Anda di halaman 1dari 6

MATA KULIAH TAFSIR- PAI, HARI KAMIS

PERTEMUAN KE - 7, TANGGAL 03 DESEMBER 2020


TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG MASYARAKAT (SOSIAL)
a. Surat Al-Nisa’/4: 1
َّ ‫س َوا ِح َد ٍة َو َخلَ َق ِم ْن َها َز ْو َج َها َو َب‬
‫ث ِم ْن ُه َما ِر َجاال َك ِثيرً ا َو ِن َسا ًء َوا َّتقُوا‬ ٍ ‫َيا أَ ُّي َها ال َّناسُ ا َّتقُوا َر َّب ُك ُم الَّذِي َخلَ َق ُك ْم مِنْ َن ْف‬
‫ان َعلَ ْي ُك ْم َرقِيبًا‬ َ ‫ون ِب ِه َواألرْ َحا َم إِنَّ هَّللا َ َك‬ َ ُ‫هَّللا َ الَّذِي َت َسا َءل‬
Artinya:”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah mem-
perkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang
dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubu-
ngan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (Surat Al-Nisa’/4: 1)
Tafsiran ayat diatas
Dalam ayat diatas Allah SWT. menyuruh pada umat manusia untuk menyakini atau percaya
pada tuhanmu yang telah menciptakan kamu, mulai dari seorang Nabi Adam as.. Kemudian Allah
SWT. menciptakan Siti Hawa dari tulang sulbi adam as, lalu Allah SWT. menciptakan berpasang-
pasangan perempuan dan laki-laki sehingga menjadi sesuatu yang banyak yang disebut kumpulan
manusia yang dinamaikan dengan masyarakat atau sosial. Setiap manusia membuat hubungan
silaturahmi atas dasar nama Allah SWT. Dengan keberkatan dari Allah SWT. akan menjadi
masyarakat yang hidup bahagia di dunia dan senang di akhirat. Karena mereka yakin dan percaya
hanya Allah SWT-lah yang menjaga, memelihara, serta mengawasi mereka dalam kehidupan
mereka. Dengan demikian segala perintah Allah SWT. akan mudah dilaksanakan dan sebaliknya,
semua larangan dengan ditinggalkannya.

b. Surat Al-Hujurat/49: 10-13


ْ‫ِين آ َم ُنوا ال َيسْ َخرْ َقو ٌم مِن‬ َ ‫) َيا أَ ُّي َها الَّذ‬10( ‫ُون‬ َ ‫ون إِ ْخ َوةٌ َفأَصْ لِحُوا َبي َْن أَ َخ َو ْي ُك ْم َوا َّتقُوا هَّللا َ لَ َعلَّ ُك ْم ُترْ َحم‬ َ ‫إِ َّن َما ْالم ُْؤ ِم ُن‬
‫َق ْو ٍم َع َسى أَنْ َي ُكو ُنوا َخيْرً ا ِم ْن ُه ْم َوال ِن َسا ٌء مِنْ ِن َسا ٍء َع َسى أَنْ َي ُكنَّ َخيْرً ا ِم ْنهُنَّ َوال َت ْل ِم ُزوا أَ ْنفُ َس ُك ْم َوال َت َنا َب ُزوا‬
‫ِين آ َم ُنوا اجْ َت ِنبُوا َك ِثيرً ا‬ َ ‫) َيا أَ ُّي َها الَّذ‬11( ‫ُون‬ َ ‫الظالِم‬َّ ‫ك ُه ُم‬ َ ‫ان َو َمنْ لَ ْم َي ُتبْ َفأُولَ ِئ‬ِ ‫ُوق َبعْ َد اإلي َم‬ ُ ‫س االسْ ُم ْالفُس‬ َ ‫ب ِب ْئ‬ ْ ‫ِب‬
ِ ‫األل َقا‬
‫ضا أَ ُيحِبُّ أَ َح ُد ُك ْم أَنْ َيأْ ُك َل لَحْ َم أَخِي ِه َم ْي ًتا‬ ً ْ‫ض ُك ْم َبع‬ ُ ْ‫الظنِّ إِ ْث ٌم َوال َت َج َّسسُوا َوال َي ْغ َتبْ َبع‬ َّ ‫ض‬ َ ْ‫الظنِّ إِنَّ َبع‬ َّ ‫م َِن‬
‫شعُوبًا َو َق َبا ِئ َل‬ ُ ‫) َيا أَ ُّي َها ال َّناسُ إِ َّنا َخلَ ْق َنا ُك ْم مِنْ َذ َك ٍر َوأ ُ ْن َثى َو َج َع ْل َنا ُك ْم‬12( ‫َف َك ِرهْ ُتمُوهُ َوا َّتقُوا هَّللا َ إِنَّ هَّللا َ َت َّوابٌ َرحِي ٌم‬
)13( ‫ارفُوا إِنَّ أَ ْك َر َم ُك ْم عِ ْن َد هَّللا ِ أَ ْت َقا ُك ْم إِنَّ هَّللا َ َعلِي ٌم َخ ِبي ٌر‬ َ ‫لِ َت َع‬
Artinya:”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.(10) Hai orang-
orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi
mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-
wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-
olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri
dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan
ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka
itulah orang-orang yang lalim. (11) Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari pra-
sangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesa-
lahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi
Maha Penyayang (12) Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal. “(13) (Surat Al-Hujurat/49: 10-13)
Tafsiran ayat diatas
Pada ayat ini Allah SWT. mejelaskan bahwa setiap orang-orang muslim adalah bersaudara
dan bertaqwalah kepada Allah SWT, karena orang-orang bertaqwa tersebut Allah memberikan
ganjaran yang berlipat ganda. Serta semua makhluk ciptaan Allah SWT. akan kembali kepada-Nya.
Dalam ayat diatas juga Allah SWT. menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku
diantara sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya
persatuan umat Islam, yaitu:  a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan,
maka kita tidak selayaknya menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa
dengan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain
adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan, kesalehan dan
kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas yang lain.
‫يَاَُّي َهاالَّ ِذيْ َن اََم ُن ْواالَيَ ْس َخ ْرَق ْوٌم ِم ْن َق ْوٍم‬
Kita tidak boleh saling menghina diantara sesamanya. Ayat ini akan dijadikan oleh Allah
sebagai peringatan dan nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum yang
beriman. Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok dan menghina orang lain,
baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek ataupun menghina dengan ucapan /
isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan kesalah-pahaman diantara kita.
‫اخ ْي ًر ِام ْن ُه ْم‬
َ ‫سى اَ ْن يَ ُك ْوُن ْو‬
َ ‫َع‬
Allah melarang kita menghina sesamanya karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih
baik dan lebih mulia disisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina.
‫سى اَ ْن يَ ُك َّن َخ ْي ًر ِام ْن ُه َّن‬ ِ ِ‫والَنِساء ِمن ن‬
َ ‫ساء َع‬
َ ْ َُ َ
Artinya:”Orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa
akan kesalahan dan kekhilafan yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi:
ِ َ‫ص الن‬
‫اس‬ ِ
ُ ‫ْح ِّق َوغَ ْم‬
َ ‫الك ْب ُر بَط ُْرال‬
Artinya:“Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia”.
‫س ُك ْم‬ ِ
َ ‫َوالََتلْم ُزْوااَْن ُف‬
Dalam penggalan ayat ini Allah melarang kita mencela orang lain karena mencela orang
lain sama saja mencela diri sendiri, karena orang-orang mukmin itu bagaikan satu badan. firman
Allah SWT yang menerangkan tentang balasan bagi orang yang suka mencela orang lain yaitu:
‫َويْ ٌل لِ ُك ِّل ُه َم َزٍة لُ َم َزٍة‬
Artinya:“Neraka wailun hanya buat orang yang suka mencedera orang dan mencela orang”. (al-
Humazah: 1)
Adapun dari arti ‫ مُهََز ٍة‬yaitu mencedera, yakni memukul dengan tangan, sedangkan ‫م َز ٍة‬
َ ُ‫ ل‬yaitu
mencela dengan mulut.
ِ ‫َوالََتنَ َاب ُزْوا بِاْالَلْ َق‬
‫اب‬
Allah melarang kita memanggil orang lain dengan gelaran-gelaran yang mengandung
ejekan-ejekan, karena hal ini termasuk menjelekkan seseorang dengan sesuatu yang telah
diperbuatnya. Sedangkan orang yang dihina itu telah bertaubat, tapi jika gelaran (panggilan) itu
mengandung pujian dan tepat pemakaiannya, maka itu tidak di benci sebagaimana gelar yang
diberikan kepada Umar, yaitu:Al-Faruq.
ِ ‫بِْئس ا ِإلسم الْ ُفسو َق ب ْع َداْ ِإليْم‬
‫ان‬ َ َ ُْ ُ ْ َ
Allah melarang kita memanggil orang dengan kata “fasik” setelah ia sebulan masuk Islam
atau beriman.
Para ulama’ mengharamkan kita memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak di sukai.
‫ك ُه ُم الظَّالِ ُم ْو َن‬
َ ِ‫ب فَأُولَئ‬
ْ ُ‫َوَم ْن لَ ْم َيت‬
Ayat ini di turunkan mengenai “Shafiyah binti Hisyam Ibn Akhtab”, Beliau datang
mengadu kepada Rasul bahwa isteri Rasul yang lain mengatakan kepadanya. Hai orang Yahudi, hai
anak dari orang Yahudi, mendengar itu, Rasul berkata: mengapa kamu tidak menjawab: ayahku
Harun, pamanku Musa, sedangkan suamiku Muhammad. Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang
yang sudah mengolok-olok bahkan menghina orang lain tapi tidak bertaubat, maka mereka
termasuk orang dhalim.
‫ااجتَنُِب ْوا َكثِْي ًر ِام َن الظَّ ِّن‬ ِ
ْ ‫يَاَُّي َهاالَّذيْ َن اََم ُن ْو‬
Dalam ayat ini Allah melarang bahkan mengharamkan kita berprasangka buruk atau
berfikiran negatif terhadap orang yang secara lahiriyah tampak baik dan memegang amanat, atau
kita tidak boleh menfitnah seseorang, karena menfitnah itu bukan saja menyakiti seseorang dari
lahirnya saja tapi juga menyakiti bathinnya.
‫ض الظَّ ِّن اِثْ ُم‬ ِ
َ ‫ا َّن َب ْع‬
Allah melarang kita berburuk sangka terhadap orang lain karena sebagian dari buruk
sangka itu dosa.
Prasangka adalah dosa, karena prasangka adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa
memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang baik.
‫س ْو‬
ُ‫س‬َّ ‫َوالَتَ َج‬
Allah melarang kita mencari-cari keaiban dan menyelidiki rahasia seseorang, tapi jika kita
memata-matai seseorang atau musuh agar tidak terjadi kejahatan, maka itu di perbolehkan.
‫ضا‬
ً ‫ض ُك ْم َب ْع‬
ُ ‫ب َب ْع‬
ْ ِّ‫َوالَُيغَي‬
Allah melarang mencela orang di belakangnya atau menggunjing tentang sesuatu yang tidak
di sukainya.
Menurut para ulama’, mencela yang dibenarkan adalah jika bertujuan untuk :
1. Untuk mencari keadilan,
2. Untuk menghilangkan kemungkaran,
3. Untuk meminta fatwa atau mencari kebenaran,
4. Untuk mencegah manusia berbuat salah,
5. Untuk membeberkan orang yang tidak malu-malu melakukan kemaksiatan.
ِ
ُ‫اء ُك َل لَ ْح َم اَخ ْي ِه َم ْيتًافَ َك ِرْهتُ ُم ْوه‬ ُّ ‫اَيُ ِح‬
ْ َ‫ب اَ َح ُد ُك ْم اَ ْن ي‬
Allah melarang kita membicarakan keburukan seseorang, karena hal itu sama halnya
dengan makan bangkai saudaranya yang busuk. Allah melarang hal ini karena perbuatan ini
merupakan penghancuran pribadi terhadap saudara yang di cela itu.
ِ
ٌ ‫َو َّات ُقواهللَ ا َّن الهَ َت َّو‬
 ‫اب‬
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita bertaubat dari kesalahan yang telah kita perbuat
dengan di sertai penyesalan dan bertaubat (taubat an-nasukha). Dalam ayat ini Allah juga
memberitahukan bahwasanya Allah senantiasa membuka pintu kasih sayangnya, membuka pintu
selebar-lebarnya dan menerima kedatangan para hambanya yang ingin bertaubat supaya menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

c. Ali ‘Imran/3: 104, 110, 112


)104( ‫ُون‬ َ ‫ِك ُه ُم ْال ُم ْفلِح‬ َ ‫ُون ِب ْال َمعْ رُوفِ َو َي ْن َه ْو َن َع ِن ْال ُم ْن َك ِر َوأُولَئ‬ َ ‫ُون إِلَى ْال َخي ِْر َو َيأْ ُمر‬ َ ‫َو ْل َت ُكنْ ِم ْن ُك ْم أُم ٌَّة َي ْدع‬
َ ‫ب لَ َك‬
‫ان‬ ِ ‫ون ِباهَّلل ِ َولَ ْو آ َم َن أَهْ ُل ْال ِك َتا‬
َ ‫ُون ِب ْال َمعْ رُوفِ َو َت ْن َه ْو َن َع ِن ْال ُم ْن َك ِر َو ُت ْؤ ِم ُن‬ َ ‫اس َتأْ ُمر‬ ْ ‫ُك ْن ُت ْم َخي َْر أ ُ َّم ٍة أ ُ ْخ ِر َج‬
ِ ‫ت لِل َّن‬
)110( ‫ون‬ َ ُ‫ون َوأَ ْك َث ُر ُه ُم ْال َفاسِ ق‬
َ ‫َخيْرً ا لَ ُه ْم ِم ْن ُه ُم ْالم ُْؤ ِم ُن‬
‫ت َعلَي ِْه ُم‬ ْ ‫ب م َِن هَّللا ِ َوض ُِر َب‬ ٍ ‫ض‬ َ ‫اس َو َباءُوا ِب َغ‬ ِ ‫الذلَّ ُة أَي َْن َما ُثقِفُوا إِال ِب َحب ٍْل م َِن هَّللا ِ َو َحب ٍْل م َِن ال َّن‬ ِّ ‫ت َعلَي ِْه ُم‬ ْ ‫ض ُِر َب‬
)112( ‫ون‬ َ ‫ص ْوا َو َكا ُنوا َيعْ َت ُد‬ َ ‫ون األ ْن ِب َيا َء ِب َغي ِْر َح ٍّق َذل َِك ِب َما َع‬ َ ُ‫ت هَّللا ِ َو َي ْق ُتل‬ َ ‫ك ِبأ َ َّن ُه ْم َكا ُنوا َي ْكفُر‬
ِ ‫ُون ِبآ َيا‬ َ ِ‫ْال َمسْ َك َن ُة َذل‬
Artinya:”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung.(104)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf,
dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang yang fasik.(110)
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari
Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat
Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui batas. (112)
Tafsiran ayat di atas
Istilah masayarakat dapat dilihat dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan
dengan konsep pembinaan masyarakat, seperti istilah ummat, qaum, syu’ub, qabail dan lain
sebagainya. Istilah ummat dapat dijumpai pada ayat yang berbunyi :
Kata ummah pada ayat tersebut, berasal dari kata amma, yaummu yang berarti jalan dan
maksud. Dari asal kata tersebut, dapat diketahui bahwa masyarakat adalah kumpulan perorangan
yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama, menghimpun diri secara harmonis dengan maksud
dan tujuan bersama.
Selanjutnya dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua
kelompok yang dihimpun oleh persamaan agama, waktu, tempat baik secara terpaksa maupun ke-
hendak sendiri. Inti dari pendapat-pendapat tersebut, adalah bahwa masyarakat tempat berkumpul-
nya manusia yang didalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta pola-pola hubungan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Ma'ruf ialah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada
Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
Melalui ayat diatas Allah SWT memerintahkan umat Islam agar diantara mereka ada
sekelompok orang yang bergerak dalam bidang dakwah yang selalu memberi peringatan apabila
nampak gejala-gejala perpecahan dan pelanggaran terhadap ajaran agama, dengan jalan mengajak
dan menyeru manusia untuk terhadap ajaran agama, dengan jalan mengajak dan menyeru manusia
untuk melakuakn kebajikan, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
Pada ayat Ali‘Imran/3:110 diatas Allah SWT. menjelaskan bahwa masyarakat adalah
kumpulan perorangan yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama, menghimpun diri secara
harmonis dengan maksud dan tujuan bersama.
Dalam ayat Ali ‘Imran/3:112 diatas Allah SWT. menjelaskan bahwa ditimpakan atas mereka
kehinaan dimanapun mereka berada, sehingga bagi mereka tak ada kemuliaan dan keamanan
(kecuali ) dengan dua hal yaitu dengan tali Allah dan tali dari manusia yang beriman, yang
merupakan janji dari mereka kepada ahli kitab bahwa mereka akan diberi keamanan dengan
imbalan pembayaran upeti, maka tak ada jaminan bagi mereka selain dengan itu, dan mereka
kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan ditimpakan atas mereka kerendahan. Artinya
disebabkan karena mereka kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang
benar. Demikian itu sebagai pengukuhan disebabkan mereka durhaka akan perintah Allah dan
mereka melanggar batas artinya melampaui yang halal hingga jatuh kepada yang haram.

d. Surat Al-Ra’du/13: 11
‫مْر هَّللا ِ إِنَّ هَّللا َ ال ي َُغ ِّي ُر َما ِب َق ْو ٍم َح َّتى ي َُغ ِّيرُوا َما ِبأ َ ْنفُسِ ِه ْم َوإِ َذا أَ َرا َد‬َ ُ
ِ ‫ْن َي َد ْي ِه َومِنْ َخ ْلفِ ِه َيحْ َفظو َن ُه مِنْ أ‬ ٌ ‫لَ ُه ُم َع ِّق َب‬
ِ ‫ات مِنْ َبي‬
ٍ ‫هَّللا ُ ِب َق ْو ٍم سُوءًا َفال َم َر َّد لَ ُه َو َما لَ ُه ْم مِنْ ُدو ِن ِه مِنْ َو‬
‫ال‬
Artinya:”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tak mengubah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila
Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan
sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”( Surat Al-Ra’du/13: 11)
Tafsiran ayat di atas
Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan
masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua perubahan keadaan diri manusia (sikapmental)
yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melaui
hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau
membedakan antara satu masyarakat atau kelompok dengan masyarat atau kelompok lain.

e. Surat Al-Anfal/8: 53
‫ك م َُغيِّرً ا نِعْ َم ًة أَ ْن َع َم َها َعلَى َق ْو ٍم َح َّتى ُي َغ ِّيرُوا َما ِبأ َ ْنفُسِ ِه ْم َوأَنَّ هَّللا َ َسمِي ٌع َعلِي ٌم‬
ُ ‫ك ِبأَنَّ هَّللا َ لَ ْم َي‬
َ ِ‫َذل‬
Artinya:”Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan
merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu
merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui” (Surat Al-Anfal/8: 53)
Tafsiran ayat di atas
Dalam ayat diatas menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan
mengubah suatu nikmat sedikit atau besar yang telah dianugerahkannya kepada suatu kaum, tidak
juga sebaliknya mengubah kesengsaraan yang dialami oleh suatu kaum menjadi kebahagiaan
hingga kaum itu sendiri terlebih dahulu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, yakni
untuk memperoleh nikmat tambahan mereka harus kebih baik, sedangkan siksaan perolehan siksaan
adalah akibat mengubah fitrah kesucian mereka menjadi keburukan dan kedurhakaan dan
sesungguhnya Allah Maha Mendengar apapun yang disuarakan makhluk lagi Maha mengetahui
apapun siakp dan tingkah laku mereka.

f. Surat Al-Hajj/22: 41
َ َّ ‫ض أَ َقامُوا الصَّال َة َوآ َتوُ ا‬
ِ ‫الز َكا َة َوأ َمرُوا ِب ْال َمعْ رُوفِ َو َن َه ْوا َع ِن ْال ُم ْن َك ِر َوهَّلِل ِ َعاقِ َب ُة األم‬
‫ُور‬ َ ‫الَّذ‬
ِ ْ‫ِين إِنْ َم َّك َّنا ُه ْم فِي األر‬
Artinya:”(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah
dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Surat Al-Hajj/22: 41)
Tafsiran ayat di atas
Pada ayat diatas sebagai makhluk Allah yang paling mulia sudah selayaknya mengikuti apa
yang telah diperintahkan oleh Allah, karena dengan mengerjakan apa yang telah diperintahkan
niscaya akan mendapatkan kemudahan di akhirat maupun di dunia.

g. Surat Al-Taubah/9: 71-72


َ ‫ُون الصَّال َة َوي ُْؤ ُت‬
‫ون‬ َ ‫ض َيأْ ُمر‬
َ ‫ُون ِب ْال َمعْ رُوفِ َو َي ْن َه ْو َن َع ِن ْال ُم ْن َك ِر َو ُيقِيم‬ ٍ ْ‫ض ُه ْم أَ ْولِ َيا ُء َبع‬ ُ ‫ون َو ْالم ُْؤ ِم َن‬
ُ ْ‫ات َبع‬ َ ‫َو ْالم ُْؤ ِم ُن‬
ٍ ‫ت َج َّنا‬
‫ت‬ َ ‫) َو َعدَ هَّللا ُ ْالم ُْؤ ِمن‬71( ‫ِك َس َيرْ َح ُم ُه ُم هَّللا ُ إِنَّ هَّللا َ َع ِزي ٌز َحكِي ٌم‬
ِ ‫ِين َو ْالم ُْؤ ِم َنا‬ َ ‫ُون هَّللا َ َو َرسُولَ ُه أُولَئ‬
َ ‫الز َكا َة َويُطِ يع‬َّ
‫ت َع ْد ٍن َو ِرضْ َوانٌ م َِن هَّللا ِ أَ ْك َب ُر َذل َِك ه َُو ْال َف ْو ُز‬ ِ ‫ِين فِي َها َو َم َساك َِن َط ِّي َب ًة فِي َج َّنا‬ َ ‫َتجْ ِري مِنْ َتحْ ِت َها األ ْن َها ُر َخالِد‬
)72( ‫ْالعَظِ ي ُم‬
Artinya:”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf,
mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. (71) Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan
perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di
dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridaan Allah adalah
lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.(72)” (Surat Al-Taubah/9: 71-72)
Tafsiran ayat di atas
Pada ayat Surat Al-Taubah/9: 71 diatas Allah SWT. menjelaskan bahwa orang-orang
mukmin baik laki-laki atau perempuan setengahnya menjadi pembantu yang setengah ( bimbing-
membimbing ), mereka menyuruh dengan ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, menegakkan
sembahyang, memberikan zakat serta mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Maka orang –orang mukmin
wajib menyuruh dengan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar terhadap siapa yang tidak
menuntut jalan kebenaran, meskipun pemerintah sendiri.
Dalam ayat Surat Al-Taubah/9: 72 diatas dapat dua pelajaran yang dapat dipetik :
        1. Kehidupan di akhirat tidak saja berupa kehidupan maknawiah, melainkan juga berbentuk
kehidupan materi. Namun, kenikmatan maknawi yang dirasakan disurga lebih utama
daripada seluruh kenikmatan materi.
2.  Allah SWT pada hari kiamat kelak, akan mengganti seluruh kenikmatan yang terlarangbagi
manusia di dunia dengan bentuknya yang lebih baik. Manusia yang selama di dunia bersabar
mematuhi larangan dari Allah, akan mendapatkan gantinya disurga kelak.

h. Surat Al-An’am/6: 165


ِ ‫َّك َس ِري ُع ْال ِع َقا‬
‫ب‬ َ ‫ت لِ َي ْبلُ َو ُك ْم فِي َما آ َتا ُك ْم إِنَّ َرب‬ ٍ ْ‫ض ُك ْم َف ْو َق َبع‬
ٍ ‫ض د ََر َجا‬ َ ْ‫ض َو َر َف َع َبع‬ َ ‫َوه َُو الَّذِي َج َعلَ ُك ْم َخالئ‬
ِ ْ‫ِف األر‬
‫َوإِ َّن ُه لَ َغفُو ٌر َرحِي ٌم‬
Artinya:”Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan
sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang
diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”( Surat Al-An’am/6: 165)
Tafsiran ayat di atas
Pada ayat diatas Allah telah menjadikan kalian sebagai penguasa diatas bumi, yang telah
menggantikan umat dan masyarakat yang sebelummu, juga Allah telah mengangkat sebagian dari
kamu beberapa derajat, tingkat dari yang lain, kekuasaan dan ketinggian derajat itu tidak lain Allah
akan menguji kalian, bagaimana menerima, mempergunakan dan menyukuri pemberian Allah.