Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

“MODEL PENGEMBANGAN DAN ORGANISASI


KURIKULUM”
Di susun untuk memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Analisis Pengembangan Kurikulum PAI di MA

Dosen Pengampu :
Dra. Hj. Mukhlisoh, M.M.Pd

Kelompok VII
Disusun oleh :
1. Iftah Nurul Arifatul Amin (18.01.3409)
2. Meliyani Romadlon (18.01.3419)
3. Mutiara Dwinda Kharisma (18.01.3405)
4. Tajkia Ingka Fitri (18.01.3420)
Prodi/ Semester : PAI/ Lima

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) BREBES


JL. YOS SUDARSO 36 TELP.(0283)672294 BREBES
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur  kami panjatkan  atas kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat
dan hidayah-Nya lah sehingga penulisan makalah Analisis Pengembangan
Kurikulum PAI di MA ini  dapat terselesaikan dengan waktu yang telah
ditentukan.
Makalah dengan judul “Model Pengembangan dan Organisasi Kurikulum”
ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Pengembangan
Kurikulum PAI di MA yang diberikan oleh Ibu Dra. Hj. Mukhlisoh, M.M.Pd.
Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan harapan dapat membantu pembaca
memperlancar proses pembelajaran.
Namun tentu saja dalam penyusunan makalah ini masih terdapat penulisan
dan pemilihan kata yang kurang tepat, oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Brebes, 05 Desember 2020

Kelompok Tujuh

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul.............................................................................................................
Kata Pengantar............................................................................................................
ii
Daftar Isi.......................................................................................................................
iii
I. BAB I PENDAHULUAN............................................................................................
1
1. Latar Belakang.........................................................................................................
1
2. Rumusan Masalah....................................................................................................
1
3. Tujuan Pembahasan.................................................................................................
2
II. BAB II PEMBAHASAN............................................................................................
3
1. Pengertian Model Pengembangan Kurikulum.........................................................
3
2. Jenis-jenis Model Pengembangan Kurikulum.........................................................
3
3. Pengertian Organisasi Pengembangan Kurikulum..................................................
7
4. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan Organisasi Pengembangan
Kurikulum................................................................................................................
8
5. Bentuk-bentuk Organisasi Pengembangan Kurikulum...........................................
9
III. BAB III PENUTUP.....................................................................................................
17...................................................................................................................................
1. Kesimpulan..............................................................................................................
17

iii
2. Saran........................................................................................................................
18

Daftar Pustaka.............................................................................................................
19

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang
mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan,
politik,budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik,
kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut
akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan
kurikulum. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur
dalam rangka mendesain(design), menerapkan (implementation), dan
mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum.
Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat
menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat
memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. Dalam
praktik pengembangan kurikulum sering terjadi kecenderungan hanya
menekankan pada pemenuhan mata pealajaran. Artinya isi atau materi yang harus
dipelajari peserta didik hanya berpusat pada disiplin ilmu yang terstruktur,
sistematis dan logis, sehingga mengabaikan pengetahuan dan kemampuan aktual
yang dibutuhkan sejalan perkembangan masyarakat.
Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum
adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum
merupakan pola ataudesain bahan/ isi kurikulum yang tujuannnya untuk
mempermudah siswa dalam mepelajari bahan pelajaran serta mempermudah
siswa dalam melakukan kegiatanbelajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat
dicapai secara efektif.
2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Model Pengembangan Kurikulum?
2. Apa saja jenis Model Pengembangan Kurikulum?
3. Apa pengertian Organisasi Pengembangan Kurikulum?

1
4. Apa saja faktor yang perlu dipertimbangkan Organisasi Pengembangan
Kurikulum?
5. Apa saja bentuk Organisasi Pengembangan Kurikulum?
3. Tujuan Pembahasan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai sarana pembelajaran untuk
lebih memahami analisis pengukur kurikulum. Melalui makalah ini diharapkan
dapat menjadi penambah wawasan agar lebih mengetahui pengertian dan jenis-
jenis model pengembangan kurikulum, pengertian, factor dan bentuk-bentuk
organisasi pengembangan kurikulum . Selain itu penulisan makalah ini ditujukan
pula untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Pengukur Kkurikulum PAI di
MA.

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Model Pengembangan Kurikulum


Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum bisa
berarti penyusunan yang sekali baru (curriculum construction), bisa juga
menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement).
Sedangkan model menurut Good and Travers adalah abstraksi dunia nyata atau
representasi peristiwa kompleks atau system, dalam bentuk negatif, matematis,
grafis, serta lambang-lambang lainnya1.
Rivet (1972) menyatakan bahwa model adalah hubungan sebuah logika
secara, salah satunya kualitatif dan kuantitatif, yang memberikan relevansi pada
masa mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa model pengembangan kurikulum
adalah suatu suatu system dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-
lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan
kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada masa mendatang.
Dalam arti lain model pengembangan kurikulum adalah suatu bentuk
konseptual berupa deskripsi verbal yang menggambarkan tentang tahap-tahap
pengembangan kurikulum, pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan
kurikulum, serta wujud keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan
kurikulum.2
2. Jenis- jenis Model Pengembangan Kurikulum
Berdasarkan perkembangan teori dan pemikiran para ahli kurikulum, telah
banyak model pengembangan kurikulum. Setiap pengembangan kurikulum
memiliki karakteristik dan ciri khusus.
Dalam rentang sejarah pengembangan kurikulum terdapat sejumlah model
pengembangan kurikulum. Menurut Sukmandinata (2009:161), paling tidak
terdapat 8 model pengembangan kurikulum. Delapan model tersebut adalah the

1
Nana Syaodih Sukmadinata. 2009. (Pengembangan kurikulum  Teori  dan Praktek).
Bandung: PT. Remaja RosdaKarya. Hal : 3
2
Anselmus JE Toenlioe.2017. (Pengembangan Kurikulum). Bandung: Refika Aditama. Hal.37

3
administrative model, the grass roots model, beauchamp’s system, the
demonstration model, taba’s inverted model, roger’s interpersonal relations
model, the systematic action-research model, and emerging technical model.
Beberapa model pengembangan model kurikulum lainnya, adalah sebagai
berikut3:
1) Model Ralph Tyler
Ada empat tahapan yang harus dilakukan dalam pengembangan
kurikulum model Ralph Tyler, yaitu menentukan tujuan pendidikan,
menentukan proses pembelajaran, menentukan organisasi kurikulum, dan
menentukan evaluasi pembelajaran.
2) Model Administrative
Pengembangan kurikulum model ini sering disebut dengan istilah dari
atas kebawah (top down) atau lini staf (line-staff procedure), artinya
pengembangan kurikulum ini dimulai dengan langkah pertama dari para
pejabat tingkat atas untuk membuat keputusan dan kebijakan berkaitan dengan
pengembangan kurikulum. Tim ini sekaligus sebagai tim pengarah dalam
pengembangan kurikulum. Langkah kedua adalah membentuktim panitia
pelaksana atau komisi untuk mengembangkan kurikulum yang didukung oleh
beberapa anggota yang terdiri atas beberapa ahli,yaitu ahli pendidikan,
kurikulum, disiplin ilmu, tokoh masyarakat, tim pelaksana pendidikan kerja
dan pihak dunia kerja.
3) Model Grass Roots
Proses pengemabnagan kurikulum ini dimulai ini dimulai dari gagasan
guru-guru sebagai pelaksana pendidikan di sekolah. Ada beberapa hal yang
harus diperhatikan pengembangan kurikulum model grass roots, di antaranya:
a. Guru harus memiliki kemampuan yang profesional
b. Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum dan penyelesaian
masalah kurikulum

3
Hamdani Hamid. 2012. (Pengembangan Kurikulum Pendidikan). Bandung: CV Pustaka Setia. Hal :
133

4
c. Guru harus terlibat langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan
dan penentuan evaluasi
d. Sering bertemunya kelompok dalam pembahasan kurikulum akan
berdampak pada pemahaman guru dan akan menghasilkan konsensus
tujuan, prinsip ataupun rencana.
4) Model Demonstrasi
Model pengembangan kurikulum ini semula merupakan inovasi
kurikulum dalam skala kecil yang kemudian digunakan dalam skala yang
lebih luas. Toto Ruhimat dkk. (Semit, Stanley, dan Shores) mengemukakan
ada dua model dalam bentuk ini. Pertama, kelompok guru dari satu sekolah
atau beberapa sekolah yang diorganisasi dan ditunjuk untuk melakukan uji
coba. Kedua, beberapa pihak yang merasa kurang puas terhadap kurikulum
yang sudah ada, kemudian melakukn eksperimen, uji coba dan pengembangan
secara mandiri.
5) Model Miller-Seller
Model ini merupakan pengembangan kurikulum kombinasi dari model
trasmisi dan mosel transaksi yang terdiri atas beberapa komponen, yaitu
klasifikasi orientasi kurikulum, pengembangan tujuan, identifikasi model
mengajar, dan implementasi.
6) Model Taba’s
Model ini merupakan modifikasi dari model Tyler, terutama
penekanannya pada pemusatan perhatian guru. Teori Taba mempercayai
beberapa factor utama dalam usaha pengembangan kurikulum. Langkah-
langkahnya adalah:
a. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru
b. Menguji unit eksperimen
c. Mengadakan revisi dan konsolidasi
d. Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum
e. Implementasi dan Desiminasi

5
Selain mengenal model pengembangan kurikulum diatas, Kita mengenal
berbagai macam model kurikulum yang dapat ditinjau dari berbagai aspek:
1) Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah
kurikulum sebagai berikut4:
a. Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu
yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen
kurikulum
b. Kurikulum aktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses
pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh
berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya
mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran
merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk
kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam
jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan
kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar.
c. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu yang
terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum faktual.
Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga
administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Kebiasaan guru
datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh, akan
menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada
pembentukan kepribadian peserta didik.
2) Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita dapat
membedakan:
a. Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum), kurikulum yang mata
pelajarannya dirancang untuk diberikan secara terpisah-pisah. Misalnya,
mata pelajaran sejarah diberikan terpisah dengan mata pelajaran geografi,
dan seterusnya.
4
Baderiah. 2018. (Buku Ajar Pengembangan Kurikulum).Palopo : Lembaga Penerbit IAIN Palopo. Hal :
56

6
b. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), kurikulum yang bahan
ajarnya diberikan secara terpadu. Misalnya Ilmu Pengetahuan Sosial
merupakan fusi dari beberapa mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi,
sosiologi, dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran dikenal dengan
pembelajaran tematik yang diberikan di kelas rendah Sekolah Dasar.
Mata pelajaran matematika, sains, bahasa Indonesia, dan beberapa mata
pelajaran lain diberikan dalam satu tema tertentu.
c. Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum), kurikulum yang bahan
ajarnya dirancang dan disajikan secara terkorelasi dengan bahan ajar yang
lain.
3) Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat
dibedakan menjadi:
a. Kurikulum nasional (national curriculum), yakni kurikulum yang disusun
oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional.
b. Kurikulum negara bagian (state curriculum), yakni kurikulum yang
disusun oleh masing-masing negara bagian, misalnya di masing-masing
negara bagian di Amerika Serikat.
c. Kurikulum sekolah (school curriculum), yakni kurikulum yang disusun
oleh satuan pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) merupakan kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah lahir dari
keinginan untuk melakukan diferensiasi dalam kurikulum.
3. Pengertian Organisasi Pengembangan Kurikulum
Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang
tujuannya untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta
mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif.5
Hal senada juga dikemukakan Burhan bahwa organisasi kurikulum
merupakan struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-

5
Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 60.

7
program pembelajaran yang disampaikan kepada peserta didik guna tercapainya
tujuan penidikan atau pembelajan yang ditetapkan.6
Organisasi kurikulum merupakan asas yang sangat penting bagi proses
pengembangan kurikulum dan berhubungan erat dengan tujuan pembelajaran,
sebab menetukan isi bahan pembelajaran, menentukan cara penyampaian bahan
pembelajaran, menentukan bentuk pengalaman yang akan di sajikan kepada
terdidik dan menentukan peranan pendidik dan terdidik dalam implementasi
kurikulum. Organisasi kurikulum terdiri dari mata pelajaran tertentu yang secara
tradisional bertujuan menyampaikan kebudayaan atau sejumlah pengetahuan,
sikap dan ketrampilan yang harus diajarkan kepada anak-anak. Setiap organisasi
kurikulum memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing baik yang
bersifat teoritis maupun praktis. Implementasi kurikulum di pengaruhi dan
bergantung kepada beberapa factor terutama guru, kepala sekolah, sarana belajar
dan orang tua murid.7
4. Faktor-Faktor yang perlu dipertimbangkan Organisasi Pengembangan
Kurikulum
Dalam penyusunan organisasi kurikulum ada sejumlah faktor yang harus
diperhatikan, yakni:
1) Ruang lingkup (Scope) Merupakan keseluruhan materi pelajaran dan
pengalaman yang harus dipelajari siswa. Ruang lingkup bahan pelajaran
sangat tergantung pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
2) Urutan bahan (Sequence) Berhubungan dengan urutan penyusunan bahan
pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa agar proses belajar dapat
berjalan dengan lancar. Urutan bahan meliputi dua hal yaitu urutan isi bahan
pelajaran dan urutan pengalaman belajar yang memerlukan pengetahuan
tentang perkembangan anak dalam menghadapi pelajaran tertentu.
6
Burhan Nurgiyantoro, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah: Sebuah Pengantar Teoritis dan
Pelaksanaan, (Yogyakarta: BPFG, 1988), hlm. 111.

7
Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum: Konsep Implementasi dan Inovasi, (Yogyakarta: Teras, 2009),
hlm. 61.

8
3) Kontinuitas Berhubungan dengan kesinambungan bahan pelajaran tiap mata
pelajaran, pada tiap jenjang sekolah dan materi pelajaran yang terdapat dalam
mata pelajaran yang bersangkutan. Kontinuitas ini dapat bersifat kuantitatif
dan kualitatif .
4) Keseimbangan Adalah faktor yang berhubungan dengan bagaimana semua
mata pelajaran itu mendapat perhatian yang layak dalam komposisi kurikulum
yang akan diprogramkan pada siswa. Keseimbangan dalam kurikulum dapat
ditinjau dari dua segi yakni keseimbangan isi atau apa yang dipelajari, dan
keseimbangan cara atau proses belajar.
5) Integrasi atau keterpaduan Yang berhubungan dengan bagaimana pengetahuan
dan pengalaman yang diterima siswa mampu memberi bekal dalam menjawab
tantangan hidupnya, setelah siswa menyelesaikan program pendidikan
disekolah.
5. Bentuk-bentuk Organisasi Pengembangan Kurikulum
1) Mata Pelajaran Terpisah (Subject Curriculum)
Kurikulum ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai
macam mata pelajaran yang terpisah-pisah satu sama lain, terlepas, dan tidak
mempunyai kaitan sama sekali sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi
sempit ruang lingkupnya. Tujuan bentuk kurikulum ini adalah agar generasi
muda mengenal hasil-hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang
telah dikumpulkan selama berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan
menemukan kembali apa yang telah diperoleh generasi sebelumnya.8
Kurikulum yang disusun dalam bentuk terpisah-pisah lebih
bersifat subject centered (berpusat pada bahan pelajaran), daripada child
centered (berpusat pada minat dan kebutuhan peserta didik). Kurikulum
bentuk ini disusun berdasarkan pandangan ilmu jiwa asosiasi, yaitu yang
mengharapkan terjadinya kepribadian yang bulat berdasarkan potongan-
potongan pengetahuan.

8
Rusman, Manajemen Kurikulum…, hlm. 62

9
Dalam proses pembelajaran bentuk kurikulum ini cenderung aktivitas
siswa tidak diperhatikan bahkan diabaikan, karena yang dianggap penting
adalah supaya sejumlah informasi sebagai bahan pelajaran dapat diterima dan
dihafal oleh siswa. demikian pula bahan pelajaran yang dipelajari siswa
umumnya tidak actual karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan masyarakat. Secara fungsional kurikulum bentuk ini
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan tersebut diantaranya:9
a. Bahan pelajaran dapat disajikan secara logis dan sistematis.
Menurut pengertiannya subject itu adalah hasil pengalaman umat
manusia pada masa lampau yang tersusun secara logis sistematis. Tiap
mata pelajaran mengandung sistematik tertentu. Maksudnya mulai dari
yang sederhana sampai pada yang kompleks atau dari yang dasar sampai
pada pengembangan.
b. Organisasinya sederhana dan tidak terlalu sulit untuk direncanakan dan
dilaksanakan.
Begitupula scope dan sequencenya tidak menimbulkan kesulitan
yang berarti
Scope maksudnya menentukan jumlah dan jenis mata pelajaran
yang harus disajikan oleh sekolah. Sequence maksudnya menentukan
urutan mata pelajaran yang harus diberikan dalam tiap kelas. Dalam
menentukan kurikulum ini banyak pula bantuan dari buku-buku pelajaran
yang telah diakui kwalitasnya sehingga lebih memudahkan
menentukan scope dan sequen pada mata pelajaran di tiap kelas.
c. Kurikulum ini mudah dievaluasi dan dites
Kurikulum ini terutama bertujuan menyampaikan sejumlah
pengetahuan, pengertian, dan kecakapan-kecakapan tertentu yang mudah
diilai dengan ujian atau tes. Ada kalanya bahan pelajaran ditentukan untuk
lingkup tertentu, misalnya kabupaten, atau bahkan nasional sehingga dapat
dilakukan ujian yang sifatnya bertaraf nasional.

9
S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum…, hlm. 181-184

10
d. Dapat digunakan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi
Boleh dikatakan mayoritas pendidikan dasar sampai pendidikan
tinggi sekarang masih menggunakan bentuk kurikulum ini.
e. Kurikulum ini telah dipakai berabad-abad lamanya dan sudah menjadi
tradisi
Kurikulum ini telah digunakan dan diterima baik oleh generasi-
generasi lalu sehingga mendapat dukungan dari orangtua dan guru. Orang
cenderung susah untuk menerima perubahan dalam organisasi kurikulum
yang sudah bertahan cukup lama.
f. Kurikulum ini lebih memudahkan guru
Guru SMP atau SMA yang mendapat pendidikan di IKIP lebih
senang bekerja di sekolah yang mempunyai kurikulum yang sama seperti
apa yang mereka dapatkan di bangku kuliah. Guru-guru yang telah
mengajar bertahun-tahun dan telah menguasai bahan pelajaran
sepenuhnya, mereka tinggal mengulang-ulang saja tidak lagi perlu susah
payah atau tinggal rutinitas saja.
g. Kurikulum ini mudah diubah
Perubahan kurikulum dilakukan dengan cara menambah atau
menurangi jumlah, isi, atau jenis mata pelajaran sesuai dengan permintaan
zaman.
h. Organisasi kurikulum yang sistematis seperti yang dimiliki oleh subject
curriculum esensial untuk menafsirkan pengalaman.
Organisasi serupa ini sangat menghemat waktu dan tenaga serta
member kemungkinan mempelajari sesuatu dalam waktu yang singkat apa
yang ditemukan dengan susah payah oleh para sarjana pada masa lalu.
Dilain sisi, banyak juga yang mengkritik bentuk kurikulum ini,
diantaranya Nana Sudjana, menurutnya kurikulum ini terlalu pragmatis dan
dikompertmantalisasi, pengabaian minat dan bakat peserta didik,
penyusunannya tidak efisien, pengabaian persoalan sosial, dan gagal untuk

11
mengembangkan kebiasaan mengembangkan berfikir kreatif.10 Senada dengan
Sudjana, Binti Maunah juga mengemukakan kelemahan kurikulum ini,
diantaranya:11
a. Bentuk mata pelajaran yang terpisah dengan lainnya, sebenarnya tidak
relevan dengan kenyataan sekarang ini, dan kurang mendidik siswa/anak
dalam menghadapi situasi kehidupan mereka.
b. Tidak memperhatikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang
dihadapi siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari, sebab hanya
berpedoman pada apa yang tertera dalam buku/teks.
c. Kurang memperhatikan factor-faktor kejiwaan anak, karena pada
kurikulum ini hanya menyampaikan apa yang dialami manusia pada masa
terdahulu dalam bentuk yang sistematis dan logis. Sebenarnya sesuatu
yang logis belum berarti sesuai dengan kejiwaan anak dan
perkembangannya.
d. Tujuan kurikulum ini sangat terbatas dan kurang memperhatikan
pertumbuhan jasmani, perkembangan emosional dan sosial anak, dan
hanya memusatkan pada perkembangan intelektual anak.
e. Kurikulum semacam ini kurang mengembangkan kemampuan berfikir,
karena mengutamakan penguasaan dan pengetahuan dengan cara ulangan
dan hafalan, dan kurang membawa kepada berfikir secara mandiri.
f. Kurikulum ini cenderung menjadi status dan tidak bersifat inovatif, karena
berdasarkan pada buku yang telah ditetapkan tanpa mengalami perubahan
dan penyesuaian yang berarti dengan situasi dan kondisi masyarakat yang
selalu berkembang dengan pesat dan dinamis.
2) Mata Pelajaran Gabungan (Correlated Curricuum)
Correlated curriculum adalah kurikulum yang menekankan perlunya
hubungan diantara satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya tetapi tetap
memperhatikan cirri atau karakteristik tiap bidang studi tersebut. Pada
10
Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1988),
hlm. 56-57.
11
Binti Maunah, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi: Implementasi pada Tingkat Pendidikan Dasar
(SD/MI)…, hlm. 33-34.

12
kurikulum ini, mata pelajaran tidak disajikan secara terpisah-pisah. Akan
tetapi mata pelajaran yang memiliki kedekatan atau yang sejenis
dikelompokkan sehingga menjadi suatu bidang studi (broadfield).
Prinsip berhubungan satu sama lain/ korelasi ini dapat dilaksanakan
dengan beberapa cara: pertama, antara dua mata pelajaran diadakan
hubungan secara incidental. Kedua, memperbincangkan masalah-maalah
tertentu dalam berbagai macam pelajaran. Ketiga mempersatukan beberapa
mata pelajaran dengan menghilangkan batas masing-masing.12
Penggabungan menjadi satu kesatuan ini dimaksudkan untuk
mengurangi kekurangan yang terdapat dalam bentuk mata pelajaran. Dari
bahan kurikulum yang terlepas-lepas diupayakan disatukan dengan bahan
kurikulum atau mata pelajaran yang sejenis sehingga dapat memperkaya
wawasan siswa dari berbagai disiplin ilmu. Namun kenyataan dilapangan
terbuki bahwa guru-guru masih berpegang pada latar belakang pendidikannya.
Umpamanya ketika seorang guru sejarah mengajarkan bidang studi IPS,
dalam pelaksanaannya masih mengutamakan pelajaran sejarahnya daripada
substansi IPS itu sendiri. Demikian pula dalam penilaiannya cenderung akan
banyak mengukur atau menilai substansi sejarahnya daripada substansi IPS-
nya. Salah satu penyebabnya karena guru yang bersangkutan belum
memahami prinsip-prinsip pola penggabungan mata pelajaran tersebut.13
Walaupun telah tercapai keterpaduan yang erat antara beberapa mata
pelajaran (broadfield), namun sebenarnya masih bersifat subject curriculum,
hanya saja jumlah pelajaran sangat dikurangi.
Ada beberapa kekurangan dan kelebihan kurikulum model ini.
Kekurangannya diantaranya:14
a. Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu
mendalam.
12
Suryo Subroto, Tata Laksana Kurikulum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 3.
13
Rusman, Manajemen Kurikulum…, hlm. 64.

14
Rusman, Manajemen Kurikulum…, hlm. 64.

13
b. Kurikulum ini kurang menggunakan bahan pelajaran yang actual yang
langsung berhubungan dengan kehidupan siswa.
c. Kurikulum ini kurang memperhatikan bakat, minat, dan kebutuhan siswa.
d. Apabila prinsip penggabungan belum dipahai, kemungkinan bahan
pelajaran yang disampaikan masih terlampau abstrak.
Sementara itu, kelebihannya diantaranya:15
a. Dengan korelasi pengetahuan, siswa lebih integral tidak terlepas-lepas.
b. Dengan melihat hubungan erat antar mata pelajaran satu dengan yang lain,
minat murid bertambah.
c. Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas dan mendalam karena
memandang dari berbagai sudut.
d. Dengan korelasi  maka yang diutamakan adalah pengertian dan prinsip-
prinsip bukan pengetahuan akan fakta, dengan begitu lebih
memungkinkan penggunaan pengetahuan secara fungsional bagi murid.
3) Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum)
Integrasi berasal dari kata integer yang berarti unit. Dengan integrasi
dimaksud perpaduan, koordinasi, harmoni, kebulatan keseluruhan. Kurikulum
terpadu adalah kurikulum yang menyajikan bahan pembelajaran secara unit
dan keseluruhan tanpa mengadakan batas-batas antara satu mata pelajaran
dengan yang lainnya. integrated curriculum meniadakan batas-batas antara
berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit.
Yang penting bukan hanya bentuk kurikulum ini, akan tetapi juga tujuannya.
Dalam penerapan kurikulum ini, guru dituntut untuk memiliki
kemampuan mengimplementasikan berbagai strategi belajar mengajar yang
sesuai dengan karakteristik kurikulum tersebut. Misalnya melalui strategi
pemecahan masalah, metode proyek, pengajaran unit, inkuiri, discovery dan
pendekatan tematik, baik dilakukan secara kelompok maupun personal.
Ada beberapa kekurangan dan kelebihan kurikulum ini, kelemahannya
diantaranya:16
15
Suryo Subroto, Tata Laksana Kurikulum…, hlm. 4.
16
Rusman, Manajemen Kurikulum…, hlm. 65-66.

14
a. Ditinjau dari ujian akhir atau tes masuk yang uniform, maka kurikulum ini
akan banyak menimbulkan keberatan
b. Kurikulum ini tidak memiliki urutan yang logis dan sistematis.
c. Diperlukan waktu yang banyak dan bervariasi sesuai dengan kebutuhan
siswa maupun kelompok.
d. Guru belum memiliki kemampuan untuk menetapkan kurikulum.
e. Masyarakat, guru, dan siswa belum terbiasa dengan kurikulum ini.
f. Kurikulum dibuat leh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan
kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum.
g. Bahan pelajaran tidak tersusun secara logis dan sistematis
h. Memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda jauh
i. Memerlukan waktu, biaya, dan tenaga yang banyak.
Kelebihan dari kurikulum ini diantaranya:17
a. Segala permasalahan yang dibicarakan dalam unit sangat berkaitan erat.
b. Sangat sesuai dengan perkembangan modern tentang belajar mengajar.
c. Memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dengan masyarakat.
d. Sesuai dengan ide demokrasi, dimana siswa dirangsang untuk berfikir
sendiri, bekerja sendiri, dan memikul tanggungjawab bersama dan bekerja
sama dalam kelompok.
e. Penyajian bahan disesuaikan dengan kesnggupan/ kemampuan individu,
minat dan kematangan siswa baik secara individu maupun kelompok.
f. Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan
berbagai kegiatan pada pengalaman, kesanggupan, kematangan dan minat
anak. Anak dilibatkan secara aktif untuk untuk berfikir dan berbuat seta
bertanggungjawab baik secara individual maupun kelompok.

17
Binti Maunah, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi: Implementasi pada Tingkat Pendidikan Dasar
(SD/MI)…, hlm. 38-39.

15
16
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
model pengembangan kurikulum adalah suatu bentuk konseptual berupa
deskripsi verbal yang menggambarkan tentang tahap-tahap pengembangan
kurikulum, pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum, serta
wujud keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan kurikulum.18
Beberapa model pengembangan model kurikulum lainnya, adalah sebagai
berikut19:
1) Model Ralph Tyler
2) Model Administrative
3) Model Grass Roots
4) Model Demonstrasi
5) Model Miller-Seller
6) Model Taba’s
Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang
tujuannya untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta
mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif.20
Dalam penyusunan organisasi kurikulum ada sejumlah faktor yang harus
diperhatikan, yakni:Ruang lingkup (Scope), Urutan bahan (Sequence),
Kontinuitas, Keseimbangan dan Integrasi atau keterpaduan
Bentuk-bentuk organisasi pengembangan kurikulum adalah :
1) Mata Pelajaran Terpisah (Subject Curriculum)
2) Mata Pelajaran Gabungan (Correlated Curricuum)
3) Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum)
2. Saran

18
Anselmus JE Toenlioe.2017. (Pengembangan Kurikulum). Bandung: Refika Aditama. Hal.37
19
Hamdani Hamid. 2012. (Pengembangan Kurikulum Pendidikan). Bandung: CV Pustaka Setia. Hal : 133
20
Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 60.

17
Alhamdulillah kami telah dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik
dan lancar. Namun kami sadari masih banyak kekurangan pada penulisan dan
penyusunan makalah ini, baik itu dari segi penulisan sistematika penyusunan yang
merupakan hal yang wajar karena kami masih dalam tahap belajar.
Kami tidak menutup diri untuk menerima saran dari para pembaca
terutama Dosen pengampu Ibu Dra. Hj.Mukhlisoh, M.M.Pd dari mata kuliah
Analisis Pengukur Kurikulum PAI di MA, kami pun mengucapkan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu.

18
DAFTAR PUSTAKA

Baderiah. 2018. (Buku Ajar Pengembangan Kurikulum).Palopo : Lembaga Penerbit IAIN


Palopo.
Hamid, Hamdani. 2012. (Pengembangan Kurikulum Pendidikan). Bandung: CV Pustaka
Setia.
JE Toenlioe, Anselmus.2017. (Pengembangan Kurikulum). Bandung: Refika Aditama.
Maunah, Binti, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi: Implementasi pada Tingkat
Pendidikan Dasar (SD/MI), Yogyakarta: Teras, 2009.
Nurgiyantoro, Burhan, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah: Sebuah Pengantar
Teoritis dan Pelaksanaan, Yogyakarta: BPFG, 1988.
Rusman, Manajemen Kurikulum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009.
S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1984.
Subroto, Suryo, Tata Laksana Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Sudjana, Nana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 1996.
Sukmadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2013.
Zaini, Muhammad, Pengembangan Kurikulum: Konsep Implementasi dan Inovasi,
Yogyakarta: Teras, 2009.

19