Anda di halaman 1dari 38

TEKNIK SIPIL UNIV RIAU

DESAIN JALAN REL


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Desain Jalan Rel merupakan salah satu mata kuliah pilihan yang tersedia pada
Program Studi Teknik Sipil S-1. Desain Jalan Rel adalah bentuk aplikatif dan kompetensi
dasar yang menunjang keberhasilan mahasiswa dalam mempelajarinya.
Jaringan jalan rel merupakan prasarana transportasi darat yang dapat memegang
peranan yang sangat penting dalam sektor perhubungan terutama untuk kesinambungan
distribusi barang dan jasa. Dalam jumlah sangat besar. Keberadaan jalan rel juga sangat
diperlukan untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi dengan meningkatnya sarana
transportasi yang dapat menjangkau seluruh kawasan nusantara.
Dari seluruh fungsi dan runutan di atas, maka perencanaan jalan rel harus
bertujuan terciptanya lalu lintas yang lancar, aman, cepat, efisien dan ekonomis. Jalan-rel
harus memiliki syarat-syarat ekonomis menurut fungsi, volume serta sifat-sifatnya. Untuk
itu diperlukan perencanaan yang memenuhi atau sesuai dengan standar perencanaan.
Dalam perencanaan, bentuk geometriknya ditetapkan sedemikian rupa sehingga
lintasan yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan yang optimal pada lalu lintas
sesuai dengan fungsi yang dititik beratkan pada perencanaan bentuk fisik dan
konstruksinya.
Perencanaan geometrik jalan rel merupakan bagian dari perkerjaan yang
menentukan dimensi yang dinyatakan dari suatu jalan rel beserta bagian-bagiannya.
Geometrik jalan rel meliputi:

 Alinemen Horizontal
Alinemen horizontal dititik beratkan pada bagian tikungan jalan yang memenuhi

persyaratan teknik.

 Alinemen Vertikal
Alinemen vertikal menggambarkan tinggi rendahnya jalan terhadap muka tanah asli

dan juga erat hubungannya dengan pembiayaan dan jumlah kecelakaan lalu lintas.

Selain itu dapat menghasilkan keindahan jalan yang harmonis dengan lingkungan alam

sekitas.

 Stasiun, wesel, dan komponen-komponenya.


MEI EFTARIKA H Page | 1
0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
1.2. Tujuan Penyelesaian Desain Jalan Rel

Penyelesaian desain jalan rel ini bertujuan untuk memberikan gambaran dari teori-teori
yang telah dipelajari pada:
 Perencanaan Geometrik Jalan Rel

 Perencanaan Struktur Rel

 Kekuatan dan klasifikasi tanah, sebagai dasar perletakan konstruksi secara umum
dan khususnya pada konstruksi rel.

Disamping itu, penyelesaian tugas jalan rel ini juga bertujuan untuk memenuhi salah
satu syarat dalam menyelesaikan jejang studi Teknik Sipil S1 di Fakultas Teknik
Universitas Riau.

MEI EFTARIKA H Page | 2


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

BAB II
PERMASALAHAN

Dalam perencanaan geometrik jalan rel yang dititik beratkan pada perencanaan
fisik rel akan timbul permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan perencanaan.
Adapun masalah-masalah tersebut harus dianalisa, didesain, dan dikalkulasikan oleh
seorang perencana teknik (designer engineering).
Berdasarkan topografi, akan ditentukan lintasan jalan yang menghubungkan titik F
dan titik M dengan data-data sebagai berikut :

1. Peta kontur dengan skala = 1 : 8000


2. CBR tanah dasar = 6, 7, 8, 9, 7, 8, 5, 8, 7,8,7,5
3. Curah hujan rata-rata = 1000 mm/ tahun

Sasaran Tugas:
1. Merencanakan alinemen horizontal dan alinemen vertical jalan rel
2. Membuat gambarnya
3. Merencanakan struktur dan komponen jalan rel
4. Merencanakan stasiun pengalih

MEI EFTARIKA H Page | 3


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

BAB III
LANDASAN TEORI

1.1 Ketentuan Umum


Lintas kereta api direncanakan untuk melewatkan berbagai jumlah angkutan
barang dan/atau penumpang dalam suatu jangka waktu tertentu. Perencanaan konstruksi
jalan rel harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat dipertanggungjawabkan
secara teknis dan ekonomis. Secara teknis diartikan konstruksi jalan rel tersebut harus
dapat dilalui oleh kendaraan rel dengan aman dengan tingkat kenyamanan tertentu
selama umur konstruksinya. Secara eknomis diharapkan agar pembangunan dan
pemeliharaan konstruksi tersebut dapat diselenggarakan dengan biaya yang sekecil
mungkin dimana masih memungkinkan terjaminnya keamanan dan tingkat kenyamanan.
Perencanaan konstruksi jalan rel diperngaruhi oleh jumlah beban, kecepatan maksimum,
beban gandar dan pola operasi. Atas dasar ini diadakan klasifikasi jalan rel, sehingga
perencanaan dapat dibuat secara tepat guna.

1.1.1 Kecepatan dan Beban Gandar


a. Kecepatan.
1) Kecepatan Rencana.
Kecepatan rencana adalah kecepatan yang digunakan untuk
merencanakan konstruksi jalan rel.
a) Untuk perencanaan struktur jalan rel.
V rencana = 1,25 x V maks.
b) Untuk perencanaan peninggian

c = 1,25
Ni = Jumlah Kereta api yang lewat.
Vi = Kecepatan Operasi
c) Untuk perencanaan jari-jari lengkung lingkaran dan lengkung
peralihan
Vrencana = Vmaks

2) Kecepatan Maksimum
Kecepatan maksimum adalah kecepatan tertinggi yang diijinkan
untuk operasi suatu rangkaian kereta pada lintas tertentu.

MEI EFTARIKA H Page | 4


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
3) Kecepatan Operasi
Kecepatan operasi adalah kecepatan rata-rata kereta api pada
petak jalan tertentu.
4) Kecepatan Komersil
Kecepatan komersil kecepatan rata-rata kereta api sebagai hasil
pembagian jarak tempuh dengan waktu tempuh.
b. Beban Gandar.
Beban gandar adalah beban yang diterima oleh jalan rel dari satu
gandar. Untuk semua kelas, beban gandar maksimum adalah 18 ton.

1.1.2 Standar Jalan Rel


a. Klasifikasi

Tabel 3.1 Kelas Jalan Rel dan Komponennya


Pma
Tebal Lebar
Daya Angkut ks Jenis Jenis
Kelas Vmaks Balas Bahu
Lalu Lintas gand Tipe rel Bantalan Penamb
Jalan (km/jam) Atas Balas
(ton/tahun) ar Jarak (mm) at
(cm) (cm)
(ton)
R.60/R.5 Beton
I >20.106 120 18 EG 30 50
4 600
R.54/R.5 Beton/Kayu
II 10.106-20.106 110 18 EG 30 50
0 600
Beton/Kayu/B
R.54/R.5
III 5.106-10.106 100 18 aja EG 30 40
0/R.42
600
Beton/Kayu/B
R.54/R.5
IV 2,5.106-5.106 90 18 aja EG/ET 25 40
0/R.42
600
Kayu/Baja
V <2,5.106 80 18 R.42 ET 25 35
600
Sumber: PD 10

b. Daya Angkut Lalu Lintas

MEI EFTARIKA H Page | 5


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
Daya angkut lintas adalah jumlah angkutan anggapan yang melewati
suatu lintas dalam jangka waktu satu tahun. Daya angkut lintas mencerminkan
jenis serta jumlah beban total dan kecepatan kereta api yang lewat di lintas
yang bersangkutan. Daya angkut disebut daya angkut T dengan satuan ton/
tahun.

1.1.3 Ruang Bebas dan Ruang Bangun


Ruang bebas adalah ruang diatas sepur yang senantiasa harus bebas dari
segala rintangan dan benda penghalang; ruang ini disediakan untuk lalu lintas
rangkaian kereta api. Ukuran ruang bebas untuk jalur tunggal dan jalur ganda, baik
pada bagian lintas yang lurus maupun yang melengkung, untuk lintas elektrifikasi dan
non elektrifikasi. Ukuran-ukuran tersebut telah memperhatikan dipergunakannya
gerbong kontener/ peti kemas ISO (Iso Container Size) tipe “Standard Height”.
Ruang bangun adalah ruang disisi sepur yang senantiasa harus bebas dari
segala bangunan tetap seperti antara lain tiang semboyan, tiang listrik dan pagar.
Batas ruang bangun diukur dari sumbu sepur pada tinggi 1 meter sampai 3,55 meter.
Jarak ruang bangun tersebut ditetapkan sebagai berikut :
a. Pada lintas bebas :
2,35 sampai 2,53 m di kiri kanan sumbu sepur.
b. Pada emplasemen :
1,95 m sampai 2,35 di kiri kanan sumbu sepur
c. Pada jembatan :
2,15 m di kiri kanan sumbu sepur.

1.1.4 Perlintasan Sebidang


a. Umum
Pada perlintasan sebidang antara jalan rel dan jalan raya harus
tersedia jarak pandangan yang memadai bagi kedua belah pihak, terutama
bagi pengendara kendaraan. Daerah pandangan pada perlintasan merupakan
daerah pandangan segitiga di mana jarak-jaraknya ditentukan berdasarkan
pada kecepatan rencana kedua belah pihak.

b. Konstruksi Perlintasan Sebidang.


Lebar perlintasan sebidang bagi jalan raya dalam keadaan pintu
terbuka atau tanpa pintu, harus sama dengan lebar perkerasan jalan raya yang

MEI EFTARIKA H Page | 6


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
bersangkutan. Perlintasan sebidang yang dijaga dilengkapi dengan rel-rel
lawan untuk menjamin tetap adanya alur untuk flens roda kecuali untuk
konstruksi lain yang tidak memerlukan rel lawan. Lebar alur adalah sebesar 40
mm dan harus selalu bersih benda-benda penghalang. Panjang rel lawan
adalah sampai 0,8 meter di luar lebar perlintasan dan dibengkokan ke dalam
agar tidak terjadi tumbukan dengan roda dari rangkaian. Sambungan rel
didalam perlintasan harus dihindari. Konstruksi perlintasan sebidang dapat
dibuat dari bahan beton semen, aspal dan kayu.

1.2 Geometri Jalan Rel


1.2.1 Umum
Geomtri jalan rel direncanakan berdasar pada kecepatan rencana serta
ukuran-ukuran kereta yang melewatinya dengan memperhatikan faktor keamanan,
kenyamanan, ekonomi dan kesertaan dengan lingkungan sekitarnya.

1.2.2 Lebar Sepur


Untuk seluruh kelas jalan rel lebar sepur adalah 1067 mm yang merupakan
jarak terkecil antara kedua sisi kepala rel, diukur pada daerah 0-14 mm di bawah
permukaan teratas kepala rel.

1.2.3 Lengkung Horizontal


Alinemen horizontal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang
horizontal, alinemen horizontal terdiri dari garis lurus dan lengkungan.

a. Lengkung Lingkaran
Dua bagian lurus, yang perpanjangnya saling membentuk sudut harus
dihubungkan dengan lengkung yang berbentuk lingkaran, dengan atau tanpa
lengkung-lengkung peralihan. Untuk berbagai kecepatan rencana, besar jari-
jari minimum yang diijinkan.

Tabel 3.2 Persyaratan jari-jari minimum lengkung horizontal


Kecepatan Jari-jari mnimum Jari-jari minimum
perancangan lengkung lingkaran lengkung lingkaran yang
(km/jam) tanpa lengkung transisi diijinkan dengan
(m) lengkung transisi (m)

MEI EFTARIKA H Page | 7


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
120 2370 780
110 1990 660
100 1650 550
90 1330 440
80 1050 350
70 810 270
60 600 200
Sumber: PD 10

b. Lengkung Peralihan.
Lengkung peralihan adalah suatu lengkung dengan jari-jari yang
berubah beraturan. Lengkung peralihan dipakai sebagai peralihan antara
bagian yang lurus dan bagian lingkaran dan sebagai peralihan antara dua jari-
jari lingkaran yang berbeda. Lengkung peralihan dipergunakan pada jari-jari
lengkung yang relatif kecil, lihat Tabel 3.2. Panjang minimum dari lengkung
peralihan ditetapkan dengan rumus berikut :
Lh = 0,01 hv
Dimana Lh = panjang minimal lengkung peralihan
h = pertinggian relative antara dua bagian yang dihubungkan (mm)
v = kecepatan rencana untuk lengkungan peralihan (km/jam)

c. Lengkung S
Lengkung S terjadi bila dua lengkung dari suatu lintas yang berbeda
arah lengkungnya terletak bersambungan. Antara kedua lengkung yang
berbeda arah ini harus ada bagian lurus sepanjang paling sedikit 20 meter di
luar lengkung peralihan.

d. Perlebaran Sepur
Perlebaran sepur dilakukan agar roda kendaraan rel dapat melewati
lengkung tanpa mengalami hambatan. Perlebaran sepur dicapai dengan
menggeser rel dalam kearah dalam. Besar perlebaran sepur untuk berbagai
jari-jari tikungan adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Pelebaran Sepur


Pelebaran sepur (mm) Jari-jari tikungan (m)
0 R ≥ 600
5 550 < R < 600

MEI EFTARIKA H Page | 8


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
10 400 < R < 550
15 350 < R < 400
20 100 < R < 350
Sumber: PD 10

Perlebaran sepur maksimum yang diijinkan adalah 20 mm. Perlebaran


sepur dicapai dan dihilangkan secara berangsur sepanjang lengkung
peralihan.

e. Peninggian Rel.
Pada lengkungan, elevasi rel luar dibuat lebih tinggi dari pada rel dalam
untuk mengimbangi gaya sentrifugal yang dialami oleh rangkaian kereta.
Peninggian rel dicapai dengan menepatkan rel dalam pada tinggi semestinya
dan rel luar lebih tinggi.
Peninggian rel dicapai dan dihilangkan secara berangsur sepanjang
lengkung peralihan. Untuk tikungan tanpa lengkung peralihan peninggian rel
dicapai secara berangsur tepat di luar lengkung lingkaran sepanjang suatu
panjang peralihan.

1.2.4 Landai
a. Pengelompokan Lintas
Berdasar pada kelandaian dari sumbu jalan rel dapat dibedakan atas 4
(Empat) kelompok seperti yang tercantum dalam Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Pengelompokan lintas berdasar pada kelandaian


Kelompok Kelandaian
Emplasemen 0 sampai 1,5‰
Lintas datar 0 sampai 10‰
Lintas pegunungan 10‰ sampai 40‰
Lintas dengan rel gigi 40‰ sampai 80‰
Sumber: PD 10

MEI EFTARIKA H Page | 9


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
b. Landai Penentu
Landai penentu adalah suatu kelandaian (Pendakian) yang terbesar
yang ada pada suatu lintas lurus. Besar landai penentu terutama berpengaruh
pada kombinasi daya tarik lok dan rangkaian yang dioperasikan. Untuk
masing-masing kelas jalan rel, besar landai penentu adalah seperti yang
tercantum dalam Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Landai penentu maksimum


Kelas jalan rel Landai penentu maksimum
1 10‰
2 10‰
3 20‰
4 25‰
5 25‰
Sumber: PD 10

c. Landai Curam
Dalam keadaan yang memaksa kelandaian (Pendakian) dari lintas
lurus dapat melebihi landai penentu. Kelandaian ini disebut landai curam;
panjang maksimum landai curam dapat ditentukan melalui rumus pendekatan
sebagai berikut :

Dimana:
ℓ = Panjang maximum landai curam (m).
Va = Kecepatan minimum yang diijinkan dikaki landai curam m/detik.
Vb = Kecepatan minimum dipuncak landai curam (m/detik) vb ≥ ½ va.
g = Percepatan gravitasi.
Sk = Besar landai curam ( ‰ ).
Sm = Besar landai penentu ( ‰ ).

1.2.5 Landai pada Lengkung atau Terowongan


Apabila di suatu kelandaian terdapat lengkung atau terowongan, maka
kelandaian di lengkung atau terowongan itu harus dikurangi sehingga jumlah
tahanannya tetap.

1.2.6 Lengkung Vertikal

MEI EFTARIKA H Page | 10


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
Alinemen vertikal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang vertikal
yang melalui sumbu jalan rel tersebut; alinemen vertikal terdiri dari garis lurus, dengan
atau tanpa kelandaian, dan lengkung vertikal yang berupa busur lingkaran. Besar jari-
jari minimum dari lengkung vertikal bergantung pada besar kecepatan rencana dan
adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Jari-jari minimum lengkung vertikal


Kecepatan rencana Jari-jari minimum
(km/jam) lengkung vertikal (m)
Lebih besar dari 100 8000
Sampai 100 6000
Sumber : PD 10

Letak lengkung vertikal diusahakan tidak berimpit atau bertumpangan


dengan lengkung horizontal.

1.2.7 Penampang Melintang


Penampang melintang jalan rel adalah potongan pada jalan rel, dengan
arah tegak lurus sumbu jalan rel, di mana terlihat bagian-bagian dan ukuran-ukuran
jalan rel dalam arah melintang.
Penampang melintang jalan rel adalah potongan pada jalan rel, dengan arah
tegak lurus sumbu jalan rel, di mana terlihat bagian-bagian dan ukuran-ukuran jalan rel
dalam arah melintang.

Tabel 3.7 Penampang melintang jalan rel pada lengkung jalur ganda
Kelas Vmax d1 b c k1 (cm) d2 e k2 a
jalan rel (km/jam) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm)
1st 120 30 150 235 265-315 15-50 25 375 185-237
2nd 110 30 150 254 265-315 15-50 25 375 185-237
rd
3 100 30 140 244 240-270 15-50 22 325 170-200
4th 90 25 140 234 240-250 15-35 20 300 170-190
4th s 80 25 135 211 240-250 15-35 20 300 170-190
Sumber : PD 10

1.3 Susunan Jalan Rel


1.3.1 Rel
a. Umum
Rel yang dimaksud dalam peraturan ini adalah rel berat untuk jalan rel.

MEI EFTARIKA H Page | 11


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

b. Tipe dan Karekteristik Penampang


Tabel 3.8 Kelas jalan dan tipe relnya
Kelas Jalan Tipe Rel
I R60/R54
II R54/R50
III R54/R50/R42
IV R54/R50/R42
V R42
Sumber : PD 10

c. Jenis, Komposisi Kimia, Kekuatan dan Kekerasan


Jenis rel yang dipakai adalah rel tahan aus yang sejenis dengan rel
UIC-WRA.

Tabel 3.9 Komposisi kimia rel


C 0,60% - 0,80%
Si 0,15% - 0,35%
Ma 0,90% - 1,10%
P Max. 0,035%
S Max. 0,025%
Sumber : PD 10

Tabel 3.10 Karakteristik Penampang Rel


Besaran Tipe Rel
R42 R50 R54 R60
Geometri Rel
H (mm) 138,00 153,00 159,00 172,00
B (mm) 110,00 127,00 140,00 150,00
C (mm) 68,50 65,00 72,20 74,30
D (mm) 13,50 15,00 16,00 16,50
E (mm) 40,50 49,00 49,40 51,00
F (mm) 23,50 30,00 30,20 31,50
G (mm) 72,00 76,00 74,97 80,95
R (mm) 320,00 500,00 508,00 120,00
A (cm2) 54,26 64,20 69,34 76,86
W (kg/m) 42,59 50,40 54,43 60,34
Yb (mm) 68,50 71,60 76,20 80,95
4
Ix (cm ) 1,263 1,860 2,345 3,066
A : Luas penampang

MEI EFTARIKA H Page | 12


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
W : Berat rel per meter
Yb : Momen inersia terhadap sumbu X
Ix : Jarak tepi bawah rel ke garis netral
Sumber : PD 10

Gambar 3.1 Detail Rel

Kuat tarik minimum rel adalah 90 kg/mm2 dengan perpanjangan


minimum 10%. Kekerasan kepala rel tidak boleh kurang dari pada 240 Brinell.

d. Jenis Rel Menurut Panjangnya


Menurut panjangnya dibedakan tiga jenis rel, yaitu :
1) Rel standar adalah rel yang panjangnya 25 meter.
2) Rel pendek adalah rel yang panjangnya maksimal 100 m.
3) Rel panjang adalah rel yang panjang tercantum minimumnya pada
Tabel 3.11.

Tabel 3.11 Panjang minimum rel panjang


Tipe rel
Jenis bantalan
R42 R50 R54 R60
Bantalan kayu 325 m 375 m 400 m 450 m
Bantalan beton 200 m 225 m 250 m 275 m
Sumber : PD 10

e. Sambungan Rel
Sambungan rel adalah konstruksi yang mengikat dua ujung rel
sedemikian rupa sehingga operasi kereta api tetap aman dan nyaman.
Dari kedudukkan terhadap bantalan dibedakan dua macam
sambungan rel, yaitu :

MEI EFTARIKA H Page | 13


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

a) Sambungan melayang
b) Sambungan menumpu
f. Celah
Di sambungan rel harus ada celah untuk menampung timbulnya
perubahan panjang rel akibat perubahan suhu. Besar celah ditentukan
sebagai berikut :
1) Untuk semua tipe rel, besar celah pada sambungan rel standard dan rel
pendek tercantum pada table 3.12.
2) Pada sambungan rel panjang, besar celah dipengaruhi juga oleh tipe rel
dan jenis bantalan.
a) Untuk sambungan rel panjang pada bantalan kayu, besar celah
tercantum pada Tabel 3.13.
b) Untuk sambungan rel panjang pada bantalan beton, besar celah
tercantum pada Tabel 3.14.

Tabel 3.12 Besar celah untuk semua tipe rel pada sambungan rel standard dan rel
pendek
Suhu Panjang rel (m)
pemasangan
25 50 75 100
(0C)
≤ 20 8 14 16 16
22 7 13 16 16
24 6 12 16 16
26 6 10 15 16
28 5 9 13 16
30 4 8 11 14
32 4 7 9 12
34 3 6 7 9
36 3 4 6 7
38 2 3 4 4
40 2 2 2 2
42 1 1 0 0
44 0 0 0 0
≥ 46 0 0 0 0
Sumber : PD 10
g. Suhu Pemasangan
MEI EFTARIKA H Page | 14
0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
Yang dimaksud dengan suhu pemasangan adalah suhu rel waktu
pemasangan.
1) Batas suhu pemasangan rel standard dan rel pendek tercantum pada
Tabel 3.12.
2) Batas suhu pemasangan rel panjang pada bantalan kayu tercantum dalam
tabel 3.15.
3) Batas suhu pemasangan rel panjang pada bantalan beton tercantum pada
tabel 3.16.

Tabel 3.13 Besar celah untuk sambungan rel panjang pada bantalan kayu
Suhu Panjang rel (m)
0
pemasangan ( C) R42 R50 R54 R60
≤ 28 16 16 16 16
30 14 16 16 16
32 12 14 15 16
34 10 11 12 13
36 8 9 10 10
38 6 6 8 8
40 5 4 6 6
42 4 3 5 5
44 3 3 3 4
46 2 3 3 3
≥ 48 2 2 2 2
Sumber : PD 10

Tabel 3.14 Besar celah untuk sambungan rel panjang pada bantalan beton
Suhu Panjang rel (m)
pemasangan (0C) R42 R50 R54 R60
≤ 22 16 16 16 16
24 14 16 16 16

MEI EFTARIKA H Page | 15


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
26 13 14 15 16
28 13 12 13 14
30 10 11 11 12
32 8 9 10 10
34 7 8 8 9
36 6 6 7 7
38 5 5 5 6
40 4 4 4 5
42 3 3 3 4
44 3 3 3 3
≥ 46 2 2 2 2
Sumber : PD 10

h. Kedudukan Rel
Kecuali pada wesel dan di emplasemen dengan kecepatan kereta
lambat, rel dipasang miring ke dalam dengan kemiringan 1:40.

Gambar 3.2 Kedudukan Rel

1.3.2 Wesel
Fungsi wesel adalah untuk mengalihkan kereta dari satu sepur ke sepur
yang lain.

a. Jenis Wesel :
1) Wesel biasa.
(a). Wesel Biasa

MEI EFTARIKA H Page | 16


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
(1) Wesel biasa kiri
(2) Wesel biasa kanan
(b). Wesel dalam lengkung
(1) Wesel serah lengkung
(2) Wesel berlawanan arah lengkung
(3) Wesel simetris
2) Wesel tiga jalan
(a). Wesel Biasa
(1) Wesel biasa searah
(2) Wesel biasa berlawanan arah
(b). Wesel dalam lengkung.
(1) Wesel serah tergeser
(2) Wesel berlawanan arah tergeser
3) Wesel Inggris.
Wesel Inggris adalah wesel yang dilengkapi dengan gerakan-
gerakan lidah
serta sepur-sepur bengkok.

b. Komponen Wesel
Wesel terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
1) Lidah
2) Jarum beserta sayap-sayapnya
3) Rel lantak
4) Rel paksa
5) Sistem penggerak

Gambar 3.3 Komponen Wesel

MEI EFTARIKA H Page | 17


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

1) Lidah
a) Lidah adalah bagian dari wesel yang dapat bergerak pangkal lidah disebut akar.
b) Jenis Lidah
(1) Lidah berputar adalah lidah yang mempunyai engsel diakarnya.
(2) Lidah berpegas adalah lidah yang akarnya dijepit sehingga melentur
c) Sudut Tumpu (β)
Sudut tumpu adalah sudut antara lidah dengan rel lantak, sudut tumpu
dinyatakan dengan tangennya, yakni tg = 1 : m, dimana harga m berkisar
antara 25 sampai 100.
2) Jarum dan sayap-sayapnya
a) Jarum adalah bagian wesel yang memberi kemungkinan kepada flens roda
melalui perpotongan bidang-bidang jalan yang terputus antara dua rel.
b) Sudut kelancipan jarum (α) disebut sudut samping arah.
c) Jenis jarum.
(1) Jarum-kaku dibaut (bolted rigid frogs) terbuat dari potongan-potongan
rel standar yang dibuat (gambar 3.23).
(2) Jarum–rel–pegas (spring rail frogs)
(3) Jarum-baja–mangan–cor (cast manganese steel frogs). Dipakai untuk
lintas dengan tonase beban yang berat atau lintas yang frekuensi
keretanya tinggi.
(4) Jarum – keras – terpusat (hard centered frogs).
3) Rel lantak
Suatu rel yang diperkuat badannya yang berguna untuk bersandarnya lidah wesel.
4) Rel paksa
Dibuat dari rel biasa yang kedua ujungnya dibengok ke dalam. Rel paksa luar
biasanya dibuat pada rel lantak dengan menempatkan blok pemisah diantaranya.
5) Sistem penggerak atau pembalik wesel
Pembalik wesel adalah mekanisme untuk menggerakkan ujung lidah.

c. Nomor dan kecepatan ijin pada wesel


1) Nomor wesel, n, menyatakan tangent sudut simpang yakni : tg = 1: n.
2) Kecepatan ijin pada wesel tercantum pada tabel 3.14.

Tabel 3.15 Tangen sudut simpang arah, nomor wesel dan kecepatan izin
tg. α 1:8 1 : 10 1 : 12 1 : 14 1 : 16 1 : 18

MEI EFTARIKA H Page | 18


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
Nomor Wesel W8 W10 W12 W14 W16 W18
Kecepatan izin (km/jam) 25 35 45 50 60 70
Sumber : PD 10

1.3.3 Penambat Rel


Penambat rel adalah suatu komponen yang menambatkan rel pada
bantalan sedemikian rupa sehingga kedudukan rel adalah tetap, kokoh dan tidak
bergeser.
a. Jenis Penambat
Jenis penambat yang dipergunakan adalah penambat elastic dan
penambat kaku. Penambat kaku terdiri atas tirpon , mur dan baut. Penambat
elastik tunggal dan penambat elastik ganda. Penambat elastik ganda terdiri
dari pelat andas, pelat atau batang jepit elastik, alas rel, tarpon, mur dan baut.
Pada bantalan beton, tidak diperlukan pelat andas, tetapi dalam hal ini tebal
karet las (rubber pad) rel harus disesuaikan dengan kecepatan maksimum.

b. Penggunaan penambat
Penambat kaku tidak boleh dipakai untuk semua kalas jalan rel.
Penambat elastic tunggal hanya boleh dipergunakan pada jalan kelas 4 dan
kelas 5. Penambat elastik ganda dapat dipergunakan pada semua kelas jalan
rel, tetapi tidak dianjurkan untuk jalan rel kelas 5.
c. Model penambat
Jenis penambat yang tergolong dalam jenis penambat elastic ganda
mempunyai berbagai bentuk dengan hak paten tersendiri. Pemilihan model
penambat harus disetujui oleh pemberi tugas.

d. Persyaratan Bahan
Persyaratan bahan untuk penambat harus memenuhi persyaratan
bahan pada Peraturan Bahan Jalan Rel Indonesia atau peraturan Dinas No.
10 C.

Penambat Kaku
1. Kerusakan jalan akibat gaya lateral

Gaya lateral yang merusak jalan rel:


• Push-out (terdesak), mendorong alat penambat ke arah lateral menyebabkan
melebarnya lebar sepur.

• Pergeseran struktur di atas balas


MEI EFTARIKA H Page | 19
0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
• Pull-out, alat penambat tercabut, tertarik/terangkat ke luar.

Terdesaknya Paku Terdesaknyaalat penambat

Tercabutnya paku

Gaya-gaya penahan

Kekuatan terhadap Terdesak Penambat (push out)

H = 2ή W+

Kekuatan terhadap Pergerakan Bantalan Di atas Balas

H + H’= µ (W+W’) +

γ= γ”=

MEI EFTARIKA H Page | 20


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

dimana:
EIx = kekuatan vertical Rel (kg-cm2)
EIy = Kekakuan lateral rel (kg-cm2)
a = jarak bantalan
D = Gaya untuk menekan rel sehingga jalan rel sehingga jalan rel berdefleksi
satu satuan (kg/cm)
ϵ = konstanta pegas arah lateral dari rel terhadap gaya vertical (cm-1)
W = Tekanan pada roda rata-rata (kg)
W, W’ = Tahanan roda (kg0
H,H’ = Tahanan Lateral
K” = Konstanta pegas arah lateral dari bantalan (kg/cm)
µ = Koefisien gesekan antara balas dan bantalan
ή= koefisien gesekan antara rel dan bantalan
Sn = Gaya untuk mencabut paku (kg/buah)
T= Gaya gesekan bantalan dan balas (200kg/bantalan)

Batas gaya lateral


Batas gaya lateral yang menyebabkan terlepasnya tirpon dari bantalan
adalah:
1. Batas Primer, dimana gaya lateral bekerja hanya seketika, keadaan jalan
masih baik (lebar sepur masih baik dan belum ada pergeseran jalan rel)

2. Batas sekunder, dimana gaya yang bekerja terjadi setelah lebar sepur
berubah atau jalan telah bergeser.

Besarnya gaya-gaya tersebut adalah:


1. Pelebaran Sepur (push out)

Batas Primer : Q < 2,9 + 0,3 P dengan pelat andas


Q <1,8 + 0,3 P tanpa pelat andas
Batas Sekunder Q < 1,9 + 0,3 P dengan pelat andas
Q < 1,2 + 0,3 P tanpa pelat andas
2. Pergeseran jalan

Batas Primer: (Q1 – Q2) < 1+0,35 (P1 +P2) dengan pelat andas

Batas Sekunder (Q1 – Q2) < 0,85 l1+0,35 (P1 + P2)l tanpa pelat andas

MEI EFTARIKA H Page | 21


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

Gaya antara Roda dan Rel

Penambat Eastis
Penambat Elastis dipergunakan secara besar-besaran saat ini. Kekuata jepit
(clamping force) dan kekuatan torsi (torsional resistace) menjadi hal yang
sangat penting, karena dapat betul-betul mengikat rel ke bantalan dalam waktu
lama,sehingga bantalan dan rel sehingga satu kesatuan dapat menahan gaya-
gaya yang bekerja padanya. Besarnya gaya jepit penambat adalah factor utama
dalam menentukan jenis penambat.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Perencanaan Alinemen Horizontal


4.1.1 Lintasan
Beberapa kriteria perencanaan lintasan :
1. Jarak lintasan tidak terlalu panjang
2. Pelaksanaan dan pemeliharaan operasionalnya mudah dan efisien
3. Ekonomis dari segi pelaksanaan, pemeliharaan dan operasionalnya
4. Aman dalam pelaksanaan, pemeliharaan dan operasionalnya
5. Memenuhi perencanaan desain

MEI EFTARIKA H Page | 22


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

Gambar 4.1 Lintasan Rencana

4.1.2 Perhitungan Koordinat Titik Lintasan


Dari peta kontur yang berskala 1:8000 dengan lintasan dari titik F menuju titik M,
maka:
Jarak titik F menuju ke titik koordinat 10000,10000 adalah:
Jarak horizontal (x) = -125,329
Jarak Vertikal (y) = -1278,900
Koordinaat F = (10000-125,329) , (10000-1278,900)
= (9874.671 , 8721.100)
Dengan cara yang sama maka didapatkan:
Koordinat titik Pl1= (10800.000 , 8800.000)
Koordinat Pl2 = (11999.492 , 8730.249)
Koordinat M = (12764.171 , 8489.756

4.1.3 Menentukan Klasifikasi Medan


Tabel 4.1. Klasifikasi Medan Lintasan Rel

No Kelompok Kelandaian
1 Lintasan Datar 0 sampai 10 0/00
2 Lintasan Pegunungan 10 0/00 sampai 40 0/00
3 Lintasan dengan Rel Gigi 40 0/00 sampai 80 0/00
Sumber: PD.10

Tabel 4.2 Penentuan Klasifikasi Medan

Titik STA Elevasi Jarak (m) ∆ TINGGI KEMIRINGAN (0/00)


D 0+0 84,00

MEI EFTARIKA H Page | 23


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
200 1,170 5,850
1 0+0200 85,17
200 5,150 25,750
2 0+0400 90,32
200 2,180 10,900
3 0+0600 92,50
200 10,200 51,000
4 0+0800 82,30
128,717 0,200 1,554
PI 1 0+0928,717 82,50
71,283 0,200 2,806
5 0+1000 82,70
200 2,000 10,000
6 0+1200 84,70
200 1,900 9,500
7 0+1400 86,60
200 0,800 4,000
8 0+1600 87,40
200 0,880 4,400
9 0+1800 88,28
200 0,330 1,650
10 0+2000 88,61
130,235 0,390 2,995
PI 2 0+2130,235 89,00
69,765 0,300 4,300
11 0+2200 89,30
200 2,700 13,500
12 0+2400 92,00
200 1,700 8,500
13 0+2600 93,70
200 4,550 22,750
14 0+2800 98,25
131,605 1,850 14,057
M 0+2931,605 100,10
TOTAL 2.931,605 193,511

Beda tinggi = { elevasi n – elevasi (n-1)}


Sesuai perhitungan di dapatkan kemiringan rata-rata :

kemiringan rata-rata (g) =


∑kemiringan 0
/00
∑data
193 ,511
=
18
= 10,75 0/00

Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka jenis medan adalah lintas pegunungan
(100/00 - 400/00 )

MEI EFTARIKA H Page | 24


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

4.1.4 Penentuan Kecepatan dan jari jari lengkung horizontal


Tabel 4.3 Klasifikasi jalan rel
Tebal Lebar
Pmax Jenis
Kelas Daya angkut Vmax Jenis balas bahu
Gandar Tipe rel bantalan /
jalan (ton/thn) (km/jam) penambat atas balas
(ton) jarak
(cm) (cm)
R.60/R BETON/
I >20.106 120 18 EG 30 50
54 600
BETON
R.54/R
II 10.106 – 20.106 110 18 KAYU/ EG 30 50
50
600
R.54/R BETON/
III 5.106 - 10.106 100 18 50/R.4 KAYU EG 30 40
2 600
R.54/R BETON/
IV 2,5 106 – 5.106 90 18 50/R.4 KAYU EG/ET 25 40
2 600
KAYU/
V <2,5 .106 80 18 R.42 BAJA ET 25 35
600
Sumber: Pd 10

Pada perencanaan desain direncanakan menggunakan kelas jalan adalah


kelas I, maka Vmax yang digunakan adalah 120 km/jam.

Kecepatan rencana untuk perencanaan struktur jalan rel:


Vr = 1,25 X Vmax
= 1,25 X 120 km/jam
= 150 km/jam
Kecepatan Untuk perencanaan jari-jari tikungan
Vr = Vmax = 120 km/jam

Lengkung lingkaran dengan peninggian maksimum, h=110 mm


Rmin = 0,08 x V2
= 0,08 x 1202 km/jam
= 1152 m

MEI EFTARIKA H Page | 25


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
Lengkung lingkaran pada kondisi gaya sentrifugal yang timbul diimbangi oleh
gaya berat dan kemampuan dukung komponen struktur jalan rel, dan
menggunakan peninggian maksimum

Rmin = 0,054 x V2
= 0,054 x 1202 km/jam
= 777,6 m

Lengkung lingkaran tanpa lengkung transisi


Rmin = 0,164 x V2
= 0,164x 1202 km/jam
= 2361,6 m

Tabel 4.4 Persyaratan jari-jari minimum lengggkung horizontal


Kecepatan, Vmax Rmin tanpa lengkung Rmin dengan lengkung
(km/jam) transisi (m) transisi (m)
120 2370 780
110 1990 660
100 1650 550
90 1330 440
80 1050 350
70 810 270
60 600 200

Direncanakan:
 Tikungan pertama (PI 1) tidak menggunakan lengkung Transisi, R = 2400 m

 Tikungan kedua (PI 2) menggunakan lengkung Transisi, R = 800 m

4.1.5 Perhitungan lengkung horizontal


1. Tikungan 1 (PI 1)
Sudut tikungan (α1) = 80
Jari-jari (R) = 2400 m
Tangen sircle (Tc) = R tan (0,5 α1)
= 2400 tan 40
= 167,82 m
Ec = Tc tan (0,25 α1)
= 167,82 tan 20

MEI EFTARIKA H Page | 26


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
= 5,86 m

Panjang Lengkung (Lc) = 2xπR

= 2 x π 2400 m

= 335,1 m

2. Tikungan 2 (PI 2)
Sudut tikungan (α2) = 140
Jari-jari (R) = 800 m

Lengkung transisi (Ls) = 0,06

= 0,06

= 129,6 m

Sudut transisi (αs) =

= 4,60

Sudut sircle (αc) = α2 – 2 αs


= 4,60
= 4,80

Lengkung Sircle (Lc) =

= x2x x 800

= 67,02 m

Yc =

= 3,5 m

MEI EFTARIKA H Page | 27


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

P’ = Yc – R( 1-cos αs )
= 3,5 – 800(1 – cos 4,6 )
= 0,923 m

Es = (R + p’)sec ½
= (800 + 0,923) sec ½ 14 - 800
= 6,938 m

Ltot = Lc + 2 Ls
= 67,02 + 2x 129,6
= 326,22 m

Gambar 4.2 Perencanaan Tikungan

4.1.6 Diagram Super Elevasi

Diagram super elevasi tikungan 1

h normal = 5,95

= 5,95

=107,1 mm 110 mm

MEI EFTARIKA H Page | 28


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

Gambar 4.3 diagram superelevasi tikungan 1

Diagram super elevasi tikungan 2

h normal = 5,95

= 5,95

=35,7 mm 35 mm

Gambar 4.4 diagram superelevasi tikungan 2

4.1.7 Perhitungan Stasioning Lengkung

MEI EFTARIKA H Page | 29


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
STA TC1 = F Pl 1 - Tc

= 928,72 - 167,82
= 760,9
STA PPl1 = STA TC1 + ½ LC
= 760,9 + ½ x 335,1
= 928,45
STA CT1 = STA TC1 + LC
= 760,9 + 335,1
= 1096
STA TS2 = STA CT1 + ( (CT_TS))
= 1096 + 870,88
= 1966,88
STA SC2 = STA TS2 + LS
= 1966,88 + 129,6
= 2096,48
STA PPl 2 = STA SC2 + ½ LC
= 2096,48 + ½ X 67,02
= 2129,99
STA CS2 = STA SC2 + LC
= 2096,48 + 67,02
= 2163,5
STA ST2 = STA SC2 + LS
= 2163,5 + 129,6
= 2230,52

4.1.8 Pelebaran Sepur


Pendesainan yang digunakan dengan data sebagai berikut:
Jarak gandar (d) =4m
Kelonggaran flens (c) = 4 mm
Jari –jari lengkung (R1) = 2400 m
(R2) = 800 m
Lebar sepur = 1067 mm
Pelebaran sepur untuk tikungan 1 (p1) --- tidak perlu pelebaran
MEI EFTARIKA H Page | 30
0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
Pelebaran sepur untuk tikungan 2 (p2) = –8 = – 8 = 2 mm

4.2 Perencanaan Alinemen Vertikal


4.2.1 Elevasi Titik Sepanjang Jalan Rel
Tabel 4.5 Elevasi titik sepanjang Jalan Rel
TITIK STA JARAK (m) ELEVASI
F 0+0000 84,00
200
1 0+0200 85,17
200
2 0+0400 90,32
200
3 0+0600 92,50
160,9
TC1 0+0760,9 86,5
39,1
4 0+0800 82,4
128,45
Pl 1 0+0928,45 82,6
71,55
5 0+1000 826
96
CT 1 0+1096 82,85
104
6 0+1200 84.8
200
7 0+1400 86,7
200
8 0+1600 87,40
200
9 0+1800 88,28
166,88
TS 2 0+1966,88 88,61
33,12
10 0+2000 88.6
96,48
SC 2 0+2096,48 88.9
TITIK STA JARAK (m) ELEVASI
33,51
PI 2 0+2129,99 88.9
33,51
CS 2 0+2163,5 88,9
36,5
11 0+2200 89.1
200
12 0+2400 89,2
200
13 0+2600 93,7

MEI EFTARIKA H Page | 31


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
200
14 0+2800 99,5
130,22
M 0+2930,22 100,1
Panjang jalan rel 2930,22

4.2.2 Perhitungan Alinemen Vertikal


1. Lengkung cembung

g = x 100 %

g1 = x 100 %

= 0,588 %

g2 = x 100 %

= 0

l =  r = 0,1% (Hay,1982)

= 5,88
L = 5,88 x 100 ft = 5,88 x 30 m = 176,4 m

Digunakan Rmin = 8000 km/jam (Vr >100)


Perbedaan landai (φ) =g1 –g2 = 0,588
Xm = R/2 x φ = 4000 x 0,588% = 23,52 m
Ym = R/8 x φ2 = 1000 x (0,588%)2 = 0,03 m

2. Lengkung Cekung

g = x 100 %

g3 = x 100 %

= 1,422 %

MEI EFTARIKA H Page | 32


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

l =  r = 0,05% (Hay,1982)

= 28,44
L = 28,44 x 100 ft = 28,44 x 30 m = 853,2 m

Digunakan Rmin = 8000 km/jam (Vr >100)


Perbedaan landai (φ) =g2 –g3 = 1,422
Xm = R/2 x φ = 4000 x 1,422% = 56,88 m
Ym = R/8 x φ2 = 1000 x (1,422%)2 = 0,2 m

Gambar 4.5 Rencana Potongan Memanjang Jalan Rel

4.2.3 Volume Pekerjaan Galian dan Timbunan


Tabel 4.6 Stasioning Penampang Melintang As Jalan
Elevasi Tanah
elevasi as
asli
Titik STA tanah
kana
kiri as rencana
n
F 0+000 84,3 84 83,6 84

MEI EFTARIKA H Page | 33


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

0+020 85,1
1 0 85,2 7 84,9 85,17

0+040 90,3
2 0 90,5 2 90 86,35

0+060
3 0 92,5 92,5 92,5 87,53

0+080
4 0 82,4 82,4 82,4 88,71

0+100
5 0 82,7 82,6 82,5 89

0+120
6 0 84,8 84,8 84,8 89

0+140
7 0 88,8 88,7 88,6 89

0+160
8 0 87,6 87,4 87,3 89

0+180 88,2
9 0 88,4 8 88,2 89

0+200
10 0 88,6 88,6 88,6 89

0+220
11 0 89,8 89,1 88,7 89,71

0+240
12 0 92,3 92 91,8 92,58

0+260
13 0 93,9 93,7 93,6 96,4

0+280
14 0 98,5 98,5 98,5 98,25

M 0+2930,2 101,3 100,1 99,8 100,1


2

MEI EFTARIKA H Page | 34


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

Luas Penampang Melintang Pada Penampang di STA Tertentu


Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan koordinat kartecius.
Koordinatnya berhubungan dengan jarak horizontal sebagai nilai absis, dan
elevasi pada jarak tersebut di ukur dari titik referensi sebagai ordinat. Karena
penampang nya berbentuk segi banyak tidak beraturan, maka setiap sudut harus
diketehui koordinatnya.

(x5,y5)

(x7,y7)

(x4,y4)
(x6,y6)

(x1,y1)
(x3,y3)

(x2,y2)

Gambar 4.6 Koordinat Kartesius Suatu Luasa

MEI EFTARIKA H Page | 35


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

Tabel 4.7 Perhitungan Volume Galian dan Timbunan


Luas Luas Volum Volum Volum
Luas Luas Volume
Galia Sub e e e Sub
STA Timbun Balas Timbun
n Balas Galian Balas Balas
an (m2) (m2) an (m3)
(m2) (m2) (m3) (m3) (m3)
0+000 0 0,65 1,85 2,775
0 130 370 555
0+020
0 0 0,65 1,85 2,775
6420 65 370 555
0+040
0 64,2 0 1,85 2,775
15208 0 370 555
0+060 87,8
0 8 0 1,85 2,775
8788 12636 370 555
0+080
0 0 126,36 1,85 2,775
0 25452 370 555
0+100
0 0 128,16 1,85 2,775
0 19967 370 555
0+120
0 0 71,51 1,85 2,775
0 7151 370 555
0+140
0 0 0 1,85 2,775
0 2150 370 555
0+160
0 0 21,5 1,85 2,775
0 3052 370 555
0+180
0 0 9,02 1,85 2,775
0 1431 370 555
0+200
0 0 5,29 1,85 2,775
0 1326 370 555
0+220
0 0 7,97 1,85 2,775
0 4832 370 555
0+240
0 0 40,35 1,85 2,775
0 4035 370 555
0+260 0 0 1,85 2,775
MEI EFTARIKA H Page | 36
0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL
0
20 0 370 555
0+280
0 0,2 0 1,85 2,775
60 0 370 555
0+2930,2
2 0,4 0 1,85 2,775
total 30496 82227 5550 8325

4.2.4 Perencanaan Konstruksi dan Komponen Jalan Rel


Karena kelas rel adalah kelas 1, maka:
Tipe rel : R.54
Tinggi rel : 159 mm
Lebar Kaki ( C ) : 140 mm
Lebar Kepala (B) : 70 mm
Tebal Badan : 16 mm
Tinggi Kepala : 46,4 mm
Tinggi Kaki : 30,2 mm
Jari-jari lengkung badan rel : 508 mm
Luas Penampang : 69,34 mm
Berat Rel : 54,43 kg/m
Jenis bantalan: Beton

Perencangan Wesel
Panjang jarum ( P) = ((B+C)/(2 tan α/2)) – d
= ((70 + 140)/(2 tan 60)) – 5
= 176,87 mm

MEI EFTARIKA H Page | 37


0707112305
TEKNIK SIPIL UNIV RIAU
DESAIN JALAN REL

Gambar 4.7 Panjang Jarum

BAB V
KESIMPULAN

Dalam pengerjaan desain jalan raya ini dapat di ambil suatu kesimpulan:
1. Medan jalan adalah pegunungan ( kemiringan rata-rata 10 0/00 )
2. Jalan rencana, dari titik F menuju titik M dengan kelas Rel 1.
3. Menggunakan dua tikungan dengan kecepatan rencana 120 km/jam.
4. Dengan pegunungan, direncanakan menggunakan satu lengkung vertikal
cembung dan satu lengkung vertikal cekung.
5. Volume galian dan timbunan cukup seimbang, namun tergolong kurang
ekonomis karena jumlah galian dan timbunan yang relatif besar, ini dikarenakan
medan jalan yang pegunungan sedangkan kelandaian maksimum yang harus dicapai
hanya 10 0/00 . Dengan mengutamakan kesesuan kelandaian, maka volume galian
dan timbunan yang besar terpaksa dilakukan.

MEI EFTARIKA H Page | 38


0707112305