Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberculosis paru adalah suatu penyakit infeksi bersifat menahun yang disebabkan
kuman microbacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.
Saat ini, menurut WHO terdapat 10 – 12 juta penderita TB Paru dan mempunyai
kemampuan untuk menular, dengan angka kematian 3 juta penderita tiap tahun, dan
keadaan tersesebut 75 % terdapat di Negara yang sedang berkembang dengan sosial
ekonomi rendah seperti Indonesia. Menurut survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 1995, menyebutkan bahwa penyakit TBC di Indoensia adalah penyebab kematian
terbesar ke –3 sesudah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan, bahkan
kasus TBC di indonesia menduduki peringkat ke – 3 terbesar didunia sesudah Cina dan
India.(Dye, 1999).
Tingginya angka penderita TBC di Indonesia salah satunya disebabkan karena
penderita TBC tidak menyelesaikan program pengobatan dengan baik serta lalai dalam
mengikuti pengobatan yang telah ditentukan sehingga menyebabkan terjadinya resistensi
kuman tuberkulosis terhadap obat yang diberikan .(Azhar, 1996).
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menekan jumlah penderita
tuberkulosis, diantaranya dengan dicanangkannya Gerakan Terpadu Nasional (Gardunas
TB) oleh Menkes RI pada tanggal 24 Maret 1999, penanggulangan TBC diangkat menjadi
suatu gerakan yang bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah, swasta tetapi juga
masyarakat pada umumnya. Salah satu kegiatan dalam Gardunas TB adalah pelaksanaan
Strategi DOTS (Directly Observed Treatmant Shortcourse) dengan tujuan untuk
menjamin dan mencegah resistensi, keteraturan pengobatan dan mencegah drop out
penderita TBC dengan cara melakukan pengawasan dan pengendalian pengobatan
penderita tuberkulosis. Walaupun pelaksanaan strategi DOTS sudah dilaksanakan tetapi
sampai ini penderita tuberkulosis di Indonesia masih tinggi. Oleh karena itu perlu
dilakukan suatu modifikasi strategi untuk meningkatkan keteraturan berobat penderita
TBC. Peran perawat dalam hal ini juga sangat diharapkan, karena perawat mempunyai
peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, fasilitator, pendidik kesehatan, dan penyuluh
kesehatan.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari TB Paru ?
2. Apa saja penyebab dari penyakit TB Paru ?
3. Apa saja gejala yang timbul dari penyakit TB Paru ?
4. Bagaimana cara mengobati penyakit TB Paru ?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit TB Paru dan Hemoptoe ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari TB Paru.
2. Untuk mengetahui penyebab dari penyakit TB Paru.
3. Untuk mengetahui gejala yang timbul dari penyakit TB Paru.
4. Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit TB Paru.
5. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit TB Paru dan
Hemoptoe.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
Menambah wawasan dan pengalaman untuk melakukan asuhan keperawatan
pada penyakit lain serta menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memberikan
pelayanan kesehatan pada masyarakat nantinya.
1.4.2 Bagi Tenaga Medis
Sebagai masukan dan informasi guna menindaklanjuti hasil dari asuhan
keperawatan sehingga dapat dibuat perencanaan untuk meningkatkan upaya
pencegahan dan pengobatan pada penyakit TB Paru.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil
Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan
bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru
melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus
primer dari ghon. ( Hood Alsagaff, th 1995. hal 73 )
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit infeksius, yang terutama menyerang
parenkim paru. ( Keperawatan Medikal Bedah Vol 1. Hal 584 )
Tuberkolosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru- paru yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberkulosis.

2.2 Ethiologi
 Penyakit TB Paru disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis.
 Lingkungan yang tidak bersih
 Perokok

2.3 Manifestasi Klinik


Gejala dan tanda bermacam-macam atau tanpa keluhan samasekali
1. Demam
Subfebris, kadang mencapai 40 ̊C-41 ̊C. Serangan demam hilang-timbul seperti
demam influenza.
2. Batuk, kadang batuk darah ( hemoptoe )
Terjadi karena iritasi bronkus. Batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) setelah
terjadi peradangan menjadi batuk produktif (ada sputum) lebih lanjut menjadi batuk
darah karena ada pembuluh yang pecah.
3. Sesak nafas
Pada serangan awal belum dirasa sesak nafas, sesak nafas terjadi pada serangan lebih
lanjut dimana infiltrasi sudah setengah bagian paru.

4. Nyeri dada
3
Hal ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila radang sudah sampai ke pleura.
5. Malaise
Sering ditemukan berupa anorexia, berat badan turun, sakit kepala, nyeri otot dan
keringat malam.

2.4 WOC

4
Ludah batuk penderita TB

Mycrobacterium tubercolusis kering terbawa angin

Terhirup masuk saluran napas

Menyerang lewat paru

Infeksi paru

Muncul jaringan parut paru

Kerusakan paru

B1 B2

produksi sekret proses pertukaran produksi leukosit jantung


O2
laju endap darah hipoksia
ketidakefektifan
suplai O2 ke jantung
bersihan jalan jaringan proses pembekuan
napas darah
nyeri dada
sesak napas resiko
pendarahan
resiko tinggi hemoptoe
terhadap kerusakan
pertukaran gas volume darah

Hb

ikatan Hb-O2

5
Kerusakan paru

B3 B4 B5 B6

hipofise infeksi menyebar racun masuk TB tulang


ke ginjal lambung
gangguan termo deformitas
regulasi suhu gagal ginjal akut asam lambung
tubuh mobilitas
ekskresi urin nausea
demam
peningkatan
volume cairan nafsu makan
resiko
output cairan tubuh
nutrisi cidera
dehidrasi
ketidakseimba- berat badan
defisit volume ngan cairan dan
cairan elektrolit
Perubahan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh

2.5 Pemeriksaan Diagnostik

6
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Sputum
Untuk mencari bakteri tahan asam (BTA) dengan pencarian Zeihl Nielsen atau
Tan Tiam Hole untuk memastikan diagnose TB paru, juga untuk identifikasi
sumber penularan, karena sputum yang ditemukan BTA merupakan sumber
penularan. Pemeriksaan ini sangat spesifik namun kurang sensitif karena 30-70%
penderita TB yang dapat didiagnosa berdasarkan pemeriksaan BTA. Dilakukan
pemeriksaan 3 kali berturut-turut selama 3 hari/1 minggu. Sputum pemeriksaan
sebaiknya dilakukan pada pagi hari.
b. Darah
LED (jumlah darah) biasanya meningkat pada proses aktif. Pada LED normal
tidak dapat mengesampingkan proses yang aktif, leukosit bisa normal atau
meningkat. Hb pada penyakit yang kronis dan berat disertai anemia normastik
defisiensi zat besi.
c. Uji Tuberkulin
Biasanya secara Mantoux menyuntikkan IC (intrakutan) (0,1 ml) larutan Old
Tuberculin dalam pengenceran 1:1000 atau 0,1 ml purifecd delvalif (SIW PPD).
Pembacaan dikerjakan 48-72 jam kemudian dengan cara mengukur indurasi yang
timbul. Pengujuran dikerjakan dalam millimeter. Dikatakan positif bila dalam
millimeter menunjukkan melebihi 10 mm dan indurasi 6 mm, bila kurang
dikatakan hasilnya negatif.
2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan foto thorax postro interior (PA) merupakan pemeriksaan radiologi
standar.

2.6 Penatalaksanaan
1. Obat Anti Tuberkulin (OAT)
 Kemampuan bacteriocidal
Kemampuan membunuh sejumlah kuman aktif dengan cepat.
 Kemampuan mencegah timbulnya kuman resisten terhadap obat.
2. Panduan obat OAT
 Panduan pengobatan standar jangka pendek minimal selama 6 bulan:
2 bulan H.R.Z/4 bulan H.R

7
Keterangan : H: Isoniasid (INH), R: Rifampisin, Z: Pirazinamid, E: Ethambutol, S:
Streptomicyn, T: Thioazetazon.
 Panduan standar jangka pendek
Dep. Kes. RI paket A
Berisi kategori : 2 HRZE / 4 H3R3
Selama 2 bulan awal diberikan paduan HRZE tiap hari, selama 4 bulan berikutnya
diberikan paduan H dan R 3 kali seminggu
3. Variasi lain paduan obat jangka pendek :

2 HRZ / 4 , artinya :

2 bulan H, R dan Z tiap hari

4 bulan : INH seminggu 3 kali

: Rifampicin seminggu 3 kali

Pada daerah resisten tinggi


Variasi x 2 EHRZ / 4HR
x 2 SHRZ / 4HR
4. Paduan jangka lebih lama
 2 SHRZ / 6 HT

 2 SHRZ /

 2 SHR / 7 HR
 2 EHR / 7 HR
 9 HR
Bila terjadi relaps sesudah pengobatan jangka pendek, diberikan lagi panduan tersebut
selama jangka waktu 9 bulan dengan pengawasan ketat. Bila terjadi kegagalan
pengobatan, paduan obat diganti, bila perlu dengan test kepekaan.

2.7 Komplikasi
1. Hemoptoe
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial
3. Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
4. Pneumotoraks spontan

8
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

2.8 Asuhan Keperawatan Teori


2.8.1 Pengkajian
a. Pengumpulan data
1). Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal (alamat), pekerjaan,
tanggal MRS, tanggal pengkajian, diagnosa medis.
2). Riwayat penyakit sekarang
Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan penyakit
yang di rasakan saat ini. Dengan adanya sesak napas, batuk, nyeri dada,
keringat malam, nafsu makan menurun dan suhu badan meningkat
mendorong penderita untuk mencari pengonbatan.
3). Riwayat penyakit dahulu
Keadaan atau penyakit – penyakit yang pernah diderita oleh penderita
yang mungkin sehubungan dengan tuberkulosis paru antara lain ISPA
efusi pleura serta tuberkulosis paru yang kembali aktif.
4). Riwayat penyakit keluarga
Mencari diantara anggota keluarga pada tuberkulosis paru yang
menderita penyakit tersebut sehingga diteruskan penularannya.
5). Riwayat psikososial
Pada penderita yang status ekonominya menengah ke bawah dan
sanitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan
pernah punya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis paru yang lain.
b. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang berdesak –
desakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara dan tinggal
dirumah yang sumpek.
2) Pola nutrisi dan metabolik
Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia, nafsu
makan menurun.

9
a. Pola eliminasi
Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam
miksi maupun defekasi.
b. Pola aktivitas dan latihan
Dengan adanya batuk, sesak napas dan nyeri dada akan
menganggu aktivitas.
c. Pola tidur dan istirahat
Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB
paru mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan
istirahat.
d. Pola hubungan dan peran
Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena
penyakit menular.
e. Pola sensori dan kognitif
Daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan
pendengaran) tidak ada gangguan.
f. Pola persepsi dan konsep diri
Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi
dan rasa kawatir klien tentang penyakitnya.
g. Pola reproduksi dan seksual
Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan
berubah karena kelemahan dan nyeri dada.
h. Pola penanggulangan stress
Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan
mengakibatkan stress pada penderita yang bisa mengkibatkan
penolakan terhadap pengobatan.
i. Pola tata nilai dan kepercayaan
Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan
terganggunya aktifitas ibadah klien.
c. Pemeriksaan fisik
Berdasarkan sistem – sistem tubuh
a). Sistem pernapasan
Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai :
Inspeksi : adanya tanda – tanda penarikan paru, diafragma,

10
pergerakan napas yang tertinggal, suara napas
melemah.
Palpasi : Fremitus suara meningkat.
Perkusi : Suara ketok redup.
Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah,
kasar dan yang nyaring
b). Sistem kordiovaskuler
Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi paru-paru yang mengeras.
c). Sistem neurologis
Kesadaran penderita yaitu komposments dengan GCS : 456
d). Sistem gastrointestinal
Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun.
e). Sistem integumen
Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun
f). Sistem pengindraan
Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan
g). Sistem muskuloskeletal
Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan
keadaan sehari – hari yang kurang meyenangkan.
h). Sistem genetalia
Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia

2.8.2 Diagnosa Keperawatan


1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan produksi
sekret yang meningkat.
2. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan
dengan sesak napas.
3. Nyeri dada berhubungan dengan hipoksia jantung.
4. Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan output
cairan.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.
6. Peningkatan resiko cidera berhubungan dengan penurunan
mobilitas.

11
2.8.3 Intervensi

Tujuan dan
No Diagnosa Intervensi Rasional
Kriteria Hasil
1 Ketidak efektifan T : Setelah - Observ - Penur
bersihan jalan dilakukan tindakan asi fungsi pernafasan unan bunyi nafas
napas keperawatan (bunyi nafas, dapat
berhubungan selama 3x24 jam kecepatan, trauma menunjukkan
dengan produksi diharapkan jalan dan penggunaan otot atelektasis,
sekret yang nafas efektif aksesori) menunjukkan
meningkat - Catat akumulasi secret
KH : sekret dapat kemampuan untuk - Pengel
keluar tanpa mengeluarkan sekret, uaran sakit jika
bantuan, sesak catat tentang warna, sekret kental/tebal,
hilang, batuk jumlah dan sekret sputum berdarah
berkurang yang mengandung kental/cerah
darah karena kerusakan
(kovulasi) paru
atau luka bronchial
- Memb
- Berika antu
n posisi semi fowler memaksimalkan
ekspansi paru dan
penurunan upaya
pernafasan
- Anjurk - Memb
an memasukkan antu mencairkan
cairan sedikitnya sekret sehingga
±2500 ml/hari, memudahkan
kecuali ada kontra untuk dikeluarkan
indikasi - Mukol
- Kolabo itik :
rasi sesuai kebutuhan mengukur
pasien kekentalan
- Broko
dilator : peleberan
bronkus/fasodilata
si
- Kortik
osteroid :
mengatasi respon
inflamasi yang
dapat mengancam

12
hidup pasien
- Memb
- Berikan antu melembabkan
terapi inhalansi atau secret agar mudah
minuman hangat. dikeluarkan
2 Resiko tinggi T : setelah - Observ - TB
terhadap dilakukan tindakan asi dispnea, paru menyebabkan
kerusakan keperawatan takipnea, efek luas pada paru,
pertukaran gas selama 1x24 jam menurunnya bunyi dari dispnea ringan
berhubungan sesak napas dapat napas, peningkatan sampai berat
dengan sesak berkurang atau upaya pernapasan. - Menur
napas hilang. - Tingkat unkan konsumsi
KH : pasien tidak kan tirah baring dan oksigen selama
mengeluh sesak bantu aktivitas periode penurunan
napas lagi. perawatan diri sesuai pernapasan dapat
keperluan. menurunkan
beratnya gejala.
- Alat
dalam
- Kolabo memperbaiki
rasi dengan hipoksemia.
menberikan
oksigen tambahan
yg sesuai.
3 Perubahan nutrisi T : setelah - Catat - Untuk
kurang dari dilakukan tindakan status nutrisi mengetahui
kebutuhan tubuh keperawatan pasien, berat badan, perkembangan
berhubungan pasien mampu mual/muntah, status gizi pasien
dengan anoreksia untuk merubah kemampuan
pola hidup untuk menelan
meningkatkan - Pastika - Dapat
status gizinya. n pola diet pasien membantu
KH : BB tidak yang disukai dan memenuhi
mengalami yang tidak disukai keinginan pasien
penurunan, porsi dalam pemenuhan
makan habis. - Dorong nutrisi
makan sedikit dan - Mema
sering dengan ksimalkan masukan
makanan tinggi nutrisi untuk
protein dan memenuhi
karbohidrat kebutuhan tubuh

13
KASUS SEMU

Pada tanggal 1 April 2010 datang seorang laki-laki ( Tn. D ) berusia 54 tahun dengan
keluhan batuk darah. Anamnesa riwayat penyakit sekarang didapatkan Pasien telah
mengalami batuk darah 1 hari sebelum masuk rumah sakit (MRS), dengan frekuensi
<3x/hari, jumlahnya sekitar 1 sendok makan, beserta dahak, berbusa dan berwarna merah
kehitaman bercampur dengan dahak. Pasien juga mengalami rasa sesak saat bernafas dan
nyeri pada daerah dada sejak 2 minggu yang lalu, rasa sesak berkurang jika dahak
dibatukkan. Pasien juga merasakan sering demam sejak 2 minggu yang lalu, dan lebih
sering terjadi pada malam hari tapi pasien tidak melakukan pengobatan. Pasien juga
menyadari adanya penurunan berat badan yang semula 62 kg menjadi 45 kg pada tahun
2008, dan menjadi 38 kg pada tahun 2009.
Anamnesa riwayat penyakit dahulu pasien didiagnosa menderita diabetes melitus pada
tahun 2007 saat periksa di puskesmas, setelah obat dari puskesmas habis pasien tidak
pernah kontrol untuk berobat lagi. Pasien juga tidak pernah menderita sakit paru-paru
sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga didapatkan riwayat kerabat terdekat dengan
penyakit kencing manis, namun tidak ada kerabat maupun tetangga terdekat yang
mempunyai riwayat batuk-batuk lama ataupun penyakit paru-paru. Riwayat kebiasaan
menghisap tembakau selama 34 tahun dengan 1 bungkus/1 hari. Namun telah berhenti
selama 3 bulan terakhir. Olahraga bulutangkis 2 kali seminggu, dahulu dilakukan rutin
namun sekarang tidak. Pasien tinggal di daerah Surabaya yang udaranya panas dan
penduduknya sangat padat serta keadaan lingkungan yang sanitasi kesehatannya kurang
menunjang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, tekanan darah
14
130/70 mmHg, nadi 86 kali/menit, suhu 36,5 0C, pernafasan 20 kali/menit, berat badan 38
kg, tinggi badan 172 cm, status gizi termasuk BB kurang dengan Body Mass Index 12,84
kg/m2. status lokalis kepala, leher, thorax, abdomen, dan ekstrimitas dalam batas normal.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Identitas
Nama : Tn. D
Umur : 54 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMP
Alamat : Jln. Soetomo 14 Surabaya
Tgl. MRS : 1 April 2010
Diagnosa : TB Paru dan Hemoptoe
2. Keluhan Utama
Pasien mengeluh batuk darah dan sesak napas, saat batuk daerah dada terasa
nyeri.
3. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Pasien menderita diabetes melitus sejak 3 tahun yang lalu, pernah berobat ke
puskesmas dan diberi obat. Tetapi setelah obat habis pasien tidak pernah kontrol lagi.
4. Riwayat Penyakit Sekarang
Batuk darah 1 hari sebelum MRS ( tgl. 31 Maret 2010), dengan frekuensi
<3x/hari, jumlahnya sekitar 1 sendok makan, beserta dahak, berbusa dan berwarna
15
merah kehitaman bercampur dengan dahak. Pasien juga mengalami rasa sesak saat
bernafas dan nyeri pada daerah dada sejak 2 minggu yang lalu, rasa sesak berkurang
jika dahak dibatukkan. Pasien juga merasakan sering demam sejak 2 minggu yang
lalu, dan lebih sering terjadi pada malam hari.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Kerabat terdekat ada yang mempunyai penyakit kencing manis, namun tidak ada
istri, anak, kerabat maupun tetangga terdekat yang mempunyai riwayat batuk-batuk
lama ataupun penyakit paru-paru.
6. Riwayat Psikososial
Pasien tinggal di daerah Surabaya yang udaranya panas dan penduduknya sangat
padat serta keadaan lingkungan yang sanitasi kesehatannya kurang menunjang. Status
ekonominya menengah ke bawah.
7. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum
Klien dalam keadaan lemah, klien tidur dalam posisi semi fowler.
- Tanda-Tanda Vital
Suhu 36,5oC pada axilla, nadi 86 x/menit, tidak teratur, tensi : 130/70 mmHg. Lengan
kanan, RR = 20 x/menit, dengan memakai pernapasan perut dan bantuan otot
pernapasan sternokleidomastoid.
- Body System
1. Pernapasan (B1)

Hidung terpasang kanula oksigen 2l/menit


Trachea tidak ada kelainan
Terdapat retraksi dada, batuk darah sedikit-sedikit, napas dangkal.
Suara tambahan terdengar bunyi ronchi.
Bentuk dada simestris.
2. CardioVaskuler (B2)
Dada terasa neyri bila untuk membatukan dahak., palpitasi tidak ada, clubbing
finger tidak ada.
Suara jantung : S1 S2 tunggal.
Edema : tidak ada.
3. Persyarafan (B3)
Kesadaran Compomentis, GCS : 4 - 5 - 6
Wajah : pucat
16
Mata : sklera putih, conjungtiva : pucat, pupil : isokor.
Leher : tak ada kelaianan.
Reflek batuk ada, tapi tidak keras.
Persepsi sensoris :
Pendengaran : normal /dbn.
Penciuman : normal /dbn.
Pengecapan : normal /dbn.
Penglihatan : normal /dbn.
Perabaan : normal /dbn.
4. Perkemihan (B4)
Produksi urine : ± 1500 ml. Tak tentu.
Warna : kuning kecoklatan, bau : Khas.
Tidak ada masalah
5. Pencernaan - Eliminasi Alvi (B5)
Mulut dan tenggorokan : mulut keadaan lembab dan berbau, tenggorokan sakit
saat menelan/nyeri telan.
Abdomen : tak ada kelainan.
Rektum tak ada kelainan, BAB 1x/ hari,
Diet TKTP, Bubur, tiap makan tidak dihabiskan.
6. Tulang - Otot – Integumen (B6)
Kemampuan pergerakan terbatas.
Extrimitas atas dan bawah tidak ada kelainan
Tulang belakang tidak ada kelainan.
Kulit : kuning kecoklatan
Akral dingin basah.
Turgor cukup.
- Pemeriksaan Penunjang
a. Photo thoraks terakhir :
- Infiltrat pada kedua apex paru ka-ki
- Fenting diafragma ka-ki
- Kalsifikasi pada parenkhim paru ka-ki
- Terapi
Injeksi Transamin 3 x 1 amp.
Ampicillin 4 x 1 gr.

17
Codein 3 x 1

3.2 Analisa Data

NO DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH


1 S : Klien mengatakan Kerusakan paru Ketidakefektifan
baru saja batuk darah ± bersihan jalan napas
1/3 gelas besar bercampur
secret yg kental. Produksi sekret meningkat
O : Klien kedaaan posisi
semi fowler, di mulut
masih ada bekas darah, Ketidakefektifan bersihan jalan napas
klien tampak batuk sambil
mengeluarkan darah
bercampur sekret yg
kental.

2 S : Klien mengatakan Kerusakan paru Resiko terhadap


napasnya sesak lagi. gangguan pertukaran
O : Klien tampak gas
napasnya cepat dengan Proses pertukaran O2 menurun
memakai pernapasan
perut (RR = 30 x/menit),
Tampak ada bantuan otot Suplai O2 ke jaringan berkurang
pernapasan
sternokleidomastoid,
Terpasang oksiegen 2 Sesak
l/menit, Posisi klien semi
fowler.
Gangguan pertukaran gas

3 S : klien mengatakan Kerusakan paru Perubahan nutrisi


perut mual dan tidak kurang dari kebutuhan
nafsu makan Toksin masuk lambung tubuh
O : klien hanya makan
setengah porsi, klien Asam lambung meningkat
tampak lemah, kurus dan
pucat. Nausea

Nafsu makan menurun

Nutrisi menurun

18
Berat badan turun

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan
produksi sekret yang meningkat
2. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan
dengan sesak napas
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia

3.4 Intervensi
Tujuan dan
No Diagnosa Intervensi Rasional
Kriteria Hasil
1 Ketidak efektifan T : Setelah - Observ - Penur
bersihan jalan dilakukan tindakan asi fungsi pernafasan unan bunyi nafas
napas keperawatan (bunyi nafas, dapat
berhubungan selama 3x24 jam kecepatan, trauma menunjukkan
dengan produksi diharapkan jalan dan penggunaan otot atelektasis,
sekret yang nafas efektif aksesori) menunjukkan
meningkat - Catat akumulasi secret
KH : sekret dapat kemampuan untuk - Pengel
keluar tanpa mengeluarkan sekret, uaran sakit jika
bantuan, sesak catat tentang warna, sekret kental/tebal,
hilang, batuk jumlah dan sekret sputum berdarah
berkurang yang mengandung kental/cerah
darah karena kerusakan
(kovulasi) paru
atau luka bronchial
- Memb
- Berika antu
n posisi semi fowler memaksimalkan
ekspansi paru dan
penurunan upaya
pernafasan
- Anjurk - Memb
an memasukkan antu mencairkan
cairan sedikitnya sekret sehingga
±2500 ml/hari memudahkan
19
untuk dikeluarkan
- Kolabo - Mukol
rasi sesuai kebutuhan itik :
pasien mengukur
kekentalan
- Broko
dilator : peleberan
bronkus/fasodilata
si
- Kortik
osteroid :
mengatasi respon
inflamasi yang
dapat mengancam
- Berikan hidup pasien
terapi inhalansi atau - Memb
minuman hangat. antu melembabkan
secret agar mudah
dikeluarkan
2 Resiko tinggi T : setelah - Observ - TB
terhadap dilakukan tindakan asi dispnea, paru menyebabkan
kerusakan keperawatan takipnea, efek luas pada paru,
pertukaran gas selama 1x24 jam menurunnya bunyi dari dispnea ringan
berhubungan sesak napas dapat napas, peningkatan sampai berat
dengan sesak berkurang atau upaya pernapasan. - Menur
napas hilang. - Tingkat unkan konsumsi
KH : pasien tidak kan tirah baring dan oksigen selama
mengeluh sesak bantu aktivitas periode penurunan
napas lagi, RR perawatan diri sesuai pernapasan dapat
normal (16- keperluan. menurunkan
20/mnt), pasien beratnya gejala.
tidak memakai - Alat
oksigen tambahan dalam
- Kolabo memperbaiki
rasi dengan hipoksemia.
memberikan
oksigen tambahan
yg sesuai.
3 Perubahan nutrisi T : setelah - Catat - Untuk
kurang dari dilakukan tindakan status nutrisi mengetahui
kebutuhan tubuh keperawatan pasien, berat badan, perkembangan
berhubungan pasien mampu mual/muntah, status gizi pasien
dengan anoreksia untuk merubah kemampuan
pola hidup untuk menelan
meningkatkan - Pastika - Dapat
status gizinya. n pola diet pasien membantu
KH : BB tidak yang disukai dan memenuhi
mengalami yang tidak disukai keinginan pasien
penurunan, porsi dalam pemenuhan
makan habis. - Dorong nutrisi
makan sedikit dan - Mema
20
sering dengan ksimalkan masukan
makanan tinggi nutrisi untuk
protein dan memenuhi
karbohidrat kebutuhan tubuh

3.5 Implementasi

No Diagnosa Implementasi
1 Ketidakefektifan - Mengobservasi fungsi pernafasan (bunyi
bersihan jalan napas nafas, kecepatan, trauma dan penggunaan otot aksesori)
berhubungan dengan - Mencatat kemampuan untuk mengeluarkan
produksi sekret yang sekret, mencatat tentang warna, jumlah dan sekret yang
meningkat mengandung darah
- Memberikan posisi semi fowler
- Kolaborasi pemberian O2 2 l/mnt
- Kolaborasi dengan tim medis
- Memberikan terapi inhalansi
- Memberikan minuman hangat.
2 Resiko tinggi terhadap - Mengobservasi dispnea, takipnea,
kerusakan pertukaran menurunnya bunyi napas, peningkatan upaya
gas berhubungan pernapasan.
dengan sesak napas - Meningkatkan tirah baring dan membantu
aktivitas perawatan diri sesuai keperluan.
- Kolaborasi dengan menberikan oksigen
tambahan yg sesuai ( 2 l/mnt)
3 Perubahan nutrisi - Mencatat status nutrisi pasien, berat badan,
kurang dari kebutuhan mual/muntah, kemampuan menelan
tubuh berhubungan - Memastikan pola diet pasien yang disukai
dengan anoreksia dan yang tidak disukai
- Mendorong makan sedikit dan sering
dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat

3.6 Evaluasi

No Diagnosa Evaluasi
21
1 Ketidakefektifan S : Kien mengatakan sudah tidak batuk darah lagi
bersihan jalan napas O : Klien tampak masih batuk tapi tidak keras dan tidak ada
berhubungan dengan darahnya, hanya sekret, posisi semi fowler.
produksi sekret yang A : Masalah teratasi sebagian
P : Dilanjutkan no. 2, 3,6,7
meningkat
2 Resiko tinggi terhadap S : Klien mengatakan sudah tidak sesak lagi
kerusakan pertukaran O : Napas klien sudah normal, RR : 20x/mnt
gas berhubungan A : Masalah teratasi
dengan sesak napas P : Intervensi dihentikan, kecuali no 3
3 Perubahan nutrisi S : Klien mengatakan masih mual dan tidak napsu makan
kurang dari kebutuhan O : Makan hanya setengah porsi, badan tampak lemas
tubuh berhubungan A : Masalah belum teratasi
dengan anoreksia P : Ulangi intervensi

KESIMPULAN

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil
Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan
bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru
melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus
primer dari ghon.
Penyakit tuberkolusis paru ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis.
Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam, sehingga dikenal sebagai Bakteri
Tahan Asam (BTA). Selain itu, lingkungan rumah yang tidak bersih dan sanitasi untuk
pertukaran udara yang tidak memadai juga dapat menimbulkan penyakit ini, apalagi bagi
seorang perokok. Gejala utama dari penyakit adalah batuk lebih dari 2 minggu dengan atau
tanpa sputum, malaise, demam derajat rendah (subfebris), keluar keringat dingin pada
malam hari, dan bahkan sampai batuk darah.
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan TB paru ini diantara
lain adalah ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan denganproduksi secret yang
meningkat, resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan sesak
napas, nyeri dada berhubungan dengan hipoksia jantung, dan perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

22
DAFTAR PUSTAKA

Doengus, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC


Soeparman, Sarwono Waspadji. 1990. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta:FKUI
Smeltzer, Suzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol I. Jakarta:EGC
Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta:Media Aesculapius
Danang Setiyono. TB Paru. http://masdanang.co.cc/?p=34. 3 Februari 2010. 13:05 WIB
Endonesian Nurse. Asuhan Keperawatan Klien Tubercolusis (TBC).
http://ndonesiannursing.com/2008/05/19/asuhan-keperawatan-klien-tubercolusis-tbc/.
3 Februari 2010. 13:20 WIB.
Riey Wijaya. TB Paru. http://rieywatvha.blogspot.com/2009/03/tb-paru.html. 3 Februari
2010.14.00 WIB

Hilda amalia http://id.scribd.com/doc/111092012/Askep-Tb-Paru

23