Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PERTEMUAN 14

RINGKASAN MATERI
Nama : Bustanil Ervan
NIM : 1926021
Matkul : Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman
Prodi : Agribisnis

d. Penyakit CVPD

CVPD adalah singkatan dari Citrus Vein Phloem Degeneration. Penyakit ini menyerang
tanaman jeruk. Penyebab penyakit ini ada yang mengatakan virus, tetapi akhir-akhir ini
dikatakan BLO (Bacterium Like Organism) atau Mikroplasma.

Tanaman jeruk yang mengalami serangan CVPD menunjukkan gejala luar di antaranya:
1) daun menguning, klorosis, tulang daun menjadi lebih tua daripada sekitarnya. Makin pucat
daunnya maka makin jelas tulang daunnya,
2) daun menjadi lebih tebal dan kaku, biasanya menjadi kecil,
3) pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, tanaman muda menjadi kerdil,
4) tanaman jeruk yang daunnya menguning, perlu juga dicurigai telah terserang CVPD.
perlu diketahui bahwa tanaman jeruk yang terserang virus tristeza, tulang daunnya
menjadi pucat, sedangkan kalau terserang CVPD, tulang daunnya menjadi lebih
gelap warnanya (hijau tua).

Pengendaliannya:
1) tanamlah bibit jeruk yang bebas CVPD,
2) semprotlah dengan insektisida dan akarisida yang dapat menekan Diophorina citri dan
tungau Tetranychus telarius L,
3) pupuklah yang cukup, terutama dengan pupuk organic,
4) setelah panen, segera dipupuk dengan cukup dan penyiraman yang cukup pula,
5) tanaman jeruk yang telah berat sakitnya lebih baik dicabut dan dibakar,
6) tanaman jeruk yang sakitnya masih ringan, dapat diobati dengan oxytetracycline-HCl 5 g
dalam 10 liter air, yang dapat dipakai untuk 10 -20 pohon. Caranya diinfus,

3.5. Tanaman Berbiji yang Menjadi Parasit

Tanaman tingkat tinggi yang bersifat parasit atau setengah parasit, mengambil makanan
pada tanaman inang yang ditempati. Tanaman yang mempunyai khorofil, sifatnya setengah
parasit, karena dapat mengadakan fotosinesis sendiri, tetapi bahannya diambil dari tanaman
inang. Adapun yang tidak mempunyai khlorofil, sifatnya parasit mutlak. Semua makanan
langsung diambil dari tanaman inang,karena tidak dapat mengadakan fotosintesis. Tanaman
yang ditempati parasit akan menjadi kurus atau kerdil dan akhirnya mati.

a. Benalu (Viscum articulatum Burm. f)

• Termasuk familia Loranthaceae.


• Disebut juga kemladen, pasilan, misletu, dan perekat burung.
• Tanaman ini merupakan setengah parasit, karena dapat mengadakan fotosintesis, tetapi
dengan alat pengisapnya (haustorium) dapat mengambil cairan makanan dari tanaman
inang yang ditempati.
• Buahnya biasanya disukai burung prenjak, karena bijinya dikelilingi lender yang lekat,
akan menempel pada ujung paruh,
• Pada suatu hari, biji itu akan tumbuh dan mengisap makanan pada cabang yang
ditempati. Pengendaliannya, dengan memotong di bawah melekatnya haustorium.

b. Tali Puteri (Cuscuta sp), familia: Cuscutaceae

• Merupakan parasit sejati, karena tidak mempunyai khlorofil, sehingga tidak dapat
mengadakan asimilasi.
• Semua zat makanan diambil dari tanaman inang, sehingga tanaman inang dapat mati
atau kerdil.
• Tali puteri bentuknya seperti benang panjang, warnanya kuning sampai oranye dan
tidak berdaun.
• Batangnya tergantung dari jenisnya, ada yang warna sampai kemerahan, merah atau
ungu.
• Tali puteri biasanya membelit tanaman inang dan melekat dengan alat pengisap yang
disebut haustoria.
• Warna bunga putih, kemerahan atau kekuningan.
• Untuk sementara masih terpancang dalam tanah dan bergerak ke sekeliling untuk
mencari panjatan.
• Bila telah mencapai tanaman inang, segera melilitnya dan membentuk haustorium
yang masuk ke dalam jaringan tanaman inang.
• Batang tali puteri yang terletak di bawah haustoria yang pertama, akan mengkerut
dan segera mati.
• Selanjutnya, tali puteri telah sempurna mengabsorbsi makanan dari tanaman inang
dan dengan cepat bercabang-cabang dan menyebar ke seluruh tubuh tanaman.
• Cabang-cabang tali puteri yang terpotong, bila terbawa ke tanaman lain, juga akan
tumbuh.
• Pengendaliannya, dapat dikerjakan dengan mengambili secara terus-menerus atau
memangkas dibawah haustoria. Jangan ada bagian cabang atau tanaman tali puteri
yang masih melekat pada tanaman inang.
BAB IV
PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)

Bahaya laten yang timbul akibat penggunaan pestisida sebagai bahan beracun dalam usaha
pertanian, telah menimbulkan kesadaran manusia akan perlunya konsep baru dalam
penggunaan pestisida tersebut bagi keperluan usaha pertanian yang aman bagi
kelangsungan ekosistem dan mahluk hidup. Kesadaran tersebut menjadi titik awal lahirnya
konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Menurut FAO (1967, seperti dikutip Kusnaedi, 2003), pengendalian hama terpadu adalah
sistem pengendalian hama yang berhubungan dengan dinamika populasi dan lingkungan
yang berkaitan dengan spesies hama serta memanfaatkan perpaduan semua teknik dan
merode yang memungkinkan secara kompatibel menahan populasi hama di bawah
tingkat yang menyebabkan kerusakan ekonomi.

Dapat disimpulkan bahwa PHT mengandung pengertian dan prinsip-prinsip dasar


sebagai berikut:

1. Pengendalian hama bukan berupaya untuk membunuh habis populasi hama,


melainkan mengendalikan hingga populasi di bawah ambang ekonomi.
2. Tujuan utama dari pengendalian hama adalah mencapai kualitas dan kuantitas
produksi, tanpa mengganggu kelestarian lingkungan hidup.
3. Konsep dasar pengendalian hama dan penyakit tanaman adalah:
(a) mengurangi sumber hama dan penyakit dengan memanipulasi ekosistem,
(b) mengintegrasikan cara-cara pemberantasan yang kompatibel, dan
(c) menerapkan analisis ongkos dan keuntungan.
4. Penggunaan bahan kimia pestisida merupakan alternatif terakhir bila benar- benar
diperlukan.
5. Penggunaan teknik-teknik pengendalian hama dengan memadukan semua teknik
pengendalian sebagai berikut.
a. Menggunakan varietas yang tahan atau toleran terhadap hama penyakit,
b. Sistem budidaya yang memperhatikan siklus hidup hama, seperti rotasi tanaman,
tumpangsari, waktu tanam, dan penggunaan mulsa,
c. Pengendalian cara biologis dengan menyebarkan atau mempertahankan kehidupan
musuh alami dari hama,
d. Pengendalian cara mekanik atau fisik merupakan pengendalian hama dengan cara
ditangkap, dibunuh, diburu, dijerat, gropyokan, dan pemberian umpan beracun,
e. Penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir dan penggunaannya harus
berdaya bunuh selektif dan dikategorikan aman bagi lingkungan.

Penerapan konsep PHT beragam, tergantung keadaan ekosistem setempat, sehingga tidak
dapat diberikan rekomendasi untuk pelaksanaan PHT yang berlaku di semua ekosistem.
Pada prinsipnya, berdasarkan prioritas pelaksanaannya di lapangan, metode pengendalian
PHT diurutkan sebagai berikut (Endah, J dan Novizan, 2002).
1) Pengendalian secara biologis atau hayati,
2) Pengendalian secara kultur teknis,
3) Pengendalian secara genetik,
4) Pengendalian secara fisik dan mekanik, dan
5) Pengendalian secara kimiawi dengan pestisida selektif.

Senada dengan Endah, J dan Novizan (2002), ahli entomologi Mary Louse Flint dan
Robert van Den Bosch (dalam Kusnaedi, 2003) pernah menganjurkan pedoman umum
pengendalian hama terpadu sebagai berikut.

1) Biologi tanaman budidaya, terutama dalam konteks hubungan tanaman tersebut


dipengaruhi oleh ekosistem di sekitarnya, harus diketahui.
2) Hama utama yang menyangkut biologis hama, jenis kerusakan yang ditimbulkan,
dan nilai ekonomi kerusakannya diidentifikasi secepat mungkin.
3) Faktor-faktor lingkungan utama yang dapat menguntungkan dan merugikan hama
dalam ekosistem dipertimbangkan dan diidentifikasi secepat mungkin.
4) Konsep, metode, dan bahan-bahan yang secara individual atau secara gabungan
akan membantu menekan atau menghambat hama, terutama hama potensial, secara
permanen segera dipertimbangkan.
5) Program pengendalian hama yang fleksibel disusun hingga dapat diubah dan diatur.
Program yang kaku dan tidak dapat disesuaikan dengan lahan, daerah, atau waktu
yang berbeda sebaiknya dihindari.
6) Perkembangan yang tidak dapat dilihat sebelumnya, sebaiknya dapat diperkirakan atau
dipertimbangkan. Rancanglah dengan gerak mundur dan rancanglah dengan hati-hati
maju ke depan. Tindakan yang terpenting adalah tetap waspada terhadap kompleksitas
ekosistem sumberdaya dan perubahan- perubahan yang terjadi di dalamnya.
7) Bagian yang terlemah dalam daur hidup spesies hama utama dicari dan tindakan
pengendalian diarahkan dengan hati=hati pada bagian tersebut sesempit mungkin.
Penerapan yang meluas dalam ekosistem sumberdaya sebaiknya dihindari.
8) Jika mungkin, metode yang dapat melestarikan, melengkapi, dan mendorong faktor-
faktor mortalitas fisik dan biotik yang mencirikan suatu ekosistem dipertimbangkan dan
dikembangkan.
9) Keragaman hayati ekosistem jika mungkin diusahakan untuk ditingkatkan.
10) Dibuat anggapan atau teknik survei yang memadai (pemantauan) terhadap hama.

4.1. Strategi Penerapan PHT

Ada tiga hal yang menjadi kunci keberhasilan penerapan konsep PHT, yaitu pengetahuan
tentang hama dan penyakit, budidaya tanaman yang dilakukan, dan interaksinya dengan
faktor-faktor lingkungan. Pengetahuan tentang hama dan penyakit yang dibutuhkan antara
lain pengenalan gejala awal, identifikasi jenis-jenis hama dan penyakit yang spesifik, siklus
hidup hama dan penyakit, dan bagaimana interaksinya dengan lingkungan fisik. Misalnya,
saat musim panas yang panjang perkembangan serangga akan lebih cepat, sedangkan saat
musim hujan, serangan penyakit jamur dan bakteri yang akan meningkat. Dengan
pengetahuan demikian dapat ditentukan waktu dan bentuk tindakan yang harus dilakukan.

4.2. Tahap Pelaksanaan PHT7

Pelaksanaan PHT merupakan siklus yang terjadi secara terus-menerus selama kegiatan
budidaya pertanian dilakukan dan sangat mengandalkan pada kegiatan monitoring
(pemantauan lapangan). Tahap pelaksanaan PHT secara ringkas dapatt digambarkan
sebagai berikut.

Sejarah lahan

Evaluasi monitoring
PHT

Pengendalian Ambang ekonomi


Hama dan penyakit

Siklus pelaksanaan PHT

4.2.1. Pengumpulan data sejarah lahan

Data sejarah lahan merupakan sumber informasi yang amat berharga dalam pelaksanaan
PHT. Data yang penting antara lain: jenis tanaman yang telah ditanam sebelumnya, teknik
budidaya yang telah dilakukan, serangan hama dan penyakit yang pernah terjadi, tindakan
pengendalian hama dan penyakit yang pernah dilakukan, keadaan iklim, dan data lainnya
yang berpengaruh terhadap proses budidaya tanaman. Kelengkapan data yang dibutuhkan
akan dapat membantu pengambilan keputusan akan tindakan yang perlu dilakukan.

4.2.2. Monitoring

Monitoring (pemantauan lapangan) bertujuan untuk memantau pertumbuhan tanaman dan


hasil dari teknik budidaya yang telah dilakukan. Di samping itu, bertujuan pula untuk
memantau perkembangan hama dan penyakit. Semakin teratur dan sering kegiatan ini
dilakukan, hasilnya akan semakin baik.
Ada dua hal yang perlu dilakukan dalam pemantauan perkembangan hama dan penyakit,
yaitu:
(1) diagnosis gejala penyakit. Diagnosis mengenai jenis hama dan penyakit yang
menyerang dan menyebabkan kerusakan tanaman dapat dilakukan dengan
memperhatikan gejala-gejala kerusakan yang ada pada tanaman.
(2) pemantauan siklus hidup hama dan penyakit.

4.2.3. Penetapan ambang ekonomi

Penetapan ambang ekonomi, terhadap suatu kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan
hama dan penyakit tanaman untuk jenis tanaman tertentu harus memenuhi syarat- syarat
berikut
(1) sepsifik,
(2) mudah terukur,
(3) mempertimbangkan hama dan penyakit serta tanaman.

Jenis hama Ambang ekonomi


Penggerek batang padi > 1 kelompok telur/m2 atau intensitas
serangan rata-rata 10%
Wereng punggung putih pada padi > 1 ekor/tanaman
Walang sangit pada tanaman padi > 5 ekor/m2 pada tahap tanaman setelah
berbunga
Ulat grayak pada tanaman padi > 5 ekor/m2
Kutu daun (Myzus persicae) pada bawang > 10 ekor nimfa/35 helai daun
merah
Ulat grayak pada tanaman kubis > 5 ekor ulat setiap 10 tanaman
Penggerek tongkol (Heliothis sp) jagung > 3 tongkol rusak/30 tanaman
Ulat grayak pada cabai > 2 ekor larva/tanaman
Thrips pada tomat > 1 ekor pada 6 tanaman
Penghisap daun (Empoasca sp) pada kacang Intensitas serangan > 12,5%
tanah
Lalat Agromyza sp pada kacang panjang Intensitas serangan > 1%

4.2.4. Tahap pelaksanaan

Ada berbagai cara yang dapat digunakan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit
menurut konsep PHT. Untuk mencapai efektivitas pengendalian hama dan penyakit, seluruh
cara di bawah ini sebaiknya dilakukan secara terpadu dan saling melengkapi.

(1). Pengendalian biologis atau hayati


Tentang pengendalian secara biologis ini, Kusnaedi (2003) menyatakan bahwa pada
dasarnya hama dan penyakit memiliki musuh alami berupa predator, parasit, patogen, dan
musuh organisme sejenis.
Cara ini dilakukan dengan menyebarkan dan memelihara musuh alami atau predator dari
hama atau penyakit tertentu di daerah pertanian.