
pasang, hama dan penyakit tanaman, banjir, gempabumi , erosi, letusan
gunung berapi, angin taufan, tanah longsor, badai tropis, kekeringan, dan
kebakaran hutan.
b. Bencana Akibat Ulah Manusia (man-made disaster)
Bencana karena ulah manusia merupakan peristiwa yang terjadi karena
proses teknologi, interaksi manusia terhadap lingkungannya serta interaksi
antara manusia itu sendiri yang dampak menimbulkan dampak negative
terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat. Bencana karena ulah
manusia tersebut antara lain : perang, peristiwa kerusuhan/konflik
penduduk, kebakaran, ledakan industri/instalasi listrik, pencemaran
lingkungan, dan kecelakaan.
c. Bencana Kombinasi
Bencana ini dapat disebabkan oleh ulah manusia maupun oleh alam itu
sendiri. Bencana ini dapat disebabkan oleh keadaan geologi, biologis,
seismis, hidrologis atau disebabkan oleh suatu proses dalam lingkungan
alam maupun oleh teknologi, interaksi manusia terhadap lingkungannya
serta interaksi antara manusia itu sendiri. Contoh dari bencana yang
mungkin timbul dari kombinasi ini ialah banjir, kebakaran hutan, longsor,
erosi, dan abrasi.

1. Dokumentasi Kebencanaan
A. Data Pra Bencana
a) Definisi Data Pra Bencana
Data pra bencana merupakan basis data yang dapat digunakan
apabila diperlukan. Data ini memberikan gambaran mengenai kondisi
geografis, geologis, iklim, ketersediaan sumber daya dan lain
sebagainya. Ketersediaan data tersebut akan membantu sebagai
informasi awal dalam penanganan bencana.
1) Profil Daerah Profil Daerah berisi data kondisi geografis, geologis,
iklim, hidrologi, tata guna lahan, demografi dan lain-lain. Formulir
ini diisi oleh BPBD/OPD yang menangani penanggulangan

4
bencana yang bersumber dari OPD yang mengelola data terkait
dengan profil daerah.
2) Ketersediaan Sumber Daya Ketersediaan sumber daya meliputi
logistik (pangan, sandang, logistik lain, paket kematian), peralatan,
dan sumber daya manusia. Formulir ini diisi oleh BPBD/OPD
yang menangani bencana, yang bersumber dari OPD yang
mengelola data terkait dengan ketersediaan sumber daya.
a. Data logistik dalam pra bencana meliputi :
1) Pangan, antara lain makanan pokok
(beras/sagu/jagung/ubi, dan lain-lain), lauk-pauk, air
bersih, bahan makanan pokok tambahan seperti mi, susu,
kopi, teh, perlengkapan makan (food ware) dan
sebagainya.
2) Sandang, antara lain perlengkapan pribadi berupa baju,
kaos dan celana anak-anak sampai dewasa laki-laki dan
perempuan, sarung, kain batik panjang, handuk, selimut,
daster, perangkat lengkap pakaian dalam, seragam sekolah
laki-laki dan perempuan (SD dan SMP), sepatu/alas kaki
sekolah dan turunannya.
3) Logistik lainnya, antara lain, obat dan alat kesehatan habis
pakai, tenda gulung, tikar, matras, alat dapur keluarga,
kantong tidur (sleeping bag) dan sebagainya.
4) Paket kematian, antara lain kantong mayat, kain kafan dan
sebagainya.
b. Peralatan adalah segala bentuk alat dan peralatan yang dapat
dipergunakan untuk membantu terselenggaranya suatu
kegiatan penanggulangan bencana, sehingga dengan bantuan
alat tersebut manusia dapat memenuhi kebutuhannya dan
dapat melaksanakan fungsi kehidupannya sebagai manusia.
Termasuk dalam kategori peralatan ini misalnya peralatan
kesehatan, peralatan komunikasi, peralatan peringatan dini,
peralatan teknik dan sebagainya.

5
c. Sumber Daya Manusia Relawan, tenaga kesehatan (dokter,
perawat, bidan, sanitarian, apoteker, ahli gizi dan lain-lain),
TNI/Polri, tenaga SAR, desa siaga.
b) Petunjuk Pengisian Data
1) Petunjuk Pengisian Data Pra Bencana
Provinsi : (nama provinsi)
Kabupaten/Kota : (nama kabupaten/kota)
Sumber Data : (literatur/daftar pustaka)
Tahun : (tahun penerbitan sumber data)
NO URAIAN
1. a. Letak geografis : diisi Longitude/Latitude dan tinggi dpl (diatas
permukaan laut).
b. Luas : diisi luas wilayah dalam satuan km2.
c. Batas Wilayah : diisi batas Utara, Timur, Selatan dan Barat.
d. Geologi : diisi jenis batuan gunung berapi.
e. Klimatologi : diisi keadaan iklim atau cuaca, misalkan arus
angin, temperatur dan kelembaban udara.
f. Geomorfologi : diisi bentukan lahan.
g. Topografi : diisi ketinggian pegunungan, perbukitan dan
dataran.
h. Fisiografi : diisi kondisi bentuk permukaan suatu daerah.
i. Stratigrafi : diisi jenis-jenis lapisan batuan.
j. Kondisi Tanah : diisi jenis tanah dan luasnya, sebagai contoh
jenis tanah aluvial hidromorf dengan luas 163.444.
k. Hidrologi: diisi nama sungai dengan daerah alirannya.
2. Tata Guna Lahan : diisi uraian tentang penggunaan lahan pada suatu
daerah. Sebagai contoh persawahan, perindustrian, dll serta diisikan
pula luasan lahan yang digunakan dan prosentasenya.
3. Gunung : diisi nama gunung, tipe gunung (A,B,C), nama kawah dan
jumlah kawah kalau ada, lokasi gunung (LS dan BT), tinggi dari
permukaan laut (meter), nama & jarak kab/kota terdekat dari gunung
(km), status gunung (aktif/non aktif), serta sejarah letusan gunung.

6
4. DAS (Daerah Aliran Sungai) : diisi nama sungai, hulu sungai, muara
sungai, daerah aliran sungai (nama kecamatan) serta
karakteristik/kondisi DA
5. Danau : diisi nama danau, lokasi danau, luas danau (hektar) dan
kondisi
6. Jalan : diisi nama ruas jalan, status jalan (nasional, provinsi,
kab/kota, dan lain-lain), panjang jalan (kilometer), lebar
jalan(meter), permukaan jalan dan kondisi jalan
7. Jembatan : diisi nama jembatan, status jembatan, panjang dan lebar
(m2), konstruksi (contoh : terbuat dari beton, aspal, hotmix), kondisi
jembatan (baik, sedang, rusak, dan rusak berat), koordinat (x,y).
8. Cakupan Air Bersih: diisi PAM, PMA, PAH, sumur gali, sumur
pompa tanga
9. Irigasi : diisi jenis irigasi (teknis, setengah teknis, non teknis),
panjang saluran, jumlah bendungan air, dan jumlah pintu air.
10. Listrik : diisi jenis sumber energi (PLN, PLTD, PLTU, PLTA) dan
daya tersambung (kva) per kecamatan.

11. Telekomunikasi : diisi jumlah sambungan telepon, jumlah tower, dan


keterangan (penyedia layanan) per kecamatan.

12. Demografi : diisi jumlah penduduk berdasarkan klasifikasi usia dan


jenis kelamin, mulai dari kurang 1 tahun sampai dengan lebih dari 60
tahun, dan total penduduk per kecamatan.

13. Sarana pendidikan : jumlah bangunan sekolah berdasarkan


klasifikasi tingkat pendidikan dari TK, SLB, SD/MI, SMP/MTS,
SMA/SMK/MA dan Perguruan Tinggi.

14. Bandar udara : diisi nama lokasi bandara, kelas bandara, panjang
landasan, jenis landasan, disertai sarana dan prasarana.

7
15. Lokasi Pelabuhan Laut/Sungai/Danau : diisi nama Pelabuhan
Laut/Sungai/Danau, kelas pelabuhan, panjang dermaga, sarana dan
prasarana.
16. Sarana Kesehatan: diisi Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu.

17. Sarana Peribadatan: diisi Jumlah masjid, gereja, pura, wihara dan
lainnya

Ketersediaan Sumber Daya


NO URAIAN
1. Logistik: diisi pangan, sandang, logistik lainya, paket kematian
2. Peralatan: diisi standar minimal jenis peralatan penanggulangan
bencana
3. Sumber Daya Manusia: diisi relawan, tenaga kesehatan, TNI/Polri,
tenaga SAR dan desa siaga.

Data tanggap darurat merupakan rekapitulasi kejadian bencana


mulai dari tempat kejadian, korban sampai dengan dampak yang
ditimbulkan. Formulir ini diisi oleh BPBD/OPD yang menangani bencana
yang bersumber dari OPD yang mengelola data terkait dengan tanggap
darurat.

2) Petunjuk Pengisian Data Tanggap Darurat


NO URAIAN
1. Kejadian Bencana
a. Jenis bencana : (gempa bumi, banjir, tanah longsor dan lain-
lain)
b. Tanggal kejadian : (tanggal pada saat terjadinya bencana, bukan
tanggal perkembangan bencana)
c. Waktu kejadian : waktu terjadinya bencana pertama kali (jam
kejadian bencana)
d. Lokasi bencana : (provinsi, kabupaten, daerah cakupan bencana

8
(desa/kel, kecamatan))
e. Letak geografi : koordinat bencana (long X, lat y), cakupan
dampak bencana (panjang,lebar,radius), khusus bencana banjir
(luas dan tinggi genangan)
f. Penyebab bencana : (pemicu terjadinya bencana)
g. Deskripsi tentang bencana tersebut. 8. Kondisi Cuaca: diisi
cuaca pada saat pelaporan
2. Jumlah korban : diisi jumlah total korban meninggal, hilang, luka
berat, luka ringan, pengungsi dan penderita/terdampak namun
dibedakan per usia dan jenis kelaminnya.

3. Meninggal : diisi nama korban yang meninggal beserta alamat,


jenis kelamin, usia, ahli waris dan keterangan (informasi lainnnya).

4. Hilang : diisi nama korban yang hilang beserta alamat, jenis


kelamin, usia, lokasi hilang, ahli waris dan keterangan (informasi
lainnya).

5. Luka ringan : diisi nama korban luka ringan beserta alamat, jenis
kelamin, usia dan keterangan (informasi lainnya).

6. Luka berat : diisi nama korban luka berat beserta alamat, jenis
kelamin, usia, status medis (dirujuk/dirawat), lokasi (nama Rumah
Sakit) dan keterangan (informasi lainnya).

7. Lokasi pengungsi : diisi kode lokasi pengungsi, lokasi (tempat


pengungsian, seperti sekolah, tempat ibadah, aula, dll), alamat
pengungsian, kapasitas (jumlah maksimal jiwa dari tempat
pengungsian), jenis hunian (tenda darurat, barak, balai desa,
sekolah, rumah ibadah, dll) dan keterangan (informasi lainnnya).

8. Jumlah pengungsi : diisi nama wilayah (bisa dipilih kab/kota atau

9
sampai kelurahan), lokasi (merupakan kode lokasi pengungsian),
jumlah pengungsi merupakan total dari pengklasifikasian
pengungsi berdasarkan usia, jenis kelamin dan kelompok rentan.

9. Jumlah penderita/terdampak : diisi nama wilayah (bisa dipilih


kab/kota atau sampai kelurahan), alamat, jumlah penderita
merupakan total dari pengklasifikasian penderita berdasarkan usia,
jenis kelamin dan kelompok rentan.

10. Kerusakan : diisi wilayah kerusakan, jenis kerusakan serta jumlah


kerusakan yang diklasifikasikan menjadi rusak berat, sedang dan
ringan, serta total keseluruhan dari jumlah kerusakan tersebut.

11. Fasilitas umum yang masih bisa digunakan : diisi dengan uraian
berdasarkan pertanyaan yang telah tersedia.

12. Upaya penanganan yang telah dilakukan : diisi dengan uraian


tentang penanganan darurat apa saja yang telah dilakukan oleh
BPBD setempat, instansi terkait, BNPB maupun K/L terkait di
Pusat.
13. Sumber daya : diisi dengan ketersediaan kebutuhan, kebutuhan
yang diperlukan dan kekurangan kebutuhan.

14. Relawan nasional : diisi data relawan nasional yang terlibat dalam
penanganan bencana, beserta asal organisasi, jumlah relawan,
keahlian relawan, penempatan dan tugas relawan, keterangan
(infoermasi lainnya).

15 Relawan internasional : diisi data relawan internasional yang


terlibat dalam penanganan bencana, beserta asal organisasi, jumlah
relawan, keahlian relawan, penempatan dan tugas relawan,
keterangan (lnformasi lainnya).

10
16 Bantuan dalam negeri : diisi data bantuan yang berasal dari dalam
negeri, yaitu tanggal penerimaan bantuan , asal bantuan, jenis
bantuan, jumlah bantuan dan satuannya serta nilai bantuan
(nominal) dan keterangan (informasi lainnya).

17 Bantuan luar negeri : diisi data bantuan yang berasal dari luar
negeri, yaitu tanggal penerimaan bantuan, asal bantuan, jenis
bantuan, jumlah bantuan dan satuannya serta nilai bantuan
(nominal) dan keterangan (informasi lainnya).

18. Pendistribusian/pengangkutan : diisi berupa uraian tentang jenis


logistik, spesifikasi, cara pendistribusian dan tujuannya

19. Potensi bencana susulan : diisi dengan uraian untuk potensi


bencana susulan yang kemungkinan akan terjadi pasca bencana

Dalam pelaksanaan pengisian formulir ini, data yang dibutuhkan


adalah data kerusakan aset yang mencakup lima sektor: pemukiman,
infrastruktur, ekonomi produktif, sosial dan lintas sektor. Kerusakan
dimaksud meliputi : tingkat kriteria kerusakan rusak berat, rusak sedang
dan rusak ringan. Pengisian formulir ini mencakup penilaian kerusakan
dan kerugian berikut status kepemilikan aset. Di samping penilaian
formulir di atas, juga diperlukan pengisian untuk penilaian kebutuhan
pemulihan kemanusiaan. Formulir tersebut mengacu pada Peraturan
Kepala BNPB Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pedoman Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Pasca Bencana. Hasil pengisian ini digunakan untuk
penilaian kebutuhan pasca bencana, sebagai hasil untuk pelaksanaan
rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. (Formulir lengkap untuk
proses penilaian kerusakan dan kerugian serta kebutuhan pasca bencana,
mengacu ke Pedoman Inventarisasi dan Verifikasi serta Pedoman

11
Penilaian Kebutuhan Pasca Bencana). Formulir ini diisi oleh BPBD/OPD
yang menangani bencana yang bersumber dari OPD yang mengelola data
terkait dengan rehabilitasi dan rekonstruksi.

3) Petunjuk Pengisian Data Pasca Bencana


NO URAIAN

1. 1. Kejadian bencana (gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan


lain-lain)
2. Tanggal kejadian (tanggal saat terjadinya bencana)
3. Lokasi bencana (provinsi, kabupaten kota, dan kecamatan)
2. Penilaian kerusakan berisi :
1. Bidang/sector.
2. Lokasi.
3. Tingkat kerusakan (rusak berat, rusak sedang dan rusak
ringan) dan satuannya mengacu pada data kerusakan saat
tanggap darurat.
4. Harga satuan (rusak berat, rusak sedang, rusak ringan) diisi
berdasarkan penilaian dari bidang rehabilitasi dan
rekonstruksi.
5. Nilai kerusakan merupakan penjumlahan dari perkalian
masing-masing tingkat kerusakan dengan harga satuan Nilai
Kerusakan = (RB pada Tk. Kerusakan x RB pada Harga
satuan) + (RS pada Tk. Kerusakan x RS pada Harga satuan) +
(RR pada Tk. Kerusakan x RR pada Harga satuan).
6. Taksiran kerugian berasal dari penilaian kerugian dari tabel
penilaian Taksiran kerugian.
7. Hasil verifikasi BNPB/BPBD/KL di isi oleh tim dari
BNPB/BPBD/KL.
8. Kepemilikan (pemerintah dan non pemerintah).
3. Penilaian taksiran kerugian berisi sub sektor/jenis sub sektor,
lokasi, rincian kerugian, asumsi perhitungan, jumlah, satuan, harga

12
satuan, penilaian kerugian (jumlah x harga satuan) dan keterangan
(informasi lainnya).

4. Rencana kegiatan dan pendanaan berisi uraian kegiatan, jumlah


(penjumlahan dari tk. kerusakan pada tabel penilaian kerusakan),
satuan, usulan, kebutuhan dana (Hasil verifikasi dari Tim
BNPB/BPBD/KL) dan rencana sumber dana, terdiri dari
Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, K/L dan
BNPB.

5. Realisasi berisi uraian kegiatan, jumlah, satuan, kebutuhan dana,


rencana sumber dana yang berisi Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten/Kota, K/L dan BNPB serta kolom tambah kurang
(kebutuhan dikurangi dengan hasil penjumlahan dari seluruh
rencana sumber dana).

6. Sumber dana dalam negeri berisi tanggal, asal, jenis bantuan dan
nilai dari bantuan serta keterangan (informasi lainnya).

7. Sumber dana dalam negeri berisi tanggal, asal, jenis bantuan dan
nilai dari bantuan serta keterangan (informasi lainnya).

2. Penilaian Kebencanaan
Penilaian resiko bencana dapat dilakukan berdasarkan dengan hasil
identifikasi bencana. Dengan dilakukan penilaian kemungkinan dan skala
dampak yang mungkin ditimbulkan oleh bencana tersebut. Dengan
demikian dapat diketahui, apakah potensi sebuah bencana di suatu daerah
tergolong tinggi atau rendah. Identifikasi bencana dilakukan dengan melihat
berbagai aspek yang ada disuatu daerah atau perusahaan, seperti lokasi, jenis
kegiatan, kondisi geografis, cuaca, alam, aktivitas manusia, dan industry,
sumberdaya alam serta sumber lainnya yang berpotensi menimbulkan
bencana. Identifikasi bencana ini dapat didasarkan pada pengalaman
bencana sebelumnya dan prediksi kemungkinan suatu bencana yang dapat
terjadi.

13
Analisis risiko bencana disusun berdasarkan persyaratan analisis
risiko bencana melalui penelitian dan pengkajian terhadap suatu kondisi
atau kegiatan yang mempunyai risiko tinggi menimbulkan bencana. Analisis
risiko bencana dituangkan dalam bentuk dokumen yang disahkan oleh
pejabat pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Analisis Risiko Bencana (ARISCANA) dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh informasi dan data mengenai potensi bencana yang mungkin
dapat terjadi dilingkungan masing-masing serta potensi atau tingkat risiko
atau keparahannya. Sebagai langkah sederhana untuk pengkajian risiko
bencana adalah dengan pengenalan bahaya/ancaman di daerah yang
bersangkutan. Semua bahaya/ancaman tersebut diinventarisasi, kemudian di
perkirakan kemungkinan terjadinya (probabilitasnya).

3. Pelaporan Kebencanaan
Informasi dalam penanggulangan bencana dimulai sejak
pengumpulan, analisis hingga diseminasi informasi yang dilakukan secara
cepat, tepat dan benar sebagai bagian dalam penanggulangan bencana. Data
dan informasi becana dikumpulkan dari pemerintahan, organisasi
relawan/NGO/masyarakat dan berbagai sumber media. Data dikumpulkan
baik secara langsung melalui wawancara ataupun secara tidak langsung
seperti dari internet, televisi, media cetak dan sebagainya.
Data bencana yang diperoleh dari berbagai sumber merupakan
landasan dalam memberikan informasi ke pihak-pihak yang membutuhkan.
Manajemen informasi yang dilakukan meliputi pengumpulan informasi
(termasuk pengkajian), penyusunan dan penstrukturan informasi, evaluasi
dan analisis informasi serta penyebaran informasi (desiminasi). Semua
informasi dan data bencana harus disimpan secara rapi dan baik secara
elektronik maupun dalam bentuk dokumen tertulis. Dalam melakukan
analisis data diperlukan prinsip kehati-hatian, teliti dan obyektif agar
menghasilkan informasi yang tepat, ringkas dan akurat. Sebagai acuan
dalam analisis dilakukan dengan memperhatikan konsep SW+H, yaitu apa,
di mana, kapan, siapa, mengapa dan bagaimana. Apabila tidak

14
memungkinkan dilakukan semua konsep, cukup dengan apa, dimana, kapan
dan bagaimana.
Dalam penyajian data dan informasi yang jelas, terkini dan mudah
dipahami dapat menggunakan beberapa alat bantu seperti log book/buku
pencatatan, peta informasi, papan pengumuman, papan untuk pesan,
pertemuan koordinasi/informasi, informasi siapa, apa, dimana, salinan dan
laporan situasi. Analisis data yang telah menghasilkan informasi harus
disebarkan secara tepat waktu dan dengan cara yang terstruktur. Pelaporan
merupakan salah satu dari fungsi penting yang harus dilakukan oleh BNPB
dan BPBD. Laporan harus jelas, ringkas, akurat dan professional.

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau nonalam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Data pra bencana
merupakan basis data yang dapat digunakan apabila diperlukan. Penilaian
resiko bencana dapat dilakukan berdasarkan dengan hasil identifikasi
bencana, dengan dilakukan penilaian kemungkinan dan skala dampak yang
mungkin ditimbulkan oleh bencana tersebut. Informasi dalam
penanggulangan bencana dimulai sejak pengumpulan, analisis hingga
diseminasi informasi yang dilakukan secara cepat, tepat dan benar sebagai
bagian dalam penanggulangan bencana.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, diharapkan ada kritik dan saran yang dapat
membangun sehingga kami dapat menyempurnakan makalah kami.

16
DAFTAR PUSTAKA

Dewi. (2019). Dokumentasi Dan Pelaporan Hasil Penilaian Bencana. Diakses


dari https://www.scribd.com/document/434636980/Dokumentasi-Dan-
Pelaporan-Hasil-Penilaian-Bencana. Pada tanggal 04 November 2020.

Muta’ali, Lutfi. (2014). Perencanaan Pengembangan Wilayah Berbasis


Pengurangan Risiko Bencana. Yogyakarta: BPFG UGM.

17

Anda mungkin juga menyukai