Anda di halaman 1dari 3

Hernia dapat terjadi pada semua usia, terutama pada usia produktif dan pembedahan

merupakan salah satu cara untuk menanganinya. Intervensi bedah merupakan satu-
satunya cara mengatasi hernia. Masalah hernia pasca operasi yang sering muncul
adalah nyeri. Nyeri adalah penginderaan dan emosional pengalaman seseorang yang
tidak memberikan kenyamanan disertai dengan potensi dan kerusakan jaringan aktual
The International Association For The Study Of Pain (IASP). Menurut penelitian
sebelumnya menjelaskan bahwa nyeri merupakan sensasi tidak nyaman pada seseorang
yang tidak dapat ditularkan kepada orang lain. Penanganan nyeri pada pasien pasca
operasi hernia dapat dilakukan melalui metode farmakologis dan metode
nonfarmakologis Salah satu tindakan non farmakologis yang direkomendasikan
adalah dengan menggunakan teknik relaksasi pernapasan dalam.

Teknik relaksasi pernafasan itu sendiri merupakan suatu tindakan asuhan


keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada pasien bagaimana
melakukan teknik nafas dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan
bagaimana menghembuskan nafas secara perlahan. Selain mengurangi intensitas nyeri,
teknik relaksasi pernapasan dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan
meningkatkan oksigenasi darah. Oleh karena itu teknik relaksasi nafas dalam dapat
menurunkan intensitas nyeri.

Terapi relaksasi nafas dalam dilakukan dengan cara bernapas perlahan dan sedalam
mungkin Melalui hidung atau mulut untuk mengambil udara sebanyak mungkin ke
dalam paru-paru, menahan nafas sebentar, kemudian menghirup udara keluar secara
perlahan melalui mulut. Instruksi untuk ekspirasi dapat bervariasi dari "ekspirasi
santai normal" hingga "ekspirasi yang sedikit aktif" jika teknik mengerutkan bibir
digunakan. Banyak waktu harus disediakan untuk inspirasi dan ekspirasi, dan waktu
yang cukup harus diberikan di antara setiap napas untuk mencegah kelelahan. Oleh
karena itu Penting untuk mendapatkan instruksi yang jelas.
Jurnal 2

Relaksasi nafas dalam juga bisa mengatasi masalah ansietas,


utamanya pada pasien yang akan menjalani operasi atau pre
operasi. Preoperatif merupakan tahap awal untuk mempersiapkan
pasien semaksimal mungkin agar dapat dioperasi dengan baik,
cepat sembuh, dan terbebas dari komplikasi pasca operasi.
Keberhasilan operasi secara keseluruhan tergantung pada fase ini.
Pembedahan merupakan ancaman potensial atau nyata terhadap
integritas seseorang yang dapat menimbulkan reaksi stres
fisiologis dan psikologis.

Menurut Hulu & Pardede (2016). Kecemasan pada masa pra


operasi karena menganggap operasi adalah hal yang menakutkan.
Menurut Efendy (2008, dalam Gea 2014) dalam keadaan cemas,
tubuh akan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan yang
akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah, dada sesak, dan
emosi yang tidak stabil. Hasil kecemasan pasien pra operasi sangat
besar, ada kemungkinan operasi tidak dapat dilakukan, karena
pada pasien yang mengalami kecemasan sebelum operasi akan
muncul kelainan seperti peningkatan tekanan darah sehingga jika
operasi tetap dilaksanakan akan muncul masalah dan bisa
berakibat pada kesulitan menghentikan pendarahan, dan bahkan
setelah operasi akan mengganggu proses penyembuhan. Oleh
karena itu Salah satu cara untuk mengatasi kecemasan adalah
dengan teknik relaksasi nafas dalam dan hipnotis lima jari.

Beberapa manfaat teknik nafas dalam adalah manfaat psikologis


dari pengurangan stres yang merupakan salah satu cara
merelaksasikan tubuh dengan berkonsentrasi pada pernapasan.
Bernapas dalam-dalam dapat membantu mengurangi keparahan
dan frekuensi sakit kepala tegang yang terkait dengan stres, detak
jantung yang lambat, tekanan darah rendah, dan kelelahan.
Dengan menarik napas dalam-dalam secara perlahan, tubuh akan
menjadi lebih rileks. Perasaan rileks akan diteruskan ke
hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin-Releasing Factor
(CRF) kemudian merangsang kelenjar pituitari untuk
meningkatkan produksi Proopioidmelanocortin (POMC) sehingga
produksi enkephalin oleh medula adrenal meningkat dan juga
menghasilkan neurotransmitter endorphin. yang membuat rileks
(Guyton dan Hall, 2007 dalam Ariati 2012).

Kesimpulan dari dua jurnal ini bahwa terapi relaksasi nafas


dalam terbukti dapat Mengurangi rasa nyeri saat pasca operasi dan dapat
mengurangi rasa cemas saat pre operasi pada pasien hernia inguinalis lareal.