Anda di halaman 1dari 19

PENDAMPING DAN PENANGANAN PERKARA PIDANA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu pada mata kuliah Keadvokatan

Dengan Dosen Pembimbing “M. Yusuf, S.H, M.H”

Disusun Oleh

KELOMPOK VI

DEWI SRI PUSPIANA

M. ARIEF RAHMAN

NADIA SEPTI PRATIWI

JAMILAH

SEMESTER III

PROGRAM STUDI AHWAL SYAKHSIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

JAM’IYAH MAHMUDIYAH

TANJUNG PURA

LANGKAT
2020
DAFTAR ISI

BAB 1..................................................................................................................................2
PENDAHULUAN..............................................................................................................2
1. Latar Belakang....................................................................................................2
2. Rumusan masalah.............................................................................................4
3. Tujuan................................................................................................................4
BAB II..................................................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................................5
A. Tinjauan Umum Tentang Pendampingan Hukum...............................................5
KESIMPULAN....................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................17
BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara hukum, maksud dari negara hukum ialah

bahwa tidak ada satu pun yang berada di atas hukumdan hukumlah yang

berkuasa. Negara dan lembaga-lembaga lain dalam bertindak apapun harus

dilandasi oleh hukum dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.

Negara menjamin hak semua orang, baik dari golongan mampu maupun

tidak mampu, untuk diperlakukan sama di hadapan hukum. Persamaan di

hadapan hukum tersebut mengimplikasikan satu bentuk persamaan

perlakuan, yaitu pemberian bantuan hukum.

Perlindungan hak asasi manusia (HAM) adalah salah satu pilar

utama dari Negara Demokrasi, selain supremasi hukum yang dicerminkan

dengan prinsip the Rule of Law. Sebagai suatu Negara demokrasi yang

berdasarkan atas hukum (rechtstaat), sudah selayaknya Indonesia

mengatur perlindungan hak asasi manusia (HAM) ke dalam konstitusinya.

Perlindungan hak asasi manusia (HAM) diberikan kepada semua orang,

termasuk juga orang yang diduga dan atau telah terbukti melakukan

Tindak Pidana. Terhadap orang yang diduga melakukan suatu Tindak

Pidana (sebagai tersangka atau terdakwa) seharusnya diberikan atau

perhatian atas hak-haknya sebagai manusia, sebab dengan menyandang

setatus sebagai tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana, dia akan
dikenakan beberapa tindakan tertentu yang mengurangi hak-hak asasinya

tersebut.1

Sebagaimana yang sudah tertulis dalam pasal 54 KUHAP yaitu

“guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak

mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum

selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tata

cara yang ditentukan dalam undang-undang ini.” Khusus bagi

tersangka/terdakwa yang melakukan tindak pidana yang diancam hukuman

mati atau pidana penjara 15 tahun atau lebih, atau bagi tersangka/terdakwa

yang diancam pidana penjara 5 tahun atau lebih tapi tidak mampu

mempunyai penasihat hukum sendiri, maka pejabat yang bersangkutan

wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka sebagaimana diatur dalam

Pasal 114 jo. Pasal 56 ayat (1) KUHP yang selengkapnya berbunyi:

Pasal 114 KUHAP

“Dalam hal seorang disangka melakukan suatu tindak pidana

sebelum dimulainya pemeriksaan oleh penyidik, penyidik wajib

memberitahukan kepadanya tentang haknya untuk mendapatkan bantuan

hukum atau bahwa ia dalam perkaranya itu wajib didampingi oleh

penasihat hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56.”

Pasal 56 ayat (1) KUHAP

“Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa

melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau

ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak

1
Khaira Ummah, “Pendampingan Penasehat Hukum Terhadap Tersangka Dan Terdakwa Dalam
Perkara Korupsi”, Jurnal Hukum, Vol. 13 No.1, 2018, Hal. 297-310
mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak

mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada

semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk

penasihat hukum bagi mereka.”

2. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat

dirumuskan permasalahan mengenai Apa pentingnya pendampingan

hukum dalam penanganan perkara pidana kepada tersangka atau

terdakwa?

3. Tujuan
Terdapat beberapa tujuan dari penulisan yang menyangkut

pentingnya pendampingan hukum dalam penanganan perkara pidana

kepada tersangka atau terdakwa, antara lain :

1. Untuk memberikan sosialisasi atau pendalaman lebih mengenai

pentingnya pendampingan hukum kepada tersangka atau terdakwa

selama proses penanganan perkara pidana berlangsung.

2. Untuk memberikan perhatian khusus terhadap hak tersangka atau

terdakwa untuk mendapat pendampingan oleh penasehat hukum dari

mulai proses penyidikan hingga persidangan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Pendampingan Hukum

1. Pengertian Pendampingan Hukum


Perolehan pembelaan dari seorang advokat atau pembela umum

(access to legal counsel) adalah hak asasi manusia setiap orang dan

merupakan salah satu unsur untuk memperoleh keadilan bagi semua

orang.Tidak ada seorangpun dalam Negara hukum yang boleh diabaikan

haknya untuk memperoleh pembelaan umum dengan tidak memerhatikan

latar belakangnya, seperti latar belakang agama, keturunan, ras, etnis,

keyakinan politik, strata sosio-ekonomi, warna kulit, dan gender.

Menurut pasal 54 KUHAP, menyebutkan bahwa “Guna

kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapat

bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam

waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tata cara yang

ditrentukan dalam Undang-Undang”

Berdasarkan uraian diatas maka pendampingan hukum atau biasa

yang disebut sebagai bantuan hukum adalah suatu pemberian bantuan

dalam bentuk hukum, kepada terangka atau terdakwa oleh seorang atau

lebih ahli hokum, guna memperlancar penyeleaian perkara.

Bantuan hukum merupakan asas yang sangat penting, sebab

seseorang yang terkena atau tersangkut perkara mempunyai hak untuk

memperoleh bantuan hukum, guna memberikan perlindungan sewajarnya


kepadanya, dan juga pentingnya bantuan hukum ini untuk menjamin

perlakuan yang sesuai dengan martabatnya sebagai manusia, maupun demi

dilaksanakannya hukum sebagaimana mestinya.2

Berdasarkan pendapat Jaksa Agung Republik Indonesia bahwa

bantuan hukum adalah pembelaan yang diperoleh seseorang terdakwa dari

seorang penasihat hukum, sewaktu perkaranya diperiksa dalam

pemeriksaan pendahuluan atau dalam proses pemeriksaan perkaranya di

muka pengadilan.3

Sedangkan Adnan Buyung Nasution bantuan hukum adalah Legal

Aid, yang berarti pemberian jasa dibidang hukum kepada seseorang yan

terlibat dalam suatu kasus atau perkara :

1) Pemberian jasa bentuan hukum dilakukan dengan Cuma-Cuma

2) Bantuan jasa hukum dalam legal aid lebih dikhususkan bagi yang

tidak mampu dalam lapisan masyarakat miskin

3) Dengan demikian motifasi utama konsep legal aid adalah menegakkan

hukum dengan jalan membela kepentingan hak assasi rakyat kecil

yang tak punya dan buta hokum

Tidak adanya definisi yang jelas mengenai bantuan hokum,

membuat kalangan profesi hokum mencoba membuat dasar dari pengertian

bantuan hokum.Pada tahun 1976, Simposium Badan Kontak Profesi

Hukum Lampung merumuskan pengertian bantuan hokum sebagi

pemberian bantuan hokum kepada seorang pencari keadilan yang tidak

2
Andi Sofyan & Asis, 2014, Hukum Acara Pidana, Jakarta : Prenadamedia Group, hlm 111
3
Muclisin Riadi, 2016, Pengertian dan Sejarah Bantuan Hukum,
https://www.kajianpustaka.com/2016/04/pengertian-dan-sejarah-bantuan-hukum.html, diakses
pada Senin, 23 Desember 2019 pukul 22:57 WIB
mampu yang sedang menghadapi kesilutan dibidang hokum diluar maupun

dimuka pengadilan tanpa imbalan jasa.4

2. Fungsi dan Tujuan dari Pendampingan Hukum (Pemberian Bantuan


Hukum)
Arti dan tujuan program bantuan hukum di Indonesia adalah

sebagimana tercantum dalam anggaran dasar Lembaga Bantuan Hukum

(LBH) karena Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mempunyai tujuan dan

ruang lingkup kegiatan yang lebih luas dan lebih jelas arahannya sebagai

berikut :

a. Memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat yang

membutuhkannya;

b. Membidik masyarakat dengan tujuan membutuhkan dan membina

kesadaran akan hak-hak sebagai subjek hukum;

c. Mengadakan pembaharuan hukum dan perbaikan pelaksanaan hukum

disegala bidang.

Melihat tujuan dari suatu bantuan hukum sebagaimana yang

terdapat dalam Anggaran Desar Lembaga Bantuan Hukum (LBH) tersebut

diketahui bahwa tujuan dari bantuan hukum tidak lagi didasarkan semata-

mata pada perasaan amal dan perikemanusiaan untuk memberikan

pelayanan hukum. Sebaliknya pengertian lebih luas, yaitu meningkatkan

kesadaran hukum daripada masyarakat sehingga mereka akan menyadari

hak-hak mereka sebagai manusia dan warga negara Indonesia. Bantuan

hukum juga berarti berusaha melaksanakan perbaikan-perbaikan hukum


4
___,___, Tinjauan Teoritis tentang Bantuan Hukum,
https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/607/jbptunikompp-gdl-herwinsusa-30310-9-unikom_h-i.pdf,
diakses pada selasa 24 Desember 2019 pukul 22:35 WIB
agar hukum dapat memenuhi kebutuhan rakyat dan mengikuti perubahan

keadaan meskipun motivasi atau rasional daripada pemberian bantuan

hukum kepada masyarakat tidak mampu berbeda-beda dari zaman ke

zaman, namun ada satu hal yang kiranya tidak berubah sehingga

menrupakan satu tujuan yang sama, yaitu dasar kemanusiaan (humanity).5

3. Tata Cara atau Prosedur Pemberian Bantuan Hukum


Dalam pemberian bantuan hokum adalah merupakan hak-hak

tersangka/terdakwa untuk memperoleh bantuan hokum, sebagaimana di

dalam KUHAP dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang

kekuasaan kehakiman, sebagai berikut:

a. Menurut pasal 37 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 bahwa “setiap

orang yang tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hokum”

b. Menurut pasal 38 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, bahwa

“dalam perkara pidana seorang tersangka sejak saat dilakukan

penangkapan dan/atau penahanan berhak menghubungi dan meminta

bantuan advokat”

c. Menurut pasal 38 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, bahwa “

dalam memberi bantuan hokum sebagaimana dimaksud dalam pasal 37,

advokat wajib membantu penyelesaian perkara dengan menjunjung

tinggi hokum dan keadilan

5
___,___, Tinjauan Teoritis tentang Bantuan Hukum,
https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/607/jbptunikompp-gdl-herwinsusa-30310-9-unikom_h-i.pdf,
diakses pada selasa 24 Desember 2019 pukul 22:35 WIB
d. Menurut pasal 56 KUHAP, bahwa apabila tersangka atau terdakwa

dalam hal ini telah dipersangkakan atau didakwaka melakukan tindak

pidana, yaitu:

1) Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa

melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau

ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang

tidak mampu yang diancam dengan pidana lima belas tahun atau

lebih yang tidak mempunyai penasihat hokum sendiri, pejabat yang

bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses

peradilan wajib menunjuk penasihat hokum bagi mereka

2) Setiap penasihat hokum yang ditunjuk untuk bertindak sebagimana

dimaksud dalam ayat (1) , memberikan bantuan hukumnya dengan

Cuma-Cuma

4. Tinjauan Umum Tentang Proses Penanganan Perkara Pidana


1. Pengertian Penanganan Perkara Pidana

Penanganan penanganan perkara pidana merupakan proses

penengakan hokum pidana materiil yang dapat juga disebut sebagai hokum

pidana formil. Hukum Pidana Formil adalah hukum pidana yang

mengatur kewenangan Negara (melalui aparat penegak hukum)

melaksanakan haknya untuk menjatuhkan pidana. Yang didalamnya

berisi KUHAP, dan aturan-aturan lainnya.KUHAP berisi tata cara atau

proses terhadap seseorang yang melanggar hukum pidana. KUHAP

diundangkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang

Hukum Acara Pidana yang terdiri atas 22 bab dan 286 pasal.
Hukum Acara Pidana memuat kaidah-kaidah yang mengatur tentang

penerapan atau tata cara antara lain penyelidikan, penyidikan, penuntutan,

pemeriksaan di depan persidangan, pengambilan keputusan oleh

pengadilan, upaya hukum, dan pelaksanaan penetapan atau putusan

pengadilan maka pengertian Hukum Acara Pidana dapat dirumuskan

sebagai hukum yang mengatur tentang kaidah dalam beracara di seluruh

proses peradilan pidana, sejak tingkat penyelidikan, penyidikan,

penuntutan, pemeriksaan di depan persidangan, pengambilan keputusan

oleh pengadilan, upaya hukum dan pelaksanaan penetapan atau putusan

pengadilan di dalam upaya mencari dan menemukan kebenaran materiil.6

2. Proses Penanganan Perkara Pidana di Indonesia

a. Tahap Pendahuluan

Tahap pendahuluan terdiri dari tahap penyelidikan,

penyidikan, penuntutan, pembuatan surat dakwaan, serta pra

peradilan. Lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:

1) Tahap Penyelidikan oleh Penyelidik

Pasal 1 Ayat (5) KUHAP merumuskan bahwa yang dimaksud

penyelidikan adalah “serangkaian tindakan penyelidik untuk

mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai

tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan

penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini”.

Secara umum dapat dirumuskan bahwa penyelidik adalah orang


6
Prof. Dr. Eddy O.S. Hiariej, S.H., M.Hum, Pengantar Hukum Acara Pidana, online,
http://repository.ut.ac.id/4124/1/HKUM4406-M1.pdf, diakses pada 2 Januari 2019 pukul 20.15
WIB
yang melakukan penyelidikan, atau dengan kata lain penyelidik

adalah orang yang menyelidiki sesuatu peristiwa guna

mendapat kejelasan tentang peristiwa atau kejadian itu. 7Dalam

Pasal 1 Ayat (4) KUHAP dirumuskan bahwa penyelidik adalah

pejabat kepolisian negara Republik Indonesia yang karena diberi

wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penyelidikan.

Pasal 4 KUHAP menentukan bahwa setiap pejabat polisi negara

Republik Indonesia adalah penyelidik.

2) Tahap penyidikan oleh Penyidik

Pasal 1 Ayat (1) KUHAP merumuskan bahwa yang dimaksud

dengan penyidik adalah pejabat polisi negara atau pejabat pegawai

negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-

undang untuk melakukan peyidikan. Pengertian penyidikan

menurut Pasal 1 Ayat (2) KUHAP adalah serangkaian tindakan

penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-

undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang

dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang

terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

3) Tahap Penuntutan oleh Penuntut Umum

Pelimpahan berkas perkara ke Kejaksaan, penyerahan hasil

penyidikan kepada penuntut umum ketika hasil penyidikan dari

penyidik belum dapat meyakinkan penuntut umum, maka berkas

perkara akan dikembalikan tanpa perhitungan sudah berapa

7
Harun M. Husain, Penyidikan dan Penuntutan dalam Proses Pidana, Rineka Cipta, Jakarta,
1991, hlm 54
kali berkas perkara tersebut mengalami bolak-balik.8 Pengembalian

berkas perkara dari kejaksaan kepada penyidik untuk dilengkapi,

disertai petunjuk-petunjuk dari penuntut umum merupakan pra

penuntutan sebagaimaan dimaksud oleh Pasal 14 huruf (b)

KUHAP. Pasal ini dapat disimpulkan bahwa pra penuntutan

terletak antara dimulainya penuntutan dalam arti sempit (perkara

dikirim ke Pengadilan) dan peyidikan yang dilakukan oleh

penyidik. Jadi, yang dimaksud dengan istilah prapenuntutan adalah

tindakan penuntut umum untuk memberi petunjuk dalam rangka

penyempurnaan penyidikan oleh penyidik.9Dalam hal penyidikan

sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab

atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum.

Setelah berkas perkara diterima oleh Kejaksaan dari penyidik,

segera menentukan apakah berkas perkara telah memenuhi

persyaratan untuk dapat atau tidak, dilimpahkan ke Pengadilan

(Pasal 139 KUHAP). Dalam hal Jaksa (Jaksa peneliti) berpendapat

bahwa tidak cukup alasan untuk diajukan ke Pengadilan Negeri

(karena perbuatan tersebut tidak dapat dihukum atau bukan

suatu tindak pidana atau si tersangka tidak dapat dihukum atau hak

menuntut telah hilang) maka ia melaporkan hal tersebut kepada

Kepala Kejaksaan Negeri. Dalam hal jaksa (penuntut umum)

setelah menerima berkas perkara dari penyidik dan berpendapat

telah memenuhi persyaratan untuk dilimpahkan ke Pengadilan


8
Leden Marpaung, Proses penanganan Perkara Pidana Bagian Kedua, Sinar Grafika, Jakarta,
1992, hlm. 284
9
Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm. 153-154
Negeri, maka ia akan membuat dan merumuskan perbuatan

yang didakwakan dalam surat dakwaan.

Pasal 1 butir (7) KUHAP merumuskan bahwa penuntutan adalah

tindakan penuntut umum untuk melimpahkan berkas perkara

pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan

menurut cara yang diatur dalam undangundang ini dengan

permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang

pengadilan.

b. Tahap Penentuan

Apabila pengadilan negeri berpendapat bahwa surat pelimpahan

perkara termasuk wewenangnya maka Ketua Pengadilan Negeri

menunjuk Hakim yang akan menyidangkan. Hakim yang ditunjuk

untuk menyidangkan menerbitkan Surat Penetapan yang isinya

menetapkan hari sidang, memerintahkan Penuntut Umum untuk

memanggil terdakwa dan saksi-saksi datang di sidang Pengadilan

(Pasal 152 KUHAP). Didalam KUHAP terdapat tiga macam

pemeriksaan sidang pengadilan. Pertama

pemeriksaan perkara biasa; kedua, pemeriksaan acara singkat; dan

ketiga, pemeriksaan cepat. Di bawah ini digambarkan secara singkat

tahap-tahap dan hal-hal yang harus dilakukan dalam pemeriksaan

sidang dengan acara biasa.

Beberapa pemeriksaan yang dilakukan di sidang Pengadilan adalah:

1)keterangan singkat pemeriksaan persidangan melalui pembacaan

surat dakwaan oleh Penuntut Umum;


2)eksepsi penasehat hukum terhadap dakwaan penuntut umum;

3)pemeriksaan eksepsi;

4)pemeriksaan saksi;

5)pemeriksaan ahli

6)pemeriksaan surat;

7)pemeriksaan terdakwa;

8)pemeriksaan barang bukti

Tahap pembuktian merupakan salah satu wujud penerapan asas

“praduga tidak bersalah” (presumption of innosence) yang

dirumuskan pada butir c penjelasan umum KUHAP sebagai berikut:

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau

dihadapkan dimuka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah

sampai adaya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya

dan memperoleh kekuatan hukum tetap”.


KESIMPULAN

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

 Adapun fungsi dari pendampingan hukum (pemberian bantuan hukum)

yaitu untuk meningkatkan kesadaran hukum daripada masyarakat sehingga

mereka akan menyadari hak-hak mereka sebagai manusia dan warga

negara Indonesia. Bantuan hukum lebih bertujuan pada kegiatan

pendampingan terhadap masyarakat dalam menyelesaikan masalahnya

melalui proses hokum sehingga proses tersebut berjalan sebagaimana

mestinya tanpa ada diskriminasi hokum terhadap mereka.

 Mengenai pentingnya Pendampingan Hukum Untuk Menjamin Hak

Individu Dalam Proses Penanganan Perkara Pidana, Hak atas bantuan

hukum merupakan salah satu hak yang terpenting yang dimiliki oleh setiap

warga negara. Karena dalam setiap proses hukum, khususnya hukum

pidana, pada umumnya setiap orang yang di tetapkan sebagai tertuduh

dalam suatu perkara pidana, tidaklah mungkin dapat melakukan

pembelaan sendiri dalam suatu proses hukum dan dalam pemeriksaan

hukum terhadapnya.

 Pemberian bantuan hukum dapat dilakukan melalui bantuan hukum yang

dilakukan oleh advokat secara perorangan dan bantuan hukum yang

dilakukan oleh advokat secara kelembagaan melalui Pos Bantuan Hukum

setempat termaktub dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Tahun

2003 tentang Advokat.


 Pendampingan klien pada penanganan perkara pidana sangatlah penting,

baik dari POSBAKUM atau pun langsung oleh advokat / konsultan

hukum. Tidak ada Batasan bagi masyarakat yang kurang mampu dalam

hal finansial / administrasi.


DAFTAR PUSTAKA

Widhayanti, Emi. 1998. ”Hak – Hak Tersangka/ Terdakwa Di Dalam

KUHAP”. Yogyakarta: Liberty.

Waluyo, Bambang. 2002. “Penelitian Hukum Dalam Praktek”. Jakarta:

Sinar Grafika.

Amiruddin. 2006. ” Pengantar Metode Penelitian Hukum ”. Jakarta: PT

Raja Grafindo Persada.Marzuki. 1983. “Metodologi Riset”. Yogyakarta:

PT Hanindita Offset.

Winata, Hendra. 2000. “Bantuan Hukum Suatu Hak Asasi Manusia Bukan

Belas Kasihan”. Jakarta: Elex Media Komputindo.