Anda di halaman 1dari 3

BAB 10

TINDAK PIDANA KORUPSI

Pengertian:
Corruptio  corrumpere= busuk, rusak, menggoyahkan,memutarbalikkan, menyogok.
Korupsi adalah penyalahgunaan jabatan dan administrasi, ekonomi atau politik, baik yang disebabkan
oleh diri sendiri maupun orang lain. Yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan pribadi , hingga
menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat umum, perusahaan atau pribadi lainnya.
Menurut UU No.31 Tahun 1999. Korupsi adalah setiap orang yang dikategorikan melawan hukum,
melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
koperasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada padanya karena
jabatan/ kedudukan yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.
7 Tipologi Korupsi Menurut Hussein Alatas:
1. Transaktif : Menunjukkan adanya kesepakatan 2 pihak antara penerima dan pemberi demi
keuntungan bersama.
2. Eksortif : Pihak pemberi dipaksa memberi suap agar tidak membahayakan diri/ kepentingan
orang”nya/ hal lain yg dihargainya.
3. Investif : Melibatkan suatu penawaran barang/jasa tanpa ada pertalian langsung dengan
keuntungan tertentu yg diperoleh pemberi, selain keuntungan yg diharapkan akan diperoleh di masa
yang akan datang.
4. Nepotistik : Pemberian/perlakuan khusus kepada teman/kerabat yg memiliki kedekatan
hubungan dalam rangka menduduki jabatan publik.
5. Autigenik : Dilakukan individu saat ada kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari
pengetahuan dan pemahaman atas sesuatu yang diketahuinya sendiri.
6. Suportif : Memicu suasana kondusif untuk melindungi koruptor.
7. Defensif : Dilakukan terpaksa untuk melindungi diri dari pemerasan.
7 Kategori Korupsi (UU No.31 Th 1999 Juncto UU No.20 Th 2001)
1. Kerugian Keuangan Negara  mencari keuntungan dengan cara melawan hukum, merugikan negara
serta menyalahgunakan jabatan u/ mencari keuntungan. ex: pegawai pajak sengaja mengorupsi hasil
pajak, shg negara dirugikan.
2. Penyuapan ex: Seorang ditilang polisi dgn sengaja menyuap polisi agar bebas dari jeratan hukum.
3. Penggelapan dalam jabatan  menggelapkan laporan keuangan, menghilangkan barang bukti/
membiarkan orang lain menghancurkan barang bukti dengan tujuan merugikan orang lain/
menguntungkan diri sendiri. ex: Seorang pejabat sengaja melakukan korupsi di instansinya
4. Pemerasan ex: Ketua RT sengaja memaksa menagih iuran pada warganya.
5. Kecurangan biasa dilakukan oleh pemborong ex: Mark-up pembangunan proyek sarana umum
6. Kepentingan dalam pengadaan  ex: orang yang ditunjuk u/ pengadaan melalui proses
seleksi/tender, pihak yang menyeleksi tidak boleh ikut serta dalam tender. ex: PNS yg membolos
7. Gratifikasi ex: uang, tiket pesawat, dll. ex: Pejabat menerima hadiah dari pengusaha agar
proyeknya diloloskan
Ciri-Ciri Korupsi Menurut Husein Alatar
1. Melibatkan >1 orang
2. Serba kerahasiaan
3. Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan
4. Mereka yang memproaktifkan cara-cara korupsi biasanya berusaha untuk menyelubungi
perbuatannya dgn berlindung dibalik pembenaran hukum.
5. mereka yg terlibat korupsi adalah mereka yang menginginkan keputusan yg tegas & mereka yg
mampu u/ memengaruhi keputusan”itu.
6. Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan.
7. Setiap bentuk korupsi adalah suatu penghianatan kepercayaan.
8. Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yg kontradiktif (bertentangan) & mereka yg
melakukan tindakan itu.
9. Suatu perbuatan korupsi melanggar norma” tegas & pertanggungjawaban dlm tatanan masyarakat.
Faktor penyebab
Menurut teori Jack Bologne (GONE Theory) :
• Greeds (Keserakahan) : Berkaitan dgn perilaku serakah secara potensial ada dalam manusia.
• Opportunities (kesempatan) : berkaitan keadaan instansi/masyarakat yg sedemikian rupa sehingga
terbuka kesempatan bagi seseorang u/melakukan kecurangan.
• Needs (kebutuhan) : berkaitan faktor” kebutuhan hidup u/ menunjang hidupnya.
• Exposures (Pengungkapan) : berkaitan dengan sanksi yg dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila
pelaku diketemukan melakukan kecurangan.
Secara Umum :
• Ketiadaan dan kelemahan pemimpin
• Kelemahan pengajaran agama dan etika
• Kolonialisme
• Kurangnya pendidikan
• Tidak adanya tindakan hukum yang tegas
Tingkatan Korupsi:
• Betrayal of trust : pengkhianatan kepercayaan
• Abuse of Power : Penyalahgunaan wewenang
• Material Benefit : Mencari keuntungan
Strategi Mencegah & Berantas Korupsi:
• Preventif :Mengarah pada pembuatan upaya preventif pada penyebab timbulnya korupsi
• Deduktif :Upaya untuk mengetahui kasus korupsi dalam waktu sesingkat-singkatnya.
• Represif :Pemberian sanksi hukum secara tepat dan cepat.
Oleh masyarakat (Konsep & Gerakan)
• K. ‘Carrot and Stick’ :Mencukupi gaji pejabat negara & sanksi tegas bagi koruptor
• G. ‘Masyarakat Anti Korupsi’ :Upaya masyarakat u/ menekan pemerintah bangkit melawan korupsi
• G. ‘Pembersihan’ :Menciptakan aparat hukum yang jujur, adil dan bersih
• G. ‘Moral’ :Selalu mensosialisasikan bahwa korupsi adalah kejahatan besar
• G. ‘Pengefektifan Birokrasi’ :Menyusutkan jumlah pegawai untuk dapatkan hasil maksimal
Dampak:
• Lesunya Perekonomian
• Meningkatnya Kemiskinan
• Tingginya Kriminalitas
• Demoralisasi
• Kehancuran Birokrasi
• Tergantungnya sistem politik dan pemerintahan
• Buyarnya masa depan demokrasi
• Runtuhnya penegakan hukum
Jenis Dan Sanksi Korupsi Menurut Uu No.20 Th.2001:
1. Terhadap Orang yang melakukan Tindak Pidana Korupsi :
a) Pidana Mati
Dapat dipidana mati karena kepada setiap orang yang secara melawan hukum melakukan
perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan
keuangan Negara atau perekonomian Negara sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1)
Undang-undang nomor 31 tahun 1999. UU no. 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak
pidana korupsi, yang dilakukan dalam keadaan tertentu (pasal 2 ayat (2)).
b)   Pidana Penjara
1. Penjara seumur hidup / penjara 4-20 tahun dan denda 200 juta - 1 milyar bagi setiap orang
yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perkonomian Negara.
(Pasal 2 ayat 1)
2. Penjara seumur hidup / penjara min 1 tahun dan denda 500 juta - 1 milyar bagi setiap orang
yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan
atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara (Pasal 3)
3. Penjara 3-12 tahun. denda 150 juta-600 juta bagi setiap orang yang dengan sengaja
mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan,
penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa
ataupun para saksi dalam perkara korupsi. (Pasal 21)
4. Penjara min 3 tahun dan max 12 tahun dan /denda min 150 juta dan 600 juta bagi setiap
orang sebagaimana dimaksud dalam pasal 28, pasal 29, pasal 35, dan pasal 36.
Pidana Tambahan
1. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak
bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk
perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang
yang menggantikan barang-barang tersebut.
2. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak sama dengan harta yang diperoleh
dari tindak pidana korupsi.
3. Pembekuan izin dari suatu korporasi jika yang terlibat korupsi adalah korporasi. Penutupan
seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun.
2. Terhadap Tindak Pidana yang dilakukan Oleh atau Atas Nama Suatu Korporasi :
Pidana pokok yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda dengan ketentuan maksimal ditambah 1/3
(sepertiga). Penjatuhan pidana ini melalui procedural ketentuan pasal 20 undang-undang 31 tahun
1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut:
a. Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka
tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan / pengurusnya.
b. Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh
orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam
lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.