Anda di halaman 1dari 5

vailable at http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.

php/tgeo
e-ISSN: 2622-9528 p-ISSN: 2301-606X Jurnal Tunas Geografi Vol. XX No. XX 20XX

Analisis Budidaya Tanaman Mangrove Berbasis Ekowisata di Kawasan


Sicanang, Kec.Medan Belawan
Irvi Sari Chairuna Pulungan1, Hafnida Husna Marpaung2, Jessy Frisca
Simanjuntak3, Meilinda Suriani Harefa,4
Universitas Negeri Medan
Jln. Williem Iskandar Pasar V Medan Estate
Email : Irvisarichairuna2@gmail.com

Abstrak

Kawasan Ekowisata Manggrove Sicanang terletak di Kelurahan Belawan Sicanang, Kec.Medan


Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara. Manggrove adalah merupakan sebuah sebutan bagi tanaman
bakau. Namun istilah mangrove pada saat ini lebih merujuk pada tema kolektif yang merujuk pada
ekosistem tanaman yang menumbuhi daerah tergenang air asin/ pasang surut. Karakteristik manggrove
sendiri adalah merupakan tanaman dengan kemampuan menahan ombak laut agar tidak merusak
ekosistem daratan pantai.tujuan penelitian ini untuk mengetahui kawasan ekowisata hutan mangrove di
kawasan Sicanang. Penelitian ini dilakukan dengan metode Deskriptif-Kualitatif dengan secara langsung
ke lapangan dan memperoleh data secara langsung. Pengumpulan data dilakuakan dengan
memanfaatkan data primer berupa fakta yang dijumpai di kawasan ekowisata Sicanang. Hasil penelitian
menunjukkan terdapat beberap jenis mangrove yang terdapat di kawasan ekowista Sicanang.
Masyarakat dan Pemerintah juga ikut berperan dalam menjaga tanaman mangrove di kawasan
ekowisata Sicanang. Kawasan ekowisata Mangrove ini juga mmemberikan dampak bagi masyarakat
sekitar.
Kata Kunci: Tanaman Mangrove, Ekowisata.

PENDAHULUAN tema kolektif yang merujuk pada ekosistem


Abrasi Pantai merupakan salah satu tanaman yang menumbuhi daerah tergenang air
permasalahan yang kompleks yang sering asin/ pasang surut. Karakteristik manggrove
dibahas dalam kajian Konservasi Sumberdaya sendiri adalah merupakan tanaman dengan
Alam. Abrasi pantai merupakan suatu proses kemampuan menahan ombak laut agar tidak
pengikisan atau penggerusan daratan pesisir merusak ekosistem daratan pantai.
oleh karena tenaga ombak laut yang
mengakibatkan terjadinya pengurangan luas Manggrove sebagai tanaman penghalang
wilayah pesisir pantai dan menyebabkan daerah abrasi sejatinya telah lama dikenal oleh
pengaruh pasang surut air laut semakin meluas kalangan nelayan pada umumnya, namun
ke daerah pemukiman penduduk. Telah banyak kesadaran akan pentingnya manggrove barulah
usaha yang dilakukan dalam pengurangan muncul dewasa ini. Penanaman mangrove itu
tingkat resiko abrasi pantai, mulai dari sendiri telah menjadi alternatif utama yang
membuat tanggul-tanggul sederhana dengan digunakan untuk mengurangi resiko abrasi
mengisi karung dengan pasir yang kemudian pantai, karena bersifat alami, ramah
disusun sedemikian rupa membentuk lingkungan, berkesinambungan, serta potensial
pengahalang hingga yang paling gencar dijadikan sebagai lahan penggerak kegiatan
dilakukan saat ini yaitu dengan penanaman perekonomian masyarakat pesisir. Di samping
mangrove. itu pula keberadaan manggrove juga turut
menambah keanekaragaman hayati ekosistem
Manggrove adalah merupakan sebuah pesisir.
sebutan bagi tanaman bakau. Namun istilah
mangrove pada saat ini lebih merujuk pada

Analisis Budidaya Tanaman Mangrove Berbasis Ekowisata …|1


vailable at http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/tgeo
e-ISSN: 2622-9528 p-ISSN: 2301-606X Jurnal Tunas Geografi Vol. XX No. XX 20XX

Penggunaan mangrove sebagai sabuk hal di atas diharapkan fungsi utama tanaman
hijau-green belt di daerah pantai telah dikenal manggrove akan berjalan dengan baik,
secara luas oleh masyarakat dunia. Keberadaan berkesinambungan dan terlestarikan dengan
manggrove dewasa ini sangatlah penting baik.
terutama dalam mempertahankan luasan
wilayah daratan pada negara-negara kepulauan.
Di Indonesia sendiri penyebaran manggrove
sudah dapat dikatakan merata pada kelima
pulau besar yang ada. Mangrove sebagai suatu
ekosistem pesisir pantai memiliki cara kerja
unik dan memberikan sumbangsih yang besar
dalam mengendalikan tingkat abrasi pantai.

Banyak sekali faktor yang


menyebabkan pengelolaan tanaman manggrove
di Indonesia menjadi terbengkalai. Di
antaranya yang paling kompleks ialah tumpang
tindih peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia terkait manggrove.
Terdapat berbagai peraturan terkait manggrove METODOLOGI PENELITIAN
dalam sudut pandang yang berbeda di antara Penelitian ini dilakukan di Kawasan
berbagai kementerian yang bertanggungjawab Ekowisata Sicanang, Kelurahan Pulau
atasnya seperti: Kementrian Perhubungan, Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota
Kementrian Kemaritiman/Kelautan, dan Medan. Penelitian akan dilakukan pada hari
Kementrian Lingkungan Hidup. Senin, 26 Oktober 2020 pada pukul 15.00-
selesai.
Untuk mengatasi berbagai fenomena
Pengamatan dilakukan langsung ke
tersebut muncullah berbagai ide dan gagasan
lapangan dan memperoleh data secara langsung,
yang menaruh fokus utamanya pada
dan juga melakukan wawancara untuk
pemeliharaan hutan mangrove. Diantaranya
memperoleh informasi. Alat utama yang
yaitu budidaya ekosisistem mangrove yang
digunakan yaitu kamera.
berbasis ekowisata serta pembangunan
kawasan pantai manggrove secara terpadu dan Teknik pengumpulan data yang
berkesinambungan. dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
memanfaatkan data primer berupa fakta yang
Salah satu ekowisata mangrove yang dijumpai di daerah lokasi pengamatan yang
potensial adalah situs kawasan ekowisata kemudian akan dikaji dan diolah. Kemudian
mangrove yang dapat dijumpai di daerah penulis juga memanfaatkan data sekunder
Sicanang, Kecamatan Medan Belawan,Kota kajian-kajian terdahulu sebelumnya sebagai
Medan. Dalam lokasi ekowisata ini acuan dan bandingan dalam menyimpulkan
pengelolaan mangrove dilakukan secara lebih hasil penelitian.
efektif dan efisien sehingga fungsi dan
peranan utama tanaman manggrove itu dapat
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
berjalan dengan baik.
1. Jenis Tumbuhan yang dapat dijumpai
KERANGKA BERPIKIR dalam Ekowisata Manggrove Sicanang

Pembentukan kawasan ekowisata Dari hasil pengamatan di lapangan yang


terkhusus ekowisata mangrove haruslah peneliti lakukan maka terdapat tiga jenis
membutuhkan perencanaan terlebih dahulu. tumbuhan utama yang dapat diidentifikasi
Selain itu kerjasama antara masyarakat dan sebagai penyususun formasi hutan manggrove di
pemerintah menjadi poin utama dalam ekowisata sicanang.
mewujudkan kawasan ekowisata yang terpadu
dan berkelanjutan. Dengan terpenuhinya kedua

Analisis Budidaya Tanaman Mangrove Berbasis Ekowisata …|2


vailable at http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/tgeo
e-ISSN: 2622-9528 p-ISSN: 2301-606X Jurnal Tunas Geografi Vol. XX No. XX 20XX

Suku Genus
Rhizophoraceae Rhyzophora
Sonneratiaceae Pidada
Arecaceae Nypa
Kelompok Lainnya

Sumber : Data Sekunder

Klasifikasi tumbuhan penyusun bakau-bakauan memiliki karakteristik fisiologis


manggrove di atas diperoleh dari hasil batang yang lebih keras dan lebih tahan
identifikasi fisiologis tumbuhan meliputi terhadap gelombang. Dan formasi nypah
batang, daun, buah ,dan tajuk bunga dibelakangnya berfungsi sebagai penopang
terhadap data sekunder. Maka berdasarkan terhadap eksistensi mangrove jenis rhizophora
hasil analisis tersebut berbagai temuan di depannya.
lapangan lagi dapat diklasifikasikan ke
Formasi zona yang kedua ialah zonasi kecil
dalam genus seperti tersebut dalam tabel di
yang tumbuh mengelompok terpisah dari zona
atas. Adapun yang paling mendominasi
utama diantara barisan jembatan kayu yang
ialah tanaman Rhyzophora atau bakau-
disediakan. Jembatan kayu yang disusun dengan
bakauan yang sangat banyak ditemui di
formasi menjalar di sepanjang kawasan ekowisata
sana. Hal ini dapat kita asumsikan bahwa
yang ditujukan guna mempermudah pengamatan,
tanaman dari genus ini memiliki
pemeliharaan, serta dalam melakukan program
karakteristik fisiologis yang sangat
penanaman mangrove. Bentukan formasi kedua
kompleks baik dari segi akar, batang,
ini terkesan lebih acak dan kurang teratur karena
maupun daun yang sangat berpotensi dalam
tumbuh begitu saja pada daerah-daerah sekitar
menghindarkan dampak abrasi pantai.
barisan jembatan kayu
3. Dampak Terhadap Lingkungan yang
Dapat Dirasakan dengan adanya
Kawasan Ekowisata
Kehadiran kawasan manggrove mampu
mengendalikan laju abrasi daratan. Hal ini sejalan
dengan pengamatan terhadap arus pantai di mana
arus pantai cenderung lebih tenang. Selain itu
kehadiran manggrove juga turut menurunkan
tingkat polutan baik udara maupun air. Dengan
demikian kualitas udara di sekitar kawasan
2. Pola Penanaman Mangrove ekowisata lebih segar dan baik bagi lingkungan
sekitar.
Tampak terdapat zonasi-zonasi kecil yang
menjadi tempat pengelompokan tertentu antar 4. Dampak Terhadap Kehidupan Masyarakat
spesies. Zonasi-zonasi yang dimaksud ialah Sekitar Mangrove
meliputi dua bagian. Yaitu formasi barisan Dengan hadirnya ekowisata mangrove
utama yang diatur sedemikian rupa sehingga maka turut membawa dampak positif bagi
terlihat apik dan mengandung nilai estetika kehidupan masyarakat sekitar. Hal utama yang
tanpa mengesampingkan nilai gunanya. Formasi paling terasa ialah dengan kehadiran mangrove
utamanya yaitu meliputi barisan manggrove maka dapat menghalang pengaruh angin laut
dengan jenis rhizophora mayoritas akan secara langsung menuju ke daratan. Selain itu
dijumpai di bagian depan sedangkan jenis nypah dari segi perekonomian, kehadiran mangrove
akan dominan dijumpai di bagian belakangnya. juga turut menambah penghasilan masyarakat
Hal ini ditujukan untuk menghindarkan dampak melalui pemasaran makanan ringan dan jajanan
abrasi seperti yang kita ketahui bahwa tanaman

Analisis Budidaya Tanaman Mangrove Berbasis Ekowisata …|3


vailable at http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/tgeo
e-ISSN: 2622-9528 p-ISSN: 2301-606X Jurnal Tunas Geografi Vol. XX No. XX 20XX

yang mudah dijumpai di sepanjang jalan berinteraksi langsung dengan tanaman. Di


masuk ke daerah ekowisata. beberapa titik disediakan pula rumah pohon yang
lebih tinggi untuk mempermudah jangkauan
5. Jumlah Pengunjung dan Pendapatan yang
pengamatan yang lebih luas. Ada juga fasilitas
diperoleh
lain berupa pondok untuk bersantai dan makan
Dari hasil pengamatan lapangan, Situs serta fasilitas mushola untuk melakukan
Ekowisata Sicanang masih kurang populer di kegiatan ibadah umat Muslim.
kalangan masyarakat. Hal ini ditandai dengan
jumlah pengunjung yang sangat sedikit untuk KESIMPULAN
mengunjungi kawasan ini. Setiap harinya jumlah Pengelolaan mangrove berbasis Ekowisata
pengunjung hanya berkisar kurang dari 20 orang sangatlah efektif untuk dilakukan. Hal ini sejalan
dan jumlah tersebut dapat meningkat drastis dengan dengan berbagai hasil yang telah didapatkan oleh
adanya berbagai event atau kegiatan yang memilih peneliti dari lapangan bahwa kehadiran mangrove
kawasan ekowisata Sicanang sebagai lokasi bebasis ekowisata membawa berbagai dampak
kegiatan. Tarif yang diperlukan untuk masuk ke positif. Dampak tersebut dapat dirasakan oleh
daerah ini adalah 10.000 IDR per kepala. Maka berbagai pihak dalam berbagai segi. Baik dari
apabila dikalikan dengan jumlah pengunjung dapat segi ekonomi, lingkungan, dan sosial mereka.
berkisar 100.000 IDR. Jumlah ini tentu masih
kurang dalam mendukung keefektifan dan Kehadiran ekowisata membantu perawatan
keefisienan pemeliharaan hutan mamngrove. dan pemeliharan tanaman mangrove, yaitu
perawatan dan pelestarian fungsi tanaman dapat
6. Upaya Pelestarian Mangrove dalam lebih tepat guna dan potensinya sebagai sabuk
Kawasan Ekowisata hijau- green belt dapat lebih dioptimalkan
melalui pengelolaan dalam ekowisata.
Pemeliharan manggrove dalam kawasan
ekowisata Mangrove Sicanang dilakukan lanoleh SARAN
pengelola ekowisata. Pada saat pengamatan Saran kepada berbagai pihak dalam
dilakukan terlihat adanya aktifitas pembersihan memposisikan dirinya untuk perbaikan
dan perawatan tumbuhan dengan menggunakan ekosistem mangrove yaitu :
sampan kecil oleh para pengelola. Selain itu 1. Kepada Pemerintah, agar kiranya lebih
para wisatawan juga diajak turut serta dalam giat lagi dalam menggalakkan parogram
pelestarian manggrove melalui ajang penanaman penanaman mangrove melalaui bentuk
mangrove. pengucuran dana dan bibit manggrove
serta memberi dasar hukum yang jelas
7. Peranan Pemerintah dan Masyarakat
terkait pembentukan hutan mangrove.
dalam Pengembangan Ekowisata
Selain itu juga perlu dilakukan perluasan
Mangrove
wilayah manggrove karena dari hasil
Dari hasil pengamatan lapangan diperoleh pengamatan lapangan ekowisata Sicanang
informasi bahwa keberadaan ekowisata mangrove masih kurang luas untuk melindungi
merupakan kerjasama antara masyarakat sekitar kawasan lingkungan sekitar kelurahan
dan pemerintah. Pemerintah memberikan bantuan Pulau Sicanang.
berupa bibit manggrove untuk kemudian dikelola 2. Kepada Masyarakat sekitar daerah
oleh masyarakat yang telah diunjuk untuk ekowisata agar kiranya lebih memberikan
bertanggung jawab sebelumnya. perhatiannya dalam pengelolaan wilayah
mangrove selain itu masyarakat sekitar
8. Fasilitas
juga dituntut untuk ikut serta dan
Fasilitas yang disedikan oleh pengelola berperan aktif dalam pengelolaan wilayah
ekowisata ialah papan informasi bagi para mangrove baik dalam lokasi ekowisata
pengunjung yang bertujuan untuk memperoleh maupun yang dilakukan secara pribadi.
informasi bagi para pengunjung. Selain itu 3. Kepada para Pengunjung lokasi
disediakan juga jembatan kayu sebagai tempat ekowisata, agar mampu menyumbangkan
berjalan para pengunjung untuk mengamati dan bantuan materi dalam hal penanaman

Analisis Budidaya Tanaman Mangrove Berbasis Ekowisata …|4


vailable at http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/tgeo
e-ISSN: 2622-9528 p-ISSN: 2301-606X Jurnal Tunas Geografi Vol. XX No. XX 20XX

bibit mangrove selain itu untuk tidak


membuang sampah ke daerah ekowisata
dan turut menjaga kelestariannya.

UCAPAN TERIMA KASIH


Terima kasih kepada kepada pihak-pihak yang
secara penting berperan dalam pelaksanaan
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau

https://www.google.co.id/maps/place/Belawan+Pul
au+Sicanang,+Medan+Kota+Bela wan,
+Kota+Medan,+Sumatera+Utara/

Wardhanni,Maulina Kusumo. 2011. Jurnal


Kelautan : Kawasan Konservasi Mangrove Suatu
Potensi Ekowisata.Vol.04.No.01 (60-76).

Setyawan,Ahmad
Deni,dkk.2006.Biodiversitas.Permasalahan
Konservasi Ekosistem Mangrove di Pesisir
Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Vol.7.No,2.(159-163)

Senoaji,Gunggung.2016.Jurnal Manusia dan


Lingkungan. Peranan Ekosistem Mangrove Di
Pesisir Kota Bengkulu Dalam Mitigasi
Pemanasan Global Melalui Penyimpanan Karbon
Vol.23.No.3 (327-333)

Utomo,Bekti.2017.Jurnal Ilmu
Lingkungan. Strategi Pengelolaan Hutan
Mangrove Di Desa Tanggul Tlare
Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara
Vol.14.No.2 (117-125)

Lisna.2017.Warta Rimba. Potensi Vegetasi


Hutan Mangrove Di Wilayah Pesisir Pantai
Desa Khatulistiwa Kecamatan Tinombo
Selatan Kabupaten Parigi Moutong
Vol.5.No.1 (63-70)

Analisis Budidaya Tanaman Mangrove Berbasis Ekowisata …|5