Anda di halaman 1dari 25

PENYAKIT DEGENERATIF AKIBAT MALFUNSI PADA LAPISAN MESODERM

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Perkembangan Hewan
Yang diampu oleh Bapak Prof. Dr.Abdul Gofur, M.Si

Disusun Oleh:
Maria Angelina Genere Koban (200342857002)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S2 BIOLOGI
DESEMBER 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmatnya, penulis dapat menyelesaikan makalah penyakit degeneratif akibat malfungsi pada
lapisan mesoderm. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Abdul
Gofur,M.Si selaku pengampuh matakuliah perkembangan hewan yang telah membimbing
selama proses penulisan makalah ini.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk Untuk mengetahui jenis-jenis
penyakit degenerative akibat malfungsi pada lapisan mesoderm, mengetahui upaya
penyembuhan penyakit degeneratif. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
terdapat dalam isi makalah ini, oleh karena itu, sangat diharapkan kritik dan saran dari bapak
Prof. Abdul Gofur, M.Si sebagai penyempurnaan atas makalah yang telah disusun dan
bermanfaat bagi penulis di masa yang akan datang.

Malang, 20 Desember 2020

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penyakit degeneratif adalah penyakit akibat penurunan fungsi organ tubuh. Tubuh
mengalami defisiensi produksi enzim dan hormon, imunodefisiensi, peroksida lipid, kerusakan
sel (DNA) dan pembuluh darah. Penyakit degeneratif adalah istilah medis untuk menjelaskan
suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh dari keadaan normal
menjadi lebih buruk. Ada sekitar 50 penyakit degeneratif. Penyakit yang masuk dalam kelompok
ini antara lain kanker, diabetes melitus, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas,
dislipidemia dan sebagainya. Penyakit degeneratif akibat malfungsi pada lapisan mesoderm
misalnya osteoporosis, Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan masa tulang total.
Achondroplasia adalah dwarfisme atau kekerdilan yang disebabkan oleh gangguan osifikasi
endokondral akibat mutasi gen FGFR 3 (fibroblast growth factor receptor 3) pada lengan pendek
kromosom 4p16.3. Defek septum ventrikel atau Ventricular Septal Defect (VSD) merupakan
kelainan berupa lubang atau celah pada septum di antara rongga ventrikel akibat kegagalan fusi
atau penyambungan sekat interventrikel. Agenesis ginjal, Agenesis ginjal adalah keadaan tidak
ditemukan jaringan ginjal pada satu sisi atau keduanya. Pada makalah ini akan membahas jenis-
jenis penyakit degeneratif .
1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit degeneratif?
2. Jenis-jenis penyakit degeneratif apasajakah yang yang dapat muncul akibat malfungsi
pada lapisan mesoderm?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk menjelaskan pengertian dari penyakit degenerative
2. Untuk mengetahui jenis-jenis penyakit degenerative akibat malfungsi pada
lapisan mesoderm
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Penyakit Degeneratif


Penyakit degeneratif adalah penyakit akibat penurunan fungsi organ tubuh. Tubuh
mengalami defisiensi produksi enzim dan hormon, imunodefisiensi, peroksida lipid, kerusakan
sel (DNA) dan pembuluh darah. Secara umum dikatakan bahwa penyakit ini merupakan proses
penurunan fungsi organ tubuh yang umumnya terjadi pada usia tua. Namun ada kalanya juga
terjadi pada usia muda, akibat yang ditimbulkan adalah penurunan derajat kesehatan yang
biasanya diikuti dengan penyakit (Amelia, 2010; Suyono, 2006).
Penyakit degeneratif disebut juga sebagai penyakit yang mengiringi proses penuaan.
Pesatnya perkembangan penyakit tersebut telah mendorong masyarakat luas untuk memahami
dampak yang ditimbulkannya. Menurut WHO, hingga akhir tahun 2005 saja penyakit degeneratif
telah menyebabkan kematian hampir 17 juta orang di seluruh dunia. Penyakit degeneratif adalah
istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi
sel tubuh dari keadaan normal menjadi lebih buruk. Ada sekitar 50 penyakit degeneratif.
Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain kanker, diabetes melitus, stroke, jantung
koroner, kardiovaskular, obesitas, dislipidemia dan sebagainya. Dari berbagai hasil penelitian
modern diketahui bahwa munculnya penyakit degeneratif mempunyai kaitan cukup kuat dengan
bertambahnya proses penuaan usia seseorang. Meskipun faktor keturunan juga berperan cukup
besar.
Organogenesis adalah suatu proses pembentukan organ yang berasal dari tiga lapisan
germinal embrio yang telah terbentuk terlebih dahulu pada tahap gastrulasi. Masing- masing
lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm akan membentuk suatu bumbung yang akan
berkembang menjadi sistem organ tertentu yang berbeda namun berkaitan satu dengan yang lain.
Lapisan-lapisan tersebut berkembang menjadi turunan jaringan dan organ masing-masing pada
saat dewasa. Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot, rangka (tulang/osteon),alat
reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah dan alat ekskresi seperti ren. Beberapa jenis
penyakit juga dapat diakibatkan oleh malfungsi pada perkembangan lapisan mesoderm.
2.2 Jenis-Jenis Penyakit Degeneratif
Beberapa jenis penyakit akibat malfungsi pada perkembangan lapisan ektoderm sebagai
berikut:
1. Otot Rangka (tulang)
 Osteoporosis
Osteoporosis merupakan kelainan metabolik tulang, ini paling sering ditemukan
pada masyarakat berkembang terutama pada wanita tua pasca menopause. Menurut
definisi WHO osteoporosis adalah gangguan tulang dengan ciri penipisan tulang dan
gangguan arsitektur tulang yang berdampak tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Osteoporosis adalah suatu penyakit tulang yang menyebabkan berkurangnya jumlah
jaringan tulang dan tidak normalnya sruktur atau bentuk mikroskopis tulang (Waluyo,
2009). Osteoporosis adalah penyakit dimana tulang menjadi kurang padat, kehilangan
kekuatanya, dan kemungkinan besar patah (fraktur) (Alexander &Knight, 2010).
Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan masa tulang total.
Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resoprsi tulang
lebih besar dan kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan penurunan masa tulang
total (ode, 2012). Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering
dialami oleh perempuan setelah menopause. Proses osteoporosis sebenarnya sudah
dimulai sejak usia 40-45 tahun.
Jenis-jenis Osteoporosis
Terdapat 2 jenis osteoporosis yaitu:
1. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang terjadi sesuai dengan
proses penuaan. Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama
karena lebih banyak ditemukan dibandingkan osteoporosis sekunder (Ode, 2012).
Pada wanita biasanya disebabkan oleh pengaruh hormonal yang tidak seefektif
biasanya. Osteoporosis ini terjadi karena kekurangan kalsiumakibat penuaan usia
(Syam dkk, 2014). Menurut Zaviera (2007) osteoporosis primer ini terdiri dari 2
bagian yaitu:
a. Tipe I (Post-menopausal)
Terjadi 15-20 tahun setelah menopause (53-75 tahun). Ditandai oleh fraktur tulang
belakang dan berkurangnya gigi geligi. Hal ini disebabkan luasnya jaringan
trabekular pada tempat tersebut, dimana jaringan trabekular lebih responsif
terhadap defisiensi esterogen.
b. Tipe II (Senile)
Terjadi pada pria dan wanita usia 70 tahun keatas. Ditandai oleh fraktur panggul
dan tulang belakang tipe wedge. Hilangnya masa tulang kortikal terbesar terjadi
pada usia tersebut.
2. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit tertentu, gangguan hormonal, dan
juga kesalahan pada gaya hidup seperti konsumsi alkohol secara berlebihan, rokok,
kafein, dan kurangnya aktifitas fisik. Berbeda dengan osteoporosis primer yang
terjadi karena faktor usia, osteoporosis sekunder bisa saja terjadi pada orang yang
masih berusia muda (Syam dkk, 2014).
Gejala Osteoporosis
Osteoporosis dapat muncul tanpa sengaja selama beberapa dekade karena
osteoporis tidak menyebabkan gejala sampai terjadi patah tulang. Selain itu, beberapa
fraktur osteoporosis dapat lolos deteksi selama bertahun-tahun karena tidak
memperlihatkan gejala. Gejala yang yang berhubungan dengan patah tulang osteoporosis
biasanya adalah nyeri. Lokasi nyeri tergantung pada lokasi fraktur. Sedangkan gejala
osteoporosis pada pria mirip dengn gejala osteoporis pada wanita. Kepadatan tulang
berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan
gejala. Biasanya gejala akan timbul pada wanita berusia 51-75 tahun, meskipun bisa lebih
cepat ataupun lambat. Jika kepadatan tulang berkurang, tulang dapat menjadi kolaps atau
hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk (Syam, dkk).
Faktor yang Mempengaruhi Osteoporosis
1) Faktor Resiko Keturunan
a) Jenis Kelamin
Sekitar 80 persen penderita osteoporosis adalah perempuan. Perempuan
mempunyai risiko 6 kali lebih besar daripada laki laki untuk terkena
osteoporosis. Hal ini disebabkan pada perempuan massa tulang puncaknya
lebih rendah dan kehilangan massa tulangnya lebih cepat setelah menopause.
b) Pertumbuhan Usia
Semakin lanjut usia seseorang, semakin besar kehilangan massa tulang dan
semakin besar pula kemungkinan timbulnya osteoporosis. Di samping itu,
semakin tua akan semakin berkurang pula kemampuan saluran cerna untuk
menyerap kalsium. Tulang-tulang akan menjadi berkurang kekuatan dan
kepadatanya.
c) Ras
Perempuan kulit putih dan Asia cenderung lebih berpeluang mengalami
osteoporosis ( Mangoenprasodjo, 2005). Umunya ras campuran Afrika
Amerika memiliki massa tulang tertinggi, sedangkan ras kulit putih,
khususnya dari eropa utara, memiliki massa tulang terendah (Lane, 2001
dalam Mu’minin, 2013).
d) Struktur Tulang dan Berat Tubuh
Orang yang rangka tulangnya kecil cenderung lebih berisiko terkena
osteoporosis ketimbang dengan orang berangka besar. Bentuk tulang yang
kurus dan tubuh yang kurus berisiko lebih besar untuk mengalami
osteoporosis (Mangoenprasodjo, 2005)
e) Faktor Keturunan
Secara genetik, bila dalam satu keluarga terdapat riwayat osteoporosis,
kemungkinan anggota keluarga lain menderita osteoporosis sekitar 60-80
persen. Perempuan muda yang ibunya pernah mengalami patah tulang
belakang, peluangnya lebih besar mengalami pengurangan massa tualng.

2) Faktor Lingkungan
a) Kekurangan Hormon esterogen
Esterogen sangat penting untuk menjaga kepadatan massa tulang. Turunya kadar
esterogen bisa terjadi akibat kedua indung telur telah diangkat atau diradiasi
karena kanker, telah menopause. Kekurangan hormone esterogen akan
mengakibatkan lebih banyak resorpsi tulang daripada pembentukan tulang.
Akibatnya, massa tulang yang sudah berkurang karena bertambahnya usia, akan
diperberat lagi dengan berkurangnya hormone esterogen setelah menopause
(Mangoenprasodjo, 2005).
b) Diet
Diet yang buruk biasanya memperlambat pubertas dan pubertas yang tertunda
merupakan faktor risiko dari osteoporosis. Pengguna garam yang berlebih dapat
merusak tulang, garam dapat memaksa keluar kalsium melalui urin secara
berlebihan. Pemakaian garam yang di anjurkan tidak melebihi 100 mmol atau 6
gram/hari. Bahan makanan yang diolah, seperti kecap, margarine, mentega, keju,
terasi, dan bahan makanan yang diawetkan tidak boleh terlalu banyak dikonsumsi
karena banyak mengandung garam.
c) Pemasukan Kalsium dan Vitamin D
Kecilnya asupan kalsium semasa kecil dan remaja bisa menyebabkan rendahnya
massa tulang tertinggi, dan kurangnya kalsium dalam makanan menambah
penurunan massa tulang. Kekurangan vitamin D, yang sering terkait dengan
kekurangan kalsium, membuat tulang lunak (osteomalasia) dan meningkatkan
penurunan massa tulang dan risiko patah tulang (Compston, 2002).
d) Merokok
Wanita perokok mempunyai kadar esterogen lebih rendah dan mengalami massa
menopause 5 tahun lebih cepat dibanding wanita bukan perokok. Secara umum,
merokok menghambat kerja osteoblas sehingga terjadi ketidakseimbanan antara
kerja osteoklas dan osteoblas. Osteoklas lebih dominan. Akibatnya, pengeroposan
tulang/osteoporosis terjadi lebih cepat (Waluyo, 2009).
e) Mengonsumsi Minuman Keras atau Alkohol
Minum minuman keras berlebihan akan mengganggu kesehatan tubuh secara
keseluruhan, khusunya proses metabolisme kalsium. Alkohol berlebihan dapat
menyenbabkan luka luka kecil pada dinding lambung. Dan ini menyebabkan
perdarahan yang membuat tubuh kehilangan kalsium (yang ada dalam darah)
yang dapat menurunkan massa tulang dan pada giliranya menyebabkan
osteoporosis (Waluyo, 2009).
 Akondroplasia
Achondroplasia adalah dwarfisme atau kekerdilan yang disebabkan oleh gangguan
osifikasi endokondral akibat mutasi gen FGFR 3 (fibroblast growth factor receptor 3)
pada lengan pendek kromosom 4p16.3. Sindroma ini ditandai oleh adanya gangguan pada
tulang-tulang yang dibentuk melalui proses osifikasi endokondral, terutama tulang-tulang
panjang. Selain itu, Achondroplasia memberikan karakteristik pada kraniofasial.
Achondroplasia juga dikenal dengan nama Achondroplastic Dwarfism,
Chondrodystrophia Fetalis, Chondrodystrophy Syndrome atau Osteosclerosis
Congenital.

Patofisiologi

Achondroplasia disebabkan oleh mutasi dominan autosomal pada gen FGFR3


(fibroblast growth factor receptor 3) pada lengan pendek kromosom 4p16.3. Gen FGFR3
berfungsi memberi instruksi dalam hal pembentukan protein yang terlibat dalam
pembentukan dan pemeliharaan tulang, khususnya pembentukan tulang secara osifikasi
endokondral. Dua mutasi spesifik pada gen FGFR3 bertanggungjawab pada hampir
semua kasus Akondroplasia. Sekitar 98% kasus, terjadi mutasi G ke A pada nukleotida
1138 pada gen FGFR3. Sebesar 1% kasus disebabkan oleh mutasi G ke C. Mutasi-mutasi
ini mengakibatkan protein tidak bekerja sebagaimana mestinya, sehingga mempengaruhi
perkembangan dan pertumbuhan tulang.

Osifikasi endokondral adalah salah satu jenis pertumbuhan tulang dimana sel
mesenkim yang tidak terdifferensiasi langsung berkondensasi dan berdifferensiasi
membentuk kondroblas. Kondroblas berproliferasi dan berdifferensiasi membentuk
kondrosit yang secara bertahap menjadi matur membentuk hipertrofik kondrosit. Setelah
itu, hipertrofik kondrosit akan mengalami apoptosis (kematian sel) dan pada regio
tersebut terjadi kalsifikasi matriks ekstraseluler. Proses ini akan membentuk pelat
pertumbuhan (growth plate) dan pertumbuhan normal tulang panjang tercapai melalui
differensiasi dan maturasi kondrosit yang sinkron. Adanya mutasi gen FGFR3 pada
Achondroplasia menyebabkan gangguan pada proses osifikasi endokondral, dimana
kecepatan perubahan sel kartilago menjadi tulang pada pelat pertumbuhan (growth plates)
menurun sehingga pertumbuhan dan perkembangan tulang terganggu.
Pada lingkup kraniofasial yang terpengaruh adalah basis kranium dan bagian tengah
wajah (midface) karena bagian-bagian ini dibentuk secara osifikasi endokondral. Rongga
kranium dan maksila dibentuk secara osifikasi intramebranosa, sedangkan mandibula
dibentuk melalui osifikasi periosteal dan aposisi.
Gejala umum dari achondroplasia adalah:
1. Postur tubuh pendek:
- Laki-laki: tinggi sekitar 131 cm
- Wanita: tinggi sekitar 124 cm
2. Memiliki tangan dan kaki yang pendek dengan lengan dan paha atas yang pendek,
pergerakan siku terbatas.
3. Kepala besar (macrocephaly) dengan dahi yang lebar.
4. Memiliki jari-jari yang pendek. Tangan terlihat bercabang tiga, akibat jari manis
dan jari tengah menyimpang.
2. Alat Reproduksi
 Ambiguous Genitalia
Ambiguous genitalia merupakan salah satu kondisi langka, di mana genitalia dari bayi
tidak dapat ditentukan secara jelas. Pada bayi dengan ambiguous genitalia, kelamin
dapat tidak berkembang dengan sempurna atau dapat memiliki karakteristik dari
kedua jenis kelamin. Juga dapat terjadi ketidaksesuaian antara organ seksual eksternal
dan organ seksual internal atau status seksual secara genetik.

Penyebab Ambiguous Genitalia


Ambiguous genitalia utamanya dapat terjadi apabila ketidakseimbangan hormon pada
saat kehamilan mengganggu perkembangan organ seksual dari janin. Gangguan dari
tahapan yang menentukan jenis kelamin pada janin dapat menyebabkan adanya
ketidaksesuaian antara penampakan genitalia eksternal pada bayi dengan organ
seksual internal atau status seksual secara genetik (XX atau XY).
Beberapa dugaan penyebab dari kondisi ini di antaranya:
 Kurangnya hormon pria pada janin dengan struktur genetik laki-laki dapat
menyebabkan terjadinya ambiguous genitalia. Sedangkan ekspos terhadap
hormon pria saat perkembangan dapat menyebabkan terjadinya ambiguous
genitalia pada janin dengan struktur genetik perempuan.
 Mutasi pada gen tertentu dapat memengaruhi perkembangan seksual dari janin
dan menyebabkan ambiguous genitalia.
 Abnormalitas kromosom, seperti tidak adanya satu kromosom seksual atau
terdapat satu kromosom seksual yang berlebih, juga dapat menyebabkan
ambiguous genitalia.
 Pada sebagian kasus, penyebab dari ambiguous genitalia belum dapat
ditentukan.
Penyebab dari ambiguous genitalia pada janin yang memiliki struktur genetik
perempuan dapat berupa:
 Hiperplasia adrenal kongenital. Sebagian jenis dari kondisi genetik ini dapat
menyebabkan kelenjar adrenal memproduksi hormon pria (androgen) yang
berlebih.
 Ekspos terhadap hormon pria pada saat kehamilan. Beberapa jenis pengobatan
dapat mengandung hormon pria atau menstimulasi produksi hormon pria pada
wanita hamil, yang dapat menyebabkan genitalia janin perempuan untuk
menjadi lebih maskulin. Janin yang sedang berkembang juga dapat terekspos
terhadap hormon pria yang berlebih apabila ibu memiliki penyakit atau
kondisi yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon.
 Pada sebagian kecil kasus, tumor pada ibu dapat memproduksi hormon pria.
Penyebab dari ambiguous genitalia pada janin yang memiliki struktur genetik laki-
laki dapat berupa:
 Perkembangan testis yang terganggu. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari
abnormalitas genetik atau penyebab yang tidak diketahui.
 Sindrom insensitivitas androgen. Pada kondisi ini, jaringan genital yang
berkembang tidak menunjukkan respons yang normal terhadap hormon yang
diproduksi oleh testis.
 Kelainan pada testis atau testosteron. Serangkaian kelainan dapat
memengaruhi aktivitas dari testis. Hal ini dapat mencakup kelainan struktural
dari testis, masalah pada produksi hormon testosteron pada pria, atau masalah
pada reseptor selular yang memberikan respons terhadap testosteron.

Gejala Ambiguous Genitalia


Bayi yang memiliki struktur genetik perempuan (dengan dua kromosom X) dapat
memiliki tanda dan gejala sebagai berikut:
 Klitoris yang membesar, yang dapat menyerupai penis
 Labia yang tertutup, atau labia yang disertai lipatan dan menyerupai skrotum
 Benjolan yang teraba seperti testis pada labia yang menutup
Bayi yang memiliki struktur genetik laki-laki (dengan satu kromosom X dan satu
kromosom Y) dapat memiliki tanda dan gejala sebagai berikut:
 Kondisi di mana uretra, yakni saluran tipis yang menghantarkan urine dan air
mani, tidak terbentuk hingga ujung penis (hipospadia)
 Ukuran penis yang sangat kecil dengan ujung uretra mendekati skrotum
 Tidak adanya satu atau kedua testis pada struktur yang menyerupai skrotum
 Skrotum yang tidak disertai testis dengan bentuk menyerupai labia dengan atau
tanpa adanya mikropenis, atau penis yang berukuran sangat kecil
3. Alat Peredaran Darah
 Ventricular Septal Defect (VSD)
Defek septum ventrikel atau Ventricular Septal Defect (VSD) merupakan kelainan berupa
lubang atau celah pada septum di antara rongga ventrikel akibat kegagalan fusi atau
penyambungan sekat interventrikel. Defek septum ventrikel terjadi karena terlambatnya
penutupan septum interventrikuler pada 7 minggu pertama kehidupan intrauterin, yaitu
saat terjadi interaksi antara bagian muscular interventrikuler, bagian dari endokardium
(bantalan endokardium), dan bagian dari bulbus kordis. Pada saat itu terjadi kegagalan
fusi bagian-bagian septum interventrikular, membran, muskular, jalan masuk, jalan
keluar, atau kombinasinya, yang bisa bersifat tunggal atau multipel. Penyebab kegagalan
fusi ini belum diketahui.
Ada 2 kemungkinan anomali embrional yang timbul, yaitu:
 Kurangnya jaringan pembentuk septum interventrikular. Biasanya kelainan ini
adalah tipe yang berdiri sendiri terutama defek pada pars membranosa.
 Adanya defek malalignment yang biasanya disertai defek intrakardial yang lain.
Malalignment muncul pada pertemuan konus septum dan septum pars muskularis.
Defek malalignment anterior biasanya disertai dengan obstruksi aliran keluar
ventrikel kanan, misalnya tetralogi Fallot. Sebaliknya, defek malalignment posterior
biasanya berhubungan dengan obstruksi aliran keluar ventrikel kiri, misalnya
interrupted aortic arch (Wahab,2009).
Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti
(idiopatik), tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada
peningkatan angka kejadian VSD. Faktor yang mempengaruhi adalah :
a. Faktor eksogen : obat-obatan, penyakit ibu (rubella, DM), ibu hamil dengan
alkoholik.
b. Faktor endogen : penyakit genetik, misal : sindrom down.
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti,
tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan
angka kejadian penyakit jantung bawaan yaitu :
1. Faktor prenatal (faktor eksogen)
a) Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella
b) Ibu alkoholisme
c) Umur ibu lebih dari 40 tahun
d) Ibu menderita penyakit DM yang memerlukan insulin
e) Ibu meminum obat-obatan penenang
2. Faktor genetik (faktor endogen)
a) Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
b) Ayah/ibu menderita PJB
c) Kelainan kromosom misalnya down sindrom
d) Lahir dengan kelainan bawaan yang lain
Kelainan ini merupakan kelainan terbanyak, yaitu sekitar 25% dari seluruh kelainan
jantung. Dinding pemisah antara kedua ventrikel tidak tertutup sempurna. Kelainan
ini umumnya kongenital, tetapi dapat pula terjadi karena trauma. Kelainan VSD ini
sering bersama-sama dengan kelainan lain misalnya trunkus arteriosus, tetralogy of
Fallot.
Patofisiologi
Gangguan hemodinamik pada penderita DSV tergantung pada ukuran defek dan
tahanan vaskular pulmonal. Pada janin normal, tahanan arteri pulmonalis tinggi, dan
akan menurun dengan cepat pada saat setelah lahir hingga tahanan vaskular
pulmonal sama dengan tahanan vaskular sistemik. Pada usia 4 – 6 minggu,
penurunan tahanan vaskular pulmonal berlanjut pelan-pelan sampai mencapai
tahanan setingkat dewasa, yang mencapai puncaknya pada umur 3 – 6 bulan. Pada
penderita DSV adanya defek septum interventrikular akan menyebabkan darah
mengalir melalui defek dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan (left-to-right shunt)
karena pengaruh perbedaan tekanan. Bunyi bising disebabkan oleh derasnya aliran
darah. Darah di ventrikel kanan didorong ke arteri pulmonalis sehingga terjadi
peningkatan aliran darah melalui arteri pulmonalis yang berlanjut sebagai
peningkatan tahanan vaskular pulmonal.
 congenital heart disease
congenital heart disease adalah kelainan pada struktur jantung yang dialami
sejak lahir. Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan pada aliran darah dari dan ke
jantung, baik yang tergolong ringan ataupun kompleks, sehingga berpotensi
membahayakan nyawa. Penyakit jantung bawaan terjadi karena adanya gangguan
pada proses pembentukan dan perkembangan jantung saat janin berada di dalam
kandungan. Bagi penderita penyakit jantung bawaan, putaran darah ini dapat
terganggu dikarenakan adanya struktur jantung yang abnormal, termasuk struktur
katup, ruang jantung, septum (dinding penyekat yang memisahkan ruang jantung),
serta arteri. Hingga saat ini, belum ada yang dapat memastikan apa penyebab utama
gangguan pembentukan jantung tersebut, khususnya pada minggu ke-5 masa
kehamilan, atau saat proses pembentukan jantung terjadi.
Namun, terdapat beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko
terjadinya kondisi ini, di antaranya:
 Genetika, yang diturunkan baik dari salah satu atau kedua orang tua, atau
anggota keluarga lainnya. Penyakit jantung bawaan juga dapat dialami pada
anak yang lahir dengan sindrom Down, sindrom Turner, dan sindrom
Noonan.
 Diabetes. Sebanyak 3-6% wanita yang menderita diabetes tipe 1 dan 2
berpotensi melahirkan bayi dengan kelainan jantung, khususnya pada bagian
arteri. Hal ini terjadi dikarenakan tingginya kadar insulin dalam darah yang
dapat mengganggu pertumbuhan janin.
 Alkohol. Wanita hamil yang mengonsumsi minuman alkohol berlebih
berpotensi melahirkan bayi dengan kelainan struktur arteri atau ventriklel
jantung. Selain itu, paparan alkohol yang terdapat pada kosmetik seperti cat
dan pembersih kuku, atau pada lem serta produk lainnya, juga dapat
meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.
 Flu. Meskipun penjelasannya secara medis belum dipastikan, terdapat
beberapa kasus dimana wanita hamil yang mengalami flu pada trimester
pertama, dua kali lebih berisiko melahirkan bayi dengan kelainan jantung.
Dalam hal ini, vaksinasi flu sangat disarankan.
 Infeksi rubella atau campak Jerman. Infeksi virus ini berisiko
membahayakan pertumbuhan janin jika dialami oleh wanita yang hamil pada
8-10 minggu pertama kehamilan, termasuk organ jantung.
 Merokok. Enam puluh persen kasus bayi dengan penyakit jantung bawaan
dipicu oleh kandungan rokok yang dapat mempengaruhi perkembangan janin
dalam kandungan.
 Obat-obatan. Obat antikejang, obat anti jerawat, dan ibuprofen yang
dikonsumsi tanpa petujuk dokter dapat membahayakan pertumbuhan janin,
khususnya pada trimester pertama kehamilan.
 Jenis-jenis Penyakit Jantung Bawaan (congenital heart disease)
Terdapat beberapa jenis penyakit jantung bawaan, di antaranya adalah:
 Stenosis katup aorta. Sekitar 5% penderita penyakit jantung bawaan
dikategorikan ke dalam jenis ini. Dalam kasus ini, katup aorta yang berfungsi
untuk mengalirkan darah ke aorta dan kemudian ke seluruh tubuh, mengalami
penyempitan, sehingga menghambat aliran darah dan oksigen ke seluruh
tubuh. Hal tersebut juga menyebabkan otot ventrikel kiri menebal dan
membesar akibat beban kerja yang meningkat.
 Stenosis katup pulmoner. 10% penderita penyakit jantung bawaan
mengalami penyempitan pada katup pulmoner, yang berfungsi sebagai
pengontrol aliran darah dari jantung kanan menuju paru-paru.
 Anomali Ebstein (AE). Ini terjadi ketika katup trikuspid jantung yang
membatasi atrium dengan ventrikel kanan tidak berfungsi dengan baik,
mengakibatkan aliran darah pada jantung kanan menjadi kacau dan ventrikel
kanan mengecil. Anomali ini dapat terjadi dengan atau tanpa adanya
kecacatan lain pada jantung. AE tergolong sangat jarang terjadi, yakni 1% dari
penderita penyakit jantung bawaan.
 Transposisi arteri besar (TAB), merupakan kelainan yang ditemukan pada
5% penderita kelainan jantung bawaan, di mana terjadi gangguan pada
pembentukan arteri jantung dan paru. Pada kondisi ini, kedua arteri tersebut
“bertukar posisi” sehingga darah yang miskin oksigenlah yang dipompakan ke
seluruh tubuh.
 Koartktasio aorta, umumnya terjadi pada 10% penderita penyakit jantung
bawaan dan beberapa kasus parah perlu ditangani segera setelah lahir. Dalam
kelainan ini, aorta atau pembuluh darah utama mengalami penyempitan
sehingga pengaliran darah dari jantung ke seluruh tubuh mengalami
hambatan.
 Patent ductus arteriosus (PDA). Ini termasuk penyakit jantung bawaan
langka yang menyerang sekitar 5 dari 100.000 bayi. Kondisi ini tergolong
sangat berbahaya dikarenakan lubang yang menghubungkan arteri pulmonal
dengan aorta pada janin tidak  menutup setelah bayi lahir, sebagaimana
mestinya. Akibatnya sebagian darah yang seharusnya dialirkan ke seluruh
tubuh melalui aorta, masuk ke arteri pulmonal dan kembali ke paru-paru.
Kondisi ini menyebabkan darah yang masuk ke paru-paru menjadi berlebihan,
sekaligus juga menambah beban kerja jantung.
 Truncus arteriosus, jenis ini termasuk penyakit yang cukup fatal jika tidak
ditangani secara dini dikarenakan kedua arteri utama, yaitu arteri pulmonal
dan aorta, terbentuk sebagai satu kesatuan. Hal ini mengakibatkan aliran darah
ke paru-paru menjadi sangat berlebih, yang akan menyebabkan kesulitan
bernapas serta kerusakan pada pembuluh darah dalam paru-paru.
 Defek atau kecacatan pada septum, atau disebut juga dengan kebocoran
jantung, adalah kondisi dimana terdapat lubang di antara atrium jantung atau
di antara ventrikel jantung. Jika lubang berada pada septum atrium, maka
darah akan mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan jantung dan
mengakibatkan pembesaran sisi kanan jantung. Sementara, jika lubang
terdapat pada septum ventrikel, maka akan terjadi peningkatan tekanan pada
paru-paru dan pembesaran pada ventrikel kiri. Defek pada septum sering
menyebabkan sindrom Eisenmenger, yaitu bila aliran darah pada lubang
septum berbalik dari bagian kanan ke bagian kiri jantung karena tekanan di
paru-paru sudah sangat tinggi, sehingga darah yang miskin oksigen ikut
dialirkan ke seluruh tubuh. Keadaan ini akan mengakibatkan organ-organ
serta jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen, dan membutuhkan
penanganan segera.
 Cacat ventrikel tunggal, adalah kondisi dimana salah satu dari ventrikel
jantung tidak berkembang dan berfungsi dengan baik. Kondisi ini fatal dan
memerlukan penanganan segera melalui operasi, dalam minggu-minggu awal
setelah lahir. Terdapat 2 jenis cacat ventrikel tunggal yang dapat terjadi,
yaitu hypoplastic left heart syndrome (HLHS) dan tricuspid atresia.
 Hypoplastic left heart syndrome (HLHS) adalah penyakit jantung bawaan
yang cukup langka, dimana bagian kiri jantung tidak berkembang dengan
normal dan berukuran kecil, mengakibatkan pemompaan darah tidak dapat
menggapai seluruh tubuh. Sedangkan tricuspid atresia merupakan kondisi
dimana katup trikuspid tidak terbentuk dengan sempurna, mengakibatkan
aliran darah dari atrium tidak mengalir ke ventrikel kanan, sehingga ventrikel
kanan tidak berkembang dan mengecil.
 Tetralogy of Fallot (ToF), merupakan kombinasi dari berbagai penyakit
jantung bawaan, yang terdiri dari defek septrum ventrikel (lubang di antara
kedua ventrikel jantung), stenosis pulmonal (penyempitan pada katup
pulmonal), kelainan posisi aorta, serta hipertrofi ventrikel kanan (penebalan
pada otot ventrikel kanan). Kondisi ini sangat jarang terjadi, dan dapat
mengakibatkan percampuran antara darah kotor dan darah bersih, sehingga
menyebabkan sianosis pada bayi.
 Total or partial anomalous pulmonary venous return (TAPVR), adalah
kondisi di rmana keempat pembuluh darah vena yang membawa darah dari
paru-paru justru mengarah ke bagian kanan jantung. Dalam kondisi tertentu,
kelainan ini juga dapat terjadi secara parsial, yaitu hanya beberapa pembuluh
vena yang terbentuk dalam posisi keliru. Terkadang kondisi ini juga disertai
dengan penyempitan pada pembuluh vena yang mengalami kelainan tersebut,
dan dapat mengakibatkan kematian dalam waktu kurang dari satu bulan
setelah lahir.

4. Alat Ekskresi
Macam-macam kelainan kongenital pada sistem urogenital dapat dijelaskan sebagai
berikut:
 Agenesis ginjal
Agenesis ginjal adalah keadaan tidak ditemukan jaringan ginjal pada satu sisi atau
keduanya.
1) Agenesis ginjal unilateral
Agenesis ginjal unilateral terjadi karena kegagalan tunas ureter membentuk ginjal
atau blastema metanefrik pada satu sisi. Insidennya 1 dari 500 kelahiran hidup.
Agenesis ini lebih sering terjadi dan kompatibel dengan kehidupan yang panjang.
Ginjal soliter menjadi hipertrofik dan hipertrofi glomerulus serta hiperfusi mungkin
bertanggung jawab atas perkembangan sklerosis glomerulus, proteinuria dan gagal
ginjal kronis di kemudian hari. Agenesis unilateral dilaporkan merupakan
predisposisi untuk nefrolitiasis dan infeksi, yang berkaitan dengan frekuensi ektopia
serta obstruksi ginjal soliter yang tinggi.
2) Agenesis ginjal bilateral
Agenesis bilateral, keadaan dimana sama sekali tidak didapatkan adanya jaringan
ginjal dan dapat berakibat buruk di kehidupan ekstrauterin. Kondisi ini terjadi pada
sekitar satu dalam 4000 kelahiran, dengan 2:1 dominasi lakilaki. Kelainan ini
disertai dengan oligohidramnion, amnion nodosum, deformitas posisi tungkai dan
wajah aneh dengan lipatan, hidung menyerupai paruh, serta deformitas dan telinga
letak rendah. Kumpulan kelainan ini dikenal sebagai rangkaian Potter, yang diduga
terjadi akibat oligohidramnion. Bayi yang terkena biasanya terlahir prematur dan
sering juga kecil untuk usia kehamilan. Masalah klinik utama pada bayi baru lahir
adalah distress pernapasan akibat hipoplasia paru. Upaya resusitasi biasanya
mengakibatkan emfisema interstitial paru dan pneumotoraks.

 Hipoplasia ginjal
Hipoplasia ginjal adalah istilah yang digunakan untuk ginjal berukuran kecil yang
terjadi akibat defisiensi perkembangan jumlah atau ukuran nefron. Ginjal kecil
dengan parenkim normal (ginjal “kerdil”) sering unilateral dan sering kali ditemukan
bersama kelainan kongenital lain.
1) Hipoplasia ginjal unilateral
Walaupun biasanya tidak bergejala selama masa bayi, kelainan unilateral dikatakan
akan mempredisposisi pielonefritis kronis dan hipertensi. Namun literatur telah
gagal membedakan secara jelas ginjal yang mengalami defisiensi akibat
perkembangan dari ginjal yang mengalami defisiensi sekunder akibat parut atau
atrofi. Tipe ginjal kecil yang paling lazim pada masa anak mungkin terjadi akibat
atrofi segmental dan kehilangan parenkim berat pada nefropati refluks suatu
kondisi yang disebut sebagai ginjal Ask-Upmark, yang biasanya meliputi
pielonefritis kronis dan berkaitan dengan hipertensi.
2) Hipoplasia ginjal bilateral
Suatu kelainan yang tidak lazim, biasanya ditandai dengan kehilangan sejumlah
nefron yang secara individual mengalami hipertrofi. Ginjal berukuran sangat kecil
dan dapat memiliki jumlah lobus yang kurang. Nefron dapat berjumlah hanya
seperlima normal dan sangat membesar, menimbulkan sebutan yang tidak lazim
tetapi diterima umum yaitu oligomeganefronia atau hipoplasia oligonefron.
Manifestasi klinis hipoplasia oligonefron adalah gangguan kemampuan
memekatkan urin, dengan poliuria, polidipsia dan serangan dehidrasi. Proteinuria
biasanya sedang. Retardasi pertumbuhan merupakan kondisi yang menonjol dan
sering anemia. Hipoplasia oligonefron telah dilaporkan merupakan penyebab gagal
ginjal masa anak paling lazim ke-4, bertanggung jawab atas ~10-15% total kasus.
Terkadang, hipoplasia oligonefron disertai kelainan kongenital lain.
 Hidronefrosis
Hidronefrosis biasanya mungkin terdapat pada janin dengan obstruksi aliran
keluar, terdiri dari hidronefrosis unilateral dan bilateral. Hidronefrosis unilateral atau
bilateral dapat berupa parenkim ginjal yang dapat normal atau mengalami kelainan
atau displastik, dilatasi ureter dan/atau kandung kemih, serta berkurangnya atau tidak
adanya volume cairan amnion. Hidronefrosis unilateral biasanya berupa dilatasi
sistem pengumpul proksimal. Hidronefrosis ini merupakan kelainan paling umum
yang didiagnosis antenatal dan merupakan 50% dari semua kelainan kongenital
sistem urogenital yang terdeteksi sebelum kelahiran. Kelainan ini terjadi pada 1 dari
500-700 bayi.
Penyebab paling umum adalah hidronefrosis fisiologik, namun dapat juga
disebabkan oleh obstruksi pada persambungan ureteropelvik atau vesikoureterik atau
refluks urin. Sebagian sembuh secara spontan namun tidak semuanya. Prognosis
bergantung pada derajat kerusakan ginjal yang disebabkan oleh distensi berlebihan.
Jika diameter anteroposterior tidak melebihi 15 mm baik ketika antenatal maupun
postnatal, maka intervensi jarang diperlukan. Hidronefrosis bilateral kurang umum
dibandingkan hidronefrosis unilateral namun lebih besar kemungkinannya bersifat
serius. Dapat disebabkan obstruksi leher kandung kemih atau katup uretra posterior.

 Hidrokel
Hidrokel adalah akumulasi cairan di dalam tunika vaginalis dan tunika
albuginea yang membungkus testis. Apabila jumlah cairan berubah sesuai dengan
waktu, akan ada hubungan dengan rongga peritoneum. Hidrokel kecil dapat
menghilang pada umur 1 tahun, tetapi hidrokel yang lebih besar seringkali menetap
dan memerlukan pengobatan bedah. Hidrokel yang mempunyai hubungan harus
diobati seperti hernia inguinalis indirek.
Perjalanan testis dari posisi intraabdomen ke dalam skrotum terjadi melalui
prosesus vaginalis, yang normalnya kemudian menutup pada saat lahiratau masa bayi
awal. Prosesus yang tetap terbuka akan menghasilkan hernia inginalis indirek atau
hidrokel. Benjolan ingunal dan massa skrotum pada anak biasanya terjadi sekunder
akibat hernia atau hidrokel. Tetap terbukanya prosesus vaginalis memungkinkan
cairan peritoneum, omentum atau visera masuk ke dalam kanalis inguinalis atau
skrotum. Inkarserasi usus di dalam sakus hernia dan cedera iskemi terhadap testis
potensial bisa mempersulit hernia inguinalis. Defek yang lebih kecil hanya
memungkinkan lewatnya cairan, menghasilkan hidrokel.
Secara klinis, hidrokel akan bertransluminasi, sedangkan sebagian besar
hernia tidak. Hidrokel bisa bersifat komunikans atau non-komunikans. Hidrokel
nonkomunikans biasanya muncul saat lahir dan cenderung akan sembuh dalam tahap
pertama kehidupan. Hidrokel komunikans memperlihatkan fluktuasi khas dalam
ukuran: mengecil saat pasien berbaring (malam hari atau ketika pasien tidur) dan
membesar ketika beraktivitas. Hidrokel yang bertahan setelah usia 1 tahun harus
diperbaiki secara bedah.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian kelainan congenital sistem
urogenital pada neonatus

1) Infeksi intrauterine
Ketika infeksi-infeksi seperti virus (rubella, cytomegalovirus, herpes simpleks
varisela-zoster), sifilis dan toksoplasmosis, menyerang ibu hamil, dapat
menyebabkan kerusakan pada saluran urinarius. Infeksi pada awal kehamilan
dapat menyebabkan denervasi struktur janin dan mengakibatkan lahir cacat,
sebagai akibat dari sifat neurotropik organisme.Organisme dapat juga
menginfeksi diferensiasi mesenkim dan lokasi tunas ureter, yang dapat
mempengaruhi organogenesis ginjal, seperti agenesis, displasia dan hipoplasia
ginjal.
2) Obat-obatan
Beberapa jenis obat tertentu yang diminum wanita hamil pada trimester pertama
kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital
pada bayinya. Beberapa jenis jamu-jamuan yang diminum wanita hamil muda
dengan tujuan yang kurang baik diduga erat pula hubungannya dengan terjadinya
kelainan kongenital, walaupun hal ini secara laboratorik belum banyak diketahui
secara pasti. Sebaiknya selama kehamilan, khususnya trimester pertama, dihindari
pemakaian obat-obatan yang tidak perlu sama sekali; walaupun hal ini kadang-
kadang sukar dihindari karena calon ibu memang terpaksa harus minum obat. Hal
ini misalnya pada pemakaian trankuilaiser untuk penyakit tertentu, pemakaian
sitostatik atau preparat hormon yang tidak dapat dihindarkan; keadaan ini perlu
dipertimbangkan sebaik-baiknya sebelum kehamilan dan akibatnya terhadap bayi.
3) Usia ibu
Usia ibu dapat menjadi indikator faktor biologis intrinsik dan riwayat reproduksi
sebelumnya (termasuk paritas) atau faktor ekstrinsik, seperti pendidikan, gizi
status atau pengaruh sosial dan perilaku. Jika risiko usia ibu terkait dengan faktor-
faktor ekstrinsik daripada faktor biologis intrinsik, mereka diharapkan untuk dapat
merubah baik geografis dan waktu. Risiko dapat berhubungan dengan paparan
saat ini atau masa lalu. Ibu lanjut usia mungkin juga dikaitkan dengan risiko
diferensial peningkatan keguguran janin yang terkena.
4) Gizi ibu
Meskipun gangguan nutrisi pada hewan hamil telah sering diimplikasikan pada
teratogenesis, hanya ada sedikit data pada manusia yang langsung
menghubungkan gangguan nutrisi murni dengan kelainan kongenital janin,
dengan kemungkinan pengecualian defisiensi yodium berat. Malnutrisi
menyeluruh pada ibu tampaknya menyebabkan retardasi pertumbuhan intrauterine
dan sedikit bukti menunjukkan bahwa malnutrisi berat pada ibu dapat
mengakibatkan retardasi pertumbuhan permanen pada sejumlah keturunan.
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari penulisan makalah ini yakni :
1. Penyakit degeneratif adalah penyakit akibat penurunan fungsi organ tubuh. Tubuh
mengalami defisiensi produksi enzim dan hormon, imunodefisiensi, peroksida lipid,
kerusakan sel (DNA) dan pembuluh darah.
2. Jenis-jenis penyakit degeneratif akibat malfungsi lapisan mesoderm adalah sebagai
berikut:
 Otot rangka, misalnya osteoporosis dan akondroplasia
Osteoporosis adalah suatu penyakit tulang yang menyebabkan berkurangnya
jumlah jaringan tulang dan tidak normalnya sruktur atau bentuk mikroskopis
tulang. Akondroplasia adalah dwarfisme atau kekerdilan yang disebabkan
oleh gangguan osifikasi endokondral akibat mutasi gen FGFR 3 (fibroblast
growth factor receptor 3) pada lengan pendek kromosom 4p16.3.
 Alat Reproduksi, misalnya Ambiguous genitalia
Ambiguous genitalia merupakan salah satu kondisi langka, di mana genitalia
dari bayi tidak dapat ditentukan secara jelas. Pada bayi dengan ambiguous
genitalia, kelamin dapat tidak berkembang dengan sempurna atau dapat
memiliki karakteristik dari kedua jenis kelamin.
 Alat peredaran Darah, Misalnya Defek septum ventrikel
Defek septum ventrikel atau Ventricular Septal Defect (VSD) merupakan
kelainan berupa lubang atau celah pada septum di antara rongga ventrikel
akibat kegagalan fusi atau penyambungan sekat interventrikel. Defek septum
ventrikel terjadi karena terlambatnya penutupan septum interventrikuler pada
7 minggu pertama kehidupan intrauterin, yaitu saat terjadi interaksi antara
bagian muscular interventrikuler, bagian dari endokardium (bantalan
endokardium), dan bagian dari bulbus kordis.
 Alat Eksresi, Misalnya Agenesis ginjal, Hipoplasia ginjal
Agenesis ginjal adalah keadaan tidak ditemukan jaringan ginjal pada satu sisi
atau keduanya. Hipoplasia ginjal adalah istilah yang digunakan untuk ginjal
berukuran kecil yang terjadi akibat defisiensi perkembangan jumlah atau
ukuran nefron.

3.2 SARAN
Penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis
menghimbau kepada pembaca untuk menggali lebih jauh informasi terkait jenis-jenis
penyakit degenerative akibat malfungsi pada lapisan mesoderm.
DAFTAR RUJUKAN

Compston, J. 2002. Osteoporosis. Dialihbahasakan oleh Lisa Budiharjo. Dian Rakyat.


Jakarta:13-16.
Kapita Selekta Kedokteran, 2000. Defek Septum ventrikel, Bab VI Ilmu Kesehatan Anak
Ed. III Jilid 2 Editor: Arif Mansjoer, et al. Jakarta : Media Aesculapius FK UI hal.445-
447.
Maharani, Tria K., and Adhie N. Radityo.2013. Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Kejadian Kelainan Kongenital Sistem Urogenital Pada Neonatus. Jurnal Kedokteran
Diponegoro, vol. 2, no. 1.
Mangoenprasodjo, S. 2005. Osteoporosis dan Bahaya Tulang Rapuh. Jakarta: Thinkfresh.
Syam, Y, Noersasongko, D, Sunaruo, H. 2014. Faktor Akibat Osteoporosis. Jurnal eClinik. 2(2).
Wahab A.S., 2009. Kardiologi Anak: Penyakit Jantung Kongenital yang Tidak Sianotik.
Jakarta: EGC. pp: 37-51
Waluyo, S, 2009. 100 Question & Answer Osteoporosis. Jakarta : kelompok Gramedia, PT. Elex
Media Komputindo.
https://www.klikdokter.com/penyakit/ambiguous-genitalia
http://www.rsannisa.co.id/artikel/kesehatan/penyakit-jantung-bawaan