Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kegiatan Posyandu merupakan salah satu upaya kesehatan bersumber

daya masyarakat yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelayanan

kesehatan dari masayarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat, yang

dilaksanakan oleh kader kesehatan yang telah mendapatkan pendidikan dan

pelatihan dari puskesmas mengenai pelayanan kesehatan dasar. Selain itu,

program Posyandu merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menurunkan

angka kematian bayi dan anak serta angka kelahiran. Dalam pelaksanaan

Posyandu banyak kader yang telah dilatih tidak aktif lagi atau “drop out” dengan

alasan karena sibuk urusan rumah tangga, pindah tempat, tidak mendapat upah

dan karena sudah menikah.

Pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak-anak sejak usia

dini merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan dasar yang

meliputi peningkatan derajat kesehatan dan gizi yang baik, lingkungan yang sehat

dan aman, pengembangan psikososial/emosi, kemampuan berbahasa dan

pengembangan kemampuan kognitif (daya fikir dan daya cipta) serta perlindungan

anak terhadap pengabaian. Penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak terlepas

dari kebijakan penyelenggaraan negara secara keseluruhan. yang dituangkan

dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang pada dasarnya

merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945 sebagai upaya untuk

mewujudkan cita-cita nasional yang bertumpu pada nilai demokratisasi dalam

mengatur pelaksanaan otonomi dan tugas pembantuan yang diarahkan untuk

mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan,

pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya

saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan,


keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan

Republik Indonesia.

Pengalaman selama ini membuktikan bahwa bila penyelenggaraan

Posyandu baik, maka upaya untuk pemenuhan kebutuhan dasar pengembangan

anak akan baik pula, seperti tercapainya cakupan imunisasi dan peningkatan

umur harapan hidup. Sebaliknya bila kinerja Posyandu tidak baik, seperti

memantau pertumbuhan anak, maka status gizi dan perkembangannya dapat

terganggu.

Sehubungan Dengan Hal Tersebut, Sebagai Pelaksana Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2014, Maka Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat

Dengan 16 Kecamatan, 165 Desa Dan 2378 Rw Berusaha Untuk Melaksanakan

Usaha-Usaha Pembangunan Demi Untuk Mewujudkan Masyarakat Yang

Sejahtera. Melalui Visi Kabupaten Bandung Barat “Akur” Yaitu, Bandung Barat

Yang Akur (Aspiratif, Kreatif, Unggul Dan Religius), Berbasis pada

Pengembangan Ekonomi, Optimalisasi Sumber Daya Alam Dan Kualitas Sumber

Daya Manusia. Visi Kabupaten Bandung Barat “Akur” Ini Dijabarkan Dalam 4

(Empat) Misi, Yaitu : (1). Meningkatkan Cakupan Dan Kualitas Layanan

Pendidikan, Kesehatan Dan Pelayanan Dasar Bagi Masyarakat Luas Lainnya

Dalam Rangka Membangun Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas. (2).

Mewujudkan Agro Industri dan Pariwisata sebagai sektor unggulan beserta sektor

dan Potensi Sumber Daya lainnya untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi

yang berkeadilan, berkelanjutan dan berdaya saing. (3) Meningkatkan Kualitas

dan kuantitas infrastruktur fisik, sosial dan ekonomi. (4) Mewujudkan tata kelola

pemerintahan yang baik berbasis pengembangan teknologi informasi dan inovasi.

Dalam mengimplementasikan visi dan misi tersebut maka Kabupaten

Bandung Barat berupaya mensinergikan antara sumber daya manusia dan

sumber daya material seperti sarana dan fasilitas dalam rangka efisiensi dan

efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih


memperhatikan aspek-aspek hubungan antar dinas/instansi di dalam

Pemerintahan Daerah Kabupaten Bandung Barat sendiri dan antar pemerintahan

daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan

global.

Pemerintah Desa dalam kewenangannya untuk mengatur dan mengurus

kepentingan warganya meliputi segala aspek penghidupan desa, baik dalam

bidang pelayanan masyarakat, pengaturan, maupun pemberdayaan masyarakat

khususnya pemberdayaan perempuan.

Pemberdayaan perempuan adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat non

instruktif, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan perempuan, agar

mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi, potensi yang dimiliki,

merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi

setempat.

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan bahwa

kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan

yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana

dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945.

Dalam rangka mewujudkan visi dan misi Kabupaten Bandung Barat Lima

Tahun ke depan perlu di dukung oleh seluruh masyarakat terutama dukungan

organisasi kemasyarakatan yang dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat

dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat; Salah satu organisasi

kemasyarakatan yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat untuk

memberikan layanan kesehatan dasar adalah Pos Pelayanan Terpadu

(Posyandu).

Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya

Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan

bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna


memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat

dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan

angka kematian ibu dan bayi. Meskipun posyandu bersumber daya masyarakat,

pemerintah tetap ikut andil terutama dalam hal penyediaan bantuan teknis dan

kebijakan.

Dengan terbitnya Permendagri Nomor 19 Tahun 2011 tentang

Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Posyandu, maka posyandu bukan lagi

hanya memberikan pelayanan kesehatan di masyarakat tetapi telah menjadi

posyandu multi fungsi terdiri dari :

1. Fungsi Kesehatan;

2. Fungsi Pendidikan;

3. Fungsi KB dan Kependudukan;

4. Fungsi Ekonomi;

5. Fungsi Perlindungan Anak dan Perempuan;

6. Fungsi Sosial;

Perkembangan Posyandu di Kabupaten Bandung Barat telah memperoleh

perkembangan yang luas dengan adanya prestasi baik di Tingkat Provisi maupun

Tingkat Nasional.

Hal tersebut terbukti dengan beberapa prestasi yang di raih baik di tingkat

provinsi maupun tingkat nasional diantaranya:

a. Tingkat Jawa Barat sebagai juara posyandu dan kader posyandu ke 1 dan ke

2 pada tahun 2009, 2010, 2012, 2014,2015 dan mendapatkan piagam khusus

dari gubernur jawa barat sebagai posyandu percontohan.

b. Tingkat nasional pada tahun 2010 sebagai juara posyandu tingkat madya ke 1

yaitu posyandu Kenanga XI Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong dan

pada tahun 2014 sebagai juara posyandu ke 3 tingkat utama yaitu Posyandu
Melati I Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang. Pada tahun 2015 sebagai

Juara Posyandu tingkat Madya ke 1 yaitu Posyandu Kuntum Mekar 18 Desa

Jayamekar Kecamatan Padalarang.

Program lain pendukung Posyandu seperti KB, BKB, BKR, BKL dan PIKR

remaja yang berintergrasi dengan kegiatan posyandu telah mampu memberikan

hasil yang baik terbukti dengan beberapa prestasi yang diraih di tingkat nasional

yaitu :

Tahun 2013

1. Meraih Kabupaten/Kota Sehat Kategori Swasti Saba Padapa;

2. Penghargaan Satyalancana Wira Karya untuk Bupati Bandung Barat dari

Presiden Republik Indonesia;

3. Juara Nasional BKB Tk. Nasional dalam rangka Hari Ibu;

4. Juara 1 Pengelola KB Pria Tingkat Provinsi;

5. Juara 3 Paguyuban KB Pria Tingkat Provinsi, Paguyuban Lapeta Desa

Girimukti Kecamatan Saguling;

6. Juara 3 Motivator KB Pria Tingkat Provinsi;

7. Juara 2 PIKR Tingkat Provinsi, PIKR Gesit Kec. Cililin;

8. Juara 1 Bina Keluarga Balita (BKB) Tingkat Provinsi;

9. Juara 2 Bina Keluarga Lansia (BKL) Tk. Provinsi;

10. Juara 1 P2WKSS (bidang Peran Serta Masyarakat);

11. Penghargaan atas Pelaksanaan Pencegahan dan Penanganan Korban

Perdagangan Orang dan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak;

12. Juara Harapan III Lomba Kreativitas Produk Perempuan Kepala Keluarga

Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2013;

13. Juara I Posyandu Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Barat ( Posyandu Melati 01

Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang;

14. Juara I Olimpiade Kader Posyandu Tingkat Provinsi Jawa Barat ( Ny. Marsiti

Desa Laksanamekar Kecamatan Padalarang );


Tahun 2014

1. Penghargaan Anugrah Parahita Eka Praya untuk Bupati Bandung Barat dari

Pemerintah Republik Indonesia yang disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan

Perempuan dan Perlindungan Anak;

2. Juara Harapan III Tingkat Nasional Pemilihan PIK Remaja/Mahasiswa

Unggulan TEGAR;

3. Penghargaan Kabupaten/Kota Sehat Kategori Swasti Saba Padapa (2

Tatanan Wajib) Provinsi Jawa Barat;

4. Juara III Posyandu Juara Utama Tingkat Nasional Tahun 2014;

5. Anugrah Revitalisasi Posyandu Bagi Bupati Bandung Barat;

6. Juara I Posyandu Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Barat ( Posyandu Quntum

Mekar Desa Jaya Mekar Kecamatan Padalarang );

7. Juara I Olimpiade Kader Posyandu Tingkat Provinsi Jawa Barat (Ny. SRI Desa

Tanimulya Kecamatan Ngamprah );

Tahun 2015

1. Penghargaan 99 Top Inovasi Pelayanan Publik melalui Kegiatan PIK Remaja

Formasi Kab. Bandung Barat Tingkat Nasional;

2. Juara III Tingkat Provinsi Lomba Kelompok BKB dalam rangka Hari Keluarga

Nasional (Harganas) di Bogor;

3. Lomba Kelompok UPPKS dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) di

Bogor a.n Kelompok UPPKS Kenanga;

4. Penghargaan dari Gubernur Jawa Barat kepada P2WKSS Desa Bojongsalam

Kecamatan Rongga;

5. Pos Daya Tingkat Nasional;

6. Juara II Tingkat Provinsi Lomba Kelompok KB Pria a.n Sauyunan;

7. Juara III Tk Provinsi Lomba Motivator KB Pria a.n Prio Sasongko;

8. Juara Harapan II Tk Provinsi Lomba Pengelola KB Pria a.n Ati Nuryati (TPD

Kec. Cililin);
9. Penghargaan Anugerah Revitalisasi Posyandu Tahun 2015 kepada Bupati

Bandung Barat dari Gubernur Jawa Barat;

10. Juara Posyandu Tingkat Provinsi Jawa Barat ( Posyandu Quntum Mekar Desa

Jaya Mekar Kecamatan Padalarang )

11. Juara Jambore SATPOL PP tingkat Provinsi;

12. Penghargaan Pakarti Madya I Posyandu Tingkat Nasional Tahun 2015.

Penghargaan kepada Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat sebagai

juara bertahan Lomba Posyandu Tingkat Provinsi Jawa Barat selama 4 tahun

berturut-turut.

Tahun 2016

1. Anugrah Parahita Ekapraya Dari Kategori Pratama Ke Utama Tingkat

Nasional;

2. Satya Lencana Peringatan HKSN Tingkat Nasional;

3. Lomba Promosi Dan Konseling Rumah Sakit Tipe D Oleh RSUD Cililin

Kabupaten Bandung Barat Juara III Tingkat Nasional;

4. Lomba P2WKSS Kategori Sarana Prasarana Pemberdayaan Perempuan Juara

I Tingkat Provinsi;

5. Juara II Posyandu Tingkat Provinsi;

6. Juara I Jabar Kategori Penyaji Seni Tari Terbaik I;

7. Juara II Jambore Ptk Paudni Berprestasi Tingkat Nasional Kategori LKP

Penyelenggara LT;

8. Motivator KB Pria a.n. Jalaludin Sayuti Kecamatan Cipongkor Juara I

(Regional) Tingkat Nasional;

9. Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) a.n Flamboyan Ketua Nani Yuningsih,

Kecamatan Lembang Juara I Tingkat Nasional;

10. Kelompok UPPKS a.n Kelompok Kenanga Ketua Yeyet Kurniawati Kecamatan

Cipongkor Juara I Tingkat Nasional;


11. Kelompok Pusat Informasi Dan Konseling (PIK Remaja) Pik-R Semut Tenjo

Laut Kecamatan Cikalong Wetan Kategori Pik Remaja Basis Masyarakat;

12. Kelompok Pusat Informasi Dan Konseling (PIK Remaja) Pik-R Sma Negeri I

Cilin Kecamatan Cililin Kategori Pik Remaja Basis Sekolah Juara II Tingkat

Provinsi;

13. Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) HI Flamboyan, Ketua Dewi A Kecamatan

Cihampelas Juara II Tingkat Provinsi;

14. Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) HI Flamboyan, Ketua Nani Yuningsih

Kecamatan Lembang Juara I Tingkat Provinsi;

15. UPPKS Kenanga Ketua Yeyet Kurniawati, Kec. Cipongkor Juara I Tingkat

Provinsi;

16. Petugas Pengelola KB Pria a.n. Encep Suryana Kec. Cipongkor Juara I Tingkat

Provinsi;

17. Tim Terbaik Ke 6 Jambore Forum Anak Daerah Jawa Barat Tingkat Provinsi;

18. Anugrah Revitalisasi Posyandu Award Tahun 2016 Bagi Bupati Bandung Barat;

19. Juara 2 Posyandu Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Barat (Posyandu Graha

Berseri Desa Cilame Kecamatan Ngamprah;

20. Juara Harapan 3 Olimpiade Kader Posyandu Tingkat Provinsi Jawa Barat ( Ny.

Ayi Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang)

Tahun 2017

1. Meraih Kabupaten/kota Sehat yaitu SWASTI SABA WISTARA dari

KEMENKES, sebagai penghargaan tertinggi dalam bidang kesehatan yang

meliputi : kehidupan masyarakat sehat yang mandiri, kawasan pemukiman

sarana dan prasarana umum, kawasan pariwisata sehat, kawasan sarana

lalulintas yang tertib dan pelayanan transportasi, ketahanan pangan dan gizi;

2. Juara III Dokter Cilik Tingkat Nasional 2017 (DISDIK);

3. Tim Terbaik JAMBORE Forum Anak Tingkat Prov. Jawa Barat, SMAN 1

Lembang;
4. Motivator KB Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2017;

5. Juara I PUSKESMAS Berprestasi Tingkat Kabupaten Bandung Barat Tahun

2017, Kepala PUSKESMAS Batujajar;

6. Juara II PUSKESMAS Berprestasi Tingkat Kabupaten Bandung Barat Tahun

2017, Kepala PUSKESMAS Jayagiri;

7. Juara III PUSKESMAS Berprestasi Tingkat Kabupaten Bandung Barat Tahun

2017, Kepala PUSKESMAS Cicangkang Girang;

8. Anugrah Revitalisasi Posyandu Award Tahun 2017 Bagi Bupati Bandung Barat;

9. Juara 1 Posyandu Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Barat (Posyandu Mutiara 5

Desa Lembang Kecamatan Lembang;

10. Juara Terbaik 1 Olimpiade Kader Posyandu Tingkat Provinsi Jawa Barat (Ny.

Mariam (Posyandu Mutiara 5 Desa Lembang Kecamatan Lembang).

11. Selain prestasi yang diraih juga Kinerja Pengembangan Posyandu di

Kabupaten Bandung Barat terus mengalami peningkatan baik dari input,

proses maupun input diantaranya:

a. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat terdiri dari :

1. Penyusunan Dasar Kebijakan melalui Penyusunan Peraturana Daerah,

Peraturan Bupati, Keputusan Bupati, Surat Edaran, Buku Pedoman

Pembinaan, Buku Profl Pengembangan Posyandu, Leaflet dll;

2. Kebijakan Bantuan anggaran berupa bantuan operasional untuk Pokjanal

Posyandu Kabupaten, Pokjanal Posyandu Kecamatan, Pokja Posyandu dan

bantuan operasional untuk Posyandu sebesar Rp 600.000 s/d Rp.750.000

dari tahun 2012 s/d 2015 dan bantuan untuk bangunan Posyandu sebesar

Rp 40.000.000/posyandu. Tahun 2016-2018 posyandu mendapatkan

bantuan revitalisasi posyandu sebesar Rp.1.000.000,00/Posyandu.

3. Kebijakan Program melalui : Revitalisasi Posyandu menuju terwujudnya

posyandu multi fungsi.


b. Penyusunan Dokumen Perencanaan dalam bentuk Rencana Strategi (Renstra)

Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat Tahun 2018 s/d 2023 dan

Pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pokjanal Posyandu yang

dilaksanakan tiap tahun di tingkat Kabupaten Bandung Barat;

c. Penguatan Kelembagaan Pokjanal Posyandu Kabupaten dan Sekretariat

Pokjanal Posyandu Kabupaten yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati, 16

Pokjanal Posyandu Kecamatan yang ditetapkan dengan Keputusan Camat,

165 Pokja Posyandu Desa yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa

dan dilaksanakan Pengukuhan Kelembagaan Pokjanal Posyandu Kabupaten

dan Pokjanal Posyandu dan direncanakan pada tahun 2016 akan dilaksanakan

pengukuhan Pokja Posyandu Desa;.

d. Peningkatan SDM Pengelola Pokjanal, Pokja dan Posyandu melalui TOT,

Pelatihan dan Jumpa Gembira (Jumbara) Kader Posyandu, Bimbingan Teknis

Lembaga Kemasyarakat Desa (Posyandu, RT/RW, LPMD dan Kader PKK);

e. Peningkatan Sarana dan Prasarana : Fasilitas sekretariat Pokjanal, Pokja dan

Posyandu berupa Sarana Posyandu, bangunan posyandu;

f. Pengembangan Program Posyandu : Posyandu Model Percontohan dengan

sasaran 3 posyandu model per kecamatan per tahun, dan 1 Posyandu Model

per Desa pertahun sehingga diharapkan sasaran Posyandu Mandiri 100 %

pada tahun 2015 bisa tercapai di Kabupaten Bandung Barat;

g. Peningkatan Sistem Inforamsi Posyandu (SIP) On Line website “

pokjanalposyandu.bandungbaratkab.go.id, SMS BroadCast , Wa Grup

Pokjanal Posyandu KBB, Wa Grup Pokjanal Posyandu Kecamatan pada

masing-masing Kecamatan, Wa grup Pokja Posyandu Desa pada masing-

masing Desa tujuannya untuk meningkatkan koordinasi dan informasi dari


Pokjanal Posyandu Kabupaten ke Kecamatan, ke desa dan sampai ke

posyandu dan sebaliknya secara cepat, tepat dan akurat;

h. Pengembangan Kemitraan dengan beberapa perusahaan/swasta dan

organisasi/lembaga pendukung diantaranya:

 Kerjasama Perusahaan : BJB, BRI, Indonesia Power UP Saguling, BPWC

Cipeundeuy

 Kerjasama dengan Organisasi/Lembaga : Forum KBB Sehat, PMI, BNK,

KPAIDS, HIMPAUDI, Asosiasi Kelompok UPPKS,Kelompok PIK Remaja,

Koperasi Pengelolaan Sampah Bangkit Bersama, APDESI, Forum

Kesiaap Siagaan Dini Bencana Masyarakat (FKDM), FK PSM, P2TP2A,

Forum Gerakan Membaca dll. :

Setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip

nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan

sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing

bangsa bagi pembangunan nasional;

Jika di lihat dari BAB 4 dari Pemendagri Nomor 54 Tahun 2007 mengenai

tugas dan fungsi pokjanal posyandu yang tertuang dalam pasal 7 bahwa pokjanal

posyandu Kabupaten / Kota sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1

mempunyai tugas sebagai berikut :

a. Menyiapkan data dan informasi dalam skala Kabupaten / Kota tentang

keadaan maupun perkembangan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan

pengelolaan program Posyandu;

b. Menyampaikan berbagai data, informasi dan masalah kepada

instansi/lembaga terkait untuk penyelesaian tindak lanjut;

c. Menganalisa masalah dan kebutuhan intervensi program berdasarkan pilihan

alternatif pemecahan masalah sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal;


d. Menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumber-

sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan Posyandu;

e. Melakukan bimbingan, pembinaan, fasilitasi, advokasi, pemantauan, dan

evaluasi pengelolaan program/kegiatan Posyandu secara rutin dan terjadwal;

f. Memfasilitasi penggerakan dan pengembangan partisipasi, gotong royong,

dan swadaya masyarakat dalam mengembangkan Posyandu;

g. Mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan;

h. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan kepada Bupati/Walikota dan Ketua

Pokjanal Posyandu provinsi.

Salah satu sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pelayanan

masyarakat dalam bidang pemberdayaan perempuan terutama tentang kesehatan

masyarakat di desa diantaranya sarana yang berbentuk Pos Pelayanan Terpadu

(POSYANDU) di tiap-tiap RW yang bertujuan untuk memberikan kelancaran

dalam upaya meningkatkan peran serta keluarga dalam pembinaan Kesehatan

Ibu dan tumbuh kembang anak. Maka untuk itu di Desa se–willayah Kabupaten

Bandung Barat telah terbentuk Posyandu di tiap RW.

Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya pemberdayaan masyarakat

bidang kesehatan dasar, pendidikan dan ekonomi yang dikelola dan

diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam

penyelenggaraan pembangunan kesehatan, pendidikan dan ekonomi guna

memberdayakan masyarakat yang memberikan kemudahan kepada masyarakat

dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, pendidikan dan ekonomi untuk

mendukung kelangsungan Hidup Perkembangan dan Perlindungan Ibu dan Anak.

Sesuai dengan paradigma posyandu yang semula hanya melayani

pelayanan posyanu dasar berubah fungsi menjadi posyandu integrasi.

Pelayanan kesehatan dasar, pendidikan dan ekonomi adalah pelayanan

kesehatan yang mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi, yang

sekurang-kurangnya mencakup 5 (lima) kegiatan, yakni, KIA, KB, Imunisasi, gizi


dan penanggulangan diare dan kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bna

Keluarga Balita (BKB-KEMAS), Demam Berdarah Dengue (DBD), Usaha

Peningkatan Gizi Keluarga (UPGK), Penghapusan kekerasan Dalam Rumah

Tangga (PKDRT), Usaha Peningatan dan Pendapatan Keluarga (UP2K) dll.

1.2 Dasar Hukum


a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah

dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015.

b. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

c. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

d. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten

Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2007 Nomor 14, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4688);

e. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pedoman

Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pembinaan Pos Pelayanan

Terpadu.

f. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 19 Tahun 2011 tentang pedoman

pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Pos Pelayanan Terpadu.

g. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Pedoman

Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun

2011 Nomor 450) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam

Negeri Nomor 39 Tahu 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam

Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan

Bantuan Sosial Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 540).


h. Peraturan Bupati Bandung Barat Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pengelolaan

Belanja Hibah da Belanja Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah (Berita Daerah Kabupaten Bandung Barat

Tahun 2015 Nomor 32 Seri E).

i. Keputusan Bupati Bandung Barat Nomor : 188.45 / Kep. 105 - DPMD/2018

tanggal 11 Januari 2018, tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional

Pembinaan Pos Pelayanan Terpadu dan Sekretariat Kelompok Kerja

Operasional Pembinaan Pos Pelayanan Terpadu Kabupaten Bandung Barat

tahun 2018.

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN

1.3.1 Maksud

Maksud dari Proposal ini adalah dalam rangka mengajukan

permohonan anggaran Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat agar

meningkatknya koordinasi didalam melaksanakan kegiatan Pokjanal

Posyandu Kabupaten Bandung Barat untuk melakukan pembinaan secara

berkala dan berkesinambungan kepada semua Posyandu di tingkat RW

melalui pembinaan yang dilakukan kepada Pokjanal tingkat kecamatan

diseluruh wilayah Kabupaten Bandung Barat.

1.3.2 Tujuan

Sedangkan tujuannya yaitu sebagai masukan/ kajian bagi Pemerintah

Kabupaten Bandung Barat, serta Tim Penggerak PKK Kabupaten Bandung

Barat, untuk pembinaan dan bimbingan selanjutnya, kedepan pola seperti

apa yang layak akan dilaksanakan untuk melakukan pembinaan posyandu

jangka panjang dengan mengedepankan aspek kualitas pelayanan kepada

masyarakat disegala aspek pelayanan posyandu.


BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1 VISI DAN MISI KBB

VISI KABUPATEN BANDUNG BARAT “AKUR”

“Menuju Kabupaten Bandung Barat yang Aspiratif, Kreatif, Unggul, dan

Rasional (AKUR)”

“AKUR” adalah Grand Goals (tujuan Utama) yang ingin dicapai oleh Aa Umbara

dan Hengky Kurniawan, suatu kondisi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten

Bandung Barat yaitu:

“A” = Aspiratif, Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bandung Barat secara

bersama-sama menjalankan tata kelola pemerintahan dan pembangunan yang

terbuka, transparan, baik, bersih, berkomitmen pada kepentingan dan kebutuhan

masyarakatnya untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran.

“K” = Kreatif. Makna kreatif mengandung arti bahwa masyarakat KBB mampu

menciptakan karya yang bermanfaat dengan ditunjang oleh derajat pendidikan

dan tingkat perekonomian masyarakat.

“U” = Unggul, mengandung makna adanya lonjakan prestasi KBB melalui

inovasi dan kreativitas dalam meningkatkan kinerja pembangunan dan

kesejahteraan masyarakat, untuk mewujudkan: 1) Pertumbuhan ekonomi, 2)

Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD); 3) Berkurangnya tingkat kemiskinan

dan pengangguran; 4) Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 5)

Pemerataan dan peningkatan partisipasi dan pelayanan publik yang berkeadilan;

6) Peningkatan Infrastruktur Daerah.

“R” = Rasional dan terukur artinya, bahwa Pemerintah Kabupaten Bandung Barat

mendapatkan kepercayaan dan mampu mengemban tugas sebagai pelayan

masyarakat yang mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan


pribadi, kelompok, maupun golongan serta dilandasi oleh nilai-nilai kompetensi,

profesionalitas, akuntabilitas, dan kearifan lokal.

Reformasi Birokrasi, merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja secara

sistematis, terpadu, dan komprehensif ditujukan untuk merealisasikan tata

kepemerintahan yang baik dan bersih (good & Clean governance) di lingkungan

pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Reformasi birokrasi Sendiri berarti :

– Merubah cara berpikir (pola pikir, pola sikap dan pola tindak);

– Merubah paradigma penguasa menjadi pelayan yang baik;

– Mendahulukan peranan dari wewenang;

– Tidak berfikir hasil produksi tapi hasil akhir;

– Merubah manajemen kinerja;

– Melakukan pantau percontohan reformasi birokrasi

melalui :

a. Penataan kelembagaan;

b. Penataan ketatalaksanaan;

c. Penataan sumberdaya aparatur;

d. Akuntabilitas;

e. Pelayanan dan kualitas pelayanan.

Tujuan reformasi birokrasi secara umum adalah mewujudkan

kepemerintahan yang baik, didukung oleh penyelenggara pemerintah Kabupaten

Bandung Barat yang profesional, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan

meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga tercapai pelayanan prima.

Pengembangan Pariwisata dan Agroindustri, mengandung makna bahwa

strategi pembangunan daerah berbasis core business dengan mengembangkan

sektor industri Pariwisata, Agro-Industri dan Agri-Bisnis sebagai potensi unggulan


daerah Kabupaten Bandung Barat yang akan memberikan stimulasi positif

terhadap percepatan dan pengembangan di sektor unggulan lainnya di Kabupaten

Bandung Barat.

Bidang Pertanian (dalam arti luas) merupakan mata pencaharian mayoritas

masyarakat desa dimana kantong-kantong kemiskinan berada. Melalui revitalisasi

sektor unggulan di bidang pertanian dengan rekayasa teknologi dan industri

diharapkan penduduk miskin yang tersebar di desa-desa yang ada di Kabupaten

Bandung Barat terjamin pekerjaannya, meningkat pendapatannya dan meningkat

kesejahteraannya.

Relegius, mengandung pengertian bahwa nilai-nilai, norma, semangat, kaidah

agama khususnya Islam yang diyakini dan dianut serta menjadi karakter dan

identitas mayoritas masyarakat Kabupaten Bandung Barat, harus mewarnai,

menjiwai, menjadi ruh dan pedoman seluruh aktivitas kehidupan termasuk di

dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, dengan menjunjung

tinggi toleransi dan kerukunan kehidupan beragama.

Kearifan Lingkungan, mengandung pengertian bahwa perhatian dan kepedulian

terhadap modal alam, keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup adalah

modal dasar menuju pembangunan masyarakat yang berkelanjutan berdasarkan

prinsip-prinsip Good Environmental Governance (GEG), yaitu: transparansi,

fairness (berkeadilan), partisipasi multi stakeholder dan akuntabel.

Berdaya Saing, adalah variabel signifikan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi

daerah yang dalam konteks visi ini mengandung pengertian bahwa, upaya

peningkatan kapasitas penyelenggaraan pemerintahan dan capaian keberhasilan

pembangunan yang diraih oleh pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bandung

Barat targetnya harus berdaya saing dan unggul tidak sekedar pemenuhan di

bawah standar. Hal ini tentunya perlu optimalisasi kemampuan daerah untuk

bersaing kualitas dengan daerah lain. Fakta daya saing di era globalisasi berpihak
terhadap keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang terbentuk dari 3

unsur terkait satu sama lain, yaitu :

1) modal manusia;

2) kemampuan organisasi; dan

3) penguasaan kompetensi.

Dalam pendekatan Evaluasi Kemampuan Penyelenggaraan Otonomi Daerah

ditetapkan aspek daya saing daerah tergantung dan fokus atas 4 domain, yaitu:

1) kemampuan ekonomi daerah,

2) fasilitas wilayah/infrastruktur,

3) iklim investasi dan

4) sumber daya manusia.

2.2 MISI KABUPATEN BANDUNG BARAT

Untuk merealisasikan Visi, disusun 8 Misi sebagai berikut :


1. Mewujudkan Pemerintahan yang Aspiratif, Baik, Bersih dan Berwibawa;

2. Meningkatkan kemampuan perekonomian daerah melalui pengembangan

sektor pertanian dengan pola agroindustri dan agribisnis yang didukung oleh

keberdayaan potensi unggulan daerah lainnya;

3. Meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing, dan

religius yang mencakup pendidikan, kesehatan dan moral keagamaan;

4. Meningkatkan kepedulian terhadap modal alam, keseimbangan dan

kelestarian lingkungan hidup sebagai modal dasar pembangunan yang

berkelanjutan;

5. Meningkatkan kemandirian sosial yang berbasis budaya lokal;

6. Mewujudkan desa kreatif dan mandiri yang berdaya saing;

7. Meningkatkan Fasilitas Infrastruktur yang mendukung Iklim Investasi Daerah

dan Pariwisata;

8. Mengembangkan pusat pertumbuhan wilayah sesuai Tata Ruang Daerah.


5 Prinsip Pembangunan Berkelanjutan KBB

• Pro Growth, yaitu pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan pemerataan

kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat;

• Pro Jobs, yaitu penciptaan lapangan pekerjaan dan iklim usaha yang baik;

• Pro Poor, yaitu penanggulangan kemiskinan;

• Pro Culture, yaitu pelestarian dan pengembangan budaya masyarakat; dan

• Pro Environment, yaitu pelestarian lingkungan

• Pro Growth (Pembangunan yang Berorientasi pada Pertumbuhan,

Pemerataan dan Daya Saing Daerah)

• Peningkatan Mutu Infrastruktur Publik :

Pembangunan dan pemeliharaan jalan kabupaten, jalan lingkungan,

jembatan, irigasi, drainase, dam, pasar, sekolah, rumah sakit, puskesmas,

gedung olah raga, taman kota, boulevard.

• Promosi Terpadu Potensi Ekonomi Daerah:

Pada sektor-sektor unggulan pariwisata, pertanian dalam arti luas, industri

(terutama industri olahan), dan ekonomi kreatif lainnya.

• Pemantapan iklim investasi

a) Penegakkan peraturan daerah terkait: bangunan, tata ruang, lingkungan;

b) Pengembangan unit layanan perijinan terpadu dan cepat yang ditunjang

oleh SDM Aparatur pro-investasi

• Peningkatan kapasitas keuangan daerah

Berorientasi kepada inovasi dan kreativitas pengembangan sumber

pendapatan Asli Daerah dan efektivitas belanja daerah

• Pro Job (Pembangunan yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja)

• Pengembangan potensi ekonomi sesuai potensi unggulan wilayah:

– Pertanian (dalam arti luas) : One Village One Product (OVOP), Industri

kerajinan dan industri kreatif skala Mikro, Kecil dan Menengah,

– Pengembangan Agroindustri dan Agribisnis


– Pariwisata: Wisata Lingkungan (eco tourism), Wisata Pertanian (agrotourism),

Desa Wisata (village tourism), Wisata Budaya (cultural tourism), Wisata Religi,

Wisata Kuliner.

– Perdagangan

• Pro Poor (Pembangunan yang brorientasi pada penanggulangan

kemiskinan)

Penanganan berkelanjutan terhadap dua permasalahan pokok kemiskinan:

– Kemiskinan struktural:

• Penguatan pilar kehidupan sosial ekonomi masyarakat

• Pengurangan kesenjangan distribusi pendapatan

– Kemiskinan kultural:

 Pemantapan etos kerja, jiwa wirausaha masyarakat miskin

 Memutus mata rantai lingkaran setan kemiskinan (the vicious circle of

poverty)

 Melalui sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan

– Strategi Penanggulangan Kemiskinan

– Pengurangan beban sosial ekonomi masyarakat miskin:

• Beasiswa miskin, dana pendamping BOS SD/MI dan SMP/MTs,

SMA/SMK /MA cost sharing pada program Jaminan Kesehatan Mandiri

Perdesaaan, Generasi Sehat dan Cerdas, sinergitas ADD dan Dana Desa

dsb.

– Pemberdayaan potensi sosial ekonomi masyarakat miskin:

• Peningkatan penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian dalam arti

luas, industri, agroindustri, pariwisata, dan sektor ekonomi kreatif melalui

pelatihan kewirausahaan, dana bergulir, penguatan kelembagaan.

• Peningkatan dan pemantapan kerja sama dengan berbagai pihak

(multistakeholder partnerships) untuk percepatan penanggulangan

kemiskinan:
– Pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha (corporate social

responsibility)

 Peningkatan daya saing daerah guna mendorong investasi dan penciptaan

lapangan kerja

 Pro Culture (Pembangunan yang Berwawasan Budaya)

 Reinvestasi pendapatan daerah ke dalam sektor budaya:

– Pengembangan desa berbasis penguatan kearifan lokal;

– Pengembangan desa berbasis kawasan wisata budaya;

– Pengembangan dan penguatan kekayaan budaya potensial sebagai aset

wisata daerah.

 Pro Environment (Pembangunan yang berwawasan lingkungan)

 Pengembangan sistem pengelolaan limbah cair terpadu;

 Program Pengelolaan Sampah melalui sistem Reduce-Reuse-

Recycle-Repair;

 Penghijauan/Gerakan Penanaman Pohon secara berkelanjutan;

 Program Desa Hijau (Green Village);

 Penanganan saluran irigasi;

 Pengembangan Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu

 Pengembangan bio-pori untuk penyerapan air di setiap rumah

tangga;

 Peningkatan peran serta masyarakat dalam implementasi Citarum

Harum.

 Program Strategis Pembangunan KBB

 Mewujudkan Kepemerintahan yang Baik, Bersih dan Berwibawa

 Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, Berdaya

Saing, dan Religius yang Mencakup Pendidikan, Kesehatan dan

Moral Keagamaan;
 Meningkatkan kemampuan perekonomian daerah melalui

pengembangan sektor pertanian dengan pola agroindustri yang

didukung oleh keberdayaan potensi unggulan daerah lainnya;

 Meningkatkan Fasilitas Infrastruktur yang mendukung Iklim Investasi

Daerah dan Pelayanan Publik.

 Meningkatkan kepedulian terhadap modal alam, keseimbangan dan

kelestarian lingkungan hidup sebagai modal dasar pembangunan

yang berkelanjutan.

 Mewujudkan Desa Kreatif dan Mandiri yang Berdaya Saing.

 Skala Prioritas Pembangunan.

 Peningkatan infrastruktur dasar (jalan, jembatan, terminal, pasar,

dan irigasi)

 Percepatan pembangunan sarana perkantoran Pemerintahan

Daerah dan Desa.

 Peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat secara gratis

dengan pendekatan jemput bola bagi masyarakat miskin,

termasuk perbaikan gizi dan air bersih, serta peningkatan fungsi

dan peran PUSKESMAS

 Pengembangan dan Peningkatan kualitas pendidikan dasar,

menengah dan perguruan tinggi.

 Pengembangan budaya lokal.

 Pengembangan industri pengolahan, industri manufaktur, dan

agroindustri, serta industri-industri kecil perumahan.

 Pengentasan kemiskinan struktural, absolut, dan kemiskinan

relatif.

 Penguatan kapasitas manajerial perencanaan pembangunan

dan pengelolaan keuangan daerah.


 Peningkatan potensi, prestasi pemuda, olahraga, dan peranan

perempuan

 Pengembangan dan peningkatan sarana prasarna olahraga,

serta kesejahteraan atlit.

2.3 Kelembagaan Posyandu

Kelembagaan Pokjanal Posyandu di Kabupaten, Pokjanal Posyandu Kecamatan

dan Pokja Posyandu dibentuk berdasarkan :

A. Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat

Kelembagaan Pokjanal Posyandu Kabupaten mulai dibentuk pada tahun

2008, revisi terakhir dilaksanakan pada tahun 2012 dengan Keputusan Bupati

Bandung Barat dengan Susunan Keanggotaan sesuai dengan Surat Keputusan

Bupati Nomor : 188.45 / Kep. 39 – BPMPD / 2016 tanggal 27 Januari 2015

tentang Kelompok Kerja Operasional Pembinaan Pos Pelayanan Terpadu (

Pokjanal Posyandu ) Dan Sekretariat Kelompok Kerja Operasional Pembinaan

Pos Pelayanan Terpadu (Pokjanal Posyandu) Kabupaten Bandung Barat.

SUSUNAN DAN PERSONALIA


KELOMPOK KERJA OPERASIONAL
PEMBINAAN POS PELAYANAN TERPADU
(POKJANAL POSYANDU) DAN SEKRETARIAT KELOMPOK KERJA
OPERASIONAL PEMBINAAN POS PELAYANAN TERPADU
(POKJANAL POSYANDU) KABUPATEN BANDUNG BARAT

Pembina : 1. Bupati Bandung Barat;


2. Wakil Bupati Bandung Barat
3. Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Barat
Ketua : Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan

Wakil Ketua : 1. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa;


2. Kepala Dinas Kesehatan;
3. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bandung Barat.
Sekretaris : Kepala Bidang Kelembagaan Desa pada Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Wakil Sekretaris : Kepala Sub Bagian Koordinasi Kesejahteraan Sosial pada


Bagian Kesejahtraan Sosial Sekretariat Daerah

Bendahara : Pelaksana pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Anggota : 1. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian


Dan Pengembangan Daerah;
2. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga
Berencana Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan
Anak;
3. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah;
4. Kepala Dinas Pendidikan;
5. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Dan Statistik;
6. Kepala Dinas Perumahan Dan Pemukiman;
7. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang;
8. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ;
9. Kepala Dinas Pertanian Dan Ketahananan Pangan;
10. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan;
11. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan;
12. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan
Menengah;
13. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan;
14. Kepala Dinas Lingkungan Hidup;
15. Kepala Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Daerah;
16. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Bandung Barat;
17. Forum Kabupaten Sehat Kabupaten Bandung Barat.
BIDANG – BIDANG

1. Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Posyandu

Ketua Bidang : Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat pada


Sekretariat Daerah

Anggota Bidang : 1. Kepala Sub Bidang Kesehatan pada Badan


Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan
Pengembangan;
2. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program dan
Keuangan pada Dinas Pemukiman dan Perumahan;
3. Kepala Sub Bagian Koordinasi Kesehatan Masyarakat
pada Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekretariat
Daerah;
4. Kepala Seksi Pemberdayaan Sosial Budaya dan
Partisipasi Masyarakat pada Dinas Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa;
5. Sekretaris TP-PKK Kabupaten Bandung Barat.
2. Bidang Kesehatan dan Keluarga Berencana

Ketua Bidang : Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan


Keluarga Pada Dinas Kesehatan ;

Anggota Bidang 1. Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan


Reproduksi pada Dinas Pengendalian Penduduk,
Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak;
2. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dasar pada
Dinas Kesehatan;
3. Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas
Kesehatan;
4. Kepala Seksi Jaminan Pelayanan Keluarga Berencana
pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga
Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak;
5. Kepala Seksi Kesehatan Keluarga pada Dinas
Kesehatan;
6. Kepala Seksi Gizi Pada Dinas Kesehatan.
3. Bidang Bina, Pengembangan, Pengintegrasian dan Inovasi Program

Ketua Bidang : Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup

Anggota Bidang : 1. Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan


Keluarga pada Dinas Pengendalian Penduduk,
Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak;
2. Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini, Non
Formal, dan Informal pada Dinas Pendidikan;
3. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit pada Dinas Kesehatan;
4. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak pada Dinas Pengendalian
Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak;
5. Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil pada Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil;
6. Kepala Bidang Bina Pemberdayaan Sosial pada Dinas
Sosial;
7. Kepala Bidang Hortikultura pada Dinas Pertanian Dan
Ketahanan Pangan;
8. Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Perikanan dan
Peternakan;
9. Kepala Seksi Kesehatan Keluarga pada Dinas
Kesehatan;
10. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program pada Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan;
11. Kepala Seksi Kesehatan Reproduksi pada Dinas
Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana,
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
12. Kepala Seksi Penganekaragaman Konsumsi dan
Keamanan Pangan pada Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan;
13. Kepala Seksi Pemeliharaan pada Dinas Lingkungan
Hidup;
14. Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Tepat Guna
dan Sumber Daya Alam pada Dinas Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa.
4. Bidang Komunikasi, Informasi dan Edukatif (KIE) dan Sistem Informasi
Posyandu (SIP)

Ketua Bidang : Ketua Pokja IV. TP. PKK Kabupaten Bandung Barat.

Anggota Bidang :1. Kepala Bidang Pengedalian Penduduk Dan Informasi


Keluarga pada Dinas Pengendalian Penduduk,
Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak;
2. Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik pada
Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik;
3. Kepala Seksi Layanan dan Pembinaan Perpustakaan
pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah;
4. UPTD Promosi Kesehatan pada Dinas Kesehatan;
5. Unsur Kementrian Agama Kabupaten Bandung Barat.
5. Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Perekonomian Masyarakat

Ketua Bidang : Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah.

Anggota Bidang : 1. Kepala Bidang Kerjasama dan Pengembangan


Potensi Desa pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat
dan Desa;
2. Kepala Bidang Industri dan Agro pada Dinas
Perindustrian Dan Perdagangan;
3. Kepala Seksi Pemberdayaan Keluarga Sejahtera pada
Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana,
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
4. Kepala Sub Bagian Pengembangan Usaha Daerah
pada Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah;
5. TP-PKK Bandung Barat Pokja II.
SEKRETARIAT

Ketua : Kepala Bidang Kelembagaan pada Dinas Pemberdayaan


Masyarakat dan Desa

Anggota : 1. Kepala Seksi Lembaga Kemasyarakatan Desa pada


Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa;
2. Kepala Sub Bagian Koordinasi Kesejahteraan Sosial
pada Bagian Kesejahteraan Sosial Sekretariat Daerah;
3. Kepala Seksi Kesehatan Keluarga pada Dinas
Kesehatan;
4. Kepala Seksi Jaminan Pelayanan Keluarga Berencana
Pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga
Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak;
5. TP-PKK Kabupaten Bandung Barat Pokja IV.
STRUKTUR ORGANISASI KELOMPOK KERJA OPERASIONAL POS PELAYAN
TERPADU (POKJANAL POSYANDU) KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2018

Pembina
1. Bupati Bandung Barat
2. Wakil Bupati Bandung Barat
3. Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Barat

Ketua
Asisten Perekonomian dan Pembangunan
Sekretariat Daerah

Wakil Ketua I : Kepala BPMPD

Wakil Ketua II : Kepala Dinas Kesehatan

Wakil Ketua III : Ketua TP. PKK KBB

Sekretaris Bendahara
Wakil Sekretaris

Bidang Bidang Bidang Bina, Bidang Komunikasi, Bidang Pemberdayaan


Kelemb Kesehat Pengembanga Informasi dan Masyarakat dan
agaan an dan n, Edukatif (KIE) Perekonomian
Pengintegrasi
dan KB dan Sistem Masyarakat
an dan

Sekretariat

BIDANG KELEMBAGAAN

a. Menyiapkan data dan kelompok sasaran serta cakupan program.

b. Menyiapkan kader.

c. Menganalisis masalah dan menetapkan aIternatif pemecahan masalah.

d. Menyusun rencana.

e. Melakukan pemantauan dan bimbingan.

f. Menginformasikan masalah kepada instansi/lembaga terkait.

g. Melaporkan kegiatan kepada Ketua Pokjanal Posyandu.

h. Melaksanakan pembinaan Posyandu.

i. Memfasilitasi pembentukan Posyandu.


BIDANG KESEHATAN DAN KELUARGA BERENCANA

a. Pelaksanaan pembinaan dan memantau Kegiatan Posyandu.

b. Memantau pemberian dan pendistribusian pil tambah darah (ibu hamil).

c. Memantau pemberian dan pendistribusian vitamin A dosis tinggi ( bulan

vitamin A pada bulan Februari dan Agustus).

d. Memantau pemberian dan pendistribusian PMT.

e. Memantau pemberian dan pendistribusian lmunisasi.

f. Penimbangan balita rutin perbulan sebagai pemantau kesehatan balita melalui

pertambahan berat badan setiap bulan.

g. Keluarga Berencana, pembagian Pil KB dan Kondom.

h. Memantau pemberian dan pendistribusian pemberian Oralit dan pengobatan.

BIDANG KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKATIF

a. Penyuluhan kesehatan lingkungan dan penyuluhan pribadi sesuai permasalahan

dilaksanakan oleh kader PKK melalui Pokja IV dengan materi dasar dari KMS

balita dan ibu hamil.

b. Melakukan promosi kesehatan.

c. Melakukan pembinaan PHBS.

d. Penyuluhan Keluarga Berencana.

e. Pembuatan papan.

BIDANG SISTEM INFORMASI POSYANDU

a. Pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan instrumen :

1) Catatan ibu hamil, kelahiran/kematian dan nifas oleh ketua kelompok Dasa

Wisma (kader PKK).

2) Register bayi dalam wilayah kerja Posyandu bulan Januari s/d Desember.

Pembinaan Posyandu di wilayah Kabupaten Bandung Barat dilaksanakan

secara terpadu melalui Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat. Tujuan

dilakukannya pembinaan adalah agar Posyandu dapat menyelenggarakan berbagai

kegiatannya dengan baik, sehingga tujuan didirikannya Posyandu dapat tercapai.


Adapun pembinaan yang akan dilakukan meliputi : peningkatan pengetahuan

dan keterampilan pengurus dan kader Posyandu serta pembinaan administrasi

yang mencakup penyelenggaraan dan keuangan.

A. PENGORGANISASIAN PEMBINAAN POSYANDU

1. Dasar Pemikiran Pengorganisasian

Posyandu merupakan wadah peran serta masyarakat dalam

pemenuhan pelayanan kesehatan dasar dan gizi keluarga, dengan prinsip

dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, dengan dukungan bantuan dari

pemerintah.

Bantuan pemerintah dapat berupa fasilitasi, bimbingan teknis,

pemenuhan sarana/prasarana dasar seperti : bantuan vaksin, obat-obatan,

dacin, sarung timbangan dan sebagainya. Dengan pengertian seperti ini

fungsi pembinaan dari pemerintah terhadap Posyandu pada hakekatnya

tetap ada. Oleh karena itu, fungsi pembinaan dari pemerintah tersebut perlu

dikoordinasikan dan diorganisasikan.

Adapun kelembagaan yang mempunyai tugas mengkoordinasikan

dilaksanakan melalui wadah Kelompok Kerja Operasioanal Posyandu

(Pokjanal Posyandu) Kabupaten Bandung Barat. Fungsi pembinaan tersebut

meliputi 3 (tiga) aspek yaitu manajemen, kelembagaan dan personil atau

sumber daya manusia pengelola Posyandu.

Unsur-unsur yang duduk dalam pengorganisasian Pokjanal Posyandu

tidak terbatas pada komponen instansi pemerintah saja, tetapi juga

melibatkan unsur-unsur lain seperti lembaga profesi, perguruan tinggi, LSM,

serta kemitraan dengan pihak Swasta/ Dunia usaha dan sebagainya.

Tujuan pengorganisasian Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung

Barat adalah untuk mengkoordinasikan berbagai upaya pembinaan yang

berkaitan dengan peningkatan fungsi dan kinerja Posyandu di wilayah

Kabupaten Bandung Barat, yang secara operasional dilaksanakan oleh unit


atau kelompok pengelola Posyandu di Desa, melalui mekanisme pembinaan

secara berjenjang oleh Pokjanal Posyandu.

2. Kedudukan Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat

Agar ada hubungan dan mekanisme kerja dalam fungsi koordinasi

pembinaan yang berkesisteman antara pemerintah pusat dan pemerintah

daerah, maka secara organisasi, Pokjanal Posyandu Pusat bertanggung jawab

kepada menteri dalam negeri melalui Direktur Jendral Pemberdayaan

Masyarakat dan Desa selaku penanggung jawab Harian Pokjanal Posyandu

pusat. Sedangkan kedudukan organisasi Pokjanal Posyandu secara fungsional

bertanggung jawab kepada Bupati Bandung Barat.

3. Pembentukan Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat

Organisasi Pokjanal Posyandu KBB ditetapkan dengan surat keputusan

Bupati Kabupaten Bandung Barat.

4. Prinsip – prinsip pengorganisasian Pokjanal Posyandu

Pada dasarnya pembentukan Organisasi Pokjanal Posyandu diserahkan

sepenuhnya kepada pemerintahan daerah Kabupaten Bandung Barat, namun

diharapkan tetap menganut prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Strukturnya tidak kaku, dengan pengertian, ada yang ditunjuk dan

ditetapkan sebagai ketua, sekretaris dan anggota-anggota, hal itu sangat

dimungkinkan sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan. Namun hal

yang lebih penting dipertimbangkan dalam pengorganisasian

Pokjanal Posyandu KBB adalah prinsip struktur organisasinya yang

ramping atau sederhana tetapi kaya atau penuh fungsi.

b. Tidak mempertentangkan unsur mana atau siapa yang duduk sebagai

unsur pimpinan dalam pengorganisasian Pokajanal Posyandu.

c. Keanggotaannya fungsional berdasarkan kompetensi masing-masing

unsur sehingga ada kejelasan fungsi danperan masing-masing dalam

pengorganisasian Pokjanal Posyandu.


d. Tidak terikat pada lembaga tertentu

e. Mempunyai sekretariat tetap, yang berperan sebagai dapur pengolah data

dan informasi berbagai program/kegiatan Pokjanal Posyandu.

f. Mengutamakan prinsip koordinasi dan konsultasi

g. Operasional kegiatan berdasarkan kebutuhan pemecahan masalah

melalui mekanisme advokasi dan fasilitasi

h. Dibentuk atas dasar kesepakatan dari berbagai pihak/ unsur terkait

terhadap kebutuhan koordinasi pembinaan pada Posyandu.

5. Tugas Pokok dan Fungsi Pokjanal Posyandu

Secara garis besar Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat mempunyai

tugas Pokok dan fungsi sebagai berikut :

a. Menyiapkan data dan informasi tentang keadaan maupun perkembangan

kegiatan yang berkaitan dengan kualitas program, kelembagaan dan

SDM / personil pengelola program;

b. Menganalisis masalah dan kebutuhan intervensi program berdasarkan

pilihan alternative pemecahan masalah sesuai dengan potensi dan

kebutuhan lokasi.

c. Menyusun rencana kegiatan tahunan dan mengupayakan adanya sumber-

sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan pembinaan dan operasional

Posyandu, serta kesekretariatan Pokjanal Posyandu.

d. Melakukan bimbingan, pembinaan fasilitasi, advokasi, pemantauan dan

evaluasi secara rutin dan terjadwal.

e. Menyampaikan berbagai data, informasi dan masalah kepada

instansi/ lembaga terkait untuk penyelesaian tindak lanjut.

f. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan kepada Bupati Bandung Barat.


6. Mekanisme Hubungan kerja

Berdasarkan pada uraian tugas pokok dan fungsi Pokjanal Posyandu, serta

peran dari masing-masing unsur dalam Pokjanal Posyandu, yang secara

kelembagaan menerapkan prinsip dan ciri pemberdayaan masyarakat dalam

pengelolaan posyandu sebagaimana tersebut diatas, maka mekanisme

hubungan kerja Pokjanal Posyandu, adalah sebagai berikut :

a. Mekanisme Hubungan kerja Secara Vertikal

Pada dasarnya secara hirarkhis organisatoris tidak ada hubungan kerja langsung

antara Pokjanal Posyandu Pusat dengan Pokjanal Posyandu KBB. Karena tidak

ada kewajiban pertanggungjawaban kegiatan secara berjenjang. Oleh karena itu

mekanisme hubungan kerja Pokjanal Posyandu di pusat dan Daerah didasarkan

pada azas konsultasi dan distribusi.

b. Mekanisme Hubungan kerja secara horizontal

Mekanisme hubungan kerja antar sesama Pokjanal posyandu bersifat koordinasi

dan kemitraan yang didasarkan pada kepentingan inter dan antar daerah dalam

penanganan maupun kelangsungan pembinaan program.

c. Mekanisme hubungan kerja dengan organisasi/ kelembagaan yang membina

sesuatu program yang sejenis, seperti RPGD, Tim UPGK, Pokja BKB, Forum

PADU, Tim pangan dan Gizi, dewan ketahanan pangan dsb, mempunyai

hubungan kerja dengan Pokjanal Posyandu secara koordinaif dan konsultatif.

B. BENTUK PEMBINAAN

Pembinaan Posyandu oleh Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat

dilakukan dengan berbagai kegiatan, antara lain ;

1. Rapat Koordinasi Pokjanal Posyandu, yang bertujuan untuk membahas Program

kerja, Evaluasi kegiatan Dst. Kemajuan dan kendala penyelenggaraan

Posyandu di wilayah Kabupaten Bandung Barat.


2. Kunjungan bimbingan dan fasilitasi yang bertujuan untuk melihat

operasionalisasi kegiatan Posyandu, mengetahui kendala yang dihadapi dan

memberikan saran penyelesaian dan perbaikannya, baik dalam aspek

administrativ maupun teknis medis.

3. Menghadiri rapat/pertemuan yang diselenggarakan masyarakat, khususnya yang

membahas masalah Posyandu, dengan tujuan untuk memberikan dukungan

moril dalam penyelenggaraan Posyandu.

4. Memberikan penghargaan kepada pengurus dan kader Posyandu yang

berprestasi. Penghargaan yang diberikan dapat dalam bentuk pemberian tanda

penghargaan, bantuan pelatihan, studi banding ke Posyandu lain atau

pemberian seragam Posyandu.

Pembina Stakeholder (Pembina dan penggerak terkait) Instansi/Lembaga

terkait :

a. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bandung

Barat berperan dalam fungsi koordinasi penyelenggaraan pembinaan, penguatan

kelembagaan Pokjanal Posyandu, penggerakan peran serta masyarakat,

pengembangan jaringan kemitraan, pengembangan metode pendampingan

masyarakat, teknis advokasi, fasilitasi, pemantauan dan sebagainya.

b. Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, berperan dalam membantu

pemenuhan pelayanan sarana dan prasarana kesehatan (pengadaan

alat timbangan, distribusi KMS, obat-obatan dan vitamin) serta dukungan

bimbingan tenaga teknis kesehatan.

c. Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak, berperan dalam penyuluhan, pergerakan peran serta

masyarakat pemenuhan kebutuhan alat kontrasepsi, sarana/prasarana dan

bimbingan teknis tenaga pelaksana bina keluarga.

d. BAPPELITBANGDA, berperan dalam koordinasi perencanaan umum dan

evaluasi
e. Dinas Pertanian, Dinas perindustrian dan perdagangan, Dinas pendidikan dan

sebagainya berperan dalam mendukung teknis operasional posyandu sesuai

dengan peran dan fungsinya masing-masing misalnya :

1. Dinas pertanian, peternakan dan perikanan berperan dalam hal

pendayagunaan tenaga penyuluh lapangan (PPL), koordinasi program P4K,

dsb. Penyuluhan, pemanfaatan lahan pekarangan, sadar gizi dan budi daya

ikan dsb.

2. Dinas perindustrian dan perdagangan, berperan dalam peningkatan ekonomi

keluarga melalui pemberdayaan industri kecil.

3. Dinas pendidikan, berperan dalam program PAUD dan penggerakan peran

serta masyarakat sekolah, misalkan melalui jalur program upaya kesehatan

sekolah (UKS), dokter kecil, saka Bhakti Husada dsb.

4. Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat berperan dalam hal penyuluhan dan

pendayagunaan karang taruna, penyaluran berbagai bantuan

sosial dan berperan dalam hal penyuluhan, penyaluran berbagai bantuan

modal dsb.

5. Kementerian agama Kabupaten Bandung Barat berperan dalam penyuluhan

dan pembinaan masyarakat khususnya sasaran posyandu dalam setiap

kegiatan –kegiatan keagamaan.

6. Tim Penggerak PKK Kabupaten Bandung Barat berperan dalam pendataan,

penyuluhan, pembinaan dan penggerakan sasaran serta dalam pembinaan

kepada para kader di Posyandu.

2.4 ANGGARAN BIAYA

Anggaran Kegiatan POKJANAL Posyandu Kabupaten Bandung barat

bersumber dari APBD Perubahan Kabupaten Bandung Barat tahun 2020

sebesar Rp. 4.605.000.000,- (Empat Milyar Enam Ratus Lima Ribu Rupiah)

dengan rincian sebagai berikut :


1. Pokjanal Kabupaten Bandung Barat

- Untuk Kegiatan Evaluasi dan Rencana Program 2020 Pokjanal Posyandu

Kabupaten Bandung Barat sebesar Rp. 71.700.000 (Tujuh Puluh Satu Juta

Tujuh Ratus Ribu Rupiah).

- Untuk Kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Pengurus Pokja

Posyandu Desa, Pokjanal Posyandu Kecamatan, Pokjanal Posyandu

Kabupaten sebesar Rp. 257.400.000 (Dua Ratus Lima Puluh Tujuh Juta

empat Ratus Ribu Rupiah).

- Untuk Peningkatan Kapasitas Pembina Posyandu sebesar Rp.

190.900.000 (Seratus Sembilan Puluh Juta sembilan Ratus Ribu Rupiah).

- Untuk Kegiatan Jumpa Bhakti Gembira Bagi Kader Posyandu sebesar Rp.

466.300.000 (Empat Ratus Enam Puluh Enam Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah).

- Untuk Kegiatan Sekretariat sebesar Rp. 13.300.000 (Tiga Belas Juta Tiga

Ratus Ribu Rupiah).

2. Pokjanal Kecamatan

Untuk Kegiatan Pokjanal Kecamatan sebesar Rp. 40.000.000 (Empat

Puluh Juta Rupiah). Terdiri dari 16 Pokjanal kecamatan dengan alokasi

masing-masing kecamatan sebesar Rp. 2.500.000,00 ( Dua Juta Lima Ratus

Ribu Rupiah)

3. Posyandu

Untuk Kegiatan Posyandu sebesar Rp. 3. 525.000.000 (Tiga Milyar Lima

Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Terdiri dari 2.350 Posyandu se

kabupaten bandung Barat dengan alokasi masing-masing Posyandu

sebesar Rp. 1.500.000,00 ( Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)


VI. PENUTUP

Demikian Proposal Permohonan Kegiatan POKJANAL POSYANDU Kabupaten

Bandung Barat sebagai dasar dan Acuan dalam Pelaksanaan Kegiatan

Pembinaan POSYANDU Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2020.

Bandung Barat, Juli 2019

ASISTEN PEREKONOMIAN DAN PEMBANGUNAN


Selaku
KETUA POKJANAL POSYANDU
KABUPATEN BANDUNG BARAT,

Drs. H. ASEP ILYAS, M.Si


KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha

Esa, karena atas berkat Rahmat dan Taufik-Nya Proposal Permohonan Pengajuan

Kegiatan Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung Barat Tahun 2020 dapat

diselesaikan.

Pengajuan Proposal ini kami buat diajukan untuk pengajuan permohonan

anggaran yang bersumber dari APBD Perubahan Kabupaten Bandung Barat Tahun

2020 berdasarkan Rencana Program Kerja Pokjanal Posyandu Kabupaten Bandung

Barat dan bantuan ini akan dipergunakan untuk operasional pokjanal dan

pengembangan pokjanal kabupaten, kecamatan, pokja dan posyandu tahun 2020

sesuai Rencana Aggaran Biaya yang telah dibuat.

Demikian proposal ini kami sampaikan. Dengan harap mohon kerjasama

Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat dapat memberikan bantuan sesuai

dengan rencana program.

ASISTEN PEREKONOMIAN DAN PEMBANGUNAN


Selaku
KETUA POKJANAL POSYANDU
KABUPATEN BANDUNG BARAT,

Drs. H. ASEP ILYAS, M.Si


PROPOSAL

PERMOHONAN PENGAJUAN KEGIATAN POKJANAL POSYANDU


KABUPATEN BANDUNG BARAT
TAHUN 2020

Diajukan untuk Permohonan Anggaran Pokjanal Posyandu bersumber dari


APBD Kabupaten Bandung Barat

POKJANAL POSYANDU
KABUPATEN BANDUNG BARAT
Sekretariat : Gedung A Lt. III Komplek Pemerintahan Daerah
Kabupaten Bandung Barat
Jalan Raya Padalarang – Cisarua KM 2 Kecamatan Ngamprah 40552