Anda di halaman 1dari 3

Meningkatnya Kasus PKPU dalam Kondisi Pandemic COVID-19

Dalam kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk karena adanya pandedmic


COVID-19, para pebisnis dihadapkan kepada ujian besar. Tidak hanya terkendala
dari permintaan saja, namun kemampuan mensupply produk dan logistiknya pun
mengalami penurunan yang drastis. Berdasarkan hal ltersebut, banyak perusahaan
yang terpaksa menutup bisnisnya karena sudah tidak sanggup lagi untuk
mempertahankan kondisi keuangannya.
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pelaporan Peserta (SIPP), pada semester I-
2020, terdapat sebanyak 263 kasus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) dan Petisi Deklarasi Bankrut dari sebuah perusahaan. Bila dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan sebesar 49.43% atau sebanyak 87
kasus dari jumlah sebelumnya sebanyak 176 kasus.

Bankruptcy and Suspension of Obligations for Payment of Debt Case in


First Semester 2019 & 2020
60
52
48 49 48
50
41
40 35
32
30 28 28 26 27
25

20

10

0
Jan Feb Mar Apr May Jun

2019 2020

Selama enam bulan terakhir, terjadi kenaikan kasus yang terdaftar sebanyak
49,43% dari jumlah di tahun sebelumnya dengan interval kenaikan dari 22%
hingga 48%. Terdapat beberapa bulan yang mengalami kenikan kasus yang sangat
signifikan yaitu pada bulan February, May, dan June. Hal tersebut disebabkan
karena adanya penetapan regulasi dari pemerintah mengenai PSBB untuk
mengurangi penyebaran COVID-19.
Bankruptcy and Suspension of Obligations for Payment of
Debt in First Semester 2020
38

225

Bankruptcy and Suspension of Obligations for Payment of Debt


Petition for Declaration of Bankruptcy

Berdasarkan jenis klasifikasinya, sebanyak 225 kasus termasuk kedalam klasifikasi


“Bankruptcy and Suspension of Obligations for Payment of Debt” dan 38 kasus
termasuk kedalam klasifikasi “Petition for Declaration of Bankruptcy”.

Dari total kasus tersebut, kasus


Based on Area
terbanyak berasal dari wilayah yang
ditangani oleh SIPP Jakarta Pusat
yaitu sebesar 68% dari total kasus.
SIPP
Medan Sedangkan sisanya, berasal dari
30%
wilayah SIPP Surabaya (14%), SIPP
SIPP SIPP
Makassar Surabaya Semarang (11%), SIPP Medan ( 6%),
5% 65%
dan SIPP Makassar (1%).
Melihat bahwa DKI Jakarta merupakan
pusat bisnis Indonesia dimana
SIPP Surabaya SIPP Makassar SIPP Medan
persaingan bisnisnya sangat ketat
menyebabkan peluang yang besar
bagi para pelaku usaha untuk mengalami kebangkrutan dikala kondisi pandemic
COVID-19 ini.
Sectors frequency Portion
Property 67 25%
Construction 35 13%
Personal Case 29 11%
Financial Services 16 6%
Mining 10 4%
IT 7 3%
Steel Industry 5 2%
Trading 5 2%
Other (48 sectors <=1%) 89 34%
Total 263 100%

Pada semester pertama tahun 2020, kasus dengan jumlah tertinggi berasal dari sektor properti dan
konstruksi yaitu sebesar 38% dari total kasus. Bukan hanya karena bisnisnya yang tidak menentu dan
sebagian besar dimonopoli oleh pemain besar, dampak dari pandemic COVID-19 yang muncul mulai
awal tahun 2020 menyebabkan sektor tersebut menjadi sangat rentan. Seperti yang telah diketahui,
perusahaan yang bergerak di sektor properti dan konstruksi sangat rentan dengan hubungan sosial dan
kontak fisik antara sesama pekerja. Dengan adanya regulasi terkait human distancing dan work from
home perusahaan tersebut Terpaksa untuk menghentikan semua operationalnya dan tidak memiliki
masukan sama sekali. Selain itu, anggaran negara yang tadinya akan digunakan untuk project
pembangunan digunakan sebagai dana talang untuk mengatasi pandemic yang terjadi sehingga project
pembangunan di tahun 2020 ini terhenti dan tidak adanya lahan bagi perusahaan untuk memperoleh
pemasukan.
Terdapat sebanyak 16 kasus PKPU atau sebesar 6% dari total kasus PKPU yang terdaftar di SIPP. Melihat
buruknya potensi perkembangan bisnis dalam kondisi pandemic ini menyebabkan perusahaan jasa
keuangan dengan pondasi yang kurang kuat kehilangan banyak investor yang menyebabkan
terganggunya kondisi financial mereka. Banyak dari perusahaan tersebut yang hingga saat ini membatasi
jasanya guna mengantisipasi resiko yang cukup tinggi dalam kondisi pandemic saat ini. Potensi
pertumbuhan sektor tersebut yang di tahun sebelumnya sangat baik saat ini tertahan.
Selain sektor tersebut ada beberapa sektor lainnya seperti mining, IT, Steel, dan trading yang juga
terganggu secara operational karena dampak dari pandemic tersebut.