Anda di halaman 1dari 28

KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013: HAKIKAT, LANDASAN, PRINSIP

PENGEMBANGAN, DAN STRUKTUR KURIKULUM 2013

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok


Mata Kuliah: Telaah Kurikulum PAI
Dosen Pengampu: Dr. Neliwati M.Pd.

Disusun oleh:
Kel. 3 Sem. V/PAI-5
Meidini Mutia (NIM 0301181036)
Muhammad Syahrial (NIM 0301182157)
Thania Indira (NIM 0301182113)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN
2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah swt. atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat
menyelesaikan penulisan makalah ini. Shalawat dan salam kepada Rasulullah
Muhammad saw., atas segala jasa dan kesungguhannya menyampaikan risalah Allah
di muka bumi dan semoga beliau memberikan syafaatnya kita di hari kiamat.
Makalah ini berjudul “Kerangka Dasar Kurikulum 2013: Hakikat,
Landasan, Prinsip Pengembangan, dan Struktur Kurikulum 2013”. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah telaah kurikulum PAI. Penulis menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, penulis dengan segala kerendahan hati meminta maaf dan
mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna perbaikan dan
penyempurnaan ke depannya. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.

Medan, November 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................1

BAB II KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013: HAKIKAT, LANDASAN,


PRINSIP PENGEMBANGAN, DAN STRUKTUR KURIKULUM 2013................. 2
A. Hakikat Kurikulum 2013....................................................................................... 2
B. Landasan Kurikulum 2013.................................................................................... 5
C. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013 .............................................................. 12
D. Struktur Kurikulum 2013 ..................................................................................... 17
BAB III PENUTUP......................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 25

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berlaku dalam sistem pendidikan di


Indonesia. Kurikulum ini merupakan kurikulum tetap yang diterapkan oleh pemerintah
untuk menggantikan Kurikulum 2006 atau yang sering disebut sebagai Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. 1 Kurikulum
2013 telah diimplementasikan sejak pertengahan tahun 2013. Namun, hingga saat ini
masih terjadi pro dan kontra dalam pelaksanaannya. Bahkan implementasi kurikulum
2013 masih terus ditinjau dan dievaluasi.

Kurikulum 2013 lebih ditekankan pada pendidikan karakter, terutama pada tingkat
dasar, yang akan menjadi pondasi bagi tingkat berikutnya. Melalui implementasi
kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter, dengan
pendekatan tematik dan kontekstual diharapkan peserta didik mampu secara mandiri
meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta
mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam
kehidupan sehari-hari.

Prinsip utama pengembangan kurikulum 2013 adalah didasarkam model


kurikulum berbasis kompetensi dengan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk
satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan dan program pendidikan.2 Selain memiliki
prinsip utama, kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Pengembangan kurikulum merupakan salah satu cara
dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pengembangan kurikulum
merupakan proses yang berkesinambungan sejalan dengan perkembangan zaman dan
perubahan yang terjadi di masyarakat.

1
Syarifuddin, Inovasi Baru Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, (Yogyakarta:
Deepublish Publisher, 2018), hlm.5
2
Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran Disesuaikan Dengan Kurikulum 2013,
(Jakarta: Kencana, 2017), hlm. 13

1
BAB II

KERANGKA DASAR KURIKULUM 2013: HAKIKAT, LANDASAN, PRINSIP


PENGEMBANGAN, DAN STRUKTUR KURIKULUM 2013

A. Hakikat Kurikulum 2013

Dalam kosa kata Arab, istilah yang selalu digunakan untuk menyebutkan
kurikulum adalah manhaj (‫ ) َم ْنهَ ٌج‬yang berarti jalan yang terang atau jalan terang yang
harus dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. 3 Apabila pengertian ini
dikaitkan dengan pendidikan, maka manhaj atau kurikulum berarti jalan terang yang
dilalui pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap mereka.

Sedangkan istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “ Curriculae”


artinya jarak yang harus ditempuh seseorang pelari. Pada waktu itu, pengertian
kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang
bertujuan untuk memperoleh ijazah.4 Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya
merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana
pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu
tempat ketempat yang lainnya dan akhirnya mencapai finish.

Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Di Indonesia tujuan


kurikulum tertera pada undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 1989 Bab I
pasal 1 disebutkan bahwa: kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggara kegiatan belajar mengajar.5 Dengan kata lain, suatu kurikulum
dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu
perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu. Kurikulum membuat isi
dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan
dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.

3
Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, (Medan: Citapustaka Media Perintis, 2019), hlm. 161
4
Syarifuddin, op.cit, hlm. 9
5
Naniek Kusumawati dan Vivi Rulviana, Pengembangan Kurikulum Di Sekolah Dasar, ( Surabaya:
Media Grafika, 2017 ), hlm. 1

2
3

Banyak para ahli pendidikan dan ahli kurikulum yang membatasi pengertian
kurikulum beberapa defenisi tersebut dirumuskan dengan berbeda meskipun pada
intinya terkandung maksud yang sama. Atas dasar tersebut secara operasional
kurikulum dapat didefenisikan sebagai berikut:

1. Suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu
sekolah yang dilaksanakan dari tahun ke tahun.
2. Bahan tertulis yang dimaksudkan untuk digunakan guru dalam melaksanakan
pengajaran untuk siswa-siswinya
3. Suatu usaha untuk menyampaikan asas dan ciri terpenting dari suatu rencana
pendidikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga pendidikan dapat
dilaksanakan guru disekolah.

Beberapa pakar kurikulum yang mengutarakan bahwa “kurikulum mencakupi


maksud, tujuan, isi, proses, sumber daya, dan sarana-sarana evaluasi bagi semua
pengalaman belajar yang direncanakan bagi para pembelajar baik didalam maupun
diluar sekolah dan masyarakat melalui pengajaran kelas dan program-program
terkait”, dan selanjutnya membatasi “ silabus sebagai suatu pernyataan mengenai
rencana bagi setiap bagian kurikulum mengkesampingkan unsur evaluasi kurikulum
itu sendiri, silabus hendaknya dipandang dalam konteks proses pengembangan
kurikulum yang sedang berlangsung”.6

Di Indonesia sendiri, kurikulum pendidikan yang digunakan saat ini adalah


Kurikulum 2013. Kurikulum ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan
pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan
teknologi seperti yang telah digariskan dalam haluan Negara. Pengembangan
kurikulum 2013 didasari oleh pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi
masyarakat pengetahuan dan pedagogi, kompetensi masa depan, serta fenomena
negatif yang mengemuka diera digital 4.0 sekarang ini.

Kurikulum dalam Undang-Undang No 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 19 adalah


seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu.7 Jika kita lihat kebelakang, proses pengembangan
6
Sarinah, Pengantar kurikulum, (Yogyakarta: Deepublish , 2015), hlm. 3-5.
7
Syarifuddin, Inovasi Baru Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, (Yogyakarta:
Deepublish Publisher, 2018), hlm. 31
4

kurikulum dimulai sejak kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975,


kuirkulum 1984, kurikulum 1994. Pada tahun 2004 diberlakukanlah kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK), tahun 2006 diberlakukan pula kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), sampai pada tahun 2013 diimplementasikannya
kurikulum 2013 yang pelaksanaanya secara serentak dilaksanakan pada tahun 2014.8

Perubahan dan pengembangan kurikulum yang terbaru adalah kurikulum


2013. Sebuah kurikulum yang berorientasikan peningkatan dan penyeimbangan
kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Dalam rancangan K 13 sekolah-
sekolah diharapkan dapat menghasilkan generasi masa depan yang cerdas
komprehensif yaitu tidak hanya cerdas secara intelektual semata, tetapi juga cerdas
emosi, sosial, dan spritualnya. Sehingga target kemampuan lulusan sekolah
seharusnya mencakup sikap, pengetahuan, keterampilan sesuai dengan standar
nasional yang telah disepakati.

Kurikulum 2013 pada hakikatnya adalah suatu bentuk usaha penyempurnaan


dari kurikulum sebelumnya, oleh sebab itu kurikulum ini tentu juga pasti memiliki
kelebihan dan kekurangan. Dalam hal ini diperlukan usaha untuk mendukung upaya
pemerintah dengan konsisten melakukan perubahan seperti memperbaiki kualitas
penerapan kurikulum sekolah di Indonesia demi menciptakan peserta didik yang siap
menghadapi tantangan dunia global dengan tetap menjaga karakteristik bangsa.

Kurikulum 2013 didesain untuk menyiapkan peserta didik dengan berbagai


kompetensi. Kompetensi yang dibutuhkan demi menjawab tantangan maupun
problem diera global tersebut antara lain: 9 Kemampuan berkomunikasi, sikap moral
yang baik, kemampuan berfikir kritis, kemampuan menjadi warga Negara yang baik,
kemampuan hidup ditengah-tengah masyarakat global, kemampuan bertoleransi
terhadap pandangan yang berbeda, mempunyai kesiapan untuk bekerja, mempunyai
kecerdasan sesuai dengan bakatnya, mempunyai rasa tanggung jawab terhadap
lingkungannya, dan mempunyai minat luas dalam kehidupan.10

8
Ibid, hlm. 37
9
Said Khaeruddin, Pengembangan Profesi Guru Pada Kurikulum 2013, (Riau: PT Indragiri Dot Com,
2019), hlm. 39

STKIP Muhammadiyah Muara Bungo, Implementasi kurikulum 2013 SMP NEGERI 2


10

SAROLANGON, Jurnal Muara Pendidikan Vol. 3 No 1, 2018, hlm 46-47.


5

Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaaat itu dirumuskan dalam indikator


strategis, seperti beriman-bertaqwa, berakhlak karimah, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam
memenuhi kebutuhan abad 21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas ,
bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum
berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga
kompetensi,yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan
adalah manusia seutuhnya.11

Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi


himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan dan
keterampilan). Didalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki
seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertaqwa, berilmu dan seterusnya.
Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang hayat, maka lulusan atau keluaran
dari suatu proses pendidikan tertentu harus dipastikan memiliki kompetensi yang
diperlukan untuk melanjutkan pendidikan secara mandiri sehingga esensi tujuan
pendidikan dapat tercapai.

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis dapat menyimpulkan bahwa


kurikulum 2013 ini merupakan upaya penyederhanaan dan tematik-integratif.
Kurikulum 2013 ini lebih menekankan keaktifan siswa dari pada pendidik, mendorog
siswa agar menumbuhkan sikap sosialnya, menambah pengetahuan serta memiliki
keterampilan. Diharapkan siswa mampu lebih baik dalam melaksanakan observasi,
bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan, apa yang mereka peroleh atau mereka
ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Sehingga dengan demikian, mereka
akan lebih aktif, kreatif, inovatif dan lebih produktif, sehingga mereka nantinya bisa
mempersiapkan diri mereka dalam berbagai persoalan dan tantangan di zamannya.

B. Landasan Kurikulum 2013

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh


terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam

11
Ibid, hlm. 49
6

pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat


dilakukan secara sembarangan karena akan berakibatkan fatal. Penyusunan kurikulum
membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil
penelitian dan pemikiran yang mendalam.12

Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan


memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuainnya dengan
lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan
pendidikan.13 Dalam setiap pengembangan kurikulum pasti ada landasan-landasan
yang digunakan. Berikut ini landasan-landasan yang digunakan dalam pengembangan
kurikulum 2013.

1. Landasan Filosofis

Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas


peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses
pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik
dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitarnya.14 Kurikulum 2013
dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi
pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia
berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.

a. Filosofis pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam


pembangunan pendidikan.
b. Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik,
kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.

Pada dasarnya tidak ada satupun filosofi pendidikan yang dapat digunakan
secara sfesifik untuk pengembangan kurikulum yang dapat menghasilkan manusia
yang berkualitas. Berdasarkan hal tersebut, kurikulum 2013 dikembangkan
menggunakan filosofi sebagai berikut:15
12
Trianto Ibnu Badar at-Taubany dan Hadi Suseno, Desain Pengembangan Kurikulum 2013 Di
Madrasah, ( Depok: kencana, 2017 ) hlm. 41

13
Trianto Ibnu Badar at-Taubany dan Hadi Suseno, op.cit, hlm. 43-44.
14
Muhammad Yaumi, op.cit, hlm. 29
15
Hamzah Yunus dan Heldy Vanni Alam, Perencanaan Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013,
(Yogyakarta: Deepublish, 2015), hlm. 17
7

a. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan


bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan
kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia
yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan
untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik dimasa
depan.
Penulis menyimpulkan bahwa kurikulum 2013 berarti mengembangkan
pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik
untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan dimasa kini
dan depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan
mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap
permasalahan masayarakat dan bangsa masa kini.
b. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan
kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu.
c. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang
lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual,
kemampuan komunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk
membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik.
d. Pendidikan menempatkan peserta didik sebagai subjek yang belajar.
e. Pendidikan adalah proses pengembangan jatidiri peserta didik.
f. Pendidikan adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya.16

Dengan filosofi ini, kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan


potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi
penyelesaian masalah sosial di masayarakat, dan untuk membangun kehidupan
masyarakat demokratis yang lebih baik. Dengan demikian, kurikulum 2013
menggunakan filosofi sebagaimana diatas dalam mengembangkan kehidupan
individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan
berbagai dimensi intelegensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan
diperlukan masyarakat, bangsa dan umat manusia.

2. Landasan Teoritis

16
Ibid, hlm. 19
8

Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan


standar” (standard-based curriculum), dan teori kurikulum berbasis kompetensi
(competency-based curriculum).17 Pendidikan berdasarkan standar menetapkan
adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara yang dirinci
menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik
dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan,
standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis
kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi
peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap,
berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.

Kurikulum 2013 menganut: (1) pembelajaran yang dilakukan guru (taught


curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan
pembelajaran disekolah, kelas, dan masyarakat; dan (2) pengalaman belajar
langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai dengan latar belakang.
Karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung
individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar
seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum.18

3. Landasan Sosiologis

Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar danya kebutuhan akan


perubahan rancangan dan proses pendidikan dalam rangka memenuhi dinamika
kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara.19 Sebagaimana termaktub dalam
tujuan pendidikan nasional. Sekarang ini perkembangan pendidikan di Indonesia
khususnya tidak bisa lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni. Perubahan ini dimungkinkan karena berkembangnya tuntutan baru dalam
masyarakat. Dunia kerja, dan dunia ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada
tuntutan perubahan kurikulum secara terus menerus. Hal ini dimaksudkan agar
pendidikan selalu dapat menjawab tuntutan perubahan sesuai zamannya. Dengan
demikian keluaran pendidikan akan mampu memberikan kontribusi secara optimal
dalam upaya membangun masyarakat berbasis pengetahuan ( knowledge-based
society ).

17
Ibid, hlm. 20
18
Ibid, hlm. 21
19
Ibid, hlm. 23
9

4. Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan bahwa minimal terdapat dua


bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi
perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu
yang mempelajari tentang prilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. 20
Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakikat perkembangan, penahapan
perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu
yang semua dapat dijadikan bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan
kurikulum. Sedangkan psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari
tentang perilaku individu dalam konteks belajar.

Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati


memaparkan teori-teori psikologis yang mendasari kurikulum berbasis
kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati
mengemukakan pengertian kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari
seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif
atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada situasi”.21

Selanjutnya, dikemukakan pula tentang lima tipe kompetensi, yaitu:22

a) Motif, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berpikir secara konsisten.
b) Bawaan, yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai
situasi atau informasi.
c) Konsep diri, yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang.
d) Pengetahuan, yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang.
e) Keterampilan, yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.

5. Landasan Empiris

Berbagai perubahan telah terjadi di Indonesia. Kemajuan terjadi di


beberapa sektor di Indonesia, namun di beberapa sektor yang lain, khususnya
pendidikan, Indonesia tetap tinggal di tempat, atau bahkan mundur. 23 Hal-hal
20
Ibid, hlm. 24
21
Ibid, hlm. 25
22
Ibid, hlm. 27
23
Mulyoto, Strategi Pembelajaran di Era Kurikulm 2013, (Jakarta: Prestasi Pustaka Raya, 2013), hlm.
69
10

seperti ini menunujukkan perlunya perubahan orientasi kurikulum dengan tidak


membebani peserta didik dengan konten, namun pada aspek kemampuan esensial
yang diperlukan semua warga untuk berperan serta dalam membangun negara
pada masa mendatang.

Dalam satu sistem pendidikan, kurikulum itu bersifat dinamis serta harus
selalu dilakukan perubahan dan pengembangan, agar dapat mengikuti
perkembangan dan tantangan zaman.24 Namun demikian, perubahan dan
pengembangan kurikulum harus dilakukan secara terarah dan tidak asal-asalan.

Adapun tujuan pengembangan kurikulum 2013 bertujuan untuk


mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai
pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif
serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara,
dan peradaban dunia. Beberapa hal yang baru pada kurikulum mendatang antara
lain:

1) Kurikulum berbasis sains


2) Kurikulum 2013 untuk SD, bersifat tematik integratif. Mata pelajaran IPA
dan IPS sebagai materi pembahasan pada semua pelajaran (IPA dan IPS
diintegrasikan kedalam semua mata pelajaran).
3) IPA akan menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia dan
matematika
4) IPS akan menjadi pembahasan materi pelajaran Bahasa Indonesia dan
PPKN.
5) Kompetensi yang ingin dicapai adalah kompetensi yang berimbang antara
sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya
yang holistik dan menyenangkan.
6) Proses pembelajaran menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik
melalui penilaian berbasis tes dan portofolio saling melengkapi.
7) Jumlah mata pelajaran ada 7:

a. Pendidikan agama,

b. Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan,

24
Ibid, hlm, 70
11

c. Bahasa Indonesia,

d. Matematika,

e. Seni budaya dan prakarya,

f. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan,

g. Pramuka

6. Alokasi waktu per jam pelajaran

a) SD = 35 menit
b) SMP = 40 menit
c) SMA = 45 menit25

6. Landasan Yuridis

Secara Yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan


kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis dibidang pendidikan.
Landasan yuridis kurikulum adalah pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005, dan peraturan Menteri Pendidikan
Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar
Isi.26

a) RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang perubahan Metodologi


Pembelajaran dan Penataan Kurikulum
b) PP. No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
c) INPRES No. 1 tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan Prioritas
Pembangunan Nasional, penyempurna kurikulum dan metode pembelajaran
aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya asing dan
karakter bangsa27

Beberapa landasan yuridis dari Undang-Undang sebagai berikut :

25
Ibid, hlm. 71
26
Hamzah Yunus dan Heldy Vanni Alam, op.cit, hlm. 17
27
Ibid, hlm. 18
12

a) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945


b) UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
c) UU no. 17 tahun 2005 tentang rencana pembangunan jangka panjang nasional,
beserta segala ketentuan yang dituangkan rencana pembangunan jangka
menengah nasional, dan
d) Peraturan pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan
sebagaimana telah diubah dengan PP no. 19 tahun 2005 tentang standar
nasional pendidikan.28

C. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013

Kurikulum memang bukan satu-satunya penentu mutu pendidikan. Ia juga


bukan perangkat tunggal penjabaran visi pendidikan. Meskipun demikian, kurikulum
menjadi perangkat yang strategis untuk menyemaikan kepentingan dan membentuk
konsepsi dan perilaku individu. Umumnya para pendidik dan masyarakat luas tidak
menyadari apa sebenarnya peranan kurikulum di dalam proses pembelajaran peserta
didik.

Kurikulum adalah program dan isi dari suatu sistem pendidikan yang
berupaya melaksanakan proses akumulasi ilmu pengetahuan antar generasi dalam
suatu masyarakat.29 Kurikulum 2013 dirumuskan dan dikembangkan dengan suatu
optimisme yang tinggi untuk menghasilkan lulusan sekolah yang lebih cerdas, kreatif,
inovatif dan memiliki percaya diri yang tinggi sebagai individu maupun sebagai
bangsa, serta toleran terhadap segala perbedaan yang ada.

Tujuan pengembangan kurikulum 2013 terutama adalah untuk mengatasi


masalah dan tantangan berupa kompetensi riil yang dibutuhkan oleh dunia kerja,
globalisasi ekonomi pasar bebas, membangun manusia Indonesia yang berakhlak
mulia, dan menjadi warga Negara yang bertanggung jawab. 30 Pembelajaran pada
Kurikulum 2013 berbeda dengan Kurikulum-kurikulum sebelumnya, pembelajaran
pada kurikulum ini lebih menggunakan pendekatan scientific dan tematik-integratif.
Proses pembelajaran diselenggarakan dengan interaktif, inspiratif, menantang, dan

28
Ahmad Suryadi, Pengembangan Kurikulum Jilid 2, ( Sukabumi: Cv Jejak, 2020 ) hlm. 13.
29
Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hlm.
32
30
Ibid, hlm. 34
13

memotivasi siswa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat minat, fisik dan
perkembangan psikologis siswa.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang dimaksudkan untuk melanjutkan


pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun
2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan secara
terpadu.31 Dengan kata lain, hard skill dan soft skill berjalan secara seimbang dan
berjalan secara integrative. Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip
berikut:

1) Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan


daftar mata pelajaran. Atas dasar prinsip tersebut maka kurikulum sebagai
rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan yang harus dimiliki oleh
seluruh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya di satu satuan atau
jenjang pendidikan tertentu.32 Penulis menyimpulkan bahwa kurikulum
sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta didik di satu satuan
atau jenjang pendidikan untuk menguasai konten pendidikan yang dirancang
dalam rencana. Hasil belajar adalah perilaku peserta didik secara keseluruhan
dalam menerapkan perolehannya di masyarakat.
2) Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang
pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah
mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang
menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus
dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. 33
Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa selain sesuai dengan fungsi dan
tujuan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta fungsi dan
tujuan dari masing-masing satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan
maka pengembangan kurikulum didasarkan pula atas Standar Kompetensi
Lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta Standar Kompetensi
satuan pendidikan.
3) Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. Model
kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi
31
Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 13
32
M.Fadillah, Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, & SMA,
(Yogyakarta : AR-RUZZ MEDIA, 2014), hlm. 27
33
Ibid, hlm. 28
14

berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan


psikomotorik yang disusun dalam berbagai mata pelajaran.34 Kompetensi yang
termasuk pengetahuan disusun secara khusus dalam satu mata pelajaran.
Kompetensi yang termasuk sikap dan ketrampilan dikemas dalam setiap mata
pelajaran dan bersifat lintas mata pelajaran dan diorganisasikan dengan
memperhatikan prinsip penguatan (organisasi horizontal) dan keberlanjutan
(organisasi vertikal) sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam
pembelajaran.
4) Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan
pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan
Dasar35 sehingga dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery
learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.
5) Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. 36 Atas
dasar prinsip perbedaan kemampuan individual peserta didik, kurikulum
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki tingkat
penguasaan di atas standar yang telah ditentukan (dalam sikap, keterampilan
dan pengetahuan). Oleh karena itu beragam program dan pengalaman belajar
disediakan sesuai dengan minat dan kemampuan awal peserta didik.
6) Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik serta lingkungannya.37 Kurikulum dikembangkan berdasarkan
prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar.
7) Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya,
teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa
ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis. 38
Oleh karena itu konten kurikulum harus selalu mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni; membangun rasa ingin tahu dan
kemampuan bagi peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara
tepat hasil-hasil ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

34
Ibid, hlm. 28
35
Ibid, hlm. 29
36
Ibid, hlm. 29
37
Ibid, hlm. 29
38
Ibid, hlm. 30
15

8) Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan tidak


boleh memisahkan peserta didik dari lingkungannya dan pengembangan
kurikulum didasarkan kepada prinsip relevansi pendidikan dengan kebutuhan
dan lingkungan hidup.39 Artinya, kurikulum memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mempelajari permasalahan di lingkungan masyarakatnya
sebagai konten kurikulum dan kesempatan untuk mengaplikasikan yang
dipelajari di kelas dalam kehidupan di masyarakat.
9) Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. 40
Pemberdayaan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat dirumuskan dalam
sikap, keterampilan, dan pengetahuan dasar yang dapat digunakan untuk
mengembangkan budaya belajar.
10) Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan
kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.41 Kepentingan nasional dikembangkan melalui penentuan
struktur kurikulum, Standar Kemampuan/SK dan Kemampuan Dasar/KD serta
silabus. Kepentingan daerah dikembangkan untuk membangun manusia yang
tidak tercabut dari akar budayanya dan mampu berkontribusi langsung kepada
masyarakat di sekitarnya. Kedua kepentingan ini saling mengisi dan
memberdayakan keragaman dan kebersatuan yang dinyatakan dalam Bhinneka
Tunggal Ika untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.
11) Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki
pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk
mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok
peserta didik.42 Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses
perbaikan terhadap kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki
seorang atau sekelompok peserta didik.

Sedangkan Asep Herry Hernaawan dkk, mengemukakan lima prinsip dalam


mengembangkan kurikulum, yaitu:43

39
Ibid, hlm. 31
40
Ibid, hlm. 31
41
Ibid, hlm. 31
42
Ibid, hlm. 31
43
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2005), hlm. 17
16

a. Prinsip relevansi; secara internal kurikulum memiliki relevansi diantara


komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisai, evaluasi).
Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki
relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi dan tututan potensi
peserta didik.
b. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar
yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam
pelaksanaanya, memungkinkan terjadinya penyesuaian berdasarkan situasi dan
kondisi.
c. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik
secara vertika, mauoun secara horizontal. Pengalaman belajar yang disediakan
kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang didalam tingkat
kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antar jenjang pendidikan dengan jenis
pekerjaan.
d. Prinsip efisiensi; dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan
waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal.
e. Prinsip efektivitas; mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum
mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir.

D. Struktur Kurikulum 2013

Struktur kurikulum merupakan pengorganisasian kompetensi inti, kompetensi


dasar, muatan pembelajaran, mata pelajaran dan beban belajar pada setiap satuan
pendidikan dan program pendidikan.44 Menurut pandangan penulis struktur kurikulum
menggambarkan konseptualisasi kurikulum dalam bentuk mata pelajaran dalam
kurikulum, beban belajar untuk setiap peserta didik. Struktur kurikulum juga
gambaran mengenai penerapan prinsip kurikulum mengenai posisi seorang siswa
dalam menyelesaikan pembelajaran di suatu satuan atau jenjang pendidikan.

Lebih lanjut, struktur kurikulum menggambarkan posisi belajar seorang siswa


yaitu apakah mereka harus menyelesaikan seluruh mata pelajaran yang tercantum
dalam struktur ataukah kurikulum memberi kesempatan kepada siswa untuk
menentukan berbagai pilihan. Struktur kurikulum adalah aplikasi konsep

44
Daryanto, Siap Menyongsong Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Penerbit Gava Media, 2013), hlm. 65
17

pengorganisasian konten dalam system belajar dan pengoganisasian beban belajar


dalam sistem pembelajaran.

Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk


kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian
beban belajar dalam system pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester.
Struktur kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran dan beban belajar.45

1. Kompetensi Inti

Kompetensi inti merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai standar


kompetensi lulusan (SKL) yang harus dimiliki seorang peserta didik pada setiap
tingkat kelas. Kompetensi inti dirancang untuk setiap kelas atau program yang
menjadi landasan pengembangan kompetensi dasar. Melalui kompetensi inti,
sinkronasi berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran pada kelas yang sama
dapat dijaga. Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai berikut:

a. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual.


b. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap social.
c. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
d. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.46

Kompetensi inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi standar


kompetensi lulusan dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki peserta didi yang
telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang
pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi utama yang harus dipelajari
peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran.47

Kompetensi inti dirancang seiring dengan meningkatnya usia peserta didik


pada kelas tertentu. Kompetensi inti berisi tentang kebiasaan berpikir dan
bertindak yang merupakan perwujudan sikap, keterampilan dan pengetahuan
secara utuh. Artinya, hasil capaian proses belajar diukur dari kesinambungan dan

45
Ibid, hlm. 113
46
Lampiran I Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah
47
Daryanto, op.cit, hlm. 115
18

konsistensi antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan dan apa yang
diamalkan.48

Kompetensi inti bukan untuk diajarkan melainkan untuk dibentuk melalui


pembelajaran berbagai kompetensi dasar dari sejumlah mata pelajaran yang
relevan. Dalam hal ini mata pelajaran diposisikan sebagai sumber kompetensi.
Apapun yang diajarkan pada mata pelajaran tertentu pada suatu jenjang kelas
tertentu hasil akhirnya adalah kompetensi inti yang harus dimiliki oleh peserta
didik pada jenjang kelas tersebut. Tiap mata pelajaran harus tunduk pada
kompetensi inti yang telah dirumuskan. Karena itu, semua mata pelajaran yang
diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap
pembentukan kompetensi inti.

Kompetensi inti akan menagih kepada tiap mata pelajaran apa yang dapat
dikontribusikannya dalam membentuk kompetensi yang diharapkan dimiliki
peserta didik. Ibaratnya, kompetensi inti adalah pengikat berbagai kompetensi
dasar yang harus dihasilkan dengan mempelajari tiap mata pelajaran. 49

2. Mata Pelajaran

Struktur kurikulum terdiri atas mata pelajaran umum kelompok A dan


mata pelajaran umum kelompok B. khusus untuk madrasah, dapat ditambah
dengan ata pelajaran keagamaan yang diatur oleh kementerian agama.50 Mata
pelajaran sebagai sumber dari konten untuk menguasai kompetensi bersifat
terbuka dan tidak selalu diorganisasikan berdasarkan disiplin ilmu yang sangat
berorientasi hanya pada filosofi esensialisme dan perenialisme. Mata pelajaran
dapat dijadikan organisasi konten yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu
atau non disiplin ilmu yang diperbolehkan menurut filosofi rekonstruksi social,
progresifisme atau humanism.

Mata pelajaran Kelompok A merupakan kelompok mata pelajaran yang


muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B
merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan
48
Zulkifli Anas dan Akhmad Supriyatna, Hitam Putih Kurikulum 2013, ( Jakarta: AMP Press, 2014),
hlm. 150
Trianto Ibnu Badar at-Taubany dan Hadi Suseno, Desain Pengembangan Kurikulum 2013 di
49

Madrasah, (Jakarta: Kencana, 2017), hlm. 133


50
Lampiran I, op,cit.
19

oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal. Mata pelajaran
Kelompok B dapat berupa mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri.
Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah Satu jam pelajaran beban belajar tatap
muka adalah 35 menit. Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri,
maksimal 40% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang
bersangkutan.51 Satuan pendidikan dapat menambah beban belajar per-minggu
sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik,
sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting.

Untuk Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya, satuan pendidikan wajib
menyelenggarakan minimal 2 aspek dari 4 aspek yang disediakan. Peserta didik
mengikuti salah satu aspek yang disediakan untuk setiap semester, aspek yang
diikuti dapat diganti setiap semesternya. Khusus untuk Madrasah Ibtidaiyah
struktur kurikulum dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang diatur oleh
Kementerian Agama. Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas Pendidikan
Kepramukaan (wajib), usaha kesehatan sekolah (UKS), palang merah remaja
(PMR), dan lainnya sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing satuan
pendidikan.52 Pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran Tematik
Terpadu kecuali mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

3. Beban Belajar

Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta


didik dlam satu minggu, satu semester dan satu tahun pembelajaran. 53 Beban
belajar memuat jumlah jam belajar yang dialokasikan untuk pembelajaran suatu
mata pelajaran atau seluruh kegiatan yang harus diikuti peserta didik. Beban
belajar meliputi kegiatan tatap muka, kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri.

Kurikulum 2013 mengisyaratkan adanya penambahan beban belajar di


semua jenjang pendidikan. Kebijakan penambahan jam ini dimaksudkan agar guru
memiliki waktu yang lebih leluasa untuk mengelola dan mengembangkan proses
pembelajaran yang berorientasi (berpusat) pada siswa atau mengembangkan
pembelajaran aktif, beserta proses penilaiannya.

51
Mulyoto, op.cit, hlm. 47
52
Ibid, hlm. 49
53
Lampiran I, op.cit.
20

Adapun ketentuan beban belajar untuk setiap jenjangnya dapat dilihat


berikut ini:

a. Beban belajar di SD/MI : Kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34
sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap
minggu, dengan lama belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 35
menit.
b. Beban belajar di SMP/MTs : Dari semula 32 menjadi 38 jam untuk
masing-masing kelas VII, VIII, dan IX, dengan lama belajar untuk
setiap jam belajarnya yaitu 40 menit.
c. Beban belajar di SMA/MA : Kelas X bertambah dari 38 jam menjadi
42 jam belajar, dan untuk kelas XI dan XII bertambah dari 38 jam
menjadi 44 jam belajar, dengan lama belajar untuk setiap jam
belajarnya yaitu 45 menit.54

Konseksuensi logis dari penambahan beban belajar ini, maka mau tidak
mau guru dituntut untuk memiliki keterampilan mengembangkan berbagai bentuk
dan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat secara aktif
mengkonstruksi berbagai pengetahuan, sikap dan keterampilan (kompetensi) yang
perlu dikuasainya. Selain itu, guru juga dituntut untuk secara kreatif mampu
mengembangkan pengelolaan kelas dan bentuk-bentuk pembelajaran yang
menyenangkan, sehingga siswa merasa betah dan gembira dalam belajarnya. Jika
hal ini tidak terpenuhi, maka bisa dipastikan upaya penambahan beban belajar
hanya menjadi beban yang akan semakin menyiksa dan “memperkosa” proses
belajar siswa.

4. Muatan Pembelajaran

Muatan pembelajaran berbasis pada konsep-konsep terpadu dari berbagai


disiplin ilmu untuk tujuan pendidikan.55 Pendekatan yang digunakan untuk
mengintegrasikan Kompetensi Dasar dari berbagai mata pelajaran yaitu
intradisipliner, interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Integrasi
intradisipliner dilakukan dengan cara mengintegrasikan dimensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan menjadi satu kesatuan yang utuh di setiap mata

54
Mulyoto, op.cit, hlm. 51-52
55
Lampiran I, op. cit.
21

pelajaran. Integrasi interdisipliner dilakukan dengan menggabungkan Kompetensi


Dasar

Kompetensi Dasar beberapa mata pelajaran agar terkait satu dengan yang
lainnya, sehingga dapat saling memperkuat, menghindari terjadinya tumpang
tindih, dan menjaga keselarasan pembelajaran. Integrasi multidisipliner dilakukan
tanpa menggabungkan Kompetensi Dasar tiap mata pelajaran sehingga tiap mata
pelajaran masih memiliki Kompetensi Dasarnya sendiri. Integrasi transdisipliner
dilakukan dengan mengaitkan berbagai mata pelajaran yang ada dengan
permasalahan-permasalahan yang dijumpai di sekitarnya sehingga pembelajaran
menjadi kontekstual.56 Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga
peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial.

Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa pembelajarannya


memberikan makna yang utuh kepada peserta didik seperti tercermin pada
berbagai tema yang tersedia. Tematik terpadu disusun berdasarkan gabungan
proses integrasi seperti dijelaskan di atas sehingga berbeda dengan pengertian
tematik seperti yang diperkenalkan pada kurikulum sebelumnya.

5. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar merupakan tingkat kemampuan dalam konteks muatan


pembelajaran, pengalaman belajar atau mata pelajaran yang mengacu pada
kompetensi inti. Kompetensi dasar dikembangkan dalam konteks muatan
pembelajaran, pengalaman belajar, mata pelajaran atau program dalam mencapai
standar kompetensi lulusan.57

Kompetensi dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Rumusan


kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan
kemampuan peserta didik dan kekhasan masing-masing mata pelajaran.
Kompetensi dasar meliputi empat kelompok sesuai dengan pengelompokan
kompetensi inti sebagai berikut:

a. Kelompok 1: kelompok Kompetensi Dasar sikap sprirual dalam rangka


menjabarkan KI-1

56
Mulyoto, op.cit, hlm. 54
57
Daryanto, op.cit, hlm. 66
22

b. Kelompok 2: kelompok Kompetensi Dasar sikap social dalam rangka


menjabarkan KI-2
c. Kelompok 3: kelompok Kompetensi Dasar pengetahuan dalam rangka
menjabarkan KI-3
d. Kelompok 4: kelompok Kompetensi Dasar keterampilan dalam rangka
menjabarkan KI-4.58

Uraian kompetensi dasar yang perinci ini adalah untuk memastikan bahwa
capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus
berlanjut ke keterampilan dan bermuara pada sikap.59

58
Lampiran I, op.cit
59
Trianto Ibnu Badar at-Taubany dan Hadi Suseno, op.cit, hlm. 136
BAB III

PENUTUP

Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis menyimpulkan sebagai berikut :

1. Kurikulum 2013 pada hakikatnya adalah suatu bentuk usaha penyempurnaan dari
kurikulum sebelumnya (KTSP), oleh sebab itu kurikulum ini tentu juga pasti
memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam hal ini diperlukan usaha untuk
mendukung upaya pemerintah dengan konsisten melakukan perubahan seperti
memperbaiki kualitas penerapan kurikulum sekolah di Indonesia demi
menciptakan peserta didik yang siap menghadapi tantangan dunia global dengan
tetap menjaga karakteristik bangsa.

2. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang


didasarkan pada hasil-hasil penelitian pakar kurikulum dan pemikiran yang
mendalam. Diantara landasan-landasan yang digunakan dalam pengembangan
kurikulum 2013 adalah landasan filosofis, yuridis, empiris, psikologis, sosiologis
dan landasan teoritis.

3. Prinsip pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:


Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar
mata pelajaran, Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan
pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan, Kurikulum didasarkan
pada model kurikulum berbasis kompetensi, Kurikulum didasarkan pada prinsip
bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam
kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar, Kurikulum dikembangkan dengan
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan
dalam kemampuan dan minat, Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan,
kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta lingkungannya. Kurikulum harus
tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni,
Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan, Kurikulum diarahkan
kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
yang berlangsung sepanjang hayat, dan Kurikulum dikembangkan dengan
memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

23
24

4. Sruktur kurikulum merupakan pengorganisasian antara kompetensi inti,


kompetensi dasar, muatan pembelajaran, mata pelajaran dan beban belajar
pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan. Struktur kurikulum
adalah gambaran mengenai penerapan prinsip kurikulum mengenai posisi
seorang siswa dalam menyelesaikan pembelajaran di suatu satuan atau jenjang
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

Al Rasyidin. 2019. Falsafah Pendidikan Islam. Medan: Citapustaka Media Perintis

Anas, Zulkifli dan Akhmad Supriyatna. 2014. Hitam Putih Kurikulum 2013. Jakarta:
AMP Press

At-Taubany, Trianto Ibnu Badar dan Hadi Suseno. 2017. Desain Pengembangan
Kurikulum 2013 di Madrasah. Jakarta: Kencana
Daryanto. 2013. Siap Menyongsong Kurikulum 2013. Yogyakarta: Penerbit Gava
Media
Fadillah, M. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI,
SMP/MTS, & SMA. Yogyakarta : AR-RUZZ MEDIA
Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Khaeruddin, Said. 2019. Pengembangan Profesi Guru Pada Kurikulum 2013. Riau:
PT Indragiri Dot Com
Kusumawati, Naniek dan Vivi Rulviana. 2017. Pengembangan Kurikulum Di Sekolah
Dasar. Surabaya: Media Grafika
Lampiran I Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah

Muhaimin. 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,


Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: Rajawali Pers
Mulyoto. 2013. Strategi Pembelajaran di Era Kurikulm 2013. Jakarta: Prestasi
Pustaka Raya
Sanjaya, Wina. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group

Sarinah. 2015. Pengantar kurikulum. Yogyakarta: Deepublish

STKIP Muhammadiyah Muara Bungo. 2018. Implementasi kurikulum 2013 SMP


NEGERI 2 SAROLANGON, Jurnal Muara Pendidikan Vol. 3 No 1
Suryadi, Ahmad. 2020. Pengembangan Kurikulum Jilid 2. Sukabumi: Cv Jejak

Syarifuddin. 2018. Inovasi Baru Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti. Yogyakarta: Deepublish Publisher

Yaumi, Muhammad. 2017. Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran Disesuaikan


Dengan Kurikulum 2013. Jakarta: Kencana

Yunus, Hamzah dan Heldy Vanni Alam. 2015. Perencanaan Pembelajaran Berbasis
Kurikulum 2013. Yogyakarta: Deepublish

25

Anda mungkin juga menyukai