Anda di halaman 1dari 12

Nama : Intan Febby Atika Kelas : MPI A1

Nim :180988 Semester : 5 (lima)

MK : Media dan Desain Pembelajaran Dosen : Zulhamdan M.Pd.I

I. KONSEP PEMBELAJAAN
Belajar, pada hakekatnya, adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada
di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan
dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat,
mengamati dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989:28).

Dari beberapa kutipan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yang menyangkut
pengertian belajar sebagai berikut:
a. Belajar merupakan suatu proses, yaitu kegiatan yang berkesinambungan yang
dimulai sejak lahir dan terus berlangsung seumur hidup.
b. Dalam belajar terjadi adanya perubahan tingkah laku yang bersifat relatif
permanen.
c. Hasil belajar ditujukan dengan aktivitas-aktivitas tingkah laku secara keseluruhan.
d. Adanya peranan kepribadian dalam proses belajar antara lain aspek motivasi,
emosional, sikap dan sebagainya.
Terjadinya proses belajar dapat dipandang dari sisi kognitif, sebagaimana
dikemukakan Bigge (1982) yaitu berhubungan dengan perubahan-perubahan tentang
kekuatan variabel-variabel hipotesis, kekuatan-kekuatan, asosiasi, hubungan-hubungan
dan kebisaaan, atau kecenderungan prilaku. (Willis, 1986:20).
Belajar merupakan suatu proses interaksi antara berbagai unsur yang berkaitan.
Unsur utama dalam, belajar adalah individu sebagai peserta belajar, kebutuhan sebagai
sumber pendorong, situasi belajar, yang memberikan kemungkinan terjadinya kegiatan
belajar. Dengan demikian maka manifestasi belajar atau perbuatan belajar dinyatakan
dalam bentuk perubahan tingkah laku. Mengenai jenis perubahan tingkah laku dalam
proses belajar ini, Gagne dan Briggs, (1988:105), menyatakan bahwa perbuatan hasil
belajar menghasilkan perubahan dalam bentuk tingkah laku dalam aspek :
a) kemampuan membedakan;
b) konsep kongkrit;
c) konsep terdefinisi;

1
d) nilai;
e) nilai/aturan tingkat tinggi;
f) strategi kognitif;
g) informasi verbal;
h) sikap ; dan
i) keterampilan motorik.
Landasan Pembelajaran
a. Filosofis
Secara filosofis belajar berarti mengingatkan kembali pada manusia mengenai
makna hidup yang bisa dilalui melalui proses memahami, mengamati, marasakan,
mengkaji, melakukan, dan meyakini segala sesuatu kebenaran sehingga
memberikan kemudahan dalam mencapai segala yang dicita-citakan oleh manusia.
Belajar diperlukan oleh individu manusia akan tetapi belajar juga harus dipahami
sebagai sesuatu kegiatan dalam mencari dan membuktikan kebenaran. Dengan demikian
filsafat apapun yang telah menjadi hasil pikir manusia maka kaitannya dengan belajar
ibarat siklus bahwa dengan filsafat manusia bisa mempelajarai (belajar) tentang segala
sesuatu, dan sebaliknya dengan aktivitas belajar maka pemikiran-pemikiran tentang belajar
terus berkembang dan banyak ditemukan sehingga membawa pada warna inovasi ide dan
pemikiran manusia sepanjang zaman.
b. Psikologis
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang akhirnya
mempelajari produk dari gejala kejiwaaan ini dalam bentuk perilaku-perilaku yang nampak
dan sangat dibutuhkan dalam proses belajar. Diantara psikologi yang banyak dan memang
masih bertahan menjadi landasan pokok dalam dunia pendidikan dan pembelajaran yaitu
psikologi kognitif dan behavioristik.
c. Sosiologis
Jika dalam belajar tanpa arah tujuan pada makna hidup manusia sebagai mahluk
sosial, maka belajar akan dijadikan cara untuk saling menguasai, memusnahkan, karena
segala sesuatu yang dipelajari, diketahui dipahami melalui belajar tidak digunakan dalam
menciptakan kondisi Landasan sosilogis ini sangat penting dalam mengiringi
perkembangan inovasi pembelajaran yang banyak terimbas oleh perubahan zaman yang
semakin hedonistik. Maka Pemahaman akan belajar yang ditinjau dari aspek sosiologis
inilah yang sangat dibutuhkan dewasa ini.
d. Komunikasi
Pendidikan dan komunikasi ibarat setali tiga uang, yang satu memberikan
pemaknaan terhadap yang lainnya. Dalam prakteknya proses belajar atau pembelajaran
2
akan menghasilkan suatu kondisi di mana individu dalam hal ini siswa dan guru, siswa
dnegan siswa atau interaksi yang kompleks sekalipun pasti akan ditemukan suatu proses
komunikasi. Landasan komunikasi ini akan banyak memberikan warna dalam bentuk
pendekatan, model, metode dan strategi pembelajaran,serta pola-pola inovasi
pembelajaran.
Proses pembelajaran hanya menerapkan kemampuan dan menggunakan sarana
serta mengikuti mekanisme yang telah diatur dengan baik dalam SAP. Proses pembelajaran
yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain
menerapkan proses pembelajar telah ditata dengan baik, juga harus selalu meminta feed
back dan melakukan kajian untuk terus membenahi proses pembelajaran. Proses
pembelajaran dapat melalui tatap muka didalam ruang kelas dan dapat melalui media
elektronik sesuai dengan pengaturan di dalam SAP.
Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Selain menerapkan proses pembelajar telah ditata dengan baik, juga
harus selalu meminta feed back dan melakukan kajian untuk terus membenahi proses
pembelajaran. Proses pembelajaran dapat melalui tatap muka didalam ruang kelas dan
dapat melalui media elektronik sesuai dengan pengaturan di dalam SAP. Proses
pembelajaran melalui internet mendorong mahasiswa lebih aktif dalam pembelajaran
karena harus berkomunikasi secara maya dengan para dosen, dan mahasiswa lain di
samping mengembara didalam dunia pengetahuan lain.
Pembelajaran (Instruction)) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching)
dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan antara keduanya,
yakni kepada penumbuha aktivitas subjek didik. Konsep tersebut dapat dipandang sebagi
suatu sistem. sehingga dalam sistem belajar ini terdapat komponen-komponen siswa atau
peserta didik, tujuan, materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau
media yang harus dipersiapkan.
Demikian halnya juga dengan teaching system, di mana komponen perencanaan
mengajar, bahan ajar, tujuan, materi dan metode, serta penilaian dan langkah mengajar
akan berhubungan dengan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan.
Kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian, pengelolaan dan
transformasi informasi oleh dan dari guru kepada siswa. Ketiga katagori kegiatan dalam
proses pembelajaran ini berkait erat dengan aplikasi dan konsep sistem informasi
manajemen.
Meier (2002: 103 ) mengemukakan bahwa semua pembelajaran manusia pada
hakekatnya mempunyai empat unsur, yakni persiapan (preparation), penyampaian
(presentation), pelatihan (Practice), penampilan hasil (performance).
3
a. Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar.
Persiapan pembelajaran itu seperti mempersiapkan tanah untuk ditanami benih. Jika
dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang
sehat.
b. Penyampaian (Presentation)
Tahap penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk
memepertemukan peserta belajar dengan materi belajar yang mengawali proses belajar
secara positif dan menarik. Belajar adalah menciptakan pengetahuan, bukan menelan
informasi, maka presentasi dilakukan semata-mata untuk mengawali proses belajar dan
bukan untuk dijadikan fokus utama.
c. Latihan (Practice)
Tahap latihan ini dalam siklus pembelajaran berpengarruh terhadap 70% atau lebih
pengalaman belajar keseluruhan.
Dalam tahap inilah pembelajaran yang sebenarnya berlangsung. Bagaimanapun,
apa yang dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan pembelajaran yang menciptakan
pembelajaran dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh instruktur atau
pendidik.
d. Penampilan Hasil (Performance)
Secara keseluruhan pemahaman terhadap konsep dasar pembelajaran tidak akan
sempurna jika berhenti pada definisi atau proses. Maka penulis merasa perlu untuk
menguraikan apa yang dihasilkan dari suatu proses pembelajaran. Berikut uraian dari
kaitan antara hasil pembelajaran yang sangat diharapkan sekali oleh semua masyarakat
belajar khususnya peserta didik.

II. Desain Sistem Pembelajaran


Istilah sistem meliputi spektrum konsep yang sangat luas. Sebagai misal, seorang
manusia, organisasi, mobil, susunan tata surya merupakan ssistem, dan masih banyak lagi.
Semua contoh tersebut memiliki batasan sendiri-sendiri yang satu sama yang lain berbeda.
Maka dari itu Sistem adalah suatu kesatuan unsur-unsur yang saling berinteraksi secara
fungsional yang memperoleh masukan menjadi keluaran
Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri dari sejumlah komponen atau bagian yang
saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Pembelajaran dikatakan sebagai sebuah sistem dikarenakan didalamnya
mengandung komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang telah

4
diterapkan. Maka dengan adanya sistem, pembelajaran akan teratur dan menjadi susunan
yang tersusun dengan rapi untuk menjadikan murid menjadi orang yang terpelajar. Jika
tidak menggunakan sistem di sebuah lembaga pendidikan, perusahaan, yayasan, sekolah,
perguruan tinggi dan lain sebagainya, itu semua tidak akan berjalan dengan baik sesuai apa
yang diharapkan, maka dari itu pembelajaran dikatakan sebagai sistem, karena
pembelajaran memiliki tataan dalam mendidik.
Proses Pembelajaran Sebagai Sistem ini tidak bisa dilakukan tanpa adanya proses
yang mendukung dalam pembelajaran tersebut, berikut sebagian kecil yang perlu
dilakukan dalam pembelajaran:
1) Membuat ilustrasi.
2) Mendefinisikan
3) Menganalisis
4) menyintesis
5) Bertanya
6) Merespon
7) Mendengarkan
8) Menciptakan kepercayaan
9) Memberikan pandangan yang bervariasi
10) Menyediakan media untuk mengkaji materi standar
11) Menyesuaikan metode pembelajaran
12) Memberikan nada perasaan.

Dari ke-12 yang diperlukan dalam pembelajaran sebagai proses pembelajaran


hanya sebagian kecil saja yang disebutkan, akan tetapi masih banyak lagi dalam proses
yang mendukung sistem pembelajaran.

Hakikat dalam KBBI berati Intisari atau dasar, jadi hakikat menerangkan intisari
saja dengan menjelaskan beberapa yang akan dibahasanya secara singkat dan jelas tanpa
berlebihan dalam penjelasannya, dalam Hakikat Desain Sistem Pembelajaran ini kita
mengetahui tentang sistem pembelajaran yang selama ini sering di gunaka dalam dunia
pendidikan. Oleh karena itu pembahasan yang mengenai Hakikat Desain Sistem
Pembelajaran kita harus mengetaahui terlebih dahulu pengertiannya.
Desain Sistem Pembelajaran adalah Sistem pembelajaran yang merupakan satu
kesatuan dari beberapa komponen pembelajaran yang saling berinteraksi, interelasi dan

5
interdependensi dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Komponen
pembelajaran meliputi; peserta didik, pendidik, kurikulum, bahan ajar, media
pembelajaran, sumber belajar, proses pembelajaran, fasilitas, lingkungan dan tujuan.
Komponen-komponen tersebut hendaknya dipersiapkan atau dirancang (desain) sesuai
dengan program pembelajaran yang akan dikembangkan. Setelah mengetahui komponen
pembelajaran yang meliputi peserta didik dan yang lain sebagainya, peranan seorang guru
juga penting dalam merancang sistem pembelajaran karena guru akan memandu
kelangsungan belajar didalam kelas sehingga dibutuhkan keterampilan yang harus dimiliki
oleh guru, yang dimiliki oleh guru pada Desain Sistem Pembelajaran adalah guru yang
cerdas, dikarenakan guru yang cerdas memiliki wawasan yang luas serta ilmu
pengetahuannya tidak pernah kehabisan bahan dalam proses belajar mengajar, cara
berfikirnya terstruktur, dan cara bicaranya pun sistematis.
Untuk mendesain pembelajaran harus memahami asumsi-asumsi tentang hakekat
desain sistem pembelajaran, Asumsi-asumsi yang perlu diperhatikan dalam mendesain
system pembelajaran sebagai berikut: (1) desain sistem pembelajaran didasarkan pada
pengetahuan tentang bagaimana seseorang belajar, (2) desain sistem pembelajaran
diarahkan kepada peserta didik secara individual dan kelompok, (3) hasil pembelajaran
mencakup hasil langsung dan pengiring, (4) sasaran terakhir desain sistem pembelajaran
adalah memudahkan belajar, (5) desain sistem pembelajaran mencakup semua variabel
yang mempengaruhi belajar, (6) inti desain sistem pembelajaran adalah penetapan silabus,
rencana pelaksanaan pembelajaran, (metode, media, skenario, sumber belajar, sistem
penilaian) yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Penyusunan desain sistem pembelajaran berpijak pada teori preskriptif. Teori
preskriptif adalah goal oriented, sedangkan teori deskriptif adalah goal free maksudnya
bahwa teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori
pembelajaran deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya bahwa
yang diamati dalam pengembangan teori pembelajaran preskriptif adalah metode yang
optimal untuk mencapai tujuan.

III. Desain Strategi Pembelajaran


Desain strategi pembelajaran merupakan proses perencanaan yang sistematis atas
seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang
atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan

6
pembelajaran tertentu, bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja,
melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan
disampaikan kepada peserta didik.
Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah mengembangkan Aktivitas dan
kreatifitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar.
Keberhasilan dalam proses pembelajaran ini dapat diukur sejauhmana pendidik
mampu menciptakan iklim yang “memerdekakan
Kedudukan strategi pembelajaran:
1. Interaksi
2. Pembelajaran
3. Materi
4. Hasil belajar
Strategi pembelajaran merupakan suatu proses yang sangat terkait dengan
penyampaian materi dalam upaya mencapai kompetensi. Dalam menentukan strategi
pembelajaran perlu memperhatikan dua hal yaitu : 1) jenis kompetensi 2) jenis materi yang
diajarkan. Untuk mengajarkan kompetensi yang berjenis kognitif, atau kompetensi berjenis
psikomotor, atau kompetensi yang berjenis afektif pasti akan membutuhkan strategi
pembelajaran yang berbeda. Demikian pula jika mengajarkan materi dari jenis materi yang
berbeda pasti akan memerlukan strategi pembelajaran yang berbeda pula.

IV. Model dan Metode Pembelajaran

Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian


kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain
sebagainya”. Belajar juga akan lebih baik kalau subjek belajar mengalami atau
melakukannya. Belajar suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan
lingkungan yang berwujud pribadi, fakta, konsep atau teori. Dalam hal ini terkandung suatu
maksud bahwa proses interaksi itu adalah: (1) proses internalisasi ke dalam diri yang belajar,
(2) dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Slameto (2003:2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Baharuddin
(2010:12) belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan
perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman.
7
Menurut Djamarah (2008: 13) belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam
interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.

Selanjutnya pengertian belajar menurut Winkel (1996: 53) adalah suatu aktivitas
mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan
nilai sikap. Perubahan-perubahan itu dapat berupa suatu hasil yang baru atau
penyempurnaan terhadap hasil yang telah diperoleh dan terjadi selama jangka waktu
tertentu. Jadi belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu merespon interaksi
aktif dengan lingkungan melalui pengalaman yang didapatnya secara pribadi. Menurut
kamus bahasa Indonesia belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih,
berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Tujuan dari interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang dilakukan
secara sadar, terencana baik didalam maupun di luar ruangan untuk meningkat kan
kemampuan peserta didik baik perubahan kemampuan intelektual (kognitif), kemampuan
minat atau emosi (afektif) dan kemampuan motorik halus dan kasar (psikomotor) pada
peserta didik sebagaimana yang dikemukakan oleh Usman (2006: 34) bahwa hasil belajar
yang dicapai oleh siswa sangat erat kaitannya dengan rumusan tujuan instruksional yang
direncanakan guru sebelumnya.

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk


mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat
digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Model pembelajaran
mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran.
Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau
metode pembelajaran :

1. Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.


2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3. Langkah-langkah mengajar yang duperlukan agar model pembelajaran dapat
dilaksanakan secara optimal.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

8
Hakikat Model dan metode pembelajaran

Konsep pembelajaran menurut Corey (Sagala, 2010:61) adalah ”suatu proses dimana
lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam
tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap
situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan”. Lingkungan
belajar hendaknya dikelola dengan baik karena pembelajaran memiliki peranan penting
dalam pendidikan. Sejalan dengan pendapat Sagala (2010: 61) bahwa pembelajaran adalah
”membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan
penentu utama keberhasilan pendidikan”.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 mengenai


Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, diuraikan bahwa:
“pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan
diawasi. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan
pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.”.

Konsep model pembalajaran menurut Trianto (2010: 51), menyebutkan bahwa model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran
mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya
tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

Sedangkan metode pembelajaran menurut Djamarah, SB. (2006: 46) ”suatu cara
yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan’. Dalam kegiatan belajar
mengajar, metode diperlukan oleh guru agar penggunaanya bervariasi sesuai yang ingin
dicapai setelah pengajaran berakhir.

Dari konsep pembelajaran, model dan metode pembelajaran dapat didefinisikan


bahwa model pembelajaran adalah prosedur atau pola sistematis yang digunakan sebagai
pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran didalamnya terdapat strategi, teknik, metode,
bahan, media dan alat penilaian pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran adalah cara
atau tahapan yang digunakan dalam interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme

9
metode pembelajaran.

V. Pembelajaan Multitrasi
Menurut Abidin, multiliterasi adalah keterampilan dalam menggunakan beragam
cara untuk menyatakan dan memahami ide-ide dan informasi dengan menggunakan bentuk
bentuk teks konvensional maupun teks inovatif, simbol, dan multimedia. Teks dalam
proses pembelajaran harus teks yang menantang dan memotivasi siswa untuk belajar,
sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan siswa beroleh multikompetensi dari
proses pembelajaran tersebut. Pembelajaran Multiliterasi adalah pembelajaran yang
mengoptimalkan keterampilan keterampilan multiliterasi dalam mewujudkan situasi
pembelajaran yang efektif. Keterampilan-keterampilan multiliterasi yang digunakan pada
dasarnya adalah keterampilan-keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan membaca,
keterampilan menulis, keterampilan berbahasa lisan, dan keterampilan bermedia yaitu
keterampilan penguasaan media informasi dan komunikasi. Pembelajaran Multiliterasi
merupakan pembelajaran yang menempatkan kemampuan membaca, menulis, menyimak,
dan berbicara dilakukan seefisien mungkin untuk meningkatkan kemampuan berpikir,
meliputi kemampuan mengkritisi, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dari berbagai
sumber dalam berbagai ragam disiplin ilmu dan kemampuan mengomunikasi informasi
tersebut. Dengan kata lain, siswa harus mampu menyikapi sebuah fenomena tertentu
berdasarkan konsep pengetahuan yang terintegrasi, bukan pengetahuan secara
fragmentaris.
Komponen Pembelajaran Multiliterasi Morocco mengemukakan bahwa
Komponen-komponen dalam pembelajaran multiliterasi terdiri dari Tujuan, Pertanyaan
penting, Siklus belajar, Sumber belajar, Penilaian pembelajaran dan Komponen keluaran.
Siklus Pembelajaran Multiliterasi Siklus merupakan panduan bagi keterlaksanaan
pembelajaran literasi di dalam kelas. Dengan kata lain, siklus inilah yang menggambarkan
tahap tahap pembelajaran multiliterasi secara umum. Siklus belajar pembelajaran
multiliterasi tersebut digambarkan oleh Morocco yaitu Melibatkan, Merespon, Elaborasi,
Meninjau ulang, Mempersentasikan.

VI. Pembelajaran integrative dan disferensiasi

Pendekatan integratif dapat diartikan sebagai penyatuan berbagai aspek ke dalam


satu keutuhan yang padu. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk melaksanakan
kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam Kurikulum Bahasa Indonesia adalah
10
pendekatan integratif (Imam Syafi’ie, Mam’ur Saadie, Roekhan. 2001: 2.19). Pendekatan
Integratif dapat dimaknakan sebagai pendekatan yang menyatukan beberapa aspek ke
dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi.
Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya,
mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan
dengan berbicara dan membaca. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan
bahasa. Integratif antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa
bidang studi. Misalnya, bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi
lainnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak
digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi
kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur
secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat
menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan
dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan
kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisahpisahkan. Materi ajar
justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik.

Pendekatan Dalam proses belajar mengajar, kita mengenal istilah pendekatan,


metode, dan teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering digunakan dengan
pengertian yang sama, artinya orang menggunakan istilah metode dengan pengertian yang
sama dengan pendekatan, demikian pula dengan istilah teknik dan metode. Sebenarnya,
ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda, walaupun dalam penerapannya
ketiga-tiganya saling berkaitan. Tentang hal ini, Ramelan (1982) mengutip pendapat
Anthony yang mengatakan bahwa pendekatan ini mengacu pada seperangkat asumsi yang
saling berkaitan, dan berhubungan dengan sifat bahasa serta pengajaran bahasa.
Pendekatan merupakan dasar teoritis untuk suatu metode. Asumsi-asumsi tersebut diatas
menimbulkan adanya pendekatanpendekatan yang bereda yakni :

1) Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti


berusaha membiasakan diri menggunakan bahasa untuk berkomunikasi.
Tekanannya pada pembiasaan.
2) Pendekatan yang didasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti
berusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan.
Tekanan pembelajarannya pada kemampuan berbicara

11
3) Pendekatan yang didasari pendapat bahwa pembelajara bahasa, yang
harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari
ujaran, tekanan pembelajaran pada aspek kognitif bahasa bukan pada kemampuan
menggunakan bahasa.

Hubungan Pendekatan Integratif dengan Pembelajaran Dalam bentuk wacana semua


pembelajaran dalam bentuk struktural itu dipadukan sehingga tampak lebih menarik.
Pembelajar Bahasa harus menguasai keempat keterampilan Pembelajaran, contoh bahasa
indonesia, yaitu mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Dalam pembelajaran
Bahasa, minimal dua keterampilan dari empat keterampilan itu harus dipadukan dalam satu
kegiatan berturutan. Berbahasa selalu terpaut dengan tema tertentu, ada “sesuatu” yang
dibicarakan dalam berbahasa. Di sekolah “sesuatu” itu bias tercakup dalam bidang studi
Matematika, IPA, IPS, dan sebagainya. Proses pembelajaran terpadu menghendaki antara
materi sastra dan Bahasa memiliki kedudukan sejajar.

12