Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

“ PENGUKURAN LINEAR II ”

Disusun Oleh:
Nama : Chronica Preziosa Yohanna Sianturi
NPM : E1J020032
Prodi : Agroekoteknologi
Hari/Tanggal : Jumat/ 27 November 2020
Dosen : 1. Drs. Bosman Sidebang, MP
2. Dr. Ir. Bilman Wilman S., MP
3. Prof. Dr. Ir. Masdar, M.Sc
Ko-Ass : 1. Marini Yupita/ E1G016035
2. Agnesia Frisca D., S.T.P/ E1G016035

LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2020
1. NAMA PERCOBAAN
Pengukuran Linear II
2. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan massa jenis ( ρ ) benda.
3. TEORI DISERTAI TINJAUAN PUSTAKA
Jika seseorang ingin mengukur panjang suatu daerah, maka berarti dia
mengukur jarak antara dua titik yang membatasi daerah tersebut. Untuk
mengetahui nilainya, seseorang tersebut harus membandingkannya dengan
alat ukur panjang yang dilengkapi dengan satuan panjang dan kemudian
melakukan penaksiran.

Pengukuran dapat diartikan sebagai proses memasangkan fakta-fakta suatu


obyek dengan satuan-satuan ukuran tertentu. [ CITATION Mul07 \l 1033 ]. Sains
dan engineering didasarkan pada pengukuran dan perbandingan. Oleh karena
itu kita memerlukan aturan-aturan tentang bagaimana sesuatu itu diukur dan
dibandingkan, dan kita juga memerlukan eksperimen untuk menetapkan
satuan dari pengukuran dan perbandingan tersebut [ CITATION Hal10 \l 1033 ]
Di dalam mengukur suatu besaran, tentunya Anda perlu memilih alat ukur
yang sesuai dengan besaran yang akan diukur. Misalnya, Anda diminta
mengukur panjang sebuah meja. Tentunya Anda dapat menggunakan mistar
atau alat ukur panjang lainnya yang sesuai.
Dalam melakuakn pengukuran selalu dimungkinkan terjadi kesalahan.
Oleh karena itu, kita harus menyertakan angka-angka kesalahan agar kita
dapat memberi penilaian wajar dari hasil pengukuran. Dengan menyertakan
kesalahan atau batas toleransi terhadap suatu nilai yang kita anggap benar, kita
dapat mempertanggungjawabkan hasil pengukuran. [ CITATION Sup06 \l 1033 ]
Setiap benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida
(air/gas) akan mendapat gaya keatas sebesar besar zat cair yang dipindahkan,
dijabarkan oleh Archimedes (287 – 212 SM) yang disebut Hukum
Archimedes. Menurut Archimedes, benda menjadi lebih ringan bila di ukur
dalam air dibandingkan di udara karena dalam air benda mendapat gaya
keatas. Sementara ketika diudara, benda memiliki berat yang sesungguhnya.

. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan
total volumenya. Sebuah benda memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya
besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama
yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air). Satuan SI massa jenis
adalah kilogram per meter kubik (kg/m ). Massa jenis berfungsi untuk
menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan suatu zat
berapapun massanya, berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang
sama [ CITATION Soe99 \l 1033 ].
Massa jenis air murni adalah 1 g/cm3 atau sama dengan 1000 kg/m3.
Selain karena angkanya yang mudah diingat dan mudah dipakai untuk
menghitung, maka massa jenis air dipakai perbandingan untuk rumus ke-2
menghitung massa jenis, atau yang dinamakan 'Massa Jenis Relatif' [ CITATION
Ano98 \l 1033 ].

4. A. DATA PERCOBAAN
Table 2.1 Hasil pengukuran untuk massa jenis benda

Vo V1 Vb Mb ρhitung ρtabel
No Bahan ( m3 ) ( m3 ) ( m3 ) ( kg ) ( kg m-3 ) ( kg m-3
)
5
1 Kayu 5 ×10 −5
5,1 ×10 −5
1 ×10 −6
0,5 5 ×10 300-900
5 ×10−5 5,1 ×10−5 1 ×10−6 0,5 5 ×105 300-900
5 ×10−5 5,1 ×10−5 1 ×10−6 0,5 5 ×105 300-900
2 Besi 5 ×10−5 5,3 ×10−5 3 ×10−6 0,008 2.666,67 7.900
5 ×10−5 5,3 ×10−5 3 ×10−6 0,008 2.666,67 7.900
5 ×10−5 5,3 ×10−5 3 ×10−6 0,008 2.666,67 7.900
3 Batu 5 ×10−5 5,2 ×10−5 2 ×10−6 1,8 9 ×10 5 1.602
5 ×10−5 5,3 ×10−5 3 ×10−6 1,8 6 ×10 5 1.602
5 ×10−5 5,2 ×10−5 2 ×10−6 1,8 9 ×10 5 1.602

B. ANALISA DATA MENGGUNAKAN TEORI RALAT


1. Kayu
Table 2.1 Hasil pengukuran untuk massa jenis Kayu
No Data ( Kayu ) X – Xrata-rata ( X – Xrata-rata )2

1 5 ×105 0 0
2 5 ×105 0 0
3 5 ×105 0 0
∑X ∑ ¿ ( X – X rata−rata )2=0
X rata−rata=5 ×105
Jadi, hasil pengukuran kayu adalah 0 atau bisa dukatakan teliti dikarenakan 0
merupakan nilai netral.
2. Besi
Table 2.1 Hasil pengukuran untuk massa jenis Besi

No Data ( Besi ) X – Xrata-rata ( X – Xrata-rata )2

1 2.666,67 0 0
2 2.666,67 0 0
3 2.666,67 0 0
∑X ∑ ¿ ( X – X rata−rata )2=0
X rata−rata=2.666,67
Jadi, hasil pengukuran besi adalah 0 atau bisa dukatakan teliti dikarenakan
0 merupakan nilai netral.

3. Batu
Table 2.1 Hasil pengukuran untuk massa jenis Batu

No Data ( Besi ) X – Xrata-rata ( X – Xrata-rata )2

1 9 ×10 5 1 ×105 10 ×109


2 6 ×10 5 −2 ×105 40 × 109
3 9 ×10 5 1 ×105 10 ×109
∑X ∑ ¿ ( X – X rata−rata )2=60 × 109
X rata−rata=8 ×105
∑(X −X rata−rata)2
Ralat Mutlak : ΔX =
√ n(n−1)
Ralat Nisbi :

ΔX
Δ I= x 100 %
Xrata−rata

60× 109
ΔX =
√ 3(3−1)

1 ×105
Δ I= x 100 %
8 ×105

60× 109
ΔX =
√ 6
Δ I =12,5 %

ΔX =√ 10 ×109
ΔX =1 ×105
Keseksamaan : K = 100 % - ΔI Hasil Pengukuran : Xrata-rata ± ΔX
K = 100 % - 12,5 % = 8 ×10 5+ 1 ×105
K = 87,5 % = 9 ×10 5
¿ 8 ×105 −1× 105
¿ 7 ×105
Jadi, hasil pengukuran batu yaitu berkisar antara 7 ×105 kg m−3 sampai
9 ×10 5 kg m−3

C. PEMBAHASAN
Untuk menentukan volume benda padat dapat dilakukan dengan
pengukuran dimensi (untuk yang bentuknya beraturan) dan untuk yang ukurannya
tidak beraturan dengan menggunakan prinsip Archimedes. Cara pengukuran
dimensi ini dapat disebut juga dengan metode statis yaitu dengan mengukur
panjang, lebar dan tebal benda di tempat-tempat yang berlainan serta menentukan
massa benda tersebut (untuk massa benda cukup menimbang satu kali saja). maka
setelah diketahui volume dan massa jenis benda padat tersebut maka massa jenis
zat padat tersebut dapat diketahui. Sehingga dapat diketahui pula bahan tersebut
terbuat dari bahan apa.Sedangkan untuk prinsip Archimedes disebut juga dengan
cara dinamis yaitu dengan mencelupkan zat padat di luar zat cair yang diketahui
massa jenisnya. Dengan menimbang zat padat di luar zat cair dan di dalam zat
cair maka volume zat padat dapat ditentukan.

Massa jenis termasuk besaran turunan yaitu sama dengan massa dibagai
volume benda. Oleh karena itu, untuk menentukan massa jenis sebuah benda kita
perlu dua alat ukur, yaitu  alat ukur massa (neraca) dan alat ukur volume
(penggaris untuk benda yang teratur bentuknya atau gelas ukur).

Cara lain untuk mengukur volume benda adalah dengan memasukkan


benda langsung ke dalam gelas ukur.

Contoh:
Mula-mula air pada gelas ukur menunjuk skala pada 50,4 ml. Setelah
sebuah benda dimasukkan pada gelas ukur, air menunjuk pada skala 54,4 ml. Jadi
volume benda tersebut adalah 54,4 ml – 50,4 ml  atau 4,0 ml

5. KESIMPULAN
No Bahan ρhitung
( kg m-3 )
1 5 ×105
Kayu 5 ×105
5 ×105
2 2.666,67
Besi 2.666,67
2.666,67
3 9 ×10 5
Batu 6 ×10 5
9 ×10 5

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (1998). Densitas. Bandung: POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI
TEKNOLOGI TEKSTIL.

Halliday. (2010). Laporan Praktikum Fisika Dasar 1. Palembang: Fakultas


Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah.
Muljono, D. P. (2007). Laporan Pengukuran Dasar PPL Sekolah Menengah Atas
Negeri 6 Surakarta. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret.

Soedojo. (1999). Densitas. Bandung: POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI


TEKNOLOGI TEKSTIL.

Supriyanto. (2006). Laporan Pengukuran Dasar PPL Sekolah Menengah Atas


Negeri 6 Surakarta. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret.

LAMPIRAN
Cara Menghitung volume benda dan ρ hitung
1. Kayu
 V b =V 1−V 0
V b =5,1×10−5−5 ×10−5
V b =1×10−6
Mb
 ρ hitung¿
Vb
0,5
ρ hitung¿
1×10−6
ρ hitung¿ 5 ×105
2. Besi
 V b =V 1−V 0
V b =5,3× 10−5−5 × 10−5
V b =3× 10−6
Mb
 ρ hitung¿
Vb
0,08
ρ hitung¿
3× 10−6
ρ hitung¿ 2.666,67
3. Batu
 V b =V 1−V 0
V b =5,2×10−5−5 ×10−5
V b =2× 10−6
Mb
 ρ hitung¿
Vb
1,8
ρ hitung¿
2× 10−6
ρ hitung¿ 9 ×105
 V b =V 1−V 0
V b =5,3× 10−5−5 × 10−5
V b =3× 10−6
Mb
 ρ hitung¿
Vb
1,8
ρ hitung¿
3× 10−6
ρ hitung¿ 6 ×105