Anda di halaman 1dari 6

KESIMPULAN MATERI PERTEMUAN 13

Nama : Wiwik Sunarti


NIM : 1926022
Prodi : Agribisnis

3.2.2.3. c. Penyakit yang disebabkan oleh Basidiomycetes; Cendawan Palisade

Bentuk cendawan ini seperti payung, daun telinga, sarang burung, dan bola, sehingga sering
disebut jamur paying, jamur kuping, jamur tanduk, jamur karang, jamur merang, dan lain-lain.

a. Busuk akar armillaria

Penyebabnya adalah cendawan Armillaria mellea (Fr) Quel.

Pengendaliannya: (1) tanaman yang sakit berat dicabut dan dibakar, sedangkan bekas tanaman
dibuat lubang terbuka, akar diambili dan dibakar. Kalau perlu, lubang bekas cabutan juga ikut
dibakar. Di bekas tanaman sakit jangan ditanami dulu, (2) tanah tempat tanaman yang belum sakit
berat dibuka. Akar yang sakit dipotong. Bekas luka diberi fungisida. Tanah bekas galian ditaburi
belerang, (3) dilakukan penjarangan tanaman dan dicegah kemungkinan terjadinya kontak antara
tanaman sakit dan yang masih sehat, (4) kalau kelihatan ada Rhizomorph dan Sporophora diambil
dan dibakar.

b. Jamur upas

Penyebabnya adalah Corticium salmonicolor B et Br, sinonimnya: Pellicularia salmonicolor B


et Br.

Gejalanya: pada ranting cabang atau batang tampak miselium seperti laba-laba atau sutera yang
mengkilap yang kemudian warnanya berubah menjadi merah jambu. Tanaman yang terserang
daunnya layu dan berubah warna menjadi coklat lalu rontok, dan akhirnya mati. Spora cendawan
ini menyebar karena terhembus angina. Pada waktu udara kering, cendawan berada dalam keadaan
dormansi. Begitu hujan, dan udara lembab, spora segera berkecambah.

Pengendaliannya: (1) Bila tingkat infeksi masih ringan, tempat serangan cendawan digosok atau
digaruk sampai hilang. Jangan sampai kotoran bekas cendawan mengenai bagian yang masih
sehat. Bekas luka yang digosok, diolesi ter carbolineum, meni atau cat. Untuk menghindari terkena
serangan lagi, semprotlah dengan fungisida tembaga berkadar tinggi, kira-kira 3 minggu sekali,
(2) bila serangan cendawan demikian hebat, yaitu sudah mencapai tingkatan 2, 3, dan 4, lebih baik
tanaman dipotong. Pemotongan dilakukan di bagian yang masih sehat, jauh dari batas bagian yang
sakit dan sehat agar spora tidak berhamburan. Sebelum dilakukan pemotongan, bagian yang
kena penyakit lebih baik dioles lebih dahulu dengan fungisida seperti bubur Bordeaux, meni,
cat, atau dengan carbolineum. Kemudian bekas potongan juga dioles dengan fungisida. Cabang
tanaman sakit yang telah dipotong harus segera dibakar, (3) tanaman yang bukan merupakan
tanaman pokok diperiksa, kemungkinan juga terserang jamur upas, sehingga harus segera diobati
atau dipotong, (4) bila keadaan terlalu lembab, harus dilakukan pemangkasan pada tanaman pokok
maupun pelindung.

3.2.2.4. Penyakit yang disebabkan Fungi Imperfekti (Cendawan yang tidak sempurna)

Hifa dari cendawan ini bersekat, tetapi tidak menghasilkan tingkatan seksual. Cendawan ini terdiri
atas banyak jenis dan menghasilkan sekurang-kurangnya 2 tipe spora atau badan buah spora dalam
perjalanan daur hidupnya, misalnya: cendawan tepung pada fase perfect (fase generatif)
menghasilkan Conidia dari tipe Oidium.

a. Penyakit bercak kering

Penyebabnya adalah Alternaria solani (E and M) Jones and Grout. Penyakit ini disebut juga
bercak daun, penyakit Alternaria, “early blight” untuk membedakannya dengan “late blight”
atau penyakit Irlandia, yang penyebabnya cendawan Phytophthora infestans.

Gejala serangannya adalah sebagai berikut. Pada daun kelihatan ada bercak-bercak coklat tua
sampai hampir hitam, bentuknya bulat dengan lingkaran-lingkaran yang konsentris. Dalam
keadaan tertentu, bercak-bercak itu tetap kecil dan bersudut serta tidak memiliki lingkaran
konsentris, dibatasi beberapa tulang daun yang lebih kecil. Bercak- bercak ini bila membesar akan
bergabung menjadi satu. Serangan biasanya dimulai dari daun bawah, kemudian naik ke atas,
kadang-kadang juga menyerang batang. Daun yang diserang tepinya menjadi tidak rata, bergerigi
atau pecah tidak teratur. Kadang-kadang berlubang, karena bercak-bercak itu mongering lalu jatuh.
Kadang-kadang daun menggulung atau keriting. Apabila serangan menghebat, daun menguning
dan kering, yang masih berwarna hijau hanya ujung-ujung tunasnya saja. Karena daun banyak
yang rontok, maka umbi akan tetap kecil, kulitnya lunak dan kurang mengandung tepung. Penyakit
ini juga menyerang umbi. Pada umbi kelihatan ada bercak-bercak berwarna lebih tua dari pada
kulit yang tidak terserang. Sedikit cekung, bulat atau tidak teratur. Jaringan di bawah bercak
kelihatan berwarna coklat kering dan bergabus, dalamnya lebih kurang 5 mm.

Pengendaliannya: (1) disemprot dengan bubur Bordeaux atau Calcium arsenat, (2) dilakukan rotasi
tanaman, (3) tanaman yang sakit dicabuti dan dibakar, (4) tanamlah jenis yang resisten.

b. Anthracnose buncis

Penyebabnya adalah Colletotrichum lindemuthianum (Sacc and Magn) Bri and Cav.
3.3. Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri

Penyakit bakteri pada tanaman, baru dikenali pada tahun 1878 – 1883 oleh Burril.

3.3.1. Tipe penyakit bakteri

3.3.1.1. Penyakit pembuluh pengangkut air

Penyakit ini menyerang pembuluh pengangkut air pada tanaman, sehingga pembuluh itu
penuh bakteri, jalannya air terhambat tidak dapat mencapai daun, akhirnya daun menjadi layu.

3.3.1.2. Penyakit parenchym

Patogen menyerang jaringan parenchyma yang lunak atau succulent yang menyebabkan terjadiya
nekrosis atau membusuk bagian yang diserang, misalnya Pseudomonas malvacearum yang
menyebabkan bercak daun menyudut pada tanaman kapas; Bacillus carotovorus yang
menyebabkan busuk lunak pada akar wortel, atau bagian lainnya yang lunak dari batang atau buah
pada tanaman lainnya.

3.3.1.3. Penyakit hyperplastis

Bakteri ini menyebabkan terjadinya bintil, tumor, bonggol, atau bengkak. Bakteri merangsang sel-
sel tanaman sehingga terjadi perkembangan yang lebih cepat dari biasanya, sehingga terbentuk
bisul atau tumor.

Letak bakteri pada jaringan yang sakit ada beberapa macam: (1) interselular, bakteri terletak
dalam ruangan antarsel, pada umumnya menyebabkan penyakit parenchyma, (2) Intraseluler,
bakteri terletak dalam sel, (3) Intravascular, bakteri terletak dalam jaringan pengangkutan air
(xylem) dan jaringan lain.

Kerja bakteri pada tanaman inang ada berbagai cara: (1) Dengan adanya enzyme bakteri
dapat memecah sel, sehingga menimbulkan lubang pada bermacam-macam jaringan, (2)
Dengan adanya enzyme, bakteri dapat memecah tepung menjadi gula, senyawa nitrogen yang
kompleks menjadi lebih sederhana, untuk mendapatkan energi hidup, (3) Bakteri menghasilkan
zat racun, dan lain-lain, yang merugikan tanaman, (4) Menghasilkan zat yang dapat merangsang
sel-sel inang membelah secara tidak normal.

Penyebaran penyakit bakteri juga bervariasi: (1) Melalui bibit berupa biji, buah, umbi, batang stek,
dan lain-lain, sehingga pada waktu ditanam bakteri dapat tersebar, (2) Melalui serangga, burung,
siput, ulat, manusia, dan lain-lain, (3) Melalui pupuk kandang atau kompos.

Reaksi tanaman inang terhadap serangan bakteri bervariasi: (1) Pertumbuhan jaringan atau
keseluruhan tanaman menjadi terhambat, (2) Terjadi perubahan warna, dapat menjadi hijau tua,
menguning atau pucat, (3) Terjadi distorsi pada daun, batang, atau bagian tanaman yang lain, (4)
timbul jaringan baru, karena pembelahan sel bertambah (hyperplasia) atau terjadi hypertrophy.
Membentuk sel-sel gabus untuk menahan kemajuan serangan bakteri.

a. Penyakit layu bakteri

Penyebabnya adalah bakteri Pseudomonas solanacearum (EF Smith) EF Smith, sinonimnya:


Xanthomonas solanacearum (EF Smith) Dowson; Bacterium solanavearum (EF Smith) EF Smith;
Phytomonas solanacearum (EF Smith) Bergey. Penyakit ini juga disebut penyakit lender, liyer,
lengger, klenger.

Gejalanya sebagai berikut. Patogen menyerang jaringan pengangkutan air, sehingga mengganggu
transport air tanaman inang. Akibatnya, kelihatan gejala layu, menguning, dan kerdil. Bila keadaan
memungkinkan, tanaman yang mudah terserang seperti tembakau, kentang, tomat, dan terung akan
segera mati dalam beberapa hari. Bila keadaan kurang baik bagi patogen, maka layunya tanaman
pelan-pelan atau tidak layu, tetapi pertumbuhannya kerdil, menguning, dan daunnya mongering.
Pada tanaman cabai, akan terjadi perubahan warna dan daun mudanya akan terkulai, anakannya
menjadi kerdil atau menghitam, buahnya kerdil atau busuk, akarnya juga membusuk.

Pengendaliannya: (1) rotasi tanaman, dengan menanam tanaman yang tidak diserang penyakit,
misalnya Mimosa invisa selama lebih kurang 2 tahun, (2) pesemaian disterilisasi dengan air panas
100oC. Tanah difumigasi dengan methyl bromide, (3) menggunakan air siraman yang bebas dari
penyakit.

b. Busuk lunak bakteri

Penyebabnya adalah Erwinia carotovora (LR Jones) Hollander, sinonimnya: Bacillus carotovorus
LR Jones.

Pengendaliannya: (1) tanaman kol, sawi, dan lain-lain yang telah diserang lebih baik segera
dipanen untuk dikonsumsi. Bila telah terserang berat, sebaiknya dibakar dengan seluruh akar,
batang, dan daunnya. Tanah bekas tanaman jangan terbawa ke mana- mana, (2) sebelum terkena
serangan, tanaman disemprot dengan fungisida, (3) sayuran yang sehat saja yang disimpan atau
dijual ke pasar, karena dapat menyebabkan kerusakan pada sayuran yang masih sehat.

3.4. Penyakit Virus

Virus berasal dari bahasa Latin, artinya lender yang beracun dan dapat menular.

Gejala tanaman yang terserang virus bermacam-macam, tergantung dari jenis virus yang
menyerang. Tanaman yang diserang ada yang daunnya menjadi keriting, belang- belang kuning
hijau, jadi kerdil, daun menggulung, kematian pucuk, ruas-ruas menjadi pendek sekali, warna
bunga berubah, buah menjadi menggeliat, dan lain-lain. Gejalanya sering bersama-sama timbul
dalam satu jenis tanaman.
Gejala penyakit virus dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) klorose, pembuluh tulang daun menjadi jelas
(menguning) atau daun belang-belang setempat atau mosaic. Jaringan yang dekat pembuluh
lebih pucat warnanya, (2) nekrosis, ada bercak-bercak coklat mati, atau garis coklat mati,
dalam keadaan serangan berat dapat seluruh atau sebagian tubuh organ tanaman mati, (3) kerdil,
bentuk tubuh tidak normal, sebagian organ atau seluruh tubuh tanaman menggeliat. Strain yang
berbeda-beda dari satu jenis virus dapat juga menimbulkan bermacam-macam gejala pada kultivar
tanaman yang berbeda-beda, atau suatu virus mungkin menyebabkan gejala yang berbeda-beda
pada kultivar tanaman yang sama; atau virus yang tidak ada hubungannya sama sekali mungkin
menyebabkan gejala yang hampir menyerupai dalam suatu tanaman inang. Oleh karena itu,
mengidentifikasinya harus benar-benar teliti. Di antaranya: morphologi partikel penularan,
tanaman inang, reaksi spesies terhadap infeksi, sifat bio-fisika, serology, sifat-sifat pertikel virus
yang murni, dan lain-lain.

Pengendalian penyakit virus amat sulit. Cara- cara yang mungkin dapat dikerjakan dalam
pengendalian, yaitu: (1) penyemprotan dengan insektisida untuk mengurangi vector pembawa
virus, (2) penanaman varietas yang tahan virus, (3) penanaman bibit/benih yang bebas virus, (4)
penanaman tepat waktu sehingga perkembangbiakan virus tidak begitu hebat, (5) tanaman liar
yang menjadi inang virus atau vector dibersihkan dari sekitar tanaman yang dibudidayakan, (6)
diadakan penanaman tanaman yang mungkin dapat menahan gerakan vector, (7) diadakan tanaman
campuran yang mungkin dapat menahan gerakan virus atau vector, (8) bila kelihatan ada gejala
penyakit, tanaman segera dicabut dan dibakar. Jangan menunggu sampai virus merajalela, (9)
dilakukan rotasi dengan tanaman yang tidak terserang virus, (10) penelitian cara hidup vector dan
virus, sehingga dapat menentukan kapan harus menyemprot dan menanam tanaman dengan
kondisi baik, sementara kondisi vector dan virus sedang buruk, (11) penelitian mengenai pupuk
yang dipakai.

Penularan virus bervariasi. (1) melalui biji. (2) tepungsari. (3) setek dan umbi. (4) sambungan dan
okulasi. (5) pemindahan secara bersinggungan. (6) serangga vector virus (7) nematode menjadi
vector virus. (8) tanaman parasit berbiji.

a. Penyakit tungro

Penyakit ini menyerang padi.

Gejalanya: padi yang diserang tungro, tumbuh kerdil dan anakannya sedikit. Daun muda yang baru
muncul mengalami klorose di antara tulang-tulang daunnya, sehingga terjadi perubahan warna dari
ujung ke pangkal. Daun padi akan menjadi kuning atau kuning jingga, tergantung pada
varietasnya. Daun yang muda sering berbintik dan bergaris-garis hijau pucat sampai hijau
keputihan. Bulir padi sering tidak keseluruhannya dapat membuka, sehingga hasil gabah
berkurang. Bila serangan telah lewat umur 60 hari, biasanya gejala-gejala tersebut tidak ada, makin
lambat serangan terjadi, maka pengaruh terhadap hasil panen tidak begitu nyata. Tanaman yang
terinfeksi, perkembangan akarnya terhambat. Tanaman muda dapat mati atau dapat juga sampai
dewasa walaupun kerdil. Berbunganya terhambat, sehingga akan menunda panen. Malai menjadi
kecil, steril, dan tidak sempurna keluarnya. Butir gabah sering tertutup dengan bercak-bercak
coklat dan lebih ringan daripada tanaman yang sehat.

Pengendalian yang dapat dilakukan: (1) menanam varietas yang tahan, (2) tanaman yang terserang
parah, sebaiknya dicabut dan dibakar, (3) semprotlah dengan insektisida yang cocok, (4) tanaman
liar atau rumput yang menjadi sumber penyakit dihilangkan, (5) melakukan penanaman secara
serentak dan diadakan pergiliran tanaman, (6) secara biologis, dicarikan serangga yang menjadi
predator (pemakan) vector serangga.

b. Penyakit ujung keriting

Penyakit ini menyebabkan ujung daun semangka, tomat, cabai, buncis, bayam, dan lainnya
menjadi keriting, sehingga sangat merugikan petani.

Gejalanya adalah sebagai berikut.

Tanaman muda yang terkena infeksi, daunnya menjadi kuning dan mengeriting. Tanaman yang
lebih tua, daunnya menggulung ke atas dan memutar atau memilin daun yang muda. Pada
umumnya, daun menjadi lebih lebih kaku dan warnanya menjadi kuning redup. Tangkai daunnya
mengeriting ke bawah, berdirinya batang tidak normal. Tanaman muda yang terserang menjadi
kerdil. Tanaman tomat pada semua tingkatan pertumbuhan dapat terserang penyakit ini, tetapi
yang paling peka adalah tanaman yang muda. Buah tomat akan menjadi masak lebih awal sebelum
waktunya.

Pengendaliannya: (1) tanamlah bibit yang resisten, (2) semprotlah secara rutin seminggu sekali
dengan insektisida untuk mengendalikan vector penular, sehingga populasinya dapat ditekan
seminimum mungkin, (3) dilakukan rotasi tanaman, jangan menanam tanaman yang dapat
terkena penyakit virus ujung keriting. (4) tanaman yang sudah terlanjur terserang dicabut dan
dibakar.

c. Penyakit TMV

TMV adalah singkatan dari Tomato Mosaic Virus. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia yang
sudah ditumbuhi tanaman tomat.

Pengendaliannya: (1) tanamlah tomat yang resisten, (2) tanaman yang terserang dicabut dan
dibakar, (3) tanaman liar di sekeliling kebun dibersihkan, (4) tanamlah biji yang bebas virus,
dengan direndam larutan 10 persen natrium phosphate selama 20 menit untuk menghilangkan virus
yang letaknya di luar biji. Untuk menghilangkan virus yang letaknya di dalam biji dipanasi dengan
suhu 70oC selama 2 – 4 hari, (5) daun disemprot dengan susu untuk menghambat berpindahnya
virus secara mekanis, (6) dilakukan sterilisasi tanah, dan (7) dilakukan rotasi tanaman.