Anda di halaman 1dari 22

PENINGKATAN KASUS COVID-19 PADA TENAGA KESEHATAN

DISUSUN OLEH:

Henri Azis (2006506716)


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………...1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………..5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Problem Tree (Analysis Core Problem, Determinants And Impacts)…7
2.2 Penjabaran/Penjelasan (Problem Tree)………………………………..8
2.3 Rancangan Solusi Dan Stakeholder Analisis………………………….14
BAB III KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………….17
3.2 Rencana Tindak Lanjut………………………………………………...17
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pandemi COVID-19 merupakan masalah yang tengah berlangsung pada lebih dari
200 negara di dunia. COVID-19 telah diidentifikasi sebagai penyebab wabah penyakit
infeksi pernapasan di Wuhan, China. Per tanggal 25 November 2020, tercatat 59.204.902
kasus COVID-19-19 termasuk 1.397.139 kematian dilaporkan di seluruh dunia.
Indonesia, dengan kasus yang cukup tinggi, terhitung 506.302 kasus kumulatif dengan
kematian sebanyak 16.111 jiwa dan kasus baru sebanyak 4.192 kasus. 1 Di Asia Tenggara,
case fatality rate (CFR) yang dikonfirmasi, sebagaimana dilaporkan oleh Center for
Strategic and International Studies (CSIS) adalah 2,3%, dan RR adalah 25,02%.
Singapura memiliki jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi, tetapi CFR mendekati nol dan
Indonesia dinyatakan memiliki nilai CFR tertinggi 8,13%.2
Hal ini diperberat dengan kenyataan bahwa kasus COVID-19-19 pada tenaga
kesehatan di Indonesia dilaporkan meningkat. Setidaknya 282 tenaga kesehatan
dinyatakan meninggal karena infeksi COVID-19 terdiri dari 159 dokter (84 dokter umum,
2 residen, dan 73 dokter spesialis),114 perawat, dan 9 dokter gigi.3 Di Singapura,
sebanyak 88 (1,7%) tenaga kesehatan diidentifikasi dari 5.050 kasus. Usia rata-rata
mereka adalah 35 tahun. Mayoritas (63,6%) bertugas di garis depan menangani tugas-
tugas yang dihadapi pasien, 15,9% adalah dokter, 11,4% adalah perawat dan 44,3%
adalah staf tambahan. Sekitar 81,8% tertular infeksi secara lokal, 40,3% di antaranya
tidak memiliki sumber pajanan yang dapat diidentifikasi dengan jelas. Paparan dari
keluarga / rumah tangga paling banyak terjadi (27,8%), diikuti oleh tempat kerja (16,7%)
dan interaksi sosial (15,3%).4 Hal ini juga serupa dengan yang terjadi di Qatar, dimana
infeksi COVID-19 di antara tenaga kesehatan sering terjadi di antara mereka yang tidak
bekerja langsung dengan pasien COVID-19.5
Di Indonesia, tingginya kasus COVID-19 pada tenaga kesehatan kemungkinan
disebabkan oleh beberapa hal. Amnesty International memperingatkan bahwa kegagalan
pemerintah untuk memenuhi hak-hak tenaga kesehatan akan menyebabkan lebih banyak
kematian, dan semakin mengurangi kapasitas sistem kesehatan negara untuk merawat
pasien COVID-19-19 seiring dengan berkembangnya pandemi. Menurut studi yang

1
2

dilakukan oleh Nanyang Technological University (NTU) dan komunitas LaporCOVID-


19, sistem perawatan kesehatan Indonesia akan runtuh pada akhir tahun ini jika
pemerintah gagal menerapkan tindakan pencegahan yang ketat.6 Data terakhir
Kementerian Kesehatan Indonesia, jumlah tempat tidur rumah sakit di Indonesia hanya
309.100, sebagian besar berada di pulau Jawa. Selain itu, terdapat kurang dari 6.000
tempat tidur Intensive Care Unit (ICU) di seluruh Indonesia. Jumlahnya tampak banyak,
tetapi kenyataannya, Indonesia hanya memiliki 2,7 tempat tidur ICU per 100.000
penduduk dan dengan demikian negara tersebut termasuk yang terendah di Asia. Selain
itu, ventilator mekanis tidak banyak tersedia di pedesaan dan terdapat kekurangan alat
pelindung. untuk tenaga kesehatan.7
Kurangnya transparansi atau 'budaya kerahasiaan' di rumah sakit di Indonesia
telah menghalangi pekerja medis dan staf dari mekanisme pengaduan yang efektif atau
ruang yang aman untuk menyalurkan keluhan mereka, terutama terkait dengan
ketersediaan APD berkualitas baik dan efektivitas protokol kesehatan di fasilitas
kesehatan, yang sangat penting untuk keselamatan mereka. Menurut Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), masih ada kekurangan APD bagi sekitar 185.000 dokter dan sekitar 1
juta perawat di tanah air. Lambatnya distribusi APD tidak sejalan dengan peningkatan
kasus COVID-19 yang pesat di Indonesia. Proses penyaluran APD yang lambat di
berbagai daerah membahayakan tenaga kesehatan. Dalam satu kasus yang tercatat di
Flores, Indonesia Timur, seorang dokter menyatakan bahwa para dokter di sana perlu
mencuci dan menyetrika masker bedah sekali pakai dan menggunakannya kembali karena
stoknya sudah habis. Laporan 7 September oleh majalah Tempo mengungkapkan bahwa
pemerintah telah memesan 5 juta item APD dari konsorsium perusahaan Korea Selatan,
tetapi memutuskan untuk menghentikan pembelian 2 juta item terakhir menyusul
ditemukannya Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP) dari penyimpangan harga
dalam proses pengadaan. Selain itu pula dikatakan bahwa fasilitas kesehatan tempat dia
bekerja memiliki alat pelindung diri (APD) yang memadai tetapi kualitasnya tidak
memenuhi standar dan karenanya tidak dapat menyediakan mereka dengan perlindungan
yang mereka butuhkan. Setelah APD tersediapun, staf layanan kesehatan memerlukan
pelatihan tentang penggunaannya. Semua tindakan perlindungan penting agar pekerja
merasa aman selama bekerja. Tidak semua pasien COVID-19 jujur tentang penyakitnya
akibat ketakutan akan stigma membuat tenaga medis, bahkan yang tidak berada di garis
3

depan, semakin rentan tertular. Dia juga melaporkan bahwa beberapa tenaga kesehatan
masih bekerja meskipun mereka mungkin tanpa disadari membawa virus karena negara
tersebut masih tertinggal dalam melakukan pengujian.6,8
Masalah ini tentu menjadi masalah kesehatan global yang belum tahu kapan
akhirnya.. Dalam definisi klasik Winslow tahun 1920, kesehatan masyarakat merupakan
ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan
dan kesejahteraan fisik dan mental. Dari hal tersebut diketahui bahwa ada upaya
kesehatan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas komunitas dan masyarakat untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan pribadi.9 Pengupayaan kesehatan masyarakat
ini secara umum terkait dengan 3 hal yaitu agen, pejamu dan lingkungan. Ketiga faktor
itu harus dievaluasi secara mendetail untuk mencari solusi yang tepat demi berkurangnya
atau bahkan selesainya wabah COVID-19 ini.10
Beragam hal itu saling mempengaruhi terjadinya peningkatan kasus COVID-19
pada tenaga kesehatan sehingga dibutuhkan solusi atas peningkatan tersebut untuk
mengurangi angka kejadian dan angka kematian COVID-19 pada tenaga kesehatan.
Model ini digunakan oleh ahli epidemiologi untuk menentukan determinan penyebab
penyakit. Ada 3 determinan yaitu 'agen' dari penyakit, inang penyakit, dan ' 'Lingkungan'
'atau faktor eksternal yang mempengaruhi atau memungkinkan penularan penyakit.
'Faktor waktu' dalam triad epidemiologi adalah titik potong dari tiga simpul (yaitu, agen,
inang, dan komponen lingkungan) dari segitiga yang menyebabkan penyakit. Komponen
waktu mungkin termasuk karakteristik waktu, masa inkubasi / masa laten, lamanya proses
penyakit, tren dan siklus penyakit (yaitu, vektor), musim penyakit, dan bagaimana
karakteristik pribadi dari orang-orang dalam populasi (yaitu, kekebalan kelompok)
mempengaruhi lintasan penyakit.11
Lingkungan adalah media yang menyatukan agn eksternal dan host. Lingkungan
meliputi karakteristik tempat, lingkungan biologis, fisik dan psikososial. Dalam trias
epidemiologi non-infeksi yang dimodifikasi, faktor penyebab, faktor risiko, paparan
lingkungan, seperti perilaku tidak sehat, praktik yang tidak aman atau zat berbahaya
menunjukkan 'agen'. 'Agen' dalam konteks ini berkonotasi dengan 'faktor yang
diperlukan' yang harus ada untuk morbiditas tetapi mungkin tidak mengarah pada
penyakit. 'Agen' dalam penyakit menular biasanya adalah zat bioaktif (yaitu prion, virus,
bakteri, jamur, protozoa) yang pasti menyebabkan penyakit jika kondisi terpenuhi.
4

Terjadinya penyakit memerlukan kombinasi dari apa yang telah disebut sebagai 'faktor-
faktor yang cukup' yang menunjukkan 'inang' (yaitu, individu atau kelompok individu)
yang rentan terhadap agen, dan lingkungan. Kerentanan tuan rumah mungkin didasarkan
pada karakteristik pribadi (yaitu, usia, jenis kelamin, kelompok etnis, pekerjaan atau
kelompok / populasi demografi).10

Gambar 1. Triad Epidemiologi yang dimodifikasi oleh Miller

Triad epidemiologi berlaku untuk penyakit menular dan tidak menular. Peran ahli
epidemiologi adalah memutus konektivitas simpul ini; oleh karena itu, menghentikan
penyebaran penyakit. Mekanisme epidemiologi ini telah memungkinkan kesehatan
masyarakat untuk membawa perubahan positif yang diinginkan dalam mengekang
penyebaran penyakit secara global. Hal ini juga bisa dipraktekan pada infeksi COVID-19
yang telah menjadi pandemi di dunia saat ini. Tentunya, hal terbaik dalam menghadapi
sebuah penyakit adalah melakukan pencegahan. Beragam rangka prevensi juga
diutarakan seperti menurut Leavel& Clark dengan primary, secondary, tertiary dan
quartenary prevention.11
Hal yang tidak kalah penting juga tentang iceberg phenomenon. Menurut teori
Iceberg, kasus asimtomatik atau pra-gejala, kasus salah diagnosis dan kasus yang tidak
5

terdiagnosis memiliki potensi besar untuk menyebarkan penyakit. Studi menunjukkan


bahwa sekitar setengah dari kasus tidak bergejala atau pra-gejala pada COVID-19. Kasus
asimtomatik atau pra-gejala memainkan peran penting dalam menyebarkan COVID-19
di sebagian besar negara. Sekarang sebagian besar negara berfokus pada penghentian
agen infeksi. Sebagai tindakan pencegahan, sebagian besar negara berupaya mengurangi
jumlah kasus baru dengan meningkatkan diagnosis penyakit. Untuk mencegah penularan
COVID-19 lebih lanjut, perlu dilakukan identifikasi kasus yang dicurigai, kemungkinan
kasus dan kasus yang dikonfirmasi di tingkat lokal. Jarak sosial dan karantina memainkan
peran penting untuk memutus rantai infeksi. Hal itu perlu diasumsikansetiap orang
terinfeksi dan jarak aman harus dijaga selama interaksi.12

Gambar 2. Rantai Sosial Infeksi SARS-CoV-2

Berdasarkan hal ini, penulis ingin membicaakan “Peningkatan Kasus Covid-19


Pada Tenaga Kesehatan” serta upaya solusi terkait lonjakan ini dengan harapan
meningkatkan keamanan tenaga medis dalam memberikan pelayanan serta worker safety
secara umum ataupun selama pandemi COVID-19 ini khususnya.

1.2 Rumusan Masalah


Dengan meningkatnya kasus COVID-19 pada tenaga kesehatan, perlu
diertimbangkan penyebab dan upaya solusi terkait lonjakan ini. Beragam hal memang
dikaitkan dengan kejadian ini. Kurangnya alat pelindung diri untuk tenaga kesehatan,
6

penggunaan berulang APD bahkan kurangnya pemerataan distribusi APD menjadi faktor
yang cukup kuat dalam lonjakan ini.7 Kurangnya transparansi atau 'budaya kerahasiaan'
di rumah sakit di Indonesia telah menghalangi pekerja medis dan staf dari mekanisme
pengaduan yang efektif atau ruang yang aman untuk menyalurkan keluhan mereka,
terutama terkait dengan ketersediaan APD berkualitas baik dan efektivitas protokol
kesehatan di fasilitas kesehatan, yang sangat penting untuk keselamatan mereka. Setelah
APD tersediapun, staf layanan kesehatan memerlukan pelatihan tentang penggunaannya.
Semua tindakan perlindungan penting agar pekerja merasa aman selama bekerja. Selain
itu, dari sisi pasien, juga didapatkan bahwa tidak semua pasien COVID-19 jujur tentang
penyakitnya akibat ketakutan akan stigma membuat tenaga medis, bahkan yang tidak
berada di garis depan, semakin rentan tertular. Dia juga melaporkan bahwa beberapa
tenaga kesehatan masih bekerja meskipun mereka mungkin tanpa disadari membawa
virus karena negara tersebut masih tertinggal dalam melakukan pengujian swab.6,7,12 Jika
tidak ditangani dengan segera dengan penyusunan upaya solusi, bukan tidak mungkin
lonjakan ini akan terus terjadi dan memperburuk kondisi yang telah ada.
BAB II
PEMBAHASAN

2.4 Problem Tree (Analysis Core Problem, Determinants And Impacts)

• Komplen pasien
• Pendapatan RS
menurun
Pandemi tidak
teratasi
• Layanan • Jam kerja
menurun meningkat
• Kecelakaan Meningkatkan
kerja CFR
Tidak
seimbangnya
jumlah nakes: Kurangnya Muncul
masyarakat Nakes klaster RS

Masyarakat Nakes Pemerintah

Peningkatan Kasus COVID-19 pada Nakes

Masyarakat Nakes Sarana/Prasarana Pemerintah

Pasien tidak jujur Tidak mematuhi APD tak tersedia Distribusi APD tidak
protokol kesehatan merata
Tidak menerapkan Penggunaan APD Anggaran RS
protokol Bekerja di banyak
berulang (re-use)
kesehatan faskes
Regulasi
Angka jam kerja Tidak ada screening
tinggi rutin

Nakes dengan
komorbid

Kesalahan dalam
penggunaan APD
1
8

2.5 Penjabaran/Penjelasan (Problem Tree)


Semakin banyak tenaga kesehatan di Indonesia yang gugur akibat COVID-19.
Kasus COVID-19 pada tenaga kesehatan di Indonesia dilaporkan meningkat. Setidaknya
282 tenaga kesehatan dinyatakan meninggal karena infeksi COVID-19 terdiri dari 159
dokter (84 dokter umum, 2 residen, dan 73 dokter spesialis),114 perawat, dan 9 dokter
gigi.3 Dalam data tersebut, Indonesia berada di urutan kesepuluh negara dengan kematian
tenaga kesehatan tertinggi di dunia. Meksiko menempati urutan pertama dengan 1.320
orang. Disusul Amerika Serikat (AS) dengan 1.077 orang, India (573 orang), Brasil (324
orang), dan Afrika Selatan (240 orang).
Hal ini disebabkan oleh beragam hal seperti yang dijelaskan dalam problem tree
diatas. Seringkali, tidak semua pasien COVID-19 jujur tentang penyakitnya akibat
ketakutan akan stigma membuat tenaga medis, bahkan yang tidak berada di garis depan,
semakin rentan tertular.6,8 Di antara tenaga kesehatan terakhir yang menjadi korban
COVID-19 adalah Berkatnu Indrawan Janguk, seorang dokter umum di Rumah Sakit
Umum Soewandhi Surabaya yang meninggal dunia pada 27 April lalu. Ia diyakini tertular
virus dari seorang pasien tanpa disadari keberadaannya dari status medis pasien.
Sebelumnya 46 tenaga medis di Rumah Sakit Umum Dr. Kariadi di Semarang terinfeksi
setelah mereka dilaporkan merawat pasien yang gagal mengungkapkan riwayat
perjalanan mereka ke "zona merah" virus corona. Ini menunjukkan betapa pentingnya
kejujuran.13
Selain itu, dari faktor masyarakat sendiri, masih belum sepenuhnya melakukan
protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah. Salah satu protokol kebijakan
kebersihan COVID-19 dalam mencegah penyebaran virus salah satunya adalah
penggunaan masker oleh setiap orang saat berada di luar rumah dan gerakan Cuci Tangan
Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengalir / handsanitizer antiseptik. Kebijakan ini diatur
dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02 / I / 385/2020 tentang
Penggunaan Masker dan Penyediaan Alat Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) untuk
Mencegah Penularan Coronavirus Disease 19 (COVID-19). Kekhawatiran mendasar bagi
Negara Indonesia jika tidak dapat segera mengatasi dampak negatif penularan COVID-
19 adalah terganggunya beberapa aspek krusial negara seperti kesehatan, ekonomi,
politik, pendidikan, hukum, pertahanan, bahkan agama. Oleh karena itu, peran aktif
masyarakat sangat diperlukan untuk membantu pemerintah dalam upaya pencegahan
9

penularan COVID-19 dengan berpegang pada kebijakan kebersihan protokol COVID-19


yang ada.14 Riset yang dilakukan para peneliti dari McMaster University di Ontario,
Kanada, tentang meta-analisis dari 44 studi yang melibatkan 25.000 orang atau partisipan
di 16 negara. Hasilnya, peluang tertinggi terinfeksi virus corona jika memakai masker
hanya 3 persen. Sedangkan jika tidak menggunakan masker, kami memiliki peluang 17
persen penularannya.15 Penggunaan masker baru akan efektif jika dikombinasikan
dengan tindakan lain, seperti menjaga jarak, sering mencuci tangan, dan menghindari
menyentuh wajah.16 Negara lain yang berhasil mempertahankan angka kematian rendah
COVID-19 di bawah 1 dalam 1.000.000 melalui kebijakan protokol kesehatan dengan
menggunakan masker adalah Hong Kong, Jepang, Thailand, Taiwan, Vietnam, dan
Slovakia.17
APD adalah penghalang fisik yang dikenakan oleh tenaga kesehatan untuk
mencegah penyebaran patogen dari kasus yang dicurigai atau dikonfirmasi atau dari
spesimen patologis. Ini berfungsi ganda untuk mencegah penyebaran penyakit dari pasien
ke tenaga kesehatan dan sebaliknya. Penghalang fisik ini termasuk kacamata, pelindung
wajah, masker medis atau bedah tahan cairan, respirator partikulat (misalnya, pemurni
udara dan respirator N95), sarung tangan, gaun sekali pakai, baju sekali pakai, apron
tahan air, sepatu bot tahan air, dan penutup kepala dalam hubungannya dengan metode
IPC lainnya.18-20
Wu et al. dan Pusat Pengendalian Mutu dan Manajemen Infeksi Rumah Sakit
Nasional baru-baru ini melaporkan infeksi berskala besar pada tenaga kesehatan dari
provinsi Hubei di Cina yang terutama disebabkan oleh kurangnya penggunaan APD.21,22
Demikian pula, Sistem Kesehatan Henry Ford baru-baru ini mengkonfirmasi bahwa
46,6% pekerjanya telah terinfeksi SARS-CoV-2.23 Konsekuensi dari laporan ini adalah
ketakutan di antara tenaga kesehatan karena kurangnya pengobatan definitif atau vaksin
untuk SARS-CoV-2. Situasi ini memerlukan pengamatan kritis terhadap bahaya
pekerjaan dan keselamatan tempat kerja selama pandemi COVID-19. Tenaga kesehatan
di rangkaian sumber daya rendah memerlukan keterampilan APD yang memadai
(termasuk pemilihan, pemakaian, pelepasan, dekontaminasi, dan pembuangan APD yang
tepat) dengan latar belakang pengetahuan teoretis yang baik tentang indikasi dan
prosedur, untuk perlindungan yang efektif di area klinis. Mereka juga harus memiliki
sikap yang benar terhadap, pelatihan, pendekatan, dan keyakinan serta keterampilan yang
10

diperlukan untuk APD dalam praktik di samping intervensi lain agar berhasil melawan
dan memenangkan pertempuran melawan SARS-CoV-2.21,23
Kurangnya transparansi atau 'budaya kerahasiaan' di rumah sakit di Indonesia
telah menghalangi pekerja medis dan staf dari mekanisme pengaduan yang efektif atau
ruang yang aman untuk menyalurkan keluhan mereka, terutama terkait dengan
ketersediaan APD berkualitas baik dan efektivitas protokol kesehatan di fasilitas
kesehatan, yang sangat penting untuk keselamatan mereka. Menurut Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), masih ada kekurangan APD bagi sekitar 185.000 dokter dan sekitar 1
juta perawat di tanah air. Lambatnya distribusi APD tidak sejalan dengan peningkatan
kasus COVID-19 yang pesat di Indonesia. Proses penyaluran APD yang lambat di
berbagai daerah membahayakan tenaga kesehatan. Dalam satu kasus yang tercatat di
Flores, Indonesia Timur, seorang dokter menyatakan bahwa para dokter di sana perlu
mencuci dan menyetrika masker bedah sekali pakai dan menggunakannya kembali karena
stoknya sudah habis. Laporan 7 September oleh majalah Tempo mengungkapkan bahwa
pemerintah telah memesan 5 juta item APD dari konsorsium perusahaan Korea Selatan,
tetapi memutuskan untuk menghentikan pembelian 2 juta item terakhir menyusul
ditemukannya Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP) dari penyimpangan harga
dalam proses pengadaan. Selain itu pula dikatakan bahwa fasilitas kesehatan tempat dia
bekerja memiliki alat pelindung diri (APD) yang memadai tetapi kualitasnya tidak
memenuhi standar dan karenanya tidak dapat menyediakan mereka dengan perlindungan
yang mereka butuhkan. Setelah APD tersediapun, staf layanan kesehatan memerlukan
pelatihan tentang penggunaannya. Semua tindakan perlindungan penting agar pekerja
merasa aman selama bekerja. Dia juga melaporkan bahwa beberapa tenaga kesehatan
masih bekerja meskipun mereka mungkin tanpa disadari membawa virus karena negara
tersebut masih tertinggal dalam melakukan pengujian.6,8
Komorbid juga mempengaruhi kejadian COVID-19. Tenaga kesehatan yang
memiliki komorbid tentunya lebih rentan untuk terkena dengan faktor-faktor lain
sebelumnya yang memang sudah ada. Tenaga medis yang terinfeksi COVID-19 yang
memiliki penyakit penyerta, seperti hipertensi atau diabetes mellitus, lebih mungkin
mengembangkan perjalanan dan perkembangan penyakit yang lebih parah. Keberadaan
penyakit penyerta justru harusnya membuat tenaga medis lebih brhati-hati dan harus
11

melakukan semua tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menghindari terinfeksi


SARS CoV-2, karena mereka biasanya memiliki prognosis terburuk.
Berikut merupakan rekomendasi CDC terkait tenaga kesehatan:25

1. Tenaga kesehatan tidak boleh bekerja saat sakit, bahkan jika datang dengan
tanda atau gejala ringan. Tenaga kesehatan dengan gejala demam dan / atau
gejala pernapasan yang mengkhawatirkan untuk COVID-19 harus melakukan
tes SARS-CoV-2 secepat mungkin. Tenaga kesehatan yang memiliki pajanan
yang tidak terlindungi dengan seseorang dengan COVID-19 yang
dikonfirmasi tetapi tetap asimtomatik harus diuji minimal 5-7 hari setelah
tanggal pajanan dan jika perlengkapan pengujian memungkinkan.
2. Maryland Department of Health (MDH) dan organisasi perawatan kesehatan
bekerja sama untuk mengidentifikasi, mengelola, dan memantau tenaga
kesehatan yang telah mengalami pajanan berisiko tinggi (tidak terlindungi)
terhadap pasien, residen, rekan kerja, atau kontak rumah tangga / sosial
dengan COVID-19 yang dikonfirmasi. Sebagian besar tenaga kesehatan yang
pernah terpajan risiko tinggi diidentifikasi melalui pelacakan pekerjaan
terhadap pelanggaran alat pelindung diri (APD) dan / atau pelacakan kontak
dan penilaian APD yang dikenakan saat melakukan kontak dengan pasien,
penduduk, atau rekan kerja yang positif COVID-19. Tenaga kesehatan dengan
eksposur risiko tinggi juga diidentifikasi melalui wawancara kasus COVID-
19 MDH dan laporan mandiri. MDH merekomendasikan tenaga kesehatan
dengan eksposur berisiko tinggi berpartisipasi dalam karantina sukarela
selama 14 hari setelah tanggal eksposur. Sebagai komponen dari rencana
kepegawaian darurat, jika fasilitas perawatan kesehatan telah kehabisan
semua pilihan kepegawaian lainnya dan mengalami kekurangan staf, tenaga
kesehatan tanpa gejala yang telah mengalami pajanan berisiko tinggi tetapi
tidak dites positif COVID-19 mungkin diminta untuk kembali untuk bekerja
selama masa karantina sukarela. Tenaga kesehatan yang kembali bekerja
dalam waktu itu harus memakai masker wajah kelas medis untuk kontrol
sumber setiap saat. Fasilitas dapat mempertimbangkan untuk meminta tenaga
kesehatan yang terpajan untuk kembali hanya sebagai upaya terakhir, ketika
kekurangan staf tetap ada bahkan setelah kehabisan semua cara normal
12

lainnya untuk mengisi shift (misalnya, bonus, kepemimpinan yang membantu


perawatan pasien langsung, shift 12 jam vs. 8- shift jam, upah bahaya,
mengurangi prosedur sensitif non-waktu, dll.). Tenaga kesehatan yang pernah
mengalami pajanan berisiko tinggi dilindungi oleh Peraturan Menteri
144.4196, yang memberikan perlindungan kepada pekerja bagi mereka yang
diminta oleh MDH untuk tidak bekerja karena pajanan, atau terinfeksi,
penyakit menular. Dengan demikian, tenaga kesehatan yang terpapar ini
berada dalam posisi untuk memilih apakah akan kembali bekerja selama
periode karantina yang direkomendasikan. Tenaga kesehatan di karantina
sukarela setelah terpajan tanpa perlindungan terhadap orang yang positif
COVID-19, dan tenaga kesehatan yang melakukan kontak dekat dengan
rumah tangga, atau pasangan intim, atau kontak komunitas dekat dengan
COVID-19 yang dikonfirmasi atau dicurigai, harus mengikuti rekomendasi di
bawah ini untuk menjaga diri, pasien, dan rekan kerja tetap aman.
3. Jika tenaga kesehatan kembali bekerja setelah riwayat paparan risiko tinggi,
perlu diperhatikan hal berikut:
a. Perlindungan pekerja ditetapkan dalam undang-undang negara bagian,
dan tenaga kesehatan yang pernah mengalami paparan risiko tinggi tidak
dapat dipaksa kembali bekerja selama masa karantina. Jika tenaga
kesehatan memilih untuk tidak kembali bekerja, Statuta Minnesota, pasal
144.4196 melindungi mereka dari pembalasan
b. Jenis eksposur risiko tinggi yang berbeda membawa risiko yang berbeda
dari hasil tes positif COVID-19. Oleh karena itu, fasilitas harus meminta
tenaga kesehatan yang terpajan untuk kembali bekerja dengan urutan
berikut. Semua petugas kesehatan dari satu kelompok harus diminta untuk
kembali sebelum membawa kembali petugas kesehatan dari kelompok
berikutnya.
– Petugas kesehatan dengan risiko tinggi terpapar ke pasien, residen,
atau rekan kerja
– Petugas kesehatan dengan risiko tinggi terpapar kontak sosia
– Petugas kesehatan dengan eksposur risiko tinggi kepada anggota
rumah tangga; Petugas kesehatan dengan paparan rumah tangga
13

hanya boleh kembali jika dapat diisolasi dari anggota rumah


tangga yang positif
c. Tenaga kesehatan yang terpajan yang kembali selama karantina harus
mengambil peran yang tidak memiliki tugas perawatan pasien langsung
(misalnya, telemedicine, triase telepon), jika memungkinkan.
d. Jika tenaga kesehatan tetap perlu memberikan perawatan pasien langsung
selama masa karantina, petugas kesehatan harus:
- Hindari menemui pasien berisiko tinggi (misalnya, orang dewasa yang
lebih tua, orang dengan gangguan kekebalan, dan mereka dengan
penyakit penyerta), jika memungkinkan.
- Praktikkan kebersihan tangan dengan rajin dan kenakan masker wajah
kelas medis setiap saat. C
- Hindari berbagi ruang istirahat atau makan siang dengan rekan kerja.
- Pantau diri mereka sendiri dengan cermat untuk setiap gejala yang
terkait dengan COVID-19 (misalnya, demam terukur atau subjektif,
batuk, sesak napas, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, sakit
tenggorokan, atau hilangnya rasa atau bau), dan ukur suhu tubuh setiap
hari sebelum pergi. bekerja.
- Tetap di rumah dan beri tahu atasan mereka jika mereka mengalami
gejala pernapasan ATAU memiliki suhu tubuh terukur lebih dari 100
derajat Fahrenheit.
- Jika di tempat kerja saat demam atau gejala pernapasan berkembang,
segera beri tahu atasannya dan pulang.
- Beri tahu atasan mereka tentang gejala lain (misalnya demam lebih
dari 100 derajat Fahrenheit, mual, muntah, diare, sakit perut, pilek,
kelelahan), karena evaluasi medis mungkin disarankan.
e. Tenaga kesehatan yang pernah terpajan risiko tinggi dan kembali bekerja
selama karantina harus diuji secara proaktif pasca pajanan (misalnya, pada
hari ke 3, 5, 7, 10, dan 12).
f. Fasilitas harus melakukan pemeriksaan tengah shift tambahan untuk tanda
dan gejala COVID-19 untuk semua tenaga kesehatan yang bekerja selama
karantina.
14

g. Fasilitas harus meningkatkan audit untuk APD, kebersihan tangan, dan


aktivitas di ruang istirahat dan ruang makan siang serta membatasi jumlah
petugas kesehatan di ruang istirahat untuk memastikan jarak sosial.
Petugas kesehatan yang bekerja selama masa karantina harus beristirahat
sendiri di ruang istirahat, jika memungkinkan.
h. Fasilitas harus menetapkan tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk
potensi penyebaran SARS-CoV-2 di dalam fasilitas, mengikuti
rekomendasi dari MDH untuk penilaian kelompok individu (pasien,
penghuni, petugas kesehatan) yang memiliki gejala atau telah dites positif.
Pertahankan ambang batas rendah untuk menyelidiki peningkatan staf
yang menelepon sakit dan untuk mengamati kelelahan dalam
menggunakan peralatan pelindung pribadi di area seperti ruang istirahat.

2.6 Rancangan Solusi Dan Stakeholder Analisis


Adapun hal-hal yang dapat dilakukan guna agar kasus COVID-19-19 tidak
meningkat pada tenaga kesehatan adalah dengan cara mengikuti hal berikut:

NO Causes Potensi solusi Stakeholder


1 Perilaku Kesehatan yang Promosi Kesehatan Direktur RS
tidak baik/benar Mulai melakukan promosi
Tidak melakukan Kesehatan baik di dalam maupun
protokol Kesehatan di luar rumah sakit tentang
penularan dan tata cara
pencegahan penularan penyakit
15

2 APD tidak benar – Menyiapkan dan Melengkapi Direktur RS


Kekurangan APD perlindungan umum berupa Komite Medis
APD lengkap pada tenaga
Kesehatan yang berisiko tinggi
tepapar penyakit COVID-19.
– Menggunakan level APD
sesuai dengan ruang pelayanan
– Pemeriksaan berkala status
COVID-19 tenaga Kesehatan

3 Ruang perawatan – Pemeriksaan rutin status Direktur RS


dicampur dengan pasien COVID-19 semua pasien yang
non COVID-19. akan dirawat
– Pemisahan dini pasien dengan
gejala dan tanpa gejala
COVID-19 baik di ruang IGD
maupun di ruangan poli klinik.
4 Nakes yang terinfeksi – Pengobatan optimal dengan Direktur RS
SarCoV 2 semua tim yang terkait pada
Jam kerja nakes tinggi kasus positif
– Merujuk ke sarana Kesehatan
yang lebih lengkap bila
diperlukan
– Pemantauan rutin status
Kesehatan pada Nakes yang
terkonfirmasi
16

5 Status COVID-19 Pasien – Membuat SOP yang tegas dan Direktur RS


tidak diketahui jelas tentang alur penerimaan Komite Medis
pasien dengan risiko
penularan tinggi
– Membuat SOP pencegahan
penularan terhadap NAKES
– Membuat peraturan agar
nakes dapat mendapatkan
pemeriksaan berkala status
COVID-19

6 Kesadaran pribadi nakes – Mengajak secara aktif peran Direktur RS


kurang nakes untuk memecahkan Komite medis
masalah yang terjadi akibat Komite Keperawatan
penularan.
– Melakukan brainstorming asal
penularan dan dipecahkan
Bersama-sama
7 Kurang support – Komunikasi politis harus di PEMDA
pemerintah daerah bangun pada pemangku atau DIrektur RS
pembuat kebijakan misalnya
kepala daerah agar
memberikan support penuh
untuk penanganan dan
pencegahan COVID-19 antara
lain dengan meningkatkan
anggaran penanganan COVID-
19.
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Perlunya penguatan promosi kesehatan, edukasi baik kepada masyarakat awam
ataupun tenaga kesehatan itu sendiri diperlukan untuk menurunkan angka motalitas
COVID-19 di Indonesia. Masalah utama terkait hal ini adalah keberadaan APD, distribusi
serta penggunaan yang tidak tepat sehingga masih menjadi masalah dan memberikan
kontribusi dalam peningkatan kasus COVID-19 pada tenaga kesehatan.
Pemerintah juga diharapkan memberikan regulasi yang tegas, mengakomodir
ketersediaan APD, dan membantu dalam mempromosikan protocol kesehatan melalui
regulasinya. Diharapkan dengan peningkatan kesadaran, peran aktif masyrakat, tenaga
kesehatan dan pemerintah, kasus COVID akan mereda dan pandemi ini akan berakhir
seperti yang diharapkan.

3.2 Rencana Tindak Lanjut


1. Edukasi dan promosi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjalankan
protokol kesehatan
2. Sosialisasi penggunaan APD dengan baik dan benar kepada tenaga kesehatan
3. Evaluasi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pencegahan dan
penanggulangan pandemic COVID-19

17
18

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Coronavirus disease (COVID-19-19) situation


dashboard [Internet]. Geneva, CH: World Health Organization; 2020 [updated 2020
Nov 25; cited 2020 Nov 25]. Available from: https://COVID-1919.who.int
2. EL-matury HJ. Comparising Case Fatality Rate (CFR) of COVID-1919 Pandemic
in South East Asia Countries. Jurnal Inovasi Kesehatan Masyarakat. 2020; 1(1).
3. Jakarta Pos. Medical association records 282 healthcare worker deaths due to
COVID-19-19 [Internet]. Jakarta: Jakarta Post, 2020 [ updated 11 Nov 20; cited
2020 Nov 25]. Available from: https://www.thejakartapost.com/news/2020/11/11/
medical-association-records-282-healthcare-worker-deaths-due-to-COVID-19-
19.html
4. Wong LY, Tan AL,Leo YS, Lee VMJ, Toh MPHS. Healthcare workers in
Singapore infected with COVID-19‐19: 23 January‐17 April 2020. Influenza Other
Respi Viruses. 2020; 00:1-9
5. Alajmi J, Jeremijenko AM, Abraham JC, Alishaq M, Concepsion EG, Butt AA
Abou-Samra. COVID-19-19 infection among healthcare workers in a national
healthcare system: The Qatar experience. International Journal of Infectious
Diseases 100. 2020; 386–389.
6. Amnesty International. Unprotected, Overworked, Ailing Indonesian Health
Workers Face Avalanche of COVID-19-19 Cases. Available from:
https://www.amnesty.id/unprotected-overworked-ailing-indonesian-health-
workers-face-avalanche-of-COVID-19-19-cases/
7. Phua J, Faruq MO, Kulkarni AP, Redjeki IS, Detleuxay K, Mendsaikhan N, Sann
KK, Shrestha BR, Hashmi M, Palo JE, Haniffa R, Wang C, Hashemian SMR,
Konkayev A, Mat Nor MB, Patjanasoontorn B, Nafees KMK, Ling L, Nishimura
M, Al Bahrani MJ, Arabi Y, Lim CM, Fang WF, for the Asian Analysis of Bed
Capacity in Critical Care (ABC) Study Investigators, and the Asian Critical Care
Clinical Trials Group. Critical care bed capacity in Asian countries and regions.
Criti Care Med. 2020; Online First. doi: 10.1097/CCM.0000000000004222.
8. Setiati S, Azwar MK. COVID-19 and Indonesia. Acta Med Indones - Indones J
Intern Med. 2020; 52 (1): p84-89.
19

9. Grant R. A bridge between public health and primary care. Am J Public Health.
2012;102 Suppl 3(Suppl 3):S304. doi:10.2105/AJPH.2012.300825
10. Ogbonna CN. Epidemiology in the News- the Case of COVID-19 Pandemic
Disease. IOSR Journal of Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS). 2020;
19(5):p35-38
11. Ali A, Katz DL. Disease Prevention and Health Promotion: How Integrative
Medicine Fits. Am J Prev Med. 2015;49(5 Suppl 3):S230-S240.
doi:10.1016/j.amepre.2015.07.019
12. Rai DR, Mathew G. A Review on Theories and Models of Disease Causation for
COVID-19. Available at: https://ssrn.com/abstract=3584080
13. Tumbelaka RV. Honesty crucial between patients, health workers during pandemic.
Available from: https://www.thejakartapost.com/academia/2020/05/05/honesty-
crucial-between-patients-health-workers-during-pandemic.html
14. Disemadi HS, Handika DO. Community Compliance with the Covid-19 Protocol
Hygiene Policy in Klaten Regency, Indonesia. LJIH 28: 2020; 121-133
15. Chu, D. K., Akl, E. A., Duda, S., Solo, K., Yaacoub, S., Schünemann, H. J., ...
Schünemann, H. J. (2020). Physical distancing, face masks, and eye protection to
prevent person-to-person transmission of SARS-CoV-2 and COVID-19: a
systematic review and meta-analysis. The Lancet, 395(10242), 1973–1987.
https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)31142-9
16. MacIntyre, C. R., & Wang, Q. (2020). Physical distancing, face masks, and eye
protection for prevention of COVID-19. The Lancet, 395(10242), 1950–1951.
https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)31183-1
17. Leffler, C., Ing, E., McKeown, C., Pratt, D., & Grzybowski, A. (2020). Country-
wide Mortality from the Novel Coronavirus (COVID-19) Pandemic and Notes
Regarding Mask Usage by the Public. Technical Report.
18. World Health Organization, Rational Use of Personal Protective Equipment (PPE)
for Coronavirus Disease (COVID-19): Interim Guidance, 19 March 2020, World
Health Organization, Geneva, Switzerland,
2020, https://www.who.int/publications-detail/rational-use-of-personal-protective-
equipment-for-coronavirus-disease-(covid-19)-and-considerations-during-severe-
shortages.
20

19. World Health Organization, Coronavirus Disease (COVID-19)


Training, https://www.afro.who.int/publications/coronavirus-disease-covid-19-
training-online-training.
20. World Health Organization, Personal Protective Equipment in the Context of
Filovirus Disease Outbreak Response Rapid Advice Guideline: Summary of the
Recommendations, World Health Organization, Geneva, Switzerland,
2014, https://apps.who.int/iris/handle/10665/137410.
21. A. Wu, X. Huang, C. Li, and L. Li, “Novel coronavirus (2019-nCov) pneumonia in
medical institutions: problems in prevention and control,” Chinese Journal of
Infection Control, vol. 19, pp. 1–6, 2020.
22. J. Wang, M. Zhou, and F. Liu, “Reasons for healthcare workers becoming infected
with novel coronavirus disease 2019 (COVID-19) in China,” Journal of Hospital
Infection, vol. 105, no. 1, pp. 100-101, 2020.
23. J. Bowden, “More than 700 employees at one Detroit hospital system test positive
for coronavirus,” 2020, https://thehill.com/homenews/state-watch/491484-more-
than-700-employees-at-one-detroit-hospital-system-test-positive-for.
24. Sanyaolu , et al. Comorbidity and its Impact on Patients with COVID-19. SN
Compr Clin Med.2020; 25 : 1–8.
25. Minnesota Department of Health. COVID-19 Recommendations for Health Care
Workers. https://www.health.state.mn.us/diseases/coronavirus/hcp/hcwrecs.pdf