Anda di halaman 1dari 8

Puisi Dorothy Law Nolte

Children Learn What They Live


Unggulnya:

 Salah satu bukti dari fenomenalnya puisi ini adalah bahwa setidaknya sampai
tahun 1998, puisi ini telah diterjemahkan dalam 35 bahasa dan jumlahnya
barangkali terus bertambah.
 Puisi pendidikan anak ini mampu merangkum segi-segi yang perlu
diperhatikan dalam pendidikan anak (usia dini) dengan ungkapan sehari-hari
yang sangat familiar, sederhana, padat, namun sangat menuntut kerja keras
bila akan dipraktikkan.
 Puisi pendidikan yang sudah menjadi karya klasik ini sebenarnya ditulis pada
tahun 1954 untuk koran Torrance Herald di Southern California, di mana
Dorothy sendiri adalah salah satu kolumnisnya. Setelah dimuat di surat kabar
itu, puisi ini menjadi sangat terkenal dan dapat ditemukan di mana-mana
Info sosok

 Sang Maestro puisi pendidikan


 Dorothy Law Nolte, Ph.D., penulis puisi pendidikan ini, adalah seorang
pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise.
Dalam kebudayaan Barat pada umumnya, bila seorang perempuan menikah
maka ia akan menggunakan nama belakang dari nama keluarga sang suami.
 Dorothy, Law adalah nama keluarga dari suami pertamanya, Durwood Law.
Sementara itu, Nolte adalah nama keluarga dari suami kedua, Claude Nolte.
Untuk ukuran Amerika, memakai nama keluarga milik suami pertama dan
kedua sekaligus seperti ini sebenarnya kurang lazim. Tapi begitulah mungkin
cara Dorothy mempertahankan kejelasan sejarah hidupnya.
Lanjutan…
 Dalam sejarahnya, puisi ini sempat direvisi dua kali oleh penulisnya. Pertama, pada awal tahun
1980-an, Dorothy mengubah pronomina tunggal menjadi jamak agar netral, karena bahasa
Inggris termasuk bahasa yang berjender (membedakan nomina-pronomina feminin dan
maskulin). Pada awalnya, nomina “anak” dan pronominanya dalam puisi ini berbentuk tunggal:
“If a child lives with ..., he learns ....” Untuk menetralisir isu gender dalam puisi itu, kemudian
digantilah pronomina untuk proposisi dasar puisi itu secara keseluruhan menjadi plural (jamak):
“If children live with ..., they learn ... .” (Catatan: Dalam hal sensitivitas gender ini, bahasa
Indonesia telah jauh lebih maju
Lanjutan..
 Perubahan kedua adalah dengan memecah baris tertentu yang terlalu panjang dan kompleks
menjadi dua baris, serta menambahkan baris baru seiring perkembangan yang membawa situasi-
situasi baru yang perlu direspons. Demikianlah, puisi yang awalnya terdiri dari 14 baris itu kini
menjadi 19 baris.
 Bila kita perhatikan, ada beberapa baris yang hilang pada terjemahan puisi pendidikan anak
tersebut. Sementara puisi aslinya terdiri dari 19 baris, puisi terlampir mencakup 11 baris,
sehingga secara keseluruhan ada selisih 8 baris. Nampaknya, puisi ini sudah “dimodifikasi oleh
orang lain”.
Puisi versi Indonesia
 Anak-anak Belajar dari Kehidupannya
 Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
 Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
 Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
 Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
 Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
 Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
 Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
 Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
 Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
 Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
 Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam
kehidupan.
Bagian yang mendalam..
 “If children live with acceptance and friendship, they learn to find love in the world”. Kalau
kita perhatikan puisi terjemahannya, tepat seperti itulah maksud yang ingin disampaikan baris
“selundupan” dalam puisi ini: “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia
belajar menemukan cinta dalam kehidupan.”
 If children live with fairness, they learn justice.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Luar biasa!!
Akhir kata...

 Itulah puisi pendidikan anak usia dini yang isinya perlu kita renungkan.
Sudahkah kita menghindari sikap-sikap negatif yang akan menghancurkan
karakter anak kita? Sejauh mana kita telah memperlakukan anak-anak kita
secara positif sebagaimana puisi Dorothy Nolte