Anda di halaman 1dari 21

RANGKAIAN EKIVALEN THEVENIN DAN NORTON

Asriandi1, Yunarti2, Muh.Ridwan3, Kasturi Ramadhani4


1
Mahasiswa Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar
E-mail : Asriandi.mks93@gmail.com

Abstrak
Telah dilakukan pada penelitian ini yang berjudul Rangkaian Ekivalen Thevenin
Dan Northon. Percobaan ini bertujuan untuk memahami dan menerapkan rangkaian
setara Thevenin dan rangkaian setara Northon, untuk menentukan besar tegangan
Thevenin dan arus Northon, dan untuk membandingkan antara hasil pengukuran dengan
hasil perhitungan masing-masing parameter percobaan rangkaian setara Thevenin-
Northon. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah power supply yang berfungsi
sebagai sumber tegangan listrik dan multimeter yang berfungsi untuk mengukur nilai
tegangan dan kuat arus listrik. Adapun komponen yang digunakan yaitu resistor batu,
papan rangkaian, dan kabel penghubung. Pada percobaan ini digunakan tegangan sumber
(VS) sebesar 2,53 Volt, 4,85 Volt, 7,10 Volt dan 9,30 Volt dengan nilai resistor yaitu R 1,
R2, R3 dan RL berturut-turut sebesar 120 Ω, 150 Ω, 220 Ω, dan 1 KΩ sehingga, didapatkan
VAB senilai 1,42 Volt; 2,71 Volt; 3,87 Volt dan 5,06 Volt. Sehingga dari analisis data
didapatkan hambatan Thevenin sebesar 0,34 Ω , 0,34 Ω, 0,34 Ω dan 0,34 Ω;
tegangan Thevenin sebesar 1,42Volt, 2,71 Volt, 3,87 Volt dan 5,06 Volt serta arus
Norton sebesar 10 mA, 20 mA, 30 mA dan 34 mA.Maka telah diperoleh data yang
sesuai dengan teori bahwa hubungan antara tegangan dan kuat arus berbanding
lurus dengan hambatan yakni semakin besar hambatannya maka arusnya akan
semakin kecil.

Kata kunci : Rangkaian Thevenin - Northon, tegangan Thevenin, arus Northon, teorema
Thevenin – Norton.

1. Pendahuluan

Elektronika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pengendalian


arus listrik yang dapat dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron.
Pengendalian elektron ini terjadi di dalam ruang hampa atau ruangan yang berisi gas
bertekanan rendah seperti tabung gas dan bahan semi konduktor.
Ada dua bentuk rangkaian setara yaitu rangkaian setara Thevenin dan
rangkaian setara Norton. Tegangan Thevenin didefinisikan sebagai tegangan
melewati terminal beban saat hambatan beban terbuka. Teorema Thevenin
menunjukkan bahwa keseluruhan jaringan listrik tertentu, kecuali beban dapat diganti
dengan sirkuit yang hanya mengandung satu sumber tegangan listrik dengan sebuah
resistor yang terhubung secara seri. Teorema Norton menunjukkan bahwa
keseluruhan jaringan listrik tertentu kecuali beban dapat diganti dengan sirkuit
ekivalen yang hanya mengandung satu sumber arus listrik independen dan dengan
sebuah resistor yang terhubung secara paralel.

Berdasarkan uraian di atas, yang melatar belakangi dilakukannya percobaan


ini adalah untuk memahami dan menerapkan rangkaian setara Thevenin dan
rangkaian setara Norton, untuk menentukan besar tegangan Thevenin dan arus
Norton, dan untuk membandingkan antara hasil pengukuran dengan hasil perhitungan
pada parameter percobaan rangkaian setara Thevenin dan Norton.

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk memahami dan menerapkan
rangkaian setara Thevenin dan rangkaian setara Norton, untuk menentukan besar
tegangan Thevenin dan arus Norton serta untuk membandingkan antara hasil
pengukuran dengan hasil perhitungan pada parameter percobaan rangkaian setara
Thevenin dan Norton.

Adapun manfaat dari percobaan ini adalah memberikan wawasan dan


pengetahuan tentang rangkaian ekivalen Thevenin dan Norton serta
pengaplikasiannya dalam alat elektronika yang digunakan dalam kehidupan
keseharian.

2. Tinjauan Pustaka

Dua buah hambatan R1 dan R2 yang dihubungkan secara paralel, dapat


digantikan dengan sebuah resistor R3 = (R1 X R2) / (R1 + R2). Hambatan R3 ini
disebut sebagai hambatan setara dari R1 dan R2 dan biasa ditulis sebagai R3 = R1 //
R2. Pengertian hambatan setara tidak hanya digunakan untuk dua hambatn paralel
saja, akan tetapi untuk segala macam hubungan antara beberapa buah hambatan(Tim
Dosen, 2019 : 5).
Teori Thevenin ditemukan oleh seorang perancis ML Thevenin (1883), yang
menyatakan bahwa pada setiap dua terminal yang terdapat pada suatu rangkaian yang
terdirin dari elemen-elemen rangkaian pasif dan aktif, dapat digantikan oleh satu
sumber tegangan dan satu sumber tahanan pengganti yang dihubungkan seri dengan
tegangan(Amira Nur, 2016 : 2).
Teorema Thevenin adalah sebuah metode yang mengubah sirkuit AC bilateral
linear menjadi sumber tegangan AC tunggal dalam seri dengan impendansi setara.
Mengakibatkan jaringan dua terminal akan setara bila terhubung untuk setiap cabang
eksternal atau komponen. Jika sirkuit asli berisi unsur reaktif, rangkaian ekuivalen
Thevenin akan berlaku hanya pada frekuensi di mana reaktansi ditentukan.

Gambar 2.1. Kotak hitam dengan rangkaian pengganti menurut teori Thevenin
(Ardi M, 2014 : 2).

Sumber tegangan itu adalah sama dengan beda potensial yang terdapat pada
kedua titik terminal tersebut, yang disebabkan oleh adanya elemen aktif dan dengan
syarat tanpa adanya elemen tambahan. VTH adalah tegangan pada rangkaian terbuka
pada terminal a – b, sedangkan RTH adalah tahanan yang dilihat dari terminal a – b,
dengan syarat semua sumber daya diganti dengan tahanan dalam atau dihubung
singkat(Amira Nur, 2016 : 2).

Metode Thevenin merupakan salah satu dari sekian metode untuk menghitung
arus listrik pada salah satu cabang pada rangkaian listrik yang terdiri dari banyak
cabang atau banyak loop. Penerapan metode Thevenin dari suatu rangkaian atau

jaringan yang rumit yang terdiri dari banyak sumber tegangan dan impedansi-
impedansi peralatan, pada prinsipnya adalah menyederhanakan rangkaian yang rumit
tersebut menjadi suatu model rangkaian ekivalen Thevenin(Masykur, 2005 : 123).

Suatu rangkaian setara yang juga sering digunakan adalah rangkaian setara
Norton. Rangkaian ini terdiri dari suatu sumber tetap I N dan Ɛth jika kedua ujung
keluaran rangkaian Norton dihubung singkat, selurus arus I N akan mengalir melalui
keluaran. Arus ini harus sama dengan arus yang mengalir bila kedua ujung rangkaian
Thevenin dihubungkan singkat(Ardi M, 2014 : 2).

Teorema Northon ini berasal dari dua orang peneliti yang bernama Hans
Ferdinand Mayer dari Siemens & Halske dan Edward Lawry Norton dari Bell Labs.
Berbeda dengan teorema Thevenin yang penyederhanaannya menggunakan sumber
tegangan ekivalen dengan merangkai resistor ekivalen secara seri, teorema Norton
menggunakan sumber arus ekivalen dan perangkaian resistor ekivalen secara
paralel(Anggara, 2019 : 1).

Rangkaian listrik yang terdiri dari sumber dan resistor dimana arus ataupun
tegangan yang dicari pada resistor tertentu (tahanan beban) dapat dilakukan dengan
rangkaian penggati yaitu sumber tegangan dan dinamakan dengan tegangan Thevenin
(VTh) seri dengan tahanan Thevenin (RTh) dengan tahanan beban (R1) yang
membentuk satu Loop tegangan Thevenin (VTh) dan tahanan Thevenin (RTh) didapat
dengan cara, mencabut tahanan beban (R1) sehingga menjadi terbukan (Open Citcuit)
dan mengukur tegangan Open Circuit (VOC) atau VTh sedangkan untuk mendapat RTh
dengan cara mengukur tahanan rangkaian terbuka tersebut dengan mengganti sumber
tegangan rangkaian hubungan singkat (Short Circuit) dan sumber arus dengan
rangkaian tersebut (Open Circuit)(William, 2005: 252).

Teorema Norton mengubah jaringan bilateral linear menjadi setara sirkuit


yang terdiri dari sumber arus tunggal dan impedansi paralel.Meskipun rangkaian
ekuivalen Norton dapat ditentukan oleh temuan pertama rangkaian ekuivalen
Thevenin dan kemudian melakukan konversi sumber, kami umumnya menggunakan
metode yang lebih langsung diuraikan di bawah ini. Langkah-langkah untuk
menerapkan teorema Thevenin dan Norton:
 Buka dan menghapus cabang beban (atau tegangan saat ini atau tidak
diketahui cabang ) dalam jaringan , dan menandai huruf a dan b pada dua
terminal .
 Tentukan RTh resistensi setara atau RN. Ini sama dengan setara resistensi,
melihat itu dari a dan b terminal ketika semua sumber yang dimatikan atau
sama dengan nol dalam jaringan. Sebuah sumber tegangan harus digantikan
oleh sirkuit pendek, dan sebuah sumber arus harus diganti oleh sirkuit
terbuka(Boylestad, 2000 : 56).

Adapun ayat yang berkaitan pada penelitian ini yakni Firman Allah SWT.
dalam (Q.S. Az-Zariyat ayat 44) yang berbunyi :

َّ ‫فَ َعت َْوا عَنْ أَ ْم ِر َربِّ ِه ْم فَأ َ َخ َذ ْت ُه ُم ال‬


َ‫صا ِعقَةُ َو ُه ْم يَ ْنظُ ُرون‬
Artinya : Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka
disambar petir dan mereka melihatnya(QS.Az-Zariyat : 44).

Hubungan ayat diatas dengan percobaan yaitu pada ayat tersebut


menyebutkan tentang petir yang dimana petir merupakan listrik. Dalam penggunaan
sehari-hari listrik dimanfaatkan dengan beberapa rangkaian salah satunya yaitu
rangkaian Thevenin atau arus Norton.

3. Metodologi Penelitian

Pada percobaan yang digunakan adalah metode eksperimen, yakni melakukan


serangkaian percobaan mengenai rangkaian ekivalen Thevenin dan Norton, pada
percobaan ini yang dilakukannya pada hari Jumat, 11 Desember 2020, pukul 10.00-
13.00 WITA di Laboratorium Elektronika lantai 2, Fakultas Sains dan Teknologi.
Alat dan komponen elektronika yang digunakan pada percobaan ini adalah
power supply, dan multimeter (multitester), beberapa resistor batu, papan rangkaian,
dan kabel penghubung.

3. 1 Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada percobaan ini yakni, Mencatat nilai masing-masing


komponen yang akan digunakan. Kemudian membuat rangkaian seperti gambar
berikut:

Gambar 3.1: (A)Rangakian dasar Thevenin-Northon, (B)Rangkaian setara Thevenin-Norton


Mengukur tegangan rangkaian buka (VOC) antara titik A dan B setelah melepaskan
beban, mengukur arus hubungan singkat (ISC) dengan menempatkan sebuah
amperemeter melintasi AB, mengukur pula besar resistansi total rangkaian dengan
melepas power supply (rangkaian dihubung singkat dan tanpa beban), dan mencatat
hasil pengamatan pada tabel data yang tersedia.

4. Hasil dan Pembahasan

Adapun hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel 4.1. Hasil pengamatan rangkaian ekivalen Thevenin dan Northon
R1= 120 Ω R3= 220 Ω
R2= 150 Ω RL= 1 kΩ
No
VS (V) VAB (V) εTh (V) IN (A) RTh (Ω)
.
1. 2,53 1,42 1,42 10 0,34
2. 4,85 2,71 2,71 20 0,34
3. 7,10 3,87 3,87 30 0,34
4. 9,,30 5,06 5,06 34 0,34

a. Menentukan VTh secara teori

Untuk Vs = 2,53 volt


VTH =
0,15 k Ω
VTH = 2,53 volt
0,12 k Ω+ 0,15 k Ω+0,22 k Ω
VTH = 0,77 volt
Nilai VTh secara praktikum → VTH= 1,42 V

% diff = | praktikum−teori
rata−rata |
× 100%

1,42 V −0,77 V
|
% diff = 1,42 V +0,77 V × 100%
2
|
0,65 V
% diff = |1,095V | × 100%

% diff = 59,36 %

b. Menentukan IN secara teori


Secara teori
RTH = R2// (R1+R3)
RTH = 0,15// (0,12+0,22)
RTH = 0,15// 0,34

RTH = ( 0,15 k Ω x 0,34 k Ω


0,15 k Ω+ 0,34 k Ω )
RTH = 0,104 k
Secara praktikum
RTH¿ ROC =0,34 k Ω
R TH + RTH
RTH = t p

rata −rata
2
0,10 k Ω+ p ,34 k Ω
¿
2
¿ 0,22 k Ω
R THt−R TH
%diff = | R THrata−rata
×100 %
p

|
0,10 k Ω−0,34 k Ω
¿ | 0,22 k Ω
× 100 % |
¿−1,09× 100 %
¿ −109 ×100 %

untuk Vs = 2,53 Volt


Secara teori
V TH
I TH =
RTH
0.77 V
=
0,10 k Ω
= 7,7 mA
Secara pratikum
I TH =I N =10 mA
I Nt + I Np
I Nrata−rata=
2
7,7 mA +10 mA
=
2
= 8,85 mA
I Nt −I Np
%diff = | I THrata−rata|×100 %
= |7,7 mA−10 mA
8,85 mA |
×100 %

= 0,14 × 100%
= 14%

Analisis Grafik
1.6
1.4 f(x) = − 0.17 x + 1.69
1.2 R² = 1
1
IN(mA)

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Voc(volt)

Grafik 4.1: Kurva Hubungan Antara Tegangan Keluaran (V0) dan Arus Beban (IL)

Pembahasan

Rangkaian setara atau rangkaian ekivalen adalah dua buah resistor dengan
nilai hambatan R1 dan R2 yang dihubungkan secara parallel, dapat digantikan dengan
sebuah resistor bernilai R3 (R2 x R3)/ (R1+ R2) hambatan R3 disebut hambatan setara
dan pada R1 dan R2 serta ditulis sebagai R3/ (R1// R2). Pada dasarnya rangkaian
ekivalen atau rangkaian setara terbagi menjadi dua. Rangkaian setara Thevenin
adalah rangkaian yang menggunakan sumber tegangan tetap, sedangkan rangkaian
setara Norton adalah rangkaian yang menggunakan sumber arus tetap yang dapat
menghasilkan arus yang tetap berapapun hambatan keluarannya.

Pada percobaan ini digunakan tegangan sumber (VS) sebesar 2,53 Volt, 4,85
Volt, 7,10 Volt dan 9,30 Volt dengan nilai resistor yaitu R 1, R2, R3 dan R4 berturut-
turut sebesar 120 Ω, 150 Ω, 220 Ω, dan 1 kΩ sehingga, didapatkan V AB senilai 1,42
V; 2,71 V; 3,87 V dan 5,06 V.Sehingga dari analisis data didapatkan hambatan
Thevenin sebesar 0,34 Ω; tegangan Thevenin sebesar 1,42 V, 2,71 V, 3,87 V dan
5,06 V serta arus Norton sebesar 10 mA, 20 mA, 30 mA dan 34 mA. Maka diperoleh
data yang sesuai dengan teori bahwa hubungan antara tegangan dan kuat arus
berbanding lurus dengan hambatan. Semakin besar hambatan pada suatu rangkaian
maka arus yang mengalir akan semakin kecil.

Dari hasil percobaan telah diperoleh grafik hubungan antara tegangan


keluaran dengan arus keluaran menunjukkan bahwa beberapa data tegangan keluaran
(VL) berbanding terbalik dengan arus keluaran (IL) dimana semakin besar tegangan
keluaran (VL) maka arus keluaran (IL) semakin kecil begitupun sebaliknya, semakin
kecil tegangan keluaran (VL) maka arus keluaran (IL) semakin besar.

5. Penutup
Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu rangkaian setara Thevenin adalah
rangkaian yang menggunakan sumber tegangan tetap, sedangkan rangkaian setara
Norton adalah rangkaian yang menggunakan sumber arus tetap yang dapat
menghasilkan arus yang tetap berapapun hambatan keluarannya. Tegangan Thevenin
semakin lama semakin besar dan berbanding terbalik dengan arus Norton yaitu
semakin lama semakin kecil.

Saran
Saran pada percobaan ini yaitu sebaiknya pada praktikum selanjutnya,
menggunakan kabel penghubung yang baik agar data yang diperoleh lebih akurat.

Daftar Pustaka

Amira Nur. 2016. Teorema Thevenin. Semarang: Politeknik Negeri Semarang.


Anggara Trisna Nugraha. 2019. Teorema Norton dan Cara Perhitungannya.
Surabaya: PPNS.
Ardi Marwiliansyah. 2014. Thevenin Northon. Makassar: Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar.
Boyleasted.(2000).Introductory circuit analiysis new York:Cambridge University press
Tim Dosen. 2019. Penuntun Praktikum Elektronika Dasar. Makassar: Universitas
Islam Negeri Alauddin Makassar.
William, dkk. 2005. Rangkaian Listrik Edisi 6 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Analisis Data Rangkaian Thevenin-Norton

Kegiatan 1. Hubungan antara tegangan sumber dengan tegangan Thevenin dan Arus
Norton
a. Menentukan VTh secara teori
1) Untuk Vs = 2 volt
R2
VTH =
R 1+¿ R +R V s ¿
2 3

4,7 k Ω
VTH = 2 volt
3,9 k Ω+ 4,7 k Ω+2,2 k Ω
VTH = 0,87 volt
NilaiVTh secara praktikum → VTH= 0,65 V

% diff = | praktikum−teori
rata−rata |
× 100%

0,65 V −0,87 V

| |
% diff = 0,65V +0,87 V × 100%
2

% diff = |0,22 V
0,76 V |
× 100%

% diff = 28,94 %

2) Untuk Vs = 4 volt
R2
VTH =
R 1+¿ R +R V s ¿
2 3

4,7 k Ω
VTH = 4 volt
3,9 k Ω+ 4,7 k Ω+2,2 k Ω
VTH = 1,74 volt
NilaiVTh secara praktikum → VTH = 1,65 V

% diff = | praktikum−teori
rata−rata |
× 100%

1,65 V −1,74 V

| |
% diff = 1,65 V +1,74 V × 100%
2
0,09 V
% diff = |1,695V |× 100%
% diff = 5,309 %

3) Untuk Vs = 6 volt
R2
VTH =
R 1+¿ R +R V s ¿
2 3

4,7 k Ω
VTH = 6 volt
3,9 k Ω+ 4,7 k Ω+2,2 k Ω
VTH = 2,61 volt
NilaiVTh secara praktikum → VTH = 2,52 V

% diff = | praktikum−teori
rata−rata |
× 100%

2,61 V −2,52 V
| |
% diff = 2,61 V +2,52 V × 100%
2

% diff = |20,09V
,565 V |
× 100%

% diff = 3,608 %

4) Untuk Vs = 8 volt
R2
VTH=
R 1+¿ R +R V s ¿
2 3

4,7 k Ω
VTH= 8 volt
3,9 k Ω+ 4,7 k Ω+2,2 k Ω
VTH= 3,48volt
NilaiVTh secara praktikum → VTH= 3,36 V

% diff = | praktikum−teori
rata−rata |
× 100%

3,48 V −3,36 V

| |
% diff = 3,48 V +3,36 V × 100%
2

% diff = |0,12V
3,42V |
× 100%

% diff = 3,508 %

5) Untuk Vs = 10 volt
R2
VTH =
R 1+¿ R +R V s ¿
2 3

4,7 k Ω
VTH = 10 volt
3 , 9 k Ω+ 4,7 k Ω+2,2 k Ω
VTH = 4,35 volt
NilaiVTh secara praktikum → VTH = 4,20 V

% diff = | praktikum−teori
rata−rata |
× 100%

4,35V −4,20 V
| |
% diff = 4 , 35 V +4,20 V × 100%
2

% diff = |0,15 V
4,26 V |
× 100%

% diff = 3,521 %

6) Untuk Vs = 12 volt
R2
VTH =
R 1+¿ R +R V s ¿
2 3
4,7 k Ω
VTH = 12 volt
3,9 k Ω+ 4,7 k Ω+2,2 k Ω
VTH = 5,22 volt
NilaiVTh secara praktikum → VTH = 5,11 V

% diff = | praktikum−teori
rata−rata |
× 100%

5,22 V −5,11 V

|
% diff = 5,22 V +5,11 V × 100%
2 |
0,11 V
% diff = |5,165V |× 100%
% diff = 2,129 %

b. Menentukan IN secara teori


Terlebih dahulu menghitung nilai hambatan pengganti RTh, yaitu:
1) Hambatan Thevenin
Secara teori
RTH = R2// (R1+R3)
RTH = 4,7// (3,9+2,2)
RTH = 4,7// 6,1

RTH = ( 4,74,7kk Ω+
Ω x 6,1 k Ω
6 ,1 k Ω )
RTH = 2,65 k
Secara praktikum
RTH =ROC =2,64 k Ω
R TH + RTH
RTH = t p

rata −rata
2
2,65 k Ω+ 2,64 k Ω
¿
2
¿ 2,645 k Ω
R THt−R TH
%diff = | p

R THrata−rata |
×100 %

¿ |2,652,645
k Ω−2,64 k Ω
kΩ |×100 %
¿ 0,003 ×100 %
¿ 0,3 %

1) Untuk Vs = 2 volt
Secara teori
V TH
I TH =
RTH
0,87 V
¿
2,65 k Ω
¿ 0,32 mA
Secara praktikum
I TH =I N =0,25 mA
I Nt + I N p
IN =
rata−rata
2
0,32mA + 0,25 mA
¿
2
¿ 0 , 28 mA
I N t−I N p
%diff = | I THrata −rata |
×100 %

¿ |0,32 mA−0,25
0,28 mA
mA
|×100 %
¿ 0,25 ×100 %
¿ 25 %

2) Untuk Vs = 4 volt
Secara teori
V TH
I TH =
RTH
1,74 V
¿
2,65 k Ω
¿ 0,65 mA
Secara praktikum
I TH =I N =0,60 mA
I Nt + I N p
IN =
rata−rata
2
0,65 mA +0,60 mA
¿
2
¿ 0 , 625 mA
I N t−I N p
%diff = | I THrata −rata |
×100 %

¿ |0,650,625
mA−0,60 mA
mA |×100 %
¿ 0,08 ×100 %
¿8%
3) Untuk Vs = 6 volt
Secara teori
V TH
I TH =
RTH
2,61V
¿
2,65 k Ω
¿ 0,98 mA
Secara praktikum
I TH =I N =0,62 mA
I Nt + I N p
IN =
rata−rata
2
0,98 mA +0,92 mA
¿
2
¿ 0 , 95 mA
I N t−I N p
%diff = | I THrata −rata |
×100 %

¿ |0,98 mA−0,92mA
0,95 mA |×100 %
¿ 0,063 ×100 %
¿ 6,3 %
4) Untuk Vs = 8 volt
Secara teori
V TH
I TH =
RTH
3,48V
¿
2,65 k Ω
¿ 1,31 mA
Secara praktikum
I TH =I N =1,21 mA
I Nt + I N p
IN =
rata−rata
2
1.31mA +1,21 mA
¿
2
¿ 1,26 mA
I N t−I N p
%diff = | I THrata −rata |
×100 %

¿ |1,31mA1,26−1,21
mA
mA
|× 100 %
¿ 0,079 ×100 %
¿ 7,9 %
5) Untuk Vs = 10 volt
Secara teori
V TH
I TH =
RTH
4,35 V
¿
2,65 k Ω
¿ 1,64 mA
Secara praktikum
I TH =I N =1,59 mA
I Nt + I N p
IN =
rata−rata
2
1,64 mA +1,59 mA
¿
2
¿ 1,615 mA
I N t−I N p
%diff = | I THrata −rata |
×100 %

¿ |1,641,615
mA −1,59mA
mA |×100 %
¿ 0,03 ×100 %
¿3%
6) Untuk Vs = 12 volt
Secara teori
V TH
I TH =
RTH
5,22V
¿
2, 65 k Ω
¿ 1,96 mA
Secara praktikum
I TH =I N =1,93 mA
I Nt + I N p
IN =
rata−rata
2
1,96 mA +1,93 mA
¿
2
¿ 1,945 mA
I N t−I N p
%diff = | |
I THrata −rata
×100 %

¿ |1,961,945mA
mA−1,93 mA
|×100 %
¿ 0,015 ×100 %
¿ 1,5 %
Dari grafik diperoleh persamaan garis y = -0,345x + 1,859
Dimana m = 0,345
Sehingga,
1
RTH = = 2,89 k Ω
(0,345)
Secara teori
RTH = R2// (R1+R3)
RTH = 4,7// (3,9+2,2)
RTH = 4,7// 6,1

RTH = ( 4,7 k Ω x 6,1k Ω


4,7 k Ω+6,1 k Ω )
RTH =2,65 k
R THt + RTH p
RTH =
rata−rata
2

2,65 k Ω+ 2,89 k Ω
¿
2
¿ 2,77 k Ω
RTHt −RTH p
% diff = | RTH rata−rata |
×100 %
¿|2,65 k2,77
Ω−2,89 k Ω
kΩ |×100 %
¿ 0,578 ×100 %
¿ 8,66 %