Anda di halaman 1dari 20

KEHIDUPAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DAN KETAHANAN

SOSIAL PADA EKOLOGI HUTAN YANG BERUBAH

THE LIFE OF FOREST COMMUNITY AND THE SOCIAL RESILIENCE


IN A CHANGING FOREST ECOLOGY

Robert Siburian
Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan
Lembaga Ilmu Pengetahuan Inonesia
robertsdes1970@gmail.com

Abstrak
Masyarakat yang bermukim di sekitar hutan dipengaruhi oleh perubahan ekologi hutan, terutama mereka yang
tergantung pada sumber daya hutan. Eksistensi kehidupan mereka akan terganggu jika hutan mengalami kerusakan.
Sebab, jika hutan rusak berarti mereka kehilangan sumber daya yang mendukung kehidupan mereka. Mereka yang
mampu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ekologi hutan berarti memiliki ketahanan sosial yang memadai.
Sebaliknya, ketahanan sosial yang rendah menunjukkan kerentanan mereka terhadap perubahan ekologi hutan.
Terkait dengan itu, tulisan ini mencoba menjelaskan perubahan ekologi hutan yang terjadi di Kabupaten Gunung
Mas dan respon yang dilakukan masyarakat terhadap perubahan itu. Jenis respon yang dilakukan menentukan
tingkat ketahanan sosial masyarakat yang bermukim di sekitar hutan tersebut. Data yang dikumpulkan untuk
menyusun tulisan ini dilakukan dengan melakukan penelitian lapangan pada pertengahan 2015.
Kata Kunci: komunitas, ketahanan sosial, ekologi hutan
Abstract
Community living at the surrounding of forest is influenced by forest changes, mainly those that depend on forest
natural resources. Their life will be disturbed if the forest is damaged. Damaged forest means that the people lose
resources supporting their life. A community that has social resilience can adapt with the changes of forest ecology.
Otherwise, those with low social resilence show their vulnerability to adapt with the forest changes. This paper
aims to explain the changes of forest ecology in Gunung Mas Regency and the community’s responses. Their
responses determine their resilience to encounter the changes of forest ecology. The data in this paper was collected
from field research in the mid of 2015.
Keywords: community, social resilience, ecology of forest

Latar belakang hutan dunia pada 1990-an mencapai 9 juta ha (ha)


setiap tahun, atau 0,23% dari total kawasan hutan
Fokus tulisan ini adalah menjelaskan
dunia. Penyebabnya sangat kompleks dan
kehidupan dan ketahanan sosial masyarakat yang
bervariasi, termasuk di dalamnya perubahan
bermukim di sekitar hutan seiring perubahan
jumlah penduduk dan konsekuensi dari permintaan
ekologi hutan yang terjadi, termasuk akses
akan kebutuhan lahan untuk memproduksi pangan.
masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya
hutan itu. Perubahan ekologi hutan dapat dilihat Untuk tingkat Indonesia, luas tutupan
dari tutupan dan sumber daya hutan yang semakin hutan pada tahun 1950 mencapai 162.290.000 ha
menurun. Sementara itu, pengelolaan hutan tidak atau 84% dari luas daratan Indonesia. Namun,
melibatkan masyarakat dan membuat akses pada tahun 2000 luas hutan Indonesia tinggal
masyarakat semakin terbatas, tidak hanya di 120.400.000 ha, atau menyusut sekitar 41.890.000
wilayah Indonesia tetapi juga di belahan dunia lain ha selama 50 tahun (FWI/GFW, 2001: 9, 18).
secara umum. The Food Agriculture Organization Padahal, perubahan tutupan hutan berpengaruh
(FAO, 2001 dikutip oleh Pearce, 2001), sebagai pada sumber pendapatan masyarakat yang
contoh, menyebutkan rata-rata tingkat kerusakan bermukim di sekitar hutan, sebab sumber daya

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 467


hutan memberi kontribusi untuk mendukung sampai 2012, sedangkan surat keputusan pinjam
keberlangsungan kehidupan masyarakat di sekitarnya. pakai kawasan hutan yang dikeluarkan oleh
Dengan adanya perubahan ekologi hutan, menjadi Menteri Kehutanan Republik Indonesia, berkisar
penting melihat ketahanan sosial masyarakat yang dalam kurun waktu 2007 sampai 2013. Dengan
bermukim di dalam dan sekitar hutan agar kata lain, izin perusahaan pemilik IUPHHK
kehidupan mereka dapat berlanjut. Sumber daya diperoleh setelah Gunung Mas menjadi daerah
hutan yang dapat dinikmati masyarakat di sekitar otonom baru, atau dalam kurun waktu enam tahun
hutan, tidak saja yang bernilai ekonomi langsung saja mulai 2007 sampai 2013 (Dinas Kehutanan
tetapi juga dalam bentuk ekonomi tidak langsung Kabupaten Gunung Mas, 2014).
(Pearce, 2001), termasuk di dalamnya jasa
Selain menjadi konsesi 11 perusahaan
lingkungan.
pemilik IUPHHK, kawasan hutan di Kabupaten
Sumber daya hutan yang ada di Kabupaten Gunung Mas juga ada yang dipinjampakaikan
Gunung Mas yang dibentuk berdasarkan Undang- pada perusahaan pertambangan emas dan
Undang RI Nomor 5 Tahun 2002 tentang batubara. Artinya, kegiatan pertambangan pun ikut
Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten serta “menguasai” kawasan hutan di kabupaten itu.
Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Pada tahun 2015, kegiatan pertambangan di
Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, kawasan hutan yang ada di kabupaten itu masih
Kabupaten Murung Raya, dan Kabupaten Barito pada tahap eksplorasi, sesuai surat keputusan yang
Timur di Provinsi Kalimantan Tengah, mencapai dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan Republik
867.535,17 ha. Sebagian dari luas kawasan hutan Indonesia. Enam perusahaan dengan sembilan
itu sudah dieksploitasi oleh berbagai pihak, surat keputusan menteri kehutanan “menguasai”
dibuktikan dengan beroperasinya 11 perusahaan1 luas kawasan hutan yang dipinjam berkisar
yang memiliki izin usaha pemanfaatan hasil hutan 171.360 ha. Suatu izin eksplorasi dapat berlanjut
kayu (IUPHHK), yang berlokasi tidak saja di pada izin eksploitasi atau operasi produksi yang
Kabupaten Gunung Mas, tetapi juga di kabupaten mengancam kerusakan kawasan hutan.
lain yang berbatasan dengan Kabupaten Gunung
Penguasaan kawasan hutan oleh berbagai
Mas, seperti Kabupaten Katingan dan Kabupaten
perusahaan dapat dikategorikan sebagai suatu
Kapuas. Oleh karena itu, rencana kerja tahunan
proses terhadap perubahan pada tutupan hutan dan
perusahaan dari 2013 sampai 2014 tidak
telah mengakibatkan akses masyarakat sekitar
seluruhnya dilaksanakan di Kabupaten Gunung
hutan menjadi terbatas. Kondisi itu berdampak
Mas.
pada ketahanan sosial masyarakat sekitar hutan
Luas kawasan hutan yang menjadi konsesi menjadi terganggu, terutama bagi masyarakat
11 perusahaan IUPHHK berdasarkan rekomendasi dengan tingkat kebergantungan pada sumber daya
dari pemerintah kabupaten yang beroperasi di hutan yang tinggi. Berpijak pada masalah itu,
Kabupaten Gunung Mas adalah 510.531 ha dari pertanyaan yang hendak dijawab dalam tulisan ini
seluruh kawasan konsesi yang mencapai 640.606 adalah; 1) Bagaimana masyarakat sekitar hutan
ha. Sementara itu, kawasan konsesi seluas 117.576 merespon perubahan ekologi hutan?, 2) Apa upaya
ha berlokasi di Kabupaten Katingan dan seluas yang dilakukan oleh masyarakt sekitar hutan untuk
12.508 ha berada di Kabupaten Kapuas. Surat mendapatkan akses pada sumber daya hutan?.
keputusan izin usaha pemanfaatan hasil hutan
Tulisan ini didasarkan pada penelitian
kayu dikeluarkan pemerintah, berkisar pada 1999
pada 2015 di Kabupaten Gunung Masa, Provinsi
Kalimantan Tengah. Selama penelitian berlangsung,
1 data yang diperoleh terdiri atas dua jenis, yaitu
Sebelas perusahaan IUPHHK yang terdapat di
Kabupaten Gunung Mas adalah PT. Sikatan Wana data primer dan sekunder. Data primer
Raya, PT. Hasil Kalimantan Jaya, PT. Hutan Domas dikumpulkan dengan melakukan wawancara
Raya, PT. Bumimas Permata Abadi, PT. East Point mendalam pada berbagai informan, di antaranya
Indonesia, PT. Taiyoung Engreen (Hutan Tanaman staf Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas,
Industri), PT. Carus Indonesia, PT. Rinanda Inti Lestari, Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten
PT. Dwima Jaya Utama, PT. Fitamaya Asmafara, dan Gunung Mas, Dinas Pertanian Kabupaten Gunung
PT. Puspa Warna Cemerlang.

468 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


Mas, masyarakat sekitar hutan, dan kelompok tani Menurut Berkes, Colding, dan Folke
Dayak Misik. Selain itu, pengumpulan data juga (2012: 2), ketahanan merupakan suatu elemen
dilakukan melalui FGD yang difasilitasi oleh penting tentang bagaimana sekelompok
Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas. masyarakat menghadapi perubahan lingkungan.
Sementara itu, data sekunder merupakan data Ketahanan sosial itu bukan sesuatu yang statis,
tertulis yang diperoleh dari Dinas Kehutanan, tetapi dinamis dan bahkan dapat dimunculkan.
Dinas Pertanian, dan Badan Lingkungan Hidup Oleh karena itu, Boyd dan Folke (2012: 2)
Daerah Kabupaten Gunung Mas. menjelaskan bahwa ketahanan sosial suatu
masyarakat dapat ditingkatkan dengan membangun
Pemahaman Konsep mekanisme dan institusi yang memungkinkan
mereka mengingat masa lalu, membangun sistem
Ketahanan sosial merupakan konsep yang
peringatan dini pada suatu tempat, membangun
penulis gunakan dalam melihat perubahan ekologi
suatu pertahanan menghadapi dampak dari
hutan kemudian dikaitkan dengan kehidupan
perubahan yang terjadi, dan belajar bagaimana
masyarakat. Perubahan ekologi yang berdampak
mempersiapkan cara yang lebih baik untuk
negatif pada kehidupan masyarakat secara
menghadapi peristiwa yang akan datang. Agar
signifikan, menunjukkan bahwa ketahanan sosial
ketahanan sosial itu dapat dibangkitkan, maka
untuk menghadapi perubahan ekologi, tidak
peranan agency menjadi penting. Kehadiran
cukup. Peristiwa tsunami di India pada tahun
agency ini diperlukan karena tidak seluruh
2004, Badai Katrina dan Rita pada tahun 2005,
kelompok masyarakat mampu menggali atau
bersamaan dengan bukti-bukti terjadinya
mengenali potensi yang ada dalam diri individu
pemanasan global, untuk menyebut beberapa
ataupun dalam kelompok masyarakat yang dapat
contoh, mengilustrasikan bahwa komunitas dan
dimanfaatkan untuk menuju ke kehidupan lebih
masyarakat semakin rentan terhadap bencana
maju agar dapat meningkatkan ketahanan sosial
alam.
kelompok masyarakat tersebut.
Konsep ketahanan, awalnya muncul di
Mengikuti pemikiran Ortner (2006),
bidang ekologi, didefinisikan sebagai suatu
agency diartikan sebagai kapasitas atau
kegiatan yang mengukur kemampuan sebuah
kemampuan untuk mempengaruhi sesuatu, baik
ekosistem dalam menyerap perubahan dan masih
orang lain maupun suatu peristiwa yang ada di
tetap bertahan. Dengan definisi itu, ketahanan
dalam individu dan organisasi. Mereka yang
sesungguhnya tidak memiliki keterkaitan dengan
berkapasitas sebagai agency dapat berasal dari luar
adaptasi. Ketahanan sosial (social resilience) yang
kelompok masyarakat, seperti NGO. Melalui
dimaksud dalam penelitian ini merujuk pada
sistem jaringan yang dimiliki oleh para agen,
pemikiran Webersik, yang menyebutkan bahwa
agency dapat mempengaruhi kebijakan yang akan
ketahanan sosial digunakan untuk menggambarkan
dan sudah dibuat oleh pemerintah terkait
bagaimana suatu komunitas atau sekelompok
lingkungan, dapat juga mempengaruhi intervensi
masyarakat dapat menyesuaikan diri atau
manusia yang sudah dan sedang dilakukan dalam
beradaptasi terhadap tekanan eksternal yang diterima
merubah lingkungan. Zanotti (2009), yang
ataupun terhadap suatu lingkungan yang
mengkaji masyarakat Kayapó, menjelaskan
mengalami perubahan (Webersik, 2010: 50).
bagaimana NGO internasional bernama Conservation
Kemampuan menyesuaikan diri ataupun
International berhasil meningkatkan ketahanan
beradaptasi dengan adanya perubahan lingkungan,
sosial masyarakat yang bermukim di sekitar hutan.
termasuk akibat bencana alam, sangat ditentukan
oleh ketahanan sosial. Namun, dalam tulisan ini, Ketahanan sosial berbanding terbalik
yang penulis maksud perubahan alam lebih pada dengan kerentanan sosial (social vulnerability).
perubahan oleh intervensi manusia, seperti Dengan perbandingan terbalik itu, maka, semakin
kerusakan hutan akibat eksploitasi berlebihan, tinggi ketahanan sosial suatu kelompok
kebakaran hutan, dan pengonversian kawasan masyarakat, semakin rendah kerentanan sosialnya,
hutan menjadi perkebunan. demikian pula sebaliknya. Kelompok masyarakat
yang mempunyai ketahanan sosial yang tinggi
mengakibatkan tindakan adaptasi yang dilakukan

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 469


oleh kelompok masyarakat tersebut dikategorikan pendapatan yang selalu berubah-ubah sangat
sukses (berhasil), sementara apabila kerentanan mempengaruhi ketahanan sosial. Pendapatan suatu
sosial justru yang lebih tinggi maka kelompok negara yang hanya tergantung kepada satu
masyarakat itu memiliki pilihan-pilihan untuk komoditi yang ada pada pasar global, misalnya,
beradaptasi sangat terbatas (Adger dan Kelly, ketika kondisi perekonomian negara itu sangat
2005: 19). Kelompok masyarakat dengan ketahanan rentan pada fluktuasi harga pasar global, maka hal
sosial yang rendah ataupun kerentanan sosial yang itu akan mengakibatkan ketahanan ekonomi
tinggi bukan berarti individu, kelompok negara menjadi rentan, dan pada gilirannya rentan
masyarakat, ataupun institusi yang ada pada pula ketahanan sosial pada masyarakat di negara
mereka tidak aktif dalam proses perubahan yang dimaksud.
lingkungan, tetapi capaian itu sangat ditentukan
Adapun faktor demografi dapat dikaji dari
oleh tempat dari proses sosial yang kompleks dan
sisi migrasinya, karena migrasi dapat dilihat
faktor-faktor ekonomi, mulai dari akses terhadap
sebagai suatu tanda dari stabilitas atau ketahanan.
sumber daya alam melalui keamanan sosial yang
Adger dan O’Riordan mencontohkan migrasi yang
formal maupun informal, jaminan sosial, dan juga
bertujuan untuk mengonservasi suatu kawasan, hal
modal sosial. Dengan kata lain, ketahanan sosial
itu mengakibatkan ketahanan ekologi pada tempat
sangat bergantung pada hak dan akses terhadap
yang dikonservasi itu menjadi meningkat, karena
sumber daya (Adger dan Kelly, 2005: 19).
pengonservasian itu dapat menimbulkan penduduk
Masyarakat di kawasan hutan dapat lokal kehilangan tempat untuk bermukim. Kondisi
meningkatkan ketahanan sosial kendati kawasan ini bisa menjadi penyebab sebagian penduduk
hutan sudah berubah, termasuk mengalami lokal bermigrasi ke tempat lain untuk mencari
kerusakan, apabila mereka mempunyai akses kehidupan yang lebih baik, dan di sisi lain migrasi
terhadap sumber ekonomi lain. Akses didefinisikan itu justru mengurangi tekanan pada suatu
sebagai kemampuan (ability) seseorang ataupun lingkungan, yang kemudian berimplikasi untuk
sekelompok masyarakat untuk mendapatkan dapat meningkatkan ketahanan sosial pada
keuntungan dari sesuatu; termasuk di dalamnya masyarakat yang masih tinggal di tempat itu.
dari objek materi, personal, institusi, dan juga
Berdasarkan tinjauan teoritis itu, dapat
simbol-simbol. Akses dianalisis untuk mengetahui
dijelaskan bahwa ketahanan sosial dapat
siapa yang berhak atau tidak berhak terhadap
meningkat tidak berdasarkan pada faktor tunggal
sumber daya alam. Oleh karena itu, akses adalah
saja. Meningkatkan ketahanan sosial suatu
tentang semua cara yang mungkin dilakukan oleh
masyarakat dapat bersumber dari kelompok
seseorang untuk mampu mendapatkan keuntungan
masyarakat yang dikaji dan juga dapat dibentuk
dari sesuatu itu. Kemampuan mengambil
oleh aktor lain di luar kelompok masyarakat,
keuntungan terhadap sumber daya sangat terkait
sepanjang aktor yang berasal dari luar
dengan kekuasaan (power) yang dimiliki oleh
komunitasnya memiliki kapasitas sebagai agency
seseorang atau kelompok sosial itu. Kekuasaan
yang mampu mempengaruhi individu ataupun
yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang
kelompok sosial tertentu. Dengan kemampuan
agar dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
sebagai agency, mereka dapat mempengaruhi
mengambil keuntungan dari sumber daya alam,
individu ataupun kelompok masyarakat sesuai
diperoleh melalui berbagai mekanisme, proses,
yang diinginkan oleh agen, dalam hal ini
dan relasi-relasi sosial. Dalam hal ini, kekuasaan
keinginan untuk meningkatkan ketahanan sosial
yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang itu
sebagaimana yang dilakukan oleh CI di atas.
dapat berupa materi, kebudayaan, dan ekonomi-
politik (Ribot dan Peluso, 2003).
Kondisi Hutan dan Jenis Peruntukan
Adger dan O’Riordan (dikutip oleh
Berdasarkan data statistik Dinas Kehutanan
Webersik, 2010: 51) mengindentifikasi tiga
Kabupaten Gunung Mas pada tahun 2014, luas
perkiraan utama dari ketahanan sosial, yaitu
kawasan hutan di kabupaten itu mencapai
indikator-indikator ekonomi, institusi, dan faktor
867.535,17 ha. Membandingkan luas wilayah
demografi. Indikator ekonomi seperti tingkat
Kabupaten Gunung Mas 10.804 km2 atau
pertumbuhan, distribusi pendapatan, sumber

470 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


1.080.400 ha, merujuk pada Undang-Undang RI bekerja optimal, minimal 30% dari luas wilayah,
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, yang maka luas kawasan hutan minimal sudah dapat
menuntut luas kawasan hutan yang dimiliki suatu terpenuhi, bahkan jauh melampaui di atasnya.
daerah guna menjamin fungsi hidrologi hutan

Peta Administrasi Wilayah Kabupaten Gunung Mas


Provinsi Kalimantan Tengah

Sumber: https://www.google.co.id

sehingga luas kawasan hutan untuk akhir 2014


Luas kawasan hutan di Kabuapten
seharusnya 987.413,76 ha.2
Gunung Mas mencapai 80,30% dari seluruh luas
wilayah kabupaten. Akan tetapi, luas kawasan Terlepas dari sumber data yang digunakan
hutan yang tercantum dalam Statistik Dinas Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas dalam
Kehutanan kurang akurat, melihat sumber data menentukan luas kawasan hutan di wilayahnya,
yang menggunakan peta tata guna hutan tipe hutan di Kabupaten Gunung Mas 2014 adalah;
kesepakatan (TGHK) pada tahun 1982 dan peta hutan lindung (50.136,84 ha), kawasan lindung
administrasi wilayah Kabupaten Gunung Mas (2.319,34 ha), hutan produksi (377.919,28 ha),
pada pada tahun 2006. Merujuk pada kedua hutan produksi terbatas (319.155,90 ha), hutan
sumber data, luas kawasan hutan di kabupaten ini produksi yang dapat dikonversi (237.882,40 ha),
dalam kurun waktu 32 tahun (1982 sampai 2014) dan areal penggunaan lainnya (237.882,40 ha)
ataupun 9 tahun (2006 sampai 2014) tidak (Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas, 2014).
mengalami pengurangan sama sekali. Memang,
Pemerintah Kabupaten Gunung Mas
untuk hutan lindung pada 2014 diberi catatan
sesungguhnya telah mencoba memperkenalkan
terjadi pengurangan luas, karena pada tahun itu
terdapat pelepasan kawasan seluas 92.986,24 ha,
2
Data dalam Statistik Dinas Kehutanan
Kabupaten Gunung Mas tidak menyebutkan tipe hutan
yang mengalami pelepasan kawasan.

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 471


bahwa sumber daya hutan tidak hanya tutupan Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor: SK.
kayu bernilai ekonomi saja. Kalau tutupan hutan 928/Menhut-II/2014 tentang Pembentukan Tim
dalam bentuk kayu itu sebagai sumber daya Terpadu dalam Rangka Penelitian Usulan
bernilai ekonomi langsung, maka kini yang Perubahan Fungsi antara Fungsi Pokok Kawasan
dikembangkan adalah sumber daya hutan bernilai Hutan dari Kawasan Hutan Produksi seluas ± 945
non-ekonomi atau sering dikenal dengan jasa ha dan Kawasan Hutan yang dapat Dikonversi
lingkungan. Jasa lingkungan yang dikembangkan seluas ± 3.126 ha menjadi Taman Hutan Raya
itu adalah ekowisata.3 Kegiatan ekowisata dapat Lapak Jaru, tertanggal 30 Desember 2014. Hasil
menjadi sumber pendapatan ekonomi jika hutan evaluasi Tim Terpadu5 yang sudah dipaparkan itu,
yang ‘dijual’ itu terpelihara baik. memberi kesimpulan bahwa kawasan hutan
produksi terbatas seluas 649 ha dan kawasan hutan
Kawasan hutan yang sedang dikembangkan
yang dapat dikonversi 3.297 ha layak menjadi
melalui kegiatan ekowisata adalah Taman Hutan
taman hutan raya, ditambah dengan areal
Raya Lapak Jaru. Kawasan hutan itu menjadi
penggunaan lain seluas 173 ha yang memiliki nilai
sumber mata air dari delapan sungai yang ada di
keindahan dan keunikan tersendiri karena
Kabupaten Gunung Mas. Lewat peran yang begitu
memiliki air terjun Bawin Kameloh.
tinggi untuk memenuhi kebutuhan sumber daya
air,4 keberadaan tutupan hutan menjadi alasan Terkait air terjun Bawin Kameloh ini,
pemerintah daerah untuk memelihara ekosistemnya. debit air yang dimaksud sangat kecil ketika musim
Upaya itu diawali dengan mengirim surat terkait kemarau. Bahkan, pada waktu kami berkunjung ke
usulan perubahan fungsi antar fungsi pokok sana pada April 2015, air yang jatuh dari
kawasan hutan dari Bupati Gunung Mas Nomor ketinggian 50 meter hampir tidak ada. Hal itu
522/107/ADPER dan SDA/XI/2011 tanggal 16 menunjukkan bahwa suplai air pada air terjun
November 2011, dan diusulkan kembali oleh tidak konsisten, padahal air terjun itu berada di
Penjabat (Pj) Bupati Gunung Mas sesuai surat tengah hutan. Kondisi itu mengindikasikan bahwa
Nomor 522/009/ADPER dan SDA/II/2014 pada ekosistem hutan yang berada di bagian hulu air
25 Februari 2014. Dengan demikian, usulan
perubahan fungsi kawasan hutan yang sudah 5
Tim peneliti Tim Terpadu meliputi: Lembaga
berlangsung sejak 2011 bukan hal mudah dan Ilmu Pengetahuan Indonesia, Fakultas Kehutanan,
membutuhkan persyaratan administrasi yang ketat. Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian Jurusan
Kehutanan Universitas Palangkaraya, Kementerian
Setelah memenuhi persyaratan administrasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Penelitian
sesuai peraturan yang berlaku, Kementerian dan Pengembangan Kehutanan, Direktorat Kawasan
Kehutanan Republik Indonesia menindaklanjutinya Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Ditjen PHKA,
dengan menerbitkan Surat Keputusan Menteri Direktorat Bina Rencana Pemanfaatan dan Usaha
Kawasan, Ditjen Bina Usaha Kehutanan, Direktorat
Perencanaan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran
3
Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor Sungai, Ditjen Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan
33 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengembangan Sosial, Biro Hukum dan Organisasi, Sekretariat
Ekowisata di Daerah, yang menyebutkan; “Ekowisata Jenderal Kementerian Kehutanan, Bagian Hukum dan
adalah kegiatan wisata alam di daerah yang Kerjasama Teknik, Sekretariat Direktorat Jenderal
bertanggung jawab dengan memperhatikan unsur Planologi Kehutanan, Direktorat Wilayah Pengelolaan
pendidikan, pemahaman, dan dukungan terhadap dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Kawasan Hutan,
usaha-usaha konservasi sumber daya alam, serta Ditjen Planologi Kehutanan, Direktorat Penggunaan
peningkatan pendapatan masyarakat lokal”. Artinya, Kawasan Hutan, Ditjen Planologi Kehutanan, Pusat
kegiatan ekonomi yang ada dalam suatu kawasan hutan Pengendalian Pembangunan Regional III, Sekretariat
haruslah usaha yang mengonversi keberadaan sumber Jenderal Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan
daya alam di satu sisi, namun kegiatan itu diarahkan Provinsi Kalimantan Tengah, Badan Lingkungan Hidup
untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Konservasi Sumber
Untuk meningkatkan pendapatan tersebut, Daya Alam Kalimantan Tengah, Balai Pemantauan
masyararakat lokal tentu terlibat dalam pengelolaannya. Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XII
4
Hutan Lapak Jaru (segi delapan) menjadi Palangkaraya, Balai Pemantapan Kawasan Hutan
hulu bagi delapan sungai, empat sungai di Kabupaten Wilayah XXI Palangkaraya, dan Dinas Kehutanan dan
Gunung Mas dan empat sungai di Kabupaten Kapuas. Perkebunan Kabupaten Gunung Mas.

472 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


terjun sudah mengalami kerusakan, sehingga Untuk menjadikan Taman Hutan Raya
suplai air pada musim kemarau sangat rendah. Lapak Jaru sebagai kawasan ekowisata,
Realitas seperti ini harus menjadi perhatian pemerintah kabupaten sudah membangun berbagai
instansi pengelola Taman Hutan Raya Lapak Jaru fasilitas. Jalan selebar dua meter dengan panjang
dan pengelola ekowisata jika suatu saat nanti sekitar 1,5 kilometer dari gerbang taman hutan
kawasan itu resmi dikelola sebagai obyek wisata. raya sampai di bibir lembah tempat air terjun
Kalau tidak, pengunjung yang melihat air terjun sudah dibangun, sehingga jalan itu sudah dapat
akan kecewa karena air terjun yang menjadi icon dilalui kendaraan roda dua dan empat. Pondok-
ekowisata di kawasan itu berdebit kecil, bahkan pondok persinggahan sepanjang jalan pun sudah
nyaris hilang. Air terjun lain yang terdapat di tersedia. Nama pohon-pohon yang ada di
Taman Hutan Raya Lapak Jaru adalah air terjun sepanjang jalan itu sudah ditempel di beberapa
Sahai Nunyang bertingkat tujuh, sekaligus batang pohon untuk memberi pendidikan (edukasi)
menjadi hulu bagi delapan sungai di Kecamatan bagi pengunjung yang melintas, terkait jenis
Kurun. pohon yang tumbuh di wilayah itu. Agar
pengunjung dapat turun sampai ke air terjun,
Luas kawasan hutan yang direkomendasikan
pemerintah pun sudah membangun sebanyak 142
Tim Terpadu menjadi Taman Hutan Raya Lapak
buah anak tangga. Sekitar air terjun, fasilitas sudah
Jaru lebih kecil dibandingkan dengan luas
dilengkapi padepokan tempat pengunjung
kawasan hutan yang diusulkan oleh pemerintah
beristirahat. Akan tetapi, seluruh fasilitas yang
daerah. Berdasarkan Surat Bupati Gunung Mas
dibangun itu belum difungsikan dan banyak yang
Nomor 522/107/ADPER & SDA/XI/2011 pada 16
mulai rusak. Padepokan di sekitar air terjun pun
November 2011 diusulkan perubahan fungsi
ada yang rusak tertimpa pohon tumbang dan
kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas ±
belum mendapat perbaikan, dan pohon yang
1.547,96 ha, Hutan Produksi yang dapat
tumbang menimpa padepokan itu belum
Dikonversi (HPK) seluas ± 3.313,188 ha dan
disingkirkan.
Areal Penggunaan Lain (APL) seluas ± 150,12 ha
atau sekitar 5.011,27 ha (Tim Terpadu 2015). Taman Hutan Raya Lapak Jaru menyatu
Dengan status itu, Taman Hutan Raya Lapak Jaru dengan bukit perkemahan yang juga sedang
berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia dibangun pemerintah Kabupaten Gunung Mas.
No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Lokasi perkemahan dan beberapa bangunan
Daya Alam Hayati dan Ekosistem, merupakan pendukung sudah disiapkan. Namun, sejauh
kawasan pelestarian alam bersama dengan taman pengamatan kami, nasib bumi perkemahan itu
nasional dan taman wisata alam.6 Dengan status tidak berbeda dengan Taman Hutan Raya Lapak
demikian, pelepasan suatu kawasan, apalagi untuk Jaru itu. Fasilitas pendukung yang dibangun pun
dibagi-bagikan kepada masyarakat menjadi relatif terlihat tidak terawat. Peta lokasi perkemahan dan
sulit. Hal itu merujuk pada fungsi taman hutan taman hutan raya sudah ditutupi oleh tanaman
raya itu sendiri. yang tumbuh meninggi di sekitarnya. Pengunjung
yang ingin membacanya pun kesulitan
menjangkaunya.
6
Dalam undang-undang itu disebutkan: Kendati kawasan Lapak Jaru sudah
“Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri diusulkan menjadi taman hutan raya, masih ada
khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang pihak-pihak yang coba mengusiknya atau tidak
mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga menginginkan kawasan itu dijadikan sebagai
kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis taman hutan raya. Kondisi itu mengakibatkan
tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari Bupati Gunung Mas harus mengeluarkan surat
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya”. pemberitahuan keberadaan kawasan hutan
Sementara yang dimaksud taman hutan raya adalah dimaksud. Dalam surat pemberitahuan Bupati
kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi Gunung Mas 522.5/51/ADPER&SDA/IV/2015
tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis
pada 27 April 2015, dijelaskan bahwa Taman
asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi
kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, Hutan Raya Lapak Jaru adalah milik Kabupaten
menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Gunung Mas, sehingga masyarakat diminta ikut

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 473


menjaga dan memelihara kelestarian kawasan terutama pada kehidupan generasi yang akan
hutan. Dengan status sebagai taman hutan raya, di datang.
kawasan itu dilarang menebang pohon, membuka
Dengan peradaban manusia yang terus
lahan, melakukan kegiatan perkebunan dan
berkembang dan pengaruh globalisasi, mengakibatkan
pertambangan, dan membawa alat-alat yang bisa
masyarakat yang bermukim jauh di pedalaman
digunakan untuk menebang pohon, mengangkut
sekalipun sudah terkoneksi dengan dunia luar
kayu, dan kegiatan penambangan. Bagi setiap
yang jauh di belahan bumi lain (Tsing, 2005).
pelanggaran akan dikenakan pidana penjara dan
Akibatnya, mereka yang tinggal di tanah
denda.
leluhurnya dapat “terusir” karena dampak dari
pengaruh globalisasi. Milton (1996: 151) memberi
Dari Peladang Bergilir ke Penambang
contoh masyarakat hutan tropis yang berada di
Berpindah: Respon pada Kerusakan Hutan
Brazil ataupun Malaysia dapat dipindahkan dari
Sistem pertanian orang Dayak di tanah tradisionalnya melalui pemanenan secara
Kabupaten Gunung Mas tidak ubahnya sistem komersial atas kayu tropis yang ada di lingkungan
pertanian orang Dayak di tempat lain di Pulau tempat tinggal mereka. Pemanenan sumber daya
Kalimantan. Kawasan hutan dengan luas tertentu hutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di
ditebas untuk dijadikan sebagai tempat berladang. belahan dunia lain mengakibatkan hutan milik
Setelah lahan tidak lagi subur sehingga tidak layak masyarakat tradisional di Brazil dan Malaysia
lagi dijadikan sebagai lahan pertanian tanpa mengalami kerusakan. Akibat lingkungan hidup
menggunakan pupuk kimia, petani meninggalkan sudah rusak, mereka tidak lagi memperoleh
lahan itu untuk beberapa tahun. Mereka mencari sumber daya alam yang dapat menghidupi mereka.
lahan garapan baru sambil menunggu lahan yang Dengan kondisi itu, jelas bahwa sistem ladang
dibiarkan tadi kembali seperti hutan, dengan bergilir ini tidak dapat dilakukan secara terus
asumsi kesuburan tanahnya sudah pulih. Masa menerus seiring kawasan hutan yang dapat digarap
pembiaran tanah selama beberapa tahun disebut semakin sempit, baik karena jumlah orang Dayak
dengan bera. di suatu wilayah terus meningkat maupun
penguasaan negara terhadap hutan-hutan tertentu
Selain itu, ladang bergilir merupakan
(Pearce, 2001).
sistem pertanian yang sudah lama berlangsung
sebagai kearifan lokal (local wisdom) dan bentuk Kemudian, hal itu diperparah dengan
kepedulian terhadap alam. Disebut demikian adanya pengalihan fungsi lahan menjadi kawasan
karena ladang bergilir adalah sebuah sistem perkebunan untuk 17 perusahaan, baik hutan
produksi yang di dalamnya sudah mempertimbangkan produksi, hutan produksi yang dapat dikonversi,
perlindungan pada tanah, air, hutan, dan hewan kawasan pengembangan produksi, maupun
yang berada di sekitar mereka. Debgan kata lain, kawasan pemukiman dan penggunaan lain. Luas
sistem produksi itu sudah mempertimbangkan kawasan hutan yang dipinjam pakai setelah
keseimbangan ekosistem. Mereka berprinsip mendapat surat keputusan pelepasan dari
bahwa tanah adalah milik alam bukan untuk Kementerian Kehutanan pada masing-masing
orang-orang ataupun individu, sehingga sumber perusahaan perkebunana yang mengusulkan
daya alam yang ada di dunia ini adalah milik alam kawasan hutan untuk dipinjam pakai berkisar
itu sendiri. Manusia hanya diizinkan menggunakan 98.125,24 ha (Dinas Kehutanan Kabupaten
sumber daya alam itu untuk memelihara Gunung Mas, 2014).7 Luas kawasan yang disetujui
kehidupan manusia itu sendiri. Mereka melindungi untuk dipinjam pakai lebih sedikit dibandingkan
keberadaan sumber daya alam dimaksudkan agar dengan luas arahan lokasi yang terdapat pada
mencukupi kebutuhan anak cucu di kemudian hari Surat Keputusan Bupati Gunung Mas yang
(Walker, 2001: 146). Oleh karena itu, eksploitasi berkisar 171.873 ha. Pengurangan lahan itu, salah
yang dilakukan tidak melampaui daya dukung satu diakibatkan adanya tumpang tindih perizinan
sumber daya alam, sebab eksploitasi yang
melampaui daya dukung suatu sumber daya alam 7
Data ini merupakan jumlah dari luas kawasan
akan menimbulkan masalah pada masa sekarang, hutan yang disetujui oleh Kementerian Kehutanan RI
untuk masing-masing perusahaan perkebunan.

474 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


dan faktor lain. Artinya, pembukaan hutan baru dengan komoditi karet terhadap kabupaten ini
untuk dijadikan sebagai tempat berladang tidak akan semakin rendah pula.8
mungkin lagi dilakukan. Penggunaan ladang yang
Tahun 2001 merupakan titik awal
berulang-ulang akan mempercepat hilangnya
masyarakat Gunung Mas menambang emas
tingkat kesuburan tanah yang berujung tingkat
menggunakan mesin. Peralihan itu dimulai seiring
produktivitas tanah pun semakuin berkurang.
masuknya teknologi baru9 cara menambang emas.
Hasil ladang pun tidak lagi mencukupi untuk
Kalau mendulang emas dengan sistem tradisional
memenuhi kebutuhan pangan mereka.
harus dilakukan di saluran sungai, maka
Hasil ladang yang tidak maksimal seakan penambangan emas dengan teknologi baru ini,
tersambung dengan hasil perkebunan karet yang selain dilakukan di saluran sungai juga dapat
harganya terus menurun. Pada tahun 2013, harga dilakukan di darat. Jenis penambangan dengan
karet hanya Rp.600.000,-/kwintal, padahal harga sistem baru ini ada dua, yaitu sistem lanting dan
karet pernah melebihi Rp.1.000.000,-/kwintal. tebang sapu. Pengambilan pasir emas dari dalam
Harga karet yang terlalu rendah bila dibandingkan tanah dengan memakai lanting atau sedotan,
dengan ongkos produksi yang dikeluarkan petani, tenaga yang dibutuhkan dua sampai tiga orang
berimplikasi buruk pada petani. Mereka tidak lagi saja. Sementara sistem penambangan dengan
bergairah mengurus kebun karetnya, dan anak- tebang sapu, sebelumnya tanah lapisan paling atas
anak muda mereka pun tidak lagi melihat dikupas terlebih dahulu. Setelah itu, materialnya
pertanian sebagi kehidupan masa depan. dihisap dengan mesin. Tenaga yang dibutuhkan
dengan sistem tebang sapu sekitar tujuh orang.
Ketika hasil dari sektor pertanian dan
perkebunan kurang mendorong petani untuk Pada tahun 2006 saja, jumlah tambang
konsisten melakukan usahanya, sektor pertambangan emas rakyat di Kabupaten Gunung Mas mencapai
justru memberi sumber ekonomi alternatif. 3.630 penambang dengan 726 mesin penyedot
Pertambangan emas menjadi kegiatan ekonomi (Inswiasri, 2011: 73).10 Angka tersebut bermakna
yang menjanjikan dan memberi harapan baru bagi
masyarakat di Kabupaten Gunung Mas. Penambangan 8
emas bagi masyarakat Gunung Mas bukan Kabupaten Gunung Mas kendati dikenal
sebagai penghasil karet terbesar di Provinsi Kalimantan
kegiatan baru, sebab penambangan emas dengan
Tengah, tetapi pabrik karet justru berlokasi di
cara mendulang di saluran sungai sudah kabupaten lain, yaitu di Kecamatan Tengkiling,
berlangsung lama. Mendulang emas merupakan Kabupaten Katingan.
cara tradisional dan hasil yang diperoleh pun tidak 9
Pengertian teknologi baru menunjukkan
begitu banyak. Kerusakan ekologi yang bahwa teknik penambangan sebelum hadirnya
ditimbulkannya tidak begitu signifikan. teknologi ini masih jauh lebih sederhana. Kendati
demikian, teknologi baru ini masih tetap pada
Pergeseran mata pencaharian dari pengertian pertambangan skala kecil atau artisanal.
pertanian, terutama perkebunan karet, menjadi Artinya, teknologi yang digunakan masih tetap yang
penambang tradisional sangat disayangkan. dasar dan aktivitas yang dilakukan berpusat pada
Kabupaten Gunung Mas merupakan daerah tenaga manusia (highly labour-intensive) (Clausen,
penghasil karet terbesar untuk seluruh Provinsi Barreto, Attaran 2011: 16).
10
Kalimantan Tengah. Produksi karet dari kabupaten Bandingkan dengan data penambang tanpa
ini mencapai 5.000 ton per bulan. Apabila izin untuk tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Kurun
pergeseran mata pencaharian itu terus terjadi, pada 2012 berjumlah 77 unit berlokasi di sungai dan
sebutan sebagai daerah penghasil karet terbesar di 706 unit berada di darat (data dari 10 desa), Kecamatan
Mihing Raya pada 2013 berjumlah 50 unit berlokasi di
Provinsi Kalimantan Tengah akan hilang dan
sungai dan 501 unit berada di darat, Kecamatan Sepang
digantikan oleh kabupaten lain. Hal itu pada 2013 berjumlah 145 unit berlokasi di sungai dan
mengakibatkan perhatian pihak-pihak terkait 50 unit berada di darat (data dari 4 desa), Kecamatan
Rungan Hulu pada 2013 berjumlah 40 unit berlokasi di
sungai dan 51 unit berada di darat, Kecamatan
Manuhing pada 2012 berjumlah 50 unit berlokasi di
sungai dan 190 unit berada di darat (data dari 4 desa),
dan Kecamatan Kahayan Hulu Utara berjumlah 23 unit

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 475


bahwa orang yang menggantungkan hidupnya Tambang emas menjadi pilihan pekerjaan
pada pertambangan emas berskala kecil ini sangat masyarakat di Kabupaten Gunung Mas tidak lain
besar. Kondisi itu mengindikasikan kegiatan karena potensi emas di wilayah itu begitu tinggi,
tambang tradisional ini sangat menjanjikan. kendati tidak seluruh sudut tanah di kabupaten ini
Apabila kegiatan tersebut diberhentikan pemerintah dipastikan mengandung emas. Harga jual emas
karena dianggap ilegal, tindakan itu bukan pun begitu tinggi. Kondisi itu semakin mendorong
merupakan solusi terbaik. Dampak sosial dan orang untuk terlibat dalam kegiatan tersebut.
ekonomi terhadap mereka yang bergantung pada Harga emas yang terus melambung disebabkan
pertambangan itu akan menjadi masalah baru. emas merupakan salah satu komoditi global,
akibatnya harga emas pun mengikuti harga
Banyaknya penambang berakibat wilayah
internasional, kendati transaksi itu dilaksanakan
yang dirusak pun semakin luas. Aktivitas
jauh di pedalaman. Ketika penelitian dilakukan
penambangan tidak hanya dilakukan di saluran
pada tahun 2015, harga emas di tingkat
sungai, tetapi juga sudah beroperasi hingga ke
penambang mencapai Rp 420.000/gram. Menjual
daratan, bahkan sudah banyak yang merangsek ke
emas hasil menambang pun begitu mudah. Emas
kawasan hutan.11 Aktivitas penambangan pun
yang diperoleh penambang pada hari itu, langsung
dilakukan berpindah-pindah dari satu tempat ke
dapat dijual pada hari itu juga.
tempat lain. Ketika kandungan emas di suatu
wilayah sudah habis dieksploitasi, penambang Dengan potensi emas yang menyebar
akan berpindah ke tempat lain. Kalau tanah yang hampir di seluruh kecamatan, menyebabkan
dimiliki penambang masih luas, perpindahan kebutuhan tenaga kerja untuk aktivitas pertambangan
lokasi menambang dapat dilakukan di tanah emas ini begitu tinggi. Oleh karena itu,
miliknya. Namun, kalau tidak ada lagi tanah yang dibandingkan menjadi petani yang membutuhkan
mau ditambang, mereka bisa bekerja sama dalam proses produksi yang begitu lama untuk
bentuk bagi hasil dengan pemilik tanah lain. Oleh mendapatkan hasil, masyarakat di Gunung Mas
karena itu, tanah bekas galian dari aktivitas lebih memilih bekerja di pertambangan emas.
pertambangan emas banyak ditemukan di Kearifan lokal mulai tergerus oleh hedonisme,
Kabupaten Gunung Mas. Peraturan daerah terkait sehingga masyarakat lebih menginginkan usaha-
tambang sudah ada. Peraturan daerah itu mengajak usaha yang dapat menghasilkan uang dengan
penambang rakyat agar melegalkan aktivitas segera.
pertambangannya dengan mengurus perizinan
Perkebunan karet yang sudah lama
tambangnya. Akan tetapi, peraturan daerah itu
menjamin kebutuhan hidup pemiliknya pun mulai
tidak dihiraukan karena luas kawasan yang diberi
ditinggalkan dan beralih ke tambang emas.
izin hanya 10 ha saja, padahal potensi emas di
Berlindung di balik harga komoditi karet yang
lahan seluas itu belum tentu ada. Atau dengan kata
rendah mendorong petani enggan mengurus
lain, percuma penambang tradisional mengurus
perkebunan karetnya. Fluktuasi naik-turunnya
izin dengan sejumlah biaya pengurusan jika emas
komoditi karet bukan fenomena baru sebagai
di lahan itu tidak ada. Oleh karena itu, tingkat
komoditi internasional, sehingga harga komoditi
spekulasi ketika menggarap sebidang tanah untuk
itu harus tunduk pada harga pasar internasional.
dijadikan sebagai tempat penambangan begitu
Pertanyaannya adalah ketika harga karet pada
tinggi.
masa dulu mengalami penurunan, bahkan
harganya tidak setinggi pada 2015, mengapa
kegiatan di perkebunan karet tidak ditinggalkan?
Namun, mengapa setelah aktivitas pertambangan
berlokasi di sungai dan 65 unit berada di darat (data emas menggunakan lanting dikenal oleh
dari 4 desa) (Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas masyarakat, usaha perkebunan karet justru dengan
2015). Jumlah keseluruhan Peti di tujuh kecamatan itu mudah ditinggalkan? Artinya, petani karet tidak
adalah 1.948 unit, dengan kegiatan di darat jauh lebih semata-mata berpatokan pada turunnya harga
besar mencapai 1.563 unit.
11 karet, tetapi lebih pada kemudahan untuk
Hasil wawancara dengan staf Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Gunung Mas, 11 Mei mendapatkan uang apabila mereka bekerja di
2015. sektor pertambangan.

476 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


Hasil dari pertambangan emas pada ini menjadi terancam, sekaligus menjadi ancaman
masyarakat Gunung Mas sudah tampak nyata bagi generasi berikutnya.
dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Hasil
Hadirnya pertambangan emas rakyat
itu tercermin dari rumah-rumah penduduk dan
membuat konsentrasi kegiatan masyarakat di
kendaraan yang mereka miliki. Dengan demikian,
Kabupaten Gunung Mas tertuju pada pertambangan
sumber ekonomi sebagian masyarakat di
emas itu. Hal itu disebabkan wilayah Gunung Mas
Kabupaten Gunung Mas sudah bergeser dari
yang berpotensi mengandung sumber daya emas
pertanian menjadi pertambangan, dan ladang
hampir merata. Kecenderungan generasi muda
pertanian pun berubah menjadi ladang
untuk menjadi penambang juga begitu tinggi.
penambangan. Kalau dulu ladang masyarakat
Harga emas yang cenderung naik menjadi stimulus
penuh tanaman, kondisi pada 2015, ladang itu
untuk menarik tenaga-tenaga produktif bekerja di
penuh bebatuan yang ikut terangkat dari dalam
sektor pertambangan rakyat itu. Walaupun sistem
tanah ke bagian permukaan dan lubang-lubang
bagi hasil tetap lebih berpihak pada pemilik tanah
bekas galian emas.
dan mesin lanting, hal itu tidak menyurutkan para
Berbeda dengan perladangan bergilir yang tenaga muda untuk tetap bekerja di pertambangan
masih berpatokan pada kearifan lokal agar rakyat.
kehidupan generasi mendatang tidak terancam,
yang terjadi justru sebaliknya dengan adanya Akses Pengelolaan Sumber Daya Hutan
kegiatan di pertambangan emas ini. Bekas galian
Mengikuti Ribot dan Peluso (2003: 153)
tambang emas yang membentuk lubang-lubang
mendefinisikan akses “sebagai kemampuan untuk
pada permukaan tanah tidak dapat memulihkan
mengambil manfaat dari sesuatu: termasuk objek
dirinya sendiri agar kembali subur. Tidak seperti
materi, orang-orang, institusi-institusi, dan simbol-
pada kegiatan perladangan bergilir, ketika lahan
simbol”, dalam konteks tulisan ini, materi (things)
yang sudah tidak subur itu ditinggal pemiliknya
yang dimaksudkan adalah sumber daya hutan yang
dalam waktu beberapa tahun, masa itu adalah
ada di Kabupaten Gunung Mas. Masyarakat di
waktu memberi kesempatan terhadap lahan untuk
sekitar hutan, ada yang sudah dapat mengambil
memulihkan kesuburannya.
manfaat dari sumber daya hutan melalui
Lubang-lubang bekas tambang emas itu, keterlibatan mereka pada program-program
sebelumnya harus direklamasi guna mengembalikan pemerintah walaupun dalam jumlah terbatas,
fungsi tanah yang rusak. Hanya saja, reklamasi tetapi ada juga yang sedang memperjuangkannya
bukan persoalan mudah. Reklamasi tidak sekedar melalui gerakan yang disebut dengan “Dayak
menutup lubang bekas tambang dengan tanah Misik”. Berikut ini akan dijelaskan akses-akses
begitu saja. Dalam upaya mengembalikan tersebut.
kesuburan tanah dengan cara reklamasi, ada tiga
unsur tanah yang harus diperhatikan, yaitu biologi,  Gerakan Dayak Misik
kimia, dan fisika. Keberadaan dari ketiga unsur itu
Sumber daya hutan yang dimiliki
tidak cukup dengan reklamasi, tetapi harus juga
Kabupaten Gunung Mas yang mencapai
melakukan rehabilitasi dan naturalisasi.12 Pengalaman
867.535,17 ha tergolong luas. Dengan kawasan
di beberapa tempat, reklamasi jarang dilakukan
hutan seluas itu, masyarakat Dayak beranggapan
terutama pada pertambangan rakyat. Biaya yang
bahwa mereka mempunyai hak atas sumber daya
dibutuhkan untuk mereklamasi suatu lubang bekas
hutan sebagai masyarakat adat yang ada di
tambang tidak sedikit. Lubang-lubang bekas
Provinsi Kalimantan Tengah khususnya dan
tambang emas yang tidak direklamasi,
Kabupaten Gunung Mas umumnya. Sebagai
dikhawatirkan juga akan terjadi di Kabupaten
masyarakat adat, mereka adalah pemilik teritorial
Gunung Mas ini sehingga lingkungan di kabupaten
wilayah (indigenous territory) di sekitarnya. Hal
itu didasarkan pada sumber mata pencaharian
12
Wawancara dengan Pakar Pertanian mereka yang hidup sebagai petani berladang
Universitas Mulawarman Dr. Suyadi tanggal 21 April bergilir. Namun, hak mengakses lahan-lahan
2014 di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian yang pernah diusahakan itu sudah
Provinsi Kalimantan Timur.

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 477


berpindah pada para pemilik modal ataupun tuntutan masyarakat adat Dayak melalui Forum
pemerintah. Kawasan hutan itu sebetulnya ada Koordinasi Kelompok Tani Dayak Misik
dalam pengawasan dan kontrol pemerintah, Kalimantan Tengah (FKKTDM-KT).13 Terminologi
sehingga apabila para pihak ingin mengakses ‘Dayak Misik’ juga merepresentasikan perjuangan
sumber daya hutan, mereka harus menyesuaikan itu, yang diartikan dengan kebangkitan Dayak.
diri dengan peraturan yang berlaku, dan
Kendati manfaat positif dari sisi ekonomi
pemanfaatannya pun merujuk pada peruntukan
tidak dinafikan oleh masyarakat Dayak yang
hutan itu sendiri.
tergabung dalam Forum Kordinasi Kelompok Tani
Pemikiran untuk kembali menuntut hak Dayak Misik itu, kehadiran investor yang menguasai
atas tanah adat itu muncul seiring hadirnya sumber daya hutan tersebut justru membuat
investor yang menguasai sumber daya hutan, baik kehidupan masyarakat Dayak terancam. Hak atas
untuk kegiatan pertambangan maupun perkebunan. tanah dan hutan serta sumber daya alam yang
Para investor itu dihadirkan oleh pemerintah atas merupakan sumber mata pencaharian tidak lagi
nama pembangunan. Gerakan ‘Dayak Misik’ dapat menjamin kelangsungan hidup mereka saat
dimunculkan karena masyarakat adat selama ini ini, apalagi jaminan hidup untuk anak cucu
tidak pernah diperhatikan. Oleh karena itu, mereka (FKKTDM-KT 2014). Oleh karena itu,
terbitnya Peraturan Bersama Menteri Dalam masyarakat Dayak di Provinsi Kalimantan Tengah
Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Pekerjaan termasuk di Kabupaten Gunung Mas ini, mencoba
Umum, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk mendapatkan akses tersebut.
pada tahun 2014 tentang Tata Cara Penyelesaian
Akses yang coba mereka perjuangan itu
Penguasaan Tanah yang Berada di dalam Kawasan
melalui legalitas yang diakui negara. Mereka
Hutan, menjadi momentum untuk memperjuangkan
mencoba mengkalim suatu kawasan dalam
hak-hak masyarakat adat.
hamparan tertentu, yaitu kawasan hutan milik
Dalam peraturan bersama tersebut, status negara. Sikor dan Lund (2009) dalam kajiannya
tanah yang menjadi hak ulayat masyarakat adat menjelaskan bahwa akses terhadap sumber daya
diakui dan dijamin, sehingga kawasan hutan dapat (tanah) dapat juga diperoleh dengan cara mencari
berubah dan beralih menjadi milik masyarakat legitimasi terhadap sumber daya. Pengakuan akses
adat setelah sebelumnya di bawah penguasaan terhadap suatu sumber daya sangat tergantung
Negara, sesuai rekomendasi Tim Inventarisasi pada institusi politik di tingkat lokal, seperti kajian
Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Sikor dan Lund pada masyarakat Nikaragua.
Tanah (IP4T) yang dibentuk oleh pemerintah. Hal Pengklaiman yang ditujukan pada pihak otoritas
itu sesuai bunyi Pasal 1 Ayat 13: “Hak ulayat dan (negara) dimaksudkan agar masyarakat yang
yang serupa itu dari masyarakat hukum adat, yang mengklaim sumber daya itu mendapatkan
selanjutnya disebut hak ulayat adalah kewenangan legitimasi.
yang menurut hukum adat dipunyai oleh
Sesuatu (things), sesuai penjelasan Ribot
masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah
dan Peluso (2003: 153), yang dimaksudkan oleh
tertentu yang merupakan lingkungan para
Kelompok Tani Dayak Misik, yang mereka coba
warganya untuk mengambil manfaat dari sumber
perjuangkan, adalah sumber daya hutan yang
daya alam, termasuk tanah, dalam wilayah
berada dalam pengontrolan pemerintah. Melalui
tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya,
Forum Kordinasi Kelompok Tani Dayak yang
yang timbul dari hubungan secara lahiriyah dan
dibentuk oleh Dewan Adat Dayak Kalimantan
batiniah turun temurun dan tidak terputus antara
Tengah, melalui Surat Keputusan No. 05A/DAD-
masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah
KT/KTPS/VI/2014, pada 09 Juni 2014, mereka
bersangkutan”.
mencoba bernegosiasi dengan pemerintah dan
Sebelum ayat itu, pada Pasal 1 Ayat 11
disebutkan: “Pemberian hak atas tanah adalah 13
FKKTDM-KT yang coba diperjuangkan
penetapan Pemerintah yang memberikan suatu hak adalah pengakuan dan perlindungan terhadap tanah-
atas tanah Negara”. Pemahaman terhadap Peraturan tanah adat yang dimiliki oleh masyarakat yang berada
Bersama ini yang kemudian diterjemahkan dalam di desa-desa bagian hulu, kurang lebih 600 desa dari
1.500 desa yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah.

478 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


membangun argumentasi tertentu. Dalam forum perkebunan, dalam hal ini para pemilik modal.
itu, masyarakat adat Dayak memposisikan diri Para pemilik perusahaan ini dianggap lebih mudah
sebagai pemilik wilayah atas tanah yang ada di mengakses kawasan hutan dan mengubahnya
sekitar mereka, akan tetapi keberadaan mereka menjadi lahan perkebunan ataupun pertambangan,
sebagai pemilik hak ulayat tidak diakui ataupun berlindung di balik terminologi “pinjam pakai”.
dilindungi oleh pemerintah. Hal itu berakibat Kendati terminologi yang digunakan adalah
tanah ulayat yang mereka miliki dengan mudah pinjam pakai, tetapi jangka waktu peminjaman
dapat diambil alih oleh pihak lain. Akses terhadap kawasan hutan dapat berlangsung selama 30 tahun
tanah ulayat pun menjadi berpindah, sehingga dan dimungkinkan untuk diperpanjang lagi.
masyarakat adat Dayak tidak dapat mengambil
Merujuk pada surat edaran pengurus
manfaat dari sumber daya hutan itu.
forum tentang program pengakuan dan
Dasar argumentasi yang dibangun oleh perlindungan tanah adat dan hutan adat14 di
forum itu berpijak pada program ‘bagi-bagi tanah’ Kalimantan Tengah, dengan surat nomor
yang pernah dilakukan pemerintah pada masa 02/FKKTDM-KT/IX/2014 tertanggal 23 September
pemerintahan Presiden Soeharto melalui program 2014, ditandatangani oleh ketua dan sekretaris
transmigrasi. Terlepas dari tujuan program FKKTDM yang ditujukan kepada seluruh damang
transmigrasi, yaitu untuk memindahkan petani kepala adat, lurah dan kepala desa, mantir adat
atau keluarga yang tidak mempunyai tanah desa, dan tokoh masyarakat adat Dayak desa se-
(landless families) dari Pulau Jawa, Madura, Bali, Kalimantan Tengah, tersirat bahwa status tanah
dan Lombok sebagai pulau yang berpenduduk ataupun lahan yang diminta petani yang akan
padat ke pulau-pulau ‘kosong’ di Indonesia dibagikan itu adalah tanah adat bekas ladang
(Donner, 1987: 42-43), termasuk di Provinsi Kalimantan berpindah petani yang menjadi anggota FKKTDM.
Tengah, masyarakat adat Dayak melihat program Akan tetapi, ketika aspirasi anggota FKKTDM
itu adalah ‘bagi-bagi tanah’. Tanah yang dibagi- dikonfirmasi kepada Dinas Kehutanan dan diskusi
bagikan pada peserta transmigrasi seluas dua ha dengan pengurus FKKTD di tingkat Kabupaten
(lahan pekarangan seluas 0,25 ha, lahan usaha satu Gunung Mas, ternyata tidak demikian. Lokasi
seluas satu ha, dan lahan usaha dua seluas ¾ ha) yang direncanakan oleh FKKTDM Kabupaten
bukan tanah ulayatnya, tetapi tanah ulayat Gunung Mas bukan bagian dari bekas ladang
masyarakat komunal lain. Sementara tanah yang anggota, tetapi sudah mereka tentukan sendiri.
diminta oleh masyarakat adat Dayak adalah tanah
Luas tanah adat bekas ladang petani itu
ulayat atau hutan yang berada di sekitar mereka
untuk masing-masing petani yang diminta tersebut
tetapi dalam penguasaan pemerintah.
adalah 5 ha. Permintaan seluas itu dianggap wajar
Para transmigran yang menjadi perbandingan oleh Forum ini mengingat para transmigran saja
ketika masyarakat adat Dayak menuntut pembagian dapat memperoleh tanah seluas dua ha di daerah
tanah adat yang mereka miliki, karena perhatian yang bukan wilayah adatnya, apalagi tanah yang
pemerintah terhadap mereka dilihat sangat kurang. diminta petani dari Dayak Misik berada di wilayah
Kalau para transmigran yang ditransmigrasikan itu adat mereka. Selain itu, hamparan hutan yang ada
adalah masyarakat miskin ataupun keluarga yang di Kabupaten Gunung Mas dan Provinsi
tidak memiliki tanah (Donner, 1987: 42-43), Kalimantan Tengah masih cukup luas. Sementara
kondisi kehidupan masyarakat adat Dayak ini kawasan hutan yang dilokasikan untuk hutan adat
tidak jauh bedanya. Setelah program transmigrasi adalah 10 ha, dengan ketentuan bahwa hutan adat
yang terpusat, berubah sesuai Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1997 tentang 14
FKKMTDM membedakan tanah adat dan
Ketransmigrasian (sebelumnya UU Nomor 3 hutan adat. Tanah adat dialokasikan untuk anggota
Tahun 1972) dan Peraturan Pemerintah (PP) Kelompok Tani Dayak Misik dengan luas 5 ha per
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1999 tentang kepala keluarga sedangkan hutan adat berupa hutan
Penyelenggaraan Transmigrasi (Sebelumnya PP dengan luas minimal 10 ha untuk masing-masing desa.
Kalau tanah adat dapat dikatakan tempat untuk
Nomor 42 Tahun 1973), dengan mengatasnamakan
bercocok tanam bagi petani, sedangkan hutan adat ini
pembangunan, justru yang diperhatikan pemerintah merupakan tempat berburu, meramu, memungut hasil
pasca transmigrasi terpusat itu adalah perusahaan hutan, dan tempat religius magis.

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 479


yang direncanakan itu merupakan tempat berburu, (Kelompok Tani “Dayak Misik”, 2014). Para
meramu, memungut hasil hutan, dan sebagai petani yang menjadi anggota kelompok tani
tempat riligius magis. diminta membuat surat pernyataan. Akan tetapi,
surat pernyataan yang dibuat itu tidak jelas untuk
Perjuangan Kelompok Tani ‘Dayak
menyatakan apa, sebab surat pernyataan itu justru
Misik’ ini sudah mendapat dukungan dari
berisi permohonan untuk ikut bergabung dalam
pemerintah pusat. Presiden Joko Widodo telah
Kelompok Tani Dayak Misik dengan
menyetujui pemberian lahan sesuai keinginan
perjuangannya.
kelompok tani, masing-masing lima ha setiap
kepala keluarga. Pengalokasian lahan untuk Tanah yang sedang diperjuangkan oleh
penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah FKKTDM Kelurahan Kurun berada di Lapak Jaru.
diminta agar dimasukkan dalam Rencana Tata Namun, sangat disayangkan, kawasan itu
Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. merupakan bagian dari Taman Hutan Raya Lapak
Akan tetapi, persetujuan dari pemerintah pusat Jaru yang sedang berproses di Kantor
masih terkendala di tingkat provinsi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
berbagai alasan (Palangka Post, 19 Januari 2015). Republik Indonesia untuk ditetapkan sebagai
taman hutan raya. Kelompok tani menyadari itu,
Hal yang terjadi di tingkat provinsi, juga
sehingga mereka menginginkan agar kawasan itu
berlaku di tingkat Kabupaten Gunung Mas.
tidak semua dijadikan sebagai taman hutan raya.
Aspirasi yang disampaikan oleh anggota Kelompok
Kelompok petani ini memohon agar sebagian
Tani Dayak Misik Kabupaten Gunung Mas belum
kawasan dialokasikan untuk petani. Mereka
sejalan dengan keinginan pemerintah kabupaten.
menjamin bahwa tanah yang dibagikan ke petani
Lokasi lahan yang diminta pada pemerintah untuk
tidak akan dialihkan ke pihak lain selama 25
kemudian “dibagi-bagi” pada petani anggota
tahun, sebab ini bagian dari komitmen anggota
Kelompok Tani Dayak Misik, berada di kawasan
yang tidak akan menjual lahan tersebut ke pihak
hutan bekas izin HPH (hak pengusahaan hutan)
lain. Pihak petani hanya mungkin melakukan kerja
yang tidak lagi beroperasi. Akan tetapi,
sama dengan pihak lain, misalnya bekerja sama
pemerintah daerah tidak setuju dengan pemilihan
dengan perusahaan untuk mengelola kawasan
lokasi itut karena status kawasan hutan yang
tersebut.
diminta kelompok tani itu akan dinaikkan, bukan
lagi sebagai hutan produksi terbatas yang luasnya
mencapai 945 ha dan kawasan hutan yang dapat  Program Hutan Kemasyarakatan dan Hutan
dikonversi seluas 3.126 ha, tetapi menjadi Desa
kawasan pelestarian alam. Pemerintah Kabupaten Gunung Mas
Luas kawasan hutan yang disiapkan sesungguhnya sudah membuka akses pada
pengurus Kelompok Tani Dayak Misik Kelurahan masyarakat lokal agar terlibat dalam pengelolaan
Kuala Kurun, Kecamatan Kurun, Kabupaten sumber daya hutan. Akses melalui program-
Gunung Mas sebagai tanah adat untuk dibagi- program pemberdayaan yang dilakukan oleh
bagikan kepada anggota kelompok seluas 3.127 ha pemerintah bertujuan untuk meningkatkan
yang berlokasi di Lapak Jaru, Sungai Sara dan kesejahteraan masyarakat yang bermukim dan
bekas izin hak pengusahaan hutan PT. Tanjung tinggal di sekitar hutan. Hanya saja, program itu
Raya di kilometer 20. Sementara itu, hutan adat belum menyentuh seluruh masyarakat yang
yang disiapkan oleh Kelompok Tani Dayak Misik bermukim di dalam dan sekitar hutan.
Kelurahan Kurun seluas 2.000 ha berada di Balai Program yang membuka akses masyarakat
Sambali. Tanah atau hutan seluas itu diperlukan untuk dapat mengambil manfaat dari sumber daya
untuk dibagi pada 379 kepala keluarga15 yang hutan di Kabupaten Gunung Mas ini adalah
menjadi anggota kelompok tani, dengan masing- program hutan kemasyarakatan (community
masing kepala keluarga memperoleh 5 ha tanah forestry) dan hutan desa. Program hutan
kemasyarakatan (HKm) dapat meningkatkan
15
Anggota Forum Koordinasi Kelompok Tani kesejahteraan masyarakat dalam dan sekitar hutan,
Dayak Misik untuk tingkat Provinsi Kalimantan karena program ini memberikan ruang kepada
Tengah mencapai 600 kelompok tani.

480 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


masyarakat untuk memperoleh akses mengelola P.37/MENHUT-II/2007 dan P.88/MENHUT-II/2014
hutan sekaligus kepemilikan aset atas hasil hutan, tentang Hutan Kemasyarakatan. Hutan kemasyarakatan
baik kayu maupun bukan kayu dan jasa ini memberi jaminan kepastian hukum dalam
lingkungan. Sementara itu, sektor kehutanan yang bentuk legalitas kepada masyarakat setempat
mengalami degradasi akibat komersialisasi untuk mengelola hutan (Wafa, et.al., 2010: 68).
terhadap sumber daya hutan yang mengakibatkan Adapun program hutan desa didasarkan pada
pengekploitasiannya tidak terkontrol, telah Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia
membuat masyarakat lokal yang menggantungkan Nomor: P.49/MENHUT-II/2008 dan P.89/MENHUT-
hidupnya terhadap sumber daya hutan kehilangan II/2014 tentang Hutan Desa.
mata pencaharian.
Hutan kemasyarakatan yang sudah
Program HKm, yang juga dilaksanakan di terbentuk adalah Hutan Kemasyarakatan Tumbang
negara lain, merupakan bentuk respons negara Miwan, berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan
terhadap kemiskinan yang ada pada masyarakat Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor:
yang tinggal di sekitar hutan dengan sumber daya SK.51/Menhut-II/2015 tentang Penetapan Areal
yang melimpah, tetapi mereka tidak dapat Kerja Hutan Kemasyarakatan Seluas ±1.885 ha
mengaksesnya. Program HKm adalah upaya pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di
mempertahankan kehidupan masyarakat di sekitar Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan
hutan yang difasilitasi negara dengan Tengah. Izin Hkm itu diberikan kepada Kelompok
mengikutsertakan masyarakat lokal mengelola Tani Hutan Lestari yang berada di Desa Timbang
sumber daya hutan. Kanada, Amerika Serikat, Miwan Kecamatan Kurun. Berdasarkan lampiran
Mexico, dan Bolivia adalah negara-negara yang surat keputusan tersebut, jumlah anggota
mempunyai pengalaman berhasil meningkatkan kelompok tani ini mencapai 380 petani, sudah
pendapatan masyarakat di dalam dan sekitar hutan termasuk ketua, sekretaris, dan anggota, yang juga
melalui proyek hutan kemasyarakatan itu. Ketika berprofesi sebagai petani.
masyarakat dilibatkan dalam proyek tersebut, pada
Akan tetapi, HKm di Kabupaten Gunung
saat yang sama, kerusakan hutan dapat dihindari
Mas ini belum mempunyai kegiatan. Padahal,
(Charnley dan Poe, 2007).
dengan diterbitkannya surat keputusan tersebut,
Program HKm yang dilaksanakan di gubernur ataupun bupati setelah mendapat
Indonesia sudah berhasil di beberapa tempat, delegasi dari gubernur sudah dapat menerbitkan
antara lain; HKm di Desa Ujan Mas, Kecamatan izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan
Ujan Mas, Provinsi Bengkulu, HKm di Desa (IUPHKm) kepada masyarakat anggota kelompok
Sukamulya, Kecamatan Tanjung Praja, Provinsi tani. Menteri kehutanan dapat mencabut surat
Lampung, HKm di Desa Bleberan, Kecamatan keputusan penetapan areal kerja hutan
Playen, Provinsi DI Yogyakarta, HKm di Desa kemasyarakatan apabila selama dua tahun, gubernur
Sanggalangit dan Desa Pejarakan, Kabupaten tidak pernah menerbitkan IUPHKm, atau
Buleleng, Provinsi Bali, serta HKm di Desa IUPHKm yang diterbitkan itu diberikan kepada
Santong, Provinsi Nusa Tenggara Barat (Wafa, masyarakat yang tidak berhak menurut perundang-
et.al., 2010). undangan yang berlaku.
HKm adalah hutan negara yang Selain hutan kemasyarakatan, keterlibatan
pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat sekitar hutan yang mungkin
masyarakat setempat. Sementara itu, hutan desa dikembangkan di Kabupaten Gunung Mas adalah
adalah hutan negara yang dikelola oleh lembaga hutan desa. Apabila status hutan desa adalah hutan
desa. HKm dan hutan desa bertujuan untuk produksi atau hutan produksi terbatas, maka
meningkatkan kesejahteraan melalui pengembangan Lembaga Desa pemegang Hak Pengelolaan Hutan
kapasitas dan pemberian akses pada masyarakat Desa dapat mengajukan izin usaha pemanfaatan
setempat dalam pemanfaatan sumber daya hutan hasil hutan kayu (IUPHHK) yang ada dalam hutan
dengan tetap menjaga kelestarian fungsi hutan dan desa tersebut, yang terdiri dari IUPHHK Hutan
lingkungan hidup. Program HKm didasarkan pada Alam atau IUPHHK Hutan Tanaman. Luas
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: kawasan hutan yang berpotensi menjadi lokasi

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 481


hutan desa adalah 17.265,99 ha, terdiri atas hutan Penetapan Areal Kerja Hutan Desa Rabambang
produksi 13.124,32 ha dan hutan produksi terbatas seluas ± 440 ha pada Kawasan Hutan Produksi
4.141,67 ha. Potensi itu merupakan 44,69% dari Tetap di Kecamatan Rungan Barat Kabupaten
potensi hutan seluas 386.301,22 ha yang dapat Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah.
dijadikan sebagai lokasi hutan desa di Provinsi Dengan terbitnya surat keputusan tersebut,
Kalimantan Tengah (Balai Pengelolaan DAS lembaga pengelola hutan Desa Rabambang dapat
Kahayan tanpa tahun). Akan tetapi, potensi itu melakukan kegiatan seperti kegiatan yang ada di
belum diimplementasikan menjadi kegiatan hutan Hutan Desa Harowu. Adapun kewajiban pada
desa di Kabupaten Gunung Mas ini. kedua lembaga pengelola hutan desa adalah
menjaga keamanan areal kerja hutan desa dari
Kendati potensi hutan yang mungkin
perambahan, perladangan berpindah, penebangan
dikembangkan menjadi hutan desa relatif luas,
liar, dan kebakaran hutan. Artinya, kendati
hingga tahun 2015, hutan desa yang sudah
lembaga pengelola diberi hak untuk melakukan
mendapat penetapan dari Menteri Lingkungan
kegiatan dalam hutan desa, tetapi kegiatan tersebut
Hidup dan Kehutanan RI baru dua, yaitu Hutan
harus tetap berorientasi pada kelestarian hutan
Desa Harowu dan Hutan Desa Rabambang. Hutan
yang dikelola itu.
Desa Harowu ditetapkan berdasarkan Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kegiatan yang dilakukan di kedua hutan
Republik Indonesia Nomor: SK.58/Menhut- desa tersebut baru tahap sosialisasi. Kegiatan yang
II/2015 tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Desa dilakukan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
Harowu seluas ± 1.750 ha; terdiri dari ± 1.720 ha anggota lembaga pengelola yang dibentuk seperti
pada Kawasan Hutan Lindung dan ± 30 ha pada tertuang dalam surat keputusan tersebut, belum
Kawasan Hutan Produksi Terbatas, yang terdapat ada. Sementara itu, dari sisi kepengurusan
di Kecamatan Miri Kabupaten Gunung Mas kelembagaan untuk kedua desa hutan sudah
Provinsi Kalimantan Tengah.16 terbentuk sebagai salah satu syarat pengusulan dan
menjadi lampiran dari surat keputusan yang
Dengan adanya surat keputusan itu, maka
diterbitkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan
masyarakat Desa Harowu melalui lembaga
Kehutanan Republik Indonesia. Padahal, secara
pengelolaan huta desa sebagai lembaga yang
tegas dinyatakan bahwa keputusan yang diterbitkan
berhak mengelola hutan desa dapat mengelola
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
hutan lindung dengan kegiatan pemanfaatan
Republik Indonesia, apabila dalam jangka waktu
kawasan, pemungutan hasil hutan bukan kayu, dan
dua tahun sejak surat keputusan itu ditetapkan
pemanfaatan jasa lingkungan. Kegiatan yang
tidak ada pemberian hak pengelolaan hutan desa,
dilakukan pada kawasan hutan produksi terbatas
maka keputusan itu batal dengan sendirinya. Jika
bisa ditambah kegiatan pemanfaatan hasil hutan
hal itu terjadi, proses pengajuan akan dimulai dari
kayu dengan tetap mengutamakan kelestarian
awal lagi.
hutan sebagi sumber benih, sumber air, dan
sumber plasma nuftah. Kegiatan yang dapat
Penutup
dilakukan oleh lembaga terhadap hutan desa tetap
merujuk pada fungsi hutan. Kalau fungsi hutan Kawasan hutan di Kabupaten Gunung
yang dijadikan sebagai hutan desa adalah hutan Mas sudah banyak mengalami perubahan, baik
lindung, maka pemanfaatan hasil hutan kayu tidak akibat pengonversian lahan menjadi perkebunan
boleh dilakukan merujuk pada status hutan itu. kelapa sawit maupun akibat maraknya
pertambangan emas tidak berizin. Pertambangan
Dalam waktu bersamaan, yaitu 12
emas menjadi sumber mata pencaharian alternatif
Februari 2015, Menteri Lingkungan Hidup dan
petani setelah sumber daya hutan dan perkebunan
Kehutanan RI juga menerbitkan surat keputusan
rakyat tidak lagi dapat diharapkan untuk memberi
untuk Hutan Desa Rabambang. Surat keputusan
kehidupan secara layak. Hal itu karena hutan
tersebut bernomor: SK.57/Menhut-II/2015 tentang
sudah banyak beralih menjadi lahan-lahan
16 perkebunan yang dimiliki oleh para pengusaha
Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Republik Indonesia ini diterbitkan 12 besar, yang berakibat ruang gerak petani dalam
Februari 2015. sistem perladangan bergilir semakin sempit.

482 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


Sementara itu, perkebunan karet yang sudah terkait upaya memberdayakan masyarakat dalam
dilakukan secara turun-temurun, juga tidak dan sekitar hutan melalui program hutan
menjanjikan. Harga komoditi karet di pasar kemasyarakatan dan hutan desa. Kendati belum
internasional terus menurun sehingga biaya melibatkan seluruh masyarakat dalam dan sekitar
produksi tidak seimbang dengan harga jual hutan, melihat potensi hutan yang dapat dijadikan
komoditi itu. sebagai lokasi program hutan kemasyarakatan dan
hutan desa yang begitu luas mencapai 17.265,99
Ketika sumber daya hutan dan perkebunan
ha, tetapi untuk kegiatan hutan kemasyarakatan
tidak memberikan pengharapan untuk meraih
dan hutan desa baru mencapai 4.075 ha atau
masa depan yang lebih sejahtera, teknologi baru
23,60% dari seluruh potensi, pemerintah
dalam penambangan emas justru hadir, sekaligus
kabupaten sudah mencoba membuka akses pada
juga mereduksi kearifan ekologi yang dimiliki
masyarakat. Hanya saja, program hutan
masyarakat Dayak melalui perladangan
kemasyarakatan dan hutan desa yang berlokasi di
bergilirnya. Kalau dulu penambangan emas
tiga desa, yaitu Desa Tumbang Miwan (HKm),
dilakukan dengan sangat tradisional, yaitu dalam
Desa Hutan Desa Harowu dan Hutan Desa
bentuk pendulangan di sungai-sungai yang ada di
Rabambang (Hutan Desa) masih tahap sosialisasi
Kabupaten Gunung Mas, tetapi dengan teknologi
sehingga kegiatan pemberdayaan tersebut belum
penambangan baru, disebut dengan lanting, daya
diimplementasikan.
rusak lingkungan pun menjadi tinggi. Daya rusak
lingkungan itu sejalan dengan produksi emas yang Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
dapat dihasilkan oleh penambang. Penambangan masyarakat melalui penambangan emas sebagai
menggunakan lanting tidak lagi hanya alternatif mata pencaharian baru, program hutan
berlangsung di aliran sungai seperti pendulangan, kemasyarakatan dan hutan desa yang dilakukan
tetapi areal penambangan sudah masuk ke daratan, oleh pemerintah, merupakan bentuk kegiatan
bahkan merangsek hingga ke dalam hutan. untuk meningkatkan ketahanan sosial. Namun,
Berdasarkan jumlah penambang yang tidak berizin upaya untuk meningkatkan ketahanan sosial akibat
yang ada di Kabupaten Gunung Mas ini, aktivitas perubahan ekologi hutan yang terjadi, tidak selalu
di darat justru jauh lebih tinggi daripada di sungai. berorientasi pada kelestarian hutan. Jika program
hutan kemasyarakatan dan hutan desa berorientasi
Pemerintah kabupaten sudah mencoba
pada kelestarian hutan di satu sisi, program itu
memperhatikan tingkat kesejahteraan masyarakat
sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan
yang bermukim dalam dan sekitar hutan, yaitu
masyarakat sekitar dan dalam hutan di sisi lain.
dengan membuka akses pada masyarakat untuk
Sebaliknya, masyarakat dalam upaya meningkatkan
ikut serta dalam pengelolaan sumber daya hutan.
ketahanan sosial melalui penambangan emas agar
Melalui Taman Hutan Raya Lapak Jaru misalnya,
kesejahteraannya lebih cepat tercapai, tetapi
pemerintah kabupaten mencoba menawarkan
kerusakan lingkungan dan hutan yang menjadi
kegiatan ekowisata pada masyarakat. Untuk
wilayah tambang akan semakin hancur. Hutan
sampai pada tahap itu, pemerintah kabupaten
kemasyarakatan dan hutan desa merupakan
sudah membangun berbagai fasilitas pendukung
program pemberdayaan yang berkelanjutan,
kegiatan ekowisata, termasuk untuk melegalkan
sedangkan penambangan emas justru sebaliknya.
kegiatan itu dengan mengajukan usulan perubahan
Sebab lingkungan dan hutan yang rusak akibat
status hutan produksi dan hutan lindung menjadi
penambangan mengakibatkan generasi mendatang
taman hutan raya. Upaya menjadikan Lapak Jaru
akan semakin sulit untuk mendapatkan kebutuhan
sebagai taman hutan raya memang tidak mudah,
hidupnya.
sebab masyarakat juga ada yang menginginkan
agar sebagian kawasan hutan itu dapat dibagikan
Daftar Pustaka
pada petani lewat gerakan Forum Koordinasi
Kelompok Tani Dayak Misik. Adger, W. N., dan P.M. Kelly. (2005). “Social
vulnerability and resilience” dalam W.N.
Selain itu, pemerintah kabupaten juga
Adger, P.M. Kelly, dan N.H. Ninh
sudah berhasil mendapatkan surat keputusan dari
(Editors) Living with Environmental
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI
Change: Social Vulnerability, Adaptation,

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 483


and Resilience in Vietnam. London dan Donner, W. (1987). Land Use and Environment in
New York: Routledge. Hlm. 19-94. Indonesia. London: C. Hurst & Company.
Amelida, J. (2015). “Januari, harga karet masih FWI/GFW. (2001). Keadaan Hutan Indonesia.
rendah”. Dalam http://www.koran-sindo. Bogor, Indonesia: Forest Watch Indonesia
com/read/945561/151/januari-harga-karet- dan Washington D.C.: Global Forest
masih-rendah-1420266276. (Dikutip 7 Juli WatchForum Koordinasi Kelompok Tani
2015). ‘Dayak Misik’ Kalimantan Tengah 2014.
Boyd, E., dan C. Folke. (2012). “Adapting institution, Fox, J., Y. Fujita, D. Ngidang, N. Peluso, L.
adaptive governance and complexity: Potter, N. Sakuntaladewi, J. Sturgeon, dan
introduction” dalam E. Boyd dan C. Folke D. Thomas. (2009). “Policies, political-
(Editors) Adapting Institution: Governance, economy, and swidden in Southeast Asia”.
Complexity and Social-Ecological Resilience. Dalam Human Ecology 37. Hlm. 305-322.
New York: Cambridge University Press.
Grizzetti, B., F. Bouraoui, G.D. Gooch, dan P.
Hlm. 1-9.
Stálnacke. (2010). “Putting the ‘integration’
Berkes, F., J. Colding, dan C. Folke. (2012). in the science-policy-stakeholders interface”.
“Introduction”, dalam E. Boyd dan C. Dalam G.D. Gooch, dan P. Stálnacke (Ed.)
Folke (Editors) Adapting Institution: Science, Policy, and Stakeholders in
Governance, Complexity and Social- Water Management: An Integrated
Ecological Resilience. New York: Approach to River Basin Management.
Cambridge University Press. Hlm. 1-27. London dan Washington, D.C.: Earthscan.
Hlm. 17-28.
BPS. (2014). Kabupaten Gunung Mas Dalam
Angka 2014. Kurun. BPS Kabupaten Inswiasri, Kusnoputranto, H. (2011). “Pajanan Hg
Gunung Mas. pada petambang emas tradisional di
Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan
BLH Kabupaten Gunung Mas. (2011). Laporan
Tengah: Mercury Exposure Of Traditional
Hasil Pengujian Kadar Polusi Limbah
Miners In Gunung Mas District, Central
Padat dan Limbah Cair. Kurun: Badan
Kalimantan”. Dalam Ekologi Kesehatan
Lingkungan Hidup Kabupaten Gunung
10(2). Hlm. 72 – 82.
Mas.
Kalteng Pos. (2015). “Sungai Kahayan”. Dalam
BP DAS. (Tanpa tahun). Mekanisme Penyusunan
http://jelajah1000jurnalis.com/detail_beri
Rencana Kerja HD dan HKm. Bahan
-ta.php?id=33. (Akses tanggal 7 Juli
presentasi yang disampaikan pada acara
2015).
sosialisasi HD dan HKm.
Kelompok Tani “Dayak Misik”. (2014). Dokumen
Charnley. S., dan M. R. Poe. (2007). “Community
berupa Surat Keterangan Kesiapan Tanah
forestry in theory and practice: where are
Adat dan Hutan Adat. Tidak dipublikasikan.
we now?”. Dalam Annual Review of
Anthropology Vol. 36. Hlm. 301-336. Milton, K. (1996). Environmentalism and Cultural
Theory. London dan New York: Routledge.
Clausen, F., M. L. Barreto, dan A. Attaran. (2011).
“Property rights theory and the reform af Palangka Post. (2015). “DPRD provinsi diminta
artisanal and small-scale mining in tidak menciderai. Pemerintah setujui 5 ha
developing countries”. Dalam Journal of bagi warga Dayak”. Dalam Palangka
Politics and Law 4(1). Hlm. 15-26. Post, Senin 10 Januari 2015.
Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas. (2014). Pearce, D.W. (2001). “The economic value of
Statistik Dinas Kehutanan Kabupaten forest ecosystems”. Dalam Ecosystem
Gunung Mas Tahun 2014. Kuala Kurun: Health 7(2). Hlm. 284-296.
Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas.
Ortner, Sherry B. (2006). Anthropology and Social
Theory: Culture, Power, and the Acting

484 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016


Subject. Durham dan Londong: Duke Wafa, M.A., M. Firman, R.C.D. Kaban, E.
University Press. Rosdiana, dan N. Irawati. (2010).
Membedah Mitos Hutan Lestari Masyarakat
Ribot, J.C. dan N.L. Peluso. (2003). “A theory of
Sejahtera: Pembelajaran di Balik Kisah
access.” Dalam Rural Sociology 68(2).
Sukses Praktik Hutan Kemasyarakatan.
Hlm. 153-181.
Jakarta: Wana Aksara kerjasama dengan
Sikor, M., dan C. Lund. (2009). “Access and Direktorat Bina Perhutanan Sosial Direktorat
property: a question of power and Jenderal Bina Pengelolaan DAS dan
authority.”. Dalam Development and Change Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan
40(1). Hlm. 1-22. RI.
Tim Terpadu. (2015). Paparan Hasil Penelitian Walker, A. (2001). The ‘Karen Consensus’, Ethnic
Tim Terpadu Usulan Perubahan Fungsi Poltics and Resource-Use Legitimacy in
Pokok Kawasan Hutan dari Kawasan Northern Thailand”. Dalam Asian Ethnicity
Hutan Produksi Terbatas seluas ± 945 ha 2(2). Hlm. 145-162.
dan Kawasan Hutan Produksi yang dapat
Webersik, Cristian. (2010). Climate Change and
Dikonversi seluas ± 3.126 ha menjadi
Security. California: Prager.
Taman Hutan Raya Lapak Jaru di
Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Zanotti, Laua C. (2009). “Economic Diversification
Tengah. Bahan paparan dalam bentuk and Sustainabe Development: The Role Non-
Power Point disampaikan pada tanggal 16 timber Forest Products Play in the
April 2015 di Jakarta. Monetization of Kayapó Livelihoods”,
dalam Journal of Ecological Anthropology,
Tsing, A. L. (2005). Friction: An Ethnography of
Vol. 13 No. 1. Hlm. 26-41.
Global Connection. Princeton, New
Jersey: Princeton University Press.

Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016 485


486 Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 3 Tahun 2016