Anda di halaman 1dari 9

Nama : Ni Luh Eva Pradnyaningsih

No : 22
Kelas : XII MIPA 4

1. Jelaskanlah majas yang terdapat pada novel Ronggeng Dukuh Paruk serta kutip kalimat yang
dimaksud ?
Jawab :
Dalam penggunaan bahasa, novel ini juga menggunakan beberapa majas, yaitu:
a. Majas Personifikasi
Personifiksi adalah majas kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang
yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan.
1. Dukuh Paruk masih diam membisu meskipun beberapa jenis satwanya sudah terjaga. Tohari
melukiskan proses datangnya pagi hari menjelang cahaya matahari terbit dari timur di Dukuh
Paruk. Dukuh Paruk dilukiskan pada suasana pagi yang masih sepi dan belum ada aktifitas
manusia.
2. Tetes-tetes embun jatuh menimbulkan suara desahan desahan musik yang serempak. Suasana
pagi tampak di segala pepohonan terdapat embun yang secara bergantian menetes, dengan
demikian menimbulkan suara-suara bagai musik yang serempak. Tohari menggambarkan
kehidupan Dukuh Paruk yang masih alami sama sekali belum tersetuh teknologi modern, setiap
pagi hanya dihiasi, dihibur oleh suara musik dari tetes-tetes embun yang berjatuhan dari atas
pohon.
3. Dalam kerimbunan daun-daunnya sedang dipagelarkan merdunya hamoni alam yang
melantumkan kesyahduan. Tohari menggambarkan sebuah pohon dengan daunnya yang
tampak subur, rimbun, segar sehingga terlihat indah dan asri serta selaras dengan alam.
4. Dukuh Paruk kembali menjatuhkan pundak-pundak yang berat, kembali bersimbah air mata.
Di kutipan diatas kita mengeta hui bahwa Dukuh Paruk hanyalah sebuah desa yang tidak bisa
menjatuhkan sebuah punggung.
b. Majas Simile
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada novel yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”
ditemukan penggunaan gaya bahasa perbandingan’simile. Kalimat yang menggunakan gaya
bahasa simile, yaitu:
1. Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia
terbang bagai batu lepas dari ketapel sambil menjerit-jerit sejadinya.
2. Biji dadap yang telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai balıng- baling.
Bila angin berembus tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan
pohon dadap.
3. Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet.
4. Ibarat meniti sebuah titian panjang berbahaya, aku hanya bisa menceritakannya kembali,
mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang.
5. Emak sudah mati, ketika hidup ia secantik Srintil, tampilan emak bagai citra perempuan sejati.
6. Dengar, pak. Serintil masih segar seperti kecambah. “sambung Nyai Kartareja sambil
menyentuh dada marsusi dengan lembut.
7. Arif seperti sepasang perkutut itu adalah Wirsiter dan Ciplak, istrinya.
8. Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil.
9. Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau.
10. Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun.
11. Dia menari seperti mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang sepeti burung
beranjangan, berdıri di atas satu titık meski sayap dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti
bangau yang melayang meniti arus angin.
12. Megap-megap, mulutnya terbuka sepeti ikan mujair.
13. Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang lelap.
14. Kadang suara Srintil penuh semangat, garakannya cekatan, seperti seorang ibu yang sedang
mengajari anaknya berjalan.
15. Padahal sejak semula Rasus mengerti pekerjaan semacam itu ibarat mendongkel sejarah
dengan sebatang lidi.
16. Bila ternyata dirinya masih mewujud, pikir Srintil, itu karena aib adalah salah satu faset
kehidupan dan dia harus mewujud disana. Seperti tinja yang harus ada di dalam usus manusia.
17. Dukuh Paruk merambat perlahan seperti akar ilalang menyusuri cadas.
18. Dan bila ditiup menentang arus angin, suara puput jadi muncul tenggelam seperti bulan hilang
tampak di balik awan.
19. Srintil bingung seperti munyuk dirubung orang.
20. Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di atas jalan pegunungan itu bergerak seperti mata
gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya.
21. Dari jauh udara di permukaan tanah kelihatan berbinar seperti riak-riak panas pada telag yang
mendidih.
22. Malam hari berlatar langit kemarau, langit seperti akan menelan segalanya kecuali apa-apa
yang bercahaya.

c. Majas Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung tetapi dalam
bentuk yang singkat.
1. Di pelataran yang membantu di bawah pohon nangka ketika angin tenggara bertiup dingin
menyapu harum bunga kopi yang selalu mekar di musim kemarau.
Maknanya:
Melukiskan keadaan dukuh paruk yang masih asri, ketika malam hari pada musim kemarau
angin terasa dingin.
2. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-
kanak adalah surga yang hanya sekali datang.
Maknanya:
Melukiskan keindahan dunia anak-anak di dukuh kecil yang serba gembira, bebas bermain dan
belum memiliki tanggung jawab. Dunia anak-anak merupakan fase kehidupan yang indah dan
tidak mungkin terulang kembali pada kehidupan seseorang.
3. Wirsiter bersama istrinya pergi ke sana kemari menjajakan musik yang memanjakan rasa, yang
sendu, dan yang melankolik. Musiknya tidak membuat orang bangkit berjoget, melainkan
membuat pendengarnya mengangguk angguk menatap ke dalam diri atau terbang mengapung
bersama khayalan sentimental.
Maknanya:
Musik tradisional siter yang kini sudah langka dalam masyarakat, yang dimainkan oleh
sepasang suami istri, Wirsiter dan Ciplak. Tohari menempatkan musik yang memanjakan rasa,
membuat pendengarnya masuk ke alam khayalan sentimental. Di sinilah Tohari membuat
pesan tersirat bahwa musik siter adalah budaya kuno yang harus dilestarikan jangan sampai
dilupakan.
d. Majas Metonimia
Majas metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan
orang, barang atau hal sebagai penggantinya, kita dapat menyebut pencipta atau pembuatnya
jika yang kita maksudkan ciptaan atau buatannya ataupun kita menyebut bahannya jika yang
kita maksudkan barangnya.
1. Di sana di dalam kurung klambu yang tampak dari tempatku berdiri, akan terjadi pemusnahan
mustika yang selama ini amat kuhargai.
Kata “mustika” pada kutipan di atas artinya sebuah keperawanan seorang gadis.
2. Pelita kecil dalam kamar itu melengkapi citra punahnya kemanusiaan pada diri bekas mahkota
Dukuh Paruk itu.
Kata “Citra” pada kutipan di atas adalah gambaran kepribadian dari seorang onggeng yaitu
tokoh srintil, citra tersebut telah hilang karena suatu deraan, cobaan hingga muncullah
kegoncangan jiwa pada srintil yang semula mendapat sebutan scorang mahkota Dukuh Paruk.
e. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas yang mengungkapkan sesuatu pernyataan yang berlebihan
dengan membesar besarkan suatu hal.
1. Ini cukup untuk kukatakan bahwa yang terjadi pada dirinya seribu kali lebih hebat daripada
kematian karena kematian itu sendiri adalah anak kandung kehidupan manusia.
2. Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun.
3. Aku dapat melihat mutiara-mutiara jiwa dalam lubuk yang paling pingit.
4. Kedua unggas kecil itu telah melayang berates-ratus bahkan beribu-ribu kilometer mencari
genangan air.
5. Dalam pemukiman yang sempit, hitam, gelap, gulita, pekat, terpencil itu lengang sekali, amat
sangat lengang.
6. Aku membiarkan Dukuh Paruk tetap cabul, kere, bodoh, dungu dan sumpah serapah.
7. Srintil meratap, meronta, menangıs, melolong lolong di kamamya yang persis bui.
8. Langit dan matahari menyaksikan luka pada lutut dan mata kaki yang bertambah parah serta
darahnya mengalir lebih banyak, menetes netes menggenangi batu batu.
f. Majas Sinekdoke
Majas sinekdoke adalah majas yang mempergunakan sebagian dari suatu hal yang menyatakan
keseluruhan (pars prototo) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian
(totem pro parte).
1. Celoteh di sudut pasar itu berhenti karena kehabisan bahan.
Penggambaran majas sinekdoke terdapat pada kata “di sudut pasar” padahal yang dimaksudkan
tidak hanya sudut pasar tetapi seluruh wilayah pasar, ungkapan ini termasuk majas sinekdoke
totem pro parte.
2. Sampean hanya memikirkan diri sendıri dan tidak mau mengerti urusan perut orang.
Majas sinekdoke pada kutipan tersebut terdapat pada kata “perut orang” yang maksud
sebenarnya adalah seluruh jiwa raga manusia.
3. Dua ekor anak kambing melompat lompat dalam gerakan amat lucu.
Majas sinekdoke pada kutipan tersebut terdapat pada kata “dua ekor anak kambing” padahal
yang sebenarnya adalah seluruh jiwa raga kambing bukan hanya ekornya.
g. Majas pertentangan (litotes)
Litotes adalah majas yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.
Sesuatu hal kurang dari keadaan sebenamya atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal
lawan katanya.
1. Aku sadar betul diriku terlalu kecil bagi alam.
Majas litotes terdapat pada kata diriku terlalu kecil.
2. Aku terkejut menyadari semua orang di tanah airku yang kecil ini memenuhi segala
keinginanku.
Majas litotes muncul dalam kata tanah airku yang kecil ini.
3. Kita ini memang buruk rupa tapi punya suami dan anak anak.
Majas litotes pada kutipan tersebut terdapat pada kata buruk rupa.
h. Majas Penegasan (repetisi)
Repetisi adalah majas yang mengandung pengulangan berkali-kali kata atau kelompok kata
yang sama.
1. Mereka hanya ingin melihat Srintil kembali menari, menari dan menari.
Pada data kutipan di atas majas repetisi ditemukan pada kata kembali menari, menari dan
menari.
Srintil sedang berada dalam haribaan Dukuh Paruk yang tengah tidur lelap selelap lelapnya,
merenung dan terus merenung.
Pada kutipan di atas majas repetisi terlihat pada kata tidur lelap selelap lelapnya, merenung dan
terus merenung.
2. Yang kelihatan adalah perempuan perempuan pekerja, perempuan perempuan bergiwang serta
perempuan perempuan berkaleng besar.
Pada kutipan di atas repetisi tergambar pada kata perempuan perempuan pekerja, perempuan
perempuan bergiwang serta perempuan perempuan berkalung besar tersebut dimaksudkan
untuk penegasan gagasan tertentu. Dengan gaya bahasa repetisi terciptalah makna yang lebih
lugas dan intens.
i. Majas Sindiran (sarkasme)
Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan
yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk majas
sarkasme ditemukan pada kutipan di bawah ini,
1. Dower merasa berat dan mengutuk Kartareja dengan sengit”Si tua bangka ini sungguh-sungguh
tengik !”
Majas sarkasme pada kutipan tersebut ada pada kata “si tua bangka sungguh tengik’.
2. “Kertareja memang bajingan. Bajul buntung,” jawabku, mengumpat dukun ronggeng itu.
Majas sarkasme pada kutipan tersebut ada pada kata “bajingan. Bajul buntung”.
3. Kalian mau mampus mampuslah tapi jangan katakan tempeku mengandung racun.
Majas sarkasme pada kutipan tersebut ada pada kata “mampus mampuslah”.

2. Jelaskanlah citraan yang terdapat pada Ronggeng Dukuh Paruk sertakan pula kutipan kalimat
yang dimaksud?
Jawab :
Aspek Citraan dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari Citra
merupakan sebuah gambaran pengalaman indra yang diungkapkan lewat kata-kata,
gambaran berbagai pengalaman sensoris yang dibangkitkan oleh kata-kata. Analisis citraan
dimulai dengan mengidentifikasi data-data berupa kutipan yang melukiskan penggunaan
citraan, kemudian mengkategorikannya ke dalam jenis-jenis citraan, baru dideskripsikan
dengan argumentasi kritis pencitraan yang mengiringinya. Selain itu, juga dikaji latar belakang
pemanfaatan aneka ragam citraan dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, fungsi dan
alasan dipergunakannya citraan itu dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.
Berikut ini akan dianalisis aspek citraan dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang
meliputi tujuh jenis citraan.
a. Citraan Penglihatan (Visual Imagery)
Citraan yang timbul oleh penglihatan disebut citraan penglihatan. Pelukisan karakter
tokoh, misalnya keramahan, kemarahan, kegembiraan dan fisik (kecantikan, keseksian,
keluwesan, keterampilan, kejantanan, kekuatan, ketegapan), sering dikemukakan
pengarang melalui citraan penglihatan ini. Citraan penglihatan merupakan citraan yang
paling produktif dipergunakan Ahmad Tohari dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh
Paruk dibandingkan dengan citraan yang lain. Citraan penglihatan memberi rangsangan
kepada indra penglihatan hingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.
Dalam karya sastra, selain pelukisan karakter menyangkut aspek fisiologis, psikologis,
dan sosiologis tokoh cerita, citraan penglihatan ini juga sangat produktif dipakai oleh
pengarang untuk melukiskan keadaan, tempat, pemandangan, atau bangunan. Citraan
penglihatan itu mengusik indra penglihatan pembaca sehingga akan membangkitkan
imajinasinya untuk memahami karya sastra. Perasaan estetis akan lebih mudah
terangsang melalui citraan penglihatan itu. Dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
ditemukan penggunaan citraan penglihatan yang secara produktif dan optimal
dimanfaatkan untuk melukiskan karakter tokoh, keadaan, suasana, dan tempat secara
plastis dan indah. Citraan penglihatan dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dapat
diketahui melalui penelusuran ceritanya. Penggunaan citraan penglihatan pada novel
trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dapat diamati pada penyajian data berikut
1) Tengah malam Februari 1966 di sebuah kota kecil di sudut tenggara Jawa
Tengah. Kegelapan yang mencekam telah berlangsung setengah tahun
lamanya. Tak ada orang keluar setelah matahari terbenam kecuali para
petugas keamanan: tentara, polisi, dan para militer. Tembakan bedil masih
terdengar satu-dua di kejauhan. Dan kadang cakrawala malam bernoda
merah, ada rumah yang dibakar. Ada deru truk berhenti disusul suara
langkah sepatu yang berat, lalu berangkat lagi.
Penggunaan citraan penglihatan dalam data tersebut dapat menuntun pembaca seolah
hadir dalam situasi yang terdapat dalam cerita. Ahmad Tohari melukiskan keadaan
suatu malam dengan lugas dan jelas. Munculnya kalimat “kegelapan yang mencekam
telah berlangsung setengah tahun lamanya. Tak ada orang keluar setelah matahari
terbenam kecuali para petugas keamanan: tentara, polisi, dan para militer”, dan kalimat
“dan kadang cakrawala malam bernoda merah, ada rumah yang dibakar” membawa
pembaca menjadi terlibat dalam situasi. Pembaca dengan ungkapan-ungkapan itu
seolah memposisikan diri sebagai salah satu tokoh atau pihak yang terlibat dalam
peristiwa. Dirinya dapat menyaksikan situasi malam yang sepi dan gelap hanya terlihat
penjaga keamanan yang menjalankan tugasnya.
b. Citraan Pendengaran (Auditory Imagery)
Citraan pendengaran adalah citraan yang ditimbulkan oleh pendengaran. Pelukisan
keadaan dengan citraan pendengaran akan mudah merangsang imaji pembaca yang
kaya dalam pencapaian efek estetik. Citraan pendengaran menuntun pembaca seolah-
olah mendengar suara atau peristiwa yang dilukiskan oleh pengarang dalam bentuk
tulisan dalam karya sastra. Ahmad Tohari menggunakan citraan pendengaran untuk
menggambarkan latar suara yang didengar oleh para tokoh dalam cerita dan macam
bunyi yang muncul dalam suatu lingkungan atau tempat peristiwa itu terjadi. Analisis
citraan pendengaran yang terdapat dalan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sebagai
berikut.
2) Bau kematian telah tercium oleh burung-burung gagak. Unggas buruk yang
serba hitam itu terbang berputar-putar di antara pepohonan di Dukuh Paruk.
Suaranya yang serak hanya mendatangkan benci. Tetapi hari itu
burungburung gagak bersukaria di Dukuh Paruk. Mereka berteriak-
teriak dari siang sampai malam tiba.
Suasana Dukuh Paruk dilukiskan Ahmad Tohari melalui citraan pendengaran pada data
(2). Melalui citraan pendengaran pada data tersebut pembaca dapat memaknai situasi
yang terjadi. Burung gagak bagi masyarakat Jawa memiliki arti berita kesialan atau
duka kematian. Burung gagak yang berteriak-teriak dari siang sampai malam
menjadikan galau masyarakat di Dukuh Paruk. Pelukisan suasana dengan citraan
pendengaran tersebut dilukiskan dengan jelas karena munculnya citraan penglihatan
pada kalimat awal.
c. Citraan Perabaan (Tactile/Thermal Imagery)
Citraan perabaan merupakan manivestasi dari indra peraba, citra ini hadir karena
adanya perabaan. Citra perabaan dalam karya sastra terutama novel dihadirkan melalui
para tokoh dan situasi atau hal lain yang ada didalamnya. Citra perabaan akan
menimbulkan nilai estetis suatu karya sastra. Pembaca karya sastra pun akan
berimajinasi seolah merasakan efek dari indra peraba, misalnya apakah halus, ataupun
kasar. Penggunaan citraan rabaan dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya
Ahmad Tohari juga menimbulkan imajinasi bagi pembaca, menggungah pikiran dan
emosi, bahkan seolah pembaca ikut merasakan sesuatu yang dialami oleh tokoh dalam
cerita. Hal ini dapat dilihat pada sajian data berikut.
3) Setelah menghabiskan sepiring nasi gaplek mereka lebih senang bergulung
dalam kain sarung, tidur di atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun
besok pagi bila sinar matahari menerobos celah dinding dan menyengat
kulit mereka.
Citraan rabaan pada data tersebut digunakan oleh Ahmad Tohari untuk
menggambarkan suasana di Dukuh Paruk. Warga Dukuh Paruk selalu bangun di pagi
hari ketika matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Citraan rabaan tersebut
dimunculkan dengan kehadiran “menyengat kulit mereka”. Pembaca dapat
berimajinasi tentang hangatnya matahari pagi yang menyentuh kulit dan
membangunkan seseorang yang sedang tidur. Data tersebut juga menunjukkan kondisi
rumah tempat tinggal warga Dukuh Paruk yang masih perkampungan. Rumah mereka
masih terbuat dari dinding kayu atau anyaman bambu sehingga cahaya matahari
mampu menerobos celah dinding tersebut.
d. Citraan Penciuman (Smeel Imagery)
Pelukisan imajinasi yang diperoleh melalui pengalaman indra penciuman disebut
citraan penciuman. Ahmad Tohari menggunakan citraan penciuman di dalam menulis
novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Penggunaan citraan penciuman berfungsi
memudahkan imajinasi pembaca, menggugah pikiran dan perasaan, dan menghadirkan
suasana yang lebih konkret dalam cerita bagi pembaca. Penggunaan citraan penciuman
di dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dapat dilihat pada sajian beberapa data
berikut.
4) Keluhan Sakarya tak terjawab. Dan gerimis jatuh menjelang matahari
terbenam. Udara lembap membawa bau tanah bekas yang terbakar.
Kehadiran frasa “bau tanah bekas yang terbakar” menunjukkan adanya citraan
penciuman pada data (4). Ahmad Tohari melukiskan suasana sore hari di Dukuh Paruk
setelah peristiwa pembakaran rumah di dukuh itu dengan citra penciuman. Bau yang
khas dari rumah yang terbakar yang menguap akibat guyuran hujan.
Citraan penciuman pada data (4) menggugah daya imajinasi pembaca untuk dapat
membayangkan dan ikut merasakan bagaimana bau atau aroma dari tanah yang penuh
dengan abu rumah terbakar. Citraan ini menjadikan karya sastra tidak hanya sekedar
dimengerti dan dibaca, akan tetapi pembaca dapat pula meresapi dan ikut terlibat dalam
cerita. Adanya konstituen yang dilesapkan pada kalimat “udara lembap membawa bau
tanah bekas yang terbakar” yakni “udara lembap membawa bau tanah bekas (rumah)
yang terbakar” membawa pembaca pada pemaknaan dan pemikiran untuk
mengingatkan kembali. Pembaca dituntut untuk berpikir unsur apa yang terbakar. Oleh
karena itu kalimat ini akan menggugah daya pikir pembaca sehingga tetap fokus pada
cerita yang disajikan.
e. Citraan Gerak (Movement Kinesthetic Imagery)
Citraan gerak sebagai salah satu aspek citraan dalam karya sastra digunakan oleh
Ahmad Tohari untuk menuangkan gagasannya dalam karya sastra yakni dalam novel
trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Menurut Pradopo (2009: 87) citraan gerak (movement
imagery atau kinaesthetic imagery) adalah citraan yang menggambarkan sesuatu yang
sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak, ataupun
gambaran gerak pada umumnya. Citraan gerak ini membuat hidup dan gambaran jadi
dinamis. Citraan gerak dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk cukup intens
digunakan oleh Ahmad Tohari dibanding citraan yang lain. Citraan gerak juga mudah
dipahami dan merangsang imajinasi pembaca, karena pembaca memiliki respon untuk
mengapresiasi tiap teks yang disajikan. Citraan gerak yang terdapat dalam novel trilogi
Ronggeng Dukuh Paruk dapat diamati pada beberapa data berikut.
5) Angin tenggara bertiup Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit
itu bergoyang. Daun kuning serta ranting kering jatuh. Gemerisik rumpun
bambu. Berderit baling-baling bambu yang dipasang anak gembala di tepian
Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur
naik. Kicau beranjangan mendaulat kelengangan langit di atas Dukuh Paruk.
Citraan gerak pada data (5) digunakan untuk mengilustrasikan suasana yang ada dalam
cerita. Suasana Dukuh Paruk yang masih asri dengan nuansa khas perkampungan
disajikan dengan citraan pendengaran. Citraan gerak pada data (5) juga memiliki makna
untuk memberikan makna musim yang sedang terjadi. “Angin tenggara yang bertiup
kering” memberikan makna bahwa waktu dalam cerita tersebut terjadi saat musim
kemarau. Pada musim kemarau di pulau Jawa angin bertiup dari tenggara dan
kelembaban udara sangat rendah atau kering. Citraan gerak menimbulkan imajinasi
pembaca terhadap apa yang sedang terjadi akan peristiwa dalam cerita. “Layang-layang
yang terbuat dari daun gadung meluncur naik” menuntut pembaca untuk memberikan
pemaknaan terhadap cerita yang dibaca. Citraan gerak tersebut muncul karena adanya
pergerakan layang-layang yang dimainkan oleh anak-anak di Dukuh Paruk. Hal ini
kembali pula menguatkan musim atau keadaan yang ada dalam cerita, yakni musim
kemarau. Bermain layang-layang merupakan kebiasaan warga yang dilakukan pada
musim kemarau.
f. Citraan Pencecapan (Taste Imagery)
Citraan ini adalah pelukisan imajinasi yang ditimbulkan oleh pengalaman indra
pencecapan dalam hal ini lidah. Jenis citraan pencecapan dalam karya sastra
dipergunakan untuk menghidupkan imajinasi pembaca dalam hal-hal yang berkaitan
dengan rasa di lidah atau membangkitkan selera makan. Dengan citraan ini pembaca
akan lebih mudah membayangkan bagaimana rasa sesuatu, makanan atau minuman
misalnya yang diperoleh melalui lidah. Penggunaan citraan pencecapan dalam novel
trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sebagai berikut.
6) Bibirnya, pipinya, merah oleh panas kuah serta pedasnya sambal cabai.
Citra hidupnya seakan menggeliat bangkit.
Pada data (6) Ahmad Tohari mulai menggunakan citraan pencecapan untuk
menyampaikan ceritanya melalui novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Penggunaan
majas metafora pada kalimat “bibirnya, pipinya, merah oleh panas kuah pedasnya
sambal cabai” semakin memperjelas citraan pencecapan. Akibat dari kuah yang pedas
setelah memakan sambal cabai membuat kesan bahwa rasa yang dihasilkan semakin
membuat Srintil menjadi bersemangat lagi dalam aura kesegarannya. Setelah
sebelumnya Srintil lesu dan lemas, namun setelah memakan panasnya kuah semuanya
menjadi segar kembali auranya.
Pemakaian asonansi, aliterasi, eufoni, dan kakafoni. Asonansi /a/, melekat pada data
“bibirnya, pipinya, merah oleh panas kuah pedasnya sambal cabai”. Aliterasi /b/, /n/
juga melekat pada data “bibirnya, pipinya, merah oleh panas kuah pedasnya sambal
cabai”. Sedangkan kakafoni /p/, /k/, /s/, juga melekat pada data “bibirnya, pipinya,
merah oleh panas kuah pedasnya sambal cabai”.
g. Citraan Intelektual (Intelectual Imagery)
Citraan yang dihasilkan melalui asosiasi-asosiasi intelektual disebut citraan intelektual.
Guna menghidupkan imajinasi pembaca, pengarang memanfaatkan citraan intelektual.
Dengan jenis citraan ini pengarang dapat membangkitkan imajinasi pembaca melalui
asosiasi-asosiasi logika dan pemikiran. Membaca citraan intelektual, maka
intelektualitas pembaca menjadi terangsang sehingga timbul asosiasi-asosiasi
pemikiran dalam dirinya. Berbagai pengalaman intelektual yang pernah dirasakannya
dapat dihidupkan kembali dengan citraan intelektual. Jenis citraan ini termasuk sering
digunakan dalam karya sastra guna merangsang intelektualitas pembaca. Ahmad
Tohari memanfaatkan citraan intelektual dalam menuliskan cerita dalam novel trilogi
Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari memberikan pemahaman dan pengetahuan
intelektual kepada pembaca melalui para tokoh maupun penjelasan-penjelasan yang
ada dalam cerita. Citraan intelektual dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
sebagai penyampaian pesan, pelurusan kebenaran, maupun penyampaian pengetahuan
‘baru’ bagi pembaca. Citraan intelektual yang terdapat dalam novel trilogi Ronggeng
Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dapat dilihat pada penyajian data-data berikut.
7) Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala
itu merasakan hambarnya Dukuh Paruk karena tidak terlahirnya seorang
ronggeng di sana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk.
Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,”
kata Sakarya kepada dirinya sendiri. Sakarya percaya, arwah Ki
Secamenggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada ronggeng
di Dukuh Paruk.
Tanggung jawab seorang pemangku keturunan sesepuh sebuah pedukuhan dapat kita
lihat pada data (7). Melalui kutipan teks tersebut pembaca diberikan pengetahuan
bahwa kelestarian tradisi menjadi tanggung jawab pemangku keturunan. Ronggeng
yang merupakan simbol kebudayaan masyarakat harus dijaga kelestariannya. Oleh
karena itu dengan tidak adanya ronggeng, Dukuh Paruk terasa hampa. Citraan
intelektual yang terdapat pada data (7) dapat menggugah kembali pembaca akan
kesenian lengger yang hidup di masyarakat Jawa. Pembaca juga dituntut untuk
menggugah ingatan intelektualnya tentang citra ronggeng yang tidak hanya berprofesi
sebagai seorang penari, akan tetapi dirinya juga siap melayani nafsu birahi kaum lelaki
meski tanpa didasari rasa cinta kasih. Kepercayaan terhadap roh leluhur dimunculkan
pula pada data (7) melalui aspek citraan intelektual. “Sakarya percaya, arwah Ki
Secamenggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada ronggeng di Dukuh
Paruk” secara jelas kalimat tersebut dapat dipahami oleh pembaca bahwa sebagian
masyarakat Jawa memang masih mempercayai animisme dan dinamisme.

Anda mungkin juga menyukai