Anda di halaman 1dari 13

VOMITUS

A. DEFINISI
Muntah adalah suatau refleks kompleks yang diperantarai oleh pusat muntah di medulla
oblongata otak.
Muntah adalah pengeluaran isi lambung secara eksklusif melalui mulut dengan bantuan
kontraksi otot- otot perut. Perlu dibedakan antara regurgitasi, ruminasi, ataupun
refluesophagus. Regurgitasi adalah makanan yang dikeluarkan kembali kemulut akibat
gerakan peristaltic esophagus, ruminasi adalah pengeluaran makanan secra sadar untuk
dikunyah kemudian ditelan kembali. Sedangkan refluesophagus merupakan kembalinya
isi lambung kedalam esophagus dengan cara pasif yang dapat disebabkan oleh hipotoni
spingter eshopagus bagian bawah, posisi abnormal sambungan esophagus dengan kardial
atau pengosongan isi lambung yang lambat.
(Judith, M. S. 2004)\

B. ETIOLOGI
Muntah adalah gejala dari berbagai macam penyakit, maka evaluasi diagnosis mutah
tergantung pada deferensial diagnosis yang dibuat berdasarkan faktor lokasi stimulus,
umur dan gejala gastrointestinal yang lain. Kelainan anatomik kongenital, genetik, dan
penyakit metabolik lebih sering terlihat pada periode neonatal, sedangkan peptik, infeksi,
dan psikogenik sebagai penyebab mutah lebih sering terjadi dengan meningkatnya
umur.Intoleransi makanan, perilaku menolak makanan dengan atau tanpa mutah sering
merupakan gejala dari penyakit jantung, ginjal, paru, metabolik, genetik, kelainan
neuromotor.
Penyebab muntah bisa karena :
1. Penyakit infeksi atau radang di saluran pencernaan atau di pusat keseimbangan
2. Penyakit-penyakit karena gangguan metabolisme seperti kelainan metabolisme
karbohidrat (galaktosemia dan sebagainya), kelainan metabolisme asam amino/asam
organic (misalnya gangguan siklus urea dan fenilketonuria)
3. Gangguan pada system syaraf (neurologic) bisa karena gangguan pada struktur
(misalnya hidrosefalus), adanya infeksi (misalnya meningitis dan ensefalitis),
maupun karena keracunan (misalnya keracunan syaraf oleh asiodosis dan hasil
samping metabolisme lainnya)
4. Masalah sensitifitas
5. Keracunan makanan atau Toksin di saluran pencernaan
6. Kondisi fisiologis misalnya yang terjadi pada anak-anak yang sedang mencari
perhatian dari lingkungan sekitarnya dengan mengorek kerongkongan dengan jari
telunjuknya.
7. Penyakit gastroenteritis akut merupakan penyebab muntah yang paling sering terjadi
pada anak-anak. Pada kondisi ini, muntah biasanya terjadi bersama-sama dengan
diare dan rasa sakit pada perut. Pada umumnya disebabkan oleh virus dan bakteri
patogen. Virus utama penyebab muntah adalah rotavirus, sementara bakteri patogen
mencakup Salmonella, Shigella, Campylobacter dan Escherichia coli

C. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala Vomiting atau Muntah antara lain:
1. Keringat dingin
2. Suhu tubuh yang meningkat
3. Mual
4. Nyeri perut
5. Akral teraba dingin
6. Wajah pucat
7. Terasa tekanan yang kuat pada abdomen dan dada
8. Pengeluaran saliva yang meningkat Bisa disertai dengan pusing

Ada beberapa gangguan yang dapat diidentifikasi akibat muntah, yaitu :


1. Muntah terjadi beberapa jam setelah keluarnya lendir yang kadang disertai
dengan sedikit darah. Kemungkinan ini terjadi karena iritasi akibat sejumlah
bahan yang tertelan selama proses kelahiran. Muntah kadang menetap setelah
pemberian makanan pertama kali.
2. Muntah yang terjadi pada hari-hari pertama kelahiran, dalam jumlah banyak,
tidak secara proyektif, tidak berwarna hijau, dan cenderung menetap biasanya
terjadi sebagai akibat dari obstruksi usus halus.
3. Muntah yang terjadi secara proyektil dan tidak berwarna kehijauan merupakan
tanda adanya stenosis pylorus.
4. Peningkatan tekanan intrakranial dan alergi susu.
5. Muntah yang terjadi pada anak yang tampak sehat. Karena tehnik pemberian
makanan yang salah atau pada faktor psikososial.
Sifat muntah :
1. Keluaran cairan terus -menerus maka kemungkinan obstruksi esophagus.
2. Muntah proyektil kemungkinan stenosis phylorus (pelepasan lambung ke duodenum).
3. Muntah hijau (empedu) kemungkinan obstruski otot halus, umunya timbul pada
beberapa hari pertama, sering menetap, biasanya tidak
4. Muntah hijau kekuningan kemungkinan obstruksi di bawah muara saluran
5. Muntah segera lahir dan menetap kemungkinan tekanan intracranial tinggi atau
obstruksi
(Ridwan, M. 2009)

D. PATOFISIOLOGI
Impuls – impuls aferens berjalan ke pusat muntah sebagai aferen vagus dan
simpatis. Impuls- impuls aferen berasal dari lambung atau duodenum dan muncul
sebagai respon terhadap distensi berlebihan atau iritasi, atau kadang- kadang sebagai
respon terhadap rangsangan kimiawi oleh bahan yang menyebabakan muntah.
Muntah merupakan respon refeks simpatis terhadap berbagai rangsangan yang
melibatkan aktivitas otot perut dan pernafasan. Proses muntah dibagi dalam 3 fase
berbeda yaitu :
1. Nausea
Merupakan sensasi psikis yang dapat ditimbulkan akibat rangsangan pada organ
dalam, labirin atau emosi dan tidak selalu diikuti oleh muntah.
2. Redching
Merupakan fase dimana terjadi gerak nafas spamodie dengan grotis tertutup,
bersamaan dengan adanya usaha inspirasi dari otot dada dan diafragma sehingga
menimbulkan tekanan intratorak yang negative.
3. Emesis (Ekspusi)
Terjadi bila fase redching mencapai puncaknya yang ditandai dengan kontraksi kuat
otot perut, diikuti dengan bertambah turunnya diafragma, disertai dengan penekanan
mekanisme antireflug. Pada fase ini pylorus dan antrum berkontraksi fundus dan
esophagus relaksi dan mulut terbuka.

E. PATHWAY
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan laboratorium
a) Darah lengkap
b) Elektrolit serum pada bayi dan anak yang dicurigai mengalami dehidrasi.
c) Urinalisis, kultur urin, ureum dan kreatinin untuk mendeteksi adanya infeksi
atau kelainan saluran kemih atau adanya kelainan metabolik.
d) Asam amino plasma dan asam organik urin perlu diperiksa bila dicurigai
adanya penyakit metabolik yang ditandai dengan asidosis metabolik berulang
yang tidak jelas penyebabnya.
e) Amonia serum perlu diperiksa pada muntah siklik untuk menyingkirkan
kemungkinan defek pada siklus urea.
f) Faal hepar, amonia serum, dan kadar glukosa darah perlu diperiksa bila
dicurigai ke arah penyakit hati.
g) Amilase serum biasanya akan meningkat pada pasien pankreatitis akut. Kadar
lipase serum lebih bermanfaat karena kadarnya tetap meninggi selama
beberapa hari setelah serangan akut.
h) Feses lengkap, darah samar dan parasit pada pasien yang dicurigai
gastroenteritis atau infeksi parasit.

2. Ultrasonografi
Dilakukan pada pasien dengan kecurigaan stenosis pilorik, akan tetapi dua pertiga
bayi akan memiliki hasil yang negatif sehingga menbutuhkan pemeriksaan
barium meal.

3. Foto polos abdomen


a) Posisi supine dan left lateral decubitus digunakan untuk mendeteksi
malformasi anatomik kongenital atau adanya obstruksi.
b) Gambaran air-fluid levels menandakan adanya obstruksi tetapi tanda ini tidak
spesifik karena dapat ditemukan pada gastroenteritis
c) Gambaran udara bebas pada rongga abdomen, biasanya di bawah diafragma
menandakan adanya perforasi.

4. Barium meal
Tindakan ini menggunakan kontras yang nonionik, iso-osmolar, serta larut air.
Dilakukan bila curiga adanya kelainan anatomis dan atau keadaan yang
menyebabkan obstruksi pada pengeluaran gaster.

5. Barium enema
Untuk mendeteksi obstrusi usus bagian bawah dan bisa sebagai terapi pada
intususepsi

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal pada pasien dengan keluhan muntah adalah mengkoreksi
keadaan hipovolemi dan gangguan elektrolit. Pada penyakit gastroenteritis akut dengan
muntah, obat rehidrasi oral biasanya sudah cukup untuk mengatasi dehidrasi.
Pada muntah bilier atau suspek obstuksi intestinal penatalaksanaan awalnya
adalah dengan tidak memberikan makanan secara peroral serta memasang nasogastic
tubeyang dihubungkan dengan intermittent suction. Pada keadaan ini memerlukan
konsultasi dengan bagian bedah untuk penatalaksanaan lebih lanjut.
Pengobatan muntah ditujukan pada penyebab spesifik muntah yang dapat
diidentifikasi. Penggunaan antiemetik pada bayi dan anak tanpa mengetahui penyebab
yang jelas tidak dianjurkan. Bahkan kontraindikasi pada bayi dan anak dengan
gastroenteritis sekunder atau kelainan anatomis saluran gastrointestinal yang merupakan
kasus bedah misalnya, hiperthrophic pyoric stenosis (HPS), apendisitis, batu ginjal,
obstruksi usus, dan peningkatan tekanan intrakranial. Hanya pada keadaan tertentu
antiemetik dapat digunakan dan mungkin efektif, misalnya pada mabuk perjalanan
(motion sickness), mual dan muntah pasca operasi, kemoterapi kanker, muntah siklik,
gastroparesis, dan gangguan motilitas saluran gastrointestinal
Penanganan pertama muntah :
1. Cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang seperti disendawakan atau
ditengkurapkan agar muntahannya tak masuk ke saluran napas yang dapat
menyumbat dan berakibat fatal.

2. Jika muntahnya keluar lewat hidung, orang tua tidak perlu khawatir. Bersihkan
saja segera bekas muntahnya. Justru yang bahaya bila dari hidung masuk lagi
terisap ke saluran napas. Karena bisa masuk ke paru-paru dan menyumbat jalan
napas. Jika ada muntah masuk ke paru-paru tak bisa dilakukan tindakan apa-apa,
kecuali membawanya segera ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.
(Masjoer, M. 2007)

H. KOMPLIKASI
1. Kehilangan cairan tubuh/elektronik sehingga dapat menyebabkan dehidrasi dan
alkaliosis.
2. Karena tidak mau makan/minum dapat menyebabkan ketosis.
3. Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjantan (shock).
4. Bila muntah sering dan hebat akan terjadi ketegangan otot dinding perut, pendarahan
konjungtiva, rupture esofagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah, jahitan bisa
terlepas pada penderita pasca operasi dan timbul pendarahan.
(Bar dan Smeltzer. 2005)

I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a) Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
b) Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian): mual,
muntah.
2) Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat
masuk rumah sakit).
3) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain
yang pernah diderita oleh pasien).
4) Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain
yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau
tidak).
2. Pemeriksaan fisik
a) Tanda-tanda vital sign
b) Tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa mulut kering, kelopak mata cekung,
produksi urine berkurang).
c) Tanda- tanda shock
d) Penurunan berat badan
3. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium : analisis urine dan darah
b) Foto polos abdomen meupun dengan kontras
c) USG
d) Pyelografi intravena/ sistrogram
e) Endoskopi dengan biopsy/ monitoring PH esophagus

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan absorbsi
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1 Defisit volume cairan b/d NOC:  Fluid management


kehilangan cairan aktif  Timbang popok/pembalut
 Fluid balance
jika diperlukan
Definisi : Penurunan  Hydration
 Pertahankan catatan intake
cairan intravaskuler,  Nutritional Status :
dan output yang akurat
interstisial, dan/atau Food and Fluid Intake
 Monitor status hidrasi
intrasellular. Ini
Kriteria Hasil : ( kelembaban membran
mengarah ke dehidrasi,
mukosa, nadi adekuat,
kehilangan cairan dengan  Mempertahankan tekanan darah ortostatik ),
pengeluaran sodium urine output sesuai jika diperlukan
dengan usia dan BB, BJ  Monitor vital sign
urine normal, HT
 Monitor masukan makanan
Batasan Karakteristik : normal
/ cairan dan hitung intake
 Tekanan darah, nadi,
 Kelemahan kalori harian
suhu tubuh dalam
 Haus  Kolaborasikan pemberian
batas normal
 Penurunan turgor cairan IV
 Tidak ada tanda tanda
kulit/lidah  Monitor status nutrisi
dehidrasi, Elastisitas
 Membran  Dorong masukan oral
turgor kulit baik,
mukosa/kulit kering  Berikan penggantian
membran mukosa
 Peningkatan denyut nesogatrik sesuai output
lembab, tidak ada rasa
nadi, penurunan  Dorong keluarga untuk
tekanan darah, haus yang berlebihan membantu pasien makan
penurunan  Tawarkan snack ( jus buah,
volume/tekanan nadi buah segar )
 Pengisian vena  Kolaborasi dokter jika
menurun tanda cairan berlebih
 Perubahan status muncul meburuk
mental  Atur kemungkinan tranfusi
 Konsentrasi urine  Persiapan untuk tranfusi
meningkat
 Temperatur tubuh
meningkat
 Hematokrit meninggi
 Kehilangan berat
badan seketika
(kecuali pada third
spacing)

Faktor-faktor yang
berhubungan:

 Kehilangan volume
cairan secara aktif
 Kegagalan
mekanisme
pengaturan

2 Ketidakseimbangn nutrisi NOC : Nutrition Management


kurang dari kebutuhan
 Nutritional Status :  Kaji adanya alergi makanan
tubuh b/d gangguan
food and Fluid Intake  Kolaborasi dengan ahli gizi
absorbsi
untuk menentukan jumlah
Kriteria Hasil :
kalori dan nutrisi yang
 Adanya peningkatan dibutuhkan pasien.
Definisi : Intake nutrisi
berat badan sesuai  Anjurkan pasien untuk
tidak cukup untuk
dengan tujuan meningkatkan intake Fe
keperluan metabolisme
 Berat badan ideal  Anjurkan pasien untuk
tubuh.
sesuai dengan tinggi meningkatkan protein dan
badan vitamin C
 Mampu  Berikan substansi gula
Batasan karakteristik :
mengidentifikasi  Yakinkan diet yang dimakan
 Berat badan 20 % kebutuhan nutrisi mengandung tinggi serat
atau lebih di bawah  Tidak ada tanda tanda untuk mencegah konstipasi
ideal malnutrisi  Berikan makanan yang
 Dilaporkan adanya  Tidak terjadi terpilih ( sudah
intake makanan yang penurunan berat dikonsultasikan dengan ahli
kurang dari RDA
(Recomended Daily badan yang berarti gizi)
Allowance)  Ajarkan pasien bagaimana
 Membran mukosa membuat catatan makanan
dan konjungtiva harian.
pucat  Monitor jumlah nutrisi dan
 Kelemahan otot yang kandungan kalori
digunakan untuk  Berikan informasi tentang
menelan/mengunyah kebutuhan nutrisi
 Luka, inflamasi pada  Kaji kemampuan pasien
rongga mulut untuk mendapatkan nutrisi
 Mudah merasa yang dibutuhkan
kenyang, sesaat
setelah mengunyah
makanan Nutrition Monitoring
 Dilaporkan atau fakta
adanya kekurangan  BB pasien dalam batas
makanan normal
 Dilaporkan adanya  Monitor adanya penurunan
perubahan sensasi berat badan
rasa  Monitor tipe dan jumlah
 Perasaan aktivitas yang biasa
ketidakmampuan dilakukan
untuk mengunyah  Monitor interaksi anak atau
makanan orangtua selama makan
 Miskonsepsi  Monitor lingkungan selama
 Kehilangan BB makan
dengan makanan  Jadwalkan pengobatan  dan
cukup tindakan tidak selama jam
 Keengganan untuk makan
makan  Monitor kulit kering dan
 Kram pada abdomen perubahan pigmentasi
 Tonus otot jelek  Monitor turgor kulit
 Nyeri abdominal  Monitor kekeringan,
dengan atau tanpa rambut kusam, dan mudah
patologi patah
 Kurang berminat  Monitor mual dan muntah
terhadap makanan  Monitor kadar albumin,
 Pembuluh darah total protein, Hb, dan kadar
kapiler mulai rapuh Ht
 Diare dan atau  Monitor makanan
steatorrhea kesukaan
 Kehilangan rambut  Monitor pertumbuhan dan
yang cukup banyak perkembangan
(rontok)  Monitor pucat, kemerahan,
 Suara usus hiperaktif dan kekeringan jaringan
konjungtiva
 Kurangnya informasi,
misinformasi  Monitor kalori dan intake
nuntrisi
 Catat adanya edema,
Faktor-faktor yang
hiperemik, hipertonik
berhubungan :
papila lidah dan cavitas
 Ketidakmampuan oral.
pemasukan atau  Catat jika lidah berwarna
mencerna makanan magenta, scarlet
atau mengabsorpsi
zat-zat gizi
berhubungan dengan
faktor biologis,
psikologis atau
ekonomi.

3 Ketidakefektifan perfusi NOC : NIC :


jaringan b/d hipovolemia
 Circulation status Peripheral Sensation
 Tissue Prefusion : Management (Manajemen
cerebral sensasi perifer)

Kriteria Hasil :  Monitor adanya daerah


tertentu yang hanya peka
mendemonstrasikan status
terhadap
sirkulasi yang ditandai
panas/dingin/tajam/tumpul
dengan :
 Monitor adanya paretese
 Tekanan systole  Instruksikan keluarga untuk
dandiastole dalam mengobservasi kulit jika
rentang yang ada lsi atau laserasi
diharapkan  Gunakan sarun tangan
 Tidak ada untuk proteksi
ortostatikhipertensi  Batasi gerakan pada kepala,
 Tidk ada tanda tanda leher dan punggung
peningkatan tekanan  Monitor kemampuan BAB
intrakranial (tidak  Kolaborasi pemberian
lebih dari 15 mmHg) analgetik
 mendemonstrasikan  Monitor adanya
kemampuan kognitif tromboplebitis
yang ditandai dengan:  Diskusikan menganai
 berkomunikasi dengan penyebab
jelas dan sesuai perubahansensasi
dengan kemampuan
 menunjukkan
perhatian, konsentrasi
dan orientasi
 memproses informasi
 membuat keputusan
dengan benar

menunjukkan fungsi
sensori motori cranial yang
utuh :

 tingkat kesadaran
mambaik, tidak ada
gerakan gerakan
involunter

Asuhan Keperawatan Nanda NIC NOC, Standar Operasional Prosedur KMB

DAFTAR PUSTAKA

Putra, Deddy Satriya. Muntah pada anak. Di sunting dan di terbitkan Klinik Dr. Rocky™.
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Arifin Achmad/ FK-UNRI. Pekanbaru
 Suraatmaja, Sudaryat. 2005. Muntah pada bayi dan anak dalam kapita selekta
gastroenterologi anak. CV. Sagung Seto. Jakarta