Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ANATOMI DAN FISIOLOGI IKAN


APLIKASI PROBIOTIK PADA SALURAN
PENCERNAAN IKAN
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Anatomi Dan Fisiologi Ikan
Dosen Pembimbing Adni Oktaviana, S.Pi.,M.Si.

Disusun oleh :
INGGIT UTAMI EKA PUTRI
NPM : 20742047

D3 BUDIDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Aplikasi probiotik pada saluran
pencernaan ikan ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas anatomi dan
fisiologi ikan Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Aplikasi
probiotik pada saluran pencernaan ikan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu Adni Oktaviana, S.Pi.,M.Si. selaku dosen
Anatomi dan fisiologi ikan yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah
pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Manisak, 26 November 2020

INGGIT UTAMI EKA PUTRI


DAFTAR ISI

Kata pengantar ..............................................................................................


Daftar isi................... .....................................................................................
BAB I Pendahuluan ......................................................................................
1.1 Latar belakang ..................................................................................
1.2 Tujuan penulisan ..............................................................................
BAB II Pembahasan ......................................................................................
2.1 Pencernaan makanan ........................................................................
2.2 Laju pengosongan lambung ................................................................
2.3 Faktor yang mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung ..........
BAB III Penutup ...........................................................................................
3.1 Kesimpulan ......................................................................................
Daftar pustaka ...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pakan yang dikonsumsi oleh ikan akan mengalami proses digesti didalam sistem
penncernaan sebelum nutrisi pakan dimanfaatkan untuk keperluan biologis ikan .proses digesti
dalam sistem pencernaan akan melibatkan peran enzim –enzim pencernaan. Hasil proses digesti
pakan yang berupa asam amino,asam lemak dan monosakarida selanjutnya akan di absorbsi oleh
epitel intestin lalu di edarkan ke seluruh tubuh oleh sistemn sirkulasi. Laju digesti pakan
umumnya berkolerasi dengan laju metabolisme ikan pada kondisi temperatur air yang optimal
bagi ikan maka laju metabolisme ikan meningkat dan meningkatnya laju metabolisme ikan
iniharus diimbangbi dengan paokan pakan yang diperoleh dari lingkungannya pada umumnya
ikan yang bersifat poikiloterm,maka pada temperature air yang meningkat nafsu makan ikan juga
menurun.
Proses digesti pakan yang diperoleh ikan akan dimulai dari lambung,dan di lanjutkan
pada intestine yang akan berakhir hingga anus. Yang merupakan pembuangan bahan sisa.proses
digesti yang terjadi didalam lambung,laju digestinya dapat di ukur dari laju pengosongan
lambung. Laju digesti atau laju pengosongan lambung selain dipengaruhi oleh temperatur air
juga dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi. Perbedaan kualitas pakan akan perbedaan
komponen penyusun,penyusunan akan,dan perbedaan ini akan berakibat pada perbedaan laju dan
kemampuan digesti pakan. Pakan ikan adalah merupakan campuran berbagai bahan pangan yang
biasa diosebut dengan bahan mentah atau bahan baku yang baik bagi pertumbuhan ikan,baik
yang bersifat nabati ataupun yang bersifat hewani,yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah
untuk dimakan dan di cerna oleh tubuh ikan. Dengan kata lain pakan ikan adalah makanan yang
khusus dibuat atau diproduksi agar mudah dan tersedia untuk dimakan. Pakan ikan sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan tubuh ikan (sirregar,1995).

1.2 Tujuan
Untuk melihat laju mengetahui bentuk lambung yang kosong dan berisi pakan,terampil
dalam mengisolasi lambung ikan dan dapat menghitung laju pengosongan lambung.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pencernaan Makanan


Pencernaan adalah suatu proses penyederhanaan makanan melalui mekanisme fisik dan
kimiawi sehingga menjadi bahan yang mudah diserap dan disebarka ke seluruh tubuh melalui
system peredaran darah. Dalam proses pencernaan,organ pencernaan bukan hanya berperan
sebagai alat kerja mekanik, tetapi juga sebagai pnghasil cairan yang berfungsi sebagai katalisator
dalam pencernaan.bila diurut secara berurutan dari awal makanan masuk ke mulut sampai ke
proses pencernaan dan selanjutnya sisa makanan yang tidak dicerna dibuang dalam bentuk feses
melalui anus, maka organ yang berperan dalam pencernaan, yaitu:
1. Mulut
Organ pertama yang langsung berhubungan dengan makanan adalah mulut. Letak
mulut satu spesies ikan dapat berbeda-beda dengan spesies lainnya. Tipe mulut dengan
letak mulut bagian ujung depan kepala dinamakan tipe terminal. Letak mulut yang
letaknya dibagian atas adalah tipe superior. Tipe ini mendapatkan makanan dari
permukaan atau menunggu pada dasar perairan. Letak mulut dibagian bawah adalah tipe
inferior, mencari makanan pada dasar perairan.
2. Tekak
Tekak terletak diantara mulut bagian belakang dan insang bagian belakang. Pada
sisi kiri dan kanan tekak terdapat insang. Pada dinding atas dan bawah tekak biasanya
terdapat gigi tekak.
3. Kerongkongan
Dibelakang tekak terdapat kerongkongan, yang memanjang kearah posterior
berbatasan dengan lambung. Kerongkongan merupakan saluran yang pendek dengan
penampang yang bundar. Organ ini sangat elastic, sehingga mempunyai kemampuan
untuk menggembung.
4. Lambung
Lambung terletak diantara kerongkongan dan pilorik dengan bentuk yang
bermacam-macam, antara lain bentuk tabung, lengkung, kantung, huruf U, dan huruf V.
Fungsi utama lambung adalah menerima dan menampung makanan serta sebagai tempat
pencernaan makanan. Tidak semua jenis ikan memiliki lambung, Cyprinidae dan
Scaridae kelompok ikan yang tidak memiliki lambung.
5. Insang
Insang terletak di belakang rongga mulut. Umumnya terdapat empat pasang
lengkung pada ikan bertulang sejati dan lima sampai tujuh pesang lengkung insang pada
chondricthyes.
6. Pilorik
Diantara lambung dan usus terdapat pilorik, yang merupakan penyempitan saluran
pencernaan. Pada bagian ini terdapat penebalan lapisan otot licin melingkar. Pilorik
berfungsi mengatur pengeluaran makanan dari lambung dan masuk ke usus.

7. Usus
Usus berada diantara pilorik dan rectum. Usus memiliki beberapa lapisan yakni
lapisan mukosa, submukosa, muskulus, dan serosa. Fungsi usus adalah sebagai organ
untuk mencerna makanan dan tempat penyerapan makanan.
8. Rektum dan Anus
Dibagian belakang usus terdapat segmen rectum. Rectum ini terletak di antara
katup rectum dan anus. Katup rectum merupakan penyempitan saluran pencernaan akibat
penebalan otot licin melingkar, mengatur pengeluaran makanan yang tidak dicerna dari
bagian usus ke bagian rectum. Fungsi utama rectum adalah menyerap air dan mineral,
dan memproduksi lendir untuk mempermudah pengeluaran makanan tak tercerna.

2.2 Laju Pengosongan Lambung


Pengosongan lambung terjadi bila adanya faktor berikut ini : Impuls syaraf yang
menyebabkan terjadinya distensi lambung (penggelembungan), Diproduksinya hormon gastrin
pada saat makanan berada dalam lambung. Saat makanan berada dalam lambung, setelah
mencapai kapasitas maksimum maka akan terjadi distensi lambung oleh impuls saraf (nervus
vagus). Disaat bersamaan, kehadiran makanan terutama yang mengandung protein merangsang
diproduksinya hormone gastrin. Dengan dikeluarkannya hormone gastrin akan merangsang
esophageal sphincter bawah untuk berkontraksi, motilitas lambung meningkat, dan pyloric
sphincter berelaksasi. Efek dari serangkaian aktivitas tersebut adalah pengosongan
lambung.Lambung mengosongkan semua isinya menuju ke duodenum dalam 2-6 jam setelah
makanan tersebut dicerna di dalam lambung. Makanan yang banyak mengandung karbohidrat
menghabiskan waktu yang paling sedikit di dalam lambung atau dengan kata lain lebih cepat
dikosongkan menuju duodenum. Makanan yang mengandung protein lebih lambat, dan
pengosongan yang paling lambat terjadi setelah kita memakan makanan yang mengandung
lemak dalam jumlah besar.

2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Pengosongan Lambung


Laju pengosongan lambung dapat didefinisikan sebagai laju dari sejumlah pakan yang bergerak
melwati saluran pencernaan per-satuan waktu tertentu, yang dinyatakan sebagai g/jam atau
mg/menit. Faktor- faktor yang mempengaruhi laju pengosongan lambung menurut Arispurnomo
(2010) antara lain adalah sebagai berikut :
1. Pompa Pilorus dan Gelombang Peristaltik
Pada dasarnya, pengosongan lambung dipermudah oleh gelombang peristaltik pada
antrum lambung, dan dihambat oleh resistensi pilorus terhadap jalan makanan. Dalam keadaan
normal pilorus hampir tetap, tetapi tidak menutup dengan sempurna, karena adanya kontraksi
tonik ringan. Tekanan sekitar 5 cm, air dalam keadaan normal terdapat pada lumen pilorus
akibat pyloric sphincter. Ini merupakan penutup yang sangat lemah, tetapi, walaupun demikian
biasanya cukup besar untuk mencegah aliran chyme ke duodenum kecuali bila terdapat
gelombang peristaltik antrum yang mendorongnya.Gelombang peristaltik pada antrum, bila aktif,
secara khas terjadi hampir pasti tiga kali per menit, menjadi sangat kuat dekat insisura angularis,
dan berjalan ke antrum, kemudian ke pilorus dan akhirnya ke duodenum. Ketika gelombang
berjalan ke depan, pyloric sphincter dan bagian proksimal duodenum dihambat, yang merupakan
relaksasi reseptif. Pada setiap gelombang peristaltik, beberapa millimeter chyme didorong masuk
ke duodenum.Derajat aktivitas pompa pilorus diatur oleh sinyal dari lambung sendiri dan juga
oleh sinyal dari duodenum.
Sinyal dari lambung adalah derajat peregangan lambung oleh makanan, dan adanya
hormon gastrin yang dikeluarkan dari antrum lambung akibat respon regangan. Kedua sinyal
tersebut mempunyai efek positif meningkatkan daya pompa pilorus dan karena itu
mempermudah pengosongan lambung. Sebaliknya, sinyal dari duodenum menekan aktivitas
pompa pilorus. Pada umumnya, bila volume chyme berlebihan atau chyme tertentu berlebihan
telah masuk duodenum. Sinyal umpan balik negatif yang kuat, baik syaraf maupun hormonal
dihantarkan ke lambung untuk menekan pompa pilorus. Jadi, mekanisme ini
memungkinkan chyme masuk ke duodenum hanya secepat ia dapat diproses oleh usus halus.
2. Volume Makanan
Volume makanan dalam lambung yang bertambah dapat meningkatkan pengosongan dari
lambung. Tekanan yang meningkat dalam lambung bukan penyebab peningkatan pengosongan
karena pada batas-batas volume normal, peningkatan volume tidak menambah peningkatan
tekanan dengan bermakna,. Sebagai gantinya, peregangan dinding lambung menimbulkan refleks
mienterik lokal dan refleks vagus pada dinding lambung yang meningkatkan aktivitas pompa
pilorus. Pada umumnya, kecepatan pengosongan makanan dari lambung kira-kira sebanding
dengan akar kuadrat volume makanan yang tertinggal dalam lambung pada waktu tertentu.
3. Hormon Gastrin
Peregangan serta adanya jenis makanan tertentu dalam lambung menimbulkan
dikeluarkannya hormon gastrin dari bagian mukosa antrum. Hormon ini mempunyai efek yang
kuat menyebabkan sekresi getah lambung yang sangat asam oleh bagian fundus lambung. Akan
tetapi, gastrin juga mempunyai efek perangsangan yang kuat pada fungsi motorik lambung. Yang
paling penting, gastrin meningkatkan aktivitas pompa pilorus sedangkan pada saat yang sama
melepaskan pilorus itu sendiri. Jadi, gastrin kuat pengaruhnya dalam mempermudah
pengosongan lambung. Gastrin mempunyai efek konstriktor pada ujung bawah esofagus untuk
mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus selama peningkatan aktivitas lambung.
4. Refleks Enterogastrik
Sinyal syaraf yang dihantarkan dari duodenum kembali ke lambung setiap saat,
khususnya bila lambung mengosongkan makanan ke duodenum. Sinyal ini mungkin memegang
peranan paling penting dalam menentukan derajat aktivitas pompa pilorus, oleh karena itu, juga
menentukan kecepatan pengosongan lambung. Refleks syaraf terutama dihantarkan melalui
serabut syaraf aferen dalam nervus vagus ke batang otak dan kemudian kembali melalui serabut
syaraf eferen ke lambung, juga melalui nervus vagus. Akan tetapi, sebagian sinyal mungkin
dihantarkan langsung melalui pleksus mienterikus. Refleks enterogastrik khususnya peka
terhadap adanya zat pengiritasi dan asam dalam chyme duodenum. Misalnya, setiap saat dimana
pH chyme dalam duodenum turun di bawah kira-kira 3.5 sampai 4, refleks enterogastrik segera
dibentuk, yang menghambat pompa pilorus dan mengurangi atau menghambat pengeluaran lebih
lanjut isi lambung yang asam ke dalam duodenum sampai chyme duodenum dapat dinetralkan
oleh sekret pankreas dan sekret lainnya. Hasil pemecahan pencernaan protein juga akan
menimbulkan refleks ini, dengan memperlambat kecepatan pengosongan lambung, cukup waktu
untuk pencernaan protein pada usus halus bagian atas. Cairan hipotonik atau hipertonik
(khususnya hipertonik) juga akan menimbulkan refleks enterogastrik. Efek ini mencegah
pengaliran cairan nonisotonik terlalu cepat ke dalam usus halus, karena dapat mencegah
perubahan keseimbangan elektrolit yang cepat dari cairan tubuh selama absorpsi isi usus.
5. Umpan Balik Hormonal dari Duodenum – Peranan Lemak
Bila makanan berlemak, khususnya asam-asam lemak, terdapat dalam chyme yang masuk
ke dalam duodenum akan menekan aktivitas pompa pilorus dan pada akhirnya akan menghambat
pengosongan lambung. Hal ini memegang peranan penting memungkinkan pencernaan lemak
yang lambat sebelum akhirnya masuk ke dalam usus yang lebih distal. Walaupun demikian,
mekanisme yang tepat dimana lemak menyebabkan efek mengurangi pengosongan lambung
tidak diketahui secara keseluruhan. Sebagian besar efek tetap terjadi meskipun refleks
enterogastrik telah dihambat. Diduga efek ini akibat dari beberapa mekanisme umpan balik
hormonal yang ditimbulkan oleh adanya lemak dalam duodenum.
6. Kontraksi Pyloric Sphincter
Biasanya, derajat kontraksi pyloric sphincter tidak sangat besar, dan kontraksi yang
terjadi biasanya dihambat waktu gelombang peristaltik pompa pilorus mencapai pilorus. Akan
tetapi, banyak faktor duodenum yang sama, yang menghambat kontraksi lambung, dapat secara
serentak meningkatkan derajat kontraksi dari pyloric sphincter. Faktor ini menghambat atau
mengurangi pengosongan lambung, dan oleh karena itu menambah proses pengaturan
pengosongan lambung. Misalnya, adanya asam yang berlebihan atau iritasi yang berlebihan
dalam bulbus duodeni menimbulkan kontraksi pilorus derajat sedang.
7. Keenceran Chyme
Semakin encer chyme pada lambung maka semakin mudah untuk dikosongkan. Oleh
karena itu, cairan murni yang dimakan, dalam lambung dengan cepat masuk ke dalam
duodenum, sedangkan makanan yang lebih padat harus menunggu dicampur dengan sekret
lambung serta zat padat mulai diencerkan oleh proses pencernaan lambung. Selain itu
pengosongan lambung juga dipengaruhi olehpemotongan nervus vagus dapat memperlambat
pengosongan lambung, vagotomi menyebabkan peregangan lambung yang relatif hebat, keadaan
emosi, kegembiraan dapat mempercepat pengosongan lambung dan sebaliknya ketakutan dapat
memperlambat pengosongan lambung.
Pengamatan Laju Pengosongan Lambung menggunakan prinsip bahwa lambung yang
pada awalnya penuh secara berangsur-angsur akan kosong kembali karena adanya proses
pengangkutan makanan menuju usus untuk diserap oleh tubuh. Lama waktu yang digunakan
untuk mengosongkan lambung ini dipengaruhi oleh jenis pakan dan faktor lingkungan. Untuk
menentukan nilai ISC dapat diperoleh dari rumus “volume materi lambung : volume lambung x
100%”. Dari data diatas dapat kita lihat bahwa nilai ISC terbesar ada pada pengamatan jam ke-4
yakni sebesar 15.29%. Tingginya nilai ISC ini dipengaruhi oleh tingginya nilai volume materi
lambung yakni sebesar 0.26 ml. Hal ini diakibatkan pada jam ke-4, ikan mulai lahap memakan
pakan yang disediakan setelah sebelumnya terjadi proses pengadaptasian setelah ikan mengalami
perlakuan pemuasaan selama 24 jam. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ISC secara
langsung adalah volume materi lambung serta volume maksimal lambung. Sedangkan kedua
faktor tadi dipengaruhi oleh jenis pakan, faktor lingkungan seperti suhu, pH, tingkat kekeruhan,
tingkat DO dll, dan juga tingkat stress ikan yang sebelumnya dipuasakan selama 24 jam.
Setiap ikan memiliki bentuk dan ukuran lambung yang berbeda-beda. Derajat kepenuhan
lambung pada ikan akan berbeda, tergantung dari berat, panjang dan bentuk lambung. Dengan
bertambahnya ukuran ikan, besar ukuran makanannya juga bertambah, jadi semakin besar derajat
kepenuhan lambung maka semakin besar kepenuhan lambung ikan dalam satu kali makan.
Volume material lambung yaitu jumlah isi material yang berada pada lambung pada waktu
tertentu. Sedangkan volume total lambung yaitu jumlah kapasitas total lambung.
Derajat kepenuhan lambung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang
mempengaruhi derajat kepenuhan lambung, yaitu berat dan ukuran tubuh yang berbeda,
perbedaan jenis ikan, ukuran dan bentuk lambung, keadaan tubuh ikan, dan perbedaan habitat
ikan. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh kebiasaan makanan (affandi, 2002). Kebiasaan makanan
ikan berhubungan dengan bentuk, posisi mulut, gerigi dalam rahang, dan kesesuaian tapis insang.
Makanan yang tersedia di alam dimanfaatkan oleh ikan, pemanfaatan ini dapat diketahui dengan
mengambil contoh makanan yang ada pada lambungnya dan dilengkapi dengan daftar pakan
harian yang diambil ikan dalam berbagai umur dan ukuran (Affandi, 2002). Laju pengosongan
lambung dapat dijadikan indikator tentang dasar penentuan frekuensi pemberian pakan.
Selain itu pengosongan lambung juga dipengaruhi oleh :

1. Pemotongan nervus vagus dapat memperlambat pengosongan lambung.


2. Vagotomi menyebabkan atoni dan peregangan lambung yang relatif hebat.


3. Keadaan emosi, kegembiraan dapat mempercepat pengosongan lambung dan sebaliknya


ketakutan dapat memperlambat pengosongan lambung
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
laju pengosongan lambung setiap ikan berbeda, karena memiliki perbedaan ukuran dan
jenis lambung. Semakin lama periode maka lambung akan semakin kosong. Lama waktunya
pengosongan lambung ini dipengaruhi oleh jenis pakan, faktor lingkungan, dan daya cerna ikan
tersebut.Faktor yang mempengaruhi Laju pengosongan lambung adalah pompa pylorus dan
gelombang peristaltik, volume makanan, hormone gastrin, refleks enterogastrik, umpan balik
dari hormonal, Kontraksi Pyloric Sphincter, Kontraksi Pyloric Sphincter.
DAFTAR PUSTAKA

http://princerioz.wordpress.com/2009/10/31/pengosongan-lambung/
http://www.slideshare.net
https://www.academia.edu/5236824/Laporan_Praktikum_FHA_Laju_Pengosongan_Lambung

Anda mungkin juga menyukai