Anda di halaman 1dari 41

REFERAT

NEUROFISIOLOGI PLEKSUS BRAKIALIS

Oleh :
Carolin Tiara Lestari Indah

Pembimbing :
dr. Ida Ayu Sri Wijayanti, M.Biomed, Sp.S

DEPARTEMEN/ KSM NEUROLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
RUMAH SAKIT UMUM PENDIDIKAN SANGLAH DENPASAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNyalah referat yang
berjudul “Neurofisiologi Pleksus Brakialis” ini dapat saya selesaikan. Referat ini disusun
untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pendidikan PPDS-1 di bagian Ilmu Neurologi
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. dr. I Made Oka Adnyana, Sp.S(K) selaku Kepala Departemen Ilmu Neurologi FK
UNUD/RSUP Sanglah.
2. Dr. dr A.A.A. Putri Laksmidewi, Sp.S (K) selaku Ketua Program Studi Ilmu
Neurologi FK UNUD/RSUP Sanglah.
3. dr. Ida Ayu Sri Wijayanti, M.Biomed, Sp.S selaku pembimbing.
4. Teman-teman PPDS-1 yang telah banyak membantu penulisan referat ini.
Penulis juga menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan
saran yang membangun sangat kami harapkan. Akhir kata, penulis berharap semoga karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Penulis

ii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 2
2.1 Susunan Saraf Tepi …………………………………………………………... 2
2.1.1 Susunan Saraf Tepi Motorik ………………………………………………….. 4
2.1.2 Susunan Saraf Tepi Sensoris…………………………………………………... 6
2.1.3 Fisiologi Saraf Tepi …………………………………………………................ 7
2.2 Pleksus Brakialis………………......................................................................... 10
2.2.1 Distribusi Saraf Utama dari Plexus Brakialis………………………………... 12
2.2.2 Nervus Lain dari Pleksus Brakialis…………………………………………… 30
BAB III KESIMPULAN……... ............................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………… 37

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Neuron dan sel glial ……………………………………… 3


Gambar 2.2 Jaringan ikat longgar (penghubung) yang membungkus ner-
vus spinal ……………………………………………………………… 4
Gambar 2.3 Susunan saraf tepi ………………………………………… 5
Gambar 2.4 Dermatom dan nervus kutaneus dari ekstremitas atas (kiri) …… 7
Gambar 2.5 Transmisi sinyal pada sinaps saraf ……………………... 8
Gambar 2.6 Perubahan aliran ion melalui kanal ion selama fase depola-
risasi dan repolarisasi potensial aksi ………...……………………….. 9
Gambar 2.7 Pleksus Brakialis ………………………………………... 11
Gambar 2.8 Cabang motorik dan sensorik dari N. musculocutaneus … 12
Gambar 2.9 Inervasi sensorik dari N. cutaneus lateralis ……………… 13
Gambar 2.10 Cabang motorik dan sensorik dari N. aksilaris ..………. 14
Gambar 2.11 Cabang motorik dan sensorik dari N. medianus ..……... 15
Gambar 2.12 Arteri dan Nervus yang menyuplai anggota gerak atas … 18
Gambar 2.13 Cabang motorik dan sensorik dari N. medianus ……….. 18
Gambar 2.14 Tendon flexor, arteri dan nervus pada pergelangan tangan 20
Gambar 2.15 Inervasi sensorik pada pergelangan tangan dan tangan ..... 21
Gambar 2.16 Cabang motorik dan sensorik dari N. radialis …………. 24
Gambar 2.17 N. radialis pada lengan dan persarafan pada daerah bahu
posterior ……………………………….………………………………. 24
Gambar 2.18 N. radialis pada lengan ………………………………… 25
Gambar 2.19 Perjalanan n. interossei posterior..……………………… 27
Gambar 2.20 Perjalanan n. radialis superfisialis...……………………… 28
Gambar 2.20 N. ulnaris ………………………………………………. 31
Gambar 2.21 Otot intrinsic tangan .…………………………………… 33

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Pleksus brakialis merupakan susunan serabut saraf somatis yang dibentuk dari
ramus ventralis nervus spinalis C5-T1 yang menginervasi anggota gerak atas.
Plexus brakialis ini akan berlanjut ke arah inferior dan lateral dari vertebrae
cervical 5-8 dan torakal 1 (KNI, 2018). Selanjutnya, melewati bagian atas
posterior dari costae 1 dan masuk ke area aksila (Tortora & Derrickson, 2014).
Pleksus brakialis kemudian bercabang menjadi beberapa cabang saraf terminal
yang tidak hanya menginervasi anggota gerak atas namun juga berperan dalam
fungsi sensorik dan motorik pada dinding thoraks bagian atas dan beberapa
struktur servikal (Kattan & Borschel, 2011).
Pleksus brakialis memiliki struktur anatomi yang kompleks dalam menyuplai
hampir keseluruhan pada bahu dan anggota gerak atas (Tortora & Derrickson,
2014). Terdapat beberapa kelainan atau lesi pada pleksus brakialis yang dapat
mengenai keseluruhan pleksus atau beberapa bagian khusus. Lesi ini dapat
disebabkan oleh suatu cedera terbuka atau tertutup (Leis & Schenk, 2013). Lesi
pada pleksus brakialis akan menyebabkan paralisis dan kelemahan otot-otot
ekstremitas atas yang dipersarafinya (Chusid & McDonald, 1964).
Neurofisiologi pleksus brakialis akan mempelajari tentang fungsi sistem saraf
tepi yang mempersarafi otot-otot gelang bahu dan ekstremitas atas. Pengetahuan
yang rinci tentang hal ini diperlukan dalam hal penegakan diagnosis pada pasien
dengan kasus lesi pada pleksus brakialis akan didasarkan pada pengetahuan
anatomi dan fisiologi sehingga klinisi dapat mengetahui hal yang ingin dicari
dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik seperti mencari tanda patognomonik pada
suatu penyakit tertentu (KNI, 2018). Oleh karena itu, klinisi perlu untuk
memahami secara menyeluruh tentang neurofisiologi pleksus brakialis sebagai
informasi penting dalam menilai dan merencanakan tatalaksana pasien dengan lesi
pada pleksus brakialis (Kattan & Borschel, 2011).

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Susunan Saraf Tepi


Susunan saraf tepi terdiri dari susunan saraf motoris dan saraf sensoris.
Susunan saraf ini dimulai dari neuron motoris dan neuron sensoris yang menuju
ke neuromuscular junction dan otot. Khusus untuk saraf kranialis, dimulai dari
initi saraf kranialis (III-XII) di batang otak (Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003).
Setiap nervus spinalis dan kranialis masing-masing mengandung akson yang
tidak terhitung banyaknya (Campbell, 2005; Fitzgerald, Gruener, & Mtui, 2012).
Akson merupakan bagian neuron yang menghantarkan impuls saraf menuju
neuron lain, serabut otot, atau sel kelenjar. Askon berbentuk silinder dan
memanjang yang menyatu dengan soma yang disebut axon hillock. Bagian akson
yang dekat dengan axon hillock disebut segmen inisial dan merupakan area
impuls saraf yang terlebih dahulu muncul (trigger zone). Akson mengandung
mitokondria, mikrotubulus dan neurofibril. Mikrotubulus berfungsi sebagai
penyokong pergerakan material diantara badan sel dan akson yakni untuk
transport akson antegrade dan retrograde. Neurofibril adalah bagian yang
mengandung sekelompok filamen intermediat yang menyusun rangka dan bentuk
neuron. Neurofibril dan mikrotubulus disebut dengan sitoskeleton yang disintesis
didalam badan sel dan bergerak secara lambat sekitar 3mm/hari. Akson tidak
mengandung retikulum endoplasmik kasar sehingga tidak terdapat sintesis protein
di akson. Sitoplasma akson disebut dengan aksoplasma dan dikelilingi oleh
membran plasma yang disebut aksolema. Akson memiliki percabangan
disepanjang perjalannya disebut akson kolateral. Akson dan kolateralnya berakhir
pada terminal akson atau akson telodendria (Tortora & Derrickson, 2014;
Campbell, 2005).
Akson terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu: besar bermyelin, kecil
bermyelin dan tidak bermyelin. Akson besar bermyelin memiliki diameter 6 um –
12 um, kecil bermyelin 2 - 6 um dan tidak bermyelin 0.2 – 2 um. Akson kecil
bermyelin memiliki serabut yang 3 kali lebih banyak dibandingkan akson besar

2
bermyelin. Selubung myelin akan menambah ketebalan akson. Kecepatan
hantaran ditentukan dari rasio diameter akson dengan diameter serabut saraf.
Konduksi akan lebih efektif pada rasio 0.5-0.7 (Campbell, 2005).

Gambar 2.1 Neuron dan sel glial (Mancall & Brock, 2011)

Secara mikroskopis, akson dari setiap nervus akan dilapisi oleh lapisan
jaringan ikat yang terdiri atas endoneurium, perineurium dan epineurium yang
bersifat proteksi (Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003; Tortora & Derrickson,
2014).
Lapisan tersebut masing-masing berfungsi (Poernomo, Basuki, & Widjaja,
2003):
a. Endoneurium, merupakan lapisan terdalam yang mengandung serabut
kolagen, fibroblast dan makrofag yang membungkus secara langsung masing-
masing akson (Tortora & Derrickson, 2014)
b. Perineurium, merupakan pembungkus fasikel saraf. Fasikel saraf adalah
kumpulan beberapa akson beserta endoneuriumnya. Perineurieum
mengandung lebih dari 15 lapisan fibroblast.
c. Epineurium, merupakan pembungkus beberapa fasikel dan pembuluh darah
yang ada diantaranya. Epineurium ini adalah jaringan ikat longgar yang

3
mengandung fibroblast, serabut kolagen tebal, pembuluh darah, pembuluh
limfe dan nervi nervorum. Epineurium kemudian melanjutkan diri menjadi
lapisan duramater di medula spinalis.
Ketiga lapisan saraf tersebut merupakan pelindung yang efektif dan dapat
menahan beban sampai dengan 20-10 kg. Titik pertemuan akar saraf spinalis
menuju medula spinalis merupakan tempat yang rawan terhadap trauma (terutama
lesi avulsi/tarikan), sebab pada titik tersebut hanya dapat menahan beban sebesar
2-3 kg (Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003).

Gambar 2.2 Jaringan ikat longgar (penghubung) yang membungkus nervus


spinal (Tortora & Derrickson, 2014)

2.1.1 Susunan Saraf Tepi Motorik


Susunan saraf tepi motorik dimulai dari motor neuron di kornu anterior
medula spinalis, radiks motorik di bagian ventral medulla spinalis, yang Bersama
dengan radiks posterior pada segmen yang sama keluar dari foramen
intervertebralis membentuk saraf spinalis. Beberapa saraf spinalis membentuk
pleksus, sebelum akhirnya terbagi lagi menjadi beberapa saraf perifer dan
akhirnya menuju masing-masing otot yang dilayaninya (Poernomo, Basuki, &
Widjaja, 2003).

4
4
Gambar 2.3 Susunan saraf tepi terdiri atas (1) kornu anterior, (2) akar saraf, (3)
saraf spinal, (4) pleksus, (5) saraf perifer, (6) neuromuscular-junction, dan (7)
serabut otot
(Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003)

Tabel 2.1 Otot ekstremitas atas sesuai dengan akar dan saraf yang
menginervasinya
(Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003)
C5 C6 C7 C8 T1
N. skapular dorsalis
M. Rhomboideus major/minor

N. supraskapularis
M. supraspinatus
M. infraspinatus

N. aksilaris
M. deltoid

N. muskulokutaneus
M. biceps brakii

N. medianus
M. pronator teres
M. fleksor karpi radialis
M. fleksor polisis longus
M. abduktor polisis brevis

N. ulnaris
M. fleksor karpi ulnaris
M. abduktor digiti minimi
M. first dorsak interossei

N. radialis
M. triseps brakii
M. brakioradialis
M. ekstensor indisis proprius

5
Satu saraf perifer dan satu saraf spinalis dapat melayani beberapa otot.
Sekelompok otot yang disarafi oleh satu motor neuron atau saraf spinalis yang
sama disebut miotom. Misalnya m. biseps brakii, m. deltoid dan m. pronator teres
dipersarafi oleh saraf tepi yang berbeda yaitu n. muskulokutaneus, n. aksilaris dan
n. medianus akan tetapi ketiga otot tersebut merupakan satu miotom oleh karena
dilayani oleh saraf spinalis yang sama yaitu C6 (Poernomo, Basuki, & Widjaja,
2003).
Demikian juga satu otot tertentu bisa dipersarsafi oleh saraf spinalis yang
berbeda. Misalnya m. triseps brakii dipersarafi oleh 3 saraf spinalis yaitu C6, C7
dan C8 dengan C7 yang dominan. Oleh sebab itu, lesi pada saraf spinalis (lesi
radikuler) akan menyebabkan kelemahan otot yang lebih ringan daripada lesi saraf
perifer. Akan tetapi, m. triseps brakii mendapatkan persarafan hanya dari n.
radialis sehingga lesi pada n. radialis menyebabkan kelemahan m. triseps brakii
yang jauh lebih berat dibandingkan lesi pada C7 (Poernomo, Basuki, & Widjaja,
2003).

2.1.2 Susunan Saraf Tepi Sensoris


Impuls sensorik yang diterima oleh reseptor dikulit akan dikirim ke pusat
melalui saraf perifer, pleksus, saraf spinalis, radiks posterior dan kemudian
membentuk ganglion dorsalis yang berada di foramen intervertebralis selanjutnya
menunju kedalam medulla spinalis untuk diteruskan ke otak. Susunan saraf tepi
sensoris adalah sepanjang jalur sensoris antara reseptor di kulit sampai dengan
ganglion dorsalis. Ganglion dorsalis adalah neuron saraf sensoris, yang letaknya
tidak didalam medulla spinalis seperti neuron motoris (Poernomo, Basuki, &
Widjaja, 2003).
Seluruh daerah sensoris yang dilayani oleh satu radiks sensoris disebut satu
dermatom. Seperti halnya miotom, beberapa saraf tepi sensoris mendapatkan
persarafan dari beberapa saraf spinalis, sehingga lesi saraf spinalis atau radiks
sensoris akan menyebabkan keluhan lebih ringan dari pada lesi saraf perifer
(Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003).

6
Gambar 2.4 Dermatom dan nervus kutaneus dari ekstremitas atas (kiri) (Mancall &
Brock, 2011)
2.1.3 Fisiologi Saraf Tepi
Jaringan saraf terdiri atas akson dan mielin yang membungkusnya. Mielin
tersebut merupakan phospholipid bilayer membrane. Muatan listrik di bagian
dalam membrane akson lebih negatif dibandingkan di luar sel. Konsentrasi ion
kalium intrasel lebih tinggi daripada ekstrasel sedangkan ion natrium lebih tinggi
di ekstraseluler dibandingkan intraseluler. Perbedaan gradiaen ion ini disebut
potensial membran atau potensial elektrik. (Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003).
Tabel 2.2 Konsentrasi ion didalam dan dilua sel saraf (nmol/L)
(Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003)
Ion Ekstraseluler Intraseluler
Na+ 150 15
K+ 5 150
Cl- 125 10
HCO3- 27 8
A- (protein) - 155

7
Potensial aksi merupakan perubahan potensial membran. Membran sel pada
keadaan istirahat memiliki potensial (resting membrane potensial) sebesar -70
mV. Membrane sel ini tidak permeabel terhadap ion Na+. Terdapat pompa Na-K
yang berfungsi memompa ion Na+ keluar sel dan membawa ion K+ kembali ke
dalam sel (Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003).

Gambar 2.5 Transmisi sinyal pada sinaps saraf (Poernomo, Basuki, & Widjaja,
2003)

Saat terjadi rangsangan listrik, ion Natrium masuk kedalam sel menimbulkan
potensial aksi (depolarisasi). Potensial aksi ini akan diteruskan ke sekitarnya,
diikuti oleh repolarisasi, dimana pompa Na-K akan menguras ion Na+ keluar sel
dan membawa masuk kembali ion K+ ke dalam sel. Setelah itu membrane sel
akan kembali ke keadaan istirahat (Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003).

8
Gambar 2.6 Perubahan aliran ion melalui kanal ion selama fase depolarisasi dan
repolarisasi potensial aksi (Tortora & Derrickson, 2014)

Potensial aksi disebarkan dengan peranan lapisan milein secara konduksi


saltatori. Makin besar serabut saraf, makin tebal lapisan mielin yang
membungkusnya, dan semakin cepat pula penghantaran potensialnya. Mielin pada
sistem saraf tepi dibentuk oleh sel Schwann yang tersusun secara konsentrik
diantaranya terdapat nodus ranvier. Potensial aksi dihantarkan dengan cara
melompat (saltatory). Pompa Na-K banyak terdapat di nodus tersebut. Serabut
saraf yang tebal memiliki jarak internodal yang lebih panjang yang akan
menghantarkan potensial lebih cepat dan mengurangi jumlah nodus yang
terdepolarisasi (Poernomo, Basuki, & Widjaja, 2003).

9
2.2 Pleksus Brakialis
Pleksus brakialis dibentuk oleh divisi primer anterior dari medula spinalis C5-
T1 (Chusid & McDonald, 1964). Setiap radiks dorsalis dan ventralis yang keluar
dari medula spinalis C5-T1 akan menyatu dan membentuk nervus spinalis.
Kemudian nervus spinalis ini bercabang dua menjadi ramus dorsalis dan ventralis.
Susunan serabut saraf yang berasal dari ramus ventralis ini kemudian membentuk
pleksus brakialis (KNI, 2018).
Pleksus brakialis tersusun dari lima radiks dan tiga trunkus, enam divisi, tiga
fasikulus/korda (lateral, posterior dan medial) serta lima cabang saraf terminal
utama yakni N. Muskulokutaneus, N. Radialis, N. Medianus. N. Aksilaris dan N.
Ulnaris (KNI, 2018).
Terdapat sejumlah nervus selain ke-5 nervus utama tersebut yang muncul dari
beberapa bagian dari pleksus brakialis (Chusid & McDonald, 1964):
a. Cabang dari radiks
• Berasal dari radiks C5 yaitu N. phrenicus dan N. dorsoskapularis yang
mempersarafi m. rhamboideus
• Berasal dari radiks C5-C7 yaitu N. Thorakalis longus yang mempersarafi
m. serratus anterior
• Berasal dari radiks C6-C8 untuk mempersarafi m. scalenus dan longus
colli
b. Cabang dari trunkus
• Berasal dari divisi anterior atau trunkus superior (C4-C6) keluar N.
supraskapularis yang mempersarafi m. infraspinatus dan supraspinatus
• Berasal dari trunkus superior (C5-C6) keluar n. subclavius yang
mempersarafi m. subclavius
c. Cabang dari korda
• Berasal dari korda medial (C8-T1) dan lateral (C5-C7) keluar N. pektoralis
lateral dan medial menyuplai inervasi motorik m. pektoralis mayor dan
minor
• Berasal dari korda posterior terdapat 3 n. subscapularis yaitu:

10
o N. subscapularis superior (atau brevis) (C5-C6) yang menuju ke m.
subscapularis
o N. subscapularis media (longus) atau n. thorakodorsalis (C7-C8)
yang menuju m. latissimus dorsi
o N. subscapularis inferior (C5-C6) yang menuju ke m. teres mayor
dan Sebagian dari m. subscapularis
• Berasal dari korda medial terdapat n. kutaneus medial lengan atas dan n.
kutaneus medial lengan bawah. N. kutaneus antebrachialis media yang
menyuplai inervasi permukaan medial dari lengan bawah dan n. kutaneus
antebrachialis media menuju permukaan medial lengan atas (Chusid &
McDonald, 1964).

Gambar 2.7 Pleksus Brakialis (Tortora & Derrickson, 2014) (Rubbin & Safdieh,
2017)

11
Pleksus brakialis dapat dibedakan menjadi beberapa trunkus, divisi dan korda
sesuai kedudukannya pada tulang klavikula.

Tabel 2.3 Pembagian pleksus brakialin berdasarkan lokasinya terhadap os klavikula


Supraklavikula Klavikula Infraklavikula
C5 Trunkus superior Divisi anterior Korda lateral
C6 Divisi posterior Korda posterior
C7 Trunkus medial Divisi anterior Korda lateral
Divisi posterior Korda posterior
C8 Trunkus inferior Divisi anterior Korda medialis
T1 Divisi posterior Korda posterior

2.2.1 Distribusi Saraf Utama dari Plexus Brakialis


a. Nervus Muskulokutaneus (C5-7)
Nervus ini dibentuk dari kelanjutan korda lateral pleksus brakials.
Selanjutnya akan menjadi nervus cutaneus lateralis dari lengan bawah
(Mancall & Brock, 2011).

Gambar 2.8 Cabang motorik dan sensorik dari N. musculocutaneus


(Mancall & Brock, 2011; Rubbin & Safdieh, 2017)

12
n.musculocutaneus 5,6
Radiks C5-7
Trunkus Pleksus Superior
Brakialis
Divisi Pleksus Anterior
Brakialis
Korda Pleksus Lateralis
Brakialis
Perjalanan dari ▪ Muncul dari korda lateralis pleksus brakialis
aksila ke tangan ▪ Menembus m.choracobrachialis
▪ Berjalan ke bawah ke are anterior lengan antara
m.biseps dan m.brakialis
▪ Menyilang kedepan siku lateral ke tendon biseps
▪ Berlanjut sebagai nervus kutaneus lateralis dari
lengan bawah
Otot yang ▪ M.biceps brachii – supinasi lengan bawah dan
diinervasi dan fleksi siku lengan
fungsi ▪ M.corachobrachialis – fleksi lengan atas
▪ M.brachialis – fleksi siku lengan
Cabang sensorik N. kutaneus lateralis yang
dan dermatome menginervasi kulit di
lengan bawah lateral dari
siku hingga pergelangan
tangan

Gambar 2.9 Inervasi


sensorik dari N. cutaneus
lateralis (Rubbin &
Safdieh, 2017)

Kelainan Dislokasi bahu

13
Latihan yang berat
Prosedur anestesi general
Neuritis brakialis (Parsonage-Tumor syndrome)
Catatan klinis Kelemahan biceps dengan kelemahan fleksi siku
lengan
Mati rasa disepanjang aspek radial lengan bawah
Diagnosis Rupture tendon biseps
banding Radikulopati C6

b. Nervus Aksilaris (C5, C6)


Nervus aksilaris akan berjalan ke arah posterior dari kolumna humerus
bersamaan dengan pembuluh darah humerus circumflexa (Mancall & Brock,
2011). Nervus ini mempersarafi:
o Otot :
▪ m. deltoideus
o serabut lateral: abduksi lengan pada pergelangan bahu
o serabut anterior: fleksi dan rotasi internal lengan atas
o serabut posterior: rotasi eksternal lengan atas
• m. teres minor: rotasi eksternal dan ekstensi lengan atas
▪ Kulit : area deltoid

Gambar 2.10 Cabang motorik dan sensorik dari N. aksilaris (Mancall & Brock,
2011)

14
c. Nervus Medianus (C5-8, T1)
Nervus medianus dibentuk oleh 2 komponen yaitu cabang lateral dan medial.
Cabang lateral n. medianus berasal dari korda lateral pleksus brakialis dan
cabang medial n. mediaunus berasal dari korda medial pleksus brakialis.
Kedua cabang ini akan bergabung menjadi satu trunkus yang melewati lengan
atas tanpa bercabang dan menuju ke regio elbow. Cabang nervus medianus
dimulai dari bagian lateral dari m.pronator (Campbell, 2005).
Nervus ini akan memasuki lengan bawah diantara dua kepala dari
m.pronator teres dan menjadi nervus interossesus anterior yang menyuplai
otot fleksor lengan bawah. Kemudian, nervus medianus sendiri akan
melewati dari dalam flexor retinaculum pada pergelangan tangan (Mancall &
Brock, 2011).

Gambar 2.11 Cabang motorik dan sensorik dari N. medianus (Mancall & Brock,
2011)

15
n.medianus (ke pergelangan tangan)
Radiks C5-T1
Trunkus Superior, media, inferior
Pleksus
Brakialis
Divisi Pleksus Divisi anterior dari trunkus superior, mediam inferior
Brakialis
Korda Pleksus Lateralis dan medialis
Brakialis
Perjalanan dari ▪ Bersatunya korda medialis dan lateralis dari pleksus
aksila ke brakialis
tangan ▪ Menuju ke dinding lateral aksila ke bagian medial lengan
atas
▪ Menyebrangi fossa antecubiti kearah medial menuju
tendon biceps dan arteri brakialis
▪ Melewati aponeurosis bicipitalis (Tempat penjepitan
saraf)
▪ Antara kepala dari m.pronator teres (Tempat penjepitan
saraf)
▪ Lewat dibawah m.flexor digitorum superfisialis (FDS)
▪ Masuk ke area tangan dibawah ligamentum carpi
(Tempat penjepitan saraf yang paling sering)
Otot yang ▪ Tidak ada yang diatas siku lengan
diinervasi dan ▪ Fleksor pada daerah lengan bawah:
fungsi o M. pronator teres ➔ pronasi/fleksi lengan bawah
o M. flexor carpi radialis (FCR) ➔ fleksi/abduksi tangan di
pergelangan tangan
o M. flexor digitorum superficialis (FDS) ➔fleksi falangs
medial 2-5
o M. palmaris longus ➔ fleksi tangan pada pergelangan

16
tangan
o M. flexor pollicis longus (FPL) ➔ fleksi phalanges distal
ibu jari
o M. flexor digitorum profundus (FDP) II dan III ➔ Fleksi
phalanges distal 2-3
o M. pronator quadratus ➔ pronasi lengan bawah
Note: Nervus interosseus anterior merupakan percabangan
dari n.medianus pada saat berada diantara 2 kepala
m.pronator teres. Nervus ini yang menyuplai FPL, FDP 2 dan
3 dan m. pronator quadratus.
Cabang Cabang kutaneus palmaris:
sensorik dan muncul diatas pergelangan tangan untuk menyuplai
dermatom eminensia thenar ➔ palmar dari ibu jari, jari telunjuk,
jari tengah dan setengah radialis dari jari manis (bagian
lateral tangan)
Cedera Dapat terjadi pada:
• Aksila – kompresi oleh dislokasi bahu anterior
• Lengan atas – sleep palsy, luka tusuk, tourniquet, fraktur
humerus
• Siku – cedera injeksi, dislokasi siku, cedera ligamentum
suprakondilus
• Pronator teres – menyebabkan sindroma pronator teres
ditandai dengan kelemahan otot yang diinervasi distal
dari pronator teres
• Neuropati interosseus anterior – fraktur radius, fibrous
band
• Carpal tunnel syndrome (dibawah pergelangan tangan)
Catatan klinis - Neuropati interosseus anterior menyebabkan tanda “O”
terkait ketidakmampuan untuk fleksi DIP pada jari
telunjuk (FDP 2) dan IP joint ibu jari (FPL)

17
- Neuropati medianus pada siku lengan menyebabkan
clumsy atau kelemahan jari 1-4
- Tinnel sign pada lesi terkait
- Gejala sensorik nervus medianus pada lesi setinggi atau
diatas pergelangan tangan

Gambar 2.12 Arteri dan Nervus


yang menyuplai anggota gerak
atas (Rubbin & Safdieh, 2017)

Gambar 2.13 Cabang motorik


dan sensorik dari N. medianus
(Rubbin & Safdieh, 2017)

18
N.medianus (ke tangan)
Radiks C5-T1
Trunkus Pleksus Superior, media, inferior
Brakialis
Divisi Pleksus Divisi anterior dari trunkus superior, medial, inferior
Brakialis
Korda Pleksus Lateralis dan medialis
Brakialis
Perjalanan di ▪ Masuk ke tangan melalui carpal tunnel
tangan ▪ Ke distal dari tunnel, nervus medianus terbagi
menjadi 2 cabang yaitu cabang terminal lateral dan
medial
▪ Cabang terminal lateral terbagi menjadi nervus
digitalis komunis untuk menyuplai ibu jari dan
lateral dari jari telunjuk melalui nervus digitalis
palmaris
▪ Cabang terminal medial terbagi menjadi nervus
digitalis komunis untuk menyuplai medial dari jari
telunjuk, jari 3 dan lateral jari 4 melalui nervus
digitalis palmaris
Otot yang Cabang menuju eminensia thenar:
diinervasi dan ▪ m. lumbricalis I dan II – Fleksi sendi
fungsi metacarpophalangeal (MCP), ekstensi sendi
interphalangs (IP)
▪ m. opponents pollicis – menarik metacarpal (MC)
ibu jari ke medial
▪ m. abductor pollicis brevis – abduksi ibu jari pada
sendi carpometacarpal dan metacarpophalangeal
(MCP)
▪ m. flexor pollicis brevis – Fleksi sendi MCP ibu jari

19
disingkat menjadi LOAF (Rubbin & Safdieh, 2017)
Cabang sensorik Cabang digitalis:
dan dermatome Permukaan palmar dari ibu jari, jari 2 dan 3, setengah
lateral dari jari 4 dan ujung dorsal dan palmar dari lateral
jari 3 dan setengah jari 4
Cedera Carpal tunnel syndrome
Catatan klinis - Parestesia dan nyeri, terutama saat malam hari
- Berkurang dengan mengibaskan tangan
- Gejala sering memberat dengan aktivitas tangan
- Tiga kali lebih sering terjadi pada wanita
- Tangan dominan biasanya terlebih dahulu terkena
- Sering bilateral
Diagnosis - Radikulopati C6 atau C7
banding - TOS

Gambar 2.14 Tendon flexor, arteri dan nervus pada pergelangan tangan
(Rubbin & Safdieh, 2017)

20
Gambar 2.15 Inervasi sensorik pada pergelangan tangan dan tangan (Rubbin
& Safdieh, 2017)

d. Nervus Radialis (C5-8, T1)


Merupakan kelanjutan dari korda posterior pleksus brakialis. Nervus ini akan
menyandar pada alur spiral humerus dan berjalan bersamaan dengan arteri
brachii profunda dam vena comitantes. Nervus ini akan memasuki bagian
posterior (ekstensor) kemudian masuk kembali bagian anterior lengan dengan
menembus septum intermuscular lateralis. Setinggi epikondilus lateralis,
n.radialis terbagi menjadi n.interosseus posterior yang melewati 2 kepala m.
supinator dan memasuki bagian ekstensor lengan bawah. N. radialis sendiri
akan berlanjut ke bagian anterior ke dalam m.brachioradialis (Mancall &
Brock, 2011).

n.radialis
Radiks C5-T1
Trunkus Pleksus Superior, medial, inferior

21
Brakialis
Divisi Pleksus Posterior dari ke-3 trunkus
Brakialis
Korda Pleksus Posterior
Brakialis
Perjalanan dari Humerus medial
aksila ke siku lengan Mengitari spiral groove ke arah lateral
Humerus lateral ke bawah insersi deltoid
Masuk ke area lengan bawah diantara m. biseps
dan m. brakioradialis
Terbagi menjadi n. interosseus posterior (motorik
profunda) dan n. sensorik radialis superfisialis
Otot yang diinervasi Diatas cabang siku lengan:
dan fungsinya ▪ M.triceps – ekstensi siku
▪ M.brachioradialis – fleksi lengan bawah di
art. Cubiti; pronasi dan supinasi lengan bawah
di articulation radioulnar dengan posisi netral
▪ M.extensor carpi radialis longus dan brevis –
ekstensi dan abduksi tangan pada pergelangan
tangan
Setinggi sendi siku, nervus radialis akan terbagi
menjadi cabang sensorik yang menyuplai inervasi
ke dorsum tangan dan lateral 3 dan ½ jari dan
cabang motorik (nervus interosseus posterior) ke:
▪ M.supinator – supinasi lengan bawah
▪ M.extensor digitorum 2-5 – ekstensi jari 2-5
▪ M.extensor digiti minimi – ekstensi jari
kelingking
▪ M.extensor carpi ulnaris – ekstensi dan aduksi
tangan pada pergelangan tangan

22
▪ M.abductor pollicis longus – abduksi ibu jari
pada sendi carpometacarpal (CMC)
▪ M.extensor pollicis longus – ekstensi
phalanges distal ibu jari
▪ M.extensor pollicis brevis – ekstensi sendi
metacarpophalangeal (MCP) ibu jari
▪ M.indicis – ekstensi jari telunjuk
Cabang sensorik ▪ n. cutaneus posterior dari lengan atas, muncul
pada groove spiral atas dan menyuplai daerah
posterior lengan atas
▪ n. cutaneus lateralis inferior, muncul pada
groove spiral inferior dan menyuplai daerah
lengan atas dibawah deltoid
▪ n. cutaneus posterior dari lengan bawah,
muncul pada groove spiral bawah dan
menyuplai daerah posterior lengan bawah
Kelainan ▪ Aksila – crutch palsy
▪ Lengan atas – fraktur humerus, tourniquet,
injeksi, muscular exertion
▪ Saturday night palsy
▪ Sindroma supinator – mempengaruhi nervus
interosseus posterior dan menyebabkan
fingerdrop
Catatan klinis ▪ Wristdrop jika lesi pada spiral groove
▪ Fingerdrop jika lesi pada nervus interosseus
posterior
Diagnosis banding ▪ Radikulopati C7
▪ Pleksopati brakialis korda posterior

23
Gambar 2.16 Cabang motorik dan sensorik dari N. radialis (Baehr & Frotscher,
2005)

Gambar 2.17 N. radialis pada


lengan dan persarafan pada
daerah bahu posterior (Rubbin &
Safdieh, 2017)

24
Gambar 2.18 N. radialis pada lengan (Rubbin & Safdieh, 2017)

n. interosseus posterior (Rubbin & Safdieh, 2017)


Radiks C6-C8
Trunkus Pleksus Superior, media, inferior
Brakialis
Divisi Pleksus Brakialis Posterior dari ke-3 trunkus
Korda Pleksus Brakialis Posterior
Perjalanan dari aksila ke Mengitari kolumn radius secara dorsolateral
siku lengan melewati m.supinator
Memasuki m.supinator melalui “arcade of
Frohse”
Berjalan antara kompartemen superfisialis dan
profunda m.supinator

25
Berjalan melewati m. ekstensor profunda dan
superfisial
Berakhir pada dorsum pergelangan tangan

Otot yang diinervasi dan ▪ M.supinator – supinasi lengan bawah


fungsinya ▪ M.extensor digitorum 2-5 – ekstensi jari 2-5
▪ M.extensor digiti minimi – ekstensi jari
kelingking
▪ M.extensor carpi ulnaris – ekstensi dan aduksi
tangan pada pergelangan tangan
▪ M.abductor pollicis longus – abduksi ibu jari
pada sendi carpometacarpal (CMC)
▪ M.extensor pollicis longus – ekstensi
phalanges distal ibu jari
▪ M.extensor pollicis brevis – ekstensi sendi
metacarpophalangeal (MCP) ibu jari
▪ M.indicis – ekstensi jari telunjuk
Cabang sensorik dan ▪ Tidak ada
dermatome
Kelainan ▪ Dislokasi atau fraktur os radius
▪ Massa jaringan lunak
▪ Laserasi lengan bawah
▪ Idiopatik
Catatan klinis ▪ Fingerdrop (bukan wristdrop)
▪ Sensorik normal
Diagnosis banding ▪ Ruptur tendon ekstensor ke ibu jari dan jari
tangan (seperti pada rheumatoid arthritis)
▪ Tennis elbow

26
Gambar 2.19 Perjalanan n. interosseus posterior (Rubbin & Safdieh, 2017)

n.radialis superfisialis
Radiks C6
Trunkus Pleksus Serabut saraf melalui trunkus superior menuju
Brakialis divisi posterior
Divisi Pleksus Posterior
Brakialis
Korda Pleksus Berasal dari nervus radialis, yang dating dari
Brakialis korda posterior
Perjalanan dari siku Melewati supinator
ke tangan Sepanjang radius lateral (di 1/3 distal lengan atas)
Melalui dorsolateral pergelangan tangan
Otot yang diinervasi Tidak ada
Cabang sensorik Cabang digitalis terminal
Dorsolateral manus dan jari 1-3
Kelainan Pergelangan tangan➔ kompresi karena handcuffs

27
atau tight cast
Catatan klinis ▪ Gangguan sensorik pada distribusi saraf
▪ Dapat terkait dengan kausalgia (
suatu sensasi nyeri menetap, biasanya rasa
terbakar pada ekstremitas akibat cedera saraf
tepi
Diagnosis banding ▪ Radikulopati C7
▪ Pleksopati brakialis korda posterior

Gambar 2.20 Perjalanan n. Radialis superfisialis (Rubbin & Safdieh, 2017)

28
e. Nervus Ulnaris (C7, C8, T1)
Nervus lanjutan dari korda medialis pleksus brakialis. Tidak terdapat
percabangan saraf pada lengan atas (Rubbin & Safdieh, 2017).
n.ulnaris (ke pergelangan tangan)
Radiks C8-T1
Trunkus Pleksus Inferior
Brakialis
Divisi Pleksus Anterior
Brakialis
Korda Pleksus medial
Brakialis
Perjalanan dari Korda medialis pleksus brakialis
aksila ke siku lengan Sisi lateral dari aksila
Lengan atas bagian medial
Dibelakang epikondilus medial os humerus
Dibawah aponeurosis m. fleksor carpi ulnaris
Menuju ke lengan bawah antara m. fleksor
digitorum profundus (posterior) dan m.fleksor
carpi ulnaris (anterior)
Masuk ke tangan melalui kanalis Guyon (antara
pisiformis dan kait hamate
Otot yang diinervasi Tidak ada cabang diatas siku lengan
dan fungsinya Dibawah siku terdapat 2 cabang:
▪ M.fleksor carpi ulnaris (FCU) – fleksi/aduksi
tangan pada pergelangan tangan
▪ M.fleksor digitorum profundus – fleksi sendi
distal interphalangeal (DIP) jari 4 dan 5
Cabang sensorik dan ▪ N. cutaneus palmaris (muncul pada
dermatome pertengahan lengan bawah, menyebrangi
pergelangan tangan, tidak melalui kanal

29
Guyon) – suplai palmar medial proksimal
dibawah pergelangan tangan
▪ N. dorsal cutaneus (muncul 5 cm diatas
pergelangan tangan, berjalan pada
pergelangan tangan ke arah dorsal) –
menyuplai dorsum manus area ulnar dan
dorsal jari 5 dan setengah medial
Kelainan ▪ Old elbow fracture – tardy ulnar palsy
▪ Trauma akut – fraktur, dislokasi siku lengan
▪ Tekanan eksternal pada siku lengan
▪ Massa siku jaringan lunak – ganglion, lipoma
dan kista epidermoid
Catatan klinis ▪ Gejala sensorik pada tangan yang diinervasi
n. ulnar
▪ Nyeri pada siku atau tangan yang diinervasi
oleh n. ulnaris atau difus pada lengan
▪ Clumsy atau kelemahan jari tangan
▪ Tinel sign positif
▪ Hilangnya sensorik tangan yang diinervasi
n.ulnaris
▪ Deformitas claw ulnar
Catatan anatomi ▪ Hanya 2 otot yang diinervasi n.ulnaris diatas
pergelangan tangan yaitu FCU dan FDP
▪ Semua otot yang diinervasi n.ulnaris
mendapat suplai dari radiks C8-T1

30
Gambar 2.21 N. ulnaris (Rubbin & Safdieh, 2017)
n.ulnaris (tangan)
Perjalanan di tangan Masuk ke tangan melalui kanal Guyon (antara
pisiformis dan kait hamate
Distal ke tunnel, untuk memberikan cabang ke palmaris
brevis
Kemudian terbagi menjadi cabang terminal superfisialis
dan profunda
• Cabang terminal superficialis (terutama sensorik)
menyuplai tepi distal ulnar dari telapak tangan dan

31
kemudian terbagi menjadi 2 nervus digitalis
palmaris yang menginervasi jari ke-5 dan ½ medial
jari ke 4
• Cabang terminal profunda (hanya motoric)
menyuplai m. opponens digiti minimi yang
melengkung kearah lateral ke tendon fleksor,
menyuplai otot hipotenar, interossei, lumbricalis 3
dan 4, dan berakhir di eminensia thenar, menyuplai
adductor pollicis dan kepala ulnar fleksor pollicis
brevis
Otot yang diinervasi dan ▪ M. opponens digiti minimi → rotasi metacarpal 5
fungsinya ▪ M. abduktor digiti minimi → abduksi jari ke-5 pada
art. metacarpophalangeal
▪ M.fleksor digiti minimi → fleksi jari ke-5 pada art.
Metacarpophalangeal
▪ M. dorsal interossei → abduksi jari 4 dan 5
▪ M. lumbrikalis 3 dan 4 → fleksi art.
Metacarpophalangeal dan ekstensi art.
Interphalangeal
▪ M. abduktor pollicis → abduksi ibu jari pada art.
Carpometacarpal dan art. Metacarpophalangeal
▪ Profunda (caput ulna) dari m. fleksor pollicis brevis
→ fleksi metacarpophalangeal ibu jari
Cabang sensorik dan Cabang terminalis superfisialis menyuplai tepi ulnar
dermatome palmar dan terbagi menjadi 3 cabang digitalis palmaris
yang menyuplai jari ke-5 dan ½ medial dari jari ke-4
Gangguan Kompresi kanalis Guyon
Kompresi pada cabang terminalis profunda distal ke m.
hypothenar
Catatan klinis Atrofi otot intrinsic yang diinervasi nervus ulnaris

32
(bervariasi tergantung lesi)
Kelemahan otot intrinsic yang diinervasi nervus ulnaris
Hilangnya sensorik pada distribusi ulnar
Diagnosis banding Neuropati ulnaris pada art. Cubiti
Amyotrophic lateral sclerosis
Radikulopati C8-T1

Gambar 2.22 Otot intrinsic tangan (Rubbin & Safdieh, 2017)

2.2.2 Nervus Lain dari Pleksus Brakialis

Nervus Radiks Otot yang diinervasi dan Dermatom


fungsi
n.frenikus C5 Otot diafragma Tidak ada
bergabung
dengan C3-4
dari pleksus

33
servikalis
n.dorsoskapularis Ramus M. Rhomboideus (elevasi tepi
ventral C5 medial os scapula dan
menariknya ke arah medial
n.thorakalis Langsung • m. serratus anterior Tidak ada
longus berasal dari
Ramus
ventral C5-7
Trunkus Superior
n.supraskapularis C5-6 • M.Supraspinatus Tidak ada
(Gambar 2.23) (abduksi bahu 15 derajat)
• M.Infraspinatus (rotasi
eksternal)
n.subklavius C5-6 • M.Subclavius (depresi Tidak ada
klavikula dan
mempertahankannya
selama pergerakan bahu)
Korda Lateral
n.pektoralis C5-7 • Bagian atas dari m. Tidak ada
lateral pektoralis mayor

Korda Posterior
n.thorakodorsalis C6-8 • M.latissimus dorsi Tidak ada
(Gambar 2.24)
n.subskapular C5-6 • M.Subscapularis Tidak ada
superior
n.subskapular C5-6 • M.Subscapularis Tidak ada
inferior • M.teres mayor
Korda Medial
n.pektoralis C8-T1 • Bagian bawah Tidak ada

34
medial m.pektoralis mayor
• M.pektoralis minor
n.kutaneus brakii C8-T1 Tidak ada Aspek medial
medial lengan atas
n.kutaneus C8-T1 Tidak ada Aspek medial
antebrakii medial lengan bawah

35
BAB III
KESIMPULAN

Pleksus brakialis merupakan susunan serabut saraf yang dimulai dari ramus
ventralis nervus spinalis C5-T1 (KNI, 2018). Pleksus brakialis sangat kompleks
karena memberikan hampir suplai saraf secara keseluruhan pada bahu dan
anggota gerak atas (Tortora & Derrickson, 2014).
Adanya gejala yang muncul terkait fungsi pergerakan otot yang dipersarafi
pleksus brakialis setelah menyingkirkan penyebabsupranuclear akan sangat
bervariasi. Sehingga, gejala yang muncul akan terkait erat dengan fisiologi
pleksus brakialis hingga otot yang dipersarafinya (Tortora & Derrickson, 2014).
Penegakan diagnosis melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik pada kasus
neuromuskular terkait mengikuti langkah-langkah pendekatan secara umum,
namun pemahaman fisiologi saraf tepi sangat penting sebagai dasar penetuan topis
lesi neuromuskular, sehingga penting untuk mengetahui struktur anatomi, dalam
kesempatan ini tentang pleksus brakialis dan struktur terkait (KNI, 2018).

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Baehr, M., & Frotscher, M. (2005). Chapter 2 Pheriperal components of the


somatosensory system and peripheral regulatory circuits. In Duus’s topical
diagnosis in neurology (pp. 21-25). New York: Thieme.
2. Campbell, W. (2005). Chapter 23 The motor unit level. In DeJong’s the
neurologic examination (pp. 371-384).
3. Chusid, J. G., & McDonald, J. J. (1964). Correlative neuroanatomy and
functional neurology. California: Lange Medival Publications.
4. Fitzgerald, M., Gruener, G., & Mtui, E. (2012). Chapter 9 Peripheral nerves.
In Clinical Neuroanatomy and Neuroscience Sixth edition (pp. 112-119).
New York: Elsevier.
5. Kattan, A., & Borschel, G. (2011). Anatomy of brachial plexus. Journal of
Pediatric Rehabilitation Medicine, 107-111.
6. KNI. (2018). Pemeriksaan Saraf Tepi dan Otot. In Pemeriksaan Klinis
Neurologi Praktis Khusus Edisi Pertama (pp. 102-163). Jakarta: Perdossi.
7. Krebs, C., Weinberg, J., & Akesson, E. (2012). Chapter 5 The spinal cord. In
Lippincott’s Illustrated Review of Neuroscience (p. 81). Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
8. Leis, A. A., & Schenk, M. P. (2013). Atlas of nerve conduction studies and
electromyography. New York: Oxford University Press.
9. Mancall, E., & Brock, D. (2011). Chapter 18 Brachial plexus. In Gray’s
clinical neuroanatomy The anatomic basis for clinical neuroscience (pp. 319-
345). Philadelphia: Elsevier.
10. Poernomo, H., Basuki, M., & Widjaja, D. (2003). Petunjuk praktis
elektrodiagnostik. Surabaya: Airlangga University Press.
11. Rubbin, M., & Safdieh, J. (2017). Chapter 17 Anatomy of the peripheral
nervous system: Upper extremity. In Netter’s concise neuroanatomy updated
edition (pp. 310-339). Philadelphia: Elsevier.
12. Snell, R. (2010). Clinical Neuroanatomy. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins .
13. Tortora, G., & Derrickson, B. (2014). The spinal cord and spinal nerves. In
Principles anatomy & physiology 14th edition (pp. 442-455). USA: Wiley.

37