Anda di halaman 1dari 18

A yat K u r si y

 Muqaddimah :
Ayat Kursiy adalah ayat ke 255 dalam surah Al-
Baqarah; ia merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur-
ân sebagaimana halnya surah Al-Fâtihah merupakan surah yang
paling agung. Keterangan ini disebutkan dalam sebuah hadits,
dari Ubay bin Ka'ab. Sesungguhnya Rasûlullâh saw. bertanya
kepadanya :

‫ َﺃَﻳُﺔ‬: ‫ﻝ‬
َ ‫ َﻓَﺮَﺩَّﺩَﻫﺎ ِﻣَﺮﺍًﺭﺍ ُﺛَّﻢ َﻗﺎ‬،‫ﻋَﻠُﻢ‬
ْ ‫ﺳْﻮُﻟُﻪ َﺃ‬
ُ ‫ َﺍﻟَّﻠُﻪ َﻭَﺭ‬: َ‫ﻈُﻢ ؟ َﻗﺎﻝ‬ َ ‫ﻋ‬ْ ‫ﺏ ﺍﻟَّﻠِﻪ َﺃ‬ ِ ‫ﻲ ِﻛَﺘﺎ‬ ٍ ‫ﻱ َﺃ َﻳٍﺔ ِﻓ‬
ُّ ‫َﺃ‬
‫ﻚ ﺍْﻟِﻌْﻠَﻢ َﺃَﺑﺎﺍْﻟُﻤْﻨِﺬِﺭ‬
َ ‫ ِﻟ ُﻴِﻬَّﻨ‬: ‫ﻝ‬
َ ‫ﺳﻲ َﻗ ﺎ‬
ِ ‫ﺍْﻟُﻜْﺮ‬
Artinya :
“Manakah ayat yang paling agung dalam Kitabullâh ?”. Ubay
menjawab : “Allâh dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Maka
Beliau mengulangi pertanyaannya berkali-kali. Lalu Ubay pun
menjawab : “Ayat Kursiy”. Nabi saw. pun bersabda : “Semoga
‘ilmu itu menjadi kenikmatan bagi-mu ya Abal-Mundzir
(panggilan Ubay bin Ka'ab)”.
(H.R. Muslim. Lihat tafsir Ibnu Katsîr juz I, hal. 304).

Ayat Kursiy disebut ayat yang paling agung karena


kandungannya (isi / contentnya) yang menjelaskan tentang
Allâh SWT. dan sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya secara
sempurna, sehingga siapapun yang mempelajarinya secara
mendalam kemudian mentaddaburnya atau merenungkannya
akan mencapai “ma'rifat”, yaitu pengenalan yang sempurna
terhadap Allâh (Ma'rifatullâh).

1
Al-Imam Ibnu Katsîr dalam Tafsîr-nya menyatakan
bahwa ayat Kursiy mengandung 10 (sepuluh) masalah, yaitu :

 Masalah Per t ama :

‫ﻻ ُﻫََﻮ‬
ّ ‫ﻻ ِﺇَﻟَﻪ ِﺇ‬
َ ‫َﺍﻟَّﻠُﻪ‬

‫ُﻫَﻮ‬ ّ ‫ِﺇ‬
‫ﻻ‬ ‫ِﺇَﻟَﻪ‬ َ ‫ﻻ‬ ‫َﺍﻟَّﻠُﻪ‬
Dia Kecuali (selain) Ilâh Yang tiada Allâh

Perincian ayat ini adalah sebagai berikut :


(‫ﻪ‬
ُ ‫ ) َﺍﻟَّﻠ‬Adalah Ismul-Jalâlah; yaitu nama yang memiliki semua
ke-Agungan dan ke-Muliaan .
(‫ﻻ‬
َ ) Adalah “Lâ nafyun lil-jinsi” : meniadakan semua jenis.
(‫ﻪ‬
َ ‫ ) ِﺇَﻟ‬Artinya : “Ma’bud”; Yang disembah.
(‫ﻻ‬
َّ ‫ ) ِﺇ‬Artinya : kecuali, yaitu “Lil-mutsbit”; untuk menetapkan.
(‫ﻮ‬
َ ‫ﻫ‬
ُ ) Artinya : Dia Allâh.
Inilah kalimat yang teramat Agung; “Kalimat-Tauhid”,
yang ketika tertanam di dalam hati akan membebaskannya dari
semua ikatan kebendaan (duniawi). Menumbuhkan keimânan
dan rasa cinta (mahabbah) pada Allâh SWT., rasa ingin
berjumpa kepada-Nya, perasaan rela dengan segala keputusan-
Nya.

 Masalah Kedua :

‫َﺍْﻟَﺤُّﻲ ﺍﻟَﻘُّﻴْﻮُﻡ‬
2
‫ﺍﻟَﻘُّﻴْﻮُﻡ‬ ُّ ‫ﺤ‬
‫ﻲ‬َ ‫َﺍْﻟ‬
Yang Berdiri Sendiri Yang Hidup

Disitu terdapat 2 (dua) sifat Allâh yang selalu


bergandengan, yaitu :

Al -Hayyu ( ‫ﻲ‬ ُّ ‫ﺤ‬


َ ‫ ;) َﺍْﻟ‬Artinya : “Yang Hidup”, tidak akan mati.
Al-Imâm Ibnul-Qayyim telah memberikan penjelasan yang
baik sekali terhadap sifat Allâh ini, beliau berkata :
‫ﺣ َﻴﺎِﺗِﻪ‬
َ ‫ﻲ‬
ْ ‫ﺲ َﻛِﻤ ْﺜِﻠِﻪ ِﻓ‬
َ ‫ َﻭَﻟْﻴ‬.‫ﺣ َﻴﺎٌﺓ‬
َ ‫ﻲ َﻭَﻟُﻪ‬
ٌّ ‫ﺣ‬
َ ‫ﻥ ﺍﻟَّﻠَﻪ‬
َّ ‫ِﺇ‬
Artinya :
“Sesungguhnya Allâh itu Hidup, dan semua kehidupan adalah
milik-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun yang seperti Dia dalam
kehidupan-Nya”
(Lihat Syarhul-‘Aqidatul-Wâsithiyyah oleh Zaid bin ‘Abdul-‘Aziz bin
Fayyâdh, hal 70).

Al -Qoyyûm ( ‫ﺍﻟَﻘُّﻴْﻮُﻡ‬ ); Artinya : “Yang Berdiri Sendiri”.


Menurut Al-Imâm Al-Qurthubî ( ‫ﻮُﻡ‬ ْ ‫ ) ﺍ ﻟَﻘُّﻴ‬berasal dari kata (‫)َﻗﺎَﻡ‬
yang artinya :”Berdiri”, adapun maksudnya disini adalah :
َ ‫ﺧَﻠ‬
‫ﻖ‬ َ ‫َﺃْﻟَﻘﺎِﺋ ُﻢ ِﺑ َﺘْﺪِﺑ ْﻴِﺮ َﻣﺎ‬
Artinya :
“Yang tegak, berdiri sendiri untuk mengatur semua yang Dia
ciptakan”.
(lihat tafsir Al-Qurthubî juz II, hal. 231).

Al-Ustadz Zaid bin ‘Abdul-‘Azîz bin Fayyâdh


menjelaskan sifat Allâh tersebut, beliau berkata :
َ ‫ َﻭُﻫَﻮ ﺍْﻟُﻤِﻘ ْﻴُﻢ ِﻟَﻐْﻴِﺮِﻩ َﻓ‬، . . . ‫ﺟْﻮِﻩ‬
‫ﻼ‬ ُ ‫ﻦ ﺍْﻟُﻮ‬
َ ‫ﺟِﻪ ِﻣ‬
ْ ‫ﻦ ُﻳِﻘْﻴُﻤُﻪ ِﺑَﻮ‬
ْ ‫ﺞ ِﺇَﻟﻰ َﻣ‬
ُ ‫ﺤَﺘ‬
ْ ‫ﻼ َﻳ‬
َ ‫ﺴِﻪ َﻓ‬
ِ ‫َﻓِﺈَّﻧُﻪ ﺍْﻟَﻘ ﺎِﺋُﻢ ِﺑَﻨْﻔ‬
3
‫ﻻ ِﺑَِﺈَﻗَﻤ ِﺘِﻪ‬
ّ ‫ِﻗَﻴﺎَﻡ ِﻟَﻐ ْﻴِﺮِﻩ ِﺇ‬
Artinya :
“Maka Dia (Allâh) tegak dengan diri-Nya; Dia tidak
membutuhkan siapapun untuk menopang-Nya, dengan bentuk
apapun juga…, bahkan Dia-lah yang menopang kepada selain
-Nya (makhluq), maka selain Dia tidak ada yang mampu
menopang dirinya sendiri kecuali dengan dengan bantuan-
Nya”.
(Lihat Syarhul-‘Aqidatul-Wâsithiyyah oleh Zaid bin ‘Abdul-‘Aziz bin
Fayyâdh, hal 62).

Berbeda halnya dengan makhluq yang tidak mungkin


mampu menopang dirinya sendiri, karena mereka semua
membutuhkan saling ketergantungan antara satu dengan
lainnya, bahkan mereka tidak bisa melakukan apa-apa jika
tidak ditopang oleh Allâh SWT.

Maka Al -Hayyu ( ُّ ‫ﺤ‬


‫ﻲ‬َ ‫َﺍْﻟ‬ ); merupakan pokok dari
semua sifat Dzat (Shifâtudz-Dzât), sedang Al-Qoyyûm ( ‫ﻮُﻡ‬
ْ ‫ﺍﻟَﻘُّﻴ‬
); adalah pokok dari semua sifat perbuatan (Shifâtul-Af‘al).
Dan 2 (dua) nama Allâh ini sering Rasûlullâh gunakan ketika
Beliau berdo’a kepada Allâh sebagaimana disebutkan oleh Al-
Imâm Ibnul-Qayyim, beliau berkata :
‫ﻲ َﻳ ﺎَﻗ ُّﻴْﻮُﻡ‬
ُّ ‫ﺣ‬
َ ‫ َﻳﺎ‬: ‫ﻝ‬
َ ‫ﻋﺎِء َﻗ ﺎ‬
َ ‫ﻲ ﺍﻟُّﺪ‬
ْ ‫ﺟ َﺘَﻬَﺪ ِﻓ‬
ْ ‫ﻲ )ﺹ( ِﺇَﺫﺍ ﺍ‬
ْ ‫ﻥ ﺍﻟ َّﻨِﺒ‬
َ ‫َﻛﺎ‬
Artinya :
“Adalah Nabi saw. ketika sangat bersungguh-sungguh didalam
berdo'a, Beliau berkata –Yâ Hayyu Yâ Qoyyûm-Wahai yang
Maha Hidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri”.
(Lihat Syarhul-‘Aqidatul-Wâsithiyyah oleh Zaid bin ‘Abdul-‘Aziz bin
Fayyâdh, hal 63).

4
 Masalah Ket iga :

‫ﻻ َﻧْﻮٌﻡ‬
َ ‫ﺳَﻨٌﺔ َﻭ‬
ِ ‫ﺧُﺬُﻩ‬
ُ ‫ﻻ َﺗْﺄ‬
َ
‫َﻧْﻮٌﻡ‬
َ ‫ﻻ‬ ‫َﻭ‬ ‫ﺳَﻨٌﺔ‬
ِ ‫ﺧُﺬُﻩ‬
ُ ‫َﺗْﺄ‬ َ ‫ﻻ‬
Tidur Tidak Dan Rasa Mengenai Tidak
juga Kantuk pada-Nya

Rasûlullâh saw. telah menegaskan mengenai hal ini


dalam sabdanya :
‫ﻥ َﻳ َﻨﺎَﻡ‬
ْ ‫ﻻ َﻳ ْﻨَﺒِﻎ َﺃ‬
َ ‫ﻻ َﻳَﻨ ﺎُﻡ َﻭ‬
َ ‫ﻥ ﺍﻟَّﻠَﻪ‬
َّ ‫ِﺇ‬
Artinya :
“Sesungguhnya Allâh itu tidak tidur, dan tidak pantas jika Dia
tidur”.
(H.R. Al-Bukhârî, lihat tafsir Ibnu Katsîr juz I, hal. 308).

Al-Ustadz Zaid bin ‘Abdul-‘Aziz bin Fayyâdh, menegaskan :

‫ﻲ ﺍْﻟَﻘُّﻴْﻮِﻣَﻴَﺔ َﻭ‬
ْ ‫ﻥ ﺍﻟَّﻨْﻮَﻡ ُﻳَﻨﺎِﻓ‬
َّ ‫ َﻓِﺈ‬، ‫ﺣ َﻴﺎِﺗِﻪ َﻭ َﻗ ُّﻴْﻮِﻣَﻴ ِﺘِﻪ‬
َ ‫ﻝ‬
ِ ‫ﺴَﺘْﻠِﺰ ُﻡ ِﻟَﻜ َﻤﺎ‬
ْ ‫ﺴ َﻨِﺔ َﻭ ﺍﻟَّﻨْﻮِﻡ ُﻣ‬
َّ ‫ﺧُﺬ ﺍﻟ‬
ْ ‫ﻲ َﺃ‬َ ‫َﻭ ُﻧِﻔ‬
ِ ‫ﺧْﻮ ﺍْﻟ َﻤْﻮ‬
‫ﺕ‬ ُ ‫ﺍﻟ َّﻨْﻮُﻡ َﺃ‬
Artinya :
“Tidak adanya rasa kantuk dan tidur --bagi Allâh--menetapkan
(memastikan) akan kesempurnaan hidup-Nya dan kemandirian
-Nya. Karena tidur itu menghilangkan sifat kemandirian, dan
tidur saudaranya mati”.
(Lihat Syarhul-‘Aqidatul-Wâsithiyyah oleh Zaid bin ‘Abdul-‘Aziz bin
Fayyâdh, hal 63).

Maksudnya; tidur membuat seseorang menjadi non-aktif,


kehilangan daya pikir dan kekuatan serta tidak mampu
melindungi diri sendiri dari serangan yang datang. Sedang
5
pernyataan “tidur adalah saudaranya mati” merupakan
pernyataan yang sesuai dengan sabda Rasûlullâh saw. :
‫ﺠَّﻨِﺔ‬
َ ‫ﻞ ﺍْﻟ‬
ُ ‫ﻻ َﻳَﻨﺎُﻡ َﺃ ْﻫ‬
َ ‫ﺕ َﻭ‬
ِ ‫ﺧْﻮ ﺍْﻟ َﻤْﻮ‬
ُ ‫ﺍﻟ َّﻨْﻮُﻡ َﺃ‬
Artinya :
“Tidur itu saudaranya mati, dan –karena itu—penghuni Sorga
tidak akan tidur”
(Hadits Shahîh; lihat Silsilatul Ahâditsush-Shahîhah oleh Syaikh Al-
Albânî jilid III hal. 70, no. : 1087).

 Masalah Keempat :

ِ َ‫ﻲ ْﺍﻷْﺭ‬
‫ﺽ‬ ْ ‫ﺕ َﻭَﻣﺎ ِﻓ‬
ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬
َّ ‫ﻲ ﺍﻟ‬
ْ ‫َﻟُﻪ َﻣﺎ ِﻓ‬

َ‫ْﺍﻷْﺭ‬ ْ ‫ِﻓ‬
‫ﻲ‬ ‫َﻣﺎ‬ ‫َﻭ‬ ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬
‫ﺕ‬ َّ ‫ﺍﻟ‬ ْ ‫ِﻓ‬
‫ﻲ‬ ‫َﻣﺎ‬ ‫َﻟُﻪ‬
ِ ‫ﺽ‬
Bumi Di Apa dan Langit Di Apa Bagi-Nya
dalam saja dalam saja -lah

Al-Imâm Ibnu Katsîr memberikan penjelasan yang


baik sekali tentang hal ini, beliau berkata :
‫ﻄﺎ ِﻧِﻪ‬
َ ‫ﺳْﻠ‬
ُ ‫ﺖ َﻗْﻬِﺮِﻩ َﻭ‬
َ ‫ﺤ‬
ْ ‫ﻲ ُﻣْﻠِﻜِﻪ َﻭ َﺗ‬
ْ ‫ﻋِﺒْﻴُﺪُﻩ َﻭ ِﻓ‬
َ ‫ﺠِﻤ ْﻴَﻊ‬
َ ‫ﻥ ﺍْﻟ‬
َّ ‫ﺧَﺒ ﺎٌﺭ ِﺑَﺄ‬
ْ ‫ِﺇ‬
Artinya :
“Ini merupakan khabar (berita) bahwa semua –yang ada di
langit dan di bumi—adalah hamba-Nya dan berada di dalam
kerajaan-Nya, di bawah paksaan-Nya dan kekuasann-Nya”.

Selanjutnya Al-Imâm Ibnu Katsîr berkata : ini seperti firman


Allâh –dalam surah Maryam (19) ayat 93, 94 dan 95— sbb :
6
‫ﻋَّﺪ‬
َ ‫ﺼﺎ ُﻫْﻢ َﻭ‬ ْ ‫( َﻟَﻘْﺪ َﺃ‬93 ) ‫ﻋْﺒًﺪ‬
َ ‫ﺣ‬ َ ِ‫ﺣَﻤﻦ‬
ْ ‫ﻻ ﺍَء ِﺗﻲ ﺍﻟَّﺮ‬
َّ ‫ﺽ ِﺇ‬
ِ َ‫ﺕ َﻭْﺍﻷْﺭ‬ ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬ َّ ‫ﻲ ﺍﻟ‬
ْ ‫ﻦ ِﻓ‬
ْ ‫ﻞ َﻣ‬
ُّ ‫ﻥ ُﻛ‬
ْ ‫ِﺇ‬
( 95 )‫ ( َﻭ ُﻛُّﻠُﻬْﻢ َءﺍِﺗ ْﻴِﻪ َﻳْﻮَﻡ ﺍْﻟِﻘَﻴﺎَﻣِﺔ َﻓْﺮًﺩﺍ‬94 ) ‫ﻋًّﺪﺍ‬ َ ‫ُﻫْﻢ‬
Artinya :
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan
dating pada-Nya –Allâh—Yang Maha Pengasih sebagai
hamba (93). Sesungguhnya Allâh telah menentukan jumlah
mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti
(94). Dan tiap-tiap mereka akan dating kepada-Nya pada hari
qiyâmat dengan sendiri-sendiri”.
(Lihat tafsir Ibnu Katsîr, juz I, hal. 309).
 Masalah Kel ima :

‫ﻻ ِﺑَِﺈْﺫ ِﻧِﻪ‬
ّ ‫ﻋ ْﻨَﺪُﻩ ِﺇ‬
ِ ‫ﺸَﻔُﻊ‬
ْ ‫ﻱ َﻳ‬
ْ ‫ﻦ َﺫﺍﺍَّﻟِﺬ‬
ْ ‫َﻣ‬

‫ِﺑِﺈْﺫ ِﻧِﻪ‬ َّ ‫ِﺇ‬


‫ﻻ‬ ‫ﻋْﻨَﺪُﻩ‬
ِ ‫ﺸَﻔُﻊ‬
ْ ‫َﻳ‬ ْ ‫ﻦ َﺫﺍﺍَّﻟِﺬ‬
‫ﻱ‬ ْ ‫َﻣ‬
Dengan kecuali Di sisi- (yang bisa) Siapakah ini,
idzin-Nya Nya Memberi (Tidak ada
syafa’ât seorangpun)

Penyebutan kata Syafa’ât ( ‫ﻋٌﺔ‬


َ ‫ﺷَﻔﺎ‬
َ ) didalam ayat ini
memiliki 2 (dua) arti;
Per t ama : “Do’a” atau “Permohonan”.

Kedua : ‫ﺴ َﺄُﻟَﻬﺎ ِﻟَﻐْﻴِﺮِﻩ‬


ْ ‫ﺟٍﺔ َﻳ‬
َ ‫ﺣﺎ‬
َ ‫ﻲ‬
ْ ‫ﻚ ِﻓ‬
ِ ‫ﺸِﻔْﻴِﻊ ِﻟْﻠَﻤِﻠ‬
َّ ‫َﻛﻼُﻡَ ﺍﻟ‬
Artinya : “Perkataan seseorang yang berniat membantu orang
lain, kepada Raja (Penguasa) berkaitan dengan suatu
kebutuhan yang ia minta untuk orang lain tersebut”.
(Lihat Nadhratun-Na'îm, jilid VI, hal. 2365).

7
Adapun “Syafâ'at” di dalam ayat ini mengandung
makna yang kedua, yaitu :” Permohonan seseorang yang --
berniat-- membantu orang lain, kepada Allâh berkenaan dengan
suatu kebutuhan yang ia minta untuk orang lain tersebut”,
karena “Syafâ'at” disini berkaitan dengan peristiwa yang terjadi
di hari qiyâmat, yaitu pada waktu semua manusia berkumpul
menghadiri pengadilan di Padang Mahsyar, sebagaimana
disebutkan dalam surah An-Nabâ (78) ayat 38 :
‫ﺻَﻮﺍًﺑﺎ‬
َ ‫ﻝ‬
َ ‫ﻦ َﻭَﻗﺎ‬
ُ ‫ﺣَﻤ‬
ْ ‫ﻥ َﻟُﻪ ﺍﻟَّﺮ‬
َ ‫ﻦ َﺃِﺫ‬
ْ َ‫ﻻ ﻣ‬
ّ ‫ﻥ َﺇ‬
َ ‫ﻻ َﻳَﺘَﻜَﻠُﻤْﻮ‬
َ ‫ﺻًّﻔﺎ‬
َ ‫ﺡ َﻭ ﺍْﻟَﻤﻼِﺋَ َﻜُﺔ‬
ُ ‫َﻳْﻮَﻡ َﻳُﻘْﻮُﻡ ﺍﻟُّﺮْﻭ‬
Artinya :
“Pada hari, ketika Ruh (“Malaikat Jibril”) dan para Malaikat
berdiri ber shaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa
yang telah diberi idzin kepadanya oleh Rabb Yang Maha
Pemurah; dan ia mengicapkan perkataan yang benar”.

Ayat ini menjelaskan bahwa pada saat di Padang


Mahsyar nanti tidak seorangpun yang berbicara kepada Allâh
kecuali orang yang mendapat idzin dari-Nya. Demikian pula
menurut Al-Imâm Ibnul-Atsîr, bahwa arti Syafâ'at disini ialah :
‫ﺠَﺮﺍِﺋِﻢ َﺑ ْﻴَﻨُﻬْﻢ‬
َ ‫ﺏ َﻭ ﺍﻟ‬
ِ ‫ﻦ ﺍﻟُّﺬ ُﻧْﻮ‬
ِ ‫ﻋ‬
َ ‫ﺠﺎُﻭِﺯ‬
َ ‫ﻲ َﺗ‬
ْ ‫ﻝ ِﻓ‬
ُ ‫ﺴَﺆﺍ‬
ُّ ‫ﺍﻟ‬
Artinya :
“Permohonan untuk memperoleh pengampunan dosa dan juga
dari kesalahan-kesalahan yang terjadi di antara mereka
(manusia)”.
(Lihat An-Nihâyah juz II, hal. 485).

Masalah Kelima ini menyatakan dengan tegas bahwa


pada hari Qiyamat tidak ada seorangpun yang dapat
memberikan atau meminta bantuan pertolongan kepada orang
lain, atau memintakan pengampunan kepada Allâh untuk orang
lain, kecuali dengan idzin dari-Nya.

8
Dan di dalam hadits-hadits yang shahîh disebutkan
bahwa orang yang pertama kali mendapat idzin untuk memberi
syafâ'at adalah Rasûlullâh saw. sebagaimana disebutkan dalam
sebuah hadits, bahwa Beliau saw. pada hari Qiyamat datang
menghadap kepada Rabb-nya, lalu Beliau sujud dan terus-
menerus memuji-Nya. Beliau saw. tidak langsung memberikan
syafâ’at. Kemudian Allâh berfirman kepadanya :
‫ﺸَﻔْﻊ‬
ْ ‫ﺷَﻔْﻊ ُﺗ‬
ْ ‫ َﻭ ﺍ‬،‫ﻂ‬
َ ‫ﻞ ُﺗْﻌ‬
ْ ‫ﺳ‬
َ ‫ﺴ َﻤْﻊ َﻭ‬
ْ ‫ﻞ ُﻳ‬
ْ ‫ﻚ َﻭ ُﻗ‬
َ ‫ﺳ‬
َ ‫ﺍْﺭَﻓْﻊ َﺭْﺃ‬
Artinya :
“Angkat-ah kepala-mu, dan bicaralah akan didengar, mintalah
akan diberi, dan berilah Syafâ'at, karena engkau diberi
Syafâ'at”.
(Lihat Syarah Kitâbut-Tauhîd, hal 214).

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abû Hurairah


(r.a.), bahwa ia pernah bertanya pada Rasûlullâh saw. :
“Siapakah manusia yang paling berbahagia karena mendapat
Syafâ'at-mu ?”, maka Rasûlullâh saw. menjawab :
‫ﻦ َﻗْﻠِﺒِﻪ‬
ْ ‫ﺼﺎ ِﻣ‬
ً ‫ﺧ ﺎِﻟ‬
َ ‫ﻻ ﺍَﻟَّﻠُﻪ‬
ّ ‫ﻻ ِﺍَﻟَﻪ ِﺍ‬
َ ‫ﻝ‬
َ ‫ﻦ َﻗ ﺎ‬
ْ ‫َﻣ‬
Artinya :
“Siapa-saja yang mengucapkan Lâ Ilâha Illal-Lâh dengan
ikhlash dari hatinya”.
(H.R. Al-Bukhârî dan An-Nasâ-i, Lihat Syarah Kitâbut-Tauhîd hal
214).

Ikhlas artinya murni dan bersih; maksudnya bersih


dari Syirik. Syaikhul-Islâm Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb
berkata : “Jadi, Syafâ'at Rasûlullâh saw. hanya bisa diberikan
kepada Ahlut-Tauhîd, orang-orang yang tidak syirik, yaitu
dengan idzin Allâh, dan tidak bisa didapat oleh orang-orang
yang syirik (menyekutukan) kepada Allâh”.
(Lihat Syarah Kitâbut-Tauhîd hal 214).
9
Al-Imâm Ibnul-Qayyim (rahimahullâh) menjelaskan
bahwa Syafâ'at Rasûlullâh saw. pada hari Qiyamat nanti ada 6
(enam) macam, yang masing-masing diberikan pada kelompok
yang berbeda :
5.1. Syafâ'atul-Kubrâ (Syafâ'at Terbesar) : yang para nabi besar
(Ulul-‘Azmi) --yaitu Âdam, Nûh, Ibrâhîm, Mûsâ, dan ‘Îsa–
mengundurkan diri dari hal ini. Maka perkara inipun sampai
kepada Rasûlullâh saw., dan Beliaupun berkata : “Aku
akan mengupayakannya”. Peristiwa ini terjadi di Padang
Mahsyar, yaitu ketika semua makhluk meminta kepada
masing-masing ‘Ulul-‘Azmi untuk memintakan Syafâ'at
pada Allâh SWT., agar Allâh mengistirahatkan mereka dari
beratnya kondisi yang mereka rasakan di Padang Mahsyar.
Dan Syafâ'atul-Kubrâ ini dikhususkan hanya kepada
Rasûlullâh saw. saja, tidak ada yang mendampingi Beliau
dalam hal ini.

5.2. Syafâ'at Rasûlullâh saw. kepada calon penghuni Sorga,


untuk memudahkan dan mempercepat mereka masuk
kedalam Sorga. Hal ini disebutkan dalam hadits yang
panjang dari Abû Hurairah, yang diriwayatkan oleh Al-
Bukhârî dan Muslim.

5.3. Syafâ'at Rasûlullâh saw. kepada golongan pelaku ma'shiat


dari ummatnya, yang seharusnya mereka dimasukkan
kedalam Neraka karena dosa-dosanya, namun Beliau saw.
pun memberikan Syafâ'at kepadanya sehingga mereka
selamat dari Neraka.

5.4. Syafâ'at Beliau saw. kepada Ahlut-Tauhîd; yaitu orang-


orang yang tidak menyekutukan Allâh SWT., yang berada
di dalam Neraka karena dosa-dosanya. Hadits-hadits

10
mengenai hal ini adalah muttawatir dari Nabi saw. Dan
para Shahabatpun telah sepakat (ijma') tentang hal ini,
demikian pula para Ahlus-Sunnah dari masa ke masa. Maka
barang siapapun mengingkarinya, ia termasuk Ahli Bid'ah
dan sesat.

5.5. Syafâ'at beliau saw. kepada segolongan Ahli Sorga, untuk


menambah ganjaran (pahala) mereka dan meninggikan
derajat mereka di Sorga. Tidak ada seorangpun yang
menentang hal ini. Dan semua Syafâ'at Beliau saw. hanya
dikhususkan kepada Ahlut-Tauhîd; yaitu mereka yang tidak
menjadikan selain Allâh sebagai Pelindung dan Penolong,
sebagaimana firman-Nya :
‫ﺷِﻔْﻴ ٌﻊ‬
َ ‫ﻻ‬
َ ‫ﻲ َﻭ‬
ٌّ ‫ﻦ ُﺩْﻭِﻧِﻪ َﻭِﻟ‬
ْ ‫ﺲ َﻟُﻬْﻢ ِﻣ‬
َ ‫ﺸُﺮْﻭﺍ ِﺇَﻟﻰ َﺭ َّﺑِﻬْﻢ َﻟْﻴ‬
َ ‫ﺤ‬
ْ ‫ﻥ ُﻳ‬
ْ ‫ﻥ َﺃ‬
َ ‫ﺨﺎُﻓْﻮ‬
َ ‫ﻦ َﻳ‬
َ ‫َﻭﺃ ْﻧِﺬْﺭ ِﺑِﻪ ﺍَّﻟِﺬْﻳ‬
Artinya :
“Dan berilah peringatan engkau (ya Muhammad) kepada
orang-orang yang merasa takut jika mereka dikumpulkan
kepada Rabb mereka, yang tidak ada bagi mereka
Pelindung dan Penolong selain Dia”.
(Q.S. Al-An’âm (6) : 51).

5.6. Syafâ’at Beliau saw. kepada sebagian keluarganya yang


kâfir, yang termasuk golongan Ahli Neraka, sehingga
sisksanya diringankan. Dan Syafâ’at Beliau ini, khusus
diberikan kepada Abû Thâlib paman Beliau saja.
(Lihat Syarah Kitâbut-Tauhîd hal 215-216).

 Masalah Keenam :
‫ﺧْﻠَﻔُﻬْﻢ‬
َ ‫ﻦ َﺃ ْﻳِﺪْﻳِﻬْﻢ َﻭ َﻣﺎ‬
َ ‫َﻳْﻌَﻠُﻢ َﻣﺎ َﺑ ْﻴ‬
11
‫ﺧْﻠَﻔُﻬ ْﻢ‬
َ ‫َﻣﺎ‬ ‫َﻭ‬ ‫َﺃْﻳِﺪْﻳِﻬ ْﻢ‬ َ ‫َﺑْﻴ‬
‫ﻦ‬ ‫َﻣﺎ‬ ‫َﻳْﻌَﻠُﻢ‬
Di Apa dan Depan Di Apa Dia
belakang saja mereka antara saja Mengetahui
mereka

Ayat ini menegaskan tentang kesempurnaan ‘Ilmu


Allâh, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imâm Ibnu Katsîr :
‫ﺴَﺘْﻘَﺒِﻠَﻬﺎ‬
ْ ‫ﺿِﺮَﻫ ﺎ َﻭ ُﻣ‬
ِ ‫ﺣﺎ‬
َ ‫ﺿ ْﻴَﻬﺎ َﻭ‬
ِ ‫ﺕ َﻣﺎ‬
ِ ‫ﺠِﻤ ْﻴٍﻊ ﺃْﻟ َﻜﺎِﺋ َﻨﺎ‬
َ ‫ﻋْﻠِﻤِﻪ ِﺑ‬
ِ ‫ﻃِﺔ‬
َ ‫ﺣﺎ‬
َ ‫ﻋَﻠﻰ ِﺇ‬
َ ‫ﻞ‬
ٌ ‫َﺩِﻟ ْﻴ‬
Artinya :
“Ini dalil (ketentuan tertulis) tentang –keluasan-- ‘Ilmu-Nya,
yang mencakup semua yang ada, yang telah lalu, yang sedang
berjalan dan yang akan datang”.
(Lihat Tafsir Ibnu katsîr juz I, hal. 309).

Inilah yang disebut “Taqdir” yaitu “Ketetapan Yang


Tertulis berdasarkan Ilmu Allâh”, sebagaimana tertulis
dalam surah Al-An’am (6) ayat 59 :
ْ‫ﻂ ِﻣﻦ‬
ُ ‫ﺴُﻘ‬ْ ‫ َﻭَﻣﺎ َﺗ‬،‫ﺤِﺮ‬ْ ‫ َﻭ َﻳ ْﻌَﻠُﻢ َﻣﺎ ِﻓﻲ ْﺍﻟَﺒَّﺮ َﻭ ْﺍﻟَﺒ‬،‫ﻻ ُﻫََﻮ‬
ّ ‫ﻻ َﻳْﻌَﻠُﻤَﻬﺎ ِﺇ‬َ ‫ﺐ‬ِ ‫ﺢ ْﺍﻟ َﻐْﻴ‬
ُ ‫ﻋْﻨَﺪُﻩ َﻣَﻔﺎِﺗ‬
ِ ‫َﻭ‬
ٍ ‫ﻻ ِﻓَﻲ ِﻛَﺘﺎ‬
‫ﺏ‬ ّ ‫ﺲ ِﺇ‬
ٍ ‫ﻻ َﻳﺎ ِﺑ‬
َ ‫ﺐ َﻭ‬ٍ ‫ﻃ‬ ْ ‫ﻻ َﺭ‬ َ ‫ﺽ َﻭ‬
ِ َ‫ﺕ ْﺍﻷْﺭ‬ ِ ‫ﻇُﻠَﻤﺎ‬
ُ ‫ﺣ َّﺒٍﺔ ِﻓﻰ‬ َ ‫ﻻ‬َ ‫ﻻ ﻳَْﻌَﻠُﻤَﻬ ﺎ َﻭ‬ّ ‫َﻭَﺭَﻗٍﺔ ِﺇ‬
ٍ ‫ُّﻣِﺒ ْﻴ‬
‫ﻦ‬
Artinya :
“Dan disisi-Nya-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui
apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai
daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula),
dan tidak jatuh sebutir benih pun dalam kegelapan bumi dan
tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis
dalam kitab yang nyata (Lauhul-Mahfûdz).

Ayat diatas menyatakan bahwa segala sesuatu yang


terjadi di langit dan di bumi, yang ghaib, baik di daratan
12
maupun di lautan dari daun yang gugur sampai dengan sebutir
biji (benih) yang jatuh ke dalam bumi, serta sesuatu yang basah
dan kering, melainkan semua itu diketahui oleh Allâh dan
tercatat di Lauhul-Mahfûdz berdasarkan ‘ilmu-Nya. Jadi,
“Taqdir” artinya bukanlah sesuatu keputusan final yang
memaksa manusia.

 Masalah Ket u j uh :

‫ﺷﺎ َء‬
َ ‫ﻻ ِﺑََﻤﺎ‬
ّ ‫ﻋْﻠ ِﻤِﻪ ِﺇ‬
ِ ‫ﻦ‬
ْ ‫ﻲٍء ِﻣ‬
ْ ‫ﺸ‬
َ ‫ﻥ ِﺑ‬
َ ‫ﻄْﻮ‬
ُ ‫ﺤْﻴ‬
ِ ‫ﻻ ُﻳ‬
َ ‫َﻭ‬

‫ﺷﺎَء‬
َ ‫ِﺑَﻤﺎ‬ َّ ‫ِﺇ‬
‫ﻻ‬ ‫ﻋْﻠِﻤِﻪ‬
ِ ْ ‫ِﻣ‬
‫ﻦ‬ ‫ﻲٍء‬
ْ ‫ﺸ‬
َ ‫ِﺑ‬ َ ‫ﻄْﻮ‬
‫ﻥ‬ ُ ‫ﺤْﻴ‬
ِ ‫ُﻳ‬ َ ‫َﻭ‬
‫ﻻ‬
Dengan apa Ke- ‘Ilmu dari Sedikit- Mengu- Dan
yang Dia cuali -Nya pun asai tidak
Kehendaki (mereka)

Ayat ini menyatakan keterbatasan ilmu (pengetahuan)


manusia atau apa yang bisa dijangkau oleh manusia dari ilmu
Allâh. Makna ayat ini menurut Imâm Al-Qurthubî ialah :
‫ﻥ ُﻳَﻌَّﻠَﻤُﻪ‬
ْ ‫ﺷﺎ َء ﺍﻟَّﻠُﻪ َﺃ‬
َ ‫ﻻ ﻣَﺎ‬
ّ ‫ﺣٍﺪ ِﺇ‬
َ َ‫ﻻ ﻣَْﻌُﻠْﻮَﻡ ِﻷﺍ‬
Artinya :
“Tidak ada yang bisa diketahui oleh seseorangpun kecuali apa
yang Allâh kehendaki untuk memberitahukan kepadanya”.
(Lihat Tafsir Al-Qurthubî juz II hal. 235)

 Masalah Kedelap an :

ِ َ‫ﺕ َﻭ ْﺍﻷْﺭ‬
‫ﺽ‬ ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬
َّ ‫ﺳُّﻴُﻪ ﺍﻟ‬
ِ ‫ﺳَﻊ ُﻛْﺮ‬
ِ ‫َﻭ‬

ِ َ‫ْﺍﻷْﺭ‬
‫ﺽ‬ ‫َﻭ‬ ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬
‫ﺕ‬ َّ ‫ﺍﻟ‬ ‫ﺳُّﻴُﻪ‬
ِ ‫ُﻛْﺮ‬ ‫ﺳَﻊ‬
ِ ‫َﻭ‬
Bumi dan (meliputi) Kursiy-Nya - Sangat
Langit luas
13
Para mufassir berbeda pendapat mengenai makna
“Kursiy ( ‫ﻲ‬ُّ ‫ﺳ‬
ِ ‫ ;”) ُﻛْﺮ‬dan ada 3 (tiga) pendapat yang paling
popular, yaitu :

1. Ilmu . Ini merupakan pendapat Ibnu ‘Abbâs; beliau berkata:


‫ﻋْﻠُﻤُﻪ‬
ِ ‫ﺳُّﻴُﻪ‬
ِ ‫ُﻛْﺮ‬
Artinya :
“Kursiy-Nya (Allâh) artinya Ilmu-Nya”
(Lihat Tafsir Al-Qurthubî juz II hal. 236).

Al-Imâm Ath-Thabarî juga mempertegas (memilih) dengan


makna ini.
(Lihat Tafsir Al-Qurthubî juz II hal. 236).

2. Kekuasaan . Al-Imâm Al-Qurthubî dalam tafsirnya juga


menuqilkan pendapat ini, beliau berkata :
‫ﺳُّﻴُﻪ ُﻗْﺪَﺭ ُﺗُﻪ‬
ِ ‫ ُﻛْﺮ‬: ‫ﻞ‬
َ ‫َﻭِﻗ ْﻴ‬
Artinya :
“Ada pendapat yang mengatakan bahwa Kursiy-Nya (Allâh)
artinya Kekuasaan-Nya”.
(Lihat Tafsir Al-Qurthubî juz II hal. 236).

Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) memperkuat


pendapat ini, beliau berkata :
‫ﺽ َﻓَﻘْﺪ‬
ِ َ‫ﺕ َﻭْﺍﻷْﺭ‬
ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬
َّ ‫ﺳ ُّﻴُﻪ ﺍﻟ‬
ِ ‫ﺳ َﻊ ُﻛْﺮ‬ ِ ‫ َﻓِﺈَﺫﺍ َﻭ‬.‫ﻚ‬ ِ ‫ﻲ َﻣْﻌَﻨﻰ ْﺍﻟُﻤْﻠ‬ ْ ‫ﻋ ﺎَﺩَﺓ ِﻓ‬
َ ‫ﺨَﺪُﻡ‬
ْ ‫ﺴَﺘ‬ْ ‫ﻲ ُﻳ‬ُّ ‫ﺳ‬
ِ ‫َﻓﺎْﻟ ُﻜْﺮ‬
‫ﺣ َﻴِﺔ ﺍﻟَّﺬْﻫ ِﻨَّﻴِﺔ‬
ِ ‫ﻦ ﺍﻟ َّﻨﺎ‬َ ‫ﺤِﻘ ْﻴَﻘُﺔ ِﻣ‬
َ ‫ﻲ ْﺍﻟ‬َ ‫ َﻭَﻫِﺬِﻩ ِﻫ‬.‫ﻄُﻨُﻪ‬
َ ‫ﺳْﻠ‬ُ ‫ﺳَﻌُﻬَﻤ ﺎ‬ِ ‫َﻭ‬
Artinya :

14
“Adapun kata Kursiy biasa digunakan untuk makna
Kekuasaan. Maka --arti kalimat-- “Sangat luas Kursiy-Nya -
-meliputi-- langit dan bumi” ialah : “Sungguh luas kekuasan
-Nya pada keduanya (langit dan bumi). Dan merupakan --
pengertian-- yang hakiki dilihat dari sisi akal”.
(Lihat tafsir Fî Zhilâlil-Qur-ân jilid I, hal. 423).

3. Makh luk yan g t erdap at d i depan ‘


Arsy ;
Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imâm Al-Qurthubî dalam
tafsirnya :
‫ﻈُﻢ‬
َ ‫ﻋ‬
ْ ‫ﺵ َﺃ‬
ُ ‫ﺵ َﻭ ْﺍﻟَﻌْﺮ‬
ِ ‫ﻱ ﺍْﻟَﻌْﺮ‬
َّ ‫ﻦ َﻳَﺪ‬
َ ‫ﻕ َﺑْﻴ‬
ٌ ‫ﺨُﻠْﻮ‬
ْ ‫ﻲ َﻣ‬
َّ ‫ﺳ‬
ِ ‫ﻥ ْﺍﻟُﻜْﺮ‬
َّ ‫ﺚ َﺃ‬
ُ ‫ﻀْﻴِﻪ ْﺍﻷﺣَﺎِﺩْﻳ‬
ِ ‫َﻭﺍَّﻟِﺬﻱ َﺗْﻘ َﺘ‬
‫ِﻣْﻨُﻪ‬
Artinya :
“Adapun yang disebutkan oleh beberapa hadits bahwa
Kursiy itu adalah makhluq yang terletak di depan ‘Arsy, dan
‘Arsy itu lebih besar darinya”.

Selanjutnya Al-Imâm Al-Qurthubî menuqilkan hadits;


sabda Rasûlullâh saw. kepada Abû Dzar :
ُ ‫ﻀ‬
‫ﻞ‬ْ ‫ﺽ َﻓﻼٍﺓَ َﻭَﻓ‬
ِ ‫ﻲ َﺃْﺭ‬
ْ ‫ﺤْﻠَﻘِﺔ ُﻣْﻠَﻘُﺔ ِﻓ‬
َ َ‫ﻻ ﻛ‬ ّ ‫ﻲ ِﺇ‬
َّ ‫ﺳ‬
ِ ‫ﺴْﺒُﻊ َﻣَﻊ ْﺍﻟ ُﻜْﺮ‬
َّ ‫ﺕ ﺍﻟ‬ ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬َّ ‫َﻳﺎ َﺃ َﺑﺎ َﺫَّﺭ َﻣﺎﺍﻟ‬
‫ﺤْﻠَﻘِﺔ‬
َ ‫ﻋَﻠﻰ ﺍْﻟ‬ َ َ‫ﻞ ﺍْﻟَﻔﻼِﺓ‬ ِ ‫ﻀ‬
ْ ‫ﻲ َﻛَﻔ‬ َّ ‫ﺳ‬ِ ‫ﻋَﻠﻰ ﺍْﻟُﻜْﺮ‬ َ ‫ﺵ‬ ِ ‫ﺍْﻟَﻌْﺮ‬
Artinya :
“Wahai Abû Dzar, tidak ada tujuh langit jika dibanding
Kursiy kecuali seperti cincin yang diletakkan di Bumi yang
luas. Dan keutamaan (luasnya) ‘Arsy dibanding Kursiy,
seperti keutamaan (luas) padang pasir dibanding cincin”.
(H.R. Al-Ajurî dan Abû Hâtim dalam shahîh Musnadnya. Dan Al-
Baihaqî menyatakan bahwa hadits ini shahîh).

Demikian pula dengan Mujâhid, beliau berkata :


َ‫ﺽ َﻓﻼٍﺓ‬
ِ ‫ﺣْﻠَﻘِﺔ ُﻣْﻠَﻘُﺔ ِﻓﻲ َﺃْﺭ‬
َ ‫ﻻ ِﺑََﻤ ْﻨِﺰَﻟِﺔ‬
ّ ‫ﻲ ِﺇ‬
ِ ‫ﺳ‬
ِ ‫ﺽ ِﻓﻰ ﺍْﻟ ُﻜْﺮ‬
ُ َ‫ﺕ َﻭ ْﺍﻷْﺭ‬
ُ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬
َّ ‫َﻣﺎﺍﻟ‬
15
Artinya :
“Tidak ada langit dan bumi --jika-- dibanding Kursiy,
kecuali seperti kedudukan cincin yang diletakkan di bumi
padang pasir (yang luas)”.

Selanjutnya, Al-Imâm Al-Qurthubî berkata :


‫ﻈُﻢ ُﻗْﺪَﺭِﺓ ﺍﻟَّﻠِﻪ ﻋََّﺰ‬
َ ‫ﻋ‬
َ ‫ﻚ‬
َ ‫ﻦ َﺫِﻟ‬
ْ ‫ﺴ َﺘَﻔ ﺎُﺩ ِﻣ‬
ْ ‫ َﻭ ُﻳ‬،‫ﺕ ﺍﻟَّﻠِﻪ َﺗَﻌﺎَﻟﻰ‬
ِ ‫ﺨُﻠﻮَﻗﺎ‬
ْ ‫ﻈِﻢ َﻣ‬
َ ‫ﻋ‬
َ ‫ﻦ‬
ْ ‫ﻋ‬
َ ‫َﻫِﺬِﻩ ْﺍﻷﻳَُﺔ ُﻣ َﻨَّﺒ َﺌٌﺔ‬
.. ‫ﻞ‬
َّ ‫ﺟ‬
َ ‫َﻭ‬
Artinya :
“Ayat ini menceritakan tentang besarnya ciptaan-ciptaan
(makhluq-makhluq) Allâh Ta’âlâ, dan diperoleh --
kesimpulan-- dari hal ini akan besarnya kekuasaan Allâh
‘Azza wa Jalla...”.
(Lihat Tafsir Al-Qurthubî juz II hal. 237).

Kesimpulan Al-Imâm A-Qurthubî ini menjadi titik temu


makna kata --Kursiy-- dari yang kedua dan ketiga yaitu
ucapan beliau :
“…..dan diperoleh --kes im pulan-- dari hal ini akan
bes arnya kekuas aan A llâh ‘
A zza wa Jalla…”.

 Masalah Kesemb ilan :

‫ﻈُﻬ َﻤﺎ‬
ُ ‫ﺣْﻔ‬
ِ ‫ﻻ َﻳُﺌْﻮُﺩُﻩ‬
َ ‫َﻭ‬

‫ﻈُﻬَﻤﺎ‬
ُ ‫ﺣْﻔ‬
ِ ‫َﻳُﺌْﻮُﺩُﻩ‬ َ ‫ﻻ‬ ‫َﻭ‬
Menjaga keduanya Memberatkan Tidak Dan
(langit & bumi) pada-Nya

16
Al-Imâm Ibnu Katsîr memberikan komentar mengenai
ayat ini yang kami ringkas, beliau berkata :
َ ‫ﻞ َﺫِﻟ‬
‫ﻚ‬ ْ ‫ﻦ َﺑ ْﻴَﻨُﻬَﻤ ﺎ َﺑ‬
ْ ‫ﻦ ِﻓْﻴِﻬَﻤ ﺎ َﻭ َﻣ‬
ْ ‫ﺽ َﻭ َﻣ‬
ِ َ‫ﺕ َﻭ ْﺍﻷْﺭ‬
ِ ‫ﺴَﻤﺎَﻭﺍ‬
َّ ‫ﻆ ﺍﻟ‬
َ ‫ﺣْﻔ‬ِ ‫ﻻ َﻳْﻜَﺘِﺮُﺛُﻪ‬ َ ‫ﻻ ُﻳ ْﺜِﻘُﻠُﻪ َﻭ‬
َ
‫ﺴْﻴٌﺮ َﻟَﺪْﻳِﻪ‬
ِ ‫ﻋَﻠ ْﻴِﻪ َﻭ َﻳ‬
َ ‫ﻞ‬ ٌ ‫ﺳْﻬ‬ َ
Artinya :
“Tidak memberatkan dan menyusahkan pada-Nya, menjaga
langit dan bumi, dan semua makhluq yang ada di dalam
keduanya (langit dan bumi), dan juga yang terdapat di antara
keduanya; bahkan hal itu mudah bagi-Nya dan ringan di sisi-
Nya” (Lihat Tafsir Al-Qurthubî juz II hal. 310).

 Masalah Kesep uluh :


‫ﻈْﻴُﻢ‬
ِ ‫ﻲ ﺍْﻟَﻌ‬
ُّ ‫َﻭ ُﻫَﻮ ﺍْﻟَﻌِﻠ‬

‫ﻈْﻴُﻢ‬
ِ ‫ﺍْﻟَﻌ‬ ُّ ‫ﺍْﻟَﻌِﻠ‬
‫ﻲ‬ ‫ُﻫَﻮ‬ ‫َﻭ‬
Dan Maha Agung Maha Tinggi Dia Dan

Makna kata “Al-‘Alâ” -- ‫ﻲ‬


ُّ ‫( ﺍْﻟَﻌِﻠ‬Yang Maha Tinggi)
menurut Al-Imâm A-Qurthubî ialah :
‫ﺳَ َﻴﺎِء‬
ْ ‫ﺐ ِْﻟﻸ‬
ُ ‫ﺍْﻟَﻘﺎِﻫُﺮ ﺍْﻟَﻐﺎِﻟ‬
Artinya :
“Yang Memaksa, Yang menguasai semua perkara”.

Sedangkan makna kata “Al-‘Adzhîm” -- ‫ﻈْﻴُﻢ‬


ِ ‫ ﺍْﻟَﻌ‬, (Yang Maha
Agung) ialah :
ِ ‫ﺸَﺮ‬
‫ﻑ‬ َّ ‫ﻄِﺮ َﻭﺍﻟ‬
َ ‫ﺨ‬
َ ‫ﻈْﻴُﻢ ﺍْﻟَﻘْﺪِﺭ َﻭ ﺍْﻟ‬
ِ ‫ﻋ‬
َ
Artinya :
17
“Yang Maha Agung derajat, kedudukan dan kemuliaan”
(Lihat Tafsir Al-Qurthubî juz II hal. 238).

Inilah dua sifat Allâh yaitu : “Al-‘Alâ” -- ُّ ‫ﺍْﻟَﻌِﻠ‬


‫ﻲ‬ (Yang

Maha Tinggi) dan “Al-‘Adzhîm” -- ‫ﻈْﻴُﻢ‬ِ ‫ ﺍْﻟَﻌ‬, (Yang Maha


Agung), sebagai penutup dari ayat yang mulia ini, yang
menetapkan sebuah hakikat, dan mengisyaratkan ke dalam jiwa,
bahwa hanya Allâh SWT. satu-satunya pemilik Ketinggian,
yang memiliki kemampuan memaksakan kehendak-Nya dan
menguasai semua perkara; dan pemilik Keagungan dan
Kemuliaan yang tidak mungkin dapat disejajarkan oleh
makhluq.


Dengan per t olongan All âh SWT. selesailah kaj ian
Taf sîr Ayat Kur siy”

18