Anda di halaman 1dari 18

TUGAS INDIVIDU

Mengelola Fungsi Managemen Dan Organisasi Dalam Bidang Pelayanan Kebidanan Untuk
Menyelesaikan Masalah Managerial Pada Pelayanan Kebidanan Primer Sekunder Maupun
Tersier Sesuai Kondisi Yang Dihadapi

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Organisasi Manajemen Dalam Pelayanan Kebidanan

Oleh

NIKEN TIA ERINA

205401446124

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN

UNIVERSITAS NASIONAL

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

JAKARTA 2020/2021
1. Konsep Organisasi dan Manajemen
Pengertian Manajemen
Dari batasan-batasan definisi manajemen secara umum dapat diambil suatu kesimpulan umum
bahwa “Manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai suatu tujuan
atau menyelesaikan pekerjaan.” Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat
dapat dikatakan sebagai berikut :
“ Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas
kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program
kesehatan.” Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum
dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek dan sasaran manajemen
adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. (Notoatmodjo, 2003)
Sehat adalah suatu keadaan yang optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan tidak hanya
terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan saja. Tujuan sehat yang ingin dicapai oleh
sistem kesehatan adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sesuai
dengan tujuan sistem kesehatan tersebut, administrasi (manajemen) kesehatan tidak dapat disamakan
dengan administrasi niaga (business adminstration) yang lebih banyak berorientasi pada upaya untuk
mencari keuntungan finansial (profit oriented). Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke
dalam administrasi umum/publik (public administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih
mementingkan pencapaian kesejahteraan masyarakat umum.
Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi kesehatan di Indonesia seperti
Kantor Depkes, Dinas Kesehatan di daerah, Rumah Sakit dan Puskesmas dan jajarannya. Untuk
memahami penerapan manajemen kesehatan di RS, Dinas Kesehatan dan Puskesmas perlu dilakukan
kajian proses penyusunan rencana tahunan Depkes dan Dinas Kesehatan di daerah. Khusus untuk
tingkat Puskesmas, penerapan manajemen dapat dipelajari melalui perencanaan yang disusun setiap
lima tahun (micro planning), pembagian dan uraian tugas staf Puskesmas sesuai dengan masing-
masing tugas pokoknya.
Dari uraian teori-teori manajemen diatas, yang diapakai sebagai acuan manajemen pelayanan
kesehatan adalah Teori dari George Terry dimana Terry mendefinisikan manajemen dalam
bukunya Principles of Management yaitu “Suatu proses yang membedakan atas perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni demi
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”, karena dalam pelayanan kesehatan tidak hanya
ilmu yang dibutuhkan tapi juga seni dalam pelayanan kesehatan.
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam
menerapkan metode pemecahan masalah secarasistematis mulai dari pengkajian, analisis data
didagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Menurut Buku 50 Tahun IBI
2007.
Menurut Depkes RI 2005 Manajemen Kebidanan adalah metode dan pendekatan
pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan
asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Helen Varney (1997) Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, penemuan-penemuan, keteranpilan dalam rangkaian tahapan yang logis untuk
pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
Proses pelaksanaan pemberian pelayanan kebidanan untuk memberikan asuhan
kebidanan kepada klien dengan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi ibu dan
anak,kepuasan pelanggan dan kepuasan bidan sebagai provider.
 Langkah-langkah dalam manajemen pelayanan kebidanan:
Langkah I : Pengumpulan Data
Pengumpulan Data Dasar adalah Pegumpulan informasi yang akurat dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Anamnesa 
a. Biodata (Nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan)
b. Riwayat Menstruasi (menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya 
darah yang keluar, aliran darah yang keluar,mentruasi terakhir.
c. Riwayat perkawinan (kawin brp kali, usia kawin pertama kali)
d. Riwayat Kesehatan (Gambaran penyakit lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat
kehamilan sekarang )
e. Riwayat Kehamilan, Persalinan & Nifas
1) Jumlah kehamilan dan kelahiran : G (gravid), P (para), A (abortus), H (hidup).
2) Riwayat persalinan yaitu jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya
melahirkan, cara melahirkan.
3) Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan, missal :
preeklampsi, infeksi, dll)
f. Bio-psiko-sosial spiritual
g. Pengetahuan Klien 
h. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital 
i. Pemeriksaan khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi) 
j. Pemeriksaan penunjang (Laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya)

Langkah II : Interpretasi Data Dasar 


Dengan melakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi
atas data-data yang telah dikumpulkan. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan
oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi Standar nomenklatur diagnosa
kebidanan.
Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan :
a. Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
b. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
c. Memiliki ciri khas kebidanan
d. Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
e. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
Langkah III: Mengidentifkasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Langkah ini berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Bidan dituntut
untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah  potensial
yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis
potensial tidak terjadi. Merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional atau logis.

Langkah IV: Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan


Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera untuk
Melakukan Konsultasi, Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan lain berdasarkan kondisi Klien.

Langkah V: Merencanakan Asuhan


Merencanakan Asuhan yang  menyeluruh semua keputusan yang dikembangkan dalam
asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan
teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.
Langkah VI: Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman.
Dalam situasi di mana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang
mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah
tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh
tersebut.  Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu
dan asuhan klien.

Langkah VII: Evaluasi.
Evaluasi ke efektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi : pemenuhan kebutuhan
akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi dalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang
benar efektif dalam pelaksanaannya.

Contoh Kasus di RS X:

Seorang Ibu Primigravida dibawa oleh suaminya ke igd Rumah sakit X untuk
bersalin, pasien tsb belum pernah melakukan anc di rs . mengatakan sudah cukup bulan.
Bidan melakukan inform consent dan anamnesa sebelum melakukan tindakan. Saat datang
pasien mengatakan lebih dari 24 jam mengalami mules dan ibu merasa keluar air air seperti
BAK dan saat ditanya oleh petugas rs pasien tersebut pasien pindahan dari daerah (imigan)
tidak memiliki ansuransi kesehatan apaun. Sebelumnya pasien hanya melakukan anc sekali di
kampunya.

keadaan ibu nya sudah mulai lemas dan kelelahan  karena sudah terlalu lama
merasakan mules dan tampak kesakitan. Saat diperiksa, ternyata pembukaan sudah lengkap
namun djj janin melemah 89x/menit, bidan pun segera melapor dr obgyn, dan dari dokter
obgyn pun pro SC. Bidan segera mempersiapkan ruang operasi untuk melakukan tindakan
SC Cyto. Saat disiapkan persiapan operasi suami pasien tidak setuju untuk SC. Lalu suami
pasien di berikan edukasi terus menerus oleh bidan jaga bahwa pasien tersebut tidak bisa
melahirkan normal dan segera harus dilakukan section secaria. Pasien pun awalnya menolak
dengan alesan inginya dr obgyn nya wanita. tetapi Setelah di lakukan edukasi ulang kembali,
dan akhirnya suaminya pun setuju dilakukan SC dan menandatangani surat izin operasi
(SIO).

menolong persalinan dengan SC. Ternyata terdapat 2 lilitan tali pusat. Bayi pun
terlahir tidak menagis kuat, keadaan kulit bayi membiru, tidak adanya reflek
iritabilitas/tornus otot lemah dan frekuensi denyut jantung 78x/menit. Langsung
dilakukannya resusitasi secara berkala pada bayi tsb. Namun nyawa bayi tidak tertolong
karena bayi mengalami asfixia berat dan hypoxia saat didalam kandungan. Suami dan
keluarganya pun tidak terima bahwa anaknya yg baru saja dilahirkan sudah tiada. Suami
pasien menggap ini kesalahan bidan rs.dan melaporkannya ke hukum.

Untuk  penyelesaian tindak pidana yang dilakukan oleh bidan yang telah masuk ke
pengadilan, semua tergantung kepada pertimbangan hakim yang menangani kasus tersebut
untuk menentukan apakah kasus yang ditanganinya termasuk kedalam malpraktek atau tidak.
Atau apakah si pelaku dapat dimintai pertanggung jawaban secara pidana atau tidak.
Dalam kasus ini, keluarga tidak bisa menuntut bidan/dokter karena sebelumnya
persalinan ditangani. Telah dilakukannya inform concent dan telah menjalankan pekerjaanya
sesuai prosedur. Bidan tidak melanggar kode etik karena langsung inisiatif memberikan
edukasi, melakukan infoem consent dan segera menyiapkan operasi sc untuk pasien tsb serta
melaporkannya ke dokter obgyn untuk kolaborasi. Namun keadaan bayi saat lahir mengalami
axfiksia berat diakibatkan lilitan talipusat dan lamanya pengambilan keputusan.
Maka penyelesaian atas hal tersebut dilakukan IBI sebagi paying pelindung untuk
melindungi teman sejawatnya karena telah melakukan pekerjaanya sesuai dengan SPO yg
telah ditetapkan. Sedangkan apabila seorang bidan tidak melakukan tindakan sesuai SPO dan
tidak melakukan inform concent . Maka IBI melalui MPA dan MPEB wajib melakukan
penilaian apakah bidan tersebut telah benar-benar melakukan kesalahan. Apabila menurut
penilaian MPA dan MPEB kesalahan atau kelalaian tersebut terjadi bukan karena kesalahan
atau kelalaian bidan, dan bidan tersebut telah melakukan tugasnya sesuai dengan standar
profesi, maka IBI melalui MPA wajib memberikan bantuan hukum kepada bidan tersebut
dalam menghadapi tuntutan atau gugatan di pengadilan.
2. Membuat Konsep Manajemen Pelayanan Kebidanan di tempat bekerja bagi yang bekerja dan
bagi yang belum bekerja dapat mengadopsi konsep manajemen di pelayanan lain

2. Langkah – langkah Manajemen Pelayanan Kebidanan dibagi 3 yaitu :


P1 ( Perencanaan )
P2 ( Pengorganisasian )
P3 (Penggerakan, Pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian)
1) P1 ( PERENCANAAN )
Perencanaan adalah proses untuk merumuskan masalah kegiatan, menentukan
kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan kegiatan yang paling
pokok dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
( landasan dasar ).
Contoh :
- Rencana Pelatighan untuk kader
- Jadwal Pelayanan ANC di Posyandu, Puskesmas
2) P2 ( PENGORGANISASIAN )
Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan menggolong-
golongkan, dan mengatur berbagai kegiatan, penetapan tugas-tugas dan wewenang
seseorang dan pendelegasian wewenang dalam rangka pencapaian tujuan layanan
kebidanan.
Inti dari pengorganisasian adalah merupakan alat untuk memadukan atau
sinkronisasi semua kegiatan yang berasfek personil, finansial, material dan tata cara
dalam rangka mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di tetapkan.
Contoh : P2 (Pelaksanaan )
- Puskesmas
- Puskesmas Pembantu
- Polindes dan Pembantu
- Balai Desa
3) P3 (Penggerakan dan Pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian )
Penggerakan dan Pelaksanaan adalah suatu usaha untuk menciptakan iklim kerja
sama di antara pelaksanaan program pelayanan kebidanan sehingga tujuan dapat tercapai
secara efektif dan efisien.

Fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana seseorang manajer pelayanan


kebidanan mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya yang ada untuk
mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di sepakati.
Contoh :
- Pencatatan dan pelaporan ( SP2TP )
- Supervisi
- Stratifikasi
- Survey

3. Perencanaan dalam Manajemen Pelayanan Kebidanan


Seorang Bidan haruslah berfikir logikatik, anallitis, sistematik,teruji secara empiris,
memenuhi sifat pengetahuan umum yaitu : objektif, umum dan memiliki metode ilmiah.
Penerapan di dalam Manajemen Pelayanan Kebidanan.
Unsur- unsur dalam perencanaan Pelayanan Kebidanan meliputi :
1. IN – PUT
Merujuk pada sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan aktifitas yang
meliputi :
 Man : Tenaga yang di manfaatkan.
Contoh : Staf atau Bidan yang kompeten
 Money : Anggaran yang di butuhkan atau dana untuk program
 Material : Bakauataumateri ( sarana dan prasarana ) yang dibutuhkan
 Metode : Cara yang di pergunakan dalam bekerja atau prosedur kerja
 Minute / Time : Jangka waktu pelaksanaan kegiatan program
 Market : Pasar dan pemasaran atau sarana program
2. PROSES
Memonitor tugas atau kegiatan yang dilaksanakan. Meliputi Manajemen Operasional
dan Manajemen asuhan.
 Perencanaan ( P1 )
 Pengorganisasian ( P2 )
 Penggerakan dan pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian ( P3 )

3. OUT – PUT
Cakupan Kegiatan Program :
 Jumlah kelompok masyarakat yang sudah menerima  layanan kebidanan   (memerator), di
bandingkan dengan jumlah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program
kebidanan. (Denominator)
 Pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan (Mulai dari KIE,
Asuhan Kebidanan, dsb). Contoh : Untuk BPS : Out – Putnya adalah
 Kesejahteraan ibu dan janin
 Kepuasan Pelanggan
 Kepuasan bidan sebagai provider

4. EFFECT
Perubahan pengetahuan, sikap, dan prilaku masyarakat yang diukur dengan peran serta
masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kebidanan yang ada di sekitarnya ( Posyandu,
BPS, Puskesmas dsb ) yang tersedia.

5. OUT – COME ( IMPACT )


Di pergunakan untuk menilai perubahan atau dampak ( impact ) suatu program,
perkembangan jangka panjang termasuk perubahan status kesehatan masyarakat.

3. Susunan dalam struktural organisasi IBI sebagai payung hukum profesi bidan

Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang kompetensinya memberikan


pelayanan kebidanan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Pelayanan
kebidanan diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga utamanya ibu dan anak.
Bidan dapat berpraktik di rumah sakit, puskesmas, klinik dan unit-unit pelayanan
kesehatan lainnya. Jika bidan hendak melakukan praktik, maka yang bersangkutan harus
memiliki kualifikasi agar mendapatkan lisensi untuk praktik. Pemerintah melalui Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1464 tahun 2010 mengatur tentang izin dan penyelenggaraan
praktik bidan.Untuk menyelenggarakan praktik mandiri, bidan wajib memiliki persyaratan
khusus antara lain pendidikan minimal Diploma III kebidanan, terdaftar melalui Surat Tanda
Register (STR), memiliki Surat Ijin Praktek Bidan (SIPB), mempunyai tempat praktik, yang
secara sah dan legal digunakan untuk menjalankan praktik kebidanan mandiri sesuai dengan
kewenangan dan kompetensi bidan. Praktik Bidan memiliki kewenangan yang meliputi
pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan pelayanan kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana.
Ketika bidan dalam melakukan upaya kesehatan tidak sesuai kewenangannya, maka
berisiko terjadi penyimpangan kewenangan. Risiko tersebut dapat berupa pelanggaran
terhadap hak pasien. Pelanggaran hak pasien akan berakibat terancamnya keselamatan
pasien, dimana tidak adanya perlindungan hukum bagi pasien. Oleh karena itu untuk
mencegah agar tidak terjadi pelanggaran tersebut maka bidan praktik mandiri perlu
ditingkatkan mutu pelayanannya.
Dalam hal peningkatan mutu ini tentu diperlukan pengawasan oleh berbagai pihak. Salah
satu pihak tersebut yang paling utama yaitu organisasi profesi bidan (Ikatan Bidan Indonesia)
sebagai pembuat standart profesi bidan dan standart layanan kebidanan professional.
Organisasi profesi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) berfungsi sebagai pengontrol bagi
anggotanya dan bertujuan menjaga, mengendalikan mutu pelayanan dan pengabdian profesi
bidan. IBI melakukan upaya dengan mempertahankan dan menjaga mutu profesionalisme
guna memberi perlindungan bagi masyarakat sebagai penerima jasa dan bidan sendiri sebagai
pemberi jasa pelayanan. Dalam rangka melindungi masyarakat terhadap pelayanan kebidanan
yang berkualitas, IBI melakukan penilaian kemampuan keilmuan dan ketrampilan
(kompetensi). Disamping itu IBI juga menilai kepatuhan setiap bidan terhadap kode etik
profesi dan kesanggupan melakukan praktik mandiri.
Bidan selaku profesi yang mengemban amanah akan kesehatan ibu dan anak, mempunyai
kedudukan yang bermutu professional dalam peningkatan pelayanan kesehatan. Namun
demikian peran dan fungsi organisasi profesi bidan belum mampu mengontrol yang baik
dalam praktik pelayanan kebidanan. Dalam praktiknya bidan praktik mandiri belum sesuai
dengan ketentuan yang berlaku, sehingga membutuhkan pengawasan oleh organisasi profesi
bidan (IBI) perlu dioptimalkan.

Susunan Sistem Organisasi IBI


Ikatan Bidan Indonesia memiliki visi Ikatan Bidan Indonesia mewujudkan Bidan profesional
berstandar Global. visi dijabarkan dalam misi meningkatkan kekuatan organisasi, meningkatkan
peran IBI dalam meningkatkan mutu pendidikan bidan, meningkatkan peran IBI dalam
meningkatkan mutu pelayanan, meningkatkan kesejahteraan anggota, mewujudkan kerja sama
dengan jejaring kerja.
Struktur organisasi IBI terdiri dari pengurus pusat IBI yang berada di Jakarta, Pengurus
Daerah berada di 33 Propinsi, Pengurus cabang di 495 kabupaten/kota, dan pengurus ranting di 2045
kecamatan/unit kerja. Untuk pembinaan individu anggota di mulai dari tingkat daerah (propinsi),
cabang hingga ranting dengan pembinaan langsung melalui pembentukan standar pelayanan bidan
mandiri (Bidan DELIMA), dan pembinaan tidak langsung misalnya dengan penulisan karya
ilmiah dalam majalah Bidan serta melakukan kegiatan ilmiah lainnya berupa seminar, lokakarya, dan
pelatihan-pelatihan. 

1. Pengembangan pendidikan dan pelatihan


Bidan melalui organisasi profesi mendukung pendirian Asossiasi Institusi Pedidikan
Kebidanan Indonesia menjaga mutu pendidikan, Pembentukan komite pendidikan ( Komite Uji
Kompetensi , komite Standar Profesi , Komite Standar Pendidikan dan Pelayanan).
Standarisasi Pendidikan Bidan, Akreditasi Pendidikan Bidan, berbagai pelatihan seperti
penanganan asfeksia dan metode kanguru, APN dan APK, kontrasepsi update, ABPK dll , Seminar
dan Lokakarya tentang KIA/ KB dan Kespro
2. Pengembangan pelayanan
a. Bidan Delima
Standarisasi pelayanan BPS. 15 propinsi, 196 kab/ kota,  jumlah bidan delima 8397,
jumlah fasilitator 1602 (dana dari USAID)
b. Pos Bakti Bidan
 Bidan beserta masyarakat yang ada di lingkungan bidan meningkatkan kesejahteraan ibu dan
anak. Tahun 2009: Jumlah proposal 159. Yang mendapatkan awards : MDGs 4 - 5 bidan
c. Pelayanan Tanggap Darurat, misalnya
 Relawan bidan 124 orang  
 Pelayanan KIA/ KB di camp pengungsi
 Pelayanan KIA/ KB relokasi pengungsi
 Pelatihan Kespro dan KKG untuk IBI dan Poltekes NAD (Dana dari Ford
Foundation)
3. Pengabdian masyarakat, mobilisasi masyarakat dan Pemberdayaan masyarakat
Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh bidan seperti melakukan Bulan Bakti IBI
HUT IBI Pelayanan gratis (BPS), Pelayanan KIA/KB (IBI,Dinkes & BKKBN),
pelayaman ibu asuh Pelayanan gratis untuk ibu tidak mampu di BPS (10 % dari jumlah pasien) dan
kakak asuh magang bidan-bidan yunior Program Mellenium Challenge corporation Indonesia/
Immunization program (MCCI/ IP) dengan kegiatan pelatihan imunisasi, mobilisasi
masyarakat, pelayanan imunisasi (lokasi : 7 propinsi, 67 kabupaten)
SUSUNAN PENGURUS PUSAT IKATAN BIDAN INDONESIA

PENGURUS HARIAN
  Ketua Umum  : Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes
  Sekretaris : Dr. Ade Jubaedah, SSiT, MM, MKM
Jenderal
  Ketua I : Nunik Endang Sunarsih, SST, SH, MSc
  Ketua II : Yetty Leoni Irawan, MSc
  Bendahara : Heru Herdiawati, SST, SH, MH
       
BIDANG-BIDANG
  Tata Usaha dan : Sri Setiyati
Rumah Tangga
  Humas : Ida Ayu Citarasmi, SSiT, MKM
  Advokasi dan : Laurensia Lawintono, MSc
Hub. Luar Negeri
       
  Organisasi : Sri Poerwaningsih, SST, SKM, M.Kes
  Hukum : Herlyssa, SST, MKM
  Penelitian dan : Dra. Maryanah, AmKeb, M.Kes 
Pengembangan
       
  Pendidikan : Dr. Indra Supradewi, MKM
  Pelatihan : Tuti Sukaeti, SPd, SST, M. Kes
  Pelayanan : Siti Romlah, MKM
       
  Administrasi : Sri Martini
Keuangan
  Fund Rising : Ratna Chairani, SST, M. Kes
       
Ketua Yayasan Buah : Asniah, SST, M. Kes
Delima
       
Majelis Pertimbangan : Nur Ainy Madjid, SKM
Organisasi 
      Tuminah Wiratnoko, SIP, MM
       
Majelis Pertimbangan : Aan Andanawaty, SST, MM. Kes
Etik Bidan
Tim Teknis Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia

Nama-nama Tim Teknis PPIBI

1. Grietje U. Masyitha, SST, SKM, M. Kes

2. Wasnidar, M. Kes

3. Sugiyati, SKM, MSi

4. Endang Sundari, SST

5. Fitriani, SST, MHKes

6. Bintang Petralina, SST, M. Keb

7. Erika Yulita, SST, M. Keb

8. Juli Oktalia, MA

9. Zulvi Wiyanti, SSiT, M.Kes

10. Mitra Kadarsih, M. Keb

11. Kusuma Dini, AmKeb, SKM, MKM

12. Herlina Mansur, MKM

13. Marlynda Happy NS, S.ST, MKM

4. Strategi Pembelajaran melalui Praktek Pelayanan Kebidanan baik dirumah sakit,


puskesmas dan bidan praktek mandiri.
1. Pemeriksaan Kehamilan
Pemeriksaan Kehamilan (Ante Natal Care) yang dibiayai oleh program pemerintah/BPJS
mengacu pada buku pedoman KIA, dimana selama hamil ibu hamil diperiksa sebanyak 4
kali disertai konseling KB dengan frekuensi :
 1 kali pada triwulan pertama
 1 kali pada triwulan kedua
 2 kali pada triwulan ketiga
Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi di atas pada tiap- tiap triwulan
tidak dibiayai oleh program ini. Penyediaan obat- obatan, reagensia dan bahan yang habis
pakai diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan, persalinan dan nifas dan KB pasca salin
serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru
lahir menjadi tanggung jawab Pemda atau Dinas Kesehatan Kab/Kota.
Pada Jaminan Persalinan (Jampersal) dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan
dirumah sakit antara lain :
a. Penatalaksanaan abortus imminen, abortus inkompletus dan missed abortion
b. Penatalaksanaan mola hidatidosa
c. Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum
d. Penanganan kehamilan Ektopik terganggu
e. Hipertensi dalam kehamilan, pre eklamsi dan eklamsia
f. Perdarahan pada masa kehamilan
g. Decompensatio cordis pada kehamilan
h. Pertumbuhan janin terhambat (PJT) : tinggi fundus tidak sesuai dengan usia
kehamilan.
i. Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa

2. Penatalaksanaan Persalinan
a. Persalinan per vaginam
1) Persalinan per vaginam normal
2) Persalinan per vaginam melalui induksi
3) Persalinan per vaginam dengan tindakan
4) Persalinan per vaginam dengan komplikasi
5) Persalinan per vaginam dengan kondisi bayi kembar
6) Persalinan per vaginam dengan induksi, dengan tindakan, dengan komplikasi
serta pada bayi kembar dilakukan di Puskesmas PONED dan/atau RS.
b. Persalinan per abdominam
1) Seksio sesarea elektif (terencana), atas indikasi medis
2) Seksio sesarea segera (emergensi), atas indikasi medis
3) Seksio sesarea dengan komplikasi (perdarahan, robekan jalan lahir, perlukaan
jaringan sekitar rahim, dan sesarean histerektomi)
4) Penatalaksanaan komplikasi persalinan
5) Perdarahan
6) Eklampsia
7) Retensio plasenta
8) Penyulit pada persalinan
9) Infeksi
10) Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu bersalin
c. Penatalaksanaan bayi baru lahir
1) Perawatan esensial neonatus atau bayi baru lahir
2) Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan komplikasi (asfiksia, BBLR, infeksi,
ikterus, kejang, RDS)
d. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan
1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari
2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 hari
3) Persalinan dengan penyulit post section-caesaria dirawat inap minimal 3hari

3. Pelayanan Nifas (Post Natal Care)


Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program ini ditujukan bagi
ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas, pelayanan bayi baru lahir,
dan pelayanan KB pasca salin. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu
nifas, bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin. Tata laksana asuhan PNC
merupakan pelayanan ibu dan bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA.
Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir dan kunjungan neo natal.
Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan 4 kali, masing-masing 1 kali
pada :
a. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 ( 6 jam s/d hari ke 2)
b. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke 3 s/d hari ke 7
c. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 ( hari ke 8 s/d hari ke 28)
d. Kunjungan keempat untuk Kf3 ( hari ke 29 s/d hari ke 42)
Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi nifas antara lain:
 Perdarahan
 Sepsis
 Asfiksia
 Ikterus
 BBLR
 Kejang
 Abses/infeksi diakibatkan oleh komplikasi pemasangan alat kontrasepsi
 Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu dan bayi baru lahir
sebagaikomplikasi persalinan.

4. Keluarga Berencana (KB)


a. Jenis pelayanan KB
 Kontrasepsi mantap ( Kontap)
 IUD, Implan
 Suntik
b. Tata laksana pelayanan KB dan ketersediaan alokon sebagai upaya untuk
pengendalian jumlah penduduk dan keterkaitannya dengan Jampersal, maka
pelayanan KB pada masa nifas perlu mendapatkan perhatian. Tata laksana
pelayanan KB mengacu pada Pedoman Pelayanan KB dan KIA dan diarahkan
pada Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) atau Kontrasepsi Mantap
(Kontap) sedangkan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi (alokon) KB ditempuh
dengan prosedur sebagai berikut :
1) Pelayanan KB di fasilitas kesehatan dasar :
 Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN terdiri dari IUD,
Implan dan suntik.
 Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat dan obat kontrasepsi yang
diperlukan untuk pelayanan KB di Puskesmas maupun dokter/bidan praktik
mandiri yang ikut program Jampersal. Selanjutnya daftar kebutuhan tersebut
dikirimkan ke SKPD yang mengelola program keluarga berencana di
Kabupaten/Kota setempat.
 Dokter dan bidan praktik mandiri yang ikut program Jampersal membuat
rencana kebutuhan alokon untuk pelayanan KB dan kemudian diajukan
permintaan ke Puskesmas yang ada di wilayahnya.
 Rumah sakit setelah mendapatkan alokon dari SKPD Kabupaten/Kota yang
mengelola program KB selanjutnya mendistribusikan alokon ke dokter
rumah sakit yang ikut program Jampersal sesuai usulannya.
 Besaran jasa pelayanan KB diklaimkan pada program Jampersal.
2) Pelayanan KB di fasilitas kesehatan lanjutan :
 Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN
 Rumah sakit yang melayani Jampersal membuat rencana kebutuhan alat dan
obat kontrasepsi yang diperlukan untuk pelayanan KB di rumah sakit
tersebut dan selanjutnya daftar kebutuhan tersebut dikirimkan ke SKPD yang
mengelola program KB di Kabupaten/Kota setempat.
 Jasa pelayanan KB di pelayanan kesehatan lanjutan menjadi bagian dari
penerimaan menurut tarif INA CBG’s.

5. Referensi
1. Asrul Azwar, 1996, Pengantar Admnistrasi Kesehatan, Binapura Aksara Jakarta
Djoko Wiyono, 2000, Management Mutu Pelayanan Kesehatan, Volume 1
Muninjaya Gde, 2002, Management Mutu Pelayanan Kesehatan
G.R. Terry, 1996, Management Personalia dan Sumber Daya Manusia
Kelly J,M. 1996, Total Quality Management
Sahutu, J, 2006, Pengambilan Keputusan Strategi untuk Organisasi Publik dan Organisasi Non
Profit, Grasindo, Indonesia, Jakarta
Herbert, G.H & Gulet GRA, 2006, Organisasi Teori dan Tingkah Laku