Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Penggunaan media elektronik pada abad ke-21 telah meningkat secara drastis.
Pada abad ke-21, kehidupan sehari-hari dan budaya telah terkait dengan penggunaan
media elektronik dan media massa. Salah satu kekhawatiran yang dapat ditemukan
dalam penggunaan media elektronik dan aksesibilitas terhadap media-media tersebut
yang mudah dapat adalah dampaknya terhadap perkembangan anak apabila terpapar
terhadap media elektronik tersebut. 1, 2

Sekitar 80% seluruh anak pra-remaja dan remaja di Amerika Serikat memiliki
satu atau lebih perangkat media elektronik (seperti smartphone, telefon genggam, dan
lainnya). Selain memiliki akses yang lebih banyak untuk perangkat elektronik, anak-
anak dan para remaja mulai menggunakannya dengan durasi yang lebih lama. Menurut
survei oleh Kaiser Family Foundation di Amerika Serikat, ditemukan bahwa anak-anak
berusia 8 – 18 tahun menggunakan media elektronik rata-rata selama 6 jam dan 21
menit setiap hari. Angka tersebut merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan oleh
karena rekomendasi dari American Academy of Pediatrics yang memberikan
rekomendasi untuk menurunkan durasi konsumsi media elektronik di bawah 2 jam
sehari.3, 4
Khusus untuk media elektronik portabel (smartphone, tablet, dan telepon
genggam), peningkatan yang signifikan dalam jumlah anak yang memiliki alat-alat
tersebut dapat ditemukan di banyak negara. Pada Jerman, ditemukan prevalensi
penggunaan yang meningkat, dari 25% remaja pada tahun 2011 menjadi 70% remaja
pada tahun 2013. Di seluruh dunia, lebih dari 60% keluarga dengan anak kecil memiliki
smartphone dan 40% memiliki tablet. Di Hong Kong, dapat ditemukan lebih dari
90%.untuk tingkat penggunaan smartphone pada kalangan anak usia sekolah dasar dan
sekolah menengah.5
Anak-anak senantiasa bertumbuh dan berkembang, di mana pada abad ke-21 ini
mulai mengalami perubahan dari interaksi dengan teman sebaya menjadi lebih dominan
interaksi terhadap media elektronik. Meskipun media elektronik berkontribusi
signifikan terhadap kemajuan peradaban selama abad ke-21, dampaknya terhadap anak-
anak dan remaja dapat bersifat signifikan, baik secara fisik maupun mental.6, 7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penggunaan Media Elektronik pada Anak


Tren terkini yang terjadi adalah penggunaan media elektronik modern (smartphone,
telepon genggam, tablet) yang meningkat dan penggunaan media elektronik tradisional
(televisi, radio) yang menurun. Hal ini disebabkan oleh karakteristik dari media
elektronik modern yang mudah dibawa serta menyediakan berbagai macam aplikasi
yang dapat digunakan dalam satu paket, sehingga dapat meningkatkan interaksi antara
pengguna dan alat. Salah satu hal yang dikhawatirkan dari sifat media elektronik
modern yang bersifat portabel dan mudah diakses di mana saja dapat mengakibatkan
terbentuknya kebiasaan penggunaan media elektronik dengan durasi yang lebih lama.
Walaupun tingkat penggunaan media elektronik tradisional telah menurun, waktu tanpa
penggunaan tersebut sebagian besar digantikan dengan penggunaan media elektronik
modern.2

Akses media elektronik untuk anak menjadi semakin bertambah. Menurut


penelitian pada komunitas di Philadelphia, Amerika Serikat, ditemukan hampir lebih
dari setengah anak berusia 1 tahun memiliki akses terhadap media elektronik genggam
setiap harinya, dengan penggunaan yang bertambah seiring dengan bertambahnya usia.
Selebihnya, sekitar 75% dari seluruh anak-anak memiliki perangkat genggam (seperti
handphone) pada usia sebelum 4 tahun. Media elektronik portabel tersebut digunakan
supaya anak-anak dapat mengisi waktu luang mereka. Orang tua cenderung
memberikan media elektronik portabel untuk menenangkan anak mereka saat
menunggu orang tua untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti berbelanja, bekerja,
dan lainnya. Penggunaan lainnya adalah untuk menidurkan anak dan membuat anak
mampu menunggu lebih lama dengan memberikan sebuah media untuk mengalihkan
perhatian anak.2
Gambar 2. 1. Penggunaan media elektronik sehari-hari menurut grup usia7
Konsumsi media elektronik, televisi dan alat elektronik lainnya, memiliki dampak
yang berbeda tergantung dari jumlah jam yang dikonsumsi dalam pemakaian media
elektronik tersebut. American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk tidak
menggunakan media elektronik lebih dari 2 jam per hari untuk anak-anak pada usia pra-
sekolah dan anak di bawah usia 2 tahun untuk tidak menggunakan media elektronik
sama sekali. Walaupun demikian, di Amerika Serikat menurut penelitian yang
dilakukan oleh University of Washington pada 8,950 anak di bawah 5 tahun, ditemukan
bahwa 66% dari anak tersebut melebihi batas rekomendasi tersebut, dengan rerata
durasi penggunaan media elektronik sebesar 4.1 jam per hari, 90% dari seluruh waktu
tersebut terjadi di dalam rumah. Pada saat anak tersebut telah menjadi remaja, durasi
pemakaian media elektronik meningkat sampai 7.5 jam per hari, bahkan dengan
beberapa remaja yang mencapai 10 jam dan 45 menit sehari oleh karena penggunaan
lebih dari satu media elektronik dalam satu waktu.2, 4

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat penggunaan media


elektronik pada anak. Paudel dkk menemukan bahwa anak berusia 0 – 8 tahun memiliki
korelasi positif terhadap penggunaan media elektronik apabila orang tua juga memiliki
tingkat penggunaan media elektronik yang tinggi. Anak-anak yang berusia lebih tua
akan cenderung menggunakan media elektronik dalam durasi yang lebih lama, di mana
Carson dan Kuzik menyimpulkan bahwa setiap 1 bulan bertambahnya usia anak, durasi
penggunaan media elektronik akan meningkat 9.3 menit per hari (95% CI 2.8 – 15.8).
Meskipun demikian, anak-anak yang berusia lebih tua memiliki asosiasi terbalik dengan
waktu penggunaan media elektronik oleh orang dewasa.2

2.2. Dampak Media Elektronik pada Anak


Screen time (waktu penggunaan media elektronik) memiliki dampak negatif
terhadap kesehatan anak. Terdapat beberapa penelitian yang telah menemukan dampak
negatif secara mental dan fisik. Sebagian penelitian menemukan dampak psikologis
yang signifikan, independen dari jumlah aktivitas fisik yang dilakukan. Penelitian yang
lainnya menemukan bahwa penggunaan media elektronik yang berlebih terkait dengan
perasaan negatif yang lebih tinggi.4 Dampak media elektronik juga dapat ditemukan
dalam proses perkembangan anak di mana gangguan perilaku lebih sering ditemukan
pada anak-anak yang terpapar terhadap media elektronik dari untuk waktu yang lebih
lama dan dalam usia yang lebih muda.3

Dampak negatif secara fisik bagi paparan media elektronik yang awal pada anak
dapat dilihat dari berbagai aspek. Menurut penelitian oleh IDEFICS (Identification and
Prevention of Dietary and Lifestyle-INduced Health Effects in Children and Infants),
ditemukan terdapat asosiasi yang positif antara penggunaan media elektronik dengan
durasi yang lama dengan skor kesehatan yang lebih rendah, dengan likelihood ration 1.2
– 2.0 untuk peningkatan masalah emosi dan hubungan dengan keluarga yang lebih
buruk untuk setiap jam waktu yang digunakan untuk memakai media elektronik.1

Penelitian lainnya, yang terkait dengan tingkat kesehatan fisik yang lebih rendah,
menemukan tingkat obesitas yang lebih tinggi dibandingkan 30 tahun yang lalu. Pada
tahun 2012, menurut data dari National Center for Health Services (NCHS)
menemukan bahwa dalam 30 tahun terakhir, tingkat obesitas pada anak berusia 6 – 11
tahun meningkat dari 7% menjadi 18% dan tingkat obesitas pada anak berusia 12 – 19
tahun meningkat dari 5% menjadi 18%. Mengenai obesitas, terdapat beberapa penelitian
yang menemukan asosiasi positif terhadap tingkat obesitas dan penurunan durasi
aktivitas fisik dengan durasi penggunaan media elektronik. Hal tersebut tidak hanya
terkait dengan jumlah jam yang digunakan dalam konsumsi media elektronik tersebut,
oleh karena sebuah ulasan oleh Martin pada tahun 2011 menemukan bahwa durasi
konsumsi media elektronik yang lebih rendah tidak terkait dengan durasi aktivitas fisik
yang lebih tinggi.4

Anak-anak, yang dalam masa perkembangan dan mampu menirukan perilaku yang
mereka lihat, dapat menirukan beberapa perilaku yang agresif yang ditampilkan pada
media elektronik. Selain anak mampu melakukan imitasi, terdapat beberapa konten
yang mampu menjadi faktor risiko untuk terbentuknya gangguan emosional pada anak.
Paparan terhadap kekerasan oleh media elektronik dapat menyebabkan meningkatnya
kecenderungan anak untuk melakukan perilaku agresif. Penelitian oleh Ray dkk
menemukan bahwa paparan terhadap kekerasan melalui media elektronik dapat
mengakibatkan menurunkan performa akademik dan memberikan dampak negatif
terhadap adaptasi psikososial. Primack dkk menemukan bahwa penggunaan televisi
yang berlebihan juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya depresi pada usia dewasa
muda. Menonton televisi umumnya memiliki asosiasi positif dengan terbentuknya
gangguan pemusatan perhatian pada anak-anak.3

Konsumsi media elektronik yang berlebihan dapat menyita waktu yang diperlukan
untuk berinteraksi dengan teman sebaya, sehingga dapat memberikan dampak negatif
terhadap perkembangan kemampuan sosial pada anak-anak dengan penggunaan media
elektronik yang berat. Penggunaan media elektronik dengan durasi yang lama, misalnya
seperti pada televisi, dapat menurunkan durasi interaksi dengan teman sebaya, sehingga
dapat mengakibatkan hubungan dengan teman sebaya yang lebih buruk yang akhirnya
dapat mengakibatkan risiko terjadinya beberapa kendala sosial, seperti isolasi sosial,
kekhawatiran, agorafobia, dan perilaku anti-sosial. Selain teman-teman sebaya,
penggunaan media elektronik yang berlebihan dapat menurunkan durasi waktu yang
digunakan untuk berinteraksi dengan keluarga. Hubungan ini bersifat dua arah, di mana
anak yang menonton televisi dalam waktu yang lama akan cenderung terisolasi dengan
orang lain, akan tetapi anak yang juga terisolasi dari interaksi sosial akan cenderung
menonton televisi dengan durasi yang lebih lama sebagai mekanisme untuk memenuhi
kebutuhan sosial mereka.3

Penelitian yang mencari perbandingan antara dampak yang diberikan oleh media
elektronik portabel dan media elektronik tradisional masih belum ada, namun terdapat
kepercayaan dan persepsi umum bahwa generasi anak yang terpapar media elektronik
pada usia yang lebih muda memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk menunggu
ganjaran (rewards). Wang dan Tchernev pada tahun 2012 menjelaskan dengan dasar
Uses and Gratifications theory. Teori tersebut menyatakan bahwa needs terdiri dari
faktor-faktor psikologis, sosial, dan lingkungan yang menjadi motivasi untuk
menggunakan media elektronik, sedangkan gratifications merupakan persepsi mengenai
apakah needs tersebut telah terpenuhi atau tidak. Umpan balik yang segera yang dapat
diberikan oleh media elektronik portabel dapat mengakibatkan perubahan preferensi
menjadi immediate gratification, yaitu berkurangnya kemampuan untuk menunggu
ganjaran. Hal yang sama juga dapat ditemukan pada individu yang tidak menggunakan
media elektronik portabel, di mana dibagi menjadi 3 grup, yaitu pengguna smartphone,
bukan pengguna smartphone, dan bukan pengguna smartphone yang diberikan
smartphone untuk pertama kali. Pengguna smartphone memiliki skor yang lebih tinggi
dalam kuesioner yang menilai impulsivitas dan hiperaktivitas pada awal dari penelitian.
Hal yang menarik dari penelitian tersebut adalah grup bukan pengguna smartphone
yang diberikan smartphone menunjukkan preferensi terhadap immediate gratification
setelah 3 bulan penggunaan smartphone sedangkan grup bukan pengguna smartphone
yang tidak diberikan perangkat tersebut tidak memiliki perubahan dalam preferensi
terhadap immediate gratification. Fenomena ini kemungkinan disebabkan oleh
perubahan yang terjadi pada sirkuit saraf yang berperan dalam reward processing, di
mana terdapat aktivasi striatum dorsal dan ventral serta ventral tegmental area.
Penggunaan media elektronik portabel yang cenderung memberikan umpan balik
langsung dapat mengakibatkan terbentuknya sebuah kebiasaan yang bersifat umpan
balik positif terhadap durasi penggunaan media elektronik, yang akhirnya dapat
meningkatkan risiko terjadinya dampak-dampak negatif dari penggunaan media
elektronik.8

2.3. Perkembangan Emosi dan Kognitif Normal dan Media Elektronik


Perkembangan anak dimulai dari saat bayi dan balita. Perkembangan yang terkait
dengan media elektronik pada bayi adalah kemampuan bayi untuk mengenali suara dan
cahaya yang terang. Media elektronik dapat memberikan suara dengan berbagai macam
jenis intonasi dan gambar-gambar dengan warna yang terang dan kontras. Walaupun
mereka dapat mengenal dan menerima rangsangan berupa cahaya dan suara, anak yang
lebih muda dari 18 bulan tidak akan mengerti apa yang mereka dengar dan lihat.
Penggunaan media elektronik pada grup usia tersebut terkait dengan tahap
perkembangan sensorimotor di mana anak akan cenderung memusatkan perhatian pada
rangsangan suara dan cahaya. Pada usia 2 tahun, anak mulai mengenali dan mengerti isi
dari media yang diberikan dan mulai membentuk preferensi masing-masing. Selain itu,
sekitar usia 2 tahun, anak mulai mampu menirukan hal-hal yang mereka lihat. Oleh
karena itu, keluarga perlu mewaspadai konten yang diberikan oleh media elektronik
tersebut oleh karena kemampuan anak untuk menirukan perilaku yang ditampilkan
melalui media elektronik tersebut.7

Periode transisi dari anak menjadi remaja (8 – 12 tahun) merupakan periode di


mana kehidupan dianggap menjadi lebih kompleks. Perkembangan kognitif, emosi, dan
sosial yang lebih berkembang memperluas kemungkinan dan berbagai macam
perspektif pribadi serta interaksi sosial yang lebih rumit. Pada periode ini, menurut
Piaget, mulai muncul kemampuan berpikir abstrak dan mampu melaksanakan
metakognisi. Walaupun penting bagi mereka untuk masuk ke dalam suatu grup interaksi
sosial, mereka juga memerlukan perkembangan identitas diri mereka. Pada grup usia
tersebut, mereka akan lebih dipengaruhi oleh perangai dan kebiasaan dari grup sosial
yang mereka masuki dibandingkan dengan keluarga, terutama mengenai kebiasaan
penggunaan media elektronik.7
Pada usia 13 – 18 tahun, terdapat keinginan untuk memperoleh kemandirian yang
lebih tinggi, eksplorasi identitas, dan prioritas yang lebih tinggi untuk memperoleh
hubungan sosial. Pada usia remaja tersebut, kemampuan untuk menahan gratifikasi
menjadi semakin rendah sekaligus lebih cenderung untuk mencari hal-hal yang baru dan
sensasi. Oleh karena itu, media elektronik dapat memiliki peran yang juga signifikan
dalam periode usia ini. Meskipun media elektronik memang dapat mengecilkan jumlah
halangan yang ada untuk membuat koneksi secara sosial, terdapat beberapa dampak
negatif yang dapat terjadi dari penggunaan yang berlebih. Salah satu kemungkinan yang
dapat terjadi adalah konten media tertentu dapat mengakibatkan penurunan stabilitas
mental bagi pada remaja pada usia dewasa muda. Akses terhadap beberapa konten
tambahan pada televisi yang umumnya memberikan contoh-contoh perilaku yang tidak
realistis dan cukup berisiko untuk diikuti dapat menimbulkan munculnya perilaku-
perilaku yang berbahaya bagi para remaja. Pada usia tersebut, sejalan dengan kebutuhan
untuk membuat identitas diri, terhadap risiko untuk mengikuti panutan (role model)
yang salah. Walaupun demikian, kecenderungan ini umumnya terjadi pada remaja yang
lebih muda. Pada remaja yang lebih tua (late adolescence), identitas yang terbentuk
bersifat lebih stabil dan terkadang pilihan konten media tertentu akan menjadi penuntun
proses perkembangan sampai ke masa dewasa muda.7

2.4. Dampak Media Elektronik Terhadap Perkembangan Emosi dan Kognitif


Anak
Perkembangan emosi pada anak dapat terganggu dengan penggunaan media
elektronik yang lebih banyak, menurut penelitian yang dilakukan oleh Mundy dkk,
ditemukan terdapat dampak yang signifikan terhadap perkembangan emosi anak dengan
penggunaan media elektronik. Penelitian tersebut melibatkan 876 anak berusia 8 – 9
tahun di Australia, di mana para orang tua diminta untuk mengisi kuesioner Strengths
and Difficulties Questionnaire untuk mengetahui masalah emosional dan perilaku pada
anak. Selain itu, orang tua juga diminta mengisi durasi penggunaan media elektronik
dalam bentuk penggunaan televisi, permainan video (video game), dan penggunaan
komputer. Hasil yang ditemukan dari penelitian tersebut adalah ditemukan risiko yang
lebih tinggi untuk adanya skor kuesioner yang menandakan adanya gangguan perilaku
(OR 1.07, 95% CI 1.02 – 1.12) dan emosi (OR 1.07, 95% CI 1.04 – 1.11) untuk setiap 1
jam per minggu peningkatan waktu dalam bermain video game. Kesimpulan yang
ditemukan adalah OR 2.58 pada anak laki-laki yang menggunakan video game. Selain
itu, terdapat risiko yang lebih tinggi untuk gangguan pemusatan perhatian pada laki-laki
yang menonton televisi (OR 1.04, 95% CI 1.00 – 1.07). Menariknya, hubungan tersebut
tidak ditemukan pada anak perempuan.9

Paparan media elektronik pada usia yang muda dapat mengakibatkan dampak
negatif terhadap perkembangan kognitif pada anak. Menurut penelitian oleh
Tomopoulos dkk dengan subjek penelitian 259 pasangan orang tua dan bayi berusia 6
bulan yang difollow-up selama 3 tahun, ditemukan bahwa paparan media elektronik
pada usia anak 6 bulan dapat menurunkan tingkat perkembangan kognitif (unadjusted:
r=−0.17, P<.01; adjusted: β=−0.15, P=.02) dan menurunkan tingkat perkembangan
bahasa (r=−0.16, P<.01; β=−0.16, P<.01) pada usia 14 bulan dan tidak terkait dengan
isi dari media elektronik tersebut (edukasional atau non-edukasional).6

2.5. Intervensi Penggunaan Media Elektronik pada Anak


Penjelasan sebelumnya telah menyimpulkan bahwa penggunaan media elektronik
pada anak memiliki dampak negatif yang lebih banyak apabila digunakan secara
berlebihan serta dalam durasi yang cukup lama. Penggunaan media elektronik,
tradisional maupun portabel, memberikan dampak negatif yang jelas terhadap kesehatan
fisik dan mental anak, yang secara tidak langsung mengganggu proses pertumbuhan dan
perkembangan anak. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mencegah dampak-dampak
negatif yang terkait dengan penggunaan media elektronik pada anak adalah dengan
membatasi penggunaan media elektronik. Rekomendasi yang diberikan AAP
disesuaikan dengan usia dari anak. Pada usia kurang dari 18 bulan, penggunaan media
elektronik pada anak sebaiknya dihindari, kecuali dengan menggunakan video chat.
Anak-anak yang berusia 18 – 24 bulan yang sudah dapat mengerti konten televisi dapat
diberikan siaran televisi yang berkualitas. Pada anak-anak 2 – 5 tahun, durasi
maksimum untuk menonton televisi adalah 1 jam per hari dengan konten televisi yang
berkualitas. Orang tua dihimbau untuk menonton bersama dengan anak mereka supaya
anak dapat lebih mengerti apa yang mereka tonton dan dapat mengaplikasikan nilai-
nilai yang didapatkan dari aktivitas tersebut. Pada anak berusia 6 tahun ke atas,
penggunaan media elektronik dapat diperbolehkan dengan syarat hal tersebut tidak
membuat gangguan pada aktivitas lain, misalnya jam tidur yang cukup, aktivitas fisik
yang cukup, dan perilaku lainnya yang berhubungan dengan kesehatan fisik dan mental
dari anak. Orang tua juga dihimbau untuk menetapkan waktu tertentu yang terbebas dari
media elektronik, seperti saat menyetir, makan malam, dan memberikan tempat kamar
di mana tidak terdapat media elektronik sama sekali, misalnya pada kamar tidur.
Terakhir adalah mengkomunikasikan etika komunikasi yang baik dalam penggunaan
internet dan mengajarkan mengenai keamanan untuk mengakses internet. 10

Intervensi yang diberikan di sekolah dapat menurunkan dampak negatif yang


berhubungan dengan penggunaan media elektronik yang berlebih pada anak-anak.
Sebuah meta-analisis oleh Friedrich dkk yang melibatkan 16 penelitian menemukan
bahwa intervensi yang diberikan untuk menurunkan durasi penggunaan media
elektronik memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan anak. Ditemukan rerata
SMD (yang menilai penurunan perilaku sedenter) -0.29 dan -0.192 pada dua dari
penelitian yang diikutsertakan. Salah satu penelitian yang disertakan juga menemukan
peningkatan kualitas hidup secara kualitatif serta penurunan indeks massa tubuh yang
signifikan pada grup yang diberikan intervensi berupa pembatasan durasi penggunaan
media elektronik dibandingkan dengan grup kontrol. Penelitian tersebut dilakukan pada
anak-anak grup usia 5 – 17 tahun. Penelitian-penelitian yang diikutsertakan dalam meta-
analisis tersebut merupakan intervensi gabungan yang juga memadukan penurunan
durasi penggunaan media elektronik dengan edukasi nutrisi dan peningkatan aktivitas
fisik Walaupun terdapat beberapa penelitian yang tidak menemukan hubungan antara
menurunnya durasi penggunaan media elektronik dengan aktivitas fisik, kedua hal
tersebut tetap merupakan komponen yang terpenting dalam intervensi untuk
menurunkan dampak negatif dari penggunaan media elektronik yang berlebihan. 11
BAB III

KESIMPULAN

Anak-anak memiliki akses yang lebih luas dibandingkan sebelum abad ke-21
mengenai media elektronik. Televisi, telefon genggam, smartphone, dan perangkat
media elektronik lainnya yang bersifat portabel maupun tradisional sudah dimiliki oleh
sebagian besar rumah tangga, di mana para anak dapat terpapar konten dari media
elektronik. Perangkat elektronik di dalam rumah merupakan sumber utama dari durasi
pemakaian media elektronik, di mana sekitar 90% dari penggunaan media elektronik
terjadi di dalam rumah.

Media elektronik memberikan beberapa dampak negatif yang signifikan pada


kesehatan fisik maupun mental pada anak. Kesehatan fisik yang menurun ditandai
dengan tingkat obesitas yang lebih tinggi yang disebabkan oleh durasi aktivitas fisik
yang digantikan dengan durasi penggunaan media elektronik. Konten yang ditayangkan
pada media elektronik tidak semuanya sesuai untuk anak dan beberapa anak memiliki
tingkat gangguan perilaku dan emosi yang lebih tinggi dengan meningkatnya durasi
konsumsi media elektronik. Stimulus dari media elektronik dapat menggantikan
kebutuhan sosial dari anak, akibatnya, anak tidak memiliki kesempatan yang cukup
untuk mengembangkan kemampuan sosial mereka dan memiliki risiko lebih tinggi
untuk mengalami masalah dengan isolasi sosial.

Penggunaan media elektronik yang berlebih memiliki dampak yang buruk pada
perkembangan anak. Pada aspek emosi, anak-anak yang menonton televisi dan main
video game secara berlebih memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan
perilaku dan gangguan emosional. Perkembangan kognitif dan bahasa juga dapat
mengalami gangguan, di mana anak-anak yang berusia muda (dalam satu penelitian
adalah anak-anak berusia 6 bulan) memiliki risiko gangguan perkembangan kognitif dan
bahasa yang lebih tinggi dengan durasi paparan media elektronik yang tinggi. Para
orang tua sebaiknya dihimbau untuk membatasi konsumsi media elektronik, melihat
dampak-dampak negatif yang mungkin dapat disebabkan oleh penggunaan yang
berlebih dari teknologi tersebut terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak,
terutama saat paparan terjadi pada saat usia anak masih muda, di mana proses
perkembangan masih sangat sensitif terhadap stimulus yang diberikan, baik dari orang
lain dan perangkat elektronik.12
DAFTAR PUSTAKA

1. Hinkley T, Verbestel V, Ahrens W, et al. Early childhood electronic media use


as a predictor of poorer well-being: A prospective cohort study. JAMA Pediatrics.
2014;168(5):485-92.
2. Paudel S, Leavy J, Jancey J. Correlates of mobile screen media use among
children aged 0–8: protocol for a systematic review. Systematic Reviews. 2016;5:91.
3. Ray M, Jat KR. Effect of electronic media on children. Indian pediatrics.
2010;47(7):561-8.
4. Rosen LD, Lim AF, Felt J, Carrier LM, Cheever NA, Lara-Ruiz JM, dkk. Media
and technology use predicts ill-being among children, preteens and teenagers
independent of the negative health impacts of exercise and eating habits. Computers in
human behavior. 2014;35:364-75.
5. Kwok SWH, Lee PH, Lee RLT. Smart Device Use and Perceived Physical and
Psychosocial Outcomes among Hong Kong Adolescents. International Journal of
Environmental Research and Public Health. 2017;14(2):205.
6. Tomopoulos S, Dreyer BP, Berkule S, Fierman AH, Brockmeyer C, Mendelsohn
AL. Infant Media Exposure and Toddler Development. Archives of pediatrics &
adolescent medicine. 2010;164(12):1105-11.
7. Gerwin RL, Kaliebe K, Daigle M. The Interplay Between Digital Media Use and
Development. Child and Adolescent Psychiatric Clinics of North America.
2018;27(2):345-55.
8. Wilmer HH, Sherman LE, Chein JM. Smartphones and Cognition: A Review of
Research Exploring the Links between Mobile Technology Habits and Cognitive
Functioning. Frontiers in Psychology. 2017;8:605.
9. Mundy LK, Canterford L, Olds T, Allen NB, Patton GC. The Association
Between Electronic Media and Emotional and Behavioral Problems in Late Childhood.
Academic Pediatrics. 2017;17(6):620-4.
10. Chassiakos YLR, Radesky J, Christakis D, Moreno MA, Cross C. Children and
adolescents and digital media. Pediatrics. 2016;138(5):e20162593.
11. Friedrich RR, Polet JP, Schuch I, Wagner MB. Effect of intervention programs
in schools to reduce screen time: a meta-analysis. Jornal de Pediatria. 2014;90:232-41.
12. Screen time and young children: Promoting health and development in a digital
world. In: Ontario DHTFO, editor. Paediatrics & Child Health: Canadian Paediatric
Society; 2017. p. 461-8.