Anda di halaman 1dari 98

Katalog: 1404077

Buku 4

  



BADAN PUSAT STATISTIK
Buku 4




BUKU 4 KONSEP DAN DEFINISI
MODUL KETAHANAN SOSIAL
SURVEI SOSIAL EKONOMI NASIONAL
SUSENAS SEPTEMBER 2020

ISBN : -
No. Publikasi : 04320.2006
Katalog : 1404077

Ukuran Buku : 18,2 x 25,7 cm


Jumlah Halaman : vi + 88 halaman

Naskah :
Direktorat Statistik Ketahanan Sosial
Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat
Direktorat Pengembangan Metodologi Sensus dan Survei

Penyunting :
Direktorat Statistik Ketahanan Sosial

Desain Kover oleh :


Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, Direktorat Statistik Ketahanan Sosial

Penerbit :
© BPS RI

Pencetak :
Badan Pusat Statistik

Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau


menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersial
tanpa izin tertulis dari Badan Pusat Statistik

ii | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... iii


DAFTAR ISI ..................................................................................................................... v

BAB I DAFTAR SAMPEL RUMAH TANGGA


A. Struktur Daftar VSEN20.IDENT .......................................................... 1
B. Struktur Daftar VSEN20.DSRT ............................................................. 4
C. Mekanisme Kegiatan Identifikasi dan Mendapatkan Sampel
Rumah Tangga Pencacahan ................................................................ 6

BAB II BLOK MODUL HANSOS PADA KUESIONER SUSENAS


SEPTEMBER 2020
A. Waktu .......................................................................................................... 11
B. Blok I. Keterangan Tempat ................................................................... 11
C. Blok II. Keterangan Pencacah ............................................................. 12
D. Blok III. Ringkasan .................................................................................. 14
E. Blok IV. Keterangan Anggota Rumah Tangga ............................. 14
F. Blok V. Pendidikan dan Ketenagakerjaan ..................................... 22
G. Blok VI. Keterangan Umum.................................................................. 39
H. Blok VII. Sosial Masyarakat ................................................................. 42
I. Blok VIII. Keamanan .............................................................................. 56
J. Petunjuk dan Tata Cara Pengisian Blok Modul Hansos
Susenas September 2020 .................................................................... 57

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | v


DAFTAR ISI

BAB III BLOK PENGELUARAN PADA KUESIONER SUSENAS


SEPTEMBER 2020
A. Hal-Hal yang Dikumpulkan Pada Blok Pengeluaran Susenas
September 2020 ...................................................................................... 61
B. Struktur Blok Pengeluaran pada Kusesioner Susenas
September 2020 ..................................................................................... 62
C. Bagan Kegiatan Ekonomi Rumah Tangga .................................... 63
D. Blok IX. Total Pengeluaran Selama Sebulan Terakhir ............. 64
E. Blok X. Pengeluaran Bahan Makanan, Bahan Minuman,
dan Rokok Selama Seminggu Terakhir .......................................... 69
F. Blok XI. Rata-Rata Pengeluaran untuk Barang-Barang Bukan
Makanan Selama Bulan April Sampai dengan Bulan
September ................................................................................................. 77
G. Blok XII. Catatan....................................................................................... 83
H. Petunjuk dan Tata Cara Pengisian Blok Pengeluaran Susenas
September 2020 ...................................................................................... 84
I. Contoh Pengisian Blok Pengeluaran Susenas September
2020 ............................................................................................................. 85

vi | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


BAB I
DAFTAR SAMPEL RUMAH TANGGA

Sebelum melakukan pencacahan VSEN20.MH, kegiatan yang harus


dilakukan petugas lapangan dalam hal ini pencacah, adalah melakukan
identifikasi daftar rumah tangga yang akan menjadi target sampel rumah
tangga bersama ketua/pengurus SLS melalui daftar VSEN20.IDENT. Setelah
identifikasi dilaksanakan, pengawas akan menentukan target sampel
rumah tangga untuk didata dengan menggunakan Daftar Sampel Rumah
Tangga (VSEN20.DSRT).
A. Struktur Daftar VSEN20.IDENT
1. Blok I. Keterangan Tempat, Rincian 1 s.d 7 mencakup kode dan nama
provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan, klasifikasi desa/
kelurahan, nomor blok sensus, dan nomor kode sampel (NKS) sesuai
dengan VSEN20.DSBS.

2. Blok II. Rekapitulasi Rumah Tangga, memuat jumlah rumah


tangga hasil pemutakhiran Susenas Maret 2020 atau survei
terakhir dimana blok sensus ini terpilih sampel. Selain itu pada
rincian 2 yaitu jumlah rumah tangga hasil identifikasi akan diisi
oleh pencacah sesuai hasil identifikasi bersama Ketua/Pengurus
SLS.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 1


3. Blok III. Keterangan Pencacahan, berisi nama petugas pencacah
dan pengawas beserta tanggal dilakukan identifikasi (pencacah) dan
tanggal melakukan pemeriksaan hasil identifikasi (pengawas), disertai
tanda tangan masing-masing petugas sebagai pengesahan.

4. Blok IV. Catatan. Blok ini digunakan untuk mencatat informasi penting
terkait kegiatan identifikasi rumah tangga

5. Blok V. Keterangan Rumah Tangga. Berisi maksimal 15 rumah


tangga yang harus diidentifikasi bersama Ketua/Pengurus SLS untuk
mengetahui keberadaan rumah tangga yang ada dalam daftar. Tiap
rumah tangga diberi tanda cek atau silang pada kolom 8 sesuai hasil
identifikasi.

2 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


Hasil Identifikasi (kolom 8) yang dimaksud adalah hasil identifikasi dari
petugas yang melibatkan ketua/pengurus SLS yang tercakup pada
VSEN20.IDENT. Setiap rumah tangga dalam Blok V yang diidentifikasi
akan menghasilkan 2 (dua) kondisi, yaitu:
a. Ada. Rumah tangga dikatakan ada jika nama KRT dikenali atau
ditemukan, nama KRT dikenali namun terdapat perbedaan
penyebutan nama, sudah meninggal/pindah namun KRT digantikan
oleh ART lainnya.
b. Tidak Ada. Rumah tangga dikatakan ada jika nama tersebut tidak
dikenali, rumah tangga tersebut tidak ada lagi karena pindah keluar
blok sensus, atau meninggal dunia tanpa ada ART lain dalam rumah
tangga.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 3


B. Struktur Daftar VSEN20.DSRT
1. Blok I. Keterangan Tempat, Rincian 1 s.d 7 mencakup kode dan nama
provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan, klasifikasi desa/
kelurahan, nomor blok sensus, dan nomor kode sampel (NKS).
2. Blok II. Target Sampel Rumah Tangga, memuat jumlah rumah tangga
sebagai target pencacahan VSEN20.MH dengan jumlah maksimal 10
rumah tangga.

3. Blok III. Keterangan Pencacahan, Rincian 1 s.d 3, memuat nama


pencacah dan pengawas, tanggal pencacahan dan pengawasan rumah
tangga, dan tanda tangan pencacah dan pengawas.

4 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


4. Blok IV. Catatan, digunakan untuk mengisi segala informasi yang
perlu untuk disampaikan terkait sampel rumah tangga.

5. Blok V. Keterangan Sampel Rumah Tangga, sudah tercetak isian pada


kolom 1 s.d 6 maksimal 10 rumah tangga yang merupakan sampel
yang berasal dari Susenas Maret 2020, ditambah dengan beberapa
baris kosong yang akan diisi tambahan target sampel oleh Pengawas
sehingga seluruh target pencacahan berjumlah 10 (sepuluh) rumah
tangga.
a. Kolom 1 s.d 7 sudah terisi dan dilengkapi oleh Pengawas. Target
pencacahan bagi Pencacah adalah rumah tangga yang kolom
nomor urut ruta kolom 7 terisi.
b. Kolom 8. Kolom ini akan diisi oleh Pencacah sesuai hasil pencacahan
yang telah dilakukan.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 5


Untuk setiap rumah tangga dengan terisi nomor urut sampel (nus),
maka akan dilanjutkan dengan pencacahan menggunakan VSEN20.
MH dan VSEN20.KP. Status hasil pencacahan (kolom 8) meliputi:
1) Terisi Lengkap, artinya rumah tangga berhasil dicacah dengan
semua rincian lengkap terisi sesuai alurnya.
2) Terisi Tidak Lengkap, artinya rumah tangga berhasil dicacah namun
ada satu atau beberapa rincian yang tidak terisi.
3) Tidak ada ART/responden yang dapat memberi jawaban, adalah
kondisi dimana sampai dengan masa pencacahan selesai, belum
dapat menemui ART atau responden dalam rumah tangga sampel.
4) Responden Menolak, artinya rumah tangga sampel menolak untuk
dicacah, dengan berbagai upaya dan pendekatan tetap menolak
sebagai responden.
5) Rumah tangga pindah / bangunan sensus sudah tidak ada, adalah
kondisi dimana pada masa pencacahan rumah tangga sampel telah
pindah atau bangunan tempat tinggalnya tidak dapat ditemukan.

C. Mekanisme Kegiatan Identifikasi dan Mendapatkan Sampel Rumah


Tangga Pencacahan
1. Pencacah menerima VSEN20.IDENT yang menjadi wilayah tugasnya,
kemudian bersama pengawas mengidentifikasi Satuan Lingkungan
Setempat (SLS) yang tercakup pada masing-masing blok sensus.
Dari contoh daftar VSEN20.IDENT di atas dari kolom 2 terlihat bahwa
cakupan sampel blok sensus ini meliputi 3 (tiga) SLS, yaitu Lingkungan
Tgk Ijo, Lingkungan Cemara, dan Lingkungan Kemuning.
Untuk selanjutnya Pencacah akan berkoordinasi dengan 3 (tiga) Ketua/
Pengurus SLS tersebut dalam rangka melakukan identifikasi rumah
tangga yang ada dalam Daftar VSEN20.IDENT.
2. Pencacah berkoordinasi dengan ketua/pengurus SLS untuk
menjelaskan mekanisme pendataan Susenas September 2020 dan
melakukan identifikasi nama-nama KRT yang terdapat dalam VSEN20.
IDENT.
3. Pencacah bersama ketua/pengurus SLS mengidentifikasi satu per satu
nama KRT yang tertulis dalam Blok V. Tuliskan hasil identifikasinya
pada kolom 8.
a. Petugas dapat melakukan probbing sehingga Ketua/Pengurus SLS
mudah menyimpulkan suatu rumah tangga masih ada atau tidak
ada lagi.

6 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


b. Pencacah dapat menggali informasi dari Ketua/Pengurus SLS
mengenai rumah tangga calon sampel perihal pendataan
berikutnya, seperti waktu dan metode pendataan yang tetap sesuai
kebiasaan warga setempat.

4. Menghitung jumlah target sampel rumah tangga dari hasil identifikasi.


Hitung kolom 7 yang bertanda cek (V) dan bertanda silang (X) dan
tuliskan jumlahnya dalam blok II rincian 2 sebagai berikut:

Dari rekapitulasi di atas secara langsung dapat diketahui bahwa


kemungkinan target sampel rumah tangga akan terpenuhi 10 rumah
tangga karena isian 2.A jumlahnya 13 rumah tangga.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 7


5. Pencacah selanjutnya menuliskan dan melengkapi isian nama, tanggal
identifikasi dan membubuhkan tanda tangan. Kemudian menyerahkan
daftar ini kepada Pengawas.
6. Pengawas memeriksa Daftar VSEN20.IDENT dari Pencacah, dan
mengisi/melengkapi VSEN20.DSRT berdasarkan hasil VSEN20.IDENT.
(Tahapan ini dirinci pada buku Pengawas).
7. Pengawas melengkapi isian nama, tanggal pemeriksaan VSEN20.IDENT
dan membubuhkan tanda tangan.

8. Pengawas menyerahkan VSEN20.DSRT kepada pencacah, kemudian


pencacah melanjutkan tahap pendataan dengan VSEN20.MH. Target
sampel rumah tangga untuk didata adalah rumah tangga dengan
kolom 7 terisi nomor urut sampel

8 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


9. Ketika pencacah melakukan kunjungan pendataan pada sampel rumah
tangga, rumah tangga tersebut diketahui telah pindah atau tidak
bersedia menjadi sampel, maka laporkan kepada Pengawas.
10. Setelah selesai pendataan seluruh rumah tangga, pencacah harus
mengisi VSEN20.DSRT blok V kolom 8 sesuai status hasil pendataan/
pencacahan.

11. Setelah selesai pendataan, daftar VSEN20.IDENT dan VSEN20.DSRT


dikumpulkan beserta set dokumen VSEN20.MH.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 9


BAB II
BLOK MODUL HANSOS PADA KUESIONER
SUSENAS SEPTEMBER 2020

A. Referensi Waktu
(1). Seminggu terakhir adalah jangka waktu seminggu yang berakhir
sehari sebelum tanggal pencacahan.
(2). Sebulan terakhir adalah jangka waktu sebulan yang berakhir sehari
sebelum tanggal pencacahan.
(3). Setahun terakhir adalah jangka waktu satu tahun yang berakhir
sehari sebelum tanggal pencacahan.

B. Blok I. Keterangan Tempat


(1). P.101 s.d. P.107. Identitas Tempat
Tuliskan nama dan kode provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/
kelurahan, klasifikasi desa/kelurahan, nomor blok sensus, dan nomor
kode sampel (NKS). Isian rincian ini berasal dari Rincian 1 s.d. 7 Blok
I Daftar VSEN20.DSRT.
(2). P.108. Nomor Urut Bangunan Fisik di Sketsa Peta WB
Tuliskan nomor urut bangunan fisik rumah tangga sampel sesuai yang
tertera pada sketsa peta. Disalin dari VSEN20.DSRT.
(3). P.109. Nomor Urut Sampel Rumah Tangga (NURT)
Nomor urut sampel rumah tangga September berasal dari kolom (7)
Blok V Daftar VSEN20.DSRT yaitu mulai dari nomor 1 s.d. 10 untuk
setiap blok sensus terpilih. Nomor urut sampel rumah tangga Maret
akan diisi oleh pengawas.
(4). P.110. Nama Kepala Rumah Tangga
Tanyakan dan tuliskan nama kepala rumah tangga dari rumah tangga
terpilih sampel Susenas 2020. Nama kepala rumah tangga ini harus
sama dengan yang tercantum di kolom (5) Blok V Daftar VSEN20.
DSRT. Apabila berbeda, beri penjelasan di Blok IV Daftar VSEN20.
DSRT (Catatan).
(5). P.111. Alamat Lengkap (Nama Jalan/Gang, RT/RW/Dusun)
Tuliskan alamat rumah tangga terpilih secara jelas, nama jalan/gang,
RT/RW, nomor rumah, dan lain-lain.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 11


(6). P.112. Nomor Telepon Responden
Tuliskan nomer telepon responden yang dapat dihubungi pada isian ini.
(7). Contoh Pengisian Blok I
a. Sebelum mengunjungi rumah tangga sampel, pencacah melengkapi
isian Blok I sesuai dengan daftar sampel rumah tangga (VSEN20.
DSRT).
b. Nama KRT, alamat, dan koordinat lokasi rumah tangga, diisi pada saat
pencacah mewawancarai rumah tangga. Jika terdapat perbedaan
nama KRT atau alamat, beri keterangan pada blok catatan.

C. Blok II. Keterangan Pencacah


(1). P.201. Pencacah
Isikan nama dan kode/NIP pencacah.
a. Jika organik BPS, isikan NIP 5 digit pada kotak.
b. Jika mitra BPS, isikan 2 digit pertama kode kabupaten, digit ketiga
diisi angka 2, dan 2 digit terakhir nomer urut.
Kemudian isikan jabatan, waktu, dan tanda tangan.
(2). P.202. Pengawas
Isikan nama dan kode/NIP pengawas.
a. Jika organik BPS, isikan NIP 5 digit pada kotak.
b. Jika mitra BPS, isikan 2 digit pertama kode kabupaten, digit ketiga
diisi angka 1, dan 2 digit terakhir nomer urut.
Kemudian isikan jabatan, waktu, dan tanda tangan.

12 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


(3) P.203. Hasil Pencacahan Rumah Tangga
Kode Jawaban:
a. Kode 1: Terisi lengkap
Petugas berhasil menemui dan melakukan wawancara terhadap
rumah tangga terpilih dengan kuesioner secara lengkap.
b. Kode 2: Terisi tidak lengkap
Petugas berhasil menemui rumah tangga terpilih, namun tidak
dapat mewawancarai responden dengan kuesioner secara lengkap.
c. Kode 3: Tidak ada ART/responden yang dapat memberikan
jawaban sampai akhir masa pencacahan
Petugas berhasil menemui rumah tangga terpilih, namun tidak
ada ART/responden yang dapat diwawancarai sampai akhir masa
pencacahan.
d. Kode 4: Responden menolak
Responden menolak untuk diwawancarai.
e. Kode 5: Rumah tangga pindah/bangunan sensus sudah tidak
ada
Petugas tidak berhasil menemukan rumah tangga/bangunan sensus
terpilih sampai akhir masa pencacahan. Misalnya: rumah tangga
pindah keluar blok sensus, bangunan digusur, atau bangunan
terbakar/runtuh karena gempa/banjir/bencana lain.
Jika jawaban berkode 2 s.d. 5, maka tuliskan penjelasannya di
Blok XII. Catatan.
(2). Contoh Pengisian Blok II. Keterangan Pencacah
Seorang pencacah bernama Minho merupakan seorang Mitra.
Pengawasnya bernama Hana Amelia merupakan staf BPS Kota.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 13


D. Blok III. Ringkasan
Blok III diisi setelah pencacah selesai mewawancarai rumah tangga dengan
VSEN20.MH. Blok III diisi dengan melihat isian Blok IV. Keterangan Anggota
Rumah Tangga.

E. Blok IV. Keterangan Anggota Rumah Tangga


(1) P.402. Nama Anggota Rumah Tangga (ART)
Sebutkan siapa saja yang biasa tinggal di rumah tangga ini dan
kepengurusan makannya juga dikelola dari satu dapur.
Urutan penulisan ART:
a. Kepala Rumah Tangga (KRT).
Pada kasus tertentu, misalnya beberapa anak sekolah mengontrak/
menyewa rumah bersama-sama, maka KRT adalah seseorang yang
ditunjuk di antara anak sekolah tersebut sebagai KRT.
b. Istri/suami KRT (pasangan KRT).
Urutan penulisan ART bila KRT memiliki istri lebih dari satu dan
tinggal dalam satu rumah tangga adalah KRT, istri pertama,
kemudian istri kedua.
c. Anak yang belum menikah.
Penulisan nama anak-anak yang belum menikah diurutkan mulai
dari yang tertua.
d. Anak yang sudah menikah diikuti pasangannya dan anak-
anaknya yang belum menikah.
Susunan nama anak-anak dari pasangan yang belum menikah
diurutkan mulai dari yang tertua. Seterusnya, anak dari KRT yang
telah menikah ditulis berurutan dengan pasangannya dan anak-
anaknya.
e. Anak yang pernah menikah (cerai hidup/cerai mati) diikuti
pasangannya dan anak-anaknya yang belum menikah.
Catatan:
Urutan penulisan anak kandung/tiri dan anak angkat adalah
anak kandung/tiri yang belum menikah menurut umur dari yang
tertua; anak angkat yang belum menikah diurutkan menurut
umur dari yang tertua; anak kandung yang sudah menikah;

14 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


pasangan dari anak yang sudah menikah (menantu), dan anaknya,
dst.; anak angkat yang sudah menikah selanjutnya pasangan dan
anaknya, dst.
f. ART lainnya, baik dengan atau tanpa pasangan, mulai dari
orang tua/mertua, pembantu/sopir/tukang kebun, famili lain
dan lainnya.
Penulisan nama KRT dan ART tidak boleh disingkat dan ditulis
tanpa menggunakan kata sebutan atau gelar, misalnya: Ir., Drs.,
Tuan, Nyonya, Bapak, Ibu, dan lain-lain.
Setelah semua ART selesai dicatat, bacakan kembali nama-nama
tersebut, kemudian ajukan lagi pertanyaan untuk memastikan adanya:
a. Orang yang namanya belum tercatat karena lupa atau dianggap
bukan ART, seperti bayi atau anak kecil, pembantu, teman/tamu
yang sudah tinggal 6 bulan atau lebih, keponakan, anak indekos,
dan sebagainya yang biasa tinggal di rumah tangga tersebut, atau
orang yang sedang bepergian kurang dari 6 bulan, tetapi biasanya
tinggal di rumah tangga tersebut. Tambahkan nama-nama yang
tertinggal tersebut pada baris-baris sesuai dengan urutan kode
hubungan dengan KRT.
b. Orang yang dianggap ART karena biasanya tinggal di rumah
tangga tersebut, tetapi sedang bepergian selama 6 bulan atau
lebih. Apabila sudah terlanjur ditulis pada Blok IV, hapus nama dari
daftar, kemudian urutkan kembali nama-nama ART sesuai dengan
urutan kode hubungan dengan KRT.
(2) P.403. Apakah Hubungan (NAMA) dengan Kepala Rumah Tangga?
Kode jawaban:
a. Kode 1: Kepala Rumah Tangga (KRT)
Salah seorang dari ART yang bertanggung jawab atas kebutuhan
sehari-hari dalam rumah tangga. Seorang suami/KRT yang
mempunyai istri lebih dari satu yang tinggal di rumah tangga
yang berbeda, maka ia harus dicatat di salah satu rumah tangga
istri yang lebih lama tinggal. Bila diketahui lamanya tinggal
bersama istri-istrinya sama, maka ia dicatat di rumah istri yang
paling lama dinikahi.
b. Kode 2: Istri/suami
Pasangan dari KRT.
c. Kode 3: Anak kandung/anak tiri
Anak kandung adalah anak yang lahir dari perkawinan KRT dengan
pasangannya; anak sendiri (bukan anak tiri atau anak angkat).

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 15


Anak tiri adalah anak bawaan suami/istri yang bukan hasil
perkawinan dengan istri/suami sekarang.
d. Kode 4: Anak angkat
Anak orang lain yang diambil (dipelihara) serta disahkan secara
hukum sebagai anak sendiri. Dalam hal ini, termasuk anak angkat
yang disahkan oleh pemangku adat.
Jika seorang anak hanya diakui sebagai anak angkat tanpa ada
pengangkatan anak secara legal formal (di catatan sipil atau
pengadilan agama), maka tidak dicatat sebagai anak angkat.
e. Kode 5: Menantu
Suami/istri dari anak kandung, anak tiri, atau anak angkat.
f. Kode 6: Cucu
Anak dari anak kandung, anak tiri, atau anak angkat..
g. Kode 7: Orang tua/mertua
Bapak/ibu dari KRT atau bapak/ibu dari istri/suami KRT.
h. Kode 8: Pembantu/sopir
Pembantu adalah orang yang bekerja sebagai pembantu yang
menginap di rumah tangga dan menerima upah/gaji, baik berupa
uang ataupun barang.
Termasuk pembantu:
1. Famili yang dipekerjakan sebagai pembantu (menerima upah/
gaji) dianggap sebagai pembantu rumah tangga.
2. Tukang kebun yang menjadi ART majikan (makan dan menginap
di rumah majikan), maka dicatat sebagai pembantu.
3. Anak pembantu yang ikut tinggal di dalam rumah tangga,
apabila diperlakukan sebagai pembantu, status hubungan
dengan KRT dicatat sebagai pembantu. Apabila anak tersebut
tidak diperlakukan sebagai pembantu, maka dicatat sebagai
lainnya.
4. Sopir adalah orang yang bekerja untuk mengemudikan
kendaraan bermotor yang menginap di rumah tangga dan
menerima upah/gaji baik berupa uang ataupun barang.
i. Kode 9: Lainnya (famili lain, orang yang tidak ada hubungan
famili dengan KRT)
Famili lain adalah orang yang ada hubungan famili dengan KRT
atau dengan istri/suami KRT, seperti adik, kakak, bibi, paman, dll.
Lainnya adalah orang yang tidak ada hubungan famili dengan
KRT atau istri/suami KRT yang berada di rumah tangga lebih dari
6 bulan, seperti tamu, teman, dan orang yang mondok dengan

16 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


makan (indekos), termasuk anak pembantu yang juga tinggal dan
makan di rumah tangga majikannya.
Termasuk lainnya adalah: Mantan menantu yang tidak ada
hubungan famili dengan kepala rumah tangga. Jika ada hubungan
famili, maka dicatat sebagaimana status hubungan dengan kepala
rumah tangga sebelum menikah.
(3) P.404. Apakah Status Perkawinan (NAMA)?
Kode Jawaban:
a. Kode 1: Belum kawin
b. Kode 2: Kawin
Seseorang yang pada saat pencacahan hidup sebagai suami atau istri
berdasarkan peraturan hukum/adat/agama, baik yang mendapatkan
surat nikah maupun tidak, namun sah menurut hukum/adat/agama.
Termasuk kategori kawin adalah mereka yang mempunyai
pasangan perempuan (bagi laki-laki) atau pasangan laki-laki (bagi
perempuan) tanpa terikat dalam perkawinan yang sah secara
hukum (adat, agama, negara), namun memiliki hubungan layaknya
suami istri, baik tinggal bersama dalam satu rumah maupun tidak.
c. Kode 3: Cerai hidup
Seseorang yang pada saat pencacahan telah berpisah sebagai
suami-istri karena bercerai dan belum kawin lagi.
Termasuk cerai hidup adalah:
1. Mereka yang mengaku cerai walaupun belum resmi secara
hukum.
2. Mereka yang pernah hidup bersama, tetapi pada saat
pencacahan sudah berpisah (tidak hidup bersama lagi).
3. Perempuan yang mengaku belum pernah menikah/kawin/ hidup
bersama, tetapi mempunyai anak (hamil di luar nikah), baik anak
yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Tidak termasuk cerai hidup adalah: Mereka yang hidup terpisah,
tetapi masih berstatus kawin, misalnya suami/istri ditinggalkan
oleh istri/suami ke tempat lain karena sekolah, bekerja, mencari
pekerjaan, atau untuk keperluan lain.
d. Kode 4: Cerai mati
Seseorang ditinggal mati oleh suami atau istrinya dan belum kawin
lagi.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 17


(4) P.405. Apakah (NAMA) laki-laki atau perempuan?
Jika pada saat pencacahan terdapat anggota rumah tangga yang tidak
dapat ditemui, pencacah harus menanyakan apakah anggota rumah
tangga tersebut “laki-laki” atau “perempuan” kepada anggota rumah
tangga lain yang dapat ditemui. Pencacah tidak boleh menduga jenis
kelamin anggota rumah tangga berdasarkan namanya karena bisa
saja nama laki-laki dan perempuan mirip.
Misalnya ART yang bernama “Endang” belum tentu berjenis kelamin
perempuan, di Jawa Barat ART bernama “Endang” ada yang berjenis
kelamin laki-laki maupun perempuan. Begitu juga dengan ART yang
bernama “Andi” belum tentu berjenis kelamin laki-laki, di Sulawesi
Selatan ART bernama “Andi” ada yang berjenis kelamin perempuan
maupun laki-laki.
(5) P.406. Kapan (NAMA) dilahirkan?
Tanggal, bulan, dan tahun pada saat ART dilahirkan.
Penjelasan:
a. Informasi tanggal, bulan, dan tahun lahir dapat diketahui dari
dokumen seperti kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk (KTP),
kartu lahir/akta kelahiran, dan lain-lain. Perlu diperhatikan bagi
pencacah yang menuliskan tanggal, bulan, dan tahun lahir dengan
menyalin dari dokumen KK agar mengecek kembali kebenarannya
kepada responden.
b. Rincian tanggal, bulan, dan tahun lahir tidak boleh kosong. Jika
responden benar-benar tidak mengetahui tanggal, bulan, dan/
atau tahun lahirnya, maka isian tahun dapat didekati dengan
mengurangkan tahun pencacahan (2020) dengan perkiraan
umurnya (yang sudah di-probing). Sementara itu, isian tanggal
dan/atau bulannya diberi kode “98”.
(6) P.407. Berapakah umur (NAMA)?
Umur harus diisi, jika ≥ 97 tahun, tulis ‘97’ (dalam tahun).
Umur dihitung dalam tahun dengan pembulatan ke bawah atau umur
pada waktu ulang tahun yang terakhir.
Penjelasan:
a. Umur dapat diketahui melalui akta kelahiran, surat kenal lahir, kartu
dokter, kartu imunisasi, kartu menuju sehat (KMS), atau catatan lain
yang dibuat oleh orang tuanya. Perhatikan tanggal dikeluarkannya
surat-surat tersebut (misalnya KTP atau KK) bila yang tercatat di
sana adalah umur (bukan tanggal lahir).

18 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


b. Menghubungkan waktu kelahiran responden dengan tanggal,
bulan, dan tahun kejadian atau peristiwa penting yang terjadi di
Indonesia atau di daerah yang dikenal secara nasional maupun regional.
Contoh: Pemilu, gunung meletus, banjir, kebakaran, pemilihan kepala
desa/lurah, dan sebagainya. Beberapa peristiwa penting yang dapat
digunakan untuk memperkirakan umur antara lain:
1. Pendaratan Jepang di Indonesia (1942);
2. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (1945);
3. Pemilu I (1955);
4. Pemberontakan G30S/PKI (1965);
5. Reformasi Pemerintahan RI (1998);
6. Tsunami di Aceh (2004).
c. Membandingkan umur ART dengan saudara-saudara kandungnya.
Mulailah dengan memperkirakan umur anak yang terkecil, kemudian
bandingkan dengan anak kedua terkecil dengan menanyakan kira-
kira berapa umur atau sudah bisa berbuat apa saja {duduk (6 bulan),
merangkak (8 bulan), berdiri (9 bulan), berjalan (12 bulan)}.
d. Membandingkan dengan anak tetangga atau saudara yang
diketahui umurnya dengan pasti. Perkirakan berapa bulan anak
yang bersangkutan lebih tua atau lebih muda dari anak-anak
tersebut.
(7) P.408. Apakah sarana angkutan utama yang biasa (NAMA)
gunakan?
Indikator utama yang ingin diperoleh pada pertanyaan ini adalah
persentase pengguna moda transportasi umum di perkotaan sesuai
Goal SDGs 11.2.1.(a) yaitu Persentase pengguna moda transportasi
umum di perkotaan.
Cakupan pertanyaan ini ditujukan hanya penggunaan angkutan utama
yang biasa digunakan.
Penjelasan
a. Jika biasanya menggunakan lebih dari satu jenis sarana angkutan,
maka yang dimaksud adalah penggunaan jenis sarana angkutan
dengan jarak tempuh terpanjang.
b. Jika menggunakan lebih dari satu jenis sarana angkutan dalam
dengan frekuensi yang sama banyak maka isikan kendaraan yang
lebih mengurangi emisi. Contoh selama seminggu terakhir 3 hari
naik angkot, 3 hari naik ojek maka pilih angkot (kendaraan umum
dengan rute tertentu) karena angkot lebih baik dalam mengurangi
emisi.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 19


c. Jika ART adalah seorang supir, maka angkutan utama yang
dimaksud adalah kendaraan yang digunakan menuju terminal atau
pool. Jika kendaraan yang digunakan adalah kendaraan yang
sama, maka dikategorikan kendaraan pribadi.
d. Jika menggunakan kendaraan secara bersamaan (omprengan
atau carpooling), maka untuk yang berbayar termasuk Kendaraan
bermotor umum tidak berute, jika tidak berbayar untuk pemilik
kendaraan berarti masuk ke kendaraan bermotor pribadi, jika
bukan pemilik kendaraan termasuk Kendaraan bermotor umum
tidak berute.
Kode Jawaban
a. Kode 1: Tidak menggunakan kendaraan, jika ART tidak
menggunakan kendaraan apapun ketika menuju tempat kegiatan
utamanya, misalnya menuju tempat kegiatan utama dengan
berjalan kaki. Termasuk juga apabila tempat kegiatan utama ART
bertempat di rumah ART, misalnya toko yang bertempat di rumah,
atau sejenisnya, maka masuk dalam kategori ‘Tidak menggunakan
kendaraan.
b. Kode 2: Kendaraan tidak bermotor, jika ART menggunakan
kendaraan pribadi/umum namun bukan motor sebagai penggerak
melainkan digerakkan oleh tenaga manusia dan/atau hewan seperti
bersepeda, becak/ dokar, dll.
c. Kode 3: Kendaraan bermotor umum dengan rute tertentu, jika
ART menggunakan kendaraan bermotor umum yang sudah memiliki
rute tetap dan teratur, seperti Angkutan kota (angkot), angkutan
desa (angdes), bus Transjakarta, metromini, termasuk juga angkutan
di beberapa wilayah yang belum memiliki rute tetap, dll. ART yang
menggunakan kereta api termasuk dalam kategori ini .
d. Kode 4: Kendaraan bermotor umum tidak berute, jika ART
menggunakan kendaraan bermotor umum dengan tujuan tertentu
dan tujuan kendaraan sesuai dengan kemauan penumpang, seperti
taxi, gocar, grabcar, bajaj, mobil jemputan, omprengan, dll.
Catatan:
Menurut UU No 22 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Perhubungan
No.15 Tahun 2019 bahwa sepeda motor bukan termasuk dalam
angkutan umum maka penggunaan transportasi motor seperti
gojek, grab bike, dan ojek pangkalan tidak termasuk dalam
kendaraan bermotor umum tidak berute.

20 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


d. Kode 5: Kendaraan bermotor pribadi, jika ART menggunakan
kendaraan bermotor yang dimiliki atau dikuasai rumah tangga
(8) P.409. (Jika P.408= 4 atau 5) Apa alasan utama tidak menggunakan
kendaraan bermotor umum dengan rute tertentu?
Pertanyaan 408 hanya ditujukan untuk responden yang menggunakan
kendaraan bermotor umum tidak berute dan kendaraan bermotor
pribadi untuk mengetahui alasan masyarakat Indonesia tidak
menggunakan kendaraan bermotor umum dengan rute tertentu
sehingga dapat diambil kebijakan dalam perbaikan pelayanan
kendaraan umum dengan rute tertentu. Hal ini sejalan dengan
indikator SDGs goal 11.2, yaitu pada tahun 2030, menyediakan akses
terhadap sistem transportasi yang aman, terjangkau, mudah diakses
dan berkelanjutan untuk semua, meningkatkan keselamatan lalu lintas,
terutama dengan memperluas jangkauan transportasi umum, dengan
memberi perhatian khusus pada kebutuhan mereka yang berada
dalam situasi rentan, perempuan, anak, penyandang disabilitas dan
orang tua. Dengan demikian diharapkan transportasi umum dengan
rute tertentu kondisinya dapat lebih memberikan kondisi aman,
nyaman, waktunya lebih cepat.
Hasil studi reduksi emisi berdasarkan perubahan moda transportasi
di lingkungan Kampus IPB Dramaga menunjukkan bahwa perubahan
penggunaan kendaraan bermotor pribadi diganti dengan penggunaan
kendaraan bermotor umum (massal) di area kampus mampu
menurunkan beban emisi pencemar hingga lebih dari 60%. Hal
ini menunjukkan pentingnya beralih ke kendaraan bermotor umum,
namun banyak kendala dan alasan masyarakat untuk tidak mau beralih
seperti merasa tidak aman, tidak nyaman, semakin lama waktu yang
dihabiskan, dan ongkos lebih mahal jika menggunakan kendaraan
bermotor umum, ataupun memang tidak tersedia kendaraan bermotor
umum di daerah tempat tinggal. Pertanyaan ini diisi jika menggunakan
kendaraan bermotor umum tidak berute atau kendaraan bermotor
pribadi menuju ke tempat kegiatan utama.
Kode Jawaban:
a. Kode 1: Keamanan adalah jika dirasakan kendaraan bermotor
umum tidak aman, misalnya banyak tindakan kriminal di dalam
kendaraan bermotor umum seperti pencopetan, kekerasan,
pelecehan, dsb.
b. Kode 2: Kenyamanan adalah jika fasilitas kendaraan bermotor
umum dirasakan tidak nyaman, seperti kotor, fasilitas kendaraan

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 21


bermotor umum tidak lengkap, panas, supir kendaraan bermotor
umum terlalu ngebut, dsb .
c. Kode 3: Waktu adalah jika dengan menggunakan kendaraan
bermotor umum, waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama sampai
ke tujuan yang disebabkan karena macet, angkutan sering berhenti
untuk mencari penumpang, berganti kendaraan ke tempat tujuan
termasuk membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke jalan yang
dilalui kendaraan bermotor umum dengan rute tertentu.
d. Kode 4: Ongkos/biaya adalah jika dengan menggunakan
kendaraan bermotor umum pengeluaran menjadi lebih banyak
dibandingkan menggunakan kendaraan bermotor pribadi yang
dimiliki atau dikuasai.
e. Kode 5: Kesehatan adalah jika tidak menggunakan kendaraan
umum karena kondisi kesehatan.
f. Kode 6: Tidak Tersedia adalah jika tidak ada kendaraan bermotor
umum dengan rute tertentu di daerah tempat tinggal.
g. Kode 7: Lainnya alasan tidak menggunakan kendaraan bermotor
umum selain kategori di atas, misalnya karena sudah lanjut
sehingga sulit untuk menggunakan kendaraan bermotor umum,
mengupayakan kondisi steril agar terhindar dari penyakit dan
sebagainya.
Kategori ini juga termasuk ART yang bekerja sebagai supir ojek/
gojek, supir taxi atau angkutan kota (angkot) lainnya dimana
menuju terminal atau pool menggunakan kendaraan yang sama,
sehingga ART tidak menggunakan kendaraan bermotor umum
karena pekerjaan ART menggunakan kendaraan yang dimiliki atau
dikuasai tersebut.

F. Blok V. Pendidikan dan Ketenagakerjaan


Untuk Anggota Rumah Tangga Berumur 5 Tahun Keatas
(1) P.501. Apakah (NAMA) bersekolah?
Bersekolah adalah apabila seseorang terdaftar dan aktif mengikuti
proses belajar, baik di suatu jenjang pendidikan formal maupun
nonformal, khususnya program kesetaraan (Paket A/B/C) yang berada
di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemdikbud) maupun kementerian lainnya. Dikatakan aktif mengikuti
paket A, paket B, atau paket C apabila dalam sebulan terakhir pernah
mengikuti proses belajar pada kegiatan paket. Aktif mengikuti proses
belajar disini adalah baik secara offline saat masa normal ataupun

22 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


belajar secara online ketika masa pandemi covid19 sekarang ini.
Berikut penjelasan jenjang pendidikan formal dan nonformal:
a. Jenjang pendidikan formal
Jenjang pendidikan formal terdiri atas jenjang pendidikan dasar,
menengah, dan tinggi.
1. Jenjang pendidikan dasar, meliputi Sekolah Dasar (SD),
termasuk SD kecil/pamong (pendidikan anak oleh masyarakat,
orang tua, dan guru), Sekolah Luar Biasa (SLB) tingkat dasar,
Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Umum/Kejuruan (termasuk SMP Terbuka, SMEP, ST, SKKP), dan
Madrasah Tsanawiyah (MTs).
2. Jenjang pendidikan menengah, meliputi Sekolah Menengah
Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan
(antara lain: SMEA, STM, SMIP, SPG, SGA, termasuk sekolah
kejuruan yang dikelola oleh kementerian selain Kemdikbud),
dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
3. Jenjang pendidikan tinggi, meliputi:
a) Pendidikan Akademik merupakan pendidikan tinggi program
sarjana dan/atau program pascasarjana yang diarahkan pada
penguasaan dan pengembangan cabang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Yang termasuk program pendidikan
akademik antara lain: program sarjana (S1), magister (S2),
dan doktor (S3). Lulusan program-program tersebut berhak
menggunakan gelar sarjana, magister, atau doktor.
b) Pendidikan Vokasi merupakan pendidikan tinggi program
diploma yang menyiapkan mahasiswa untuk pekerjaan
dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana
terapan. Program pendidikan vokasi antara lain: program
diploma (diploma satu (D1), diploma dua (D2), diploma tiga
(D3), dan diploma empat (D4) atau sarjana terapan), magister
terapan, dan doktor terapan. Lulusan program-program
pendidikan vokasi berhak menggunakan gelar ahli pratama,
ahli muda, ahli madya, sarjana terapan, magister terapan, dan
doktor terapan.
c) Pendidikan Profesi merupakan pendidikan tinggi setelah
program sarjana yang menyiapkan mahasiswa dalam
pekerjaan yang memerlukan persyaratan keahlian khusus.
Program pendidikan profesi (keahlian lanjutan) antara lain
program profesi dan program spesialis. Program profesi dapat

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 23


menggunakan nama lain yang sederajat seperti: program
profesi dokter, insinyur, apoteker, akuntan, notaris, psikolog,
guru/pendidik, dan wartawan. Sedangkan program spesialis
dapat menggunakan nama lain yang sederajat dan memiliki
tingkatan, antara lain: program dokter spesialis dan subspesialis,
program insinyur profesional pratama, madya, dan utama,
sesuai ketentuan yang berlaku. Lulusan program pendidikan
profesi berhak menggunakan gelar profesi atau spesialis.
Penjelasan:
Pondok pesantren tidak termasuk dalam pendidikan formal
maupun nonformal, kecuali pondok pesantren yang mengadopsi
kurikulum nasional, dan terdapat Surat Keputusan resmi, baik dari
Kemdikbud maupun Kementerian Agama.
b. Jenjang pendidikan nonformal (pendidikan kesetaraan)
Jenjang pendidikan nonformal yang dicakup dalam Susenas hanya
pendidikan kesetaraan, yaitu pendidikan nonformal yang mencakup
program Paket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/MTs, dan Paket
C setara SMA/MA (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 26).
Kode jawaban:
a. Kode 1: Tidak/belum pernah bersekolah, jika ART berumur 5
tahun ke atas tidak/belum pernah terdaftar dan tidak/belum pernah
aktif mengikuti pendidikan, baik di suatu jenjang pendidikan formal
maupun nonformal (Paket A/B/C), termasuk juga yang tamat/belum
tamat TK, tetapi tidak melanjutkan ke SD;
b. Kode 2: Masih bersekolah, jika ART berumur 5 tahun ke atas
terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan, baik di suatu jenjang
pendidikan formal maupun nonformal (Paket A/B/C), yang berada
di bawah pengawasan Kemdikbud, Kementerian Agama, Instansi
Pemerintah lain maupun Instansi Swasta. Termasuk bagi mahasiswa
yang sedang cuti dianggap masih bersekolah;
c. Kode 3: Tidak bersekolah lagi, jika ART berumur 5 tahun ke atas
pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan, baik di suatu jenjang
pendidikan formal maupun nonformal (Paket A/B/C), tetapi pada saat
pencacahan tidak terdaftar atau tidak aktif mengikuti pendidikan lagi.
(2) P.502. Apakah ijazah/STTB tertinggi yang telah ditamatkan
(NAMA)?
Ijazah/STTB adalah lembaran atau tanda bukti kelulusan yang diberikan
kepada seseorang yang sudah menyelesaikan semua persyaratan
akademik pada suatu jenjang pendidikan tertentu.

24 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


Kode jawaban:
a. Kode 1: Tidak tamat SD
Tidak tamat SD adalah seseorang yang tidak memiliki ijazah suatu
jenjang pendidikan atau pernah bersekolah di Sekolah Dasar
atau yang sederajat (antara lain Sekolah Luar Biasa tingkat dasar,
Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Dasar Pamong, Sekolah Dasar Kecil,
paket A1-A100, Paket A Setara SD), tetapi tidak/belum tamat.
Termasuk juga seseorang yang tamat sekolah dasar 3 tahun atau
yang sederajat bukan karena akselerasi.
b. Kode 2: SD
Ijasah/STTB tertinggi yang dimiliki SD termasuk memiliki ijazah/
STTB pendidikan SD, SDLB, ataupun Paket A
SD, Sekolah Dasar adalah sekolah dasar atau yang sederajat;
MI, Madrasah Ibtidaiyah adalah satuan pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama
Islam yang terdiri atas 6 (enam) tingkat pada jenjang pendidikan
dasar (sederajat dengan SD);
SDLB, Sekolah Dasar Luar Biasa adalah satuan pendidikan/
sekolah pada tingkat Sekolah Dasar (SD) yang menyelenggarakan
pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK);
Paket A adalah satuan pendidikan nonformal yang setara atau
sederajat dengan jenjang pendidikan dasar (SD). Program Paket
A setara SD/MI disediakan untuk:
1. Penduduk yang belum selesai menempuh pendidikan (putus
sekolah) di SD/sederajat.
2. Penduduk yang belum pernah menempuh pendidikan SD/sederajat
atau tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor, seperti faktor
ekonomi, kendala waktu, geografi, dan masalah sosial/hukum,
seperti : anak jalanan, korban napza, dan anak lapas.
c. Kode 3: SMP
Ijasah/STTB tertinggi yang dimiliki SMP termasuk memiliki ijazah/
STTB pendidikan SMP, SMPLB, ataupun Paket B
SMP, Sekolah Menengah Pertama adalah sekolah menengah
pertama atau yang sederajat;
MTs, Madrasah Tsanawiyah adalah satuan pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama
islam yang terdiri atas 3 (tiga) tingkat pada jenjang pendidikan
dasar (sederajat dengan SMP) sebagai lanjutan dari SD, MI, atau
bentuk lain yang sederajat;

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 25


SMPLB adalah satuan pendidikan/sekolah pada tingkat Sekolah
Menengah Pertama (SMP) yang menyelenggarakan pendidikan
bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK);
Paket B adalah satuan pendidikan nonformal yang setara atau
sederajat dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Program Paket B setara SMP/MTs disediakan untuk:
1. Penduduk yang belum selesai menempuh pendidikan (putus
sekolah) di SMP/sederajat dari kelompok usia 15-44 tahun
dengan prioritas usia 16-18 tahun.
2. Penduduk yang lulus SD/sederajat yang tidak melanjutkan pada
SMP/sederajat karena berbagai faktor, seperti faktor ekonomi,
kendala waktu, geografi, dan masalah sosial/ hukum, seperti
anak jalanan, korban napza, dan anak lapas.
d. Kode 4: SMA
Ijasah/STTB tertinggi yang dimiliki SMA termasuk memiliki ijazah/
STTB pendidikan SMA, SMK, SMLB, Paket C, ataupun MAK.
SMA, Sekolah Menengah Atas adalah sekolah menengah atas
atau yang sederajat;
MA, Madrasah Aliyah adalah satuan pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama
islam yang terdiri atas 3 (tiga) tingkat pada jenjang pendidikan
menengah (sederajat dengan SMA) sebagai lanjutan dari SMP,
MTs, atau bentuk lain yang sederajat;
SMK, Sekolah Menengah Kejuruan adalah sekolah kejuruan
setingkat SMA, misalnya Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS),
Sekolah Menengah Industri Kerajinan, Sekolah Menengah Seni Rupa,
Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), Sekolah Menengah
Musik, Sekolah Teknologi Menengah Pembangunan, Sekolah
Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sekolah Teknologi Menengah,
Sekolah Menengah Teknologi Pertanian, Sekolah Menengah
Teknologi Perkapalan, Sekolah Menengah Teknologi Pertambangan,
Sekolah Menengah Teknologi Grafika, Sekolah Guru Olah Raga
(SGO), Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB), Pendidikan
Guru Agama 6 tahun, Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak, Kursus
Pendidikan Guru (KPG), Sekolah Menengah Analis Kimia, Sekolah
Asisten Apoteker (SAA), Sekolah Bidan, dan Sekolah Penata Rontgen;
SMLB adalah satuan pendidikan/sekolah pada tingkat Sekolah
Menengah Atas yang menyelenggarakan pendidikan bagi Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK);

26 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


Paket C adalah satuan pendidikan nonformal yang setara atau
sederajat dengan jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas
(SMA). Program Paket C setara SMA/MA disediakan untuk:
1. Penduduk yang lulus (putus lanjut) SMP/sederajat; atau
penduduk yang putus SMA/sederajat.
2. Penduduk yang lulus SMP/sederajat tidak melanjutkan pada
SMA/Sederajat karena berbagai faktor, seperti faktor ekonomi,
kendala waktu, geografi, dan masalah sosial/hukum, seperti
anak jalanan, korban napza, dan anak lapas.
MAK, Madrasah Aliyah Kejuruan adalah salah satu bentuk satuan
pendidikan formal dalam binaan Kemenag yang menyelenggarakan
pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang
pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk
lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/
setara SMP/MTs.
e. Kode 5: Perguruan Tinggi/Universitas
Ijasah/STTB tertinggi yang dimiliki perguruan/universitas termasuk
memiliki ijazah/STTB pendidikan Diploma I/II/III, Diploma IV/S1,
S2/S3
Diploma I adalah Program Diploma 1 yang diselenggarakan/
dikelola oleh Perguruan Tinggi;
Diploma II adalah Program Diploma 2 yang diselenggarakan/
dikelola oleh Perguruan Tinggi;
Diploma III adalah program Diploma 3 yang diselenggarakan/
dikelola oleh akademi/perguruan tinggi;
Diploma IV/S1 adalah program pendidikan diploma 4 atau strata
1 pada suatu perguruan tinggi;
S2 adalah program pendidikan pascasarjana (master), strata 2
pada suatu perguruan tinggi. Pendidikan spesialis 1 disetarakan
dengan S2;
S3 adalah program pendidikan pascasarjana (doktor), strata 3
pada suatu perguruan tinggi. Pendidikan spesialis 2 disetarakan
dengan S3.
Untuk Anggota Rumah Tangga Berumur 10 Tahun Keatas
(3) P.503. Selama seminggu terakhir, apakah (NAMA) bekerja atau
mempunyai pekerjaan/ usaha, tetapi sementara tidak bekerja?
Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud
memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau
keuntungan paling sedikit selama satu jam dalam seminggu terakhir.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 27


Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan berturut-turut dan
tidak terputus.
Melakukan pekerjaan dalam konsep bekerja adalah melakukan
kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang atau jasa. Penghasilan
atau keuntungan mencakup upah/gaji/pendapatan, termasuk semua
tunjangan dan bonus bagi pekerja/karyawan/pegawai dan hasil usaha
berupa sewa, bunga, atau keuntungan, baik berupa uang atau barang
termasuk bagi pengusaha.
Penjelasan:
1) ART yang membantu melaksanakan pekerjaan KRT atau ART yang
lain, misal di sawah, ladang, warung/toko dan sebagainya dianggap
bekerja walaupun tidak menerima upah/gaji (pekerja tak dibayar).
2) Orang yang memanfaatkan profesinya untuk keperluan rumah
tangga sendiri dianggap bekerja.
Contoh:
a. Dokter yang mengobati ART sendiri, tukang bangunan yang
memperbaiki rumah sendiri, dan tukang jahit yang menjahit
pakaian sendiri;
b. Seseorang yang mengusahakan persewaan mesin/alat pertanian,
mesin industri, peralatan pesta, alat pengangkutan dan
sebagainya dikategorikan bekerja;
c. Pembantu rumah tangga termasuk kategori bekerja, baik
sebagai ART majikannya maupun bukan ART majikannya;
d. Seseorang menyewakan tanah pertanian kepada orang lain
secara bagi hasil, dikategorikan bekerja bila ia menanggung
risiko (ada keterlibatan biaya produksi) atau turut mengelola
atas usaha pertanian itu;
e. Seorang petinju atau penyanyi profesional yang sedang latihan
dalam rangka profesinya, dianggap sebagai bekerja
3) Tidak termasuk bekerja:
a) Jika seseorang melakukan pekerjaan, tetapi tidak bermaksud
memperoleh/membantu memperoleh penghasilan /keuntungan.
b) Orang yang melakukan kegiatan budidaya tanaman yang
hasilnya hanya untuk dikonsumsi sendiri dianggap tidak bekerja,
kecuali budidaya tanaman bahan makanan pokok, yaitu padi,
jagung, sagu, dan atau palawija (ubi kayu, ubi jalar, kentang)
c) Pekerja serabutan/bebas, baik yang bekerja di sektor pertanian
maupun nonpertanian yang sedang menunggu pekerjaan,
dianggap tidak bekerja.

28 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


Mempunyai pekerjaan, tetapi sementara tidak bekerja adalah
mereka yang mempunyai pekerjaan/usaha, tetapi selama seminggu
terakhir tidak bekerja karena sesuatu sebab, seperti: sakit, cuti,
menunggu panen, tugas belajar, atau mogok kerja.
Termasuk mempunyai pekerjaan, tetapi sementara tidak bekerja,
yaitu:
a. Pekerja profesional (mempunyai keahlian tertentu/khusus) yang sedang
tidak bekerja karena sakit atau menunggu pekerjaan berikutnya, seperti:
dalang, tukang pijat, dukun, dan penyanyi komersial.
b. Pekerja tetap, pegawai pemerintah atau swasta yang sedang tidak
bekerja karena cuti, sakit, mangkir, mogok kerja, atau diistirahatkan
sementara karena perusahaan menghentikan kegiatannya
sementara, misalnya karena kerusakan mesin, bahan baku tidak
tersedia, dan sebagainya.
c. Petani yang mengusahakan tanah pertanian sedang tidak bekerja
karena alasan sakit atau menunggu pekerjaan berikutnya, seperti
menunggu panen atau musim hujan untuk menggarap sawah.
d. Seseorang yang mengusahakan penyewaan kamar kost seminggu
yang lalu tidak melakukan kegiatan terkait penyewaan kamar/
rumah kost, maka dianggap sementara tidak bekerja.
Tidak termasuk sementara tidak bekerja:
a. Orang yang sudah diterima bekerja, tetapi belum mulai bekerja
pada saat pencacahan.
b. Pekerjaan bukan profesional, seperti pekerja serabutan/bebas,
tukang cangkul keliling, buruh tani, dan buruh lepas lainnya serta
pekerja keluarga yang sementara tidak ada pekerjaan atau tidak
melakukan kegiatan “bekerja” selama seminggu yang terakhir, tidak
dikategorikan sebagai sementara tidak bekerja.
(4) P.504. Selama seminggu terakhir, apa lapangan usaha atau bidang
pekerjaan utama dari tempat pekerjaan (NAMA)?
Lapangan usaha atau bidang pekerjaan adalah bidang kegiatan dari
pekerjaan/usaha/perusahaan/kantor tempat KRT/ART bekerja.
Lapangan usaha atau bidang pekerjaan utama adalah pekerjaan yang
menggunakan waktu terbanyak, jika waktunya sama, maka pekerjaan
utama adalah yang memberikan penghasilan terbesar.
Penjelasan:
a. KRT/ART pada seminggu terakhir hanya mempunyai satu pekerjaan,
maka pekerjaan tersebut dicatat sebagai pekerjaan utama. KRT/ART
yang sedang cuti dan pada masa cuti tersebut ia tidak melakukan

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 29


pekerjaan lain, maka pekerjaan utamanya adalah pekerjaan yang
dia cutikan.
b. KRT/ART yang sedang cuti dan pada masa cuti tersebut melakukan
pekerjaan lain, maka salah satu dari pekerjaan lainnya itu merupakan
pekerjaan utamanya.
Klasifikasi lapangan usaha menggunakan Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia (KBLI) 2015.
Kode jawaban:
a. Kode 01: Pertanian Tanaman Padi dan Palawija
Pertanian Tanaman Padi mencakup pertanian padi, termasuk
pertanian padi organik dan padi yang sudah dimodifikasi. Termasuk
kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman padi.
Pertanian Palawija meliputi jagung, kedelai, kacang tanah, atau
kacang hijau, serta aneka umbi palawija.
Pertanian Jagung mencakup usaha pertanian jagung mulai dari
kegiatan pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan juga
pemanenan dan pasca panen jika menjadi satu kesatuan kegiatan
tanaman serealia jagung. Termasuk kegiatan pembibitan dan
pembenihan tanaman jagung.
Pertanian Kedelai, Kacang Tanah, atau Kacang Hijau mencakup
usaha pertanian kedelai, kacang tanah, atau kacang hijau mulai dari
kegiatan pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan juga
pemanenan dan pasca panen jika menjadi satu kesatuan kegiatan
tanaman kedelai, kacang tanah, atau kacang hijau (kacang palawija).
Termasuk kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman kedelai,
kacang tanah, atau kacang hijau.
Pertanian Aneka Umbi Palawija mencakup usaha pertanian aneka
umbi palawija mulai dari kegiatan pengolahan lahan, penanaman,
pemeliharaan, dan juga pemanenan dan pasca panen jika menjadi
satu kesatuan kegiatan tanaman aneka umbi palawija, seperti
ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong dan irut, gembili dan tanaman
umbi-umbian palawija lainnya. Termasuk kegiatan pembibitan dan
pembenihan tanaman aneka umbi palawija.
b. Kode 02: Hortikultura
Pertanian Hortikultura mencakup semua kegiatan ekonomi/
lapangan usaha, yang meliputi:
1. Sayuran: Jengkol, Melinjo, Bawang merah, Kacang panjang,
Kangkung, Kentang, dll.

30 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


2. Buah-buahan: Jambu air, Jambu biji, Pepaya, Pisang, Rambutan,
Melon, Semangka, dll.
3. Tanaman Obat: Mengkudu, Kapulaga, Keji beling, Kunyit, Jahe, dll.
4. Tanaman Hias: Bougenvillea, Soka, Anggrek, Melati, Mawar, dll.
c. Kode 03: Perkebunan
Pertanian Perkebunan mencakup semua kegiatan ekonomi/
lapangan usaha tanaman perkebunan musiman dan tahunan
seperti: Jambu mete, Jarak pagar, Kapok, Kemiri sunan, Kina, Lada,
Abaca/Manila, Akar wangi, Kapas, Kenaf, Nilam, Rosela, Sereh
wangi, Tembakau, dll.
d. Kode 04: Perikanan
Perikanan mencakup penangkapan dan budidaya ikan, jenis
crustacea (seperti udang, kepiting, mollusca, dan biota air lainnya
di laut, air payau, dan air tawar. Tidak termasuk pemancingan
untuk rekreasi.
e. Kode 05: Peternakan
Peternakan mencakup budidaya dan pembibitan hewan ternak,
unggas, serangga, binatang melata/reptil, cacing, hewan peliharaan.
Termasuk budidaya hewan untuk diambil hasilnya seperti bulu,
telur, susu, madu dan lilin lebah dan kepompong ulat sutera.
f. Kode 06: Kehutanan dan Pertanian Lainnya
Golongan pokok ini mencakup pemanenan pohon untuk diambil
kayunya serta pengambilan dan pemungutan hasil hutan selain
kayu yang tumbuh liar. Di samping menghasilkan kayu, kegiatan
kehutanan menghasilkan produk melalui proses sederhana, seperti
kayu bakar, arang kayu, serbuk kayu, serpih kayu dan kayu bulat
dalam bentuk yang belum diolah (misalnya pitprops/kayu untuk
bahan atap, bubur kayu dan lain-lain). Kegiatan ini dapat dilakukan
di hutan alam yang belum diusahakan atau di hutan yang sudah
diusahakan. Termasuk juga pemanenan pohon bakau.
Kode 06 ini termasuk pertanian lainnya yang belum tercakup pada
Kode 01-05.
g. Kode 07: Pertambangan dan Penggalian
Kategori ini mencakup kegiatan ekonomi/lapangan usaha
pengambilan mineral dalam bentuk alami, yaitu padat (batu bara
dan bijih logam), cair (minyak bumi), atau gas (gas alam). Kategori
ini juga mencakup kegiatan tambahan untuk penyiapan barang
tambang dan galian mentah untuk dipasarkan, seperti pemecahan,

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 31


pengasahan, pembersihan, pengeringan, sortasi, pemurnian bijih
logam, pencairan gas alam, dan aglomerasi bahan bakar padat.
h. Kode 08: Industri Pengolahan
Kategori ini meliputi kegiatan ekonomi/lapangan usaha di bidang
perubahan secara kimia atau fisik dari bahan, unsur atau komponen
menjadi produk baru. Unit industri pengolahan digambarkan
sebagai pabrik, mesin, atau peralatan yang khusus digerakkan
dengan mesin dan tangan. Termasuk kategori industri pengolahan
di sini adalah unit yang mengubah bahan menjadi produk baru
dengan menggunakan tangan, kegiatan maklon atau kegiatan
penjualan produk yang dibuat di tempat yang sama di mana produk
tersebut dijual dan unit yang melakukan pengolahan bahan-bahan
dari pihak lain atas dasar kontrak.
i. Kode 09: Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara Dingin
Kategori ini mencakup kegiatan ekonomi/lapangan usaha pengadaan
tenaga listrik, gas alam, uap panas, air panas, dan sejenisnya melalui
jaringan, saluran atau pipa infrastruktur permanen. Kategori ini juga
mencakup pengoperasian mesin pembangkit listrik dan gas, yang
menghasilkan, mengontrol, dan menyalurkan tenaga listrik atau
gas. Juga mencakup pengadaan uap panas dan udara dingin/sistem
tata udara. Termasuk kegiatan produksi es, baik untuk kebutuhan
konsumsi maupun kebutuhan lainnya.
j. Kode 10: Pengelolaan Air, Pengelolaan Air Limbah, Pengelolaan
dan Daur Ulang Sampah, dan Aktivitas Remediasi
Kategori ini mencakup kegiatan ekonomi/lapangan usaha yang
berhubungan dengan pengelolaan air. Kategori ini juga mencakup
pengelolaan berbagai bentuk limbah/sampah, seperti limbah/
sampah padat atau bukan yang berasal dari rumah tangga dan
industri, yang dapat mencemari lingkungan. Hasil dari proses
pengolahan limbah/sampah dapat dibuang atau menjadi input
dalam proses produksi lainnya.
k. Kode 11: Konstruksi
Kategori ini mencakup kegiatan ekonomi/lapangan usaha di
bidang konstruksi, yaitu kegiatan konstruksi umum dan konstruksi
khusus pekerjaan bangunan gedung dan bangunan sipil. Kegiatan
konstruksi mencakup pekerjaan baru, perbaikan, penambahan dan
perubahan, pendirian bangunan, atau struktur prafabrikasi di lokasi
proyek dan juga konstruksi yang bersifat sementara. Persewaan

32 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


peralatan konstruksi dengan operatornya diklasifikasikan sebagai
kegiatan konstruksi khusus.
l. Kode 12: Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan
Perawatan Mobil dan Sepeda Motor
Kategori ini meliputi kegiatan ekonomi/lapangan usaha di bidang
perdagangan besar dan eceran (yaitu penjualan tanpa perubahan
teknis) dari berbagai jenis barang, dan memberikan imbalan jasa
yang mengiringi penjualan barang-barang tersebut. Baik penjualan
secara grosir (perdagangan besar) maupun eceran merupakan tahap
akhir dalam pendistribusian barang dagangan. Kategori ini juga
mencakup reparasi mobil dan sepeda motor. Perdagangan besar
adalah penjualan kembali (tanpa perubahan teknis), baik barang baru
maupun barang bekas kepada pengecer, industri, komersial, institusi
atau pengguna profesional, atau kepada pedagang besar lainnya,
atau yang bertindak sebagai agen atau broker dalam pembelian
atau penjualan barang, baik perorangan maupun perusahaan.
Perdagangan eceran adalah penjualan kembali (tanpa perubahan
teknis), baik barang baru maupun bekas, utamanya kepada
masyarakat umum untuk konsumsi atau penggunaan perorangan
maupun rumah tangga, melalui toko, departement store, kios, mail-
order houses, penjual dari pintu ke pintu, pedagang keliling, koperasi
konsumsi, rumah pelelangan, dan lain-lain.
m. Kode 13: Pengangkutan dan Pergudangan
Kategori ini mencakup penyediaan angkutan penumpang atau
barang, baik yang berjadwal maupun tidak, dengan menggunakan
jalan rel, saluran pipa, darat, perairan atau udara dan kegiatan yang
berhubungan dengan itu, seperti: fasilitas terminal dan parkir,
penanganan kargo/bongkar muat barang, pergudangan, dan lain-
lain. Termasuk dalam kategori ini penyewaan alat angkutan dengan
pengemudi atau operator, juga kegiatan pos dan kurir.
n. Kode 14: Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum
Kategori ini mencakup penyediaan akomodasi penginapan jangka
pendek untuk pengunjung dan pelancong lainnya serta penyediaan
makanan dan minuman untuk konsumsi segera. Jumlah dan jenis
layanan tambahan yang disediakan dalam kategori ini sangat
bervariasi.
o. Kode 15: Informasi dan Komunikasi
Kategori ini mencakup produksi dan distribusi informasi dan
produk kebudayaan, penyediaan sarana untuk mengirimkan

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 33


atau mendistribusikan produk-produk tersebut, dan juga data
atau kegiatan komunikasi, teknologi informasi dan pengolahan
data, serta kegiatan jasa informasi lainnya. Komponen utama dari
kategori ini adalah kegiatan penerbitan, termasuk penerbitan
perangkat lunak (software), film, dan kegiatan perekaman suara,
kegiatan pemrograman dan penyiaran radio dan TV, kegiatan
telekomunikasi dan kegiatan teknologi informasi, dan kegiatan
jasa informasi lainnya.
p. Kode 16: Aktivitas Keuangan dan Asuransi
Kategori ini mencakup aktivitas keuangan, termasuk asuransi,
reasuransi, dan kegiatan dana pensiun dan jasa penunjang keuangan.
Kategori ini juga mencakup kegiatan dari pemegang aset, seperti:
kegiatan perusahaan holding dan kegiatan dari lembaga penjaminan
atau pendanaan dan lembaga keuangan sejenis.
q. Kode 17: Real Estat
Kategori ini mencakup kegiatan orang yang menyewakan, agen dan
atau broker/perantara dalam penjualan atau pembelian real estat,
penyewaan real estat dan penyediaan jasa real estat lainnya, seperti
jasa penaksir real estat atau bertindak sebagai agen pemegang
wasiat real estat. Termasuk kegiatan pembangunan gedung,
yang disatukan dengan pemeliharaan atau penyewaan bangunan
tersebut. Kategori ini mencakup pengelola bangunan real estat.
Real estat adalah properti berupa tanah dan bangunan.
r. Kode 18: Aktivitas Profesional, Ilmiah, dan Teknis
Kategori ini mencakup khususnya kegiatan profesional, ilmu
pengetahuan dan teknik, kegiatan ini membutuhkan suatu tingkat
pelatihan yang tinggi dan menghasilkan ilmu pengetahuan dan
ketrampilan khusus yang tersedia untuk pengguna.
s. Kode 19: Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa
Hak Opsi, Ketenagakerjaan, Agen Perjalanan, dan Penunjang
Usaha Lainnya
Kategori ini mencakup berbagai macam kegiatan yang mendukung
operasional usaha atau bisnis secara umum. Kegiatan ini berbeda
dari kegiatan yang termasuk dalam kategori 18, karena tujuan
utamanya bukanlah transfer ilmu pengetahuan khusus.
t. Kode 20: Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan
Sosial Wajib
Kategori ini mencakup kegiatan yang sifatnya pemerintahan, yang
umumnya dilakukan oleh administrasi pemerintahan. Kategori ini

34 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


juga mencakup perundang-undangan dan penerjemahan hukum
yang berkaitan dengan pengadilan dan menurut peraturannya,
seperti halnya administrasi program berdasarkan peraturan
perundangan-undangan, kegiatan legislatif, perpajakan, pertahanan
negara, keamanan dan keselatan negara, pelayanan imigrasi,
hubungan luar negeri dan administrasi program pemerintah.
Kategori ini juga mencakup kegiatan jaminan sosial wajib.
u. Kode 21: Pendidikan
Kategori ini mencakup kegiatan pendidikan pada berbagai tingkatan
dan untuk berbagai pekerjaan, baik secara lisan atau tertulis seperti
halnya dengan berbagai cara komunikasi. Kategori ini juga mencakup
pendidikan yang diselenggarakan oleh institusi yang berbeda dalam
sistem sekolah umum pada tingkat yang berbeda-beda seperti
halnya pendidikan untuk usia dewasa, program literasi, dan lain-lain.
Juga mencakup akademi dan sekolah militer, sekolah penjara dan
lain-lain sesuai dengan tingkatan masing-masing.
v. Kode 22: Aktivitas Kesehatan Manusia dan Aktivitas Sosial
Kategori ini mencakup kegiatan penyediaan jasa kesehatan dan
aktivitas sosial. Kegiatan yang termasuk cukup luas cakupannya,
dimulai dari pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga
profesional terlatih di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain,
sampai kegiatan perawatan di rumah yang melibatkan tingkatan
kegiatan pelayanan kesehatan sampai kegiatan sosial yang tidak
melibatkan tenaga kesehatan profesional.
w. Kode 23: Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi
Kategori ini mencakup kegiatan yang cukup luas untuk memenuhi
kebutuhan kesenian/kebudayaan, hiburan dan rekreasi masyarakat
umum, termasuk pertunjukan langsung, pengoperasian tempat
bersejarah, tempat perjudian, olahraga, dan rekreasi.
x. Kode 24: Aktivitas Jasa Lainnya
Kategori ini (sebagai kategori sisaan) mencakup kegiatan dari
keanggotaan organisasi, reparasi komputer dan barang-barang
rumah tangga dan barang pribadi, berbagai kegiatan jasa
perorangan yang tidak dicakup di tempat lain dalam klasifikasi ini.
y. Kode 25: Aktivitas Rumah Tangga sebagai Pemberi Kerja
Kategori ini mencakup kegiatan rumah tangga sebagai pemberi
kerja dan kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa oleh rumah
tangga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 35


z. Kode 26: Aktivitas Badan Internasional dan Badan Ekstra
Internasional Lainnya
Kategori ini mencakup kegiatan Badan Internasional, seperti
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan perwakilan Perserikatan
Bangsa-Bangsa, Badan Regional dan lain-lain, The International
Monetary Fund, The World Bank, The World Customs Organization
(WHO), The Organization for Economic Co-operation and
Development (OECD), The Organization of Petroleum Exporting
Countries (OPEC), The European Communities, the European Free
Trade Association dan lain-lain. Kategori ini mencakup kegiatan
perwakilan diplomatik dan konsulat (Kedutaan Besar).
(5) P.505. Selama seminggu terakhir, apa status/kedudukan (NAMA)
dalam pekerjaan utama?
Status/kedudukan pekerjaan adalah jenis kedudukan KRT/ART dalam
pekerjaan utama.
Kode Jawaban:
a. Kode 1: Berusaha sendiri adalah KRT/ART bekerja atau berusaha
dengan menanggung risiko secara ekonomis, yang ditandai dengan
tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam
rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja
dibayar maupun pekerja tak dibayar. Termasuk yang sifatnya
memerlukan teknologi atau keahlian khusus.
Contoh: Sopir lepas (tidak mendapat gaji) dengan sistem setoran,
tukang becak, tukang kayu, tukang batu, tukang listrik, tukang
pijat, tukang gali sumur, agen koran, tukang ojek, pedagang yang
berusaha sendiri, dokter/bidan/dukun bersalin yang buka praktik
sendiri, calo tiket, calo tanah/rumah, dan sebagainya.
b. Kode 2: Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak
dibayar adalah KRT/ART bekerja atau berusaha atas risiko sendiri,
dan menggunakan buruh/karyawan/pegawai tak dibayar dan/atau
buruh/karyawan/pegawai tidak tetap.
Buruh/karyawan/pegawai tidak tetap adalah KRT/ART sebagai
buruh/karyawan/pegawai yang bekerja pada orang lain atau
instansi/kantor/perusahaan dan hanya menerima upah berdasarkan
pada banyaknya waktu kerja atau volume pekerjaan yang dikerjakan.
Contoh berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar:
1) KRT/ART pemilik warung/toko yang dibantu oleh ART lain/
pekerja tak dibayar dan/atau dibantu orang lain yang diberi
upah berdasarkan hari masuk kerja.

36 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


2) KRT/ART sebagai pedagang keliling yang dibantu pekerja tak
dibayar atau orang lain yang diberi upah pada saat membantu
saja.
3) KRT/ART yang mengusahakan lahan pertaniannya dengan
dibantu pekerja tak dibayar. Walaupun pada waktu panen KRT/
ART tersebut memberikan hasil bagi panen (bawon), pemanen
tidak dianggap sebagai buruh tetap.
c. Kode 3: Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar adalah
KRT/ART berusaha atas risiko sendiri dan mempekerjakan paling
sedikit satu orang buruh/karyawan/pegawai tetap yang dibayar.
Buruh/karyawan/pegawai tetap dibayar adalah KRT/ART yang bekerja
pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan dengan menerima
gaji secara tetap, baik ada kegiatan maupun tidak ada kegiatan.
Contoh berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar:
1) KRT/ART sebagai pemilik toko yang mempekerjakan satu atau
lebih buruh tetap.
2) KRT/ART sebagai pengusaha pabrik rokok yang memakai buruh
tetap.
d. Kode 4: Buruh/karyawan/pegawai adalah KRT/ART yang bekerja
pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara tetap
dengan menerima upah/gaji, baik berupa uang maupun barang.
KRT/ART dianggap memiliki majikan tetap jika memiliki satu majikan
(orang/rumah tangga) yang sama dalam sebulan terakhir, khusus
pada sektor bangunan batasannya tiga bulan. Apabila majikannya
adalah instansi/lembaga, boleh lebih dari satu.
Contoh: Pak Kim seorang tukang bangunan, sudah 4 bulan
memperbaiki rumah Bu Yuna. Pak Kim dikategorikan sebagai buruh/
karyawan/pegawai.
e. Kode 5: Pekerja keluarga atau tidak dibayar adalah ART yang
bekerja membantu KRT/ART lain/orang lain yang berusaha dengan
tidak mendapat upah/gaji, baik berupa uang maupun barang.
Pekerja tidak dibayar antara lain:
1) ART dari orang yang dibantunya, seperti istri yang membantu
suaminya bekerja di sawah.
2) Bukan ART, tetapi keluarga dari orang yang dibantunya, seperti
saudara/famili yang membantu melayani penjualan di warung.
Bukan ART dan bukan keluarga dari orang yang dibantunya,
seperti orang yang membantu menganyam topi pada industri
rumah tangga tetangganya.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 37


(6) P.506. Apakah menerima kartu erja?
Kartu Prakerja merupakan kartu yang diberikan kepada pencari
kerja atau pekerja untuk mendapatkan layanan pelatihan vokasi
(skilling dan re-skilling) dan/atau sertifikasi kompetensi kerja. Kartu
Prakerja disiapkan untuk menghilangkan gap antara kompetensi
sumber daya manusia dan kebutuhan dunia kerja. Pemberian Kartu
Prakerja bertujuan untuk mendorong peningkatan keterampilan yang
dibutuhkan saat ini dan masa mendatang dalam menghadapi era
revolusi industri 4.0 dan teknologi digital.
Layanan pelatihan vokasi:
a. Skilling
1. Sasaran: pencari kerja fresh graduate.
2. Tujuan: skill adjustment, pembekalan vocational skill untuk
bekerja.
3. Outcome: mengurangi pengangguran.
b. Re-Skilling
1. Sasaran: alih profesi, pekerja terPHK, atau berpotensi terPHK.
2. Tujuan: pembekalan vocational skill yang berbeda/ baru untuk
alih profesi/ wirausaha.
3. Outcome: mencegah pengangguran kembali.
Target penerima Kartu Prakerja adalah sebanyak dua juta peserta.
Sebanyak 1,5 juta peserta memperoleh pelatihan digital dan 0,5 juta
peserta memperoleh pelatihan reguler.
Desain implementasi pelatihan:
a. Digital
1. Peserta memperoleh pelatihan dan insentif.
2. Pelatihan online (e-learning) dan offline (tatap muka).
b. Reguler
1. Peserta memperoleh pelatihan, sertifikasi, dan insentif.
2. Pelatihan offline (tatap muka).
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, jika ART menerima Kartu Prakerja.
b. Kode 5: Tidak, jika tidak terdapat ART yang menerima Kartu
Prakerja
(7) P.507. No Urut ART pada maret 2020? (diisi oleh pengawas)
Isikan No Urut ART Susenas Maret 2020. Diisi oleh pengawas

38 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


G. Blok VI. Keterangan Umum
Nama dan Nomer Urut Pemberi Informasi
Responden pada Susenas Modul Hansos ini adalah Kepala Rumah Tangga (KRT)
atau pasangannya. Hal ini dilakukan untuk mengakomodir pertanyaan Blok VII
mengenai pengasuhan anak yang lebih tepat dijawab oleh KRT/pasangannya.
(1) P.601.a. Apa status kepemilikan bangunan tempat tinggal yang
ditempati?
Kode jawaban:
a. Kode 1: Milik sendiri
Status kepemilikan tempat tinggal dimana pada waktu pencacahan
rumah yang ditempati oleh rumah tangga merupakan milik kepala
rumah tangga atau salah seorang anggota rumah tangga. Rumah
yang dibeli secara angsuran melalui kredit bank atau rumah dengan
status sewa beli dianggap rumah milik sendiri.
Catatan: rumah warisan ditinggali oleh 2 rumah tangga (ahli waris).
juga termasuk ke dalam rumah milik sendiri
b. Kode 2: Kontrak/sewa
Kontrak adalah status kepemilikan tempat tinggal dimana tempat
tinggal tersebut disewa oleh kepala rumah tangga/anggota rumah
tangga dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian
kontrak antara pemilik dan pemakai, misalnya 1 atau 2 tahun.
Cara pembayaran biasanya sekaligus di muka atau dapat diangsur
menurut persetujuan kedua belah pihak. Pada akhir masa perjanjian
pihak pengontrak harus meninggalkan tempat tinggal yang didiami
dan bila kedua belah pihak setuju bisa diperpanjang kembali
dengan mengadakan perjanjian kontrak baru.
Sewa adalah status kepemilikan tempat tinggal dimana tempat
tinggal tersebut disewa oleh kepala rumah tangga atau salah
seorang anggota rumah tangga dengan pembayaran sewanya
secara teratur dan terus menerus tanpa batasan waktu tertentu.
c. Kode 3: Bebas sewa
Status kepemilikan tempat tinggal dimana tempat tinggal tersebut
diperoleh dari pihak lain (baik famili/bukan famili/orang tua yang
tinggal di tempat lain) dan ditempati/didiami oleh rumah tangga
tanpa mengeluarkan suatu pembayaran apapun.
d. Kode 4: Dinas
Status kepemilikan tempat tinggal dimana tempat tinggal tersebut
dimiliki dan disediakan oleh suatu instansi tempat bekerja salah satu
anggota rumah tangga baik dengan membayar sewa maupun tidak.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 39


e. Kode 5: Lainnya
Misalnya rumah adat.
(2) P.601.b. Berapa luas lantai bangunan tempat tinggal?
(Bulatkan dalam meter persegi, bila lebih dari 1000 m2 maka
isikan 997)
Luas lantai yang dimaksud adalah luas lantai yang ditempati dan
digunakan untuk keperluan sehari-hari (sebatas atap rumah).
Penjelasan:
a. Bagian-bagian yang digunakan bukan untuk keperluan sehari-hari
tidak dimasukkan dalam penghitungan luas lantai seperti lumbung
padi, kandang ternak, lantai jemur (hamparan semen) dan ruangan
khusus untuk usaha misalnya warung.
b. Luas lantai bangunan bertingkat adalah jumlah luas dari semua
tingkat yang ditempati.
c. Bila suatu tempat tinggal dihuni oleh lebih dari satu rumah tangga,
maka luas lantai hunian setiap rumah tangga adalah luas lantai
dari ruangan yang dipakai bersama dibagi banyaknya rumah
tangga ditambah dengan luas lantai pribadi rumah tangga yang
bersangkutan.
d. Taman yang memiliki atap menyatu dengan atap rumah (berada
di dalam rumah) maupun taman yang berada di samping rumah,
namun berada di bawah atap rumah dan merupakan satu kesatuan
struktur maka taman dihitung luas lantainya.
(3) P.602. Apakah tempat tinggal ini menggunakan listrik?
Penjelasan:
a. Apabila responden menggunakan lebih dari satu sumber
penerangan, maka pilih sumber penerangan yang paling banyak
digunakan.
b. Bila terdapat tiga bedeng/rumah kontrakan yang menggunakan
satu meteran listrik, maka bedeng/rumah yang ada meterannya
menempel pada dinding rumah dicatat dengan meteran sedangkan
dua rumah/bedeng lainnya dicatat tanpa meteran.
c. Daya terpasang/tersambung adalah besarnya daya yang
disepakati oleh PLN dan pelanggan dalam perjanjian jual beli
tenaga listrik yang menjadi dasar penghitungan biaya beban
(Sumber: www.PLN.co.id).
d. Watt adalah satuan daya listrik nyata (aktif).
Cara mengetahui daya listrik, pendekatan untuk mengetahui daya
listrik dilakukan dengan melihat MCB (Miniature Circuit Breaker).

40 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


Tulisan dalam lingkaran (pada gambar) menandakan rating arus MCB
yang kemudian dapat di konversikan menjadi daya listrik (lihat tabel
konversi rating arus MCB ke daya listrik PLN.

Kode jawaban:
a. Kode 1: Listrik PLN dengan daya 1300 watt atau lebih, yaitu
menggunakan sumber penerangan listrik yang dikelola oleh PLN
dengan menggunakan meteran (volumetrik) baik yang pasca bayar
maupun prabayar (token) dengan daya listrik 1300 watt atau lebih.
b. Kode 2: Listrik PLN dengan daya 450 watt atau 900 watt, yaitu
menggunakan sumber penerangan listrik yang dikelola oleh PLN
dengan menggunakan meteran (volumetrik) baik yang pasca bayar
maupun prabayar (token) dengan daya listrik 450 watt atau 900 watt.
c. Kode 3: Listrik PLN tanpa meteran, sumber penerangan listrik
yang sumber listriknya mengambil dari rumah/bangunan lain, tiang
listrik tanpa melalui meteran atau listrik yang disalurkan dari listrik
tetangga.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 41


d. Kode 4: Listrik non PLN, sumber penerangan listrik yang dikelola
oleh instansi/pihak lain selain PLN termasuk yang menggunakan
sumber penerangan dari accu (aki), generator, dan pembangkit
listrik tenaga surya (tidak dikelola oleh PLN).
e. Kode 5: Tidak menggunakan listrik, sumber penerangan dengan
menggunakan seperti petromak, aladin, pelita, sentir, obor, lilin,
karbit, biji jarak, kemiri, dan lain-lain.
(4) P.603. Berapa jarak dari rumah Saudara/i menuju tempat
menunggu kendaraan/angkutan umum dengan rute tertentu
yang terdekat?
Indikator utama yang ingin diperoleh pada pertanyaan ini adalah untuk
mendukung analisis Goal SDGs 11.2.1. yaitu persentase pengguna
moda transportasi umum di perkotaan
Tempat menunggu yang dimaksud dapat berupa halte atau jarak ke
jalan yang dilalui kendaraan bermotor umum dengan rute tertentu

H. Blok VII. Sosial Masyarakat


Blok ini berisi kondisi sosial masyarakat di lingkungan sekitar tempat
tinggal. Kondisi tersebut tekait dengan kekerasan anak dilihat dari sisi pola
pengasuhan anak di Blok VII.A. Selain itu di Blok Sosial Masyarakat terkait
dengan bantuan sosial dari program-program perlindungan sosial yang
dilakukan pemerintah, dan lainnya, serta bantuan terkait dampak COVID
di Blok VII.B.

1. Blok VII. A. Pengasuhan Anak


P701 - P702 bertujuan untuk memperoleh informasi kerawanan sosial
tentang sikap dan perilaku terhadap rumah tangga mengenai metode dalam
mendisiplinkan anak berumur 1-17 tahun. Orang dewasa menerapkan berbagai
cara dalam mendidik dan mengajarkan anak agar berperilaku baik, mulai dari
mendiskusikan masalah dengan anak, memberikan hukuman ringan hingga
cara yang lebih memaksa seperti hukuman fisik. Pada Blok VIIA ini juga
bertujuan untuk memenuhi indikator SDGs, terutama goal 16.2.1 yaitu proporsi
rumah tangga yang mempunyai anak umur 1-17 tahun yang mengalami
hukuman fisik dan/atau psikologis dari pengasuh selama setahun terakhir.
Lihat Blok IV Kolom (407): Cek umur Anggota Rumah Tangga (ART),
berikan tanda centang jika:
1. Ada ART umur 1-17 tahun
2. Tidak ada ART umur 1-17 tahun

42 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


(1) P.701. Selama setahun terakhir. apakah ART dewasa (umur diatas
17 tahun) di rumah tangga (NAMA) yang melakukan hal berikut
terhadap anak:
a. Menjelaskan pada anak bahwa perilakunya salah
Orang tua menjelaskan pada anak yang telah melakukan kesalahan,
bahwa perilakunya salah dan memintanya untuk tidak mengulanginya
lagi. Misalnya untuk anak kecil yang bermain dengan korek api tidak
boleh, karena berbahaya bisa menimbulkan kebakaran.
b. Menghukum anak dengan mengurangi atau melarang
melakukan sesuatu yang disukai anak (misal: mengurangi uang
saku/waktu bermain/menonton tv)
Salah satu cara orang tua dalam mendidik anak, agar tidak
mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan adalah dengan cara
mengurangi hak yang biasa diterima oleh anak atau melarang
sesuatu yang disukai atau melarang keluar rumah.
Contoh:
a. Ibu Wati mengurangi jumlah uang saku sekolah Sinta selama
2 hari karena melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh
kedua orangtuanya.
b. Budi sepulang sekolah selalu bermain game di komputer sampai
maghrib, karena melakukan kesalahan maka orang tuanya tidak
memperbolehkan main game selama sehari.
c. Setiap sore Amir selalu bermain sepak bola bersama teman-
temannya, karena Amir tidak belajar sehingga hasil ulangan
(test) jelek. Oleh karena itu Amir dihukum tidak boleh bermain
sepak bola selama 2 hari berturut-turut
c. Memberikan tugas/pekerjaan kepada anak yang melakukan
kesalahan
Salah satu cara orang tua dalam menerapkan disiplin pada anak
adalah dengan memberi tugas atau pekerjaan kepada anak yang
melakukan kesalahan. Hal ini dilakukan oleh orang tua agar anak
tersebut menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi
Contoh: Bu Rina biasa menerapkan peraturan terhadap anaknya,
bila ingin pergi harus memberitahu atau ijin pada orang tua. Apabila
melanggar, hukumannya adalah membersihkan kamar mandi.
d. Memanggil bodoh, pemalas, tidak sayang lagi, tidak berguna
atau sebutan lain yang sejenis
Beberapa orang tua menggunakan makian secara lisan saat
mendidik anak untuk tidak melakukan perilaku buruk.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 43


e. Membentak atau menakutinya
Cukup jelas
f. Mengurung atau meninggalkan anak sendirian dalam kamar/
ruang tertentu
Cukup jelas
g. Mendorong/mengguncang badannya
Salah satu cara dari beberapa orang tua dalam memberi hukuman
kepada anaknya yang berperilaku buruk adalah dengan cara
mendorong/mengguncang badannya. Mendorong/mengguncang
badan adalah menggoyang bagian belakang badan anak lebih dari
sekali, dalam hal ini termasuk menyuruh anak berdiri
h. Mencubit atau menjewer
Cukup jelas
i. Menampar, memukul, menjambak atau menendang
Termasuk memukul dengan tangan atau dengan benda/alat lain
(2) P.702. Menurut Saudara/i, apakah anak umur 1-17 tahun yang
melakukan kesalahan harus diberi hukuman fisik?
(contoh hukuman fisik: mendorong/mengguncang badannya,
mencubit, menjewer, menampar, memukul, menjambak ,
menendang, dan sebagainya)
Pertanyaan ini ingin mengetahui persepsi responden terhadap
perlunya hukuman fisik sebagai cara dalam menerapkan disiplin pada
anak agar anak berperilaku baik. Contoh hukuman fisik yaitu dengan
cara mendorong/mengguncang badannya, mencubit, menjambak,
menendang, dan sebagainya

2. Blok VII.B Perlindungan Sosial


Subblok ini bertujuan untuk memantau program-program perlindungan
sosial yang dilakukan oleh pemerintah seperti jaminan sosial, Kartu Keluarga
Sejahtera (KKS), Program Keluarga Harapan, Bantuan Pangan, Bantuan
Langsung Tunai, Kartu Prakerja, bantuan pemerintah daerah, dan bantuan
terkait COVID-19. Pada Blok VII.B ini juga bertujuan untuk mengevalusi/
melihat apakah bantuan yang selama ini dilakukan degan program-program
pengurangan kemiskinan berdapak terhadap tingkat kemiskinan. United
Nations Children’s Fund (UNICEF) (2012) mendefinisikan perlindungan
sosial sebagai serangkaian kebijakan publik dan privat yang bertujuan
untuk mencegah, mengurangi, dan menghapuskan kerentanan ekonomi
dan sosial terhadap kerugian dan kemiskinan.

44 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


International Labour Organization (ILO) (1984) mendefinisikan perlindungan
sosial sebagai sebuah sistem yang disediakan melalui serangkaian kebijakan
publik untuk meminimalkan dampak dari guncangan ekonomi dan sosial
yang dapat disebabkan oleh hilangnya atau berkurangnya pendapatan
sebagai akibat dari, penyakit yang diderita, kehamilan, kecelakaan kerja,
pengangguran, disabilitas, usia tua, atau kematian. Sistem perlindungan
sosial yang komprehensif diantaranya dapat terdiri dari program jaminan
sosial, bantuan sosial, serta mencakup skema-skema bantuan dan jaminan
dana yang didanai oleh pemerintah maupun kontribusi dari pesertanya
(1) P.703. Selama setahun terakhir, apakah Saudara/i/ART lainnya
memiliki atau menerima jaminan sosial?
Penjelasan:
a. Jaminan Pensiun/Veteran adalah Jaminan pekerja/pegawai
negeri sipil (PNS)/TNI/Polri yang diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib. Jaminan
pensiun diselenggarakan untuk mempertahankan derajat
kehidupan yang layak pada saat peserta kehilangan atau berkurang
penghasilannya karena memasuki usia pensiun atau mengalami
cacat total tetap (sumber UU No 40 Tahun 2004). Manfaat jaminan
pensiun umumnya berwujud uang tunai yang diterima setiap bulan.
b. Jaminan Hari Tua adalah Program Jaminan yang ditujukan
sebagai pengganti terputusnya penghasilan tenaga kerja karena
meninggal, cacat, atau hari tua dan diselenggarakan dengan sistem
tabungan hari tua. Program Jaminan Hari Tua memberikan kepastian
penerimaan penghasilan yang dibayarkan pada saat tenaga kerja
mencapai usia 55 tahun atau telah memenuhi persyaratan tertentu
(sumber: BPJS Ketenagakerjaan).
c. Asuransi Kecelakaan Kerja adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
yang memberikan kompensasi dan rehabilitasi bagi tenaga kerja
yang mengalami kecelakaan pada saat dimulai berangkat bekerja
sampai tiba kembali dirumah atau menderita penyakit akibat
hubungan kerja. Jaminan kecelakaan kerja termasuk penyakit akibat
kerja yang harus dihadapi oleh tenaga kerja dalam melakukan
pekerjaannya bertujuan untuk menanggulangi hilangnya sebagian
atau seluruh penghasilan yang diakibatkan oleh adanya risiko-
risiko sosial seperti kematian atau cacat karena kecelakaan kerja
baik fisik maupun mental. Kesehatan dan keselamatan tenaga
kerja merupakan tanggung jawab pengusaha sehingga pengusaha
memiliki kewajiban untuk membayar iuran jaminan kecelakaan kerja

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 45


yang berkisar antara 0,24% - 1,74% sesuai kelompok jenis usaha.
(sumber: BPJS Ketenagakerjaan).
d. Jaminan asuransi Kematian adalah jaminan yang memberikan
manfaat berupa santunan kematian yang dibayarkan kepada ahli
waris peserta yang meninggal dunia.
e. Pesangon Pemutusan Hubungan Kerja adalah jaminan yang
diberikan akibat pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal
tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban
antara buruh/pekerja dan pengusaha.
(2) P.704. Apakah rumah tangga Saudara/i ini menerima Kartu
Keluarga Sejahtera (KKS)?
Mulai tahun 2015 Kartu Perlindungan Sosial (KPS) berubah menjadi
Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) secara gradual. Gelombang pertama
KKS didistribusikan pada bulan November/Desember 2014.
Pendistribusian selanjutnya dilakukan pada 2015/2016. KKS memiliki
fungsi yang kurang lebih sama dengan KPS, akan tetapi dengan
berbagi perubahan format dan tambahan informasi di dalam kartu
tersebut untuk memudahkan pemerintah menyalurkan bantuan sosial.
Kemungkinan rumah tangga menerima KPS dan KKS secara bersamaan
hampir tidak mungkin, karena 1 (satu) juta rumah tangga sasaran
menerima KKS dengan cara menukarkan Kartu KPS di Kantor Pos.
Jadi, rumah tangga yang hanya menerima KPS atau KKS penanda,
tidak termasuk menerima KKS.

Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) 2015 (Penanda)

KKS COMBO merupakan kartu debet yang dikeluarkan oleh HIMBARA


(Himpunan Bank Milik Negara saat ini anggotanya adalah Bank
Mandiri, BRI, Bank BNI, dan Bank BTN) yang berfungsi sebagai
media penyaluran bantuan sosial dan subsidi. Kartu ini juga dapat
merekam data penerima dan berfungsi sebagai tabungan atau dompet
elektronik (e-wallet). Kartu KKS ini sudah digunakan oleh sebagian
penerima PKH melalui mekanisme nontunai untuk memanfaatkan

46 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


bantuannya melalui ATM atau Agen Bank yang ditunjuk. Kartu KKS
ini juga digunakan oleh penerima Bantuan Pangan untuk mengambil
bantuannya di E-warong yang telah bekerja sama dengan Bank
Penyalur setempat.

KKS Reguler (Umum) dan KKS Lansia

KKS Penyandang Disabilitas Berat dan KKS Tampak Belakang

Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, dapat menunjukkan kartu, jika rumah tangga pernah
menerima KKS dan dapat menunjukkan KKS-nya.
b. Kode 2: Ya, tidak dapat menunjukkan kartu, jika rumah tangga
pernah menerima KKS namun tidak dapat menunjukkan KKS-nya.
c. Kode 3: Tidak, jika rumah tangga tidak pernah menerima KKS.
(3) P.705a.i. Apakah Saudara/i/anggota rumah tangga lainnya
menjadi penerima Program Keluarga Harapan (PKH), pada bulan
Maret 2020?
Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program bantuan
sosial (bansos) bersyarat yang diberikan kepada keluarga miskin/
rentan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. PKH menjadi salah
satu upaya pemerintah untuk memperbaiki akses keluarga miskin dan
rentan terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan
sosial guna meningkatkan kualitas hidup keluarga sasaran dan, dalam
cakupan lebih luas, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan.
PKH bertujuan: (1) meningkatkan taraf hidup Keluarga Penerima Manfaat

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 47


(KPM) melalui akses layanan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan
sosial; (2) mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan pendapatan
keluarga miskin dan rentan; (3) menciptakan perubahan perilaku dan
kemandirian KPM dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan,
dan kesejahteraan sosial; (4) mengurangi kemiskinan dan kesenjangan
antarkelompok pendapatan; serta (5) mengenalkan manfaat produk dan
jasa keuangan formal kepada KPM.
Sasaran PKH adalah keluarga miskin dan rentan yang terdaftar dalam Basis
Data Terpadu serta memenuhi komponen kesehatan, pendidikan, dan/atau
kesejahteran sosial. Kriteria kepesertaan program menurut komponen:
a. Komponen kesehatan:
1) Ibu hamil/menyusui; dan/atau
2) Anak usia dini (0-6 tahun).
b. Komponen pendidikan:
1) Siswa Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau sederajat;
2) Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah
(MTs), atau sederajat;
3) Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA), atau
sederajat; dan/atau
4) Anak berusia 6-21 tahun yang belum menyelesaikan wajib
belajar 12 tahun
c. Komponen kesejahteraan sosial:
1) Lanjut usia (lansia) mulai dari 60 tahun; dan/atau
2) Penyandang disabilitas, terutama disabilitas berat.
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, jika rumah tangga pernah menjadi penerima Program
Keluarga Harapan.
b. Kode 5: Tidak, jika rumah tangga tidak pernah menjadi penerima
Program Keluarga Harapan.
(4) P.705a.ii. Apakah Saudara/i/anggota rumah tangga lainnya
menjadi penerima Program Keluarga Harapan (PKH), pada bulan
Agustus 2020?
Transformasi Kepesertaan PKH merupakan proses pengakhiran masa
kepesertaan KPM PKH berdasarkan hasil kegiatan pemutakhiran sosial
ekonomi. Kegiatan tersebut merupakan proses pendataan ulang dan
evaluasi untuk menetapkan status kepesertaan dan sosial ekonomi
KPM PKH, yaitu transisi atau graduasi.
Transisi: kondisi KPM PKH yang masih memenuhi persyaratan program,
memiliki kriteria komponen, dan status ekonomi miskin. KPM PKH

48 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


dengan status transisi masih diberikan penambahan waktu sebagai
KPM PKH, dengan hak dan kewajiban yang sama.
Graduasi: terdiri atas graduasi alamiah dan graduasi hasil pemutakhiran
sosial ekonomi. Graduasi alamiah: berakhirnya masa kepesertaan KPM
PKH akibat tidak terpenuhinya kriteria kepesertaan program. Graduasi
hasil pemutakhiran sosial ekonomi: berakhirnya masa kepesertaan
KPM PKH karena tidak lagi berstatus ekonomi miskin meskipun masih
memiliki kriteria komponen.
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, jika rumah tangga masih tercatat/menjadi penerima
Program Keluarga Harapan pada bulan Agustus 2020.
b. Kode 5: Tidak, jika rumah tangga sudah tidak tercatat/menjadi
penerima Program Keluarga Harapan pada bulan Agustus 2020
Jika ada lebih dari satu keluarga dalam rumah tangga tersebut, sangat
memungkinkan untuk memperoleh manfaat PKH lebih dari satu,
selama keluarga tersebut memenuhi syarat-syarat kepesertaan PKH.
(5) P.705.b. Di mana Saudara/i/anggota rumah tangga lainnya
menerima bantuan PKH?
Bantuan PKH saat ini telah dilaksanakan secara nontunai melalui rekening
bank dengan bekerja sama dengan Bank Penyalur (diakses dengan kartu
debit Kartu Keluarga Sejahtera/KKS). Bank penyalur yang ditetapkan
adalah Bank Himbara (BNI, BRI, BTN dan Mandiri) yang ditentukan
sesuai dengan kecamatan wilayah penerima manfaat. Namun, untuk
beberapa lokasi dengan akses terbatas, bantuan PKH masih dilakukan
secara tunai yang tempat penyalurannya ditentukan oleh masing-
masing bank penyalur dan disetujui oleh pemerintah daerah setempat.
(6) P.705.c. Selama Bulan Maret-Agustus 2020, untuk apa saja bantuan
PKH dipergunakan?
Kode Jawaban:
a. Kode A: Belanja Pangan, misalnya rumah tangga menggunakan
bantuan PKH untuk membeli sembako, seperti beras, gula, minyak
goreng, dsb.
b. Kode B: Biaya Perumahan dan Fasilitas Rumah Tangga (sewa
rumah/kontrak, listrik, air, telepon, bahan bakar, dll.), misalnya
rumah tangga menggunakan bantuan PKH untuk membayar sewa
rumah/kontrak, membayar tagihan listrik, membayar tagihan air,
membayar tagihan telepon, membeli bahan bakar, dsb.
c. Kode C: Biaya Pengobatan meliputi biaya pelayanan pengobatan/
kuratif, biaya obat, biaya pencegahan/preventif, tidak termasuk

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 49


biaya untuk ibu hamil. Misalnya rumah tangga menggunakan
bantuan PKH untuk rawat jalan (memeriksakan kesehatan ke tenaga
kesehatan, menebus obat, dsb.), rawat inap, serta biaya mengobati
sendiri (membeli obat di warung, membayar tukang urut, dsb.).
d. Kode D : Biaya Perawatan Ibu Hamil misalnya rumah tangga
menggunakan bantuan PKH untuk cek kehamilan, USG, membeli
vitamin untuk ibu hamil, dsb.
e. Kode E : Biaya Sekolah misalnya rumah tangga menggunakan bantuan
PKH untuk membeli peralatan sekolah, seragam, uang kursus, dsb.
f. Kode F : Biaya Lainnya, misalnya rumah tangga menggunakan
bantuan PKH untuk hal lainnya seperti membeli pakaian, membeli
sabun, detrgen, perhiasan, dsb. Tuliskan pada tempat yang tersedia.
(7) P.706a.1. Selama setahun terakhir, apakah Saudara/i/ART
lainnya pernah menerima bantuan/bantuan sosial dari
Pemerintah Pusat?
Pemerintah pusat merupakan penyelenggara pemerintahan bangsa
Indonesia. Di mana mereka adalah presiden dan wakil presiden
yang dibantu para menteri.
(8) P.706a.2. Apakah bantuan yang diberikan dari Pemerintah Pusat
tersebut ada yang terkait penanganan COVID?
Kode jawaban:
a. Kode 1 : Ya, jika rumah tangga menerima bantuan yang diberikan,
ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
b. Kode 5 : Tidak, jika rumah tangga menerima bantuan yang
diberikan, tidak ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
(9) P.706b.1. Selama setahun terakhir, apakah Saudara/i/ART lainnya
pernah menerima bantuan/bantuan sosial dari Pemerintah
Daerah?
Pemerintah daerah adalah penguasa yang memerintah pemerintahan
di daerah lewat otonomi daerah.
(10) P.706b.2. Apakah bantuan yang diberikan dari Pemerintah
Daerah tersebut ada yang terkait penanganan COVID?
Kode jawaban:
a. Kode 1 : Ya, jika rumah tangga menerima bantuan yang diberikan,
ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
b. Kode 5 : Tidak, jika rumah tangga menerima bantuan yang
diberikan tidak ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.

50 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


(11) P.706c.1. Selama setahun terakhir, apakah Saudara/i/ART lainnya
pernah menerima bantuan/bantuan sosial dari Perusahaan?
Usaha/Perusahaan adalah unit yang memproduksi barang dan jasa
untuk tujuan mendapatkan laba atau keuntungan finansial lainnya bagi
pemiliknya (market product). Pada umumnya, unit tersebut mempunyai
badan hukum, namun jika tidak berbadan hukum unit tersebut
mempunyai catatan keuangan/pembukuan yang telah dipisahkan dari
keuangan pemilik usaha/perusahaan (quasi corporation).
(12) P.706c.2. Apakah bantuan yang diberikan dari Perusahaan
tersebut ada yang terkait penanganan COVID?
Kode jawaban:
a. Kode 1 : Ya, jika rumah tangga menerima bantuan yang diberikan,
ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
b. Kode 5 : Tidak, jika rumah tangga menerima bantuan yang
diberikan, tidak ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
(13) P.706d.1. Selama setahun terakhir, apakah Saudara/i/ART lainnya
pernah menerima bantuan/bantuan sosial dari Lembaga Non-
profit yang melayani rumah tangga?
Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga.
Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT). LNPRT
adalah entitas legal maupun sosial yang tidak dikendalikan pemerintah
dan dibentuk untuk menyediakan barang/jasa secara gratis atau
dengan harga yang tidak signifikan secara ekonomi pada anggotanya/
rumah tangga/kelompok masyarakat. Contoh: lembaga keagamaan
(masjid, gereja, dsj), partai politik, LSM, badan amil zakat, ikatan
pengusaha, ikatan profesi tertentu, dsb.
Contoh beberapa jenis LNPRT menurut tujuannya:
a. Perumahan
LNPRT yang melakukan pengembangan, pembangunan, manajemen,
sewa/kontrak, pembiayaan, renovasi atau rehabilitasi perumahan.
Contoh: Yayasan Peduli Pembangunan Perumahan Pemukiman Kota
Semarang, Koalisi Peduli Perumahan dan Permukiman untuk Rakyat
(KP3R).
b. Kesehatan
LNPRT yang menghasilkan produk, peralatan dan perlengkapan
kesehatan, jasa pasien rawat jalan, jasa rumah sakit, jasa kesehatan
masyarakat, litbang kesehatan, atau jasa kesehatan lain. Contoh:
Yayasan Kanker Indonesia, Yayasan Jantung Indonesia, Rumah
Keperawatan dan Pemulihan Kesehatan.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 51


c. Rekreasi, Kebudayaan, dan Olahraga
LNPRT yang menghasilkan jasa rekreasi, olah raga, dan jasa
kebudayaan. Contoh: Jak-mania, HMI, GMNI, Legiun Veteran Republik
Indonesia, Lions and Rotary Club Indonesia, KNPI, IMI, dan sanggar
seni.
d. Pendidikan
LNPRT yang melakukan pendidikan pra-sekolah dan dasar, pendidikan
lanjutan, litbang pendidikan, dan jasa pendidikan lain. Contoh: pondok
pesantren tradisional, serta sekolah, perguruan tinggi, dan universitas
yang dibiayai organisasi keagamaan.
e. Jaminan Sosial
LNPRT yang menghasilkan jasa perlindungan/jaminan sosial serta
litbang perlindungan/jaminan sosial. Contoh: panti asuhan, dompet
dhuafa, panti wredha, panti rehabilitasi, lembaga perlindungan anak,
dan tempat tinggal penyandang disabilitas.
f. Keagamaan
LNPRT yang menyiarkan agama/kepercayaan, ritual dan jasa layanan
keagamaan, tempat ibadah, dan tempat meditasi. Contoh: gereja,
biara, masjid, pura, wihara, klenteng, Majelis Ulama Indonesia, Parisada
Hindu Dharma Indonesia, dan majelis taklim.
g. Partai Politik, Organisasi Buruh, dan Organisasi Profesi
LNPRT yang menghasilkan jasa partai politik, organisasi buruh, dan
organisasi profesi. Contoh: Partai Golkar, Partai Demokrat, Peduli Buruh
Indonesia, dan Ikatan Dokter Indonesia.
h. Lingkungan Hidup
LNPRT yang menghasilkan jasa perlindungan lingkungan serta litbang
perlindungan lingkungan. Contoh: Kalaweit, Jasoil Tanah Papua, Walhi,
Lestari Adventure, dan WARSI.
i. Jasa Lainnya
LNPRT yang mencakup organisasi kemasyarakatan dan rukun
kampung, organisasi bantuan hukum, organisasi peramalan dan
analisis, organisasi lain yang tidak tercakup dalam klasifikasi
sebelumnya. Contoh: Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Forum
Masyarakat Penyelamat, Perkumpulan Kamuki, dan YLKI.
(14) P.706d.2. Apakah bantuan yang diberikan dari Lembaga tersebut
ada yang terkait penanganan COVID?
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, jika rumah tangga menerima bantuan yang diberikan,
ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.

52 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


b. Kode 5: Tidak, jika rumah tangga menerima bantuan yang
diberikan, tidak ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
(15) P.706e.1. Selama setahun terakhir, apakah Saudara/i/ART lainnya
pernah menerima bantuan/bantuan sosial dari rumah tangga lain?
Rumah tangga lain adalah orang tua, famili, atau orang lain yang
bukan anggota rumah tangga tersebut.
(16) P.706e.2. Apakah bantuan yang diberikan dari rumah tangga
lain tersebut ada yang terkait penanganan COVID?
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, jika rumah tangga menerima bantuan yang diberikan,
ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
b. Kode 5: Tidak, jika rumah tangga menerima bantuan yang
diberikan, tidak ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
(17) P.706f.1. Selama setahun terakhir, apakah Saudara/i/ART lainnya
pernah menerima bantuan/bantuan sosial dari Luar Negeri?
Bantuan/bantuan sosial dari luar negeri adalah bantuan/sumbangan
yang berasal dari luar negeri baik yang berasal dari lembaga,
institusi, atau pemerintah.
(18) P.706f.2. Apakah bantuan yang diberikan dari Luar Negeri tersebut
ada yang terkait penanganan COVID?
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, jika rumah tangga menerima bantuan yang diberikan,
ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
b. Kode 5: Tidak, jika rumah tangga menerima bantuan yang
diberikan, tidak ada yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.
(19) P.707.a Apakah Saudara/i/ART lainnya menerima Bantuan Pangan
Non Tunai (BPNT/Program Sembako) dari pemerintah pusat
selama bulan Maret-Agustus 2020?
Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah bantuan sosial pangan
dalam bentuk non tunai dari pemerintah yang diberikan kepada
Keluarga Penerima Manfaat (KPM) setiap bulannya melalui mekanisme
perbankan. KPM akan menerima kit bantuan non tunai berupa kupon
elektronik (e-voucher) dari Bank Penyalur. Besaran Bantuan Pangan
Non Tunai adalah Rp.110.000,- per KPM per bulan. Bantuan tersebut
tidak dapat diambil tunai dan apabila bantuan tidak dibelanjakan
dalam bulan tersebut, maka nilai bantuan tetap tersimpan dan
terakumulasi. KPM dapat menggunakan e-voucher tersebut untuk
membeli beras serta bahan pangan lainnya seperti telur, sesuai jumlah
dan kualitas yang diinginkan di e-warong.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 53


Pada tahun 2017, transformasi Program Rastra menjadi Program BPNT
dilaksanakan di 44 kota terpillih yang memiliki akses dan fasilitas
memadai, sedangkan kabupaten/kota lainnya masih melaksanakan
Program Bansos Rastra. Oleh karena itu, daerah yang telah
mendapatkan BPNT tidak akan mendapatkan Bansos Rastra. Hingga
saat ini, penerapan BPNT semakin diperluas. Pada bulan Oktober
tahun 2018, penerapan BPNT sudah mencakup 219 kabupaten/kota.
Pada Bulan September 2019 seluruh KPM penerima Bansos Rastra
telah memperoleh transformasi program BPNT yakni sebanyak 15,6
juta KPM.
Pada tahun 2020, program BPNT mengalami pengembangan menjadi
Program Sembako. Nilai dari Program Sembako sebesar Rp150.000,-
per bulan berubah menjadi sebesar Rp200.000,- periode Bulan Maret-
Agustus 2020. Kriteria pangan yang diperoleh adalah pangan bernutrisi
dan bahan makanan yang sensitif dengan daya beli masyarakat. Jenis
bahan pangan dalam program sembako yaitu sumber karbohidrat,
seperti beras (dapat diganti jagung/sagu/ubi) dan sumber protein,
seperti telur, daging/ayam/ikan, kacang-kacangan (misal tempe tahu).
Komoditas bahan pangan sembako mengakomodir ketersediaan
pangan lokal. KPM diberikan kebebasan untuk memilih bahan pangan
tersebut.
E-warong adalah pedagang bahan pangan seperti pasar tradisional,
warung, toko kelontong, e-Warong KUBE (elektronik Warung Gotong
Royong Kelompok Usaha Bersama Program Keluarga Harapan),
Warung Desa, Rumah Pangan Kita (RPK), Agen Laku Pandai, Agen
Layanan Keuangan Digital (LKD) yang menjual bahan pangan, atau
usaha eceran lainnya yang telah bekerjasama dengan bank penyalur.
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, , jika rumah tangga menerima Bantuan Pangan Non
Tunai pada periode tersebut
b. Kode 5: Tidak, jika rumah tangga tidak menerima Bantuan Pangan
Non Tunai pada periode tersebut.
(20) P.707.b. Apakah Saudara/i/ART lainnya menerima Bantuan Sosial
Tunai (BST) terkait penanganan COVID dari pemerintah pusat
selama bulan April-Agustus 2020?
Tujuan dari pertanyaan ini yaitu untuk mendapatkan informasi
pemberian/penggunan Bantuan Sosial Tunai dari pemerintah pusat
pada bulan April-Agustus 2020.
Bantuan Sosial adalah bantuan berupa uang, barang, atau jasa kepada

54 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat miskin, tidak mampu,
dan/atau rentan terhadap risiko sosial.
Bantuan Sosial Tunai adalah bantuan berupa uang yang diberikan
kepada keluarga miskin, tidak mampu, dan/atau rentan yang terkena
dampak wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
Bantuan Sosial Tunai ini merupakan program jaringan pengaman
sosial Kementerian Sosial yang diperuntukan bagi keluarga miskin
dan rentan miskin yang terdampak Covid-19. Program ini merupakan
bantuan penugasan khusus Presiden. Bantuan sosial untuk wilayah
di luar Jabodetabek diberikan dalam bentuk uang, sedangkan
untuk wilayah Jabodetabek diberikan dalam bentuk sembako.Target
sasarannya adalah 9 juta KK, bagi warga terdampak Covid-19 yang
tidak menerima bantuan PKH dan Program Sembako. Bantuan senilai
Rp 600.000,-/keluarga/bulan, disalurkan selama 5 bulan (April-Agustus
2020).
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, , jika rumah tangga menerima Bantuan Sosial Tunai.
b. Kode 5: Tidak, jika rumah tangga tidak menerima Bantuan Sosial
Tunai.
(21) P.707.c. Apakah Saudara/i/ART lainnya menerima Bantuan
Langsung Tunai (BLT) Dana Desa terkait penanganan COVID dari
pemerintah pusat selama bulan April-Agustus 2020?
Tujuan dari pertanyaan ini yaitu untuk mendapatkan informasi
Rincian ini mengenai Informasi terkait BLT Dana Desa dari pemerintah
pusat terkait penanganan COVID-19. Dana Desa adalah dana
yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan
untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan
masyarakat. Berdasar Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 6 Tahun
2020, dana desa juga digunakan untuk membiayai bantuan langsung
tunai (BLT DD) kepada korban bencana pandemi Covid-19. Selain itu,
dalam Permen Keuangan No. 40/PMK.07/2020 disebutkan bahwa
BLT tersebut diberikan paling cepat mulai April 2020 sebesar Rp
600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) per keluarga penerima manfaat
per bulan selama 3 (tiga) bulan dan sebesar Rp 300.000,00 (tiga ratus
ribu rupiah) per keluarga penerima manfaat per bulan selama 3 (tiga)

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 55


bulan berikutnya. Kemudian, dicantumkan juga bahwa calon keluarga
penerima manfaat BLT Dana Desa adalah keluarga miskin atau tidak
mampu yang berdomisili di Desa bersangkutan; dan tidak termasuk
penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako,
dan Kartu Pra Kerja.
Kode jawaban:
a. Kode 1: Ya, , jika rumah tangga menerima BLT Dana Desa.
b. Kode 5: Tidak, jjika rumah tangga tidak menerima BLT Dana Desa.

I. Blok IX. Keamanan


Rasa Aman
Merupakan isian mengenai pendapat responden terkait kekhawatiran terkait
dengan keamanan dirinya dari kejahatan dalam situasi-situasi tertentu dan
bagaimana proteksi yang dilakukan oleh rumah tangga maupun lingkungan
dari gangguan keamanan.
(1) P.801. Dalam setahun terakhir, seberapa khawatir Saudara/i/
anggota rumah tangga lainnya dengan keamanan diri saat
melakukan hal-hal berikut di lingkungan sekitar tempat tinggal:
Hal-hal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Berjalan kaki sendirian di siang hari, adalah berjalan kaki di
lingkungan tempat tinggal (kampung, komplek perumahan, dsb)
pada waktu siang hari (hari masih terang).
b. Berjalan kaki sendirian di malam hari, adalah berjalan kaki di
lingkungan tempat tinggal (kampung, komplek perumahan, dsb)
pada waktu malam hari (hari telah gelap)
c. Berkendara (sepeda, sepeda motor, mobil) sendirian di malam
hari, adalah mengendarai sepeda/sepeda motor/mobil di
lingkungan tempat tinggal (kampung, komplek perumahan, dsb)
pada waktu malam hari (hari telah gelap).
Catatan:
1. Isu pertanyaan ini adalah “personal safety feeling (rasa aman pribadi
responden)”, bukan rasa aman orang lain.
2. Apabila responden tidak pernah melakukan/mengalami peristiwa/
kondisi karena khawatir maka pilihan jawabannya masuk kategori
khawatir.
Contoh kasus: Bu Opi tidak pernah berjalan kaki sendirian di malam
hari karena ia merasa khawatir akan keamanan dirinya maka pilihan
jawabannya adalah khawatir atau cenderung khawatir.

56 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


3. Jika responden tidak pernah mengalami dalam kurun waktu satu
tahun terakhir seperti tidak bisa berjalan kaki sendirian karena sakit,
tua dsb maka pilihan jawabannya tidak relevan.
4 Pilihan jawaban dibacakan.
Batasan :
1. Lingkungan dalam kuesioner ini adalah area RW dimana responden tinggal.
2. Siang hari adalah pukul 06.00 sampai dengan 17.59
3. Malam hari adalah pukul 18.00 sampai dengan 05.59 Pilih salah satu
kode jawaban yang tersedia, dan isikan ke dalam kotak yang tersedia.
Kode Jawaban:
a. Kode 1: Tidak khawatir
b. Kode 2: Cenderung tidak khawatir
c. Kode 3: Cenderung khawatir
d. Kode 4: Khawatir
e. Kode 5: Tidak Relevan (tidak dibacakan)

J. Petunjuk dan Tata Cara Pengisian Blok Modul Hansos Susenas


September 2020
Dalam pengisian Kuesioner VSEN20.K, perlu diperhatikan aturan pengisian
sebagai berikut:
1) Kuasai konsep, definisi, maksud, dan tujuan survei.
2) Tulis semua isian dengan pensil hitam sejelas-jelasnya, dengan
menggunakan huruf kapital, agar mudah dibaca dan pada tempat
yang telah disediakan.
3) Gunakan bagian-bagian kosong dari kuesioner untuk mencatat hal-
hal yang perlu diketahui oleh pengawas dan pengolah.
4) Pencacah harus meneliti/memeriksa seluruh isian kuesioner dan
memperbaiki setiap kesalahan sebelum kuesioner diserahkan ke
pengawas.
5) Perhatikan dan patuhi tanda-tanda atau alur pertanyaan yang tertera
pada daftar isian.
6) Blok I tentang pengenalan tempat (kecuali nama kepala rumah tangga
dan alamat rumah) diisi sebelum petugas ke lapangan.
7) Pertanyaan dalam format roster (tabel daftar rumah tangga) dalam
satu halaman diselesaikan sampai selesai sebelum masuk ke roster
berikutnya.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 57


8) Kode pilihan jawaban yang menggunakan huruf kapital seperti A, B.
C dan seterusnya, boleh dilingkari lebih dari satu pilihan jawaban.
Kode pilihan jawaban yang menggunakan angka seperti 1, 2, 3, dan
seterusnya, hanya boleh dilingkari salah satu.
Contoh: Daftar VSEN20.MH Pertanyaan 602, 603 dan 705

9) Tanda garis dua pada pertanyaan roster menunjukkan perbedaan


tema pertanyaan pada blok.

10) Menuliskan nama/keterangan di tempat yang tersedia kemudian


membubuhkan kode nama/keterangan yang dimaksud pada kotak
yang tersedia.
Contoh: Daftar VSEN20.MH, Pertanyaan 101 dan 102.

11) Melingkari kode jawaban, kemudian menuliskan ke kotak yang


tersedia.
Contoh: Daftar VSEN20.MH, Pertanyaan 105.

58 | Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020


.12) Mengisikan jawaban responden pada tempat yang disediakan.
Contoh: Daftar VSEN20.MH Blok IV.

13) Membiarkan jawaban tidak terisi apabila suatu pertanyaan tidak perlu
diisi karena aturan, misalnya harus dilewati. Contoh: Daftar VSEN20.MH
Pertanyaan 504 dan 505.

13) Jika pemberi informasi terlihat tidak memahami pertanyaan atau tidak dapat
menjawab pertanyaan secara spontan, maka petugas boleh melakukan
probing tanpa menghilangkan maksud dan tujuan rincian pertanyaan.

Konsep dan Definisi Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 59


BAB III
BLOK PENGELUARAN PADA KUESIONER
SUSENAS SEPTEMBER 2020

A. Hal-hal yang Dikumpulkan pada Blok Pengeluaran Susenas


September 2020
Desain pertanyaan konsumsi dan pengeluaran yang digunakan pada
Susenas September 2020 berbeda dengan Susenas sebelumnya. Dalam
rangka beradaptasi dengan Pandemi Corona Virus Diseases (Covid-19),
dilakukan penyesuaian pertanyaan tentang konsumsi dan pengeluaran
pada Susenas. Hal tersebut bertujuan untuk mempersingkat durasi
waktu wawancara, dalam rangka menerapkan protokol kesehatan dan
antisipasi terhadap penyebaran Covid-19. Struktur kuesioner Blok
Pengeluaran secara umum dijelaskan pada bagan sebagai berikut.

BLOK PENGELUARAN PADA KUESIONER


SUSENAS SEPTEMBER 2020

Pengeluaran
Pengeluaran
Total Beberapa
Beberapa
Pengeluaran Komoditas
Komoditas Bahan
Barang-Barang
Makanan
Bukan Makanan

Struktur Blok Pengeluaran pada Kuesioner


Susenas September 2020

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 61
B. Struktur Blok Pengeluaran pada Kuesioner Susenas September 2020

Blok Pengeluaran pada Kuesioner Susenas September 2020 terdiri atas


3 (tiga) blok, kemudian dilanjutkan dengan Blok XII Catatan pada akhir
halaman kuesioner. Susunannya adalah sebagai berikut:

(1) Blok IX : Total Pengeluaran Selama Sebulan Terakhir


(2) Blok X : Pengeluaran Bahan Makanan, Bahan Minuman,
dan Rokok Selama Seminggu Terakhir
(3) Blok XI : Rata-Rata Pengeluaran untuk Barang-Barang
Bukan Makanan Selama Bulan April Sampai
dengan Bulan September
(4) Blok XII : Catatan

62 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
C. Bagan Kegiatan Ekonomi Rumah Tangga
Transaksi Keuangan, diterima

Upah dan Gaji, diterima

Surplus Usaha Rumah Tangga, diterima

Pendapatan Kepemilikan, diterima

Transfer, diterima

Rumah Pembelian barang modal


Produsen
Tangga Perubahan stok

Transfer, dibayar

Pendapatan Kepemilikan, dibayar

KONSUMSI, termasuk Imputasi

Transaksi Keuangan, dibayar

Keterangan:
Yang dicakup dalam Blok Pengeluaran pada Kuesioner Susenas
September 2020 hanya pengeluaran rumah tangga untuk beberapa
komoditas saja.
Penerimaan
Pengeluaran

Produsen:
1. Usaha rumah tangga;
2. Perusahaan non-finansial (seperti usaha/perusahaan pertanian,
pertambangan, listrik, industri pengolahan, perdagangan, restoran,
hotel, rumah sakit, sekolah, dsb.);
3. Perusahaan finansial (seperti bank, asuransi, pegadaian, lembaga
pembiayaan, dan berbagai jenis lembaga keuangan lainnya);

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 63
4. Pemerintah (K/L pemerintah tingkat pusat (seperti Kemdagri,
Kemekeu, Kemdiknas, DPR, BPS, ABRI), Pemda Provinsi,
Kabupaten/Kota, Desa/Kelurahan (Dinas, UPTD, dsb.);
5. Lembaga non-profit (seperti panti asuhan, gereja, ormas, orpol, dsb.).

Transaksi Keuangan:
1. Diterima: mengambil tabungan, berutang, menerima pembayaran
utang, dsb.
2. Dibayar: menabung, membayar utang, memberikan utang, dsb.

Pendapatan kepemilikan yang dibayar, merupakan pengeluaran


rumah tangga atau anggota rumah tangga karena harta milik pihak lain
yang digunakan oleh rumah tangga atau anggota rumah tangga,
seperti: sewa lahan karena rumah tangga menyewa lahan kepada pihak
lain; beban bunga atas kewajiban finansial terhadap pihak lain, misalnya
pinjaman; atau beban atas pendapatan kepemilikan lainnya yang terkait
aset yang digunakan oleh rumah tangga, misalnya bagi hasil usaha
rumah tangga yang dibayarkan kepada pihak lain.

D. Blok IX. Total Pengeluaran Selama Sebulan Terakhir


Referensi Waktu
Referensi waktu untuk Blok IX adalah sebulan terakhir. Total
pengeluaran konsumsi bahan makanan, bahan minuman, dan rokok
serta total pengeluaran barang-barang untuk bahan bukan makanan
yang dicatat adalah yang betul-betul dikonsumsi/dikeluarkan selama
sebulan terakhir dan berakhir satu hari sebelum pencacahan.
(1) P.901. Berapakah total (rupiah) pengeluaran untuk
makanan/bahan makanan, minuman/bahan minuman, dan
rokok yang dikonsumsi/dimakan/diminum/dimasak/digunakan/
dihabiskan sendiri oleh rumah tangga Bapak/Ibu/Saudara/i
selama sebulan terakhir? (Tidak termasuk yang diberikan
kepada orang lain/tetangga)

64 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
Pendekatan Pencatatan Bahan Makanan, Bahan Minuman, dan
Rokok
Pendekatan yang digunakan pada pencatatan untuk pengeluaran
bahan makanan, bahan minuman, dan rokok menggunakan
Consumption Approach, artinya nilai rupiah dari bahan makanan,
bahan minuman, dan rokok sebulan terakhir yang dicatatkan adalah
yang benar-benar dikonsumsi anggota rumah tangga selama
sebulan terakhir.
Sumber Perolehan Bahan Makanan, Bahan Minuman, dan
Rokok
Bahan makanan, bahan minuman, dan rokok yang dikonsumsi oleh
rumah tangga dapat berasal dari:
a) Pembelian, jika bahan makanan, bahan minuman, atau rokok
yang dikonsumsi berasal dari pembelian baik secara tunai, bon
(utang), atau kredit (cicilan). Konsumsi yang diambil dari
warung/toko milik rumah tangga yang bersangkutan dianggap
sebagai pembelian.
b) Produksi sendiri/pemberian, jika bahan makanan, bahan
minuman, atau rokok yang dikonsumsi berasal dari kebun,
sawah, pekarangan, baik usaha rumah tangga maupun bukan
usaha rumah tangga atau yang berasal dari pihak lain secara
cuma-cuma. Contoh: mengonsumsi belimbing yang diambil dari
pohon belimbing milik rumah tangga, mengonsumsi daging dari
hewan yang dipelihara rumah tangga, atau mendapat kiriman
makanan dari tetangga/famili.

(2) P.902. Berapakah total (rupiah) pengeluaran untuk barang-


barang bukan makanan rumah tangga Bapak/Ibu/Saudara/i
selama sebulan terakhir? (Tidak termasuk yang diberikan
kepada orang lain/tetangga)

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 65
Pendekatan Pencatatan Barang-Barang Bukan Makanan
a) Pencatatan untuk nilai barang-barang bukan makanan
menggunakan Delivery Approach. Artinya, nilai barang dicatat
ketika barang tersebut telah diterima rumah tangga.
b) Pencatatan untuk nilai barang-barang bukan makanan dan
habis pakai, hampir sama seperti pada pencatatan nilai bahan
makanan, bahan minuman, dan rokok. Pencatatan nilai barang-
barang bukan makanan habis pakai, dilihat dari kemasan yang
telah dibuka. Contoh: Dua pekan sebelum pencacahan, Bu
Maryati membeli 2 botol sampo untuk stok 2 bulan. Harga per
botol sampo (180 ml) yang dibeli Bu Maryati sebesar
Rp20.000,-. Pada saat pencacahan, sampo yang sudah terpakai
adalah setengah botol. Untuk kasus ini, yang dicatat adalah
Rp20.000,-, karena pada saat pencacahan Bu Maryati sudah
membuka satu botol sampo, meskipun baru setengah botol
saja yang digunakan.
Penjelasan:
a) Jika rumah tangga/anggota rumah tangga telah melakukan
pembelian barang, tetapi barang tersebut masih dalam
pengiriman, maka pembelian tersebut tidak dianggap sebagai
pengeluaran.
b) Jika rumah tangga/anggota rumah tangga menggunakan
barang yang dibeli secara kredit pada referensi waktu
pencacahan, meskipun pada saat pencacahan rumah tangga
belum selesai melunasi pembayaran, maka pembelian dengan
kredit tersebut tetap dianggap sebagai pengeluaran.
Pengeluaran yang dicatatkan untuk pembelian barang secara
kredit adalah harga barang tersebut jika dibeli secara
cash/tunai.
c) Responden yang membeli barang di bawah harga pasar
karena harga subsidi dianggap membeli sesuai dengan harga

66 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
pasar. Subsidi hanya dapat dilakukan oleh pemerintah atau
lembaga nonprofit langsung ke rumah tangga.
d) Pencatatan nilai untuk pembelian barang diskon adalah sesuai
dengan harga yang dibayarkan, bukan harga sebelum didiskon.
Diskon yang diberikan toko atau diskon pembayaran noncash
(seperti: dana, ovo, gopay, dsb.) dicatat sesuai dengan yang
dibayarkan (bukan harga normal) karena diberikan oleh
lembaga profit. Contoh: Bu Maryati menggunakan detergen
(sabun cuci bubuk) yang dibelinya di mini market. Saat
membeli detergen, harga yang tertera adalah Rp20.000,-,
setelah didiskon, harganya menjadi Rp15.000,-. Maka, yang
dicatatkan adalah sebesar Rp15.000,-.
e) Pencatatan untuk pembelian barang dengan sistem cashback,
yaitu tetap dicatat sesuai dengan harga barang saat dibeli.

(3) P.903. Jika dibandingkan dengan kondisi bulan Maret 2020,


apakah pengeluaran untuk makanan/bahan makanan,
minuman/bahan minuman, dan rokok yang
dikonsumsi/dimakan/diminum/dimasak/digunakan/dihabiskan
sendiri oleh rumah tangga Bapak/Ibu/Saudara/i, mengalami
kenaikan atau penurunan? Jika terdapat perubahan, berapa
persen kenaikan atau penurunannya?
Responden diminta untuk membandingkan jawabannya pada P.901,
dengan total pengeluaran untuk konsumsi bahan makanan, bahan
minuman, dan rokok oleh rumah tangganya pada kondisi bulan
Maret 2020. Jika tidak terdapat kenaikan atau penurunan, lingkari
kode 1 Tetap/sama. Jika terdapat kenaikan atau penurunan,
tanyakan berapa persen kenaikan atau penurunannya.
Contoh: Pada P.901 responden menjawab Rp3.000.000,-, pada
P.903 responden menjawab terdapat kenaikan. Untuk
mempermudah responden dalam menjawab, dapat dihitungkan
5% dari Rp3.000.000,- adalah 0,05 x Rp3.000.000,- = Rp150.000,-

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 67
sedangkan 10% dari Rp3.000.000,- adalah 0,1 x Rp3.000.000,-
=Rp300.000,-. Kemudian petugas dapat menanyakannya pada
responden, “Apakah keanaikannya kurang dari Rp150.000,-? Atau
dari Rp150.000,- sampai dengan Rp300.000,-? Atau lebih dari
Rp300.000,-?”
(4) P.904. Jika dibandingkan dengan kondisi bulan Maret 2020,
apakah pengeluaran untuk barang-barang bukan makanan
rumah tangga Bapak/Ibu/Saudara/i, mengalami kenaikan atau
penurunan? Jika terdapat perubahan, berapa persen kenaikan
atau penurunannya?
Responden diminta untuk membandingkan jawabannya pada P.902,
dengan total pengeluaran untuk barang-barang bukan makanan
rumah tangganya pada kondisi bulan Maret 2020. Jika tidak
terdapat kenaikan atau penurunan, lingkari kode 1 Tetap/sama.
Jika terdapat kenaikan atau penurunan, tanyakan berapa persen
kenaikan atau penurunannya.
Contoh: Pada P.902 responden menjawab Rp4.000.000,-, pada
P.904 responden menjawab terdapat penurunan. Untuk
mempermudah responden dalam menjawab, dapat dihitungkan
5% dari Rp4.000.000,- adalah 0,05 x Rp4.000.000,- = Rp200.000,-
sedangkan 10% dari Rp4.000.000,- adalah 0,1 x Rp4.000.000,-
=Rp400.000,-. Kemudian petugas dapat menanyakannya pada
responden, “Apakah penurunannya kurang dari Rp200.000,-? Atau
dari Rp200.000,- sampai dengan Rp400.000,-? Atau lebih dari
Rp400.000,-?”
(5) P.905. Jika dibandingkan dengan kondisi bulan Maret 2020,
apakah total seluruh pengeluaran rumah tangga
Bapak/Ibu/Saudara/i, mengalami kenaikan atau penurunan?
Jika terdapat perubahan, berapa persen kenaikan atau
penurunannya?

68 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
Responden diminta untuk membandingkan total seluruh
pengeluaran rumah tangganya selama sebulan terakhir, dengan
total pengeluaran rumah tangganya pada kondisi bulan Maret
2020. Jika tidak terdapat kenaikan atau penurunan, lingkari kode 1
Tetap/sama. Jika terdapat kenaikan atau penurunan, tanyakan
berapa persen kenaikan atau penurunannya.
Contoh: Pada P.901 responden menjawab Rp3.000.000,-, pada
P.902 responden menjawab Rp4.000.000,-, dan pada P.905
responden menjawab terdapat kenaikan. Untuk mempermudah
responden dalam menjawab, hitung penjumlahan P.901 dan P.902,
yaitu Rp3.000.000.- + Rp4.000.000,- = Rp7.000.000,-. Kemudian
dapat dihitungkan 5% dari Rp7.000.000,- adalah 0,05 x
Rp7.000.000,- = Rp350.000,- sedangkan 10% dari Rp7.000.000,-
adalah 0,1 x Rp7.000.000,-=Rp700.000,-. Kemudian petugas dapat
menanyakannya pada responden, “Apakah kenaikannya kurang
dari Rp350.000,-? Atau dari Rp350.000,- sampai dengan
Rp700.000,-? Atau lebih dari Rp700.000,-?”

E. Blok X. Pengeluaran Bahan Makanan, Bahan Minuman, dan Rokok


Selama Seminggu Terakhir

Referensi waktu
Referensi waktu yang digunakan pada Blok X adalah seminggu
terakhir, yaitu jangka waktu 7 hari berturut-turut yang berakhir sehari
sebelum tanggal pencacahan.

September
14 15 16 17 18 19 20 21
Jika petugas mewawancara rumah tangga pada tanggal 21 September
2020, maka keterangan pengeluaran dari konsumsi makanan yang
ditanyakan adalah konsumsi rumah tangga dari tanggal 14 sampai
dengan 20 September 2020.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 69
Pendekatan Pencatatan
Pendekatan yang digunakan pada pencatatan untuk pengeluaran bahan
makanan, bahan minuman, dan rokok menggunakan Consumption
Approach, artinya nilai rupiah dari bahan makanan, bahan minuman,
dan rokok seminggu terakhir yang dicatatkan adalah yang benar-benar
dikonsumsi anggota rumah tangga selama seminggu terakhir.
Contoh: Dua hari sebelum pencacahan, Bu Ana membeli 3 kg telur
ayam ras. Pada saat pencacahan, 1 kg telah dikonsumsi rumah tangga
Bu Ana. Sebanyak 0,5 kg diberikan kepada tetangganya. Dan sisanya 1,5
kg disimpan. Maka rumah tangga Bu Ana dicatat telah mengonsumsi
1 kg telur ayam ras pada seminggu terakhir.

Sumber Perolehan Bahan Makanan, Bahan Minuman, dan Rokok


(Penjelasan sama dengan sumber perolehan bahan makanan, bahan
minuman, dan rokok pada P.901)

Total pengeluaran selama seminggu terakhir adalah nilai rupiah


bilangan bulat dari banyaknya konsumsi suatu komoditas bahan
makanan, bahan minuman, dan rokok selama seminggu terakhir.

Penjelasan:
Komoditas yang berasal dari produksi sendiri atau dari pemberian,
dsb., isian nilainya diperkirakan dari harga yang berlaku di pasar
setempat pada saat komoditas tersebut dikonsumsi.

Berikut adalah penjelasan mengenai beberapa komoditas bahan


makanan, bahan minuman, dan rokok yang ditanyakan pada Blok X:

(1) Beras
Beras meliputi beras lokal, beras medium, beras premium, dan
beras impor.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk beras:
Rumah tangga Pak Sucipto mendapatkan beras bantuan dari
pemerintah daerah sebanyak 20 kg. Beras yang dihabiskan untuk
konsumsi seminggu terakhir hanya setengahnya, yakni 10 kg.

70 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
Harga pasaran untuk beras yang dikonsumsi Pak Sucipto adalah
Rp10.000,- per kg nya.
Pengeluaran untuk beras:
Walaupun Pak Sucipto tidak mengeluarkan uang untuk
memperoleh beras, nilai konsumsinya tetap dicatatkan
berdasarkan perkiraan harga beras tersebut. Harga per kg beras,
dikalikan dengan banyaknya beras yang dikonsumsi. Rp10.000,- x
10 kg = Rp100.000,-.
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(2) Ikan Segar atau Udang Segar


Ikan segar atau udang segar yang dimaksud adalah ikan/udang
yang segar/basah, bukan ikan/udang yang sudah diolah/
diawetkan saat dibeli.
Ikan segar meliputi ikan ekor kuning, tongkol, tuna, cakalang,
dencis, ikan kayu, tenggiri, selar, kembung, lema/tatare,
banyar/banyara, teri, bandeng, gabus, mujair, mas, nila, lele,
kakap, baronang, patin, bawal, gurame, ikan layang, tembang,
layur, lemuru, belanak, sebelah, pari, cucut, gerot-gerot, petek,
japuh, tawes, jambal, belida, belut, dsb.
Udang segar meliputi udang dan lobster.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk ikan segar atau udang
segar:
a. Empat hari sebelum pencacahan, Bu Maryati (istri Pak Sucipto)
memasak pecel lele yang berbahan dasar 2,5 kilogram ikan
lele. Pecel lele tersebut habis dikonsumsi oleh rumah
tangganya dalam dua hari. Harga ikan lele yang dibeli adalah
Rp30.000,- per kilogram.
Pengeluaran untuk ikan lele:
Harga per kg ikan lele dikalikan dengan banyaknya ikan lele
yang dikonsumsi. Rp30.000,- x 2,50 kg= Rp75.000,-.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 71
b. Dua hari sebelum pencacahan, Bu Maryati memasak pepes
ikan yang berbahan dasar 2 kilogram ikan salem. Pepes ikan
salem tersebut habis dikonsumsi oleh rumah tangganya
dalam dua hari. Harga ikan salem yang dibeli adalah
Rp40.000,- per kilogram.
Pengeluaran untuk ikan salem:
Harga per kg ikan salem, dikalikan dengan banyaknya ikan
salem yang dikonsumsi. Rp40.000,- x 2 kg= Rp80.000,-.
c. Sepekan sebelum pencacahan, Bu Maryati memasak tumis
udang. Bahan dasarnya adalah setengah kilogram udang.
Masakan tersebut telah habis dikonsumsi oleh rumah
tangganya. Harga udang yang dibeli adalah Rp60.000,- per
kilogram.
Pengeluaran untuk udang:
Harga per kg udang, dikalikan dengan banyaknya udang yang
dikonsumsi. Rp60.000,- x 0,5 kg= Rp30.000,-.
Pencatatan total pengeluaran untuk ikan segar/udang segar
rumah tangga Pak Sucipto adalah:
= Pengeluaran untuk ikan lele + Pengeluaran untuk ikan salem +
Pengeluaran untuk udang
= Rp75.000,- + Rp80.000,- + Rp30.000,- = Rp185.000,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(3) Daging Ayam Ras atau Daging Ayam Kampung


Daging ayam ras atau daging ayam kampung yang dimaksud
adalah daging yang segar/basah, bukan daging yang sudah
diolah/diawetkan saat dibeli.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk daging ayam ras atau
daging ayam kampung:
a. Enam hari sebelum pencacahan, Bu Maryati memasak ayam
goreng tepung dan habis dikonsumsi oleh rumah tangganya.

72 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
Salah satu bahan yang digunakan adalah 2 kilogram ayam ras
yang dibeli di pasar seharga Rp30.000,- per kilogramnya.
Pengeluaran untuk daging ayam ras:
Harga per kg daging ayam ras, dikalikan dengan banyaknya
daging ayam ras yang dikonsumsi. Rp30.000,- x 2,00 kg=
Rp60.000,-.
b. Satu hari sebelum pencacahan, Bu Maryati memasak opor
ayam kampung dan telah habis dikonsumsi oleh rumah
tangganya. Bu Maryati menggunakan satu ekor ayam
kampung yang diperolehnya dari tetangga. Jika membelinya
di pasar, harga seekor ayam kampung adalah Rp100.000,-
Pengeluaran untuk daging ayam kampung:
Meskipun Ibu Maryati tidak mengeluarkan uang untuk
membeli ayam kampung, tetap dicatatkan perkirakan harga
satu ekor ayam kampung = Rp100.000,-.
Pencatatan total pengeluaran untuk daging ayam ras atau daging
ayam kampung rumah tangga Pak Sucipto adalah:
= Pengeluaran untuk daging ayam ras + Pengeluaran untuk
daging ayam kampung
= Rp60.000,- + Rp100.000,- = Rp160.000,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(4) Telur Ayam Ras atau Telur Ayam Kampung


Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk telur ayam ras atau
telur ayam kampung:
a. Dalam seminggu terakhir rumah tangga Pak Sucipto
mengonsumsi setengah kilogram telur ayam ras, harga per kg
telur ayam ras yang di beli Bu Maryati adalah Rp24.000,-.
Pengeluaran untuk telur ayam ras:
Harga per kg telur ayam ras, dikalikan dengan banyaknya telur
ayam ras yang dikonsumsi. Rp24.000,- x 0,5 kg= Rp12.000,-.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 73
b. Sepekan sebelum pencacahan, rumah tangga Pak Sucipto
memperoleh 5 butir telur ayam kampung mentah dari
tetangganya. Dua butir telur ayam kampung dimasak dan
dihabiskan oleh Pak Sucipto dan Tomi (anak Pak Sucipto). Jika
Bu Maryati membelinya di pasar, harga telur ayam kampung
sekitar Rp2.000,- per butirnya.
Pengeluaran untuk telur ayam kampung:
Harga per butir telur ayam kampung dikalikan dengan
banyaknya telur ayam kampung yang dikonsumsi. Rp2.000,- x
2 butir = Rp4.000,-.
Pencatatan total pengeluaran untuk telur ayam ras atau telur
ayam kampung rumah tangga Pak Sucipto adalah:
= Pengeluaran untuk telur ayam ras + Pengeluaran untuk telur
ayam kampong
= Rp12.000,- + Rp4.000,- = Rp16.000,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(5) Tahu atau Tempe


Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk tahu atau tempe:
a. Tiga hari sebelum pencacahan, Bu Maryati memasak tempe
goreng dan habis dikonsumsi oleh rumah tangganya. Tempe
yang dimasak sebanyak 2 papan. Bu Maryati membeli tempe
di tukang sayur dengan harga Rp4.000,- per papannya.
Pengeluaran untuk tempe:
Harga per papan tempe dikalikan dengan banyaknya tempe
yang dikonsumsi. Rp4.000,- x 2 papan = Rp8.000,-.
b. Satu hari sebelum pencacahan, Bu Maryati (istri Pak Sucipto)
memasak tumis tahu dan habis dikonsumsi oleh rumah
tangganya. Bu Maryati menggunakan satu bungkus tahu
sebagai bahan dasarnya. Harga satu bungkus tahu adalah
Rp7.000,-.

74 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
Pengeluaran untuk tahu:
Harga per bungkus tahu dikalikan dengan banyaknya tahu
yang dikonsumsi. Rp7.000,- x 1 bungkus = Rp7.000,-.
Pencatatan Pengeluaran untuk tahu atau tempe rumah tangga
Pak Sucipto adalah:
= Pengeluaran untuk tempe + Pengeluaran untuk tahu
= Rp8.000,- + Rp7.000,- = Rp15.000,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(6) Minyak Kelapa atau Minyak goreng


Minyak kelapa adalah minyak yang dibuat dari kelapa dan
belum dimurnikan, biasanya disebut minyak kampung atau
minyak klentik.
Minyak goreng yang dimaksud adalah minyak yang terbuat dari
kelapa sawit atau bunga matahari.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk minyak kelapa atau
minyak goreng:
Seminggu terakhir, rumah tangga Pak Sucipto menggunakan
satu setengah liter minyak goreng untuk memasak. Minyak
goreng yang digunakan diambil dari warungnya sendiri. Harga
minyak goreng kemasan 2 liter yang dijual di warung Bu Maryati
adalah Rp22.000,-.
Pengeluaran untuk minyak goreng:
Harga per liter minyak goreng (Rp22.000,- : 2 = Rp11.000,-),
dikalikan dengan banyaknya minyak goreng yang dikonsumsi.
Rp11.000,- x 1,5 liter = Rp16.500,-.
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(7) Gula
Gula yang dimaksud adalah gula pasir, gula merah, dan gula air
yang berasal dari pohon aren, kelapa, lontar.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 75
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk gula:
Seminggu terakhir, rumah tangga Pak Sucipto mengonsumsi
satu kilogram gula pasir untuk memasak dan untuk membuat
minuman. Gula pasir yang dikonsumsi rumah tangga Pak Sucipto
diambil dari gula pasir yang dijual Bu Maryati di warung. Harga
satu kilogram gula pasir di warung Bu Maryati adalah Rp14.000,-.
Pengeluaran untuk gula pasir:
Harga per kg gula pasir, dikalikan dengan banyaknya gula pasir
yang dikonsumsi. Rp14.000,- x 1 kg = Rp14.000,-.
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(8) Mi Instan
Mi instan, meliputi mi dalam kemasan gelas maupun plastik
yang sudah tersedia bumbunya. Tidak termasuk mi telur atau mi
instan siap makan yang dimasak di warung.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk mi instan:
Seminggu terakhir, rumah tangga Pak Sucipto mengonsumsi 3
bungkus mi instan. Harga per bungkusnya adalah Rp3.000,-.
Pengeluaran untuk mi instan:
Harga per bungkus mi instan dikalikan dengan banyaknya mi
instan yang dikonsumsi. Rp3.000,- x 3 bungkus = Rp9.000,-.
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(9) Makanan Gorengan


Makanan gorengan yang dimaksud adalah makanan gorengan
yang tidak disiapkan/dimasak oleh rumah tangga, tetapi
makanan gorengan yang langsung dapat dikonsumsi, baik di
dalam maupun di luar rumah, seperti makanan gorengan di
warung, di kantor, di sekolah, dsb.
Makanan gorengan, misalnya: pisang goreng, ubi goreng,
tempe goreng, tahu goreng, martabak telur, dsb.

76 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk makanan gorengan:
Seminggu terakhir, rumah tangga Pak Sucipto mengonsumsi 5
potong tahu goreng pemberian tetangga. Jika Pak Sucipto
membelinya sendiri, perkiraan harga satu potong tahu goreng
adalah Rp1.000,-.
Pengeluaran untuk makanan gorengan:
Harga per buah tahu goreng dikalikan dengan banyaknya tahu
goreng yang dikonsumsi. Rp1.000,- x 5 buah = Rp5.000,-.
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(10) Rokok
Rokok yang dimaksud adalah rokok kretek filter, rokok kretek
tanpa filter, dan rokok putih.
Rokok putih adalah jenis rokok tanpa campuran cengkeh, tidak
dibedakan apakah berfilter atau tidak.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk rokok:
Seminggu terakhir, Pak Sucipto mengonsumsi satu bungkus
rokok kretek filter isi 16 batang. Harga per bungkusnya
Rp17.000,-.
Pengeluaran untuk rokok:
Harga per bungkus rokok kretek filter dikalikan dengan
banyaknya rokok yang dikonsumsi. Rp17.000,- x 1 bungkus =
Rp17.000,-.
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

F. Blok XI. Rata-Rata Pengeluaran untuk Barang-Barang Bukan


Makanan Selama Bulan April Sampai dengan Bulan September

Referensi Waktu
Rata-rata pengeluaran barang-barang bukan makanan yang dicatatkan
adalah rata-rata pengeluaran barang-barang bukan makanan yang
betul-betul dikeluarkan selama bulan April sampai dengan September.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 77
Pendekatan Pencatatan
(Penjelasan sama dengan pendekatan pencatatan barang-barang bukan
makanan pada P.902)

Berikut adalah penjelasan mengenai beberapa komoditas barang-


barang bukan makanan yang ditanyakan pada Blok XI:
(1) Listrik
Besarnya pemakaian listrik dicatatkan dalam satuan kWh (kilowatt
hours). Jika rumah tangga menggunakan listrik PLN, besarnya
pemakaian listrik sebulan dapat dilihat dari rekening bulan terakhir.
Jika rumah tangga menggunakan listrik non-PLN atau jika rumah
tangga tidak mengetahui jumlah penggunaan listrik dalam kWh,
maka cara penghitungan besarnya pemakaian listrik adalah dengan
menghitung seluruh penggunaan listrik di rumah tangga tersebut.
Contoh: Penggunaan listrik suatu rumah tangga hanya untuk lampu
ruangan, yakni ruang tamu (40 watt), ruang makan (25 watt), ruang
tidur (10 watt), dan teras rumah (25 watt). Rata-rata penggunaan
listrik tersebut setiap hari adalah 6 jam. Cara penghitungannya
adalah sebagai berikut:
a. Jumlah watt yang terpasang di rumah tangga tersebut adalah
40 + 25 + 10 + 25 watt = 100 watt.
b. Pemakaian listrik selama sebulan = 6 jam x 30 hari x 100 watt =
18.000 watthours = 18 kWh.
c. Jika penggunan listrik rumah tangga tersebut sama selama bulan
April sampai dengan September, maka rata-rata pengeluaran
listriknya sama dengan pemakaian listrik selama sebulan.
Contoh perhitungan di atas juga berlaku apabila rumah tangga
menggunakan listrik dengan cara ”nyantol” dari tetangga atau
”nyantol” langsung dari kabel PLN.
Penjelasan:
a. Jika rumah tangga menggunakan sumber listrik dari generator
dan hanya dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga

78 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
sendiri, maka banyaknya pengeluaran untuk listriknya tidak
perlu diperkirakan.
b. Jika rumah tangga menggunakan sumber listrik dari generator
yang juga didistribusikan pada rumah tangga lain, maka rumah
tangga tersebut dianggap memiliki usaha listrik non PLN.
Pemakaian listrik dari generator untuk rumah tangga adalah
perkiraan jumlah watt yang dipakai rumah tangga, sedangkan
nilainya diperkirakan menurut harga pasar.
c. Rumah tangga ”nyantol” langsung dari PLN dan tidak pernah
membayar iuran listrik, maka tetap dianggap membayar listrik
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk listrik:
Biasanya setiap bulan rumah tangga Pak Sucipto menggunakan
voucher listrik seharga Rp100.000,-. Tetapi pada bulan Juni, rumah
tangga Pak Sucipto menggunakan voucher listrik tambahan
seharga Rp20.000,- karena penggunaan listriknya lebih besar dari
pada bulan-bulan biasanya.
Rata-rata pengeluaran untuk listrik selama bulan April sampai
dengan September:
= [Pengeluaran listrik bulan April s.d. September + Pengeluaran
listrik tambahan di bulan Juli] : 6 bulan
= [(Rp100.000,- x 6 bulan) + Rp20.000,-] : 6 bulan = Rp103.333,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(2) LPG/Gas Elpiji


Konsumsi Liquified Petroleum Gas (LPG)/gas elpiji rumah tangga
dihitung dengan pendekatan consumption approach, yaitu yang
benar-benar dikonsumsi oleh rumah tangga dan bukan berdasarkan
jumlah tabung gas yang telah dibuka. Ukuran satu tabung gas
standar Pertamina yang berwarna hijau adalah 3 kg, sedangkan yang
berwarna biru adalah 12 kg.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 79
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk LPG/gas elpiji:
Setiap bulan, biasanya rumah tangga Pak Sucipto menghabiskan 3
setengah tabung LPG kemasan 3 kg untuk keperluan rumah tangga.
Tetapi khusus pada bulan April, rumah tangga Pak Sucipto
menghabiskan 4 tabung gas. Harga tiap tabung gas adalah Rp20.000,-.
Rata-rata pengeluaran untuk LPG/gas elpiji selama bulan April
sampai dengan September:
= [Harga per tabung gas x banyaknya konsumsi LPG bulan April
s.d. September] : 6
= {Rp20.000,- x [4 tabung+ (3,5 tabung x 5)]} : 6
= (Rp20.000,- x 21,5 tabung) : 6 = Rp71.667,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(3) Pulsa HP, Biaya Internet, dan Warnet


Pulsa HP yang dimaksud adalah rata-rata pengeluaran pulsa dari
seluruh nomor HP yang aktif untuk masing-masing anggota rumah
tangga, meliputi pengeluaran pulsa prabayar maupun pascabayar
selama bulan April sampai dengan bulan September.
Untuk penggunaan internet gratis, tidak perlu diimputasi.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk pulsa HP, biaya internet,
dan warnet:
Setiap bulan pengeluaran rumah tangga Pak Sucipto membeli pulsa
HP dan biaya internet adalah tetap/sama. Pak Sucipto membeli
pulsa sebesar Rp100.000,-. Sebesar Rp50.000,- digunakan untuk
mengaktifkan paket internet di telepon selulernya. Sementara itu, Bu
Maryati, dan Sekar masing-masing membeli pulsa Rp50.000,- dan
Rp75.000,- untuk penggunaan selama sebulan. Bu Maryati
menggunakan pulsanya hanya untuk telepon. Sekar menggunakan
pulsa tersebut untuk telepon sekaligus untuk internet.
Karena pengeluaran pulsa dan biaya internet rumah tangga Pak
Sucipto setiap bulannya tetap, maka penghitungannya dapat
disederhanakan untuk satu bulan saja. Sehingga rata-rata

80 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
pengeluaran pulsa dan biaya internet bulan April sampai dengan
bulan September sama dengan pengeluaran per bulannya.
Rata-rata pengeluaran untuk pulsa HP dan biaya internet rumah
tangga Pak Sucipto:
a) Pak Sucipto = Rp100.000,-
b) Bu Maryati = Rp50.000,-
c) Sekar = Rp75.000,-+
Rp225.000,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(4) Sabun Mandi, Pasta Gigi, Sikat Gigi, dan Sampo


Pencatatan pengeluaran untuk untuk sabun mandi, pasta gigi, dan
sampo, dilihat dari kemasan yang telah dibuka.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk sabun mandi, pasta gigi,
sikat gigi, dan sampo:
Setiap bulan, rumah tangga Pak Sucipto menggunakan 3 botol
sabun mandi cair seharga Rp19.000,- per botol, satu batang sabun
mandi bayi seharga Rp6.000,- per batang, setengah botol sampo
seharga Rp20.000,- per botol, 3 buah pasta gigi seharga
Rp12.000,- per buah. Selama bulan April sampai dengan
September, pengeluaran sabun mandi, pasta gigi, dan sampo
rumah tangga Pak Sucipto adalah tetap/sama. Pada bulan Juli
rumah tangga Pak Sucipto menggunakan 3 buah sikat gigi baru
seharga Rp15.000,- per buah.
Karena pengeluaran sabun mandi, pasta gigi, dan sampo rumah
tangga Pak Sucipto setiap bulannya tetap, maka penghitungannya
dapat disederhanakan untuk satu bulan saja. Sehingga rata-rata
pengeluaran sabun mandi, pasta gigi, dan sampo bulan April sampai
dengan bulan September sama dengan pengeluaran per bulannya.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 81
Rata-rata pengeluaran sabun mandi, pasta gigi, dan sampo:
a) Sabun mandi cair → Rp19.000,- x 3 = Rp57.000,-
b) Sabun mandi bayi → Rp6.000,- x 1 = Rp6.000,-
c) Sampo → Rp20.000,- x 1 = Rp20.000,-
d) Pasta gigi → Rp12.000,- x 3 = Rp36.000,- +
Rp119.000,-
Rata-rata pengeluaran sikat gigi:
= Pengeluaran sikat gigi : 6 bulan = Rp45.000,- : 6 = Rp7.500,-
Rata-rata pengeluaran untuk sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, dan
sampo selama bulan April sampai dengan September:
= Rata-rata pengeluaran sabun mandi, pasta gigi, dan sampo +
Rata-rata pengeluaran sikat gigi
= Rp119.000,- + Rp7.500,- = Rp126.500,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(5) Sabun Cuci (Batangan, Bubuk, Krim, dan Cair)


Pencatatan pengeluaran untuk untuk sabun cuci, dilihat dari
kemasan yang telah dibuka.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk sabun cuci:
Setiap bulan, rumah tangga Pak Sucipto menggunakan 2
kemasan detergen, seharga Rp14.000,- per kemasannya dan 1
bungkus sabun colek (krim), seharga Rp5000,- per bungkusnya.
Selain itu, rumah tangga Pak Sucipto juga menggunakan 1
bungkus sabun cair pencuci piring, seharga Rp15.000,- per
bungkusnya. Selama bulan April sampai dengan September,
pengeluaran detergen, sabun colek, dan sabun cair pencuci piring
rumah tangga Pak Sucipto adalah tetap/sama.
Karena pengeluaran detergen, sabun colek, dan sabun cair pencuci
piring rumah tangga Pak Sucipto setiap bulannya tetap, maka
penghitungannya dapat disederhanakan untuk satu bulan saja.
Sehingga rata-rata pengeluaran detergen, sabun colek, dan sabun
cair pencuci piring bulan April sampai dengan bulan September
sama dengan pengeluaran per bulannya.

82 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
Rata-rata pengeluaran sabun cuci:
a) Detergen (sabun cuci bubuk) →Rp14.000,- x 2 = Rp28.000,-
b) Sabun colek (sabun cuci krim) →Rp5.000,- x 1 = Rp5.000,-
c) Sabun cair pencuci piring →Rp15.000,- x 1 = Rp15.000,-+
Rp48.000,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

(6) Biaya Transportasi Darat/Udara/Laut (Becak, Ojek, Taksi,


Mikrolet, Minibus, Bus, Kereta Api, Sewa Mobil, Pesawat,
Kapal Feri, Kapal Laut, dll.)
Biaya transportasi untuk anggota rumah tangga yang
mendapatkan fasilitas jemputan bis gratis dari kantor adalah
perkirakan tarif angkutan umum yang paling murah.
Ilustrasi pengisian pengeluaran untuk biaya transportasi:
a. Pak Sucipto pernah satu kali pergi ke luar kota pada awal bulan
September. Transportasi yang digunakannya adalah bus dengan
tarif Rp80.000,- tiap satu kali perjalanan.
b. Selama bulan April sampai dengan September, Tomi masuk ke
sekolah hanya pada bulan September, yakni sekitar 10 hari.
Transportasi yang digunakannya dari dan menuju sekolah
adalah ojek. Tarifnya Rp10.000,- tiap satu kali perjalanan.
Penghitungannya:
a) Pak Sucipto → Rp80.000,- x 2 = Rp160.000,-
b) Tomi →Rp10.000,-x10 hari x 2 = Rp200.000,-+
Rp360.000,-
Rata-rata pengeluaran untuk biaya transportasi:
= Rp360.000,- : 6 = Rp60.000,-
Contoh pengisian terdapat di subbagian I.

G. Blok XII. Catatan


Blok ini digunakan untuk mencatat hal-hal yang perlu untuk
disampaikan terkait pencacahan VSEN20.MH. Setelah wawancara selesai,
catat waktu selesainya wawancara dalam jam dan menit.

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 83
H. Petunjuk dan Tata Cara Pengisian Blok Pengeluaran Susenas
September 2020
Dalam pengisian Blok Pengeluaran Susenas September 2020, perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1) Tuliskan nama dan nomor urut pemberi informasi;
MARYATI 0 2
(2) Tuliskan nilai rupiah dengan format rata kanan;
9 0 0 0
(3) Kode pilihan jawaban dengan menggunakan angka seperti 1, 2, 3,
dst. Hanya boleh dilingkari salah satu. Setelah melingkari jawaban,
pindahkan kode jawaban tersebut ke tempat yang disediakan;

O 4

(4) Dalam berwawancara, petugas harus memperhatikan jumlah


anggota rumah tangga. Lihat jumlah baris terisi pada Blok IV
Keterangan Anggota Rumah Tangga. Hal tersebut dapat dijadikan
salah satu pertimbangan kewajaran besarnya pengeluaran;
(5) Catatkan hal-hal yang perlu untuk disampaikan terkait pencacahan
VSEN20.MH pada Blok XII Catatan;
(6) Setelah wawancara selesai, catat waktu selesainya wawancara
dalam jam dan menit.

84 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
I. Contoh Pengisian Blok Pengeluaran Susenas September 2020

MARYATI 0 2

3 0 0 0 0 0 0

4 0 0 0 0 0 0

O 3

5
O

O 3

MARYATI 0 2

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 85
I 0 0 0 0 0
I 8 5 0 0 0
I 6 0 0 0 0
I 6 0 0 0
I 5 0 0 0
I 6 5 0 0
I 4 0 0 0
9 0 0 0
5 0 0 0
I 7 0 0 0

MARYATI 0 2

I 0 3 3 3 3
7 I 6 6 7
2 2 5 0 0 0
I 2 6 5 0 0
4 8 0 0 0
6 0 0 0 0

86 | Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020
I I 3 0

Konsep dan Definisi Susenas Modul Ketahanan Sosial SUSENAS September 2020 | 87
Sensus
Penduduk
2020
# MencatatIndonesia

D ATA


BADAN PUSAT STATISTIK


Jl. dr. Sutomo No.6-8 Jakarta 10710
Telp: (021)3841195, 38442508, 3810291-4, Fax: (021) 3857946
Homepage: http//www.bps.go.id Email: bpshq@bps.go.id