Anda di halaman 1dari 5

MATA KULIAH TAFSIR- PAI, HARI KAMIS

PERTEMUAN KE - 10, TANGGAL 24 DESEMBER 2020


TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG ALAM
A. Surat Al-Baqarah/2: 29
ٍ ‫ض َج ِميعًا ثُ َّم ا ْستَ َوى إِلَى ال َّس َما ِء فَ َس َّواه َُّن َس ْب َع َس َما َوا‬
‫ت َوه َُو بِ ُكلِّ َش ْي ٍء َعلِي ٌم‬ َ َ‫هُ َو الَّ ِذي خَ ل‬
ِ ْ‫ق لَ ُك ْم َما فِي األر‬
Artinya:”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehen-
dak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”
( Surat Al-Baqarah/2: 29)
Pada ayat 29 ini dijelaskan bahwa Allah menyempurnakan langit yang satu yang masih
berupa asap itu menjadi tujuh langit. Angka tujuh dalam bahasa Arab dapat berarti enam tambah
satu, bisa juga berarti banyak sekali lebih sekadar enam tambah satu.
Jika kita mengambil arti yang pertama (enam tambah satu) maka berarti Allah SWT.
menjadikan langit yang tadinya satu lapis menjadi tujuh lapis, atau Allah SWT. menjadikan benda
langit yang tadinya hanya satu menjadi tujuh benda langit.Tiap benda-benda langit ini beredar
mengelilingi matahari menurut jalannya pada garis edar yang tetap sehingga tidak ada yang
berbenturan. Tetapi matahari hanya berputar dan beredar pada garis porosnya saja karena matahari
menjadi pusat dalam sistem tata surya ini. Sungguh Allah Mahakaya dan Mahabijaksana mengatur
alam yang besar dan luas ini.
Dalam pemahaman astronomi, langit adalah seluruh ruang angkasa semesta, yang di
dalamnya ada berbagai benda langit termasuk matahari, bumi, planet-planet, galaksi-galaksi, dan
sebagainya. Hal ini dikemukakan oleh Allah di dalam Surah al Mulk/67: 5, yang artinya:

…Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat (langit dunia) dengan bintang-bintang,
dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka
siksa Neraka yang menyala-nyala…(al Mulk/67: 5)

Jadi, langit yang berisi bintang-bintang itu memang disebut sebagai langit dunia. Itulah langit yang
kita kenal selama ini. Serta itu pula yang dipelajari oleh para ahli astronomi selama ini, yang diduga
diameternya sekitar 30 miliar tahun cahaya. Serta mengandung trilyunan benda langit dalam skala
tak berhingga.
Milyaran tatasurya membentuk galaksi. Milyaran galaksi membentuk alam semesta. Ini baru
enam, untuk menjadikannya tujuh, bisa saja ditambah dengan dimensi alam semesta, yaitu bahwa
seluruh alam ini berisikan sejumlah alam semesta. Jadi ada tujuh dimensi dalam alam, dan ini
mungkin yang dimaksud dengan langit yang tujuh lapis.
Tetapi masalahnya adalah dalam perjalanan mi’raj Nabi Muhammad saw, beliau melalui
lapis demi lapis dari langit itu secara serial, dari lapis pertama, ke lapis kedua dan seterusnya
sampai lapis ketujuh dan akhirnya keluar alam makhluk menuju Sidratil-Muntaha. Jadi lapis demi
lapis langit itu seperti kue lapis yang berurutan, dari dalam (lapisan pertama) sampai ke lapisan
ketujuh. Kenyataan ini berbeda dengan temuan ilmiah.
Menurut Djamaluddin, salah seorang astronom Indonesia, yang cenderung memahami
“tujuh langit” sebagai benda-benda langit yang tak terhitung jumlahnya dan bukan berlapis-lapis.
Dalam bahasa Arab, bilangan tujuh biasanya dipakai untuk menggambarkan jumlah yang sangat
banyak.
Di sisi lain tujuh langit, kemungkinan adalah tujuh lapisan-lapisan atmosfer yang dekat
dengan bumi ini yaitu: (1) Troposphere (Troposfer), (2) Tropopause (Tropopaus), (3) Stratosphere
(Stratosfer), (4) Stratopause (Stratopaus), (5) Mesosphere (Mesofer), (6) Mesopause (Mesopause),
dan (7) Thermosphere (Termosfer).
Pembagian ini berdasarkan temperatur (suhu) tiap-tiap lapis atmosfer dan jaraknya dari
permukaan bumi. Lapisan-lapisan tersebut bersifat kokoh dalam pengertian menyeliputi dan
melindungi bola bumi kita secara kokoh karena adanya gaya gravitasi bumi.

B. Surat Al-A’raf/7: 54
ْ َ‫ا َر ي‬rrَ‫ َل النَّه‬r‫ي اللَّ ْي‬r‫ش يُ ْغ ِش‬
‫ا‬rrً‫هُ َحثِيث‬rُ‫طلُب‬ ِ ْ‫ر‬rr‫ َعلَى ْال َع‬r‫ض فِي ِستَّ ِة أَي ٍَّام ثُ َّم ا ْستَ َوى‬
َ ْ‫ت َواألر‬ ِ ‫ق ال َّس َما َوا‬ َ َ‫إِ َّن َربَّ ُك ُم هَّللا ُ الَّ ِذي َخل‬
)54( َ‫اركَ هَّللا ُ َربُّ ْال َعالَ ِمين‬َ َ‫ق َواأل ْم ُر تَب‬ُ ‫ت بِأ َ ْم ِر ِه أَال لَهُ ْالخَ ْل‬
ٍ ‫س َو ْالقَ َم َر َوالنُّجُو َم ُم َس َّخ َرا‬َ ‫َوال َّش ْم‬
Artinya:”Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, lalu Dia bersemayam (berkuasa) di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang
yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bin-
tang; (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya-
lah hak Allah. Mahasuci Allah. Tuhan semesta alam.
Dalam ayat ini Allah SWT. berfirman bahwa Dialah yang menciptakan seluruh alam
semesta ini, termasuk langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. Hal
seperti ini disebutkan di dalam Al-Qur'an melalui bukan hanya satu ayat. Maka yang dimaksud
dengan enam hari ialah Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Pada hari Jumat semua
makhluk kelak dihimpunkan, dan pada hari Jumat pula Allah menciptakan Adam a.s. Para ulama
berselisih pendapat mengenai pengertian makna hari-hari tersebut. Dengan kata lain. apakah yang
dimaksud dengan hari-hari tersebut sama dengan hari-hari kita sekarang, seperti yang kita pahami
dengan mudah. Ataukah yang dimaksud dengan setiap hari adalah yang lamanya sama dengan
seribu tahun, seperti apa yang telah dinaskan oleh Mujahid dan Imam Ahmad ibnu Hambal, yang
hal ini diriwayatkan melalui Ad-Dahhak dari Ibnu Abbas.
Adapun mengenai hari Sabtu, tidak terjadi padanya suatu penciptaan pun, mengingat hari
Sabtu adalah hari yang ketujuh. Karena itulah hari ini dinamakan hari Sabtu, yang artinya putus.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, dari Abu Hurairah ra, di mana ia berkata:
Rasulullah pernah menarik tanganku seraya bersabda: “Allah menciptakan tanah pada hari Sabtu,
Allah menciptakan gunung-gunung di bumi itu pada hari Ahad, menciptakan pepohonan di bumi itu
pada hari Senin, menciptakan hal-hal yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari
Rabu, menyebarluaskan binatang pada hari Kamis dan menciptakan Adam setelah Ashar pada hari
Jum’at sebagai ciptaan terakhir pada saat paling akhir dari hari Jum’at, yaitu antara waktu Ashar
sampai malam.” Oleh karena itu, kita umat yang beriman kepada Allah SWT. mari kita serahkan
kepada Allah SWT Yang MahaPencipta dan segala perintah yang harus ditaati, hanyalah milik Dia
semata. Mahasuci dan Mahatinggi keberkahan Sang Pencipta alam seisinya.
C. Surat Ali Imran/3: 27, dan 190-191
ُ ‫ت َوتُ ۡخ ِر ُج ۡٱل َميِّتَ ِمنَ ۡٱل َح ِّى ۖ َوت َۡر ُز‬
ٍ ‫ق َمن تَ َشٓا ُء بِغ َۡي ِر ِح َسا‬
‫ب‬ ِ ِّ‫ى ِمنَ ۡٱل َمي‬َّ ‫ار َوتُولِ ُج ٱلنَّهَا َر فِى ٱلَّ ۡي ِل ۖ َوتُ ۡخ ِر ُج ۡٱل َح‬ ِ َ‫تُولِ ُج ٱلَّ ۡي َل فِى ٱلنَّه‬
Artinya:”(Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan pula siang ke dalam
malam) hingga bertambah panjanglah keduanya sebanyak berkurangnya dari yang lain (Engkau
keluarkan yang hidup dari yang mati) misalnya manusia dari sperma dan burung dari telur (Engkau
keluarkan yang mati dari yang hidup dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa
terhitung") artinya rezeki yang luas dan amat banyak.”( Surat Ali Imran/3: 27)
Pada ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa salah satunya mengambil kelebihan waktu dari
yang lainnya. Maka yang lainnya berkurang hingga keduanya sama panjangnya, lalu yang lain
mengambil dari kelebihan yang ini, hingga keduanya berbeda panjang masanya, tetapi lama-
kelamaan panjang masa keduanya menjadi sama kembali. Demikianlah terjadi dalam musim-musim
sepanjang tahunnya, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur,dan musim dingin
Dalam hal ini Allah SWT.-lah yang mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari bebijian, dan
mengeluarkan bebijian dari tumbuh-tumbuhan; buah kurma dari biji kurma, dan biji kurma dari
buah kurma. Orang mukmin dari orang kafir, dan orang kafir dari orang mukmin. Ayam dari telur,
dan telur dari ayam; dan segala sesuatu mengalami proses seperti ini.
Demikian juga Allah SWT-lah yang memberikan orang yang Allah SWT. kehendaki harta
benda yang tidak terhitung banyaknya dan sulit untuk ditakar, sedangkan kepada orang lainnya
tidak Allah SWT. berikan hal tersebut. Hal inilah yang Allah SWT lakukan berdasarkan
kebijaksanaan, kehendak, dan kemauan-Mu semata
- Surat Ali Imran Ayat 190-191
‫ت‬ ِ َ‫ف ٱلَّي ِْل َوٱلنَّه‬
ٍ َ‫ار َل َءا ٰي‬ ِ َ‫ٱختِ ٰل‬
ْ ‫ض َو‬ ِ ْ‫ت َوٱأْل َر‬ ِ ‫ق ٱل َّس ٰ َم ٰ َو‬ ِ َ‫أِّل ُ ۟ولِى ٱأْل َ ْل ٰب‬
ِ ‫ب إِ َّن فِى خَ ْل‬
Artinya:”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Surat Ali ‘Imran Ayat 190)
Tafsir Al-Quran Surat Ali Imran Ayat 190 ini memberikan gambaran pada kita bahwa
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi yang tanpa ada contoh sebelumnya dan dalam
pergantian malam dan siang dan perbedaan waktu keduanya dengan memanjang dan memendek
benar-benar merupakan petunjuk-petunjuk dan bukti-bukti yang agung atas keesaan Allah bagi
orang-orang yang mempunyai akal-akal.
Dalam (Tafsir al-Muyassar)menyebutkan bahwa Sesungguhnya di dalam penciptaan langit
dan bumi, dari tidak ada menjadi ada serta tanpa ada contoh sebelumnya, dan di dalam pergantian
malam dan siang serta perbedaan panjang dan pendeknya waktu, benar-benar terdapat bukti-bukti
nyata bagi orang-orang yang berakal sehat yang menunjukkan mereka kepada Sang Maha Pencipta
alam semesta, hanya Dia Yang berhak disembah.
Serta pada (Tafsir al-Mukhtashar) menyebutkan bahwa Sesungguhnya dalam penciptaan dan
pembuatan langit dan bumi, pergantian malam dan siang hari dengan sangat rinci, pergantian
keduanya dalam waktu yang lama maupun singkat, panas dan dingin, serta peristiwa lainnya itu
mengandung dalil yang jelas atas keberadaan, kuasa dan keesaan Allah bagi orang-orang yang
berakal sehat.
‫ت ٰ َه َذا ٰ َبطِ اًل‬ ِ ْ‫ت َوٱأْل َر‬
َ ‫ض َر َّب َنا َما َخلَ ْق‬ ِ ‫ُون فِى َخ ْل ِق ٱل َّس ٰ َم ٰ َو‬ ِ ‫ِين َي ْذ ُكرُوٱهَّلل َ قِ ٰ َيمًا َوقُعُو ًدا َو َعلَ ٰى ُج ُن‬
َ ‫وب ِه ْم َو َي َت َف َّكر‬ َ ‫ٱلَّذ‬
َ ‫ُسب ٰ َْح َن َك َفقِ َنا َعذ‬
ِ ‫اب ٱل َّن‬
‫ار‬ َ
Artinya:”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 191)
Dalam ayat ini Allah SWT. menjelaskan bahwa orang-orang yang mengingat Allah dalam
semua kondisi mereka, baik berdiri,duduk dan dalam keadaan mereka berbaring. Mereka
mentadaburi dalam penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ”wahai tuhan kami, Engkau tidaklah
menciptakan makhluk ciptaan ini dengan sia-sia. Dan Engkah Maha suci dari hal itu. Maka
jauhkanlah dari kami siksaan neraka.
Pada Tafsir al-Muyassar, menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa
mengingat Allah dalam kondisi apapun. Baik dalam kondisi berdiri, duduk maupun berbaring. Dan
mereka juga senantiasa menggunakan akal pikiran mereka untuk memikirkan penciptaan langit dan
bumi. Mereka pun berkata, “Wahai Rab, Engkau tidak menciptakan makhluk yang sangat besar ini
untuk bersenda gurau. Mahasuci Engkau dari senda gurau. Maka jauhkanlah kami dari azab Neraka,
dengan cara Engkau bimbing kami kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan Engkau lindungi
kami dari perbuatan-perbuatan yang buruk.
Maka dalam Tafsir al-Mukhtashar menyebutkan bahwa orang-orang yang selalu mengingat
Allah dalam segala kondisinya, yaitu dalam keadaan berdiri ketika shalat, duduk di masjlis mereka,
dan bersandar ketika dalam keadaan junub. Mereka berpikir tentang kehebatan penciptaan langit,
bumi dan meyakininya. Mereka berkata: “Wahai Tuhan Kami, Engkau tidak menciptakan hal ini
sia-sia dan hanya sebagai hiburan, namun Engkau menciptakannya sebagai petunjuk atas kuasa dan
hikmahMu. Kami menyucikanmu dari segala sesuatu yang tidak sesuai denganMu dan dari kesia-
siaan. Maka jadikanlah ketaatan kami kepadaMu itu sebagai pelindung dari neraka”

D. Surat Al-Ghasyiyah, ayat 17-20            


                                                                        
(١٧). ‫ت‬ْ َ‫أَفَاَل يَ ْنظُرُونَ إِلَى اإْل ِ بِ ِل َك ْيفَ ُخلِق‬
(١٨). ‫ت‬ ْ ‫َوإِلَى ال َّس َما ِء َك ْيفَ رُ فِ َع‬
(١٩). ‫ت‬ ْ َ‫صب‬ِ ُ‫َوإِلَى ْال ِجبَا ِل َك ْيفَ ن‬
(٢٠). ‫ت‬ ْ ‫ض َك ْيفَ ُس ِط َح‬ ِ ْ‫َوإِلَى اأْل َر‬
Artinya:“Maka apakah mereka tidak memperhatikan kepada unta bagaimana dia diciptakan?
(17), Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?(18) Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
(19) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?(20)”( Surat Al-Ghasyiyah, ayat 17-20)
Ayat diatas menyebut langit setelah menyebut unta, lalu menyebut gunung dan sesudahnya
bumi. Uraian menyangkut ayat-ayat di atas, apakah mereka tidak merenungkan tentang langit yang
demikian luas dan yang selalu mereka saksikan bagaimana ia ditinggikan tanpa ada cagak yang
menopangnya? Dan juga gunung-gunung yang demikian tegar dan yang biasa mereka daki
bagaimana ia ditegakkan? Yaitu, menjadikannya tertancap sehingga menjadi kokoh dan teguh
sehingga bumi tidak menjadi miring bersama penghuninya, dan telah menjadikan berbagai macam
manfaat dan barang-barang tambang padanya. Dan bumi tempat kediaman mereka dan yang tercipta
bulat bagaimana ia dihamaparkan? Yaitu bagaimana dia dibentangkan, dipanjangkan, dan
dihamparkan. Maka, ayat ini mengingatkan orang-orang Arab Badui tentang apa yang sering
disaksikan oleh mereka berupa unta, langit, gunung dan bumi agar mereka mengambil pelajaran dan
semua ini tentang kekuasaan Dia yang telah menciptakan. Dan bahwa Dia adalah Rabb Yang Maha
Agung. Dialah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur. Dialah yang tidak ada Tuhan selain Dia semata
Penafsiran ayat diatas, sebagaimana juga disebutkan dalam tafsir Al-Mishbah, yaitu setelah
memperoleh ganjaran yang akan diperoleh pada hari kemudian oleh orang-orang yang taat, dan
sebelumnya telah menguraikan balasan para pendurhaka, kaum musyrikin masih tetap bersikeras
menolak keniscayaan kiamat. Sering, alasan penolakan mereka adalah keraguan mereka terhadap
kuasa Allah SWT. Dan ilmu-Nya untuk menghimpun dan menghidupkan kembali tulang belulang
yang telah lapuk, dan terserak kemana-mana. Untuk menampilkan dalil itu, Allah mengajak mereka
yang meragukan kuasa-Nya untuk memperhatikan alam raya. Allah berfirman: maka apakah
mereka tidak memperhatikan bukti kuasa Allah yang terbentang di alam raya ini, antara lain kepada
unta yang menjadi kendaraan dan bahan pangan mereka bagaimana ia diciptakan oleh Allah dengan
sangat mengagumkan? Dan apakah mereka tidak merenungkan tentang langit yang demikian luas
dan yang selalu mereka saksikan bagaimana ia ditinggikan tanpa ada cagak yang
menopangnya ? Dan juga gunung-gunung yang demikian tegar dan yang biasa mereka
daki bagaimana ia dite- gakkan? Dan bumi tempat kediaman mereka dan yang tercipata
bulat bagaimana ia dihamparkan?.
Aspek Tarbawi
1. Seorang muslim hendaknya mengetahui bahwa Allah SAW Maha Kuasa atas segala sesuatu.
2. Seorang muslim hanya menyembah Allah SAW, bukan yang lain.
3. Seorang musim hendaknya senantiasa memikirkan semua makhluk yang telah diciptakan oleh
Allah SWT.
4.  Seorang mulim hendaknya senantiasa mendakwahi dan mengarahkan orang lain, serta
mengajak mereka untuk selalu berada dalam jalan kebenar.

E. Surat Ibrahim/14: 32-34


َ ‫ر لَ ُك ُم ْالفُ ْل‬rَ ‫ لَ ُك ْم َو َس َّخ‬r‫ت ِر ْزقًا‬
‫ك‬ ِ ‫ض َوأَ ْن َز َل ِمنَ ال َّس َما ِء َما ًء فَأ َ ْخ َر َج بِ ِه ِمنَ الثَّ َم َرا‬ َ ْ‫ت َواألر‬ ِ ‫ق ال َّس َما َوا‬ َ َ‫هَّللا ُ الَّ ِذي َخل‬
rَ َ‫ر لَ ُك ُم اللَّ ْي َل َوالنَّه‬rَ ‫س َو ْالقَ َم َر دَائِبَ ْي ِن َو َس َّخ‬
)٣٣( ‫ار‬ َ ‫) َو َس َّخ َر لَ ُك ُم ال َّش ْم‬٣٢( ‫ار‬ َ َ‫ي فِي ْالبَحْ ِر بِأ َ ْم ِر ِه َو َس َّخ َر لَ ُك ُم األ ْنه‬
َ ‫لِتَجْ ِر‬
َّ َ ُ َ ْ َّ ُ ‫هَّللا‬
)٣٤( ‫ إِن اإلن َسانَ لظلو ٌم كفا ٌر‬r‫) َوآتَا ُك ْم ِمن ك ِّل َما َسألت ُموهُ َوإِن تَ ُعدوا نِ ْع َمة ِ ال تحْ صُوهَا‬
َ َ ُّ ْ ُ ْ َ ُ ْ

Artinya:”Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit,
kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu;
dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehen-
dak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (32) Dan Dia telah menunduk-
kan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah me-
nundukkan bagimu malam dan siang. (33) Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan
segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah
dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah). (34)” (Surat Ibrahim/14: 32-34)

Sehubungan dengan ayat(ayat 32) sebelumnya, Allah memerintahkan hamba-Nya mendirikan shalat
dan menunaikan infak, sebagai jalan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka dalam
ayat ini terdapat tiga sisi yang mengisyarakatkan peran air dalam kehidupan manusia antara lain:
1. air hujan sebagai sumber kehidupan bumi, tumbuh-tumbuhan, tanaman dan buah-buahan.
2. air laut sebagai sumber kehidupan makhluk hidup laut. Ikan-ikan sebagai makanan laut
dan jalur terbaik dan termurah lalu lintas barang. Bahkan hingga saat ini ketika manusia
menggunakan pesawat terbang dan sarana transportasi lainnya nilai transaksi terbesar lalu
lintas barang melalui jalur laut yang Tuhan berikan bagi manusia ini.
3. air sungai, sebagai pengairan di daerah yang kekurangan air dan sarana perpindahan air ke
daerah kering.
Selain karunia air Allah menganugerahkan matahari dan bulan yang berputar pada porosnya
menciptakan siang dan malam. Walaupun tidak di bawah kendali manusia tetapi Allah menga-
nugerahkan untuk dimanfaatkan manusia. Jenis gerakan dan perputarannya memberikan ketenangan
dan ketenteraman bagi manusia.
Kemudian Allah SWT. menjelaskan juga nikmat Allah SWT. yang di langit dan bumi,
dimana ayat (ayat 33) ini mengatakan Allah SWT. memenuhi semua keperluan manusia. Manusia
tidak mampu menghitung seluruh karunia Allah. Bahkan (ayat 34)manusia masih saja tidak
bersyukur dan tidak mempergunakan nikmat tersebut di jalan yang benar. Maka telinga dan lidah
yang dianugerahkan Allah sering kali dipergunakan di jalan yang tidak diridainya.
F. Surat Yasin/36: 38-40

)39( ‫ُون ْالقَ ِد ِيم‬


ِ ‫َاز َل َحتَّ ٰى عَا َد َك ْالعُرْ ج‬
ِ ‫) َو ْالقَ َم َر قَ َّدرْ نَاهُ َمن‬38(‫يز ْال َعلِ ِيم‬ َ ِ‫َوال َّش ْمسُ تَجْ ِري لِ ُم ْستَقَ ٍّر لَهَا ۚ ٰ َذل‬
ِ ‫ك تَ ْق ِدي ُر ْال َع ِز‬
)40( َ‫ك يَ ْسبَحُون‬ ٍ َ‫ار ۚ َو ُك ٌّل فِي فَل‬ rُ ِ‫اَل ال َّش ْمسُ يَ ْنبَ ِغي لَهَا أَ ْن تُ ْد ِركَ ْالقَ َم َر َواَل اللَّ ْي ُل َساب‬
ِ َ‫ق النَّه‬
Artinya:”dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui (38) Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga
(setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (39)
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang.
Dan masing-masing beredar pada garis edarnya(40)”( Surat Yasin/36: 38-40)
Dimana ayat diatas Allah SWT. menjelaskan keberadaan, matahari dan seluruh makhluk
berada di bawah Arsy, karena ‘Arsy merupakan atapnya dan bukan berbentuk bulat, sebagaimana
yang dikira oleh para ahli hukum alam. Dia berbentuk kubah yang memiliki beberapa tiang yang
dibawa oleh para Malaikat an dia berada di atas alam seperti yang terlihat di atas kepala. Maka,
matahari jika berada di dalam kubah falak di waktu siang, maka dia berada lebih dekat kepada
‘Arsy. Dan jika dia memutar pada falak ke empat menuju tempat tersebut, yaitu di waktu
pertengahan malam, maka dia semakin menjauh dari ‘Arsy. Di saat itu dia sujud dan meminta izin
untuk terbit, sebagaimana yang tercantum di beberapa hadits. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu
Dzarr berkata: “Aku bersama Nabi saw di dalam masjid ketika terbenamnya matahari. Lalu
Rasulullah saw. bersabda: ‘Hai Abu Dzarr, apakah engkau tahu dimana matahari itu terbit?’ Aku
menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’
Dalam Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: ‫س تَقَ ٍّر لَ َه ا ۚ ٰ َذلِ كَ تَ ْق ِدي ُر ا ْل َع ِزي ِز‬
ْ ‫س ت َْج ِري لِ ُم‬
ُ ‫الش ْم‬
َّ ‫َو‬
‫يم‬ ْ
ِ ِ‫ال َعل‬ (“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa
lagi Mahamengetahui.” Pada makna firman-Nya: ‫س تَقَ ٍّر لَ َها‬ ْ ‫لِ ُم‬ (“Di tempat peredarannya.”) terdapat
dua pendapat. Salah satunya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tempat peredarannya, yaitu
di bawahg ‘Arsy yang dekat ke arah bumi dari sisi tersebut. Rasulullah saw. menjawab: ‘Dia itu
pergi, hingga sujud di bawah ‘Arsy. Itulah firman Allah Ta’ala: ‫ستَقَ ٍّر لَ َها‬ ْ ‫لِ ُم‬ (“Dan matahari berjalan di
tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui.”)”
Kemudian dalam tafsir Jalalain: ‫ر‬r َ r‫ َو ْالقَ َم‬ (Dan bagi bulan), bila dibaca nashab yaitu Wal
Qamara berarti dinashabkan oleh Fiil sesudahnya yang berfungsi menafsirkannya yaitu ُ‫قَدَّرْ نَاه‬ (telah
Kami tetapkan) bagi peredarannya ‫َاز َل‬ ِ ‫ َمن‬ (manzilah-manzilah) sebanyak dua puluh delapan manzilah
selama dua puluh delapan malam untuk setiap bulannya. Kemudian bersembunyi selama dua
malam, jika bilangan satu bulan tiga puluh hari, dan satu malam jika bilangan satu bulan dua puluh
sembilan hari َ‫حتَّ ٰى عَاد‬ (sehingga
َ kembalilah ia) setelah sampai ke manzilah yang terakhir, menurut
pandangan mata ‫ُون ْالقَ ِد ِيم‬
ِ ‫ج‬ ْ‫ُر‬
‫ع‬ ْ
‫ال‬ َ
‫ك‬  (sebagai bentuk tandan yang tua) bila sudah lanjut masanya bagaikan
ketandan, lalu menipis, berbentuk sabit dan berwarna kuning. (Allahu’alam)