Anda di halaman 1dari 4

MATA KULIAH TAFSIR- PAI, HARI KAMIS

PERTEMUAN KE - 9, TANGGAL 15 DESEMBER 2020


TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG HUBUNGAN ANTAR AGAMA

1. Al-Mumtahanah/60: 7-9
َ ‫) ال َي ْن َها ُك ُم هَّللا ُ َع ِن الَّذ‬٧( ‫ِين َعا َد ْي ُت ْم ِم ْن ُه ْم َم َو َّد ًة َوهَّللا ُ َقدِي ٌر َوهَّللا ُ َغفُو ٌر َرحِي ٌم‬
‫ِين‬ َ ‫َع َسى هَّللا ُ أَنْ َيجْ َع َل َب ْي َن ُك ْم َو َبي َْن الَّذ‬
‫) إِ َّن َما َي ْن َها ُك ُم‬٨( ‫ين‬ ُ ِ‫ين َولَ ْم ي ُْخرجُو ُك ْم مِنْ ِد َيار ُك ْم أَنْ َت َبرُّ و ُه ْم َو ُت ْقس‬
َ ِ‫طوا إِلَي ِْه ْم إِنَّ هَّللا َ ُيحِبُّ ْال ُم ْقسِ ط‬ ِ ‫لَ ْم ُي َقا ِتلُو ُك ْم فِي ال ِّد‬
ِ ِ
‫ك‬َ ‫ار ُك ْم َو َظا َهرُوا َعلَى إِ ْخ َرا ِج ُك ْم أَنْ َت َولَّ ْو ُه ْم َو َمنْ َي َت َولَّ ُه ْم َفأُولَ ِئ‬ َ ِ ‫ِين َقا َتلُو ُك ْم فِي ال ِّد‬
ِ ‫ين َوأ ْخ َرجُو ُك ْم مِنْ ِد َي‬ َ ‫هَّللا ُ َع ِن الَّذ‬
)٩( ‫ُون‬ َ ‫الظالِم‬ َّ ‫ُه ُم‬
Artinya: " Mudah-mudahan Allah bahawa menjadikan di antara kalian dan di antara orang-orang yang kalian
musuhi dari mereka kasih sayang (7).. Allah tidak melarang kalian dari orang-orang yang tidak memerangi
kalian dalam agama, dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian, bahawa berbuat baik pada
mereka, dan kalian berlaku adil kepada mereka (8). Sungguh hanyalah Allah melarang kalian dari orang-
orang yang me- merangi kalian dalam agama, dan mengusir kalian dari kampung halaman kalian, dan
mereka membantu atas pengusiran kalian bahawa menjadikan mereka kawan." (9)(Surah Al Mumtahanah,
ayat 7- 9)
Tafsiran ayat diatas :
Ayat diatas menjelaskan dengan leluasa Allah SWT. memberikan timbulan kasih sayang antara kalian
dengan orang-orang yang kalian musuhi di antara mereka. Yaitu rasa kasih sayang sesudah kebencian, dan
rasa simpati sesudah antipati, dan kerukunan sesudah berpecah belah dengan memberi mereka hidayah untuk
beriman.
Dalam ayat ini juga terdapat isyarat dan khabar gembira bahwa sebagian kaum musyrikin yang
sebelumnya memusuhi kaum muslimin akan masuk ke dalam Islam, dan begitulah yang telah berlaku
diantaranya Abu Sufyan.Dimana ayat-ayat tersebut mendorong untuk memusuhi orang-orang kafir. Maka
kaum mukmin mendapat pengaruh besar sehingga mereka melaksanakannya dengan sebenar-benarnya.
Mereka merasa berdosa ketika menyambung tali silaturrahim kepada kerabat mereka yang masih musyrik
dan mereka menyangka bahwa demikian termasuk ke dalam hal yang dilarang Allah.
Qatilah binti Abdul Uzza, di masa terjadinya perjanjian perdamaian (gencatan senjata) dengan
orang-orang Quraisy, datang menemui anak perempuannya (Asma binti Abu Bakar r.a.) dengan membawa
hadiah-hadiah seperti keju, ubat penyamak kulit, dan minyak samin, sedangkan Qatilah masih dalam
keadaan musyrik. Pada mulanya Asma menolak menerima kedatangan ibunya, dan masuk ke dalam
rumahnya, lalu bertanya kepada Aisyah r.a., dan Rasulullah s.a.w. ditanya tentang hal itu. Maka Allah
menurunkan firmanNya.
Dalam ayat selanjutnya menerangkan Allah SWT. tidak melarang kamu berbuat baik, bersila-
turrahim, membalas kebaikan dan berbuat adil kepada kaum musyrikin baik kerabatmu maupun selain
mereka yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung
halamanmu, maka tidak mengapa bagimu menyambung tali silaturrahim dengan mereka, kerana men-
yambung tali silaturrahim dalam keadaan ini tidak ada mafsadatnya. Nabi s.a.w. bersabda kepada Asma,
"Ya, bersilaturahimlah kepada ibumu." Nabi s.a.w. memerintahkan kepada Asma agar menerima hadiah
ibunya itu dan mempersilakan ibunya masuk ke dalam rumahnya.
Sebuah hadis sahih menyebutkan, "Orang-orang yang berlaku adil (kelak) berada di atas mimbar-
mimbar dari cahaya berada di sebelah kanan 'Arasy; (yaitu) orang-orang yang berlaku adil dalam keputusan
hukum mereka, berlaku adil terhadap keluarga dan apa yang dikuasakan kepada mereka.’
Kemudian ayat selanjutnya ini Allah SWT. menjelaskan bahwa Allah SWT. hanya melarang
kaum Muslimin bertolong-tolongan dengan orang-orang yang menghambat atau menghalangi manusia
beribadah di jalan Allah, dan memurtadkan kaum Muslimin sehingga ia berpindah kepada agama lain, yang
memerangi, mengusir, dan membantu pengusir kaum Muslimin dari negeri mereka. Dengan orang yang
semacam itu, Allah dengan tegas melarang kaum Muslimin untuk berteman dengan mereka. Di akhir ayat ini
juga, Allah mengingatkan kaum Muslimin yang menjadikan musuh-musuh mereka sebagai teman dan
tolong-menolong dengan mereka, bahwa jika mereka melanggar larangan ini, maka mereka adalah orang-
orang yang zalim.
2. Al-Baqarah/2: 120, 139, 212
a. Surat Al-Baqarah Ayat : 120
ٰۗ ‫د‬Kُ‫و ۡٱله‬KKُ‫ص َر ٰى َحتَّ ٰى تَتَّب َع ملَّتَهُمۡۗ قُ ۡل إ َّن هُدَى ٱهَّلل ه‬
‫ َد ٱلَّ ِذي‬K‫ َوٓا َءهُم بَ ۡع‬K‫َى َولَئِ ِن ٱتَّبَ ۡعتَ أَ ۡه‬ َ ِ ِ ِ ِ َ ٰ َّ‫ض ٰى عَنكَ ۡٱليَهُو ُد َواَل ٱلن‬ َ ‫َولَن ت َۡر‬
)١٢٠( ‫ير‬ ِ ‫ك ِمنَ ٱهَّلل ِ ِمن َولِ ٖ ّي َواَل ن‬ ۡ ۡ
َ َ‫ك ِمنَ ٱل ِعل ِم َما ل‬
ٍ ‫َص‬ َ ‫َجٓا َء‬
Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan sesungguhnya
jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi
pelindung dan penolong bagimu.”( Surah Al-Baqarah Ayat : 120)
Dalam ayat di atas berkenaan dengan tugas kenabian Muhammad SAW. di mana Allah memberi
tahu beliau untuk tidak usah mencari kerelaan Yahudi dan Nasrani tapi fokus mencari ridha Allah SWT.
Bagian pertama ayat di atas "orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka" Oleh karena itu, Allah SWT. menyuruh Nabi SAW. tetaplah fokus mencari ridha
Allah dalam mendakwahi mereka ke jalan kebenaran yang menjadi misi risalahmu dari Allah SWT.

b. Surat Al-Baqarah Ayat : 139


َ ‫قُ ْل أَ ُت َحاجُّ و َن َنا فِي هَّللا ِ َوه َُو َر ُّب َنا َو َر ُّب ُك ْم َولَ َنا أَعْ َمالُ َنا َولَ ُك ْم أَعْ َمالُ ُك ْم َو َنحْ نُ لَ ُه م ُْخلِص‬
‫ُون‬
Artinya: “Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah
Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami
mengikhlaskan hati”( Surat Al-Baqarah Ayat : 139)
Dalam ayat ini Allah SWT. menjelaskan bahwa derajat manusia bukan diukur dengan bangsa,
keturunan dan pangkatnya, tetapi diukur dengan amal dan perbuatannya. Pengaruh perbuatan itu tampak
pada diri setiap manusia dan tingkah lakunya. Perbuatan yang baik memberi pengaruh yang baik, sebaliknya
perbuatan yang buruk memberi pengaruh yang buruk pula. Hanya Allah yang dapat menilai perbuatan itu.

c. Surat Al-Baqarah Ayat : 212


ُ ‫ُزیِّنَ لِلَّ ِذ ۡینَ َکفَرُوا ۡال َح ٰیوۃُ ال ُّد ۡنیَا َو یَ ۡس َخر ُۡونَ ِمنَ الَّ ِذ ۡینَ ٰا َمنُ ۡوا ۘ َو الَّ ِذ ۡینَ اتَّقَ ۡوا فَ ۡوقَہُمۡ یَ ۡو َم ۡالقِ ٰی َم ِۃ ؕ َو ہّٰللا ُ یَ ۡر ُز‬
‫ق َم ۡن یَّ َشٓا ُء بِغ َۡی ِر‬
‫ب‬
ٍ ‫ِح َسا‬
Artinya:” Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang
hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari
kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”( Surat Al-
Baqarah Ayat : 212)
Dalam ayat ini Allah menyebutkan perhiasan kehidupan duniawi yang diberikan-Nya kepa- da
orang-orang kafir, yaitu mereka yang merasa puas dengannya dan merasa tenang bergelimang di dalamnya
serta berupaya menghimpun harta benda, tetapi mereka tidak mau membelanjakannya ke jalan-jalan yang
diperintahkan pada mereka untuk mengeluarkannya, yaitu jalan-jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Bahkan
mereka mengolok-olokkan orang-orang beriman yang berpaling dari kesenangan duniawi, yaitu mereka yang
membelanjakan sebagian apa yang mereka peroleh dari harta benda itu untuk ketaatan kepada Tuhan
mereka.Mereka membelanjakannya demi memperoleh ridha Allah. Karena itu, mereka peroleh kedudukan
paling bahagia di hari mereka kembali pada hari kiamat nanti. Kelak di hari kiamat keadaan orang-
orang mukmin tersebut berada di atas mereka.
Orang-orang yang beriman akan menetap pada kedudukan yang paling tinggi di dalam surga,
sedangkan orang-orang kafir berada di bagian paling bawah dari neraka- Jahannam dengan kekal dan untuk
selama-lamanya. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan Allah memberi rezeki kepada
orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas” Yakni Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang
dikehendaki-Nya dari kalangan makhluk-Nya dan memberinya pemberian yang banyak lagi berlimpah tanpa
batas dan tanpa hitungan, baik di dunia maupun di akhirat
3. Surat Ali Imran/3: 64
ُ ‫م أَال نَ ْعبُ َد إِال هَّللا َ َوال نُ ْش ِركَ بِ ِه َش ْيئًا َوال يَتَّ ِخ َذ بَ ْع‬Kْ ‫ب تَ َعالَوْ ا إِلَى َكلِ َم ٍة َس َوا ٍء بَ ْينَنَا َوبَ ْينَ ُك‬
‫ضنَا بَ ْعضًا‬ ِ ‫قُلْ يَا أَ ْه َل ْال ِكتَا‬
)64( َ‫ ا ْشهَدُوا بِأَنَّا ُم ْسلِ ُمون‬K‫ُون هَّللا ِ فَإِ ْن تَ َولَّوْ ا فَقُولُوا‬ ِ ‫أَرْ بَابًا ِم ْن د‬
Artinya:”Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan
antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan
sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah.
Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang
yang menyerahkan diri (kepada Allah)."( Surat Ali Imran/3: 64)
Pada ayat ini Allah SWT. menjelaskam bahwa Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi
Muhammad, agar mengajak Ahli Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani untuk berdialog secara adil dalam mencari
asas-asas persamaan dari ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul dan kitab-kitab yang diturunkan kepada
mereka, yaitu Taurat, Injil dan Alquran. Kemudian Allah menjelaskan maksud ajakan itu yaitu agar mereka
tidak menyembah selain Allah SWT. yang mempunyai kekuasaan yang mutlak, yang berhak
menciptakan syariat dan berhak menghalalkan dan mengharamkan, serta tidak mempersekutukan-Nya.
Dalam ayat ini juga terdapat sebuah ketentuan bahwa semua masalah yang berhubungan dengan
ibadah atau dengan halal dan haram, hanya ada di dalam Alquran dan Hadis, yang dijadikan pokok pegangan
dalam menetapkannya, bukan pendeta pemimpin dan bukan pula pendapat ahli hukum yang kenamaan
sekalipun. Kemudian masalah yang tidak berkaitan langsung dengan akhirat dan ibadah, seperti urusan
peradilan, dan urusan politik, Allah SWT. telah melim- pahkan kekuasaan-Nya kepada manusia yang
berilmu, seperti Ahlul Halli wal ‘Aqdi, yaitu para ahli berbagai bidang dalam masyarakat. Maka apa yang
ditetapkan mereka hendaklah ditaati selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok agama. Maka ayat ini
juga menjadi dasar dan pokok pegangan bagi dakwah Nabi Muhammad SWA.  untuk mengajak Ahli
Kitab mempraktekkannya. Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam, seperti terdapat dalam surat beliau
yang ditujukan kepada Heraklius dan Muqauqis dan Kisra Persia.

4. Surat Al-Kafirun/109: 1-5


)4( ‫) َواَل أَنَا عَابِ ٌد َما َعبَ ْدتُ ْم‬3( ‫) َواَل أَ ْنتُ ْم عَابِ ُدونَ َما أَ ْعبُ ُد‬2( َ‫) اَل أَ ْعبُ ُد َما تَ ْعبُ ُدون‬1( َ‫قُلْ يَا أَ ُّيهَا ْال َكافِرُون‬
)5( ‫َواَل أَ ْنتُ ْم عَابِ ُدونَ َما أَ ْعبُ ُد‬
Artinya:” Katakanlah: “Hai orang-orang kafir(1), aku tidak akan menyembah apa yang kamu
sembah(2). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah (3). Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa yang kamu sembah(4), dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah
Tuhan yang aku sembah (5)”
Tafsiran ayat diatas:
Pada Ayat ini sebenarnya ditujukan pada orang-orang kafir di muka bumi ini. Akan tetapi, konteks
ayat ini membicarakan tentang kafir Quraisy. Ada ulama yang menyatakan bahwa karena kejahilan
orang kafir Quraisy, mereka mengajak Rasul SAW. untuk beribadah kepada berhala mereka selama
satu tahun, lalu mereka akan bergantian beribadah kepada sesembahan Rasul SAW. (yaitu Allah
Ta’ala) selama setahun pula. Akhirnya Allah SWT. pun menurunkan surat ini. Allah SWT. meme-
rintahkan kepada Rasul-Nya untuk berlepas diri dari agama orang-orang musyrik tersebut secara
total. “A
ku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”, yaitu berhala dan tandingan-tandingan selain
Allah. Maksud firman Allah selanjutnya, “Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”,
yaitu yang aku sembah adalah Allah SWT. semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala
firmankan selanjutnya, “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”,
maksudnya adalah aku tidak akan beribadah dengan mengikuti ibadah yang kalian lakukan, aku
hanya ingin beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah cintai dan ridhai. Oleh karena itu
selanjutnya Allah Ta’ala mengatakan kembali, “Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah
Tuhan yang aku sembah”, maksudnya adalah kalian tidak akan mengikuti perintah dan syari’at
Allah SWT. dalam melakukan ibadah, bahkan yang kalian lakukan adalah membuat-buat ibadah
sendiri yang sesuai selera hati kalian. Ayat-ayat
ini secara jelas menunjukkan berlepas diri dari orang-orang musyrik dari seluruh bentuk
sesembahan yang mereka lakukan. Seorang hamba seharusnya memiliki sesembahan yang ia
sembah. Ibadah yang ia lakukan tentu saja harus mengikuti apa yang diajarkan oleh se-
sembahannya. Rasul SAW. dan para pengikutnya menyembah Allah SWT. sesuai dengan apa yang
Allah SWT. syariatkan. Inilah konsekuensi dari kalimat Ikhlas “Laa ilaha illallah, Muhammadur
Rasulullah”. Maksud kalimat yang agung ini adalah “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi
melainkan Allah, dan jalan cara untuk melakukan ibadah tersebut adalah dengan mengikuti ajaran
Rasul SAW”.  Orang-orang musyrik melakukan ibadah kepada selain Allah, padahal tidak Allah
SWT. izinkan. Oleh karena itu Rasul SAW.mengatakan kepada mereka, “Untukmu agamamu, dan
untukkulah, agamaku.” Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah,

َ‫َوإِ ْن َك َّذبُوكَ فَقُلْ لِي َع َملِي َولَ ُك ْم َع َملُ ُك ْم أَ ْنتُ ْم بَ ِريئُونَ ِم َّما أَ ْع َم ُل َوأَنَا بَ ِري ٌء ِم َّما تَ ْع َملُون‬
Artinya: “Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu
pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri
terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)

‫لَنَا أَ ْع َمالُنَا َولَ ُك ْم أَ ْع َمالُ ُك ْم‬


Artinya: “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.” (QS. Asy Syura: 15)
Allahu’alam