Anda di halaman 1dari 17

FILSAFAT ILMU: (FILSAFAT ILMU, KASIFIKASI ILMU, CIRI-

CIRI ILMU, DAN SISTEM KERJA KEILMUAN)

OLEH: M. Makbul
UIN Alauddin Makassar
makbulm013@gmail.com

Abstrak

Dalam tulisan ini dijelaskan mengenai pengertian filsafat ilmu, kasifikasi ilmu,

ciri-ciri ilmu, sistem kerja keilmuan. Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat

pengetahuan secara spesifik yang khusus mengkaji hakikat ilmu pengetahuan

ilmiah. Ilmu merupakan cabang dari pengetahuan, dimana filsafat ilmu ialah suatu

usaha akal manusia yang teratur dan taat mengenai asasnya untuk menuju

penemuan keterangan pengetahuan yang benar. Diharapakan dapat pembaca dapat

memhami perbedaan secara mendasar mengenai batasan bataan khusus ilmu

melalui sudut pandang filsafat ilmu

Pendahuluan

Manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi atas segala sesuatu, sehingga

secara alamiah manusia berpikir untuk mencari kebenaran. Dimana dengan

pemikiran itu maka terciptalah pengetahuan. Pengetahuan tidak hanya tercipta

dari suatu pemikiran manusia saja, pengetahuan juga ada yang berasal dari

pengalaman hidup manusia.

Manusia adalah ciptaan tuhan; makluk yang selalu berfikir, merasa,

mencipta, dan berkarya. Dalam kesehariannya manusia tumbuh dan berkembang

serta mengembangkan diri sesuai dengan harkat dan martabat serta keberadaannya

keadaan lingkungan yang bervariasi menuntut manusia lebih bijaksana, arif,

selektif, dan kreatif dalam menyikapinya.


Mencintai pengetahuan adalah awal proses manusia mau menggunakan

daya pikirnya, sehingga mampu membedakan mana yang riil dan mana yang ilusi.

Orang Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng dan mitos. Seiring dengan

perkembangan zaman, kemudian berubahlah pola pikir orang-orang terdahulu

menjadi pola pikir yang berdasar pada pengalaman, rasio dan dibuktikan

kebenarannya dengan penelitian.

Kemampuan manusia dalam menghadapi masalah yang muncul dan

terdapat pada dirinya sangat dipengaruhi pula oleh tingkatan kemampuan, ilmu

pengetahuan keterampilan dan kecakapan yang dimiliki untuk mempersepsikan

dan memaknai masalah, memformulasikan masalah, merumuskan alternatif

tindakan yang tepat . penalaran manusia yang tinggi dan pemanfaatan pendekatan

ilmiah dalam mencari kebenaran akan mendorong manusia mengatasi masalah

yang dihadapi. Kemampuan dan ilmu manusia baru dapat arti kalau mereka

mampu meneliti sesuatu, sehingga mengerti dan mampu mendsekripsikan sesuatu

dalam kontesks yang sebenarnya dan bertindak atas penalaran yang kuat untuk

mencari dan menemukan kebenaran. Serta memperkaya khazanah ilmu

pengetahuan dan teknologi.

Pengertian Filsafat Ilmu

1. Pengertian Filsafat

Filsafat dalam bahasa Inggris yaitu philosophy, istilah filsafat bersal dari

bahasa yunani: philosophia yang terdari dua kata yaitu, philos(cinta) dan shopia

yang berarti kearifan dan kebijaksanaan, cakupan pengertian sophia yang semula

itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan

meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual,

pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam


memutuskan soal-soal praktis jadi secara etimologi filsafat berarti cinta terhadap

kebijaksanaan atau kebenaran (Amsal Baktiar, 2012: 4).

Dalam buku falsafat ilmu yang ditulis Amsal Bakhtiar yang mengutip dari

kamus besar bahasa indonesia, filsafat berkaitan dengan pengetahuan,

penyelidikan dengan menggunakan akal budi mengenai hakikat segala sesuatu

yang ada, sebab, asal, dan hukumnya (Amsal Baktiar, 2012: 5).

Beberapa tokoh dalam sejarah filsafat juga memberikan definisi tersendiri

yang perlu kita ketahui agar dapat memahami akata filsafat ini dari berbagai sudut

pandang, diantaranya: Plato, mengatakan filsafat adalah penemuan kenyataan

atau kebenaran yang bersifat absolut, lewat dialektika. Kemudian al Farabi

menjelaskan bahwa filsafat ialah ilmu tentang alam yang maujud dan bertujuan

untuk mengetahui hakikat sebenarnya. Sedangkan Ibnu Rusd, yang menerangkan

bahwa filsafat merupakan pengetahun otonom yang yang perlu dikaji oleh

manusia karena diberikan anugerah akal. Alquran memerintakan kepada manusia

untu berfilsafat agar dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Kemudian secara rinci

Immanuel Kant menerangkan bahwa filsafat adalah ilmu dari segala pengetahuan,

yang mencakup didalamnya berbagai persoalan yang meliputi: Apa yang dapat

kita ketahui?, apa yang boleh kita kerjakan?, sampai dimana pengahrapan kita?

Apa yang dinamankan manusia (Amsal Baktiar, 2012: 4)?

Kemudian Susanto menyatakan bahwa menurut Istilah, filsafat adalah

ilmu pengetahuan yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul

dan berkenaan dengan segala sesuatu, baik yang sifatnya materi maupun immateri

secara sungguh-sungguh guna menemukan hakikat sesuatu yang sebenarnya,

mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara rasional-logis, mendalam

dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan

masalah-masalah dalam kehidupan manusia (Susanto, 2011: 48).


Dalam hal ini kami simpulkan bahwa bahwa filsafat adalah merupakan

sistem dalam berfikir secara logika dengan melibatkan segala aspek yang ada,

mulai dari hakikat sesuatu, cara mengetahui, dan nilai guna sesuatu tersebut.

Filsafat merupakan segala proses yang dikerahkan dengan menggunakan segala

hal yang bisa digunakan untuk memperoleh sesuatu.

2. Pengertian Ilmu

Ilmu berasal dari rasa kagum manusia akan alam yang dihadapinya.

Manusia dibekali hasrat ingin tahu, dan sifat ingin tahu tersebut telah dapat

ditemukan manusia sejak masih kanak kanak. Pertanyaan pertanyaan apa ini,

mengapa begini, kenapa bisa terjadi akan diemukan sepanjang sejarah manusia

dan dengan dorongan rasa inin tahu berupaya ingn menjawab setiap pertanyaan

pertanyaan tersebut (Sitti Mania, 2013).

Istilah ilmu berasal dari bahasa arab dan dipakai didalam alquran dengan

akar kata ain, lam, dan mim. Kata ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa

indonesia dengan arti pengetahuan. Dan kata ilmu itu sendiri diserap dan

dipergunakan pula dengan makna yang berbeda. Karena hubungan keduanya yang

sangat erat, maka kadang pelajar tidak membedakan maknanya. Suatu keadaan

yang tidak seharusnya tidak dialami oleh seorang mahasiswa atau peneliti.

Pengetahuan juga dirumuskan bahwa kekayaan batin yang dimikili seseorang

dalam kalbunya, atau dalam ungkan sederhana bahwa pengetahuan adalah segala

yang diketahui. (Abd. Muis Salim dkk, 2009: 45)

Secara lesikal, tahu bermakna: mengerti sesudah melihat, menyaksikan,

atau mengalami dsbg, kenal; mengindahkan atau peduli, mengerti; pandai, cakap;

insaf, atau sadar. Sedangkan ilmu diartikan: pengetahuan tentang sesuatu bidang

yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan
menerangkan gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Abd. Muis Salim dkk,

2009: 45).

Dalam kajian kefilsafatan ilmu mengandung tiga makna yaitu ilmu sebagai

produk, ilmu sebagai metode, dan ilmu sebagai proses. Sebagai produk

merupakan kumpulan pengetahuan atau informasi yang handal dan teruji

kebenarannya dan diperoleh melalui pemikiran yang logis dalam bentuk metode

ilmiah. Sebagai metode adalah serangkaian proses cara kerja dan langkah

sistematis untuk memperoleh pengetahuan yang teruji kebenarannya, metode ini

disebut ilmu. Sedangkan sebagai proses berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan

penelitian yang menghasilkan ilmu (Abd. Muis Salim dkk, 2009: 45).

Dari beberapa sumber tersebut penyusun menemukan titik terang bahwa

ilmu merupakan bagian dari pengetahuan, dimana ilmu tersebut merupakan

bagian dari pengetahuan dengan disiplin khusus dan mampu berdiri sendiri

dengan metodologinya sendiri yang telah tersusun secara sistematis.

3. Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat penegtahuan secara spesifik yang

mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah. Ilmu merupakan cabang dari

pengetahuan, dimana filsafat ilmu ialah suatu usaha akal manusia yang teratur dan

taat mengenai asasnya untuk menuju penemuan keterangan pengetahuan yang

benar. (Amsal Baktiar, 2012: 12)

Filsafat ilmu merupakan suatu pengetahuan, atau epstimolgi yang

mencoba menjelaskan rahasia alam semesta, agar gejala alamiah tersebut tidak

lagi menjadi misteri. nSecara umum pengelompokan pengetahuan menjadi tiga

yaitu; 1. Penegtahuan yang baik dan yang buruk, ataun disebut etika. 2.
Pengetahuan yang indah dan tidak indah atau estetika. 3. Penegtahuan yang benar

atau tidak benar atau logika (Susanto, 2011: 35)

Pada hakikatnya filsafat ilmu dapat ditelusuri dari empat hal sebagai

berikut:

1. Sumber ilmu pengetahuan dari mana?

Sumber ilmu pengetahuan mempertanyakan darimana ilmu pengetahuan

diperoleh. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan akal (ratio).

Akhirnya timbul paham atau aliran yang disebut empirisme dan rasonalisme.

Aliran empirisme yaitu paham yang menyusun teorinya berdasarkan pengalaman

yang tokoh tokoh diataranya David Hume dan Jhon Locke. Sedangkan aliran

rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan rasio. Tokoh tokoh liran ini seperti,

Spinoza, Rene Descartes. Aliran empirisme menggunakan metode induksi

sedangkan rasionalisme menggunakan metode dedukdsi. Sedangkan ada juga yng

mensitesakan deduksi dan induksi yaitu Immanuel Kant. (Imam Gunawan, 2016:

4).

2. Batas-batas Ilmu Pengetahuan

Menurut Kant apa yang kita tangkap dengan panca indera itu hanya

sebatas gejala fenomena, sedangkan substansi yangdidalamnya tidak sapat kta

tangkp dengan panca idra disebut neomenon. Apa yang dapat ditangkap dengan

panca idra memang penting namun tidak hanya sebatas sampai disitu saja. Sesuatu

yang dapat kita tangkap dengan panca indra adalah hal-hal yang berada didalam

ruang dan waktu dan sesuatu yang berada diluar ruang waktu diluar panca indra

kita. Itu terdiri dari tiga ide regulatif yakni: a. Ide kosmologis, yaitu tentang alam

semesta yang tidak dapat dijangkau dengan panca indra, b. Ide tentang jiwa
manusia, c. Ide Teologis yaitu tentang Tuhan sang pencipta alam semesta. (Imam

Gunawan, 2016: 4).

3. Strukturnya

Sesuatu yang ingin mengetahui adalah subjek yang memiliki kesadaran.

Sesuatu yang ingin kita ketahui adalah objek. Diantara dua hal tersebut seolah

olah terdapat garis demarkasi. Sebenarnya garis tersebut dijembatani oleh dengan

mengadakan dialektika (Imam Gunawan, 2016: 5).

4. Keabsahan

Berfikir adalah kreativitas manusia untuk menemukan kebenaran. Apa

yang disebut seseorang benar belum tentu benar bagi orang lain. Olehnya itu ada

beberapa teori untuk menentukan kriteria ukuran sebuah kebenaran. Dalam hal

ini, tiga teori untuk mengungkapkan kebenaran yaitu; teori korespondensi, teori

koherensi dan teori pragmatisme (Imam Gunawan, 2016: 5).

Dari bebagai penjelasan tersebut maka penyusun menyimpulkan bahwa

filsafat ilmu merupakan bahagian dari filsafat yang mengkaji secara mendalam

sitematika, prosedur, metodelogi untuk memformulasikan sistem yang benar

dalam meperoleh kebenaran ilmiah.

Klasifikasi Ilmu

Menurut objek ilmu terbagi menjadi tiga bagian yaitu ilmu alam. Ilmu

sosial, dan humaniora. Berikut penjabarannya:

1. Ilmu-ilmu Alam

Ilmu alam disebut juga dengan natural sciences adalah ilmu yang

mempelajari susunan benda dan perkembangannya, sumber ilmu ini adalah alam,

dimana manusia mendorong rasa ingin tahunya untuk menyingkap rahasia alam.
Agar dapat mempertanggung jawabkan kebenarannya maka ditetapkanlah

metodologi ilmiah yang menggabungkan cara berfikir deduktif dan induktif.

Dengan cara ini maka manusia dapat menyingkap rahasia alam semesta dan

melahirkan disiplin ilmu seperti; kimia, fisika, matematika, biologi, geologi

astronomi dll (Koko Abd. Kadir, 2014: 99).

2. Ilmu-ilmu Sosial

Ilmu sosial adalah ilmu penegetahuan yang mempelajari hubungan antar

manusia, antara manusia dengan kelompok manusia serta sifat dan perubahan

buah pemikiran sosial sehingga dapat memhami masyarakat umumnya (Koko

Abd. Kadir, 2014: 105-105).

3. Humaniora

Humaniora adalah ilmu kejiwaan yang dikurangi dengan ilmu-ilmu sosial,

ia mencakup bahasa, sastra, kebudayaan, filsafat, etika, hukum serta agama

(teologi) (Koko Abd. Kadir, 2014: 105-105).

Bagi penyusun pembagian ilmu tersebut merupakan bagian dari

mensistematiskan penyusunan bidang ilmu pengetahuan dimana disetiap

klasifiksi tersebut bidang ilmu didalamnya meiliki kemiripan dalam

metodologinya sehingga untuk memudahkan pengembangan maka

pengelompokan tersebut sangatlah mebantu.

Ciri-ciri Ilmu

Karena ilmu pengetahuan merupakan dibagun dengan metode untuk

mendapatkan hasil yang dapat dakui keabsahannya maka terdapat ciri-ciri ilmu

pengetahuan sebagai berikut:


1. Sistematis

Ilmu pegetahuan bersifat sistematis, artinya ilmu pengetahuan ilmiah

dalam upaya menjelaskan sesuatu teori . dengan kata lain teori dipergunakan

sebagai alat utuk menjelasakan gejala dari kehidupan sehari-hari, ciri sistematis

ilmu pengetahuan dapat digambarkan sebagai berikut:

Teori

Hukum

Hipotesa

Hasil Observasi (Konsep Ilmiah)

Presepsi sehari -hari

a. Presepsi sehari-hari

Berdasarkan prespsi sehari-hari terhadap fenomena yang disampaikan

dalam bahasa sehari-hari, kemudian diobservasi agar menghasilkan makna.

b. Observasi

Untuk menyusun konsep ilmiah maka dibutuhkan definisi. Dimana

definisi ini akan mempertegas objek yang yang akan diteliti

c. Hipotesis

Berawal dari konseo ilmiah yang merupakan pernyataan-pernyataan yang

mengandung informasi dan kedua penrnytaan tersebut digabung menjadi preposisi

dan preposisi tersebut diuji kebenarannya.


d. Hukum

Adalah hipotesis yang sudah diuji kebenarannya disebut dalil hukum,

e. Teori

Keseluruhn dalil atau hukum yang tidak bertentangan satusama lain dan

dapat menjelskan fenomena tersebut . (Imam Gunawan, 2016: 7-8).

Tahapan tersebut merupakan gamabran bahwa untuk menyusun prespesi

sampai kepada teori yang pada muaranya jika dikelompokan menjadi cabang ilmu

maka penyusun memaknai bahwa sistematika dalam penyusunan untuk menjadi

ilmu adalah hal yang sangat penting sehinga ilmu dapat dijelaskan karena

memiliki metode tertentu dan jelas tahapan penyusunannya.

2. Bisa Dipertanggungjawabkan

Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggung jawabkan memlalui tiga macam

sistem sebagai berikut:

a. Sistem Aksiomatis

Sistem ini berupaya untuk membuktikan kebenaran suatu fenomena atau

gejala sehari-hari mulai dari kaidah umum atau rumus umum menuju rumus

konkret.

b. Sistem Empirik

Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu gejala khusus menuju

ke umum.

c. Sistem Semantik/Linguistik
Sistem ini kebenarannya didapatkan dengan menyusun preposisi-preposisi

secara ketat, umumnya menggunakan metode ini adalah ilmu bahasa . (Imam

Gunawan, 2016: 9)

Penurut penyusun bahwa sifat dapat dipertangung jawabkan merupakan

sifat wajib ilmu, karena setiap tahapannya tersusun secara jelas dengan objek yang

jelas. Hal ini pada hakekatnya jelas dapat dilakukan sebagaiman telah dijelaskan

ditambah dengan tolak ukur ilmu pengetahuan telah disusun sesuai denga jenis

dan bidangnya maka hal ini membuat ilmu harus dapat dipertanggung jawabkan.

3. Objektif atau Intersubjektif

Ilmu pengetahuan bersifat mandiri atau 0lik orang banyak. Ilmu

pengetahuan bersifat otonom dan mandiri, bukan milik perorangan (subjektif)

tetapi antar subjek kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu pengetahuan harus

ditopang oleh komunitas ilmiah . (Imam Gunawan, 2016: 10).

Jujun S. Suriasumantri juga menjeaskan secara spesifik bahwa ilmu adalah

suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah

tersebut tidak lagi merupakan misteri. Untuk itu ilmu membatasi ruang jelajah

kegiatannya pada daerah pengalaman manusia. Artinya, obyek penelaahan

keilmuan meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia

melalui panca inderanya (Jujun S Sumntri, 21: 65-68) Adapun ciri-ciri ilmu yaitu:

1. Komprehensif; ruang lingkupnya luas dan lengkap.

2. Sinoptik; unsur-unsurnya memiliki kebersamaan yang integral.

3. Sistematik; teratur menurut sistem, ada korelasi.

4. Memiliki obyek kajian yang jelas.

5. Relatif; bersifat sementara dan terbuka terhadap penemuan baru, kreatif

dan pragmatis.
6. Kebenaran ilmiah tidaklah bersifat difinitif, suatu teori keilmuan yang

dipandang benar pada kurun waktu tertentu, mungkin saja salah dalam

kurun waktu yang lain.


7. Koheren; runtut, unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian

yang bertentangan satu sama lain.


8. Sistematis; masing-masing unsur saling berkaitan satu sama lain, ada

sistem dalam susunan pengetahuan dan dalam cara memperolehnya.


9. Konsepsional; jelas prosesnya.

10. Rasional; unsur-unsurnya berhubungan secara logis.

11. Intersubjektif, kepastian pengetahuan ilmiah tidaklah didasarkan atas

intuisi-intuisi serta pemahaman-pemahaman secara subjektif, melainkan

dijamin oleh sistemnya itu sendiri.


12. Bersifat empiris, berdasarkan pengalaman, penemuan, pengamatan,

percobaan yang telah dilakukan.


13. Kognitif; pernyataan yang terkait dengan keilmuan itu memang bersifat

mengandung hakikat kebenaran itu sendiri.


14. Mempunyai dasar pembenaran/postulat; cara kerja ilmiah diarahkan untuk

smemperoleh derajat kepastian yang sebesar mungkin.


15. Otonom; mempunyai kedudukan mandiri. Maksudnya, meskipun faktor-

faktor di luar ilmu juga ikut berpengaruh, tetapi harus diupayakan agar

tidak menghentikan pengembangan ilmu secara mandiri.


16. Memiliki hubungan fungsional dan hubungan kausal. Ilmu harus dapat

digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dan praktis.


17. Ilmu harus bersifat tampa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan

tanggung jawab ilmuan)


18. Objektif; setiap ilmu terpimpin oleh obyek dan tidak didistorsi oleh

prasangka-prasangka subjektif.
19. Progresif; suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh

bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem-

problem baru lagi.

20. Universal; berlaku umum (untuk semua orang atau untuk seluruh dunia).

Jawaban atas pertanyaan apakah sesutu hal itu layak atau tidak layak

tergantung pada faktor-faktor subjektif (Jujun S Sumntri, 2001: 68-70).

Dari ciri ciri sebagaimana yang dijabarkan oleh Jujun S Sumantri, kaidah

keilmuaan sangat syarat dengan metode ilmiah yang digunakan. Dimana metode

ilmiah, inilah yang menjadi kata kunci dalam ilmu. Metode yang ilmiah akan

menghasilakan pengetaahuan yang bersifat ilmiah yang kita fahami sebagai ilmu.

B. Sistem Kerja Keilmuan

Pengetahuan yang diperoleh dari pendekatan ilmiah melalui suatu

penelitian yang berdasarkan pada teori tertentu, terori tersebut berkembang

menjadi penelitian ilmiah yaitu penelitian sistematis yang terkontrol berdasarkan

data empiris. Dan jika dilakukan penelitian yang sama dengan kondisi yang sama

maka hasilnya sama dengan sebelumnya. Dan terbuka diuji oleh siapa saja yang

hendak mengujinya ( Idzam Fatanu, 2012: 106)

Dalam rangka mencapai kebenaran ilmiah dari suatu obyek materi

diperlukan pula sistem, yaitu hubungan secara fungsional dan konsisten antara

bagian-bagian yang terkandung dalam sesuatu sehingga merupakan suatu

kesatuan yang utuh. Hubungan yang demikian itu tidak lain adalah dalam rangka

mencapai satu tujuan, yaitu kebenaran ilmiah.


Dalam dunia ilmu pengetahuan, antara cara pandang, metode, dan sistem

adalah hal-hal yang sangat menentukan bagi tercapainya kebenaran ilmiah. Sistem

ini mempunyai daya kerja aktif yang menggerakkan dan mengarahkan langkah-

langkah yang telah ditentukan di dalam metode sedemikian rupa sehingga

kontinuitas dan konsistensi daya kerja metode itu mampu mencapai tujuan akhir

( Idzam Fatanu, 2012: 48).

Adapun pendekatan dalam metode ilmiah yang dapat mengantar pada

sistem kerja keilmuan yaitu terdiri atas dua yaitu pendekatan deduktif dan

pendekatan induktif. Deduktif yaitu dari peristiwa-peristiwa umum yang

diselidiki, didapatkan kesimpulan khusus. Sedangkan induktif yaitu dari

peristiwa-peristiwa khusus yang diselidiki, didapatkan kesimpulan umum. Metode

pendekatan deduktif-induktif ini juga lazim digunakan pada sistematika penulisan

karya ilmiah dalam menyusun kerangka berpikir yang lebih sistematis (Jujun S

Sumantri, 2001: 60-61).

Berdasarkan metode pendekatan itu pula maka tahapan dari sistem kerja

keilmuan itu antara lain:

1. Observasi, yaitu menghimpun fakta-fakta atau data dari obyek studi.

2. Klasifikasi data dan informasi.

3. Melakukan generalisasi empiris, yaitu membentuk defenisi dan pelukisan

umum serta melakukan analisa tentang fakta-fakta yang ditemukan.

4. Melakukan eksperimentasi (percobaan)

5. Hipotesis, yaitu pengembangan teori ilmu yang sifatnya sementara.

Hipotesa ini dilakukan dengan jalan menentukan sebab-sebab (dengan

menentukan hal-hal yang mendahului peristiwa), selanjutnya yaitu dengan

merumuskan hukum / teori sementara.

6. Verfikasi atau pengujian ulang terhadap hipotesis yang diajukan.


7. Menyimpulkan teori logis berdasar pada fakta dan data yang telah diuji.

Dengan bantuan metode penelitian keilmuan, ramalan tersebut diuji

dengan fakta empiris dan diolah dengan bantuan analisis statistik untuk

menghasilkan kesimpulan umum ( Idzam Fatanu, 2012: 74).

Pada hakikatnya sistem kelimuan adalah bagaimana formulasi dalam

menemukan mengorganisasi menyusun dan menghasilkan sesuatu yang bersifat

ilmiah atau ilmu. Teori teori yang disusun kemudian dikelompokkan sesuai

klasifikasinya akan menjadi cabang ilmu yang sifatnya selalu akan dikembangkan.

BAB V
PENUTUP

Maka dengna ini penyusun menyimoukan bahwa bahwa:

Filsafat ilmu merupakan suatu pengetahuan, atau epstimolgi yang

mencoba menjelaskan rahasia alam semesta, agar gejala alamiah tersebut tidak

lagi menjadi misteri. Menurut objek ilmu terbagi menjadi tiga bagian yaitu ilmu

alam. Ilmu sosial, dan humaniora. kaidah keilmuaan sangat syarat dengan metode

ilmiah yang digunakan. Dimana metode ilmiah, inilah yang menjadi kata kunci

dalam ilmu. Pada hakikatnya sistem kelimuan adalah bagaimana formulasi dalam

menemukan mengorganisasi menyusun dan menghasilkan sesuatu yang bersifat

ilmiah atau ilmu. Teori teori yang disusun kemudian dikelompokkan sesuai

klasifikasinya akan menjadi cabang ilmu yang sifatnya selalu akan dikembangkan

Bibilography

Baktiar, Amsal Filsafat Ilmu Cet XI, Jakarta; Rajawali Pers, 2012.

Fautanu, Idzam Filsafat Ilmu Teori dan Aplikasi Cet. I, Jakarta: Rerferensi 2012.

Furqan, Arif Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Cet. III, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar Offeset, 2007.

Gunawan Imam Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik Cet. IV, Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2016.

Mania, Sitti Metodologi Peneltian Pedidikan dan Sosial Cet. I,

Makassar:Alauddin Unversity Press. 2013.

Mui Salim. Abd. dkk. Metodologi Penelitian Tafsir Maudhu’iy Makassar:

Alauddin Pers, 2009.

Rachmat, Aceng Filsafat Ilmu Lanjutan Cet. I, Jakarta: Kencana 2011.


Suryani dan Hendryadi, Metode Riset Kuantitatif: Teori Dan Aplikasi Pada

Penelitian Bidang Managemen Ekonomi Islam Cet. I Jakarta:

Prenadamedia Grup, 2015.

Sukardi Metodologi Penelitian Pendidikan Cet. XIV, Jakarta: PT Bumi Aksara

2014.

Salam, Burhanuddin Logika Materil Filsafat Ilmu Pengetahuan Cet. I, Jakarta:

Rineka Cipta 1997.


Sumantri, Jujun S Ilmu dalam Perspektif (Xet. XV, Jakarta: Yayasan Obor

Indonesia, 2001.