Anda di halaman 1dari 21

Meresume E-book Profesi Kependidikan

Resume

Diajukan guna memenuhi tugas mataikuliah Profesi Kependidikan

Dosen Pengampu
Bejo Apriyanto, S.Pd., M.Pd.

Oleh

Tri Wisnu Hadi Wijaya 200210303028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2020
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................2
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling..........................................................3
B. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan di Sekolah..............5
C. Prinsip Bimbingan dan Konseling...............................................................6
D. Asas Bimbingan dan Konseling...................................................................8
E. Landasan Bimbingan dan Konseling.........................................................10
F. Bidang Bimbingan dan Belajar, Sosial, Pribadi, dan Karier......................13
G. Struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah........................15
H. Orientasi Bimbingan dan Konseling..........................................................16
I. Ruang Lingkup Pelayanan Bimbingan dan Konseling..............................17
J. Kode Etik Bimbingan Konseling...............................................................19
K. Peranan Guru dalam Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.......20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................21
Bimbingan Konseling

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling

Source : GuruPendidikan.Com
Menurut Rusyidi Ananda (2018:162) Bimbingan konseling merupakan
terjemahan dari bahasa Inggris yaitu “guidance” dan “counseling”. Secara harfiah
istilah guidance berasal dari kata guide yang bermakna; mengarahkan, memandu,
mengelola, dan menyetir. Menurut Hikmawati (2010:1) bimbingan dan konseling
adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun
kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang
pengembangan kehidupan sosial, kemampuan belajar dan perencanaan karir,
melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma
yang berlaku.
Menurut Perdy Karuru, dan Daud Kuddi Tangkeallo (2017:153)
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik
perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal,
dalam, bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis
layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam
memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal,
pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan
fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku
tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara
individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif.
Bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan yang terintegrasi
dalam keseluruhan proses belajar mengajar. Bimbingan adalah bantuan yang
diberikan kepada individu atau kelompok agar mereka dapat mandiri, melalui
bahan, interaksi, nasehat, gagasan, alat dan asuhan yang didasarkan atas norma
atau nilai-nilai yang berlaku. Sedangkan konseling sebagai suatu usaha
memperoleh konsep diri pada individu siswa.
Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Arthur ini sangat sederhana
yaitu bahwa dalam proses bimbingan ada 2 orang yakni pembimbing dan yang
dibimbing, dimana pembimbing membantu siterbimbing sehingga siterbimbing
mampu melihat pilihan pilihan, menyesuaikan diri, dan memecahkan masalah
masalahnya. Berbeda dengan definisi yang yang dikemukakan oleh Frank W.
Miller dalam bukunya Guidance and Service (1986): “Bimbingan adalah proses
bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan
bagi penyesuaian diri yang dibutuhkan bagi penyesuaian diri secara baik dan
maksimum di sekolah, keluarga, masyarakat.”
Berdasarkan terminologi “Bimbingan adalah, suatu proses membantu
individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan
kemampuannya untuk memperoleh kebahagiaan pribadi dan manfaat sosial.”
Pengertian “Konseling” merupakan konversi dari bahasa Inggris “Counselling”
jika ditinjau dari segi sematik dalam kamus bahasa Inggris, kata “Counseling”
dikaitkan dengan kata “counsel” yakni berarti nasehat (to obtain counsel), anjuran
(to give counsel), pembicaraan (to take counsel). Kata “counseling” pada saat ini
telah diterjemahkan dengan konseling, tetapi kadang-kadang konseling juga masih
diterjemahkan dengan penyuluhan. Konseling ditinjau berdasarkan terminologi
yang diungkapkan oleh Moh. Surya “konseling merupakan upaya bantuan yang
diberikan kepada klien supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri
sendiri, orang lain, pendapat orang lain terhadap dirinya, tujuan yang dikehendaki
dan kepercayaannya”.
Model BK yang berubah membawa perubahan istilah dari BP (Bimbingan
Penyuluhan) menjadi BK (Bimbingan Konseling). Pemahaman definisi BK meski
sudah disosialisasikan terkadang masih ada yang memahami BK dengan
pemahaman Bimbingan Karir. Agar menghindari kerancuan pendefinisian istilah
BK maka Bimbingan Konseling didefinisikan oleh para ahli. Pada definisi para
ahlipun berbeda beda, walaupun demikian definisi para ahli tersebut memiliki
benang merah atau kesamaan.

B. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam pendidikan sekolah


Menurut Surya Dharma (2008:8) Pelayanan bimbingan dan konseling
mengemban sejumlah fungi/peranan yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan
kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi-fungsi tersebut adalah:
1. Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan
menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai
dengan kepentingan pengembangan peserta didik.
2. Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan fungsi bimbingan dan konseling
yang akan menghasilkan tercegahnya dan terhindarnya peserta didik dari
berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu,
menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam
proses pengembangannya.
3. Fungsi penuntasan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan
menghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta
didik.
4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan yaitu fungsi bimbingan dan
konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangkannya
berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka
perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Fungsi-fungsi
tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana
terkandung didalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu
kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil-hasil yang dicapainya
secara jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.
C. Prinsip Bimbingan dan Konseling
Dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan, terdapat beberapa prinsip
bimbingan sebagai pijakan bertindak. Paryitno (1998:27) menjabarkan prinsip
pelaksanaan bimbingan berkaitan dengan sasaran layanan, permasalahan individu,
program layanan, tujuan, dan pelaksanaan adalah sebagai berikut ini :
1. Prinsip bimbingan yang berkaitan dengan sasaran layanan, yaitu :
a. Bimbingan melayani semua individu (murid) tanpa membedakan umur,
jenis kelamin, suku, agama, dan status sosial ekonomi;
b. Bimbingan berurusan dengan pribadi dan tingkah laku yang unik dan
dinamis;
c. Bimbingan memberikan perhatian sepenuhnya tahapan dan aspek
perkembangan individu (murid);
d. Bimbingan memberikan perhatian utama kepada perbedaan individu
(murid) yang menjadi orientasi pokok pelayanan.
2. Prinsip bimbingan yang berkaitan dengan permasalahan individu (murid)
yaitu :
a. Bimbingan berkaitan dengan sesuatu yang menyangkut pengaruh kondisi
mental/sehat individu terhadap penyesuaian dirinya baik di rumah,
sekolah serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, juga
pengaruh sebaliknya, lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik
individu (murid);
b. Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor
timbulnya masalah pada individu (murid) yang kesemuanya menjadi
perhatian dalam pelayanan bimbingan dan konseling.
3. Prinsip bimbingan yang berkaitan dengan program layanan, yaitu :
a. Bimbingan merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan
pengembangan individu (murid). Oleh karena itu, program bimbingan
harus diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta
pengembangan murid;
b. Program bimbingan harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan
individu (murid), masyarakat dan kondisi lembaga;
c. Program bimbingan disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan
yang terendah sampai tertinggi;
d. Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan perli diadakan
penilaian yang teratur dan terarah.
4. Prinsip bimbingan yang berkaitan dengan tujuan dan pelaksanaan layanan,
yaitu :
a. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu
(murid) yang pada akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam
menghadapi permasalahannya;
b. Dalam proses bimbingan keputusan yang diambil dan akan dilakukan
individu (murid) hendaknya atas kemauan individu (murid) itu sendiri,
bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing (guru) atau pihak
lain;
c. Permasalahan individu (murid) harus ditangani oleh tenaga ahli dalam
bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi;
d. Kerja sama antara guru dan pembimbing, guru bidang studi, staf sekolah
dan orang tua amat menentukan hasil pelayanan bimbingan;
e. Pengembangan program bimbingan ditempuh melalui pemanfaatan yang
maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu.

D. Asas Bimbingan dan Konseling


Menurut Syarafudiin, Ahmad Syarqawi, dan Dina Nadira Amelia Siahaan
(2018:22) Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling kaidah-
kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling, yaitu
ketentuan-ketentuan yang harus ditetapkan dalam penyelenggaraan pelayanan
(Prayitno dan Erman Amti, 2004). Asas asas yang dimaksud kan adalah asas
kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan,
kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, ahli tangan, dan tut wuri
handayani.
1. Asas kerahasiaan
Asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan siswa
(klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak
boleh dan tidak layak diketahui orang lain.
2. Asas kesukarelaan
Asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan siswa (klien)
mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Konselor
berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan.
3. Asas keterbukaan
Asas yang menghendaki agas siswa (klien) yang menjadi sasaran
layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam
memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima
berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi mengembangkan
dirinya.
4. Asas kegiatan
Asas yang menghendaki agar siswa (klien) yang menjadi sasaran layanan
dapat berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan dan
konseling harus mendorong dan memotivasi siswa untuk aktif dalam setiap
layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.
5. Asas kemandirian
Asas yang menunjukan pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu
siswa (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling
diharapkan menjadi individu-individu yang mmandir
6. Asas kekinian
Asas yang mengkehendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan
konseling, yakni permasalahan yang dihadapi siswa/klien adalah dalam
kondisi sekarang. Adapun masa lampau dan masa depan dilihat sebagai
dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang diperbuat oleh siswa
(klien) pada saat sekarang.
7. Asas kedinamisan
Asas yang mengkehendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan
siswa/klien hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus
berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan keutuhan dan tahap
perkembangannya dari waktu ke waktu
8. Asas keterpaduan
Asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain,
saling menunjang, harmonis, dan terpadu.
9. Asas kenormatifan
Asas yang menghendaki agar seluruh layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum,
peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan-kebiasaan yang
berlaku.
10. Asas keahlian
Asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling
diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para
pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya
merupakan tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling.
11. Asas alih tangan kasus
Asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas
atas suatu permasalahan siswa (klien) dapat mengalih tangankan kepada
pihak yang lebih ahli.
12. Asas tut Wuri Handayani
Asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara
keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa
aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan
dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa (klien) untuk
maju.
E. Landasan Bimbingan dan Konseling
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakikatnya merupakan
faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh
konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan
konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu
membutuhkan pondasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak
memiliki pondasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan
ambruk. Demikian pula dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak
didasari oleh pondasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran
terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi
taruhannya adalah individu yang dilayaninya (konseli)
Landasan bimbingan dan konseling meliputi beberapa landasan antar lain yaitu :
1. Landasan Filosofis
Kata filosofi atau filsafat berasal dari bahasa Yunani : philos berarti cinta dan
shopos berarti bijaksana. Jadi filosofis berarti kecintaan terhadap
kebijaksanaan. Lebih luas kamus Webster New Universal memberikan
pengertian bahwa filsafat merupakan ilmu yang mempelajari kekuatan yang
didasari proses berfikir dan bertingkah laku, teori tentang prinsip-prinsip atau
hukum-hukum dasar yang mengatur alam semesta serta mendasari semua
pengetahuan dan kenyataan termasuk kedalamnya studi tentang estetika,
etika, logika, metafisika, dan lain sebagainya. Landasan filosofis merupakan
landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi
konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang
lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis, maupun estetis.
2. Landasan Religius
Dalam landasan religius bimbingan dan konseling diperlukan penekanan pada
3 hal pokok, yaitu : (1) keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam adalah
makhluk tuhan, (2) sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan
manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama, dan (3)
upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal
suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan
kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan
masalah individu.
3. Landasan Psikologis
Psikologi merupakan kajian tentang tingkah laku individu. Landasan
psikologis dalam bimbingan dan konseling berarti memberikan pemahaman
tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Hal ini
sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah
tingkah laku klien yang perlu diubah atau dikembangkan apabila hendak
mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya atau ingin mencapai tujuan-
tujuan yang dikehendakinya.
4. Landasan Pedagosis
Bimbingan dan konseling identik dengan pendidikan artinya ketika seseorang
melakukan praktik pelayanan bimbingan dan konseling berarti ia sedang
mendidik, sebaliknya apabila seseorang melakukan praktik pendidikan
(mendidik) berarti ia sedang memberikan bimbingan.
Landasan pedagogis pelayanan bimbingan dan konseling setidaknya
berkaitan dengan : (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan manusia dan
bimbingan merupakan salah satu bentuk bentuk kegiatan pendidikan, (b)
pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, dan (c) pendidikan
lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.
5. Landasan Sosial Budaya
Kebudayaan akan bimbingan timbul karena terdapat faktor yang menambah
rumitnya keadaan masyarakat dimana individu itu hidup. Faktor-faktor
tersebut seperti perubahan kontelasi keuangan, perkembangan pendidikan,
perkembangan komunikasi dan lain lain.
6. Landasan Ilmiah dan Tekhnologis
Landasan ilmiah dan tekhnologi membicarakan sifat keilmuan bimbingan dan
konseling. Bimbingan dan konseling sebagai ilmu yang multidimensional
yang menerima sumbangan besar dari ilmu-ilmu lain dan bidang tekhnologi.
Sehingga bimbingan dan konseling diharapkan semakin kokoh. Dan
mengikuti perkembangan ilmu dan tekhnologi yang berkembang pesat.
Disamping itu penelitian dalam bimbingan dan konseling sendiri memberikan
bahan-bahan yang yang segar dalam perkembangan bimbingan dan konseling
berkelanjutan.
7. Landasan Yuridis-Formal
Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan
perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan
dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang Dasar, Undang-Undang,
peraturan pemerintah, keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman
lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di
Indonesia.

F. Bidang Bimbingan Belajar, Sosial, Pribadi, dan Karier


Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek
akademik/belajar konseli sebagai berikut :
1. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar dan memahami
berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang
dialaminya.
2. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar positif, kebiasaan membaca buku,
disiplin belajar, perhatian terhadap semua pelajaran dan aktif mengikuti
semua kegiatan pembelajaran.
3. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
4. Memiliki keterampilan/teknik belajar efektif, keterampilan membaca buku,
menggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan menyiapkan diri menghadapi
ujian.
5. Memiliki keterampilan menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan,
membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas, memantapkan diri
memperdalam pelajaran tertentu dan berusaha memperoleh informasi tentang
berbagai hal dalam mengembangkan wawasan lebih luas.
6. Memiliki kesiapan mental dan mampu menghadapi ujian.
Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial
konseli dirumuskan sebagai berikut :
1. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan
ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi,
keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja dan
masyarakat.
2. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, saling menghormati
dan saling memelihara hak dan kewajiban masing-masing
3. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara
yang menyenangkan/anugrah yang tidak menyenangkan/musibah serta
mampus meresponnya secara positif dengan ajaran agama yang dianut.
4. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif
yang terkait dengan keunggulan dan kelemahan fisik maupun psikis.
5. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
6. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.
7. Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk
komitmen/ketetapan hati terhadap tugas/kewajibannya.
8. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang
diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan/silaturahim
dengan orang lain.
9. Memiliki kemampuan menyelesaikan konflik/masalh internal/dalam diri
sendiri maupun dengan orang lain.
10. Memiliki kemampuan mengambil keputusan secara efektif.
Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karier
dirumuskan sebagai berikut:
1. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat, dan kepribadian) yang terkait
dengan pekerjaan.
2. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karier yang
menunjang kematangan kompetensi karier.
3. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja, mau bekerja dibidang pekerjaan
apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi diri dan sesuai dengan
norma agama.
4. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)
dengan syarat keahlian/keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita
karier masa depan.
5. Memiliki kemampuan membentuk identitas kerier, mengenali ciri-ciri
pekerjaan, syarat yang dituntut, lingkungan sosio-psikologis kerja, prospek
kerja, kan kesejahteraan kerja.
6. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang
kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran yang sesuai minat,
kemampuan, dan kondisi kehidupan.

G. Struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah.


Menurut Surya Dharma (2008:25) Struktur organisasi pelayanan
bimbingan dan konseling pada setiap satuan pendidikan tidak mesti sama.
Masing-masing disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang bersangkutan.
Meskipun demikian, struktur organisasi pada setiap tahun pendidikan hendaknya
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Menyeluruh, yaitu mencakup unsur-unsur penting yang terlibat didalam
sebuah satuan pendidikan yang ditujukan bagi optimalnya bimbingan dan
konseling.
2. Sederhana, maksdunya dalam pengambilan keputusan/kebijaksanaan jarak
antara pengambil kebijakan dengan pelaksananya tidak terlampau panjang.
Keputusan dapat dengan cepat diambil tetapi dengan pertimbangan yang
cermat, dan pelaksanaan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling terhindar
dari urusan birokrasi yang tidak perlu.
3. Luwes dan terbuka, sehingga mudah menerima masukan dan upaya
pengembangan yang berguna bagi pelaksanaan dan tugas-tugas organisasi,
yang semua itu bermuara pada kepentingan seluruh peserta didik.
4. Menjamin berlangsungnya kerja sama, sehingga semua unsur dapat saling
menunjang dan semua upaya serta sumber dikoordinasikan demi kelancaran
dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling untuk kepentingan
peserta didik.
5. Menjamin terlaksananya pengawasan, penilaian dan upaya tindak lanjut,
sehingga perencanaan pelaksanaan dan penilaian program bimbingan dan
konseling yang berkualitas dapat dilakukan. Pengawasan dan penilaian
hendaknya dapat berlangsung secara vertikal (dari atas ke bawah dan dari
bawah ke atas), dan secara horizontal (penilaian sejawat).

H. Orientasi Bimbingan dan Konseling


Menurut Sukardi dandan Kusmawati (2008:56) menyatakan bahwa :
Layanan orientasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan
peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh besar
terhadap peserta didik (terutama orang tua) memahami lingkungan (seperti
sekolah) yang dimasuki peserta didik dilingkungan yang baru ini.
Dalam bimbingan konseling sendiri orientasi dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu orientasi perorangan, orientasi perkembangan, dan orientasi permasalahan.
Berikut adalah penjelasan dari 3 orientasi tersebut :
1. Orientasi perorangan
Dalam orientasi perseorangan adalah suatu layanan bimbingan konseling
yang menghendaki seorang konselor menitik beratkan pandangannya
terhadap setiap individu yang ada. Contoh ketika seorang konselor memasuki
sebuah kelas, sebuah kelas pasti terdiri dari sejumlah siswa, maka seorang
konselor harus mampu menitikberatkan pandangannya kepada masing-
masing siswa. Tetapi pandangan terhadap kelompok tidak boleh dipandang
sebelah mata.
2. Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan merupakan bimbingan konseling yang
menitikberatkan pada pentingnya perkembangan yang ada dalam individu.
Orientasi ini memandang keseluruhan proses perkembangan yang ada.
Dengan kata lain, peranan bimbingan dan konseling adalah memberikan
kemudahan-kemudahan bagi gerak individu menjalani alur
perkembangannya. Pelayanan bimbingan dan konseling berlangsung dan
dipusatkan untuk menunjang kemampuan intern individu bergerak menuju
kematangan dalam perkembangannya.
3. Orientasi Permasalahan
Bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki tujuan untuk
menyelesaikan atau mencari solusi terbaik dari setiap permasalahan yang ada.
Jika dipandang demikian, maka bimbingan dan konseling tentu sangat
berkaitan dengan masalah. Untuk itu orientasi Permasalahan dalam
bimbingan konseling adalah bimbingan konseling yang menitikberatkan pada
masalah yang sedang terjadi pada individu.

I. Ruang Lingkup Pelayanan Bimbingan dan Konseling


Pelayanan bimbingan konseling merupakan peranan yang paling penting,
bagi individu yang berada dilingkungan sekolah, keluarga, atau masyarakat. Oleh
karena itu, sebagaimana pendapat Abu Bakar M.Luddin (2010:29) ruang lingkup
bimbingan konseling terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Sekolah merupakan lembaga formal yang secara khusus dibentuk untuk
menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat. Dalam lembaga
sekolah terdapat berbagai macam bidang kegiatan dan bidang pelayanan
bimbingan dan konseling mempunyai peranan yang khusus, bidang-bidang
tersebut diantaranya : Pertama, bidang kurikulum yang meliputi semua
bentuk pengembangan kurikulum dan pelaksanaan pengajaran yaitu
penyampaian dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
kemampuan berkomunikasi peserta didik. Kedua, bidang administrasi atau
kepemimpinan yaitu bidang yang meliputi berbagai fungsi berkenaan dengan
tanggung jawab dan pengambilan kebijakan serta bentuk kegiatan
pengelolaan dan administrasi sekolah seperti perencanaan, pembiayaan,
pengadaan, dan pengembangan staff. Ketiga, bidang kesiswaan yaitu bidang
yang meliputi berbagai fungsi dan kegiatan yang mengacu kepada pelayanan
kesiswaan secara individu agar masing-masing peserta didik dapat
berkembang sesuai dengan bakat, potensi, dan minatnya.
2. Pelayanan Bimbingan dan Konseling Diluar Sekolah
Pelayanan bimbingan konseling tidak hanya didapat oleh mereka yang berada
dilingkungan sekolah atau pendidikan saja. Masyarakat diluar sekolah pun
bisa mendapatkan pelayanan bimbingan konseling. Sebagaimana pendapat
Abu Bakar M. Luddin (2010:31), konseling diluar sekolah meliputi :
a. Bimbingan dan Konseling dalam Lingkungan Keluarga
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, keluarga merupakan peranan
yang sangat penting dan dapat memberikan pengaruh yang besar dalam
kehidupan. Keluarga dapat memberikan pengaruh positif ataupun negatif.
Dalam pelayanan bimbingan konseling, dari sekian banyak kasus yang
ditangani ternyata kehidupan masyarakat khususnya keluarga, tidak akan
pernah lepas dari masalah, konflik dan situasi/kejadian yang tidak
menyenangkan terkait dengan diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan sekitar.
b. Bimbingan dan Konseling dalam Lingkungan yang Lebih luas
(Bimbingan dan Konseling di Masyarakat).
Permasalahan yang dialami oleh masyarakat tidak hanya terjadi
dilingkungan sekolah ataupun keluarga saja, melainkan juga diluar
keduanya. Masyarakat dilingkungan perusahaan, industri, bahkan
dilembaga masyarakat tidak terhindar dari kemungkinan menghadapi
masalah. Oleh karena itu, pelayanan bimbingan dan konseling
diperlukan.
Adapun fungsi layanan bimbingan dan konseling dimasyarakat sebagai
berikut:
a. Fungsi Pemahaman
Fungsi pemahaman membantu konseling agar memiliki pemahaman
terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan,
dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini konseling diharapkan
mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
b. Fungsi Pencegahan
Fungsi pencegahan berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa
mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya
untuk mencegahnya, agar tidak dialami oleh konseling. Melalui fungsi ini
dapat memberikan bimbingan kepada konseling tentang tata cara
menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan
dirinya, diantaramya dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan
sebanyak-banyaknya kepada konseling dalam rangka mencegah
terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan diantaranya : bahaya
minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan free
sex.

J. Kode Etik Bimbingan Konseling


Kode etik bimbingan dan konseling Indonesia. Merupakan landasan moral
dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan, dan
diamankan oleh setiap profesional Bimbingan dan Konseling Indonesia.
Landasan kode etik :
1. Pancasila, mengingat profesi bimbingan dan konseling merupakan usaha
pelayanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga
negara Indonesia yang yang bertanggung jawab harus menaikkan hakekat,
martabat, moralanusia. Hakekat manusia :
a. Manusia itu makhluk Tuhan yang beriman dan bertaqwa.
b. Makhluk sempurna
c. Makhluk paling tinggi
d. Khalifah dimuka bumi
e. Penyandang HAM.
Kode etik adalah pola ketentuan/aturan/tata cara yang menjadi pedoman
menjalani tugas dan aktivitas suatu profesi. Disamping rumusan kode etik
bimbingan dan konseling yang dirumuskan ikatan petugas bimbingan Indonesia
yaitu :
a. Pembimbing menghormati harkat klien.
b. Pembimbing menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi.
c. Pembimbing tidak membedakan klien.
d. Pembimbing dapat menguasai dirinya, dalam arti kata kekurang-
kurangannya dan prasangka-prasangka pada dirinya.
e. Pembimbing mempunya sifat rendah hati, sederhana, dan sabar.
f. Pembimbing terbuka terhadap saran yang diberikan pada klien.

K. Peranan Guru dalam Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.

Source : kompasiana.com
Layanan bimbingan dan konseling disekolah bukan hanya menjadi
tanggung jawab guru bimbingan dan konseling (guru BK) melainkan jadi
tanggung jawab bersama semua guru, baik guru kelas maupun guru mata
pelajaran dibawah koordinasi guru bimbingan dan konseling. Sekalipun tugas dan
tanggung jawab utama guru kelas maupun guru mata pelajaran adalah
menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran, bukan berarti dia sama
sekali lepas dari kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan
kontribusi guru kelas dan guru mata pelajaran tetap sangat diharapkan guna
kepentingan efektivitas dan efisiensi pelayanan bimbingan dan konseling
disekolah, bahkan dalam batas-batas tertentu guru kelas maupun guru mata
pelajaran dapat bertindak sebagai pembimbing (konselor) bagi peserta didiknya.
Salah satu peran yang harus dijalankan oleh guru yaitu sebagai pembimbing dan
untuk menjadi pembimbing yang baik guru harus memiliki pemahaman tentang
peserta didik yang dibimbingnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ananda, Rusyidi. 2018. Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Medan:


Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI).
Dharma, Surya. 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Direktur
Tenaga Kependidikan PMPTK
Dharma, Surya. 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Direktur
Tenaga Kependidikan PMPTK
Hikmawati, F. 2010. Bimbingan Konseling. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Karuru, Perdy & Kuddi, Tangkeallo Daud. 2017. Profesi Kependidikan. Makale:
PT. Sulo
Luddim, A. B. 2010. Dasar-Dasar Konseling. Bandung: Citapustaka Media
Perintis.
Luddin, A. B. 2010. Dasar-Dasar Konseling. Bandung: Citapustaka Media
Perintis.
Prayitno. 1998. Dasar-Dasar Bimbingan Konseling. Jakarta: Reneka Cipta.
Sukardi, D. K., & Kusmawati, D. N. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Syafaruddin. Dkk. 2019. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Medan:
Perdana Publishing.