Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

L DENGAN DIAGNOSA MEDIS


CLOSE FRAKTUR COLLUM FEMUR DAN MASALAH
KEPERAWATAN NYERI DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSK ST
VINCENTIUS A PAULO SURABAYA

OLEH :

Karmelia Odilia Bhalu, S.Kep 201804025


Putri Utami Listyoningrum, S.Kep 201804042

PROGRAMPROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KATOLIK
ST VINCENTIUS PAULO
SURABAYA
2018
BAB 1

LAPORAN KASUS

2.1 Pengkajian
Tanggal Masuk IGD : 22 November 2018 jam : 19.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 22 November 2018 jam : 19.00 WIB
No.RM: 640xxx
Diagnose masuk : Close Fraktur Collum Femur Sinistra
2.1.1 Pengumpulan Data
2.1.1.1 Identitas Pasien:
Nama : Ny. L
Usia : 76 tahun
Jeniskelamin : Perempuan
Status : Tidak Menikah
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : Tamat SMA
Suku : China
Agama : Budha
Alamat : Surabaya
Penanggungjawab : Ny. S
2.2 Riwayat Keperawatan
2.2.1 Keluhan Utama
Pasien mengungkapkan nyeri pada daerah pangkal paha sebelah kiri, nyeri yang
dirasakan oleh pasien seperti cekot-cekot nyeri dirasakan secara terus menerus
dan bertambah nyeri bila bergerak, NRS 8.
2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengungkapkan pada tanggal 22 November 2018 pukul 14.00 WIB pasien
terpeleset dan terjatuh dalam posisi miring pinggang kiri menahan bokong. Pasien
mengeluh nyeri, nyeri yang dirasakan di bagian paha sebelah kiri, pada bagian
paha sebelah kiri pasien terdapat bengkak, perubahan bentuk, nyeri, tidak bisa
digerakakan. Pasien berusaha berjalan tapi tidak bisa berjalan. Pada pukul 17.30
WIB, adik pasien menelpon ambulance RSK X Surabaya. Ambulance tiba di
rumah pasien pada pukul 18.10 WIB.
2.2.3 Riwayat penyakit dahulu
Pasien memiliki riwayat jantung, hipertensi, dan flek paru sejak 2 tahun yang lalu,
pasien sudah berhenti kontrol sejak satu tahun yang lalu. pasien juga tidak
memiliki riwayat penyakit seperti osteoporosis dan TB tulang, dalam keluarga
pasien tidak memiliki riwayat penyakit tersebut. Riwayat pengobatan yang pernah
didapat
- Magalat syrup 3x5 cc
- Bisoprolol 5 mg 1x1/2 tab PO.
- Analsik 500 mg 3x1 tab PO.
- Lansoprazole 30 mg 1x1 tab PO (sebelum makan).
- Kapsul campuran (Codikaf 5 mg/Dextamine 2/3 tab/Rhinofed ½ tab)
3x1 kapsul PO.
2.2.4 Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengungkapkan tidak ada keluarga yang menderita penyakit jantung,
hipertensi, dan flek paru maupun diabetes melitus.
2.2.5 Riwayat psikososial spritual:
1) Psiko: Pasien merasa cemas dan takut jika akan dioperasi.
2) Sosial:
Pasien tinggal bersama dengan seorang adik. Pasien sangat dekat dengan
adiknya. Pasien ramah dan dekat dengan orang-orang disekitar rumahnya.
Pasien mengungkapkan mengikuti berbagai macam kegiatan sosial di
rumahnya seperti senam ibu-ibu dan arisan RT.
3) Spiritual:
Pasien mengungkapkan sembahyang rutin kadang di rumah dan kadang di
Wihara.
2.2.6 Riwayat alergi:
Pasien memiliki riwayat alergi udang, dan merasa gatal-gatal pada seluruh
tubuh.

2.3 Pola pemenuhan kebutuhan dasar:


2.3.1. Nutrisi
Di rumah : Pasien makan 3x sehari dengan komposisi: nasi, sayur, lauk
seperti tempe, telur, ayam dan menghabiskan seluruh porsi
makan. Pasien juga sering mengkonsumsi buah-buahan seperti
pisang dan jeruk. Pasien sering mengkonsumsi mentimun
untuk mengontrol hipertensinya. Pasien diet rendah garam.
Selama dirumah pasien minum air putih sebanyak ±
2000cc/hari.
Di rumah sakit : Saat di kaji pasien belum makan dan minum. Pasien
mengungkapkan belum makan siang dan makan malam. Pasien
mengungkapkan hanya minum air putih setengah gelas pukul
17.45 wib sebelum ambulance datang ke rumah.

2.3.2. Eliminasi
Di rumah : Pasien BAK setiap hari 4-5 kali/hari. Buang air besar 1 kali
dalam sehari. BAK pasien terakhir pukul 13.00 wib sebelum
pasien jatuh dengan warna kuning jernih dan BAB pasien
terakhir pukul 05.00 wib pagi hari dengan konsistensi lembek
dan warna kuning.
Di rumah sakit : Saat dikaji pasien belum BAK dan BAB. Saat di IGD pukul
21.15 WIB pasien dipasang selang kateter no.16 dengan
retensi urine 50cc warna kuning jernih.
2.3.3. Aktivitas dan istirahat
Di rumah : Pasien bangun pagi sekitar jam 05.00 wib. Pasien
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel,
memasak, mencuci piring, mencuci baju, dan menyetrika. Pasien
tidur siang selama 2 jam yakni pukul 11.00-13.00 wib. Pasien tidur
malam 7-8 jam mulai jam 21.00 wib dan bangun pukul 05.00 wib.
Setelah terjatuh pasien tidak dapat berdiri dan tidak dapat
melakukan aktivitas apapun. Pada tanggal 22 November 2018
pasien masih beraktivitas seperti biasa hingga pukul 14.00 wib
pasien terjatuh dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun.
Di rumah sakit : Di IGD pasien hanya bedrest total.
2.3.4. Hygine perseorangan
Di rumah : Pasien mandi 2 kali sehari pagi dan sore, ganti baju 2 kali
dan keramas tiga kali seminggu. Semua kebutuhan higiene
perseorangan dilakukan mandiri.
Di rumah sakit : Pasien tidak dapat melakukan perawatan diri apapun
sejak pasien jatuh.
2.4 Pemeriksaan fisik
2.4.1. Keadaan umum
Pasien agak lemah.
2.4.2. B1(Breathing)
SpO2: 99%, RR: 16x/menit, nafas spontan, pengembangan dinding dada
simetris, terdengar adanya suara ronkhi di seluruh lapang paru, tidak sesak,
tidak ada sianosis sentral maupun sianosis perifer.
2.4.3 B2(Blood)
Perfusi perifer teraba hangat, conjungtiva merah muda, tidak adanya asites,
tidak terdapat edema, CRT <2 detik, suhu: 37,3oC, Nadi :110x/menit, TD:
147/74 mmHg, pulsasi dorsalis pedis ada dan teraba kuat, tidak diaforesis.
2.4.4. B3(Brain)
Kesadaran composmentis, GCS 4-5-6, pupil isokor dengan diameter 3/3
mm, reaksi cahaya +/+, pasien terjatuh dengan posisi miring pinggang kiri
menahan bokong, pasien mengeluh nyeri seperti cekot-cekot pada bagian
paha sebelah kiri, tidak kesemutan.
2.4.5. B4(Bladder)
Vesika urinaria teraba lembek, terpasang kateter no 16. Retensi urin 50 cc.
2.4.6. B5(Bowel)
Tidak terdapat distensi abdomen, bising Usus 18x/menit.
2.4.7. B6(Bone)
Turgor kulit baik dapat kembali dalam 1 detik, terdapat benjolan dan lecet
pada daerah kepala belakang telinga, kulit tidak kering. terdapat deformitas,
krepitasi, tenderness, spasme otot, pergerakan abnormal, adanya krepitasi
dan kaki kiri lebih pendek (shortening leg).
Skala kekuatan otot:

5 5
5 x

Otot ekstermitas atas dekstra dan sinistra dan ekstermitas bawah dextra mampu
menggerakan persendian dalam lingkup gerak penuh, mampu melawan gravitasi,
mampu melawan dengan tahanan penuh, pada ekstermitas bawah sinistra tidak
dapat dilakukan penilaian skala kekuatan otot karena adanya frktur.
Pasien sampai di IGD RSK X Surabaya pada pukul 18.50 WIB dengan keadaan
umum agak lemah, pasien di periksa dan dikonsulkan ke dokter ortopedi, dari
dokter ortopedi di minta untuk konsul jantung dan paru, pasang skin traksi beban
4 kg, pasang dower kateter no.16, besok cek laboratoriumss dilengkapi (pre op).

2.5 Pemeriksaan penunjang


1) Thorax foto (tanggal 22 November 2018 pukul 20.00 wib):
- Cardiomegali
- Aortosclerosis
- Curiga pneumonia
2) Foto pelvis AP (tanggal 22 November 2018 pukul 20.00 wib):
- Fracture interthrochanter femur kiri disertai displacement ke superior
- Curiga fissure fracture di ramus inferior os pubis kanan kiri
2.6 Pengobatan yang di dapat di RS:
Inj. Remopain 3% 2x1 amp IV.
Golongan : Ketorolac trometahamine
Indikasi : Terapi jangka pendek untuk nyeri sedang sampai
dengan berat.
Konraindikasi : Tukak peptik aktif atau perdarahan,gangguan fungsi
ginjal, hipovolemia, dehidrasi.
ANALISA DATA

Nama : Ny. L
Umur : 76 Tahun
No.Reg : 640xxx
Tanggal Data Masalah Etiologi
22 DS: Pasien mengungkapkan Nyeri Adanya trauma
November nyeri pada daerah pinggang
2018 sebelah kiri, nyeri yang di
rasakan cekot-cokot, kehilangan Pergeseran fragmen tulang
sensasi.
DO:
- KU pasien agak lemah Terputusnya kontonuitas
- Pasien tampak tulang
menyeringai kesakitan.
- Posisi tangan
memegangi paha kiri.
- Pada bagian pinggang Rusaknya jaringan dan saraf
kiri terdapat deformitas, di daerah fraktur
bengkak, pergerakannya
abnormal, dan krepitasi.
- TTV:
- TD: 147/74 mmHg Stimulus nyeri
- N: 110x/mnt
- S: 37,30C
- RR: 16 x/mnt
- NRS: 8 Nosisepsi menginformasi
- Turgor kulit baik dapat medula spinalis dan otak
kembali dalam 1 detik,
terdapat benjolan dan
lecet pada daerah kepala
Respon saraf nyeri
belakang telinga, kulit
tidak kering.
Skala kekuatan otot: Nyeri

5 5

5 X

- Foto pelvis AP dengan


hasil : Fracture
interthrochanter femur
kiri disertai
displacement ke
superior, Curiga fissure
fracture di ramus
inferior os pubis kanan
kiri.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kontinuitas tulang akibat cedera ditandai
dengan pasien mengungkapkan nyeri pada daerah pangkal paha sebelah kiri, ku
pasien agak lemah, pasien tampak menyeringai kesakitan, posisi tangan memegangi
paha kiri, TTV: TD: 147/74 mmHg, N: 110x/mnt, S: 37,30C, RR: 16x/mnt, NRS: 8.
NURSING CARE PLANS

Tgl Diagnosa Perencanaan Evaluasi Sumatif Paraf


/jam Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional Implementasi

22 Nyeri akut Pasien 1) Jelaskan kepada 1) Meningkatkan Jam 19.00 wib Jam 20.00 wib Putri/Odil
Novem berhubungan menunjukan pasien tindakan pemahaman pasien 1) Menjelaskan kepada DS: Pasien
ber dengan penurunan skala yang akan di sehingga pasien pasien tindakan mengungkapkan
2018 kerusakan nyeri setelah lakukan. semakin kooperatif keperawatan yang nyeri berkurang
kontinuitas dilakukan saat dilakukan akan dilakukan
Jam tulang akibat tindakan tindakan perawatan. kepada pasien seperti DO:
19.00 cedera ditandai keperawatan memasang skin traksi 1. KU pasien
WIB dengan pasien selama 1 jam pada kaki bagian kiri. agak lemah
mengungkapka dengan kriteria 2) Mengatur posisi 2) Posisi nyaman dapat 2) Mengatur posisi 2. Pasien tampak
n nyeri pada hasil: yang nyaman membantu pasien yang nyaman tenang dan
daerah pangkal bagi pasien menurunkan seperti mengganjal tidak
paha sebelah - Pasien tampak seperti kaki intensitas dan skala kaki dengan bantal. menyeringai
kiri, ku pasien rileks pasien di ganjal nyeri. kesakitan.
agak lemah, - Pasien tidak dengan bantal. 3. Pasien tampak
pasien tampak menyeringai rileks.
menyeringai kesakitan. 3) Ajarkan teknik 3) Mengajarkan pada 4. TTV:
kesakitan, - TTV batas 3) Membantu mengatasi pasien cara 5. TD: 132/80
relaksasi dengan
posisi tangan normal: nyeri dengan menangani nyeri mmHg
cara
memegangi - Tekanan darah mekanisme koping. dengan relaksasi 6. N: 68x/mnt
menganjurkan
paha kiri, TTV: sistol 110-130, pasien menarik dengan cara 7. NRS: 5-6
TD: 147/74 diastol 70-90 dan menganjurkan pasien A : Masalah
mmHg, N: mmHg. menghembuskan menarik dan teratasi sebagian
110x/mnt, S: - Nadi 60- nafas panjang. menghembuskan
37,30C, RR: 100x/menit nafas panjang sampai P : intervensi 1
16x/mnt, NRS: - Suhu 36-37,5 nyeri tersebut dihentikan,
8.
o
C semakin menurun. intervensi 2, 3, 4, 10
- RR 16- 5, 6, dan 7
4) Ajarkan teknik 4) Membantu mengatasi
20x/menit. dilanjutkan.
Tgl Diagnosa Perencanaan Evaluasi Sumatif Paraf
/jam Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional Implementasi

- NRS: 6 distraksi dengan nyeri dengan 4) Memberikan konsep Advis dokter


cara tidak mekanisme distraksi dengan cara terkhir: inj.
memikirkan pengalihan perhatian memikirkan hal yang Ceftriaxone 2x1gr
kondisi kakinya pasien. lain dan tidak IV, obat oral yang
memikirkan kondisi dibawah dari
kaki kiri pasien. rumah
dilanjutkan,Tyova
Jam 19.10 wib l 80 mg 0-0-1/2,
5) Kolaborasi 5) Obat analgesik dapat bisoprolol di stop,
dengan dokter mengurangi nyeri, 5) Kolaborasi dengan k/p
dalam pemberian dan skintraksi untuk dokter dalam echocardiografi,
obat analgesik mengurangi rasa pemberian inj minum
remopain 3% nyeri yang dirasakan remopain 3% 1x IV, 1500cc/hari.
2x1 amp IV, oleh pasien. skintraksi berat 4 kg
pemasangan skin sesuai berat badan.
traksi beban
dengan beban 4
kg.

6) Untuk mengetahui Jam 19.30 wib


6) Observasi TTV
dan skala nyeri perkembangan
6) Mengobservasi TTV
pasien setiap 30 kondisi pasien dan
dan skala nyeri
menit. keberhasilan
pasien. (TD: 139/65
tindakan yang telah
mmHg,
dilakukan.
N:72X/menit, NRS:
7)
Tgl Diagnosa Perencanaan Evaluasi Sumatif Paraf
/jam Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional Implementasi

Jam 20.00 wib


7) Mengobservasi TTV
dan skala nyeri
pasien (TD: 132/80
mmHg, N: 68x/mnt,
NRS: 5-6).

11
BAB 2
REVIEW JURNAL
Judul Management of Atypical Femoral Fracture: a Scoping Review and
Comprehensive Algorithm

Jurnal BMC Musculoskeletal Disorder

Volume Dan Vol. 17 & Hal. 1-13


Halaman

Tahun 2016

Penulis Giuseppe Toro, Cristina Ojeda-Thies, Giampiero Calabrò, Gabriella


Toro, Antimo Moretti, Guillermo Martínez-Díaz Guerra, Pedro Caba-
Doussoux dan Giovanni Iolascon

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengusulkan diagnostik dan
pengobatan algoritma praktis untuk AFF dan untuk membantu ahli bedah
ortopedi dalam pengelolaan AFF.
Metode Penelitian Ulasan ini mulai dengan membuat kelompok riset yang dibentuk oleh
lima spesialis dalam bedah ortopedi dan traumatologi, physiatrist,
endokrinologi, dan radiolog. Semua anggota memiliki keahlian di bidang
penyakit tulang metabolik. Tim peneliti melakukan review scoping
dibahas dalam pertemuan awal yang masalah terbuka tentang
manajemen yang tepat untuk patah tulang femur atipikal. Setelah itu sesi
voting rahasia dilakukan dan diputuskan bahwa semua isu yang
mendapat lebih dari 50% dari orang akan telah ditangani.

Untuk menentukan patah tulang femur atipikal, kami menggunakan


kriteria yang diusulkan oleh satuan tugas ASBMR pada tahun 2010 dan
pada tahun 2013. Identifikasi artikel yang relevan untuk dimasukkan
dalam review dilakukan berikut kriteria ini:

artikel yang dipublikasikan antara Agustus 2004 dan Agustus 2015.


Periode ini dipilih karena, untuk pengetahuan kita, laporan pertama dari
hubungan yang mungkin antara BPs digunakan dan patah tulang poros
femoralis diterbitkan oleh Odvina et al. di akhir tahun 2004.

semua artikel di mana AFF itu diidentifikasi sebagai berikut kriteria


yang cocok yang didefinisikan oleh ASBMR, termasuk artikel yang
diterbitkan sebelum laporan ASBMR.

artikel yang tidak memenuhi kriteria ASBMR tapi dianggap relevan oleh
para peneliti untuk menanggapi satu atau lebih spesifik topik penelitian
(yaitu pencitraan patah tulang stres).

Hasil Penelitian Menggunakan pendekatan sistematis kami melakukan review yang


mencakup total 137 artikel. Peneliti mengidentifikasi 393 artikel dari
pencarian PubMed awal “fraktur femoralis atipikal ”. Dari jumlah
tersebut, 363 diterbitkan sejak Agustus 2004 dan oleh karena itu awalnya
dipertimbangkan dan dibahas. Sebanyak 137 artikel memenuhi kriteria
inklusi dan karena itu dimasukkan dan dibahas dalam review ini. Studi
termasuk diklasifikasikan menurut rancangan penelitian sebagai berikut:
11 studi observasional (penelitian kohort 3 registry dan 8 studi case-
kontrol), 33 studi kasus seri, 79 laporan kasus, dan 14 ulasan. Studi
kohort registry, 1 berdasarkan database administrasi Medicare, 1 di
National Pasien Register Swedia, dan 1 di Danish National Hospital
Discharge Register, menyelidiki tentang asosiasi antara BPS
menggunakan dan AFF. Studi kasus-kontrol yang bertujuan untuk
mengevaluasi risiko AFF antara pengguna BPs (1 studi), untuk ciri
pasien dengan AFF (3 studi), untuk memeriksa AFF patogenesis (2
studi), hasil dari pasien yang menderita suatu AFF (1 studi), dan untuk
menilai utilitas diagnostik pemeriksaan DXA pada individu dengan AFF
(1 studi).

Kesimpulan Fraktur femoralis atipikal adalah entitas yang langka. Fraktur femoralis
yang terjadi di wilayah antara daerah subtrochanteric dan supracondylar,
dan bahwa awalnya melibatkan korteks femoral lateral. Upaya besar
telah dilakukan untuk mengkarakterisasi patah tulang ini, dari presentasi
dan pencitraan pola klinis untuk patogenesis. Namun, tingkat bukti
dalam literatur yang tersedia adalah sangat terbatas, khususnya mengenai
pilihan pengobatan.

Kelebihan Penelitian Temuan dari penelitian ini akan berfungsi sebagai alat bagi para tenaga
medis dalam menangani pasien dengan AFF.

Kekurangan Literatur yang tersedia tentang AFF sangat terbatas, khususnya mengenai
Penelitian pilihan pengobatan.

Kontribusi Menerapkan temuan penelitian ini ke dalam praktek klinis adalah


Keperawatan penting bagi perawat. Karena hal ini dapat meningkatkan basis
pengetahuan perawat dan meningkatkan standar praktek keperawatan
guna meningkatkan kualitas tindakan keperawatan yang diberikan
kepada pasien dengan AFF.
BAB 3

PEMBAHASAN

Diagnosis dari AFF bisa langsung didapatkan, jika kriteria satgas ASBMR
digunakan untuk referensi. Jika pola AFF diamati, patah tulang leher femur atau
daerah trochanterica dengan ekstensi distal, periprosthetic dan patah tulang
patologis (kedua penyakit tulang tumoral dan lain-lain seperti penyakit Paget)
harus dikeluarkan. pengkajian lebih lanjut dari AFF dapat dilakukan dalam tiga
langkah:

1. Investigasi faktor patogen dari AFF termasuk gangguan metabolisme tulang

2. Evaluasi tulang paha kontralateral

3. Pengambilan keputusan tentang pengobatan fraktur

Peneliti menganggap bahwa AFF bisa dibedakan dalam dua subtipe


utama tergantung pada pergantian tulang: patah tulang pada individu dengan
SSBT atau tanpa SSBT. Dengan cara ini, ahli bedah ortopedi dapat membuat
diagnosis yang lebih tepat dan melakukan manajemen medis dan bedah yang lebih
baik dari patah tulang ini.

Riwayat pasien, pemeriksaan klinis dan analisis biomarker tulang yang


tepat dapat menawarkan gambaran umum tentang metabolisme tulang yang
mendasarinya. Pedoman yang diterbitkan oleh Masyarakat Eropa untuk Aspek
Klinis dan Ekonomi Osteoporosis dan Osteoarthritis (ESCEO) dan International
Osteoporosis Foundation (IOF) merekomendasikan mengumpulkan kadar kalsium
serum dan fosfor, utuh hormon paratiroid (iPTH), 25-OHVitamin D dan
setidaknya satu resorpsi (yaitu C-terminal telopeptide, CTX) dan satu
pembentukan tulang biomarker (propeptide yaitu N-terminal tipe-I procollagen,
P1NP atau alkali fosfatase tulang). Namun, disarankan untuk menyelesaikan
evaluasi kesehatan tulang melalui DXA dan penilaian metabolik lengkap, bahkan
setelah keluar dari rumah sakit.