Anda di halaman 1dari 7

MATA KULIAH TAFSIR- PAI, HARI KAMIS

PERTEMUAN KE - 11, TANGGAL 31 DESEMBER 2020


TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG SEJARAH
Tafsir ayat-ayat tentang
a. Surat Hud/11: 120
َ‫ لِ ْل ُم ْؤ ِمنِين‬6‫ق َو َموْ ِعظَةٌ َو ِذ ْك َرى‬
ُّ ‫ك فِي هَ ِذ ِه ْال َح‬ ُ ‫َو ُكال نَقُصُّ َعلَ ْيكَ ِم ْن أَ ْنبَا ِء الرُّ س ُِل َما نُثَب‬
6َ ‫ِّت بِ ِه فُؤَا َد‬
َ ‫ك َو َجا َء‬
Artinya:”Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang
dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta
pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”( Surat Hud/11: 120)
Dalam ayat ini Allah SWT. menerangkan tentang kisah para rasul terdahulu bersama
umatnya, seperti peristiwa perdebatan dan permusuhan di antara mereka, keluhan para nabi karena
kaumnya mendustakan serta menyakiti dan sebagainya, semuanya itu berguna untuk meneguhkan
hati Rasulullah agar tidak tergoyahkan oleh apa pun untuk mengemban tugas kerasulan dan
menyiarkan dakwahnya.
Pada kisah-kisah tersebut dapat menanamkan keyakinan yang mantap dan mendalam
tentang apa yang diserukan para rasul, seperti akidah bahwa Allah SWT. adalah Esa, bertaubat dan
beribadah kepada-Nya dengan ikhlas, meninggalkan kejahatan, baik yang nyata maupun yang tidak
nyata. Kesemuanya itu merupakan pelajaran dan peringatan yang bermanfaat bagi orang-
orang mukmin bahwa umat terdahulu itu ditimpakan azab kepadanya karena mereka telah berbuat
aniaya dan kerusakan di bumi.
Dalam tafsir ibnu katsir menyebutkan bahwa Allah SWT., menyebutkan bahwa semua
kisah para rasul terdahulu bersama umatnya masing-masing sebelum engkau (Muhammad) Kami
ceritakan kepadamu perihal mereka. Dekian juga perihal pertentangan dan permusuhan yang
dilancarkan oleh mereka terhadap nabinya masing-masing, dan pendustaan serta gangguan mereka
yang dilancarkan terhadap para nabinya. Lalu Allah menolong golongan orang-orang yang beriman
dan menghinakan musuh-musuh-Nya yang kafir. Semuanya itu diceritakan untuk meneguhkan hati
mu, hai Muhammad. Dan agar engkau mempunyai suri teladan dari kalangan saudara-saudaramu
para rasul yang terdahulu.

b. Surat Al-Ahzab/ 33: 38-39,


َ‫)الَّ ِذين‬38(‫ض هَّللا ُ لَهُ ُسنَّةَ هَّللا ِ فِي الَّ ِذينَ خَ لَوْ ا ِم ْن قَ ْب ُل َو َكانَ أَ ْم ُر هَّللا ِ قَ َدرًا َم ْقدُورًا‬ ٍ ‫َما َكانَ َعلَى النَّبِ ِّي ِم ْن َح َر‬
َ ‫ج فِي َما فَ َر‬
)39( ‫ت هَّللا ِ َويَ ْخ َشوْ نَهُ َوال يَ ْخ َشوْ نَ أَ َحدًا إِال هَّللا َ َو َكفَى بِاهَّلل ِ َح ِسيبًا‬ ِ ‫يُبَلِّ ُغونَ ِر َساال‬
Artinya:”Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya.
(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu
dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku (38), (yaitu) orang-orang
yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut
kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan (39)”
(Surat Al-Ahzab/ 33: 38-39)
Tafsir Quran Surat Al-Ahzab Ayat 38 ini, Allah SWT. menjelaskan cerita bahwa Nabi
Muhammad SAW. tidak memikul dosa karena melakukan apa yang Allah SWT. halalkan, yaitu
menikahi mantan istri anak angkatnya setelah dia diceraikan, sebagaimana Allah SWT.
menghalalkannya untuk nabi-nabi sebelumnya. Ini adalah Sunnah Allah dalam agama pada orang-
orang yang terdahulu dan perkara Allah adalah sesuatu yang telah ditakdirkan dan pasti akan
terlaksana.
Orang-orang Yahudi sering mencela Nabi Muhammad SAW. karena mempunyai istri yang
banyak, padahal mereka mengetahui bahwa nabi-nabi sebelumnya ada yang lebih banyak istrinya
seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Nabi Muhammad SAW. diperintahkan Allah supaya tidak
menghiraukan pembicaraan khalayak ramai sehubungan dengan pernikahan beliau dengan Zainab.
Ketika Zaid telah menceraikan istrinya, Allah SWT. menikahkan Rasulullah SAW. deng-
an Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi bekas istri anak angkat
apabila telah diceraikan. Ketetapan Allah tentang pernikahan Zainab dengan Nabi adalah suatu
ketetapan yang sudah pasti. Diriwayatkan oleh Bukhari dan at-Tirmidzi bahwa Zainab sering mem-
bangga-banggakan dirinya di hadapan istri-istri Nabi.
Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa tidak ada dosa atau tekanan pada Nabi
Muhammad SAW, dalam urusan yang telah Allah halalkan berupa menikahi mantan istri anak
angkatnya. Serta dalam hal ini dia mengikuti sunah para nabi sebelumnya, dan dia bukanlah yang
pertama kali melakukannya di antara para rasul. Dan apa yang telah Allah tentukan, berupa
pelaksanaan pernikahan ini dan pembatalan pengangkatan anak di mana Nabi tidak mempunyai
pendapat dan pilihan lain dalam hal ini, adalah sebuah ketentuan yang harus dilaksanakan, tidak
mungkin untuk ditolak.
Penafsiran Surat Al Ahzab (33) : 39. Allah menerangkan bahwa rasul–rasul yang terdahulu
dari Nabi Muhammad itu telah melaksanakan sunatullah. Mereka adalah orang-orang yang penuh
dengan ketakwaan dan keikhlasan dalam beribadah. Mereka juga orang-orang yang menyam-
paikan syariat–syariat Allah, sangat takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada selain-Nya.
Nabi Muhammad pun diperintahkan untuk menjadikannya teladan dalam melaksanakan sunatullah,
dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.

c. Surat Fathir/35: 44
ِ ‫ا أَ َش َّد ِم ْنهُ ْم قُ َّوةً ۚ َو َما َكانَ ٱهَّلل ُ لِيُع‬6۟‫ُوا َك ْيفَ َكانَ ٰ َعقِبَةُ ٱلَّ ِذينَ ِمن قَ ْبلِ ِه ْم َو َكانُ ٓو‬
‫ْج َز ۥهُ ِمن‬ 6۟ ‫ض فَيَنظُر‬ ۟
ِ ْ‫أَ َولَ ْم يَ ِسيرُوا فِى ٱأْل َر‬
ِ ْ‫ت َواَل فِى ٱأْل َر‬
6‫ض ۚ إِنَّ ۥهُ َكانَ َعلِي ًما قَ ِدي ًرا‬ ِ ‫َش ْى ٍء فِى ٱل َّس ٰ َم ٰ َو‬
Artinya:”Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan
orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari
mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”( Surat Fathir/35: 44)
Penafsiran Quran Surat Fatir Ayat 44 ini Allah SWT. menceritakan Apakah orang-orang kafir
Makkah itu tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka melihat bagaimana kesudahan orang-orang
sebelum mereka seperti Ad, Tsamud dan semisal mereka, dan siksaan yang menimpa mereka
semua, dan negeri mereka yang dihancurkan karena kedustaan mereka kepada rasul, dan orang-
orang kafir itu lebih kuat dan lebih tangguh daripada orang-orang kafir Makkah ? tidak ada sesuatu
pun di langit dan di bumi yang bisa melemahkan Allah atau bisa luput dariNya. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui perbuatan mereka, juga Mahakuasa untuk membinasakan mereka.
Dalam Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih
bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) 44. Apakah mereka tidak pernah melakukan
perjalanan di bumi sehingga tidak dapat melihat kesudahan umat-umat terdahulu dan peninggalan
mereka yang telah hancur? Bagaimana peradaban mereka yang sangat maju, kemudian hancur dan
sirna? Sungguh kekuatan mereka tidak dapat menyelamatkan mereka, dan tidak ada yang dapat
menghalangi kuasa Allah. Dia Maha Mengetahui segalanya, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya,
dan Dia Maha Kuasa memberi azab bagi orang yang menyelisihi dan menentang-Nya. (https://
tafsirweb.com/7910-quran-surat-fatir-ayat-44.html)

d. Surat Al-Ma’idah/5: 81-84


ِ َّ‫)لَت َِجد ََّن أَ َش َّد الن‬81( َ‫اسقُون‬
‫اس‬ ِ َ‫َولَوْ َكانُوا ي ُْؤ ِمنُونَ بِاهَّلل ِ َوالنَّبِ ِّي َو َما أُ ْن ِز َل إِلَ ْي ِه َما اتَّخَ ُذوهُ ْم أَوْ لِيَا َء َولَ ِك َّن َكثِيرًا ِم ْنهُ ْم ف‬
‫ارى َذلِكَ بِأ َ َّن ِم ْنهُ ْم‬ َ ‫م َم َو َّدةً لِلَّ ِذينَ آ َمنُوا الَّ ِذينَ قَالُوا إِنَّا ن‬6ُْ‫د َوالَّ ِذينَ أَ ْش َر ُكوا َولَت َِجد ََّن أَ ْق َربَه‬6َ ‫َعدَا َوةً لِلَّ ِذينَ آ َمنُوا ْاليَهُو‬
َ ‫َص‬
‫ُول ت ََرى أَ ْعيُنَهُ ْم تَفِيضُ ِمنَ ال َّد ْم ِع ِم َّما‬ 6ِ ‫) َوإِ َذا َس ِمعُوا َما أُ ْن ِز َل إِلَى ال َّرس‬82( َ‫م ال يَ ْستَ ْكبِرُون‬6ُْ‫قِسِّي ِسينَ َو ُر ْهبَانًا َوأَنَّه‬
‫ع أَ ْن‬6ُ ‫َط َم‬ْ ‫ق َون‬ ِّ ‫) َو َما لَنَا ال نُ ْؤ ِمنُ بِاهَّلل ِ َو َما َجا َءنَا ِمنَ ْال َح‬83( َ‫ َم َع ال َّشا ِه ِدين‬6‫ق يَقُولُونَ َربَّنَا آ َمنَّا فَا ْكتُ ْبنَا‬ ِّ ‫ ِمنَ ْال َح‬6‫ع ََرفُوا‬
)84( َ‫يُ ْد ِخلَنَا َربُّنَا َم َع ْالقَوْ ِم الصَّالِ ِحين‬
Artinya:”Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu
menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik )81)
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang
yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, dan sesungguhnya kamu dapati
yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang
berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara
mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesung-
guhnya mereka tidak menyombongkan diri(82). Dan apabila mereka mendengarkan apa yang ditu-
runkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata:
"Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi
(atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad saw.)(83) Mengapa kami tidak akan beriman
kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar
Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?(84)" ( Surat Al-
Ma’idah/5: 81-84)
Pada Surat Al-Ma’idah/5: ayat 81 ini Allah SWT. menerangkan bahwa kalau masya-
rakat Yahudi yang tolong-menolong dengan kaum musyrik Arab itu beriman kepada Nabi  Musa
sebagaimana pengakuan mereka, serta beriman kepada ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa,
tentulah mereka tidak mungkin tolong-menolong dengan orang-orang musyrik yang menyem-
bah berhala. Karena ajaran agama mereka yang murni tidak dapat membenarkan hal itu. Akan tetapi
kebanyakan mereka adalah orang fasik yang oleh karenanya mereka dapat bersatu dan berkerja
sama karena diikat oleh suatu kepentingan yaitu menentang Nabi Muhammad, menolak ajaran-
ajaran Alquran dan berusaha membikin jera orang yang beriman kepada Muhammad.SAW.
Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi: menyebutkan (Sekiranya mereka beriman
kepada Allah, kepada Nabi) Muhammad (dan kepada apa yang diturunkan kepadanya niscaya
mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu) orang-orang kafir (menjadi penolong-
penolong tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik/durhaka) mereka adalah
orang-orang yang menyimpang dari keimanan.
Panafsiran Quran Surat Al-Ma’idah Ayat 82 Allah SWT. menjelaskan kamu benar-benar
akan mendapati (wahai rasul), orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang yang
membenarkanmu dan beriman kepadamu serta mengikutimu adalah kaum yahudi, karena besarnya
penentangan mereka, pengingkaran mereka dan penolakan mereka terhadap kebenaran, dan orang-
orang yang menyekutukan Allah dengan selainNYa, seperti para penyembah berhala dan lain-lain.
Dan kamu benar-benar akan mendapati orang yang paling dekat persahabatnnya dengan kaum
muslimin adalah orang-orang yang mengatakan, ”sesungguhnya kami adalah kaum nasrani”
Demikian ini lantaran diantara mereka ada tokoh-tokoh agama yang zuhud, dan ahli-ahli ibadah di
dalam biara-biara yang larut dalam ibadah. Dan mereka adalah orang-orang yang tawdhu, tidak
sombong untuk mau menerima kebenaran. Dan mereka itu adalah orang-orang yang menerima
kerasulan Muhammad dan mengimaninya.
Dalam Tafsir Al-Muyassar menyebutkan sungguh kamu -wahai Rasul-, benar-benar akan
mendapati bahwa orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman
kepadamu adalah orang-orang Yahudi; karena rasa dengki, iri hati, dan kesombongan yang ada di
dalam hati mereka, para penyembah berhala, dan orang-orang musyrik lainnya. Dan kamu benar-
benar akan mendapati bahwa orang yang paling dekat dengan orang-orang yang beriman kepadamu
dan kepada kitab suci yang kamu bawa ialah orang-orang yang berkata tentang diri mereka sendiri,
bahwa mereka adalah orang-orang Nasrani. Dan ayat ini menjelaskan bahwa mereka itu lebih
bersahabat dengan orang-orang mukmin karena di antara mereka terdapat para ulama yang tekun
beribadah, rendah hati, dan tidak sombong. Karena hati orang-orang yang sombong tidak bisa
dimasuki kebaikan. (https://tafsirweb.com/1966-quran-surat-al-maidah-ayat-82.html)
Pada Surat Al-Ma’idah Ayat 83 Allah SWT menerangkan bahwa pada saat kaum  Nasrani
mendengar dan memahami kandungan ayat-ayat Alquran, ada di antara mereka yang mencucurkan
air mata karena sangat terharu dan yakin atas kebenaran Alquran yang diturunkan Allah
kepada Nabi Muhammad yang ternyata membenarkan kitab suci mereka. Mereka terharu pula oleh
sifat-sifat Nabi Muhammad yang telah mereka kenal sebelumnya dari kitab suci mereka. Pada saat
demikian, mereka dengan rendah hati berkata, "Ya Tuhan kami, kami beriman kepada-Mu dan
kepada rasul–rasul-Mu, terutama Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, masukkanlah kami bersama
orang-orang yang mengakui kebenaran Alquran dan Nabi Muhammad, yang akan menjadi saksi
pada hari Kiamat nanti bahwa Engkau benar-benar telah mengutus para nabi dan rasul-Mu, dan
bahwa mereka benar-benar telah menyampaikan agama-Mu kepada umat mereka masing-masing."
Selanjutnya mereka menyatakan bahwa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi
mereka untuk beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan melalui Rasul-
Nya yang terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Kemudian mereka tegaskan pula bahwa
mereka beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang dibawa Rasul-Nya, karena mereka
sangat ingin agar Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang saleh, yaitu
umat Nabi Muhammad, karena ajaran agama Islam yang benar, baik mengenai keimanan, ibadah,
mu’amalah dan akhlak yang luhur.
Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan apabila mereka mendengarkan
apa yang diturunkan kepada Rasul, yaitu sebagian dari Alquran (kamu lihat mata mereka
mencucurkan air mata disebabkan kebenaran Alquran yang telah mereka ketahui dari kitab kitab
mereka sendiri, seraya berkata, "Ya Tuhan kami! Kami telah beriman) kami telah percaya kepada
Nabi-Mu dan Kitab-Mu (maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi -atas kebena-
ran Alquran dan kenabian Nabi Muhammad-.") orang-orang yang mengakui dirinya beriman
kepada keduanya.
Penafsir Quran Surat Al-Ma’idah Ayat 84 Allah SWT. menerangkan Dan mereka berkata ,
”dan celaan apapun yang tertuju pada kami terkait keimanan kami kepada Allah dan pembernaran
kami terhadap kebenaran yang dibawa Muhammad dari sisi Allah, serta komitmen kami untuk
mengikutinya, Dan kami mengharap tuhan kami memasukkan kami bersama orang-orang yang taat
kepadaNYa ke dalam surgaNya pada hari kiamat?”.
Dalam ayat inijuga diterangkan bahwa pada saat kaum Nasrani mendengar dan memahami
kandungan ayat-ayat Alquran, ada di antara mereka yang mencucurkan air mata karena sangat
terharu dan yakin atas kebenaran Alquran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad yang
ternyata membenarkan kitab suci mereka. Mereka terharu pula oleh sifat-sifat Nabi Muhammad 
yang telah mereka kenal sebelumnya dari kitab suci mereka. Pada saat demikian, mereka dengan
rendah hati berkata, "Ya Tuhan kami, kami beriman kepada-Mu dan kepada rasul–rasul-Mu,
terutama Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, masukkanlah kami bersama orang-orang yang
mengakui kebenaran Alquran dan Nabi Muhammad, yang akan menjadi saksi pada hari Kiamat
nanti bahwa Engkau benar-benar telah mengutus para nabi dan rasul-Mu, dan bahwa mereka benar-
benar telah menyampaikan agama-Mu kepada umat mereka masing-masing."
Selanjutnya mereka menyatakan bahwa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi
mereka untuk beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan melalui Rasul-
Nya yang terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Kemudian mereka tegaskan pula bahwa
mereka beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang dibawa Rasul-Nya, karena mereka
sangat ingin agar Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang saleh, yaitu umat 
Nabi Muhammad, karena ajaran agama Islam yang benar, baik mengenai keimanan, ibadah, mu’-
amalah dan akhlak yang luhur (https://tafsirweb.com/1968-quran-surat-al-maidah-ayat-84.html).

e. Surat Yusuf/12: ayat 3


َ‫ك هَ َذا ْالقُرْ آنَ َوإِ ْن ُك ْنتَ ِم ْن قَ ْبلِ ِه لَ ِمنَ ْالغَافِلِين‬
َ ‫ص بِ َما أَوْ َح ْينَا إِلَ ْي‬ َ َ‫ك أَحْ َسنَ ْالق‬
ِ ‫ص‬ َ ‫نَحْ نُ نَقُصُّ َعلَ ْي‬
Artinya:”Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an
ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-
orang yang belum mengetahui”( Surat Yusuf/12: ayat 3)
Pada ayat ini, Allah mengkhususkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dan tentu
saja untuk diperhatikan oleh orang Arab dan umat manusia seluruhnya. Para mufasir mengatakan
bahwa surah Yusuf ini adalah salah satu surah dalam Al-Quran yang diturunkan untuk menghibur
dan menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW. di kala beliau menderita tekanan-tekanan yang
berat dari kaum Quraisy berupa cemoohan, pembangkangan, dan tindakan kekerasan sehingga
beliau terpaksa hijrah bersama Abu Bakar ke Madinah. Demikian juga halnya kisah Nabi Yusuf ini
adalah suatu kisah yang menarik sekali, dikisahkan dengan cara terperinci, tiap babak
mengandung hikmah yang dalam dan pelajaran yang besar manfaatnya bagi orang yang
memperhatikannya, apalagi bila dilihat dari segi keindahan susunan bahasa dan isi ceritanya yang
belum dikenal seluruhnya baik oleh Nabi Muhammad SAW sendiri maupun oleh kaum Quraisy dan
orang Arab pada umumnya.
Kisah ini selain menceritakan keadaan Nabi Yakub `alaihis salam beserta anak-anaknya
yang masih hidup dengan cara kehidupan orang-orang Badui, menceritakan pula bagaimana
kehidupan dalam masyarakat yang telah maju dan berkebudayaan tinggi, bagaimana kehidupan para
penguasa yang penuh dengan kemewahan serta kesenangan dan bagaimana pula cara mereka
mengendalikan pemerintahan dan mengatur perekonomian negara. Benarlah firman Allah SWT.
yang mengatakan bahwa kisah Nabi Yusuf `alaihis salam yang akan dikisahkan berikut ini adalah
kisah yang paling baik, menarik, dan yang paling indah penggambarannya.

f. Surat Al-Baqarah/2: 124-129


َ‫ال َو ِم ْن ُذ ِّريَّتِي ۖ قَا َل اَل يَنَا ُل َع ْه ِدي الظَّالِ ِمين‬ ِ َّ‫ت فَأَتَ َّمه َُّن ۖ قَا َل إِنِّي َجا ِعلُكَ لِلن‬
َ َ‫اس إِ َما ًما ۖ ق‬ ٍ ‫َوإِ ِذ ا ْبتَلَ ٰى إِ ْب َرا ِهي َم َربُّهُ بِ َكلِ َما‬

Artinya:” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan
larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu
imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah
berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.( Surat Al-Baqarah/2: 124)
Dalam ayat ini Allah SWT menceritakan (Dan) ingatlah (ketika Ibrahim mendapat ujian)
menurut satu qiraat Ibraham (dari Tuhannya dengan beberapa kalimat) maksudnya dengan perintah
dan larangan yang dibebankan kepadanya. Ada yang mengatakan manasik atau pekerjaan haji, ada
pula berkumur-kumur, menghirup air ke hidung, menggosok gigi, memotong kumis, membelah
rambut, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, berkhitan dan istinja
(lalu disempurnakannya) maksudnya dikerjakannya secara sempurna.
(Firman-Nya) yakni Allah Taala, (“Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam
bagi manusia.”) Artinya contoh dan ikutan dalam keagamaan. (Kata Ibrahim, “Aku mohon juga dari
keturunanku!”) maksudnya dari anak cucuku dijadikan imam-imam. (Firman-Nya, “Janji-Ku ini
tidak mencapai) untuk dijadikan imam (orang-orang yang aniaya”) yakni orang-orang yang ingkar
di antara mereka. Sebaliknya bagi orang yang tidak aniaya, tidak tertutup kemungkinan untuk
diangkat sebagai imam.
Ayat 125

‫يل أَ ْن طَهِّ َرا بَ ْيتِ َي لِلطَّائِفِين‬ ِ ‫صلًّى ۖ َو َع ِه ْدنَا إِلَ ٰى إِ ْب َرا ِهي َم َوإِ ْس َم‬
َ ‫اع‬ َ ‫اس َوأَ ْمنًا َواتَّ ِخ ُذوا ِم ْن َمقَ ِام إِ ْب َرا ِهي َم ُم‬
ِ َّ‫َوإِ ْذ َج َع ْلنَا ْالبَيْتَ َمثَابَةً لِلن‬
‫َو ْال َعا ِكفِينَ َوالرُّ َّك ِع ال ُّسجُو ِد‬

Artinya:”Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi
manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan
telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang
yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (Surat Al-Baqarah/2: 125)
Dalam ayat ini Allah SWT menceritkan tentang (Dan ketika Kami menjadikan Baitullah itu)
yakni Kakbah (sebagai tempat kembali bagi manusia) maksudnya tempat berkumpul dari segenap
pelosok (dan tempat yang aman) maksudnya aman dari penganiayaan dan serangan yang sering
terjadi di tempat lain. Sebagai contohnya pernah seseorang menemukan pembunuh bapaknya, tetapi
ia tidak mau membalas dendam di tempat ini, (dan jadikanlah) hai manusia (sebagian makam
Ibrahim) yakni batu tempat berdirinya Nabi Ibrahim a.s. ketika membangun Baitullah (sebagai
tempat salat) yaitu dengan mengerjakan salat sunah tawaf di belakangnya. Menurut satu qiraat
dibaca ‘wattakhadzuu’ yang artinya, dan mereka menjadikan; hingga menjadi kalimat berita.
(Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail) (yang bunyinya) (“Bersihkanlah
rumah-Ku) dari berhala (untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf) artinya yang bermukim di
sana (orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud!”) artinya orang-orang yang shalat.

Ayat 126

‫ال َو َم ْن َكفَ َر فَأ ُ َمتِّ ُعهُ قَلِياًل ثُ َّم‬ ِ ‫َوإِ ْذ قَا َل إِب َْرا ِهي ُم َربِّ اجْ َعلْ ٰهَ َذا بَلَدًا آ ِمنًا َوارْ ُز ْق أَ ْهلَهُ ِمنَ الثَّ َم َرا‬
َ َ‫ت َم ْن آ َمنَ ِم ْنهُ ْم بِاهَّلل ِ َو ْاليَوْ ِم اآْل ِخ ِر ۖ ق‬
ِ ‫س ْال َم‬
‫صي ُر‬ َ ‫ار ۖ َوبِ ْئ‬ ِ ‫أَضْ طَرُّ هُ إِلَ ٰى َع َذا‬
ِ َّ‫ب الن‬

Artinya:”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa:“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang
aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara
mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku
beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-
buruk tempat kembali”( Surat Al-Baqarah/2: 126).
Dalam ayat 126 ini Allah SWT. menceritakan (Dan ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku!
Jadikanlah ini) maksudnya tempat ini (sebagai suatu negeri yang aman). Doanya dikabulkan Allah
sehingga negeri Mekkah dijadikan sebagai suatu negeri yang suci, darah manusia tidak boleh
ditumpahkan, seorang pun tidak boleh dianiaya, tidak boleh pula diburu binatang buruannya dan
dicabut rumputnya.

Ayat 127

‫ك أَ ْنتَ ال َّس ِمي ُع ْال َعلِي ُم‬ ِ ‫َوإِ ْذ يَرْ فَ ُع إِ ْب َرا ِهي ُم ْالقَ َوا ِع َد ِمنَ ْالبَ ْي‬
َ َّ‫ت َوإِ ْس َما ِعي ُل َربَّنَا تَقَبَّلْ ِمنَّا ۖ إِن‬
Artinya:”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama
Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”( Surat Al-Baqarah/2: 127).
Dalam ayat 127 ini Allah menderitakan bahwa (Dan) ingatlah (ketika Ibrahim meninggikan
sendi-sendi) dasar-dasar atau dinding-dinding (Baitullah) maksudnya membinanya yang dapat
dipahami dari kata ‘meninggikan’ tadi (beserta Ismail) `athaf atau dihubungkan kepada Ibrahim
sambil keduanya berdoa, (“Ya Tuhan kami! Terimalah dari kami) amal kami membina ini,
(sesungguhnya Engkau Maha Mendengar) akan permohonan kami (lagi Maha Mengetahui) akan
perbuatan kami.

Ayat 128

‫ك أَ ْنتَ التَّوَّابُ ال َّر ِحي ُم‬ ِ ‫ك َو ِم ْن ُذ ِّريَّتِنَا أُ َّمةً ُم ْسلِ َمةً لَكَ َوأَ ِرنَا َمن‬
َ َّ‫َاس َكنَا َوتُبْ َعلَ ْينَا ۖ إِن‬ َ َ‫َربَّنَا َواجْ َع ْلنَا ُم ْسلِ َم ْي ِن ل‬

Artinya:” Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan
(jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah
kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesung-
guhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.( Surat Al-Baqarah/2: 128)
Dalam ayat 128 ini Allah menceritkan tentang bahwa (Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami
berdua ini orang yang patuh) dan tunduk (kepada-Mu dan) jadikanlah pula (di antara keturunan
kami) maksudnya anak cucu kami (umat) atau golongan (yang patuh kepada-Mu). ‘Min’ menya-
takan ‘sebagian’ dan diajukan mereka demikian karena firman Allah yang lalu, ‘Dan janji-Ku ini
tidak mencapai orang-orang yang aniaya. Dan ajarkanlah kepada kami (syariat ibadah haji kami)
maksudnya cara-cara dan tempat-tempatnya (dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau
Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang). Mereka bertobat kepada Allah padahal mereka
maksum atau terpelihara dari dosa, disebabkan kerendahan hati mereka dan sebagai pelajaran bagi
anak cucu mereka.

Ayat 129

‫َاب َو ْال ِح ْك َمةَ َويُ َز ِّكي ِه ْم ۚ ِإنَّكَ أَ ْنتَ ْال َع ِزي ُز ْال َح ِكي ُم‬
َ ‫ث فِي ِه ْم َر ُسواًل ِم ْنهُ ْم يَ ْتلُو َعلَ ْي ِه ْم آيَاتِكَ َويُ َعلِّ ُمهُ ُم ْال ِكت‬
ْ ‫َربَّنَا َوا ْب َع‬

Artinya:”Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al
Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang
Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”(Surat Al-Baqarah/2: 129)
Dalan ayat 129 ini Allah SWT, menceritakan (Ya Tuhan kami! Utuslah untuk mereka) yakni
Ahlulbait (seorang rasul dari kalangan mereka) ini telah dikabulkan Allah dengan dibangkitkannya
kepada mereka Nabi Muhammad saw. (yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu)
Alquran (dan mengajari mereka Alkitab) yakni Alquran (dan hikmah) maksudnya hukum-hukum
yang terdapat di dalamnya (serta menyucikan mereka) dari kemusyrikan (sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa) sehingga mengungguli siapa pun (lagi Maha Bijaksana”) dalam segala tindakan dan
perbuatan.

g. Surat Ali Imran/3: 96-97


َ‫اس لَلَّ ِذي بِبَ َّكةَ ُمبَا َر ًكا َوهُدًى لِّ ْل َعالَ ِمين‬
ِ َّ‫ض َع لِلن‬ ٍ ‫إِ َّن أَو ََّل بَ ْي‬
ِ ‫ت ُو‬
Artinya:” Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah
Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”
( Surta Ali Imran/3: 96).
Dalam ayat ini Allah SWT menceritakan tentang (Sesungguhnya rumah yang mula-mula
dibangun) untuk tempat ibadah (bagi manusia) di muka bumi (ialah yang terdapat di Bakkah)
dengan ba sebagai nama lain dari Mekah. Dinamakan demikian karena Ka’bah mematahkan leher
orang-orang durhaka lagi aniaya. Baitullah ini dibina oleh malaikat sebelum diciptakannya Adam
dan setelah itu baru dibangun pula Masjidilaksa dan jarak di antara keduanya 40 tahun sebagai
tersebut dalam kedua hadis sahih. Pada sebuah hadis lain disebutkan pula bahwa Kakbahlah yang
mula-mula muncul di permukaan air ketika langit dan bumi ini diciptakan sebagai buih yang putih,
maka dihamparkanlah tanah dari bawahnya (diberi berkah) hal dari alladzii tadi (dan menjadi
petunjuk bagi seluruh alam) karena ia merupakan kiblat mereka.

Surat Ali Imran Ayat 97

ِ ‫اس ِحجُّ ْالبَ ْي‬


‫ت َم ِن ا ْستَطَا َع إِلَ ْي ِه َسبِياًل ۚ َو َمن َكفَ َر فَإ ِ َّن هَّللا َ َغنِ ٌّي ع َِن‬ ِ َّ‫َات َّمقَا ُم إِ ْب َرا ِهي َم ۖ َو َمن َد َخلَهُ َكانَ آ ِمنًا ۗ َوهَّلِل ِ َعلَى الن‬
ٌ ‫ات بَيِّن‬
ٌ َ‫فِي ِه آي‬
َ‫ْال َعالَ ِمين‬
Artinya:” Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa
memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia
terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa
mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu)
dari semesta alam(Surat Ali Imran Ayat 97)
Pada ayat ini Allah SWT menceritakan tentang Baitullah (Padanya terdapat tanda-tanda
yang nyata) di antaranya (makam Ibrahim) yakni batu tempat berpijaknya Ibrahim sewaktu
mendirikan Baitullah itu. Kedua telapak kakinya meninggalkan bekas padanya sampai sekarang dan
tetap sepanjang zaman walaupun pemerintahan yang berkuasa sudah silih berganti. Di antaranya
pula dilipatgandakannya pahala kebaikan bagi yang shalat di dalamnya dan burung tidak dapat
terbang di atas Ka’bah(dan barang siapa memasukinya menjadi amanlah dia) artinya bebas dari
ancaman pembunuhan, keaniayaan dan lain-lain. (Mengerjakan haji di Baitullah itu menjadi
kewajiban manusia terhadap Allah SWT) Ada yang membaca hajja dengan makna menyengaja.
Lalu sebagai badal dari manusia ialah (yakni orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan
kepadanya) yang oleh Nabi saw. ditafsirkan dengan adanya perbekalan dan kendaraan, menurut
riwayat Hakim dan lain-lain. (Barang siapa yang kafir) terhadap Allah atau terhadap kewajiban
haji(maka sesungguhnya Allah Maha Kaya terhadap seluruh alam) artinya tidak memerlukan
manusia, jin dan malaikat serta amal ibadah mereka. Allahu’alam