Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR AKUAKULTUR
PEMBERSIHAN , PENGERINGAN, DAN PENGAPURAN
KOLAM IKAN
Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Dasar – dasar akuakultur
Pembimbing Agung K , S.Pi

Disusun oleh :
INGGIT UTAMI EKA PUTRI
NPM : 20742047

D3 BUDIDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

2020
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kolam adalah merupakan suatu wadah yang sering kita lihat atau kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Kolam adalah genagan air yg kondisinya dapat dikendalikan. Biasanya
kolam terbuat dari tanah, tembok, atau beton. Kolam tanah umumnya memiliki pematang yang
rapuh dan mudah dilubangi hama seperti, kepiting sehinggah mudah bocor. Kolam memiliki
banyak manfaat bagi manusia, kolam memiliki bentuk yang berfariasi, ada yang berbentuk segi
empat, berbentuk bujur, dan ada juga yang berbentuk bundar. Kolam pada umumnya memiliki
fungsi sebagai tempat pembudidayaan.
Kolam merupakan lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah tertentu
sehingga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan dan atau hewan air lainnya. Berdasarkan
pengertian teknis (Susanto, 1992), kolam merupakan suatu perairan buatan yang luasnya terbatas
dan sengaja dibuat manusia agar mudah dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budidaya
dan target produksinya. Kolam selain sebagai media hidup ikan juga harus dapat berfugsi sebagai
sumber makanan alami bagi ikan, artinya kolam harus berpotensi untuk dapat menumbuhkan
makanan alami.
Awalnya kegiatan budidaya ikan dilakukan secara sederhana dengan membangun kolam
di belakang rumah untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Namun tingginya permintaan
ikan air tawar memacu perkembangan teknik budidaya untuk mendapatkan hasil produksi yang
maksimal. Saat ini kegiatan budidaya ikan di kolam merupakan salah satu usaha dan mata
pencaharian yang menguntungkan masyarakat. Keberhasilan budidaya ikan di kolam sangat
tergantung pada beberapa faktor, yaitu faktor teknis dan sosial-ekonomis di sekitar kolam. Faktor
teknis antara lain topografi, jenis tanah, kuantitas dan kualitas air, serta faktor pengadaan benih
dan pakan ikan; sedangkan faktor sosial ekonomi menyangkut masalah tenaga kerja dan kondisi
masyarakat di sekitar bangunan kolam.
Sekarang ini kolam sudah memiliki banyak fungsi yang bermanfaat bagi manusia, tetapi
kurangnya kesadaran dari masyarakat ataupun individu untuk menjaga agar keberadaan kolam
tetap terjaga.maka dari itu bagaimana cara kita menjaga agar kolam itu tetap terjaga, tetap bersih,
dan bagaimana cara kita untuk mengembangakan kolam untuk masa yang akan datang.

Tujuan
Tujuan dari praktikum teknik konstruksi sarana budidaya ini adalah
1. Untuk mengetahui cara membersihkan kolam.
2. Untuk mengetahui pengeringan pada kolam.
3. Untuk mengetahui pengapuran pada kolam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kolam merupakan lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah tertentu
sehingga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan dan atau hewan air lainnya. Berdasarkan
pengertian teknis (Susanto, 1992), kolam merupakan suatu perairan buatan yang luasnya terbatas
dan sengaja dibuat manusia agar mudah dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budidaya
dan target produksinya. Kolam selain sebagai media hidup ikan juga harus dapat berfugsi sebagai
sumber makanan alami bagi ikan, artinya kolam harus berpotensi untuk dapat menumbuhkan
makanan alami.
Fungsi dan manfaat kolam :
• Fungsi ekologis:
(a) habitat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan air,
(b) sumber plasma nutfah
• Manfaat ekonomis kolam:
(a) menghasilkan berbagai sumber daya alam bernilai ekonomis,
(b) meningkatkan perekonomian masyarakat,
(c) sarana pariwisata / rekreasi.
Proses pembuatan kolam :
Kolam merupakan lahan basah buatan yang dapat dikelola dan diatur langsung oleh
manusia untuk kebutuhan budidaya ikan. Berdasarkan proses pembentukannya, kolam dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu kolam yang sengaja dibangun dan kolam yang tidak sengaja
dibangun.
Jenis-jenis kolam yang akan digunakan sangat tergantung kepada sistem budidaya yang
akan diterapkan. Ada tiga sistem budidaya ikan air yang biasa dilakukan yaitu :
1. Tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam yang
keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah
2. Semi intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang bagian kolamnya(dinding
pematang) terbuat dari tembok sedangkan dasar kolamnya terbuat dari tanah
3. Intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang keseluruhan bagian kolam terdiri
dari beton.
Jenis-jenis kolam berdasarkan sumber air yang digunakan adalah kolam air
mengalir/running water dengan sumber air berasal dari sungai atau saluran irigasi dimana pada
kolam tersebut selalu terjadi aliran air yang debitnya cukup besar (50 l/detik) dan kolam air
tenang/ stagnant water dengan sumber air yang digunakan untuk kegiatan budidaya adalah
sungai, saluran irigasi, mata air, hujan dan lain-lain tetapi aliran air yang masuk ke dalam kolam
sangat sedikit debit airnya (0,5 – 5 l/detik) dan hanya berfungsi menggantikan air yang meresap
dan menguap.
Jenis-jenis kolam yang dibutuhkan untuk membudidayakan ikan berdasarkan proses
budidaya dan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi beberapa kolam antara lain adalah kolam
pemijahan, kolam penetasan, kolam pemeliharaan/ pembesaran, kolam pemberokan induk .
BAB III
METODOLOGI

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan hari Rabu, 25 November 2020 di Laboratorium Politeknik
Negeri Lampung.
Alat dan Bahan
1. Sikat untuk membersihkan dinding kolam
2. Sekop untuk menyerok endapan kotoran ( lumpur )
3. Air
4. Wadah tempat penampungan ikan sementara
5. Ember / selang air untuk menguras air kolam
6. Jaring penangkap ikan
Langkah Kerja
 Menyiapkan wadah penampungan sementara.
Sebelum mulai membersihkan, sediakan wadah untuk menjadi tempat penampungan
sementara ikan. Pastikan wadah cukup besar, lalu isi dengan air dari kolam ikan.
 Menguras kolam.
Kosongkan isi kolam sebelum membersihkan. Ada beberapa cara menguras kolam. Jika
ukuran kolam tidak terlalu besar, Anda bisa menggunakan ember. Jika ukuran kolam
cukup besar, gunakan selang air untuk menyedot air ke luar kolam. Setelah air tersisa
kurang lebih seperempatnya, ini waktunya untuk memindahkan ikan ke wadah sementara
 Memindahkan ikan.
Pindahkan ikan ke dalam wadah penampungan sementara. Gunakan jaring penangkap
ikan untuk mencegah ikan jatuh, lalu lepaskan dengan hati-hati ke dalam wadah.
 Membuang kotoran mengendap.
Setelah selesai dikuras, saatnya membersihkan dasar kolam. Jika ada endapan kotoran
seperti lumpur, Anda dapat menggunakan sekop untuk menyeroknya. Gunakan sikat
untuk membersihkan dasar dan dinding kolam dengan cara menggosoknya. Menggosok
menggunakan sikat juga efektif sebagai cara membersihkan lumut di kolam ikan
 Mengembalikan ikan dan tanaman air.
Setelah kolam bersih, isi kembali dengan air. Lanjutkan dengan memindahkan ikan ,
beserta seluruh air dalam wadah penampungan sementara ke dalam kolam.
BAB IV
PEMBAHASAN

Kolam Semen
Kolam semen adalah kolam yang bagian dasar kolam dan pematangnya di beton sehingga
tidak mudah rusak (permanen). Untuk kolam ini umumnya dengan luasan 100 m², lebar
pematang cukup dibuat dengan lebar 30-40 cm dengan ketinggian 1-1,5 m, dan ketinggian air
60-100 cm.

Gambar 1.Kolam Semen

1. Kolam semen ini bersifat permanen sehingga untuk kegiatan budidaya ikan dalam
jangka waktu panjang sangat cocok untuk diterapkan. Ada beberapa faktor mengapa
kolam semen dipilih dalam melakukan kegiatan budidaya, yaitu Keadaan
tanah/lingkungan tidak memungkinkan atau kurang sesuai untuk dibuat kolam tanah.
2. Sistem pemeliharaan yang dipilih.
Kolam semen memiliki sebutan kolam solid, karena kolam ini secara keseluruhan baik
dinding maupun dasar kolam terlapisi bahan solid yang kedap air seperti semen, batu cetak,
fiber, kaca ataupun logam anti karat. Air di dalam kolam ini tidak bersentuhan langsung dengan
tanah bebas/bumi.
Kelebihan dan Kekurangan Kolam Semen
Kolam semen merupakan salah satu opsi yang digunakan dalam pemeliharaan kultivan.
Kolam semen memiliki kelebihan yaitu sebagai berikut.
1. Air kolam dapat dibiarkan melewati atau di atas permukaan tanah, sehingga air tidak
merembes.
2. Penggunaan relatif lebih lama yakni mampu bertahan hingga 5 – 10 tahun
3. Sistem pengairan dapat dibuat dengan baik, untuk memaksimalkan sirkulasi air,
pengeringan kolam dan juga perawatan.
4. Kolam tidak mudah rusak, terkikis maupun berlubang.
5. Perawatan kolam yang lebih mudah.
6. Ukuran kolam yang lebih tepat, presisi dan lebih flexible dalam bentuk, sesuai dengan
kebutuhan.
7. Kolam terlihat lebih rapi
8. Proses pengeringan kolam lebih cepat (1-2 hari).
9. Relatif lebih aman dari predator dan kompetitor alami.
Sedangkan kekurangan dari kolam semen yaitu sebagai berikut
1. Biaya pembuatan kolam yang relatif mahal.
2. Bersifat permanen, jadi tidak bisa dipindah-pindah
3. Pertumbuhan plankton dan hewan renik pada kolam solid tidak dapat mencapai tingkat
optimal dikarenakan media yang tidak alami.

Lokasi Pembuatan Kolam Semen


Kolam semen bisa dibuat di areal persawahan, di pekarangan rumah, atau di lokasi
manapun selama mencukupi untuk dibuat kolam. Konstruksi kolam semen yang perlu
diperhatikan adalah tidak mudah pecah atau retak. Kolam semen dapat dibuat diatas tanah yang
baik maupun poros tergantung keinginan (Bachtiar, 2010).

Pengeringan kolam
Pengeringan kolam tanah harus dilakukan setiap kali budidaya ikan dimulai. Caranya
dengan mengosongkan isi kolam dan menjemur dasar kolam.
Pengeringan dasar dilakukan untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit yang
mungkin ada pada periode budidaya sebelumnya. Sebagian besar mikroorganisme patogen akan
mati dengan sinar matahari kekeringan. Selain itu, penjemuran juga membantu menghilangkan
gas-gas beracun yang terperangkap di dasar kolam

Pengapuran Kolam
Pengapuran kolam budidaya dilakukan dengan cara disebar merata dipermukaan tanah
dasar kolam. Setelah disebar tanah dasar kolam dibalik dengan cangkul sehingga kapur bisa lebih
masuk ke dalam lapisan tanah dasar. Pengapuran untuk kolam semen dan terpal dilakukan
dengan cara dinding kolam dan dasar terpal di kuas dengan kapur yang telah dicampur air. Kapur
yang sering digunakan adalah kapur pertanian atau dolomite dengan dosis 60g/m2. Pengapuran
kolam dilakukan untuk menaikkan pH tanah dan membunuh bibit penyakit.
Slama proses pengapuran biarkan selama 5-7 hari dan barulah di lakukan pemupukan, setelah
pengapuarn di lakukan maka perlu juga di lakukan pemupukan ,pemupukan ini juga bertujuan
untuk penyuburan kolam ikan.
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Kolam merupakan lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah tertentu sehingga
dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan dan atau hewan air lainnya. Berdasarkan pengertian
teknis (Susanto, 1992), kolam merupakan suatu perairan buatan yang luasnya terbatas dan
sengaja dibuat manusia agar mudah dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budidaya dan
target produksinya. Kolam selain sebagai media hidup ikan juga harus dapat berfugsi sebagai
sumber makanan alami bagi ikan, artinya kolam harus berpotensi untuk dapat menumbuhkan
makanan alami. Kolam semen adalah kolam yang bagian dasar kolam dan pematangnya di beton
sehingga tidak mudah rusak (permanen). Untuk kolam ini umumnya dengan luasan 100 m², lebar
pematang cukup dibuat dengan lebar 30-40 cm dengan ketinggian 1-1,5 m, dan ketinggian air
60-100 cm.
Pengeringan dasar dilakukan untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit yang
mungkin ada pada periode budidaya sebelumnya.
Pengapuran untuk kolam semen dan terpal dilakukan dengan cara dinding kolam dan dasar
terpal di kuas dengan kapur yang telah dicampur air. Kapur yang sering digunakan adalah kapur
pertanian atau dolomite dengan dosis 60g/m2. Pengapuran kolam dilakukan untuk menaikkan pH
tanah dan membunuh bibit penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/36338293/Budidaya_Ikan_di_Kolam_Semen
http://aminasiti.blogspot.com/2011/04/makalah-kolam-budidaya-perairan.html
https://alamtani.com/persiapan-kolam/
http://nurseconcoy.blogspot.com/2016/03/cara-pengapuran-dan-pemupukan-pada.html
https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/kolam-balong/

Anda mungkin juga menyukai