Anda di halaman 1dari 12

CRITICAL BOOK REPORT”

Mata Kuliah Model-Model Konseling

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. Abdul Munir, M. Pd/Nindya Ayu Pristanti S.Pd, M.Pd .

Di susun Oleh :

Nama :Ianci Putra Sitohang

Kelas : BK Reg C 18

Nim : 1183151017

JURUSAN PPB/BK
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan
karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah tentang Critical Book Report “Model Model
Konseling” .

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan saya mohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah
ini di waktu yang akan datang.

Medan, Maret 2020

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................1

Daftar Isi...........................................................................................................2

Bab I Pendahuluan............................................................................................4

a. Latar Belakang.......................................................................................4
b. Tujuan Manfaat......................................................................................4
.................................................................................................................
c. Manfaat..................................................................................................4

Bab II Isi Buku.................................................................................................5

a. Identitas Buku........................................................................................5
b. Ringkasan Buku.....................................................................................6

Bab III Pembahasan.........................................................................................12

a. Keunggulan...........................................................................................12
b. Kelemahan.............................................................................................12

Bab IV Penutup...............................................................................................13

a. Kesimpulan...........................................................................................13
b. Saran .....................................................................................................13

Daftar pustaka

BAB I

PENDAHULUAN
a. Latar Belakang

Banyak perhatian yang di berikan dalam literaut konseling dan psikoterapi terhadap
konsep keterampilan konseling. Para pengarang seperti Ivey, Carkhuff, dan Egan telah
mencoba mengidentifikasikan keterampilan inti yang di perlukan bagi konseling yang efektif,
dan dapat di kuasai melalui pendidikan yang sistematik. Ivey misalnya, telah memecah
pekerjaan konselor menjadi rangkaian keterampilan mikro.

b. Tujuan
1. Sebagai bahan refrensi bagi para guru, dosen dan mahasiswa
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Model Model Konseling
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan buku
4. Untuk mengetahui tentang penanganan psikologi siswa
5. Untuk membantu guru memahami proses psikoterapi dan konseling yang baik
c. Manfaat
1. Bagi penulis, diharapkan nantinya bisa menjadi guru yang profesional dalam
mendidik dan mengajar siswa, dalam kondisi atau situasi apapun yang ada
didalam kelas
2. Dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan buku. Kita dapat memilih buku yang
paling sesuai untuk dijadikan bahan refrensi guru, dosen ataupun mahasiswa
3. Membantu konselor memahami jenis dan keterampilan konseling mikro.

BAB II

ISI BUKU

a. Identitas Buku

Judul buku : Pengatar Konseling: Teori dan Studi Kasus

Penulis : John Mc Leod


Penerbit : Kencana

Tahun Terbit : 2008

Kota Terbit : Jakarta

Tebal Buku : 686 Halaman

ISBN : 979-3925-42-6

I. PENDAHULUAN
1. Keterampilan dan Kualitas Konselor Yang Efektif

Terdapat pembatasan serius berkenaan dengan konsep keterampilan dalam konteks


pemahaman terhadap aktivitas konselor dan psikoterapis. Ide tentang “keterampilan” pertama
kali di kembangkan untuk memahami serangkaian perilaku sederhana, berskala pendek, dan
dapat di amati dalam diri pekerja ketika melakukan tugas manual manual sedehana seperti dalam
lini perakitan. Tujuan dari analisis performa yang di kuasai adalah untuk memcah tindakan orang
orang ke dalam rangkaian sederhana yang dapat di pelajari dan dikuasai tnpa melibatkan yang
lain. Pendekatan ini dapat di lihat dalam model Ivey.

Menggunakan hal ini untuk memandang konselor merupakan hal yang tidak tepat karena
tiga alasan: pertama, ada banyak kemampuan esensial konselor berkenaan dengan proses internal
dan tak bisa diamati. Misalnya, konselor yang baik adalah seseorang yang awas akan apa yang
dirasakannya di hadapan klien. Atau mengantisipasi konsekuensi masa depan dalam system
keluarga.

Hobson ( 1985) menyatakan bahwa ikatan antara konselor dank lien tumbuh dari
penciptaan “bahasa perasaan” bersama, yaitu cara berbicara bersama yang mengizinkan ekspesi
perasaan klien. Rice (1974) telah melaksanakan cukup banyak riset tentang nilai penting kualitas
suara terapis atau konselor.

2. Keyakinan dan Sikap Personal

Sejak pengujian terhadap “keyakinan konselor” oleh Halmos (1965), masih terdapat
ketertarikan terhadap ide bahwa semua konselor yang efektif memiliki system keyakinan atau
cara memahami dunia yang mirip satu dengan yang lain.

Usaha paling koheren untuk mengidentifikasi keyakinan dan sikap berkaitan dengan
efektivitas konseling dilakukan oleh Coms (1986). Dalam rangkaian 14 penelitian, menggunakan
bukan hanya konselor saja tapi juga anggota profesi pelayanan kemanusiaan lain seperti pendeta
dan guru, Combs dan Soper menemukan bahwa penology yang efektif dalam profesi ini
cenderung untung memandang dunia dari perspektif person – centred.

Penelitian yang dilakukan oleh Combas (1986) memiliki akar yang kuat pada aliran
person centred dan client centred, dan salah satu batasan dari kerjanya adanya pembatasan pada
dirinya sendiri untuk hanya menguji nilai penting seikap “person centred”.

3. Kemampuan Konseptual

Masalah besar berkenaan dengan apa yang terjadi dalam konseling adalah tentang
pemahaman. Klien mendatangi konselor karena mereka putus asa dengan kemampuan mereka
untuk memahami apa yang terjadi atau untuk memutuskan apa yang harus di lakukan. Banyak
klien yang mengharapkan konselor mereka memberitahukan mereka apa yang terjadi dan
memberikan masukan apa yang yang harus di lakukan.

Hanya sangat sedikit riset terhadap kemampuan konseptual atau kognitif konselor. Dalam
ulasan literautr, Beutler menemukan tidak adanya hubungan antara kompetensi akademik
konselor, sebagaimana diukur dengan prestasi mereka pada jenjang strata satu, dan kesuksesan
mereka dalam masa pelatihan lanjutan. Hal ini bukan merupakan hasil mengejutkan, karena
dengan menyelesaikan program strata satu, konselor telah mendemonstrasikan kompetensi
intelektual yang cukup untuk menjadi konselor. Akan tetapi, hal tersebut mengkonfirmasi
pandangan pandangan yang diterima umum bahwa prestasi akademik tidak berkaitan dengan
efektivitas konseling yang tinggi.

4. Kompetensi Interpersonal

Berlawanan dengan sedikitnya riset terhadap kompetensi kognitif atau konseptual,


terhadap sejumlah besar riset substansial yang menjadi dasar pembahasan nilai penting factor
kepribadian dan kesehatan mental umum sebagai variabel yang di kaitkan dengan efektiftas
konseling. Studi ini berkonsentrasi pada dua isu utama: mengidentifikasikan karakteristik
kepribadian terapis yang efektif, dan memberikan penilaian terhadap nilai terapi personal bagi
praktisi. Sebagian besar pekerjaan dalam bidang ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan
dukungan terhadap kritik keterampilan atau pendekatan bertujuan untuk memberikan dukungan
terhadap kritik keterampilan atau pendekatan berorientasi teknik.

Sejumlah studi telah mengeksplorasi pengaruh kepribadian konselor terhadap hasil


konselor. Dapat dikatakan bahwa seluruh bidang riset kepribadian merupakan hal yang
problematic, karena ciri kepribadian yang di ukur oleh kita kuisioner cenderung menunjukkan
korelasi yang rendah dengan perilaku actual pada semua studi. Di samping itu, terdapat bukti
yang cukup bahwa konselor yang baik adalah orang orang yang menunjikkan tingkat
penyesuaian emosional umum yang lebih tinggi dan kemampuan membuka diri yang besar.

Terapis personal merepresentasikan cara unik untuk mempelajari proses terapeutik,


dalam hal terapi tersebut memberikan wawasan tentang peran klien, dan akhirnya, terapi tersebut
memberikan kontribusi terhadap peningkatan umum kesadaran diri peserta didik. Walaupun
demikian, terdapat beberapa kesulitan mendasar yang di timbulkan oleh praktik terapi personal
untuk peserta didik. Pertama, klien di tuntut untuk hadir. Kedua, apabila peserta terlalu jauh
terbenam dalam kerja terapeutik, maka hal tersebut dapat menghancurkan kemampuan
emosionalnua terhadap klien nya sendiri. Ketiga, terapis personal merupakan anggota pelatihan.

5. Menguasai Teknik

Terdapat gerakan substansial dalam beberapa tahun terakir ini untuk mengidentifikasikan
kompetensi bahwa konselor sebagai hal utama dalam menguasai teknik. Ada fakta menyatakan
bahwa praktisi yang mengklaim menggunakan berbagai pendekatan konseling yang berbeda
akan menghadapi klien dengan pola identic, dan karena itu akan terdapat perbedaan besar di
antara praktisi yang “tampaknya” menggunakan model yang sama. Temuan ini menciptakan
halangan bagi para periset yang tertarik untuk membandingkan berbagai pendekatan yang
berbeda. Apabila setengah dari perilaku dalam studi tidak dapat dibedakan dari psikoanalisi,
studi tersebut masih bermanfaat dalam meletakkan perbandingan terapi perilaku dan psikoterapi
psikoanalitik. Karena itu, terdapat peningkatan penyusunan manual oleh para periset yang
memberikan instruksi mendetail kepada konselor atau psikoterapis yang terlibat dalam studi
berkenaan dengan cara mengimpelementasikan pendekatan tertentu yang sedang di pelajari.
Kemudian, kompetensi konselor diukur dalam kerangka seberapa dekat dia dapat mengikuti
manual.

Kelemahan pemikiran ini dalam beberapa studi dan situasi pelatihan adalah keterbatasan
penggunaanya dalam menilai kompetensi mayoritas konselor yang tidak pernah mengklaim
mengikuti arahan orientasi teoritis tertentu. Lebih jauh lagi, salah satu karakteristik konselor
yang sangat kompeten atau berbakat adalah kepakaran mereka dalam memodifikasi.

6. Kemampuan Untuk Paham dan Bekerja Dalam Sistem Sosial

Dapat dikatakan bahwa salah satu kelemahan sebagian besar pendekatan konseling
kontemporer adalah pandangan yang mereka anut terlalu individualistic terhdap proses
konseling. Mereka fokus pada scenario dimana si klien duduk di sebuah kursi yang berhadapan
dengan konselor yang duduk di kursi lainnya. Walaupun demikian, dalam realitasnya terdapat
audien bagi pertunjukkan ini, termasuk keluarga dan teman klien, dan pengawas serta kolega
konselor. Konselor dan klien selalu bertindak dalam system sosial. Dalam pembahasan tentang
kelelahan sebelum ini. Dinyatakan bahwa keberadaan system pendukung di sekitar konselor
merupakan cara yang baik menghindari kelelahan. Di inggris, BAC dan BPS mensyaratkan
konselor untuk mesuk dalam pengawasan berkesinambungan, sebuah pengakuan terhadap
kebutuhan akan dukungan.

Kosenlor yang bekerja dalam agensi akan menyadari tuntutan dan tekanan yang dibuat
organisasi. Tekanan tersebut, yang telah kita bahas lebih lengkap di bab sebelumnya, dapat
berupa tekanan untuk membocorkan rahasia klien, harapan untuk mempengaruhi perilaku klien,
dan pembatasan terhadap pekerjaan yang dapat dilakukan oleh klien.

7. Terbuka Terhadap Pertanyaan

Kompetensi ini mendasari semua kompetensi yang disebutkan di atas. Sebab, merupakan
hal yang penting bagi seorang konselor untuk terus berusaha belajar dari klien mereka, dan
berusaha secara aktif mencari pengetahuan dan pemahaman dalam situasi dimana proses atau
hubungan konseling membawa mereka melampaui basis pengetahuan yang mereka kuasai
sekarang ini. Inti dari kompetensi ini adalah kemampuan untuk melaksanakan temuan riset, dan
untuk menggunakan bukti riset untuk menginformasi praktik tersebut.

8. Perjalanan Konselor: Model Pengembangan Kompetensi Konselor

Kategorisasi dan identifikasi keterampilan dan kualitas berhubungan dengan efektivitas


konseling berfokus kepada kompetensi yang di tunjukkan kepada orang orang yang telah
menjadi praktisi. Walaupun demikian, penekanan dalam literature atas pentingnya factor dan
nilai personal dalam area perspektif perkembangandapat pula diaplikasikan kepada pertanyaan
terhadap kompetensi konselor. Banyak konselor yang menemukan makna dalam metafora
“counselor’s journey”, citra yang memungkinkan mereka melacak akar peran konseling mereka,
dan memahami perbedaan daerah serta halangan yang mereka temui di jalan untuk menjadi
seorang perbedaan daerah serta halagan yang mereka temui di jalan untuk menjadi seorang
konselor.

Studi terhadap masalah kecil kehidupan keluarga terapis menemukan sejumlah factor
yang tampaknya memiliki keterkaitan dengan pilihan karir di kemudian hari. Terapis biasanya
datang dari kelompok minoritass, pernah tinggal beberapa waktu di luar negeri, memiliki
orangtua pelarian atau imigran. Sebagaimana yang di nyatakan oleh Henry, banyak terapis pada
kanak kanak nya menerima lebih dari satu rangkaian pengaruh kultural. Sebagai seorang anak,
abanyak terapis pernah mengalamami rasa sakit, kesepian atau duka. Konflik dalam kehidupan
keluarga di laporkan sering terjadi, dengan terapis di posisi sebagai anak menjadi penengah atau
pengganti orang tua. Konsisten dengan peran ini, terapis sering kali melaporkan bahwa mereka
anak yang dominan dalam keluarga.

Tipe pengalaman masa kecil ini dapat dipandang sebagai pencipta kondisi yang
membuatnya memilih karir sebagai seorang terapis. Sebagaimana di tulis Brightman “peran
sebagai konselor itu sendiri dapat membentuk kemunculan kembali situasi sebelumnya dimana
seorang anak yang sensitive dan empatik ditekan untuk memahami dan memerhatikan figure
orangtua.anak yang berada dalam situasi ini tumbuh dengan kebutuhan untuk memperhatikan
oranglain. Sebagai anak yang paling terlibat dalam drama keluarga, dia tidak mampu lari dari
tanggung jawab untuk memperhatikan yang lain. Pengalaman menjadi “orang luar”
menimbulkan motivasi tambahan untuk belajar tentang dan memahami hubungan interaksi.
Sebagaimana yang dicatat Henry, motif untuk perhatian cenderung mengarah kepada karir dalam
layanan sosia;, sedangkan terapi menuntukan ketertarikan yang kuat untuk memahami sisi dalam
dunia klien.
BAB III

PEMBAHASAN

a. Keunggulan
 Buku ini sempurna, menjabarkan materi lengkap tentang kompetensi yang harus di miliki
konselor untuk menangani klien dengan tepat.
 Penerjemahan yang di lakukan secara tepat oleh editor.
 Penjabaran tentang bentuk psikoterapi untuk penanganan kejiwaan konseli.
 Buku inti juga menjabarkan tentang latarbelakang awal terbentuknya profesi terapis.
 Penggunaan bahasa yang lugas sehingga penulis langsung dapat mengerti penjelasan akan
beberapa perkara.
b. Kelemahan
 Menurut saya sebagai penulis buku ini mengandung sedikit sekali kekurangan, hanya
terdapat beberapa kesalahan minor seperti salah penulisan tanda baca, mungkin luput saat
pada proses editing, dan tidak terlalu berarti.
BAB IV

PENUTUP

a. Kesimpulan
Dalam menjadi konselor harus ada beberapa kompetensi yang di kuasai, karena pada awala
konseli datang kepada konselor, dia mengharapkan soslusi yang tepat untuk masalahnya,
sehingga di wajibkan untuk menguasai kompetensi tersebut supaya tidak mengecewakan.

b. Saran

Saran terhadap pembaca supaya lebih menghayati tentang aspek psikologi yang mungkin
tidak di tulis dalam buku ini, sehingga ketika melakukan psikoterapis masalah yang kita kuasai
semakin luas dan dapat menemukan penanganan yang lebih sesuai.