Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PERCOBAAN

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


TANAMAN TERONG (Solanum Melongena L.)

DISUSUN OLEH

BAIQ NINDI PUTRI


DHIMAS ASA AKBAR JULIAN
FATMAWATI
FILZA SARI
I KOMANG REKA YUDHA P
NYOMAN DIAH SURENI

SMAN 1 GERUNG
LAPORAN PERCOBAAN I
Topik               : Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman terong (Solanum melongena L.)
Tujuan             : Untuk mengamati dan memahami bagaimana pertumbuhan dan
perkembangan terong.

A. TEORI DASAR
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan adalah pertambahan
ukuran (massa,panjang) secara kuantitatif yang dihasilkan dari pertambahan jumlah sel
dan bersifat irreversible (tidak dapat kembali). Perkembangan adalah proses menuju
kedewasaaan secara pengembangan tubuh organisme.
Tanaman terong cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang
serta tidak tergenang air. PH tanah yang ideal sekitar 5-6. Waktu tanam yang baik untuk
lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret - April).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan cabai rawit.-
Faktor Eksternal:

1. Suhu
2. Cahaya
3. Air
4. Nutrisi
5. Kelembapan Udara
6. Tingkat keasaman dan basa (pH)

Faktor Internal dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Faktor Intraseluler: gen sebagai pembawa sifat atau lebih dikenal sebagai faktor
hereditas.
2. Faktor Interseluler: hormon.
B. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
a. Pot tanaman
b. Penggaris
c. Kamera handphone
d. Alat tulis

2. Bahan
a. Bibit terong
b. Tanah pupuk
c. Air

C. CARA KERJA  
1.   Menyiapkan tanah pupuk jadi kemudian membuatnya ke dalam pot.
2. Mengambil beberapa bibit tanaman terong yang bagus dan meletakkannya ke dalam
pot yang sudah berisi tanah tadi.
3. Menyiram tanaman tersebut setiap 2 kali/hari
4. Melakukan pengamatan terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan  tanaman
terong tersebut selama ± 2 bulan.
5. Menganalisa hasil pengamatan yang dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan
pembuatan laporan hasil pengamatan.
D. HASIL PENGAMATAN
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka didapatkan hasil sebagai berikut :

 Gambar hasil pengamatan fase 2 bulan

 Gambar hasil pengamatan fase 3 bulan

E. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan terlihat jelas bahwa
tanamanterong yang di tanam kurang subur dikarenakan pada percobaan ini tanaman
terong di tanam di dalam pot. Dapat dilihat dari gambar yang disajikan pada hasil
pengamatan bahwa jenis akar pada tering termasuk akar serabut dan daun terong
berbentuk berlekuk menyirip pada tepi daunya. Daun terong terlihat besar dengan lobus
yang kasar.
F. KESIMPULAN
1. Proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman terong ini sama halnya seperti
proses pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman lainnya, yaitu mulai dari
proses dormansi biji, kemudian perkecambahan, pertumbuhan organ tanaman,
perkembangan generatif tanaman, pembuahan, penuaan, sampai akhirnya pada proses
kematian.
2. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masak
berwarna ungu.
3. Daun akan mengalami tahap-tahap perubahan warna dari hijau muda, hijau, hijau tua,
hijau kekuning-kuningan, kuning, kuning kecoklatan, coklat tua dan akhirnya layu
dan gugur  atau memasuki proses penuaan.

 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. http://guruprofesional.wordpress.com/materi-seni-budaya/mulok-pertanian-


bertanam-cabai-rawit/. Diakses pada tanggal 25 Agustus 2017.

Dasuki, Ahmad, Drs Undang, dkk. 1991. Sistematik Tumbuhan Tingg


LAPORAN PERCOBAAN
PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN TANAMAN BUNCIS
(Phaseolus Vulgaris L )

DISUSUN OLEH

BAIQ NINDI PUTRI


DHIMAS ASA AKBAR JULIAN
FATMAWATI
FILZA SARI
I KOMANG REKA YUDHA P
NYOMAN DIAH SURENI

SMAN 1 GERUNG
LAPORAN PERCOBAAN II

Topik               : Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L )


Tujuan          : Untuk mengamati dan memahami bagaimana pertumbuhan dan
perkembangan buncis.

A. LANDASAN TEORI
Nama ilmiah kacang buncis atau nama latin kacang buncis adalah Phaseolus vulgaris
L. Klasifikasi tumbuhan kacang buncis adalah sebagai berikut :
Kindom : Plantea
Sub Kindom : Viridiplantae
Infra Kindom : Streptophyta
Super Devisi : Embryophyta
Devisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Super Ordo : Rosanae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Phaseolus
Spesies : Phaseolus vulgaris L

Tanaman Buncis termasuk tanaman semusim yang di bedakan atas dua tipe
pertumbuhan, yaitu tipe merambat dan tipe tegak. Kacang Buncis tipe merambat
umumnya berbatang memanjang setinggi 2-3 meter, sedangkan tipe Buncis tegak
mempuyai batang pendek setinggi 50-60 cm. Batang tanaman Buncis umumnya
berbuku-buku, yang merupakan tempat melekat tangkai daun. Daun Buncis bersifat
majemuk, dan helai daunnya berbentuk  jorong segi tiga (Rukmana, 1994).
Tanaman buncis memiliki akar tunggang yang dapat menembus tanah sampai
pada kedalaman ±1 meter. Akar-akar yang tumbuh mendatar dari pangkal batang
umumnya menyebar pada kedalaman sekitar 60 – 90 cm. Sebagian akar –akarnya
mebentuk bintil-bintil yang merupakan sumber utama unsur Nitrogen dan sebagian lagi
tanpa nodula yang fungsinya antara lain menyerap air dan unsur hara (Setianingsih dan
Khaerodin, 1991).
Kacang buncis termasuk tanaman menyerbuk sendiri,  tetapi persilangan alami
sering terjadi meskipun dalam jumlah atau persentase sangat sedikit. Bunga buncis
mekar pada pagi hari sekitar jam 07.00-0800 WIB. Dari proses-proses penyerbukan
bunga akan dihasilkan  buah yang disebut polong. Polong buncis berbentuk panjang
bulat atau panjang pipih dengan panjang berkisar antara 12-13cm (Rukmana, 1994).
Tanaman buncis memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi agar dapat tumbuh
dengan baik, yaitu:
1. Iklim
Tanaman Buncis dapat tumbuh baik apabila ditanaman di dataran tinggi yaitu
pada ketinggian 1000-1500 meter dpl. Namun tidak tertutup kemungkinan untuk di
tanam pada daerah dengan ketinggian 500-600 meter dpl.
Temperatur udara yang paling baik untuk tanaman Buncis berkisar antara  20-
500C. Di luar kisaran temperatur tersebut produksinya tidak maksimal. Umumnya
tanaman Buncis menghendaki kelembaban  50-60%,  kondisi terlalu lembab dapat
mengundang hama dan penyakit  sehingga dapat mengancam pertumbuhan tanaman
(Setiawan, 1994).
2. Curah Hujan 
Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan curah hujan
1.500 - 2.500 mm per tahun.  Tanaman ini paling baik ditanam pada akhir musim
kemarau (menjelang musim hujan) atau akhir musim hujan (menjelang musim
kemarau). Pada saat peralihan, air hujan tidak begitu banyak sehingga sangat cocok
untuk fase pertumbuhan awal tanaman buncis, fase pengisian, dan pemasakan
polong. Pada fase tersebut dikhawatirkan terjadi serangan penyakit bercak bila curah
hujan terlalu tinggi.
3. Suhu 
Suhu udara yang paling baik untuk pertumbuhan buncis adalah 20 - 25°C.
Pada suhu kurang dari 20 °C tanaman tidak dapat melakukan proses fotosintesis
dengan baik, akibatnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat dan jumlah polong
yang dihasilkan akan sedikit. Sebaliknya, pada suhu udara yang lebih tinggi dari
25°C banyak polong yang hampa. Hal ini terjadi karena proses pernapasan (respirasi)
lebih besar dari pada proses fotosintesis pada suhu tinggi.
4. Cahaya
Cahaya matahari diperlukan oleh tanaman untuk proses fotosintesis.
Umumnya tanaman buncis membutuhkan cahaya matahari yang besar atau sekitar
400 - 800 footcandles. Oleh karena itu, tanaman buncis termasuk tanaman yang tidak
membutuhkan naungan.
5. Kelembapan udara 
Kelembapan udara yang diperlukan tanaman buncis sekitar 50 - 60 %
(sedang). Kelembapan ini agak sulit diukur, tetapi dapat diperkirakan dari lebat dan
rimbunnya tanaman. Kelembapan yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi terhadap
tingginya serangan hama dan penyakit. Beberapa jenis aphids (kutu) dapat
berkembang biak dengan cepat pada kelembapan 70-80%.
6. Tanah 
Tanah yang cocok bagi tanaman Buncis adalah Regosol, Latosol dan Andosol
yang merupakan tanah lempung ringan dan memiliki draenase yang baik. Sifat tanah
untuk Buncis gembur, remah dan keasaman (pH) adalah berkisar 5,5-6.    

Media tanam yang digunakan disini yaitu menggunakan polibag. Adapun


komposisi media tanam yaitu menggunakan tanah dan pupuk kandang. Pupuk
kandang yang digunakan yaitu menggunakan pupuk kandang sapi, ayam dan
kambing. Komposisi unsur hara yang terdapat pada pupuk kandang sangat tergantung
pada jenis hewan, umur, alas kandang dan pakan yang diberikan pada hewan
tersebut.

B. Alat dan bahan


1. Alat:
a. Cangkul
b. Sprayer
c. Timbangan
d. Gunting
e. Gembur
f. Alat tulis
2. Bahan
a. Tanah
b. Polibag

C. Pelaksanaan Praktikum
Persiapan praktikum meliuti penyiapan lokasi dan bahan praktikum. Lokasi
praktikum diratakan dan dibersihkan dari gulma. Selanjutnya persiapan bahan yang
digunakan dalam praktikum meliputi penyediaan tanah, pupuk kandang pupuk kandang
kotoran sapi, pupuk kandang kotoran kambing, pupuk kandang kotoran ayam dan sekam
padi. Masing-masing media tanam diaduk sesuai dengan perlakuan diterapkan.
Pencampuran media tanam dengan perbandingan 1:1:1. Media tanam yang telah diaduk
dengan perlakuan kemudian dimasukan kedalam polibag sesuai dengan perlakuan.
Polibag yang digunakan adalah polibag warna hitam dengan diameter 20 cm, 30 cm, dan
40 cm.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil

Pengamatan
Jumlah
Tanggal/minggu Kegiatan Jumlah
tanaman Tinggi
daun
hidup
25 Juli 2017 Penyiangan tanah - - -
Penyiangan media
- - -
tanam
30 Juli 2017 Penanaman benih - - -
07 Agustus 2017 Pengamatan 2
1. 2cm 1. -
Pembersihan
2. 8cm 2. 2
gulma,penyulaman
 

2. Pembahasan
Terdapat dua jenis tanaman buncis yang dibudidayakan, yaitu buncis tipe
merambat dan buncis tipe tegak. Buncis merambat membutuhkan rambatan untuk
mendukung pertumbuhanya sedangkan buncis tegak tidak membutuhkan rambatan.
Buncis tegak cocok dibudidayakan sebagai tanaman sayuran dalam pot. Buncis tipe
tegak berbentuk perdu dengan ketinggian 30-50 cm sangat memungkinkan untuk
ditanam disekitar perkarangan, terutama didaerah perkotaan yang memiliki luas yang
sempit.
Penanaman buncis tegak dalam polybag memerlukan media yang sesuai agar
pertumbuhan dan hasil maksimal. Media tanam merupakan salah satu faktor penting
dalam budidaya tanaman dalam budidaya tanaman. Media tanam sebagai tempat
tumbuh tanaman harus dapat menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman,
diantaranya dapat menyediakan air, unsur hara, dan memiliki porositas yang baik.
Wadah media yang umum digunakan pada sayuran dalam polibag.
Penggunaan polibag pada tanaman sayuran dalam pot adalah efesien dalam
penyiraman dan pemupukan, tanaman dapat dipindah-pindah, mudah dalam
pengendalian gulma, tidak memerlukan lahan luas, dan nutrisi yang diberikan dapat
diserap akar secara optimal.
Dari hasil praktikum tanaman kacang buncis ini dapat diketahui bahwa pada
lima minggu setelah tanam tanaman buncis sudah mulai mengeluarkan bungga. Dari
hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tanaman pada minggu pertama banyak yang
tumbuh, sekitar 80% benih tumbuh semua. Pada mingu kedua dilakukan penyulaman
pada benih yang tidak tumbuh sehingga tanaman 85% tumbuh. Pada ulangan 1 dan 2
tanaman dapat tumbuh normal, namun pada ulangan ke 3 banayak terjadi kejangalan
yang menyebabkan tanaman banyak tidak tumbuh.
Pada praktikum ini banyak tanaman yang tidak tumbuh dapat disebabkan oleh
beberapa hal. Atara lain dapat terjadi karena perawatan yang kurang. Perawatan
tanaman yang kurang dapat menyebabkan tanaman tidak tumbuh. Dapat pula
disebabkan oleh kurangnya penyiraman yang dilakukan. Tanaman yang sanggat
membutuhkan air untuk berbagai proses metabolisme dalam tumbuhan. Pada proses
fotosintesis air sebagai bahan baku proses fotosintesis, apabila air kurang maka
fotosintesis berkurang sehingga metabolisme tidak terjadi sempurna. Selain itu dapat
pula disebabkan oleh penanam benih yang terlalu dalam. Penanaman benih yang
terlalu dapat menyebabkan benih tidak tumbuh. Tidak tumbuhnya benih juga dapat
terjadi karena adanya hama atau penyakit.
E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan diatas dengan menggunakan polibag diameter 30 cm
dan campuran tanah dapat menjadikan tanaman dapat tumbuh normal. Tidak
tumbuhnya benih dikarenakan beberapa faktor, antara lain karena penanam benih
yang terlalu dalam, tidak tercukupinya air, perawatan yang tidak bagus, dan karena
hama atau penyakit.
a. Buncis merupakan tanaman dataran tinggi
b. Pada pengamatan keempat menunjukkan, hanya 2 dari 4 tanaman buncisyang
mampu bertahan hidup.
c. Pemberian bahan organik tidak terlihat secara jelas pada praktikum kal ini.
d. Faktor lingkungan ikut berperan terhadap pertumbuhan buncis.
e. Khusus perlakuan pada kelompok ini, respon pertumbuhan tanaman terhadap
pemberian bahan organik tidaklah baik.

2. Saran
Dalam penanam buncis tegak ini hendaknya dalam budidaya memerhatikan
syarat tumbuh tanaman. Selain dalam memerhatikan syarat tumbuh dalam
penanaman juga memerhatikan kedalaman tanam, agar tidak terlalu dalam.
Selanjutnya dalam pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan
disarankan selalu rutin. Dalam pengendalian gulma wajib diperhatikan, agar tanaman
dapat tumbuh bagus.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-morfologi-kacang-buncis/
http://alamtani.com/pupuk-kandang.html
http://pupuklopedia.blogspot.com/2014/07/pupuk-npk-mutiara.ht