Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR AKUAKULTUR
PEMUPUKAN KOLAM IKAN
Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Dasar – dasar akuakultur
Pembimbing Agung K , S.Pi

Disusun oleh :
INGGIT UTAMI EKA PUTRI
NPM : 20742047

D3 BUDIDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kolam yang sering dijadikan kegiatan budidaya tidak dapat lepas dari keberadaan air
sebagai media dan juga tanah, dimana di dalamnya terdapat unsur-unsur hara makro dan mikro.
Karena unsur-unsur tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, sehingga
mengakibatkan nilai-nilai unsur mikro dan makro di perairan tidak konstan dan stabil. Oleh
karena itu perlu adanya pengelolaan kolam. Pengelolaan kolam merupakan faktor penting setelah
penentuan kesesuaian lahan budidaya kolam dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan
budidaya kolam berkelanjutan (Karthik et al, 2005 dalam Ratnawati dkk, 2010). Salah satu dari
kegiatan pengelolaan kolam adalah pemupukan. Menurut Amin dan Pantjara (2002), pemupukan
dimaksudkan sebagai usaha pemberian nutrient ke dalam tanah atau di kolam dengan tujuan
untuk meningkatkan daya dukung perairan guna menghasilkan makanan alami bagi
mikroorganisme. Lebih lanjut ditegaskan oleh Huet (1978), bahwa pemupukan merupakan usaha
untuk meningkatkan kesuburan perairan. Dengan menambah unsur hara secara periodik melalui
pemupukan dalam jumlah tertentu ke dalam perairan akan merangsang pertumbuhan fitoplankton
sehingga mempengaruhi kesuburan perairan.
Pemupukan adalah untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dan air dengan
memberikan unsur atau zat hara kedalam tanah yang secara langsung atau tidak langsung dapat
menyumbang bahan makanan pada algae. Disamping itu pemupukan juga akan memperbaiki pH
tanah atau air dan memperbaiki lingkungan air bagi tempat hidup dan tumbuh algae
(Subarijanti,2000).
Budidaya ikan di kolam ialah kegiatan usaha pemeliharaan atau pembesaran ikan di
kolam mulai dari ukuran benih (juvenil) sampai menjadi ukuran yang layak untuk dikonsumsi.
Budidaya ikan laut sudah sejak seabad yang lalu dipraktekkan di banyak negara di Asia,
termasuk indonesia. Sampai dasawarsa yang lalu komoditi ikan umumnya digolongkan sebagai
hasil sampingan di kolam, karena kolam itu terutama digunakan untuk memelihara ikan bandeng.
Benih ikan secara alami masuk ke dalam kolam bersama air pasang yang mengaliri kolam itu.
Budidaya ikan intensif dilakukan dengan telnik yang canggih dan memerlukan masukan (input)
biaya yang besar, sebagai imbangan dari masukan yang tinggi maka dapat dicapai volume
produksi yang sangat tinggi pula (Ahmad, 2006 dalam Alwi, 2011).

1.2. Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk terhadap peningkatan
kesuburan perairan dan pertumbuhan plankton sebagai pakan alami dalam perairan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pemupukan dan Pengembangan Pakan Alami


Pemupukan dilakukan dengan beberapa pertimbangan yang meliputi: tujuan pemupukan, alasan
pemupukan, jenis pupuk (anorganik dan organik), dosis dan metode penggunaannya.
Pemupukan, baik menggunakan pupuk organik mau- pun anorganik, dilakukan untuk
meningkatkan produksi pakan alami yang dapat dimanfaatkan oleh ikan. Pupuk mengandung berbagai
nutrien yang berbeda jumlahnya sehingga setiap pupuk akan berbeda dalam penggunaan dan jumlahnya.
Pupuk juga digunakan untuk meningkat- kan pH. Pemupukan digunakan untuk meningkatkan
kandungan nutrien dalam air sehingga dapat membantu pertumbuhan plankton.
Pupuk anorganik merupakan hasil buatan manusia dan umumnya digunakan untuk menambah
nutrien tertentu dalam jumlah yang banyak, misalnya TSP dan urea. Sedangkan pupuk organik
terbuat secara alami dan digunakan untuk menambah berbagai nutrien dalam berbagai jumlah,
misalnya kotoran ayam. Dosis pemupukan sangat bervariasi tergantung pada jenis ikan yang
dipelihara, jenis tanah dan air.
Pupuk organik dan anorganik harus diterapkan untuk budidaya ikan tilapia di kolam, di
mana pupuk anorganik untuk menambah jumlah mayor nutrien seperti nitrogen dan phosphorus
sedangkan pupuk organik ditujukan untuk penambahan minor nutrien seperti seng, besi, kalsium
dan sebagainya.
Dosis yang digunakan sangat penting dalam mencapai kondisi air yang diharapkan. Jika
kondisi air baik maka pemupukan tidak diperlukan. Pemupukan dilakukan pada awal siklus
budidaya untuk mendapatkan kondisi kolam agar siap untuk ditanami ikan. Jika diperlukan
pemupukan tambahan dilakukan untuk menjaga kondisi air seperti yang diinginkan. Pemupukan
dilakukan secara merata pada seluruh permukaan dasar kolam atau pada tempat tertentu dan
didistribusikan dengan aliran air. Pupuk anorganik dapat cepat larut dalam air sehingga dapat
langsung dituangkan dari tempatnya, sedangkan pupuk organik hendaknya ditempatkan pada
kantung yang dilubangi dan direndam dalam kolam agar tidak terkumpul pada satu sisi jika
terkena angin.
Pengembangan pakan alami terjadi sebagai pen- campuran dari beberapa jenis organisme,
baik tanaman dan hewan yang berukuran mikroskopis ataupun lebih besar. Pakan alami sangat
penting untuk perkembangan awal larva. Sejak nutrisi pada kuning telur terserap habis, larva
dengan ukuran sangat kecil memulai makan pakan alami yang terdiri dari plankton terkecil
seperti fitoplankton dan rotifer. Setelah ukuran mulutnya bertambah besar larva mulai makan
plankton yang lebih besar seperti cladocera dan copepod kemudian berlanjut dengan pakan yang
sama saat mereka dewasa. Namun untuk ikan tilapia, walaupun sudah besar plankton tetap
diperlukan untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, pemupukan yang harus terus dilakukan
untuk menum- buhkan pakan alami yang diperlukan buat pertumbuhan dan perkembangan ikan
tilapia.
Pakan alami akan lama tumbuhnya pada kolam yang baru dibuat, umumnya yang tumbuh
pertama kali adalah plankton dengan ukuran terkecil yaitu fitoplankton. Sedangkan pada kolam
yang sudah pernah digunakan, pemupukan biasanya menumbuhkan zooplankton ukuran kecil
yang memakan fitoplankton. Larva ikan tilapia dapat memanfaatkan beberapa jenis plankton
campuran.
BAB III
METODOLOGI

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan hari Rabu, 25 November 2020 di Politeknik Negeri
Lampung.

Metode Pengambilan Data


Metode yang digunakan dalam Praktikum ini adalah metode observasi, yaitu metode
pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sesuai yang disaksikan, dengan
mengandalkan penglihatan dan pendengaran, memulai interaksi, menyelesaikan tugas lapang
(Gulo, 2002). Tujuan dari pelaksanaan metode observasi adalah untuk mendapatkan data
berdasarkan pengamatan secara langsung dengan menggunakan alat indra, faktual dan akurat
mengenai data-data kegiatan pengamatan dan analisa kualitas air kolam Budidaya Ikan Nila
(Oreochromis niloticus).

Teknik Pengambilan Data


Teknik yang digunakan dalam pengambilan data pada Praktikum ini menggunakan dua
macam data, yakni Data Primer dan Data Sekunder. Data Primer dilihat hanya dari observasi
sedangkan Data Sekunder didapatkan di lapangan secara langsung dan tidak langsung.
Data Primer
Metode pengambilan data dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya adalah
Observasi yang merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan
sengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala yang diteliti (Usman dan
Akbar, 1995). Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik
untuk fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak
hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengamatan tidak langsung misalnya melalui quisioner dan test (Hadie, 1981).
Observasi dilakukan mengenai proses pengambilan sampel air kolam, pengamatan dan
analisa kualitas air kolam tersebut.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti
misalnya dari Biro Statistik, majalah, keterangan-keterangan, atau publikasi lainnya. Jadi data
sekunder berasal dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya, artinya melewati satu atau lebih pihak
yang bukan peneliti sendiri. Karena itu perlu adanya pemeriksaan ketelitian. Bukan berarti
bahwa data sekunder kalah bermutu dibandingkan dengan data primer, bahkan kalau
Kepentingan data sekunder adalah untuk membuat (a) latar belakang masalah penelitian (b)
informasi alternatip yang dapat dibandingkan dengan informasi primer, sehingga diperoleh
’pemahaman’ baru bagi periset. Sehingga laporan penelitian lebih memiliki dukungan data yang
dapat memperkuat citra akademis (c) data sekunder dapat dijadikan sumber rujukan utama ketika
peneliti hendak menginformasikan hal-hal yang bersifat makro (d) untuk jenis penelitian
kepustakaan dan studi kajian buku (referensi), maka data sekunder merupakan informasi utama
(Marzuki,1989 dan Salim, 2009).
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain secara tidak langsung diperoleh
dari subyek yang diteliti (Azwar, 1998). Data sekunder dapat diperoleh dari studi-studi
sebelumnya yang dikumpulkan dan disatukan atau yang diterbitkan oleh beberapa instansi lain
misalnya majalah, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya (Suparmoko, 1999).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemupukan
Pemupukan adalah proses pemberian pupuk pada kolam. Setelah dilakukan tahap –
tahap sebelumnya, air dikolam harus dipupuk dengan pupuk NPK dosis 4 – 5 ppm dan
penambahan pupuk organik (kotoran ayam) dosis 0,1 ppm. Gunanya, untuk menyuburkan
pertumbuhan plankton setelah plankton mati karena aplikasi klorin. Bila plankton sama sekali
tidak tumbuh maka harus dimasukkan bibit plankton yang diperoleh dari laboratorium yang
membuat kultur tersebut. Bila plankton tidak dibenarkan diambil dari kolam lain karena
kekhawatiran akan tertular penyakit (Suyanto,2009 dalam Alwi 2011).

Jenis – jenis Pupuk


Pupuk dibagi menjadi 2 yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik
merupakan salah satu jenis pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan
tanah mengingat sifat pupuk organic yang sangat menonjol yaitu mengandung unsure hara makro
dan mikro (Amin, 2010). Pupuk organik merupakan pupuk yang digunakan untuk maksud
memperbaiki struktur tanah, daya meresapkan air hujan, daya mengikat air, ketahanan terhadap
erosi. Selanjutnya dikatakan bahwa terbentuknya humus, pupuk organic juga memperbaiki
kehidupan biologi tanah dan mineral (unsure hara) dan hasil proses mineralisasi humus
(Setyamidjaya, 1986 dalam Amin, 2010).
A. Pupuk organik
Menurut Syarief (1985) dalam Amin (2010), mengemukakan bahwa pupuk organik
memiliki kesanggupan melepaskan zat hara secara berangsur-angsur sesuai dengan tingkat
perombakannya sehingga kelestarian zat hara dalam perairan dapat terjaga.
Pupuk organik mengandung unsur hara makro dan mikro secara lengkap, namun dalam
jumlah sedikit dan lambat tersedia, karena memerlukan proses mineralisasi agak lama. Selain itu,
pupuk organik juga mengandung asam-asam organik, hormon, dan zat perangsang tumbuh yang
sangat dibutuhkan tanaman dan tidak dimiliki oleh pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik
lebih berperan dalam memperbaiki kesuburan tanah dan kualitas tanaman dibandingkan sebagai
pensuplai unsur hara (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2010).
Menurut Lukitaningsih (2008), pupuk organik: pupuk yang sebagian besar atau
seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah
melalui proses rekayasa, dapat dibentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan
organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
B . Pupuk Anorganik
Menurut Lukitaningsih (2008), pupuk anorganik: Pupuk hasil proses rekayasa secara
kimia, fisik dan atau biologis dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk.
Faktor-Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemupukan
1. Jenis pupuk
Pupuk dibagi atas 2 golongan yaitu pupuk alam yang meliputi pupuk hijau, pupuk
kandang, dan kompos yang seringkali disebut juga pupuk organik. Sedangkan yang kedua ialah
pupuk buatan yang biasa disebut pupuk anorganik, pupuk ini jenisnya lebih banyak (Subarijanti,
2000).
Jenis pupuk anorganik yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya adalah urea (NH 2
CONH2) dan TSP (Ca(H2PO 4)), sedangkan pupuk organik yang biasa digunakan adalah
fermentasi saponin dan fermentasi pakan rusak. Fungsi dan dosis yang digunakan dari masing-
masing jenis pupuk tersebut relatif berbeda tergantung dari kondisi perairan dan tingkat
kebutuhannya berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapang (Marinda, 2008).
2. Dosis pupuk
Pupuk buatan atau anorganik yang dipergunakan untuk perikanan biasanya urea dan TSP.
Dosis yang digunakan 40 – 50 kg/ha dan 15 – 50 kg/ha. Pupuk diberikan 12 – 14 hari sebelum
penebaran benih, sebagai pupuk dasar sebanyak setengah dari dosis seluruhnya
(Subarijanti,2000).
3. Cara pemupukan
Menurut Subarijanti (2000), penggunaan pupuk organik biasanya dengan cara
mengonggokkan pupuk di pelataran dan membenamkannya ke dalam tanah sebelum
kolam/kolam diairi, dengan dosis tertentu tergantung jenis pupuk yang digunakan. Untuk pupuk
anorganik, pupuk diberikan 12-14 hari sebelum penebaran benih, sebagai pupuk dasar sebanyak
setengah dari dosis seluruhnya. Pada waktu pemupukan pintu pemasukan dan pengeluaran harus
ditutup, air dalam kolam diusahakan macak-macak sampai 2-3 hari. Pupuk ditebarkan merata
pada dasar kolam/kolam, kemudian air dimasukkan sampai setinggi ± 5 cm. Bila kelekap mulai
tumbuh, air dimasukkan lagi sampai mencapai ketinggian kurang lebih 15 cm, kemudian air
berangsur-angsur dinaikkan sampai mencapai ketinggian ± 80 cm.
4. Waktu pemupukan
Pemupukan pada umumnya dilakukan pada waktu musim kemarau. Hal ini dikarenakan
membantu proses pengeringan lahan selain itu agar pupuk yang ditebar tidak mengalami
pencuian oleh air hujan.

Hubungan Kesuburan Tanah Dengan Kesuburan Perairan


Tanah yang banyak mengandung bahan organik dikatakan sebagai pemasok zat hara N
dan P yang dapat mempercepat pertumbuhan alga di kolam atau kolam. Sedangkan keberadaan
alga merupakan indikator kesuburan perairan. Dari beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa
tingginya kesuburan tanah diikuti tingginya kesuburan air. Tanah kolam yang bersifat alkalis
yaitu pH nya 6 -7, kaya akan garam–garam natrium, menyebabkan pertumbuhan kelekap
menjadi baik sehingga kolam tersebut dikatakan memiliki perairan yang subur (Suyanto, 1984
dalam Subarijanti, 2000).
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Pemupukan adalah proses pemberian pupuk pada kolam. Setelah dilakukan tahap – tahap
sebelumnya, air dikolam harus dipupuk dengan pupuk NPK dosis 4 – 5 ppm dan penambahan
pupuk organik (kotoran ayam) dosis 0,1 ppm.
Pupuk dibagi menjadi 2 yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. penggunaan pupuk
organik biasanya dengan cara mengonggokkan pupuk di pelataran dan membenamkannya ke
dalam tanah sebelum kolam/kolam diairi, dengan dosis tertentu tergantung jenis pupuk yang
digunakan. Pemupukan pada umumnya dilakukan pada waktu musim kemarau ,Hal ini
dikarenakan membantu proses pengeringan lahan selain itu agar pupuk yang ditebar tidak
mengalami pencuian oleh air hujan.

Saran
Sebaiknya dalam pemupukan harus memperhatikan kondisi dan jenis tanah kolam yang
akan dipupuk.

Anda mungkin juga menyukai