Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PERENCANAAN INSTALASI LISTRIK

Dosen Pengampu : Drs. Nelson Sinaga, M.Pd

Disusun Oleh:

Alvyn Zuhri (5173331004)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan nikmat dan karunia-nya kepada
kami sehingga tugas makalah ini bisa terselesaikan dengan baik. Dalam pembuatan makalah ini,
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing Bapak Drs. Nelson Sinaga,
M.Pd yang telah membimbing pada mata kuliah Perencanaan Instalasi Listrik dan memberi
petunjuk dengan selesainya tugas makalah ini.
Harapan kami dalam penyelesaian makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Dalam
makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangan. Untuk itu kami mohon maaf atas
kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, masukan dan kritikan atas kekurangan
makalah ini sangat kami harapkan dari pembaca supaya dapat membuat makalah ini menjadi
lebih baik dan menarik.

Medan, 12 Oktober 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................................................1
C. Tujuan .........................................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................2
BAB III
PENUTUP........................................................................................................................12
A.
Kesimpulan...............................................................................................................................12
B. Saran..........................................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................13

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Instalasi listrik bertujuan untuk agar instalasi listrik terselenggara dengan baik, terjaminnya
keselamatan manusia dari bahaya kejut listrik, keamanan instalasi dari kebakaran akibat listrik
beserta perlindungan lingkungan. Hal yang tidak disadari kebanyakan orang-orang bahwa
pemicu terjadinya kebakaran, kebakaran bisa terjadi karena beberapa faktor diantaranya
pelindung kabel yang rentan sehingg mudah terbakar, percikan api, dan oksigen. Hubungan arus
pendek bisa menimbulkan percikan api terhadap isolasi pelindung pada kabel dan masih menjadi
pemicu tingginya akan kebakaran.
Instalasi tenaga listrik adalah pemasangan komponen-komponen peralatan listrik untuk
melayani perubahan energi listrik menjadi tenaga mekanis dan kimia. Instalasi listrik yang lebih
baik adalah instalasi yang aman bagi manusia dan akrab dengan lingkungan sekitarnya.
Perencanaan sistem instalasi listrik pada suatu bangunan haruslah mengacu pada peraturan dan
ketentuan yang berlaku sesuai dengan PUIL 2000 dan Undang-Undang Ketenagalistrikan 2002.
Pada gedung bertingkat biasanya membutuhkan energi listrik yang cukup besar, oleh karena itu
pendistribusian energi listriknya harus diperhitungkan sebaik mungkin agar energi listrik dapat
terpenuhi dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara perencanaan instalasi penerangan pada lapangan olahraga bulu tangkis.
2. Bagaimana sistem pencahayaan yang terpasang di lapangan bulu tangkis.
C. Tujuan
1. Mengetahui Bagaimana perencanaan instalasi penerangan pada lapangan olahraga bulu
tangkis.
2. Memahami dan mengetahui sistem pencahayaan yang terpasang di lapangan bulu tangkis.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kuat Pencahayaan

Kuat pencahayaan atau iluminasi adalah kuantitas cahaya pada level pencahayaan
/permukaan tertentu, atau dengan kata lain iluminasi adalah jumlah cahaya yang jatuh pada
permukaan tertentu. Satuannya adalah lux. Dirumuskan sebagai berikut:

Kuat pencahayaan pada suatu ruangan tergantung pada jenis kegiatan yang dilakukan.
Bagitupula untuk pencahayaan di sebuah gedung olahraga tergantung pada jenis olahraga yang
dimainkan di dalamnya. Standar pencahayaan olahraga baik di dalam (indoor) maupun di luar
ruangan (outdoor) ditetapkan oleh Phillips (1986:172) adalah :

2
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa kuat pencahayaan minimum yang dibutuhkan
untuk lapangang bulu tangkis adalah 200 lux. Kuat pencahayaan yang merata sangat diperlukan
karena dapat mempengaruhi kinerja dan kenyamanan visual. Pencahayaan yang sepenuhnya
merata memang tidak mungkin dalam praktik, tetapi standar yang dapat diterima adalah kuat
pencahayaan minimum serendah-rendahnya 80% dari kuat pencahayaan rata-rata (Pritchard :
1986).

Di dalam buku IES Lighting Handbook (1984) dinyatakan bahwa dinding dan langit-
langit yang terang, baik yang netral maupun berwarna, lebih efisien daripada dinding gelap
dalam menghemat energi dan mendistribusikan cahaya secara merata. Warna terang
memantulkan lebih banyak cahaya daripada warna gelap, sehingga warna ruangan juga
berpengaruh pada kuat pencahayaan. Koefisien pantul dari cahaya ini disebut angka reflektansi.
Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Angka reflektansi ini termasuk dalam faktor yang mempengaruhi kualitas kuat
pencahayaan yaitu CU (coefficient of utilization). Semakin tinggi angka reflektansi, maka
semakin tinggi pula cahaya yang dipantulkan. Rentang nilainya dari 0% sampai 100% dari warna
hitam pekat ke warna putih. Adapun rumus untuk menentukan kuat pencahayaan dengan faktor
CU adalah:

Adanya depresiasi atau penurunan kinerja akibat debu pada armature dan lampu juga
berpengaruh pada kuat pencahayaan, maka persamaan tersebut harus dikalikan dengan suatu
light loss factor (LLF) atau rugi-rugi cahaya akibat berbagai faktor depresiasi, sebagai berikut:

3
B. Metode Penentuan dan Pengukuran Titik-titik Ukur Kuat Pencahayaan dan Angka
Reflektansi
 Cara penentuan titik-titik ukur berdasarkan standar SNI 16- 7062-2004 adalah sebagai
berikut: Untuk luas ruangan antara 10 m2 sampai 100 m2 dibuat titik potong garis
horizontal panjang ruangan dan garis vertikal lebar ruangan pada jarak setiap 3 m.
Pengukuran akan dilakukan pada titik-titik potong tersebut.
 Untuk luas ruangan antara lebih dari 100 m2 dibuat titik potong garis horizontal panjang
ruangan dan garis vertikal lebar ruangan pada jarak setiap 6 m. Pengukuran akan
dilakukan pada titik-titik potong tersebut. Sedangkan untuk mencari besarnya angka
reflektansi digunakan metode sebagai berikut:
 Tentukan material yang hendak diambil nilai angka reflektansinya, kemudian ambil
beberapa titik ukur yang bisa mewakili.
 Pada setiap titik dilakukan dua kali pengukuran, pertama ialah mengukur kuat
pencahayaan sinar datang yang relatif langsung berasal dari sumber cahaya. Kedua ialah
untuk mengukur kuat pencahayaan yang dipantulkan kembali oleh material. Pengukuran
sinar datang dilakukan dengan sensor berupa luxmeter yang diletakkan pada titik ukur
dan dihadapkan ke sumber cahaya. Sedangkan pengukuran sinar pantul dengan sensor
dihadapkan dengan jarak dua inch ke titik ukur material (Stein & Reynolds: 1992).
 Mencari rata-rata besar kuat penerangan sinar langsung dan sinar pantul untuk masing-
masing bidang dan material dengan menggunakan rumus:

Di mana:
Ex adalah kuat penerangan pada titik tertentu dari hasil pengukuran,
N adalah total jumlah pengukuran pada masing-masing objek ukur.
Kuat kuat pencahayaan rata-rata total didapatkan dengan menjumlahkan semua E rata-rata
dibagi dengan jumlah bidang/material pengukuran.

4
 Menentukan angka reflektansi di tiap titik sesuai rumus 2. Angka reflektansi material
ialah angka reflektansi rata-rata semua titik ukur, termasuk perabotan, pintu, jendela,
korden, yang ada di ruangan tersebut. Reflektansi total tiap bagian dinding, lantai dan
langit-langit didapatkan dengan mencari jumlah rata-rata reflektansi tiap material dikali
luasnya dibagi dengan luasan total bidang penjumlahan tersebut. x adalah kuat
penerangan pada masing-masing bidang. Rumus:

c. Pengambilan Data Kuat Pencahayaan di Lapangan Bulu Tangkis Indoor.


Lapangan bulu tangkis indoor ITS yang terletak di dalam gedung olah raga (GOR) ITS
memiliki luas ruangan total 759,25m2 . Terdiri dari 4 unit lapangan bulu tangkis yang masing-
masing memeiliki ukuran standar 6,1m x 13,4m. Ilustrasi dari denah dan ukuran tersebut
ditunjukkan pada gambar 3.

Berdasarkan aturan SNI 16-7062-2004, maka titik ukur untuk kesuluruhan area GOR ITS adalah
sebagai berikut:

5
Untuk seluruh area GOR ada 24 titik pengukuran, ditandai dengan huruf A sampai
dengan X. Pengukuran juga dilakukan pada keempat unit lapangan bulu tangkis. Letak titik
ukurnya diilustrasikan pada gambar 5. Ada 60 titik pengukuran, ditandai dengan angka 1 sampai
dengan 60.

d. Pengambilan Data Angka Reflektansi


Sebelum melakukan pegukuran, material-material yang menyusun dinding, lantai, dan
langit-langit diinventarisir terlebih dahulu. Hasil inventarisir material ditunjukkan pada tabel
2 berikut ini:

6
Cara melakukan pengukuran untuk mencari angka reflektansi diilustrasikan pada gambar 6.

e. DESAIN PENCAHAYAAN
Sebelum melakukan simulasi dengan Calculux, sebelumnya terlebih dahulu dihitung
jumlah lumen yang dibutuhkan untuk ruang GOR. Ini bertujuan untuk menentukan jumlah
lampu yang dibutuhkan. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Menentukan LLF
• Lampu di GOR ITS dalam sehari rata-rata digunakan selama 10 jam. Dalam setahun
rata-rata pemakaiannya adalah 280 hari. Jadi pemakaian dalam setahun = 10 jam x 280 =
2800 jam. Dari gbr 2, maka didapatkan nilai LLD=91,5=0,915%.
• GOR ITS termasuk ruangan dengan tingkat LDD kategori clean atau bersih. Jadi
penurunan LDD adalah sebesar 10% atau nilai LDD = 1-0,1 = 0,9
• GOR ITS termasuk ruangan kategori clean, jadi RSDD yang timbul oleh karena
punurunan kualitas ruangan adalah sebesar 13 – 24%. Jadi nilai RSDD = 0,87. Total nilai
LLFnya adalah: LLF = LLDxLDDxRSDD = 0,915x0,9x0,87 = 0,72

7
b. Menentukan nilai CU
Perhitungan nilai CU di GOR ITS menggunakan rumus (2.7). Data yang diperlukan untuk
menggunakan rumus ini yaitu Erata-rata seluruh area GOR sebesar 101,72 lux, luas ruangan
sebesar 759,25m2 , lumen 96 buah lampu TL-D 36W/54 sebesar 240000 lumen (96x2500
lumen). Jadi perhitungan nilai CU adalah sebagai berikut:

C. Menentukan nilai CU Setelah nilai CU diperoleh, maka selanjutnya mencari lumen yang
diperlukan untuk mencapai kuat penerangan sebesar 200 lux.

Setelah didapatkan jumlah lumen yang diperlukan, selanjutnya menentukan jenis lampu yang
akan digunakan dalam simulasi. Dipilih 2 jenis lampu yang berbeda, yaitu:
1. Philips jenis 2xTL-D 36W/865 dengan lumen output sebesar 3350 lumen/lampu dan
rumah lampu TMS012 MKII/236 GMS012R. Pemilihan lampu dan rumah lampu
berdasarkan kualitas barang, kemudahan mencari barang di pasar dan harga yang sesuai
dengan kualitas (nilai ekonomis). Jumlah lampu TL-D 36W/865 yang dibutuhkan untuk
mendapatkan kuat penerangan sebesar 200 lux adalah:

2. Philips jenis 1xHPI T-400W dengan lumen output sebesar 35000 lumen. Rumah lampu
menggunakan jenis MNF 300 yang biasa dipakai untuk penerangan olahraga, lampu sorot

8
reklame, maupun lampu sorot bangunan. Jumlah lampu TL-D 36W/865 yang dibutuhkan
untuk mendapatkan kuat penerangan sebesar 200 lux adalah:

D. SIMULASI CALCULUX Setelah melakukan perhitungan jumlah lampu yang


diperlukan, kemudian disimulasikan dengan menggunakan program Calculux. Untuk
lampu A, arah pencahayaan yang sebelumnya horizotal diubah menjadi vertikal. Lampu
yang dipasang sebanyak 140 buah. Lampu di pasang pada rumah lampu yang masing-
masing memuat 2 buah lampu. Jadi lampu yang terpasang pada ruangan ada 70 titik.
Susunan lampu dapat dilihat pada gambar 11.

Hasil kalkulasi simulasi Calculux untuk lampu A dicantumkan pada tabel 7, berikut ini:
TABEL 7 HASIL KALKULASI DESAIN PENCAHAYAAN MENGGUNAKAN
LAMPU A

9
Dari tabel 7 yang merepresentasikan hasil kalkulasi desain pencahayaan lampu A dengan
menggunakan software Calculux didapatakan E rata-rata (ave) untuk area GOR dan keempat
lapangan bulu tangkis sudah mencapai standar yang direkomendasikan, karena nilainya melebihi
200 lux. Untuk pemerataan kuat pencahayaan area GOR dan keempat lapangan bulu tangkis juga
sudah merata, karena nilai min/ave ≥ 0,80. Sedangkan untuk lampu B, jumlah lampu yang
diperlukan adalah 14 buah. Disusun sedemikian rupa, ditunjukkan pada gambar 12

10
Dari tabel 8 dapat diketahui bahwa E rata-rata (ave) untuk area GOR dan keempat lapangan bulu
tangkis juga sudah memenuhi standar kuat pencahayaan yang direkomendasikan. Sedangkan
untuk pemerataan kuat pencahayaannya untuk keempat lapangan sudah merata, karena nilai
min/ave ≥ 0,80. Namun untuk seluruh area GOR belum bisa merata, karena nila min/ave 0,59.

11
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kuat pencahayaan atau iluminasi adalah kuantitas cahaya pada level pencahayaan
/permukaan tertentu, atau dengan kata lain iluminasi adalah jumlah cahaya yang jatuh pada
permukaan tertentu.
Telah dilakukan simulasi desain pencahayaan dengan menggunakan software Calculux. Dari simulasi
tersebut didapatkan hasil sebagai berikut:
Untuk lampu TL-D 36W/865:
• Nilai kuat pencahayaan rata-rata lapangan 1, lapangan 2, lapangan 3, lapangan 4, dan seluruh
area GOR adalah: 268 lux; 294 lux; 294 lux; 268 lux; dan 263lux.
• Nilai min/ave lapangan 1, lapangan 2, lapangan 3, lapangan 4, dan seluruh area GOR adalah:
0,90; 0,97; 0,97; 0,90; dan 0,84. b. Untuk lampu HPI-T400W:
• Nilai kuat pencahayaan rata-rata lapangan 1, lapangan 2, lapangan 3, lapangan 4, dan seluruh
area GOR adalah: 434 lux; 405 lux; 405 lux; 434 lux; dan 339 lux.
• Nilai min/ave lapangan 1, lapangan 2, lapangan 3, lapangan 4, dan seluruh area GOR adalah:
0,80; 0,87; 0,87; 0,80; dan 0,59.
B. Saran
Demikianlah Makalah ini kami buat dengan sedemikian rupa. Meskipun kami membuat
dan menganalisis, tapi tentunya kami juga memiliki banyak kekurangan baik itu dari segi
manapun, kami siap menerima segala kritik dan saran guna memperbaiki makalah kami ini.
Akhir kata, semoga makalah kami bermanfaat, terutama bagi kami berdua. Terima Kasih.

12
DAFTAR PUSTAKA

IESNA. (2000). The IESNA Lighting Handbook, 9th edition, New York, USA.

Lighting Design and Application Centre (2002). Manual Calculux Indoor version5.0., JM Eindhoven,
Netherland.

Paschal, J.M., (1998), Step by Step Guide to Lighting, Primedia Intertec, Kansas.

Philips Lighting B.V., (1986), Light and Perception. Netherlands.

13