Anda di halaman 1dari 65

CRITICAL BOOK REVIEW

MK. TEORI DAN SEJARAH SASTRA

PRODI S1 PEND.BAHASA & SASTRA


INDONESIA (FBS)

Skor Nilai:

TEORI DAN SEJARAH SASTRA

ANGGOTA KELOMPOK : - ABDI THOMAS ROBERTO SINAGA

- MELISSA ARTA ANASTASYA TAMBUNAN

- YOHANA LOISA SIMANGUNSONG

- DINA PEBRIANI SIMANGUNSONG

DOSEN PENGAMPU : ELLY PRIHASTY,S.Pd.,M.Pd

MATA KULIAH : TEORI DAN SEJARAH SASTRA

PRODI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA & DAERAH

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat selesai. Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan
tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Sejarah Sastra ini dapat
memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

pematangsiantar, januari 2021

kelompok 5

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii

DAFTAR ISI............................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Rasionalisasi Pentingnya CBR .................................................................. 1

1.2 Rumusan masalah .......................................................................................... 1

1.3 Tujuan ................................................................................................................ 2

1.4 Manfaat ............................................................................................................. 2

1.5 Identitas Buku ................................................................................................. 2

BAB II RINGKASAN ISI BUKU

2.1 BUKU UTAMA .................................................................................................. 4

2.2 BUKU PEMBANDING..................................................................................... 29

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pembahasan isi buku ................................................................................... 59

3.2 Kelebihan dan Kekurangan Buku ........................................................... 60

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 62

4.2 saran .................................................................................................................. 62

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Rasionalisasi Pentingnya CBR

Critical book adalah hasil perbandingan tentang suatu topik materi yang umum di
perkuliahan,terhadap buku yang berbeda.Critical book bertujuan untuk mengetahui isi buku serta
melakukan evaluasi mengenai kelebihan dan kelemahan buku.Hal yang menarik dari buku
tersebut dapat mempengaruhi cara berpikir dan pemahaman pembaca.

Setiap buku yang ditulis oleh penulis pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.Oleh
karena itu,kelayakan suatu buku dapat diketahui dengan cara meresensi terhadap buku tersebut
dengan melakukan perbandingan terhadap buku lainnya.Materi yang akan dikritik berguna untuk
mengetahui apa-apa saja yang terkait dengan komponen-komponen pembelajaran.Diharapkan
dengan adanya laporan CBR ini,mahasiswa dapat menambah pemahaman tentang materi ini dan
mampu berpikir lebih kritis maupun sistematis,sehingga untuk kedepannya mahasiswa sebagai
calon guru dapat mengaplikasikan materi di lapangan atau setelah menjadi guru.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang,penulis membatasi materi yang akan saya
kritik,antara lain :

1. Apa dan bagaimana isi struktur buku tersebut?


2. Bagaimana intisari atau ringkasan buku tersebut?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan buku tersebut?

1
1.3 Tujuan

1. Penyelesaian salah satu tugas dalam kurikulum KKNI yaitu Critical Book Review
2. Menambah wawasan tentang sejarah sastra
3. Meningkatkan kemampuan diri dalam mengkritisi informasi dalam sebuah buku.
4. Menguatkan kemampuan dalam menganalisis kesalahan dan kelebihan dalam sebuah
buku.

1.4 Manfaat

2. Untuk mengetahui isi ringkasan buku yang berjudul “ sejarah satra”


3. Untuk melatih dalam berfikir kritis mencari informasi yang diberikan oleh setiap bab dari
buku pertama dan buku kedua.
4. Untuk mengetahui perbedaan isi kedua buku tersebut
5. Mendorong penulis untuk meningkatkan kualitas karnyanya.

1.5 Identitas Buku

❖ BUKU PERTAMA

Judul Buku : Sejarah Sastra Indonesia


Pengarang : Rosida Erowati, M.Hum dan Ahmad Bahtiar, M.Hum
Penerbit : UIN Syarif Hidayatullah
Tahun terbit : 2011
Jumlah halaman : x + 211 halaman

❖ BUKU KEDUA

Penulis : Muhri, S.Pd., M.A.


Cetakan I : Juli 2014
Cetakan II : Oktober 2015
Cetakan III : Oktober 2016
ISBN : 978-602-71483-0-7

2
Diterbitkan oleh : Yayasan Arraudlah Bangkalan
Redaksi : jalan dusun tebbanah 100, Langkap, Burneh Bangkalan,
Jatim

3
BAB II
RINGKASAN BUKU

2.1 Buku utama

BAB 1 “HAKIKAT SEJARAH SASTRA”

A. PENGERTIAN SEJARAH SASTRA

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa sejarah adalah kejadian dan
peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Itu sebabnya menyajikan sejarah
merupakan upaya untuk menyampaikan apa yang terjadi di masa lampau. Pergantian
generasi yang terjadi terus menerus menjadikan upaya menyajikan sejarah menjadi
aktivitas yang sangat menarik dan penuh kepentingan. Jika sejarah merepresentasikan
realitas, bisa jadi apa yang kita paham tentang suatu peristiwa berbeda dari versi umum
yang dirilis oleh pemerintah, atau versi resmi.

Berikut beberapa pengertian sejarah sastra :


1. Luxemburg, dalam Pengantar Ilmu Sastra menjelaskan bahwa sejarah sastra ialah
Ilmu yang membahas periode-periode kesusastraan, aliran-aliran, jenis-jenis,
Pengarang-pengarang dan reaksi pembaca.

2. Zulfanur Z.F. Dan Sayuti Kurnia,


Sejarah Sastra ialah ilmu yang mempelajari perkembangan Sejarah suatu bangsa daerah,
kebudayaan, jenis karya sastra, dan lain-lain

Sejarah sastra, dengan demikian, merupakan pengetahuan yang mencakup


Uraian deskriptif tentang fungsi sastra dalam masyarakat, riwayat para sastrawan,
Riwayat pendidikan sastra, sejarah munculnya genre-genre sastra, kritik, Perbandingan
gaya, dan perkembangan kesusastraan.

4
B. FUNGSI SEJARAH SASTRA

Sejarah sastra dapat digunakan untuk penelitian sastra secara khusus, dan budaya
secara umum. Dengan sejarah sastra juga kita dapat mengetahui persoalan-persoalan
yang timbul dalam kesusastraan selama ini. Persoalan sastra yang erat kaitannya dengan
perubahan zaman dan gejolak sosial politik yang secara teoretis dipercaya besar
pengaruhnya terhadap warna kehidupan sastra. Karena pada dasarnya peristiwa-peristiwa
kesusastraan selalu ada kaitannya dengan peristiwa sosial politik yang terjadi pada suatu
bangsa. Peristiwa sosial politik tidak hanya pijakan penulisan sejarah sastra tetapi
menjadi bahan penulisan atau latar sebuah karya sastra.

Melalui sejarah sastra para pengarang dapat melihat jelas dan menghayati karya-
karya pengarang sebelumnya baik sifat-sifat maupun coraknya sehingga dapat
menciptakan karya sastra baru dengan melanjutkan atau menyimpangi konvensi-konvensi
karya sebelumnya. Hal itu sesuai kata A. Teeuw, “bahwa karya Sastra selalu
merupakan ketegangan antara konvensi dan pembaharunya”. Pengarang dapat
merespon atau menanggapi karya sebelumnya dengan menciptakan karya-karya yang
disesuaikan dengan konteks zaman atau periodenya.

C. KEDUDUKAN DAN CAKUPAN SEJARAH SASTRA


Sejarah sastra mempunyai cakupan yang luas dan kompleks, meliputi sejarah
sastra sebuah bangsa atau nasional. Pengertian nasional ditandai dengan batas suatu
negara. Jadi, sejarah sastra Amerika dan Inggris walaupun sama-sama menggunakan
bahasa Inggris, adalah dua hal yang berbeda. Sejarah sastra sebuah Bangsa yang lainnya
mencakup , sejarah sastra Indonesia, Cina, Jepang, Mesir dan-Lain. Sejarah sastra suatu
daerah mencakup berbagai sastra yang hadir di Nusantara seperti sastra Sunda, Jawa,
Bali, Aceh, Lombok, dan Bugis. Sejarah sastra Daerah apabila dikaitkan dengan
kebudayaan nasional merupakan unsur Kebudayaan yang memperkuat dan memperkaya
kebudayaan nasional. Ciri yang Muncul pada sastra daerah adalah penggunaan bahasa
daerah.

5
Sejarah sastra suatu kebudayaan seperti sejarah sastra klasik, romantik, dan
Renaisannce. Sejarah sastra suatu kebudayaan berlangsung pada sejarah sastra di Barat
yang pengaruhnya terasa juga dalam perkembangan sastra Indonesia. Pengarang-
pengarang yang karyanya diterbitkan Balai Pustaka dan muncul pada Majalah Pujangga
Baru umumnya bercorak romantisme.
Sedangkan cakupan sejarah sastra lainnya ialah sejarah sastra jenis karya Sastra
meliputi sejarah perkembangan puisi, novel, drama, esai dan lain-lain. Beberapa
penulisan tentang sejarah sastra berdasarkan jenis karya sastra Diantara-Nya
Perkembangan Novel-novel Indonesia oleh Umar Junus (1974)¸ Perkembangan Puisi
Indonesia dan Melayu Modern oleh Umar Junus (1984), Perkembangan Teater Modern
dan Sastra Drama Indonesia oleh Jacob Sumardjo (1997), Analisis Struktur Novel
Indonesia Modern 1930 – 1939 (1998) oleh Putri Minerva Mutiara dkk., Analis Struktur
Cerita Pendek dalam Majalah 1930 – 1934: Studi Kasus Majalah Panji Pustaka, Pujangga
Baru, dan Mestika Romans (1999) oleh Atisah dkk, Antologi cerpen periode Awal (2000)
oleh Erlis Nur Mujingsih dkk., Antologi Puisi Indonesia periode Awal (2000) oleh
Suyono Suyatno, Cerpen-cerpen Pujangga Baru (2006) oleh Maria Josephine Mantik,
Kesuastraan Melayu Rendah (2004) oleh Jacob Sumardjo, dan Novel-novel Indonesia
Tradisi Balai Pustaka 1920-1942 (2002) oleh Faruk.

D. PANDANGAN-PANDANGAN DALAM PENULISAN SEJARAH SASTRA


Sejarah sastra dapat ditulis berdasarkan berbagai perspektif. Yudiono K.S Merujuk
artikel Sapardi Djoko Damono “Beberapa Catatan tentang Penulisan Sejarah Sastra”
(tahun 2000), bahwa penulisan sejarah sastra Indonesia dapat Didasarkan pada
perkembangan stilistik, tematik, ketokohan, atau konteks sosial, Yang semuanya
merupakan sarana menempatkan sastra sedemikian rupa sehingga Memiliki makna bagi
masyarakatnya, terkait dengan berbagai permasalahan yang Dihadapi oleh
masyarakatnya.
Sebuah kajian sastra misalnya dapat berangkat dari persoalan proses kreatif, Atau
persoalan distribusi, atau proses publikasi suatu karya, bahkan tanggapan Pembaca
terhadap karya tersebut. Novel semacam Siti Nurbaya karya Marah Rusli Menjadi
penting disebutkan dalam sejarah sastra Indonesia karena telah 20 kali Cetak, sehingga

6
dapat dipermasalahkan berapa tiras setiap kali terbit, berapa Royaltinya, siapa ahli
warisnya, apakah terjadi perubahan teks, dan bagaimana Sambutan pembaca.
Namun, pengajaran sastra juga dapat dijadikan salah satu aspek sejarah Sastra.
Bagaimanapun menuliskan sejarah sastra dari perspektif pengajaran sastra Akan
menunjukkan bahwa sastra merupakan bidang ilmu yang terus berkembang, Mengikuti
perkembangan mutakhir dalam bidang tersebut.

E. PROBLEMATIKA PENULISAN SEJARAH SASTRA


Penulisan sejarah sastra sanggatlah rumit dan kompleks. Hal itu disebabkan Karena
batasan atau pengertian sastra Indonesia sangat kabur. Banyak pendapat Dari berbagai
pakar beserta argumen-argumennya yang menjelaskan awal dari Sastra Indonesia. Hal itu
menyebabkan titik tolak awal perkembangan Kesuastraan Indonesia pun berbeda pula.
Perbedaan tersebut juga dalam memandang Setiap peristiwa atau persoalan yang
kaitannya dengan kehidupan sastra.
Penelitian Ersnt Ulrich Kratz mencatat 27.078 judul karya sastra dalam majalah
berbahasa Indonesia yang Terbit tahun 1922 -1982 (dalam Bibliografi Karya Sastra
Indonesia yang terbit di Koran dan majalah). Pamusuk Eneste mencatat dalam Bibliografi
Sastra Indonesia Terdapat 466 judul buku novel, 348 judul kumpulan cerpen, 315 judul
buku drama, Dan 810 judul buku puisi.
Sedangkan A. Teeuw mencatat, selama hampir 50 tahun (1918-1967), Kesusastraan
modern Indonesia asli hanya ada 175 penulis dengan sekitar 400 Buah karya. Kalau
dihitung sampai tahun 1979, sebanyak 284 penulis dan 770 Buah karya. Hal di atas
belum termasuk karya yang tersebar di koran, majalah, Lebih-lebih yang terbit pada masa
silam.
Kesulitan lainya ialah objek sastra selain karya sastra yang berupa jenis-Jenis
(genre) sastra : puisi, prosa dan drama juga meliputi objek-objek lain yang Sangat luas
meliputi pengarang, penerbit, pembaca, pengajaran, apresiasi, esai, Dan penelitian.

7
BAB 2 “KELAHIRAN DAN PERIODE SASTRA INDONESIA”

A. Pengertian Sastra Indonesia

Pengertian tersebut dapat dirumuskan Bahwa Sastra Indonesia ialah sastra berbahasa
Indonesia yang sudah berkembang Abad ke-20 sebagaimana tampak penerbitan pers
(surat kabar dan majalah) dan Buku, baik dari usaha swasta maupun pemerintah kolonial.
Dengan demikian Penulisan Sejarah Kesusastraan Indonesia pada buku ini tidak dimulai
oleh Penerbitan-penerbitan Balai Pustaka tetapi ditarik mundur ke tahun 1850-an Sejak
hadirnya karya-karya para aktivis pergerakan nasional yang dikenal dengan Bacaan liar
dan penulis para Tionghoa yang dikenal Sastra Indonesia Tionghoa Atau sastra Melayu
Tionghoa

B. Beberapa Pendapat Kelahiran Sastra Indonesia


a. Umar Junus
Dalam majalah Medan Ilmu Pengetahuan (1960). Ia Berpendapat bahwa :
sastra ada sesudah bahasa ada. “ Sastra X baru ada setelah Bahasa X ada, yang
berarti bahwa sastra Indonesia baru ada setelah bahasa Indonesia ada,”
katanya. Dan karena bahasa Indonesia baru ada tahun 1928 (dengan adanya
Sumpah Pemuda), maka Umar Junus pun berpendapat bahwa “Sastra
Indonesia baru ada sejak 28 Oktober 1928”.
Dengan dasar pemikiran itu, Umar Junus membagi sastra Indonesia dengan
a) Pra Pujangga Baru atau Pra Angkatan ’33 (1928-1933),
b) Pujangga Baru angkatan ’33 (1933 – 1945),
c) Angkatan ’45, dan seterusnya
b. Ajip Rosidi
Tahun 1922 adalah lahirnya kesusastraan Indonesia dengan alasan :
Ajip memilih tahun 1920/1921 bukan karena pada tahun itu terbit Azab dan
Sengsara maupun Siti Nurbaya melainkan karena pada tahun itu para pemuda
Indonesia (Muhammad Yamin, Mohammad Hatta, Sanusi Pane, dan lain-lain)
Mengumumkan sajak-sajak mereka yang bercorak kebangsaan dalam majalah
Jong Sumatra (diterbitkan oleh organisasi Jong Sumatra). “Apabila buku Azab

8
dan Sengsara dan Siti Nurbaya dianggap bersesuaian dengan sifat nasional,
(hal yang Patut kita mengerti mengingat yang menerbitkannya pun adalah
Balai Pustaka, Organ pemerintah kolonial), tidaklah demikian halnya dengan
sajak-sajak buah Tangan para penyair yang saya sebut tadi. Sifatnya tegas
berbeda dengan Umumnya hasil sastra Melayu, baik isi maupun bentuknya.
Puisi lirik bertemakan Tanah air dan bangsa yang sedang dijajah adalah hal
yang tidak biasa kita jumpai Dalam khazanah kesusastraan Melayu”, demikian
Ajip. Dan Ajip memilih tahun 1922 karena pada tahun itu terbit kumpulan
sajak Muhammad Yamin yang berjudul Tanah Air. Kumpulan sajak ini pun,
menurut Ajip, Mencerminkan corak/semangat kebangsaan, yaitu tidak
ada/tampak pada Pengarang-pengarang sebelumnya.
c. A. Teeuw
Teeuw berpendapat bahwa kesusastraan Indonesia Modern lahir sekitar
tahun 1920. Alasan Teeuw adalah :
“Pada ketika itulah para pemuda Indonesia untuk pertama kali mulai
Menyatakan perasaan dan ide yang pada dasarnya berbeda dengan Perasaan
dan ide yang pada dasarnya berbeda daripada perasaan dan ide Yang terdapat
dalam masyarakat setempat yang tradisional dan mulai Demikian dalam
bentuk-bentuk sastra yang pada pokoknya menyimpang dari Bentuk-bentuk
sastra Melayu, Jawa, dan sastra lainnya yang lebih tua, baik Lisan maupun
tulisan.
d. Slamet Mulyana
Slamet Mulyana melihat kelahiran Kesusastraan Indonesia dari sudut lain.
Beliau melihat dari sudut lahirnya sebuah negara Indonesia adalah sebuah
negara Di antara banyak negara di dunia. Bangsa Indonesia merdeka tahun
1945. Pada Masa itu lahirlah negara baru di muka bumi ini yang bebas dari
jajahan Belanda, Yaitu negara Republik Indonesia. Secara resmi pula bahasa
Indonesia Digunakan/diakui sebagai bahasa nasional, bahkan dikukuhkan
dalam UUD 45 Sebagai undang-undang dasar negara. Karena itu Kesusastraan
Indonesia baru ada Pada masa kemerdekaan setelah mempunyai bahasa yang

9
resmi sebagai bahasa Negara. Kesusastraan sebelum kemerdekaan adalah
Kesusastraan Melayu, belum Kesusastraan Indonesia.
e. Sarjana Belanda
Hooykass dan Drewes, dua peneliti Belanda menganggap bahwa Sastra
Indonesia merupakan kelanjutan dari Sastra Melayu (Meleise
Literatur).Perubahan “Het Maleis” menjadi “de bahasa Indonesia” hannyalah
perubahan nama Termasuknya sastranya. Dengan demikian Kesusastraan
Indonesia sudah mulai Sejak Kesuastraan Melayu. Karena itu pengarang
Melayu seperti Hamzah Fansuri, Radja Ali Haji, Abdullah bin Abdul Kadir
Munsyi, Nurrudin Ar-Raniri, beserta Karya Sastra Melayu seperti Hang Tuah,
Sejarah Melayu Bustanussalatina, Tajusalatin, dan lain-lain adalah bagian dari
Kesusastraan Indonesia.

C. Beberapa Pendapat Periodisasi Sastra


Menurut Renne Wekel pembabakan ialah bagian waktu yang dikuasai oleh Sistem
norma-norma sastra, dan konvensi-konvensi sastra, yang munculnya, Meluasnya,
keberbagaian, integrasi, dan lenyapnya dapat dirunut.
Tujuan periode sastra adalah untuk memudahkan pengembangan sejarah Sastra,
selain itu periode sastra menjadi penting untuk penciptaan karya sastra Baru oleh
sastrawan. Para sastrawan dapat melihat cakrawala sastra dari lahirnya Hingga
sekarang dengan jelas. Mereka akan dapat melihat dan menghayati sifat-sifat atau
ciri-ciri di setiap periode atau masa angkatan. Dengan demikian mereka Akan selalu
menciptakan karya sastra yang baru yang menyimpang dari ciri-ciri Sastra yang telah
ada, baik dalam ekspresi seni, konsep seni, struktur estetiknya, Maupun dalam bidang
masalahnya, pandangan hidup, filsafat, pemikiran dan Perasaannya.
Berdasarkah hal-hal tersebut, maka penulisan sejarah sastra Indonesia dalam Buku
sejarah sastra ini membagi periode sebagai berikut:

a. Periode 1850 – 1933


b. Periode 1933 – 1942
c. Periode 1942 – 1945

10
d. Periode 1945 – 1961
e. Periode 1961 – 1971
f. Periode 1971 – 1998
g. periode 1998 – Sekarang

D. Karakteristik Periode Sastra Indonesia


a. Periode 1850 – 1933
Karya sastra yang banyak ditulis adalah roman yang beralur lurus, gaya
Bahasanya mempergunakan perumpamaan klise dan peribahasa-peribahasa,
tapi Menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, banyak digresi, bercorak
romantis, Dan didaktis
b. Periode 1933 – 1942
Karya sastra yang banyak ditulis adalah puisi, selain drama, cerpen, roman
Yang beraliran romantik, puisi jenis baru dan soneta. Puisi-puisi tersebut
Menggunakan kata-kata nan indah, bahasa perbandingan, gaya sajaknya
diafan Dan polos, rima merupakan sarana kepuitisan.
c. Periode 1942 – 1945
Periode ini ditandai dengan banyaknya karya propaganda dan sarat dengan
Politik Jepang. Untuk mempengaruhi rakyat Indonesia membantu Jepang
dalam Perang Asia Raya, pemerintah melalui Balai Pustaka (Keimen Bunka
Shidosho) Menerbitkan karya-karya baik novel, puisi, dan cerpen yang
kebaikan dan Keunggulan Jepang. Selain itu Jepang menggunakan sandiwara
sebagai media Proganda.
d. Periode 1945 – 1961
Puisi, cerpen, novel, dan drama berkembang pesat dengan mengetengahkan
Masalah kemanusiaan umum atau humanisme universal, hak-hak asasi
manusia (karena dampak perang), dengan gaya realitas bahkan sinis ironis,
disampingi mengekspresikan kehidupan batin/kejiwaan, dengan mengenakan
filsafat
Ekstensialisme.
e. Periode 1961 – 1971

11
Periode selain maraknya karya-karya populer juga banyaknya bentuk
Eksperimentasi sastra dalam sastra. Dalam karya puisi memunculkan 4 jenis
gaya Puisi yaitu mantra, puisi imajisme, puisi lugu, dan puisi lirik. Masalah
yang Diangkat dalam puisi mempersoalkan masalah sosial, kemiskinan,
pengangguran, Jurang kaya dan miskin, menggunakan cerita-cerita dan
kepercayaan rakyat dalam Balada. Prosanya umumnya menggambarkan
kehidupan sehari-hari yang kental Dengan warna daerah dan pedesaan.
f. Periode 1998 – Sekarang

BAB 3 SASTRA INDONESIA PERIODE 1850 – 1933

A . Sastra Melayu Tionghoa

Literatur golongan Tionghoa peranakan dimulai oleh Liem Kim Hok yang memulai kariernya
dengan menulis Siti Akbari, yang menceritakan Penyebaran agama Hindu di Hindia. Dalam
sejarah pers di Hindia ia pernah Menyusun aturan bahasa “Melayu Betawi” yang terbit tahun
1891. Kemudian Disusul oleh Nio Joe Lan yang menyadur Hikayat Sultan Ibrahim, yang
Mengisahkan penyebaran agama Islam di Hindia. Karya yang lebih maju dari Golongan
Tionghoa peranakan ditulis oleh Liem Koen Hian dengan judul Ni Hoe Kong Kapitein Tionghoa
di Betawi dalem Tahoen 1740 terbit tahun 1912. Tulisan Ini menggambarkan peristiwa
pembunuhan orang-orang Cina pada tahun 1740.

Kisah-kisah dalam Karya Sastra Melayu-Tionghoa menggambarkan Pergulatan mencari identitas


dan pengakuan yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia. Tampak pula keragaman dalam
masyarakat Tionghoa yang berorientasi Ke tanah leluhur, memuja kolonialisme Belanda atau
berusaha menjadi orang Indonesia. Sebuah fakta lagi yang menguak betapa heterogennya
masyarakat Tionghoa di Indonesia, dimana sering disamaratakan dengan stereotipe tertentu.

B. Bacaan Liar

Marco Kartodikromo adalah orang yang paling produktif dalam Menghasilkan “bacaan liar”, dan
akan menjadi salah satu fokus penulisan ini. Karya-karya yang dikenal adalah Mata Gelap, yang
terdiri dari tiga jilid yang Diterbitkan di Bandung pada tahun 1914; Student Hidjo diterbitkan

12
tahun 1918; Matahariah diterbitkan tahun 1919; Rasa Mardika diterbitkan tahun 1918, Kemudian
dicetak ulang tahun 1931 di Surakarta. Marco juga menerbitkan Sekumpulan syair, Sair rempah-
rempah terbit di Semarang pada tahun 1918 dan Syair Sama Rasa Sama Rata terbit di surat kabar
Pantjaran Warta tahun 1917. Kemudian Babad Tanah Djawi yang dimuat di jurnal Hidoep tahun
1924-1925.

C. Sastra Koran

Peran penting berkaitan dengan perkembangan sastra surat kabar dilakukan Tiga jurnalis yakni,
F.H. Wiggers, H. Kommer dan F. Pangemanan. Dua orang Pertama dari golongan peranakan
Eropa dan yang terakhir kelahiran Menado. Ketiga orang ini yang mendorong dan mengarahkan
penulisan-penulisan cerita Asli dengan latar belakang sejarah Indonesia. Mereka menulis dengan
lancar dalam Melayu pasar dan karya-karya mereka dapat diterima baik di kalangan Indo
Maupun Tionghoa peranakan. Tetapi di antara ketiga orang tersebut yang paling Produktif
(menerbitkan tiga tulisan) adalah F. Wiggers; di samping itu dia juga Menerjemahkan berbagai
buku perundang-undangan resmi ke dalam bahasa Melayu, membantu Liem Kim Hok dalam
menerjemahkan karya Michael Strogoff, Le Comte de Monte Cristo. Terjemahan paling penting
yang ia buat adalah karya Melati van Java’s (nama pena Nicolina Maria Christina Sloots yang
hidup dari 1853-1927, seorang wanita Belanda yang banyak menulis tentang kehidupan Hindia
semasa penjajahan Belanda), Van Slaaf Tot Vorst. Ceritera ini merupakan Sebuah rekonstruksi
imajinatif dari legenda Surapati yang dibumbui dengan Mengacu pada keris suci dan _djampe-
djampe_ dan alur cerita penuh dengan intrik Dan romantika dalam keluarga kerajaan.

E.Balai Pustaka

Balai Pustaka bekerja sebagai badan pelaksana politik etis pemerintah Jajahan, pemupuk
amtenarisme, atau pegawaisme yang patuh dan Melaksanakan peranan pengimbangan lektur
antikolonial dan nasionalistik. Yang dimaksud dengan sastra Balai Pustaka adalah hasil
mengemukakan Konsepsi politik etis pemerintah jajahan, pemupuk amtenarisme dan
Pegawaisme yang patuh

Didirikan mulai tahun 1908, serta kemudian diperluas pada tahun 1917, pekerjaan Balai Pustaka
sebenarnya barulah produktif sesudah tahun 1920-An. Pada zaman itu Balai Pustaka
menghasilkan bermacam, buku, majalah dan Almanak. Buku-buku populer yang terbit meliputi

13
kesehatan, pertanian, Peternakan, budi pikiri, sejarah, adat dan lain-lain. Majalah yang
diterbitkan Balai Pustaka adalah Sri Pustaka yang kemudian bernama Panji Pustaka berbahasa
Melayu (1923), Kejawen berbahasa Jawa (1926), dan Parahyangan berbahasa Sunda (1929).
Tiras penerbitan Panji Pustaka pernah mencapai 7.000 eksemplar, Kejawen 5.000 eksemplar, dan
Parahyangan 2.500. Almanak yang Diterbitkan Balai Pustaka adalah Volksalmanak, Almanak
Tani, dan Almanak Guru.

BAB 4 SASTRA INDONESIA PERIODE 1933 – 1942

A.Pujangga Baru

Mei 1933 Sutan Takdir Alisyahabana menerbitkan Majalah Pujangga Baru. Tujuan pendiriannya
adalah Untuk menubuhkan kesusastraan baru yang sesuai semangat zamannya dan
Mempersatukan para sastrawan dalam satu wadah karena sebelumnya boleh Dikatakan cerai
berai dengan menulis di berbagai majalah

Berdirinya majalah Pujangga Baru merupakan bukti kebutuhan masyarakat Pada zaman itu akan
suatu media publikasi yang menampung dan membahas Tentang sastra dan kebudayaan.
Awalnya majalah tersebut di cetak oleh percetakan Kolf milik A. Dahleer, seorang Belanda.
Kemudian Sutan Takdir Alisyahbana Menerbitkan Beberapa pengarang yang aktif menulis
melalui Pujangga Baru yang karya-

Karya muncul pada tahun 30-an dan awal tahun 40-an di antaranya Sutan Takdir Alisyahbana
Tak Putus dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam, (1932), Tebaran Mega
(1935), Layar Terkembang (1937), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Puisi Lama
(1941), Puisi Baru (1946), Pelangi (1946), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta
Azzura (1970 dan 1971), Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977), Lagu
Pemacu Ombak(1978), Amir Hamzah Sebagai Penyair dan Uraian Sajak Nyanyi Sunyi (1978),
Kalah Dan Menang (1978). Karyanya yang lain : Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia(1936),
Pembimbing ke Filsafat (1946), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957),
The Indonesian Langguage and literature (1962), Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di
Indonesia (1966), Values as Integrating Forces in Personality, Society and Culture (1974), The
Failure of Modern Linguistik. Adapun terjemahannya ialah : Nelayan di Laut Utara (Karya Piere

14
Lotti) dan Nikudan Korban Manusia (Karya Tadayosih Sakurai; terjemahan bersama Soebadio
Sastrotomo, 1944).

Beberapa pengarang yang aktif menulis melalui Pujangga Baru yang karya-karya muncul pada
tahun 30-an dan awal tahun 40-an di antaranya Sutan Takdir Alisyahbana Tak Putus dirundung
Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam, (1932), Tebaran Mega (1935), Layar
Terkembang (1937), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Puisi Lama (1941), Puisi Baru
(1946), Pelangi (1946), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta Azzura (1970 dan
1971), Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977), Lagu Pemacu
Ombak(1978), Amir Hamzah Sebagai Penyair dan Uraian Sajak Nyanyi Sunyi (1978), Kalah
Dan Menang (1978). Karyanya yang lain : Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia(1936),
Pembimbing ke Filsafat (1946), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957),
The Indonesian Langguage and literature (1962), Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di
Indonesia (1966), Values as Integrating Forces in Personality, Society and Culture (1974), The
Failure of Modern Linguistik. Adapun terjemahannya ialah : Nelayan di Laut Utara (Karya Piere
Lotti) dan Nikudan Korban Manusia (Karya Tadayosih Sakurai; terjemahan bersama Soebadio
Sastrotomo, 1944).

B. Polemik Kebudayaan

Polemik terjadi dalam tiga Tahap. Pertama, terjadi dalam Pujangga Baru Bintang Timur dan
Suara Umum(Agustus–September 1935) antara Alisjahbana, Sanusi Pane dan Poerbatjaraka.
Kedua, dalam Pujangga Baru, Suara Umum, Pewarta Deli, dan Wasita (Oktober 1935–April
1936) antara Alisjahbana, Dr. Sutomo, Tjindarbumi, Dr. M. Amir, Adinegoro, dan Ki Hadjar
Dewantara. Ketiga, terjadi dalam Pujangga Baru dan Pewarta Deli (Juni 1939) antara
Alisjahbana dan Dr. M. Amir.

Secara ringkas, perdebatan itu berkisar pada gagasan Alisjahbana yang Begitu mengagungkan
dan memberi penghargaan tinggi pada kebudayaan Barat, Sebaliknya ia tidak memberi tempat
pada kebudayaan Indonesia di masa lalu. Terlepas dari soal setuju atau tidak setuju pada gagasan
itu, Alisjahbana yang Memicu terjadinya pemikiran akan pentingnya merumuskan kebudayaan
Indonesia.

15
Titik berat pada persoalan kebudayaan dan sosial, makin tampak dalam usia Pujangga Baru
memasuki tahun keempat (Juli 1936). Sub judulnya juga diganti Menjadi: “pembimbing
semangat baru dan dinamis untuk membentuk Kebudayaan baru, ke-kebudayaan persatuan
Indonesia.” Dalam pengantarnya, juga Dinyatakan adanya pergeseran perhatian: “Dari majallah
yang terutama Mementingkan kesusastraan perlahan pujangga baru menjadikan Kakinya di
lapangan kebudayaan bangsa kita… kebudayaan persatuan Indonesia.” Dan kembali, sedikitnya
lima artikel Alisjahbana melanjutkan gagasannya Mengenai “Menuju Masyarakat dan
Kebudayaan Baru.”

BAB 5 SASTRA INDONESIA PERIODE 1942 – 1945

A .Masa Pendudukan Jepang

Pada awal Maret 1942, Jepang mendarat di Pulau Jawa. Setelah itu dimulailah Pemerintahan
Jepang di Indonesia. Jepang datang ke Indonesia dengan cara yang Simpatik seolah-olah
membebaskan dari penjajahan Belanda. Gerakan 3 A : Jepang Pemimpin Asia; Jepang pelindung
Asian; dan Jepang cahaya Asia merupakan slogan Jepang untuk mendapatkan penerimaan yang
baik dari rakyat Indonesia. Jepang Dengan semboyan 3 A Kedatangan Jepang pada awalnya
diterima dengan baik Karena dianggap membebaskan Indonesia dari cengkeraman Belanda.

Situasi dunia kesusastraan zaman pendudukan Jepang memiliki ciri khas, Baik dari segi isi
masalahnya maupun jenis penulisan karya sastranya. Jepang Menuntut hasil kesusastraan yang
mendorong cita-cita peperangan dan Menunjang kepentingan pemerintah. Tuntutan ini
mengundang setuju dan tidak Setuju di kalangan pengarang sendiri. Situasi itu ternyata turut
mewarnai wajah Karya sastra. Karya sastra yang mendukung Jepang jelas akan memperoleh
Kesempatan publikasi, sebaliknya yang nadanya menolak pasti akan Disingkirkan

Pengarang-pengarang yang muncul pada masa itu adalah Rosihan Anwar, Chairil Anwar, B.H.
Lubis, Nursyamsu, Anas Ma’ruf, Maria Amin, Bung Usman, El Hakim, Bakri Siregar, M. S.
Ashar, Amal Hazah dan Kotot Sukardi. Beberapa nama tersebut menjadi catatan penting dalam
perjalanan kesusastraan Indonesia.

Lembaga yang besar pengaruhnya terhadap kesusastraan pada masa itu ialah Keimin Bunka
Shidosho atau Kantor Pusat Kebudayaan yang didirikan oleh Pemerintahan pendudukan Jepang

16
untuk memobilisasi potensi seniman Budayawan sebagai pendukung kepentingan Jepang dalam
Perang Asia Timur Raya. Pada mula ajak itu mendapat sambutan baik dari kalangan seniman
karena Jepang menjanjikan kemerdekaan.

B. Sastra Propaganda

Pada bulan Agustus 1942 Pemerintah Jepang mendirikan sebuah badan Bertugas mengurus
kegiatan propaganda Jepang yang diberi nama Sendenbu. Lembaga ini berusaha membangun
citra pemerintah Jepang melalui berbagai cara Termasuk mempropagandakan kebijaksanaan
pemerintah Jepang. Lembaga ini Kemudian mendirikan Barisan Propaganda yang anggotanya
terdiri budayawan, Wartawan, dan seniman. Kegiatan lainnya yang dilaksanakan Barisan
Propaganda ini adalah Mendirikan Surat Kabar Indonesia Raya yang berisi pesan pemerintah,
berita Perang, dan iklan kebudayaan. Surat kabar yang hanya berisi empat halaman ini Terbit
setiap hari kecuali hari libur dan minggu.

Sebagai media yang penting dalam Proganda Jepang mendirikan bagian Sandiwara dalam Pusat
Kebudayaan Jepang (Keimen Bunka Shidosho). Hal ini Menyebabkan kehidupan sandiwara
semarak dengan banyaknya pembaharuan Baik dalam penulisan naskah maupun pementasan.
Salah satu peran penting Dalam pembaharuan tersebut adalah Usmar Ismail dengan menulis
lakon “Liburan Seniman” dan “Api’. Sedangkan El Hakim atau Dr. Abu Hanifah, yang juga
kakak Usmar Ismail menulis “Taufan di Atas Asia” , “Intelek Istimewa”, “Dewi Reni”, dan
“Insan Kamil”.

Banyak sastrawan yang menulis karya sastra untuk tujuan propaganda Beberapa sastrawan
memiliki sikap pentingnya kejujuran dan keikhlasan dalam Berkarya Mereka lebih menekankan
pentingnya seni untuk seni, bukan untuk Tujuan propaganda. Hal ini bisa terlihat pada artikel-
artikel yang mereka tulis. Tulisan “Seni Oentoek Seni karangan Soebrata Arya Mataram,
“Kesuastraan’ Karya Amal Hamzah, “Bahasa dan Sastra” karya B. Rangkuti, “Kesenian Kita di
Masa yang Datang” dan “Peperangan di Medan Keboedayaan” keduanya karya Darmawidjaya.

17
BAB 6 SASTRA INDONESIA PERIODE 1945 – 1961

A .Gelanggang Seniman Merdeka

Nama Chairil Anwar mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun 1943. Ia Dikenal sebagai
penyair muda yang memperkenalkan gagasan baru dalam puisi. Karena sifatnya yang invidual
dan bercorak ke Barat, ia banyak mengejek seniman-Seniman di kantor pusat kebudayaan pada
zaman Jepang. Chairil Anwar lahir di Medan (Sumatera Utara) 26 Juli 1922, ). Sejak kecil ia
Sudah menampakkan diri sebagai siswa yang cerdas dan berbakat menulis serta Menguasai tiga
bahasa asing yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman secara aktif. Dan Kelak, penguasanya terhadap
tiga bahasa asing itulah yang mengantarkan Chairil Pada karya-karya sastrawan dunia sebagai
referensi yang berhasil disadur dan Diterjemahkan

Tiga kumpulan puisi Chairil, yaitu Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam Dan Yang
Terempas Putus (1949), atau Tiga Menguak Takdir (1950) — kumpulan Puisi bertiga dengan
Asrul Sani dan Rivai Apin — merupakan sejumlah puisi yang Selama bertahun-tahun hidup dan
memompakan antusiasme dalam sejarah sastra Indonesia, sekaligus referensi, yang telah
memasuki lubuk teks dunia pendidikan Dan bidang kajian penelitian sastra.

Pertengahan 1942 atas usaha Chairil Anwar bertemulah sejumlah seniman Antara lain Asrul
Sani, Baharudin, Basuki Resobowo, Henk Ngantung, Rivai Avin, M. Akbar Djuhana, Mochtar
Apin, dan M. Balfas, untuk merealisasikan pendirian Perkumpulan kebudayaan (kunstrkring)
Gelanggang Seniman Merdeka. Pada 19 November 1946, lahirlah preambul Gelanggang.
Perkumpulan ini kemudian Mengklaim diri sebagai Generasi Gelanggang dan memiliki rubrik
“Gelanggang” di Majalah Siasat yang dipimpin Rosihan Anwar. Dalam preambul Anggaran
dasarnya Itu, dinyatakan bahwa Generasi Gelanggang lahir dari pergolakan roh dan pikiran Yang
mencipta manusia Indonesia yang hidup.

B. Lembaga Kebudayaan Rakyat

Lembaga Kebudayaan Rakyat atau dikenal dengan Lekra didirikan atas Inisiatif D.N. Aidit,
Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta pada tanggal 17 Agustus1950, enam bulan setelah
diumumkan “Surat Kepercayaan Gelanggang” yang Berpandangan humanisme Universal.
Sekretaris Jendral pertama (1950-1959) Adalah A.S. Dharta Lekra memiliki beberapa seksi,

18
yaitu seksi : sastra, seni rupa, Seni suara, seni drama, film, filsafat, dan Olahraga. Pada
mukadimah kelahiran, Tegas-tegas disebutkan menganut paham Realialisme Sosial atau paham
“seni Untuk rakyat”

Menyadari, bahwa rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan dan Bahwa pembangunan
kebudayaan Indonesia baru hanya dapat dilakukan oleh Rakyat, maka pada hari 17 Agustus 1950
didirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat, Disingkat Lekra. Pendirian ini terjadi di tengah-tengah
proses perkembangan Kebudayaan yang sebagai hasil keseluruhan daya upaya manusia secara
sadar Untuk memenuhi, setinggi-tingginya kebutuhan hidup lahir dan batin, senantiasa Maju
dengan tiada putus-putusnya.

Lekra bekerja khusus di lapangan kebudayaan, dan untuk masa ini terutama Di lapangan
kesenian dan ilmu. Lekra menghimpun tenaga dan kegiatan seniman-Seniman, sarjana-sarjana
pekerja-pekerja kebudayaan lainnya. Lekra membantah Pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa
terlepas dari masyarakat. Lekra mengajak Pekerja-pekerja kebudayaan untuk dengan sadar
mengabdikan daya cipta, bakar Serta keahlian mereka guna kemajuan Indonesian, kemerdekaan
Indonesia, Pembaruan Indonesia.

C. Krisis Sastra

Pada bulan April 1952 di Jakarta diselenggarakan sebuah simposium tentang “Kesulitan-
kesulitan Zaman Peralihan Sekarang” dalam simposium itu dilontarkan Istilah “Krisis Akhlak”,
“Krisis Ekonomi” dan berbagai krisis lainnya. Tahun 1953 di Amsterdam diselenggarakan
simposium tentang kesusastraan Indonesia antara Lain berbicara dalam simposium itu Asrul
Sani, Sultan Takdir Ali Sjahbana, Prof. Dr. Werthim dan lain-lain. Disinilah untuk pertama kali
dibicarakan tentang “Impasse (kemacetan) dan “krisis sastra Indonesia” sebagai akibat dari
gagalnya revolusi Indonesia, tetapi persoalan tentang krisis baru menjadi bahan pembicaraan
yang Ramai ketika terbit majalah konfrontasi pada pertengahan tahun 1954. Nomor Pertama
majalah ini memuat essay Soejatmako berjudul “Mengapa konfrontasi” Dalam karangan ini
secara tandas dikatakan oleh penulisnya bahwa sastra Penulisnya sedang mengalami krisis.

Sitor Situmorang dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Krisis” H.B Jassin Dalam majalah
Mimbar Indonesia mengemukakan pendapatnya bahwa yang ada Bukanlah krisis sastra

19
melainkan krisis ukuran menilai sastra. Sitor berkesimpulan Bahwa krisis yang terjadi ialah
krisis dalam diri Jassin sendiri karena ukurannya Tidak matang.

D .Majalah Kisah

Salah satu alasan yang mengemukakan adanya “Krisis Sastra” adalah karena Sedikitnya jumlah
buku yang terbit. Hal ini disebabkan karena kesulitan yang Dialami oleh beberapa penerbitan.
Tidak hanya penerbitan yang sudah lama, Seperti Balai Pustaka tetapi juga penerbitan-penerbitan
lain diantara-Nya Pustaka Rakyat, Pembangunan, Tintamas dan lain-lainnya. Perubahan status
yang berkali-Kali, pergantian pimpinan yang tidak mengusai bidangnya, adalah permasalahan
Yang dihadapi Balai Pustaka pada waktu selain kekurangan keuangan. Menghadapi hal tersebut
maka pengarang lebih banyak menulis di majalah-Majalah Siasat, Zenith, Mimbar Indonesia dan
lain-lain. Karena keterbatasan ruang Maka majalah hanya memuat sajak, cerpen, dan karangan-
karangan lain yang tidak Begitu panjang.

Diantara berbagai majalah yang muncul pada waktu itu ialah majalah Kisah. Majalah ini menjadi
penting karena merupakan majalah sastra yang Mengutamakan cerpen. Majalah ini diterbitkan
oleh Soedjati S.A. dengan redaksi M. Balfas, Idrus, dan H.B. Jassin. Majalah ini memuat para
pengarang muda, Pembahasan cerita pendek, sajak, esai, dan lain-lain. Sejak 1955, majalah ini
Menambah rubrik khusus bernama “Persada” untuk sajak dan esai dengan redaksi Khusus
Ramadhan K.H. dan Nugroho Notosusanto.

Setelah berhenti beberapa tahun beberapa pengarang mencoba Menghidupkan lagi majalah Kisah
dengan nama baru yaitu, Sastra pada Mei 1961. Bertindak sebagak Ketua Redaksi H.B. Jassin
dibantu oleh D.S. Moelyanto dan M.Balfas sebagai anggota redaksi. Seperti hal majalah Kisah,
Sastra juga lebih banyak Memuat cerpen dibandingkan puisi, kritik, dan esai. Beberapa penulis
cerpen yang Mengisi majalah ini ialah B. Soelarto, Bur Rasuanto, A. Bastari Asmin, Satyagraha
Hoerip Soeprobo, Kamal Hamzah, Ras Siregar, Sori Siregar, Gerson Poyk, B. Jass Dan lain-lain.
Sedangkan penyair yang sering muncul karya-karyanya di majalah Ini adalah Isma Sawitri,
Goenawan Muhamad, M. Saribi AFN, Popy Hutagalung, Budiman Hartojo, Arifin C. Noer,
Sapardi Djojo Damono dan lain-lain. Sedangkan Yang mengisi kritik dan esai Arief Budiman,
D.A. Peransi, Boen Oemarjati, M.S. Hutagalung, Virga Gelam, Salim Said dan beberapa orang

20
lainnya. Namun, karena situasi politik yang tidak menguntungkan akhir pada Maret 1964
majalah tersebut menghentikan penerbitannya.

BAB 7 SASTRA INDONESIA PERIODE 1961 -1971


A .Manifestasi Kebudayaan
Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963. Naskah Manifes Kebudayaan dibuat oleh Wiratmo
Soekito dimuat pertama kali dalam ruang Kebudayaan harian Berita Republik, 19 Oktober 1963,
dan majalah Sastra, nomor 9/10, September /Oktober 1963.

Para penandatanganan Manifes Kebudayaan di Jakarta adalah Wiratmo Soekito, H.B Jassin,
Trisno Sumardjo, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Bokor Hutasuhut, Bur Rasuanto, Zaini,
Djufri Tanissan, A. Bastari Asni, Boen S. Oemarjati, Purnawarman Tjondronagoro, Sjawhwil,
D.S. Moeljanto, Ras Siregar, Taufiq Ismail, M. Saribi Afn., Binsar Sitompul, dan Hartojo
Andangdjaja

Setelah Manifes Kebudayaan diumumkan melalui media massa, pendukung Manifes


Kebudayaan muncul di pelbagai kota. Beberapa dukungan muncul berupa Pernyataan
masyarakat kebudayaan di Palembang seperti Badan Pembina Teater Nasional Indonesia,
Lembaga Seni Sastra Palembang, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia, Teater
Muslim Wilayah Palembang, Himpunan Seni Budaya Islam, Ikatan Pencinta Seni, Himpunan
Bekas Pelajaran Quranikah, dan Pelajar Seniman Indonesia. Dukungan lain berasal dari DPP
Ikatan Sarjana Pancasila, 39 orang Seniman Yogyakarta (Rusli, F.X Soetopo, Dick Hartoko,
Amri Jahjam Adjib Hamzah, Andre Hardjana, Sapardi Djoko Damono, Darmato Jatman, Dan
lain-lain), Sastrawan dan Seniman Medan, 38 Seniman Bandung (Kaboel, A.D. Pirous, Gandjar
Sakri, Sanento Yuliman, Imam Boechori, Souw Tjoan Sin, dan lain-lain). Diperkirakan sekitar
seribuan orang sastrawan, seniman, budayawan, di Seluruh Indonesia ikut menandatangani
Manifes Kebudayaan

Mula-mula kelompok Lekra tidak begitu merisaukan kehadiran Manifes Kebudayaan. Akan
tetapi, ketika kelompok manifes Kebudayaan akan menggelar Konferensi Karyawan Pengarang
se-Indonesia (KKPI) di Jakarta pada Maret 1964 Dan menghasilkan Persatuan Karyawan
Pengarang (PKPI), maka Lekra dan Simpatisannya pun mulai melancarkan serangan.

21
Karena didesak terus oleh pendukungnya dan simpatisan Manifes Kebudayaan, akhirnya
Wiratno Soekito menyerah dan bersedia mengubah Manifes Kebudayaan itu. Namun, sebelum
Wiratno menyatakan kesediaannya, Bung Karno sudah melarang Manifes Kebudayaan pada
tanggal 08 Mei 1964, Dengan alasan “karena Manifestasi Politik Republik sebagai pancaran
Pancasila Telah menjadi Garis Besar Haluan Negara dan tidak mungkin didampingi dengan
Manifesto lain, apalagi kalau Manifesto lain itu menunjukkan sikap ragu-ragu Terhadap Revolusi
dan memberi kesan berdiri di sampingnya”.

Atas nama pendukung Manifes Kebudayaan, 10 Mei 1964 H.B. Jassin, Wiratmo Soekito, dan
Trisno Sumardjo mengirim kawat kepada Presiden Soekarno Yang menyatakan “mematuhi
larangan tersebut”. Dan atas nama pendukung Manifestasi Kebudayaan di seluruh Indonesia 19
Mei 1964 mereka sekali lagi Mengirim kawat meminta maaf dan mengharapkan petunjuk kepada
Presiden Soekarno. Namun, hal itu tidak sedikit pun mengubah keadaan, bahkan menjadi
Semakin buruk. Pelarangan Manifes Kebudayaan kemudian disusul dengan peristiwa yang
Memojokkan pelaku Manifes Kebudayaan. H.B. Jassin dan Boen Oemarjati yang Keduanya
mengajar di Fakultas Sastra UI harus mengundur diri dari kampus Tersebut. Majalah sastra,
penerbitan yang menyuarakan Manifestasi Kebudayaan Akhirnya berhenti karena situasi politik
yang tidak menguntungkan. Akibat Terbesar dari pelarangan Manifes Kebudayaan adalah
pelarangan buku Pengarang-pengarang yang ikut menandatangani manifes tersebut.

B. Majalah Horizon

Kehidupan politik selama tahun 1964, 1965, dan awal tahun 1966 Berpengaruh terhadap
kehidupan kesusastraan. Kesusastraan Indonesia kurang Menggembirakan . Buku-buku sastra
jarang terbit. Majalah kebudayaan terutama Sastra, tempat pengarang menyebarkan hasil
karyanya juga tidak terbit (kecuali Majalah basis di Yogyakarta).Angin segar mulai bertiup
kembali dengan terbitnya majalah sastra Horison Pada Majalah ini terbit pada 1 Mei 1966.
Pengasuh malah ini terdiri dari Mochtar Lubis (penanggung jawab), H. B. Jassin, Zaini, Taufiq
Ismail, Arief Budiman, dan D.S. Moeljanto. Majalah ini merupakan kekuatan baru atau baru
dalam kesusastraan Indonesia. Kreativitas para seniman dan sastrawan yang selama ini
terbungkam Mendapat penyaluran dalam majalah ini. Kesusastraan Indonesia seolah-olah hidup
Kembali

22
Artikel penting pada awal penerbitan Horison adalah Deklarasi Angkatan 66 Oleh H.B. Jassin
yang dimuat Horison Nomor 2 Agustus 1966, dengan judul “Angkatan 66: Bangkitnya Satu
Generasi” dan kemudian merupakan pengantar Antologi prosa dan puisi berjudul Angkatan 66:
Prosa dan Puisi yang disusun oleh H.B. Jassin. Gagasan tersebut menjadi polemik karena istilah
angkatan dalam Sejarah sastra Indonesia masih menjadi polemik yang panjang. Beberapa penulis
Buku sejarah sastra seperti Ajip Rosidi, Rahmat Djoko Pradopo, dan Yudiono K.S Lebih
memilih istilah periodisasi.

Untuk memperluas cakupannya Horison membuat sisipan Kaki langit, Lembaran khusus untuk
siswa Sekolah Menengah Umum, Madrasah Aliyah, dan Pesantren Seluruh Indonesia sejak
November 1996. Hal ini dilakukan sebagai Bentuk kepedulian para redaksi terhadap pelajaran
sastra di sekolah. Bentuk Kepedulian para redaksi ialah menyelenggarakan Pelatihan Membaca,
Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) yang bekerja dengan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Pelatihan ini mendatangkan para sastrawan untuk mengajarkan Sastra kepada guru-
guru sekolah menengah. Tujuan kegiatannya ini agar guru Dapat menerapkan cara pandang baru
pengajaran sastra yang asyik, gembira dan Mencerahkan. Guru juga dapat menumbuhkan
kecintaan siswa membaca buku Dalam bidang apapun yang secara awal ditumbuhkan melalui
kecintaan membaca Karya sastra.

BAB 8 SASTRA INDONESIA PERIODE 1971 – 1998

A . Sastra Eksperimentasi

Bentuk Eksperimentasi karya sastra di Indonesia di awali lahirnya puisi Mbeling. Pada mulanya
adalah nama ruangan puisi dalam majalah aktual terbitan Bandung (1972-1978). Kemudian,
puisi-puisi yang dimuat dalam ruangan tersebut Di namai juga puisi mbeling. Mbeling sendiri
menurut redaksi majalah aktual ialah “sikap nakal yang punya aturan” sedangkan tujuan
memunculkan puisi-puisi Seperti ini ialah untuk menggugah nilai-nilai yang bokek—nilai seni
kaum tua yang Terlalu dijelimetkan dengan teori-teori yang sudah tidak cocok, kaku.

Penganjur utama puisi Mbeling adalah Remi Silado, pengarang yang nama Aslinya adalah Jopi
Tamboyong yang merupakan pengasuh rubrik puisi di majalah Aktuil. Nama sebenarnya adalah
Yapi Panda Abdiel Tambayong atau Japi Tambayong

23
Salah satu ciri khas puisi mbeling ialah adanya unsur kelakar dan humor. Dalam kehidupan ini
dua unsur ini merupakan unsur penting untuk menciptakan Suasana yang akrab dan santai. Dan
seperti kehidupan sehari-hari kadang kelakar Dan humor menjurus ke soal-soal seks. Hal itu bisa
kita lihat pada puisi Remy Sylado.

BELAJAR MENGHARGAI HAK ASASI KAWAN

Jika

Laki mahasiswa

Ya perempuan mahasiswi

Jika laki saudara

Ya perempuan saudari

Jika laki pemuda

Ya perempuan pemudi

Jika laki putra

Ya perempuan putri

Jika laki kawan

Ya perempuan kawin

Jika laki kawan

Ya perempuan kawin

Jika kawan kawin

Ya jangan mengintip.

Eksperimentasi dalam jenis karya sastra lain seperti cerpen terasa pada di Kurun 70an. Inilah
kurun dimana gairah untuk melakukan “Eksperimentasi” terasa Menyala-nyala. Kehadiran

24
majalah Horison, menjadi signifikan di sini. “Eksperimentasi” para penulis yang banyak
dipublikasikan lewat Horison itu Mengarah pada tiga hal

Pertama, pada upaya menemukan bentuk “gaya (ber)-bahasa”. Dimana “gaya Bahasa” menjadi
sentrum penceritaannya, hingga bahasa-lah yang kemudian Membentuk setiap anasir cerita.

Kedua, upaya untuk menemukan bentuk-bentuk teknik penceritaan, Menyangkut penokohan dan
struktur/alur cerita, dimana efek-efek dramatik cerita Kemudian banyak dihasilkan memalui
teknik-teknik penceritaan itu. Kita bisa Melihat teknik repetisi penceritaan pada cerpen Sukri
Membawa Pisau Belati Hamsad Rangkuti atau pada cerpen “Garong” Taufik Ismail.

Ketiga, pada upaya untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk “tipografi Penceritaan”, dimana


elemen-elemen visual dari huruf, tanda baca sangat Mempengaruhi struktur penulisan cerita, dan
bagaimana cerita itu “ditampilkan Secara visual periode yang begitu semangat melakukan
“Eksperimentasi”. Dengan

Para eksponen seperti Dananto, Budi Darma, Putu Wijaya, sampai Hamid Jabbar, Yudhistira Adi
Nugraha, Kurniawan Junaedi, Eddy D. Iskandar, Joko Sulistyo, Ristata Siradt, juga Arswendo
Atmowiloto yang mengembangkan “cerpen-cerpen dinding”-nya. Struktur dan bentuk-bentuk
tipografi yang “aneh”, Seperti dimungkinkan hadir karena ruang “Eksperimentasi” diberikan
oleh media Yang menyertai pertumbuhannya

B. Sastra Akademik/Fakultas Sastra

Kalangan akademik atau kritikus akademik di hasilkan oleh fakultas-fakultas Sastra yang pada
awal dekade 1970 masih belum populer. Saat itu hanya ada Fakultas Sastra UI yang berada
Rawamangun yang sempat mempopuler istilah Aliran Rawangun dengan tokohnya M. Saleh
Saad, Lukman Ali, S. Effendi, M.S. Hutagalung. Kemudian Fakultas Sasra UGM yang terletak di
Bulaksumur, Yogyakarta dan Fakultas Sastra Universitas Pejajaran di Jalan Dipati Ukur,
Bandung

Setelah itu muncul fakultas-fakultas sastra yang lain seperti Fakultas Sastra Universitas Sumatera
Utara (USU) Medan, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang,
Fakultas Sastra Udayana (Unud) Denpasar, Fakultas Sastra Universitas Jember, dan Fakultas
Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Namun, perkembangan fakultas sastra di

25
berbagai universitas di Indonesia Sangat lamban dibandikan fakultas-fakultas lainnya. Hal
tersebut disebabkan Selain minimnya fasiltas gedung, buku-buku Literatur, tenaga pengajar dan
minat Mahasiswa juga karena perhatian pemerintah yang kurang terhadap masalah-Masalah
kebudayaan khususnya sastra. Beberapa upaya dilakukan untuk meningkat kualitas Sumber Daya
Manusia Terutama dosen-dosen dengan kursus, pelatihan, penataran, penerbitan, dan
Sebagainya. Penataran yang dilaksanakan diantara-Nya ialah Penataran Metode Pengajaran
Sastra di Fakultas Sastra Indonesia pada Februari 1976 yang diikuti Dosen-dosen dari USU,
Unpad, Undip, dan Unsrat. Kemudian penataran yang Dilaksanakan Pusat Bahasa dan ILDEP di
Tugu, Bogor pada September – November 1978. Para penatarnya diantara-Nya A. Teeuw
(Belanda, S.O. Robson (Australia), Dan Boen S. Oemarjati (Indonesia).

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pada pengajar yang juga Adalah sarjana
sastra maka dibentuklah Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI). Organisasi ini juga
bertujuan menjalin komunikasi para Sarjana kesusastraan dan mengembangkan Ilmu Sastra di
Indonesia. HISKI Digagas pada suatu penataran di Tugu, Bogor pada November 1984.
Kemudian Dirumuskan anggaran dasarnya pada 3 Februari 1987 oleh Sapardi Djoko Damono,
Zulfa Hanum, Ali Imron, M. Nurdin Matry, Muhadi, Prayitno, Liberty P. Sihombing, Budaya
Pradipta, dan Mukhsin Ahmad. Terpilih sebagai Ketua Umum Pertama Adalah Sapardi Djoko
Damono. Kegiatan HISKI yang diselenggarakan secara rutin Adalah Pertemuan Ilmiah Nasional
(Pilnas). Pilnas pertama dilaksanakan di Jakarta Februari 1987. Selanjutnya Pilnas dilaksanakan
tiap tahun di beberapa kota secara Bergiliran.

BAB 9 SASTRA INDONESIA PERIODE 1998 – SEKARANG

A .Perempuan Pengarang Kontemporer

Periode ini dicirikan dengan bermunculan para penulis muda banyak yang Bebas mengeksplorasi
bahasa dan tak terkungkung menabukan seks. Pengarang Wanita tersebut salah satunya Djenar
Mahesa Ayu. Dengan karyanya Mereka Bilang, Saya Monyet. Kumpulan cerita pendek (cerpen)
Yang memuat 11 cerpen ditulis Djenar pada 2001-2002. Sedangkan novel Pertamanya adalah
Nayla (2005) yang mengangkat secara ringan berbagai Persoalan penyimpangan seks. Kemudian
kumpulan cerpen Jangan Main-main Dengan Kelaminmu (2004) yang juga mengangkat
persoalan seks. Pengarang lainnya ialah Ayu Utami dengan novel Saman yang meraih

26
Penghargaan Dewan Kesenian Jakarta 1997 dan dicetak ulang 22 kali. Novel ini Pada awalnya
direncanakan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu Utami, Laila Tak Mampir di New York.
Saman (1998) mengambil seting Indonesia tahun 80-an Dan 90-an, di mana para tokohnya saling
berinteraksi di tengah kondisi sosial, Politik dan budaya Indonesia pada masa itu. Tokoh
utamanya adalah Saman (seorang mantan pastur yang bernama Athanasius Wisanggeni) dan
empat Perempuan yang bersahabat dari SMP sampai mereka dewasa, yaitu Yasmin Moningka,
Shakuntala, Cokorda, dan Laila. Novel kedua Ayu adalah Larung (2001) Juga merupakan novel
penting dalam sastra Indonesia

Selain pengarang-pengarang tersebut masih ada pengarang-pengarang wanita Lainnya seperti


Maya Wulan (Membaca Perempuanku, 2002), Intan Paramudhita (Sihir Perempuan, 2005),
Nukila Amal (Laluba, 2005), Weka Gunawan (Merpati di Trafalgar Square, 2004), Labibah Zain
(Addicted to Weblog: Kisah Perempuan Maya, 2005), Ucu Agustin (Kanakar, 2005), Evi Idawati
(Malam Perkawinan, 2005). Mereka berpeluang mengikuti jejak seniornya, Nh Dini, Titis
Basino, Leila S. Chudori, Ratna Indrswari Ibrahim atau Abidah el-Khalieqy.

B. Sastra Cyber

Penggunaan istilah sastra cyber sendiri menyatakan jenis medium yang Dipakai: medium cyber,
persis sama halnya dengan istilah sastra koran, sastra Majalah, sastra buku, sastra
fotocopyan/stensilan, sastra radio, sastra dinding, dan Sebagainya. Jadi, semua tulisan sastra
yang dipublikasikan melalui medium cyber disebut sastra cyber. Dengan berkembangnya dunia
internet berlomba-lomba tidak hanya individu Baik yang sudah ternama maupun yang belum
memuat karyanya ke dalam Beberapa situs, blog atau milis sastra.

Situs sastra yang menjadi awal sastra cyber di Indonesia adalah Cybersastra.com. Situs yang
dikelola oleh Masyarakat Sastra Internet (MSI) dengan Redaktur Nanang Suryadi dan kawan-
kawan, mengawali Cybersastra di Indonesia. Karena masalah teknis situs ini pindah ke domain
lain dan menjadi Cybersastra.net. Setelah itu lembaga-lembaga terutama yang bergerak dalam
Bidang kesenian seperti Yayasan Lontar dengan www.lontar.org. Yayasan lain Yang memiliki
situs seperti itu ialah Yayasan Teraju, KSI, Aku baca, Aksara, dan Aikon Seda.

C. Banjir Cerpen

27
Sejarah cerpen sendiri berasal dari sketsa, fragmen, esai-esai yang Mengangkat kehidupan
sehari-hari, cerita ringan dan lucu, cerita bersambung (feulleton) atau kisah tragedi percintaan
yang diambil dari suatu peristiwa yang Pernah menjadi berita aktual, semua disebut cerita. Baru
memasuki dasawarsa Pertama abad ke-20, cerita-cerita pendek itu di beri label cerita pendek.
Setiap periode Kesuastraan Indonesia tak pernah sepi dari kehadiran Cerpen-cerpen yang dimuat
di surat kabar. Pada saat tidak muncul novel-novel Penting pada saat pendudukan Jepang atau
pada sekitar tahun 1950-an, cerpen Tetap muncul di surat kabar dengan produksi yang
melimpah.

Dibandingkan puisi, novel, dan drama, cerpen Indonesia pada paruh Pertama pasca reformasi
mengalami booming. Cerpen telah sampai pada Jati dirinya. Ia tak lagi sebagai selingan di hari
Minggu. Kini, cerpenis dipandang Sebagai profesi yang tak lebih rendah dari novelis atau
penyair. Cerpenis tak Diperlakukan sebagai orang yang sedang belajar menulis novel. Kondisi
ini Dimungkinkan oleh beberapa faktor berikut seperti kesemarakan media massa –Surat kabar
dan majalah—telah membuka ruang yang makin luas bagi para Cerpenis untuk mengirimkan
karyanya.

Faktor lainnya adalah adanya kegiatan lomba menulis cerpen, Memungkinkan cerpen tak hanya
berada di hari Minggu, tetapi juga pada Event tua peristiwa tertentu. Majalah Horison setiap
tahun menyelenggarakan lomba penulisan cerpen. Begitu pun Diknas, Pusat Bahasa atau
lembaga lain yang juga melakukan kegiatan serupa. Sejak 1992, harian Kompas memulai tradisi
baru dengan memilih cerpen terbaik dan memberi penghargaan khusus untuk penulisnya.
Kegiatan ini mengangkat kedudukan cerpen dalam posisi yang istimewa. Kemudian terbitnya
Jurnal Cerpen yang diasuh Joni Ariadinata, dkk. serta adanya Kongres Cerpen yang
diselenggarakan berkala dalam dua tahun sekali –di Yogyakarta (1999), Bali (2001), Lampung
(2003), dan kongres mendatang di Pekanbaru (November 2005), berhasil mengangkat citra
cerpen secara lebih terhormat. Kegiatan itu sekaligus untuk menyosialisasikan keberadaan
cerpen sebagai bagian dari kegiatan sastra. Bersamaan dengan itu, usaha sejumlah penerbit
melakukan semacam perburuan naskah cerpen untuk diterbitkan, memberi harga dan martabat
cerpen tampak lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya.

Sejumlah nama cerpenis lain yang kelak menjadi sastrawan penting Indonesia, dapat disebutkan
beberapa di antaranya: Teguh Winarsho (Bidadari BersayapBelati, 2002), Hudan Hidayat (Orang

28
Sakit, 2001; Keluarga Gila, 2003) Maroeli Simbolon (Bara Negeri Dongeng, 2002; Cinta Tai
Kucing, 2003), Satmoko Budi Santoso (Jangan Membunuh di Hari Sabtu, 2003), Mustofa W
Hasyim (Api Meliuk di Atas Batu Apung, 2004), Kurnia Effendi (Senapan Cinta, 2004; Bercinta
di Bawah Bulan, 2004), Moh. Wan Anwar (Sepasang Maut, 2004), Yusrizal KW (Kembali ke
Pangkal Jalan, 2004), Isbedy Stiawan (Perempuan Sunyi, 2004; Dawai Kembali Berdenting,
2004), Triyanto Triwikromo (Anak-Anak Mengasah Pisau,

2003), Djamhuri Muhammad (Laras, Tubuhku bukan Milikku, 2005). Keseluruhan Antologi itu
menunjukkan kekuatan narasi yang lancar mengalir dan kedalaman Tema yang diangkatnya.
Dalam lima tahun ke depan, mereka akan ikut menentukan perkembangan sastra Indonesia.

2.2 Buku Pembanding

BAB I PENDAHULUAN

A. SEJARAH SASTRA DAN STUDI SASTRA

Ketiga studi sastra di atas memiliki kaitan satu sama lain. Teori sastra memerlukan sejarah
sastra karena sebuah teori terus berkembang. Perkembangan ini dihadirkan oleh sejarah sastra
yang secara diakronis membandingkan periode-periode dalam kesusastraan sebuah bangsa.
Perkembangan tersebut kemudian diformulasikan dalam sebuah teori yang membedakan dengan
konvensi sastra sebelumnya.

Sejarah sastra memerlukan pemahaman teori sastra. Seseorang hampir tidak mungkin
membahas periode sastra tertentu tanpa mengetahui konvensi/teori sastra sebelumnya. Dengan
pengetahuan tersebut bisa ditentukan apakah persamaan dan perbedaan antar keduanya. Jika
tidak terdapat perbedaan signifikan, periode tersebut akan dimasukkan ke dalam angkatan
sebelumnya.

Sejarah sastra mengkaji data berupa fakta-fakta sastra dengan dua media yaitu berupa fakta

29
tertulis dan fakta lisan. Fakta tertulis berasal dari media-media tulis seperti surat kabar dan
buku-buku sastra sedangkan fakta-fakta lisan berasal dari pelaku atau sumber yang dekat dengan
pelaku sastra.

B. DEFENISI SEJARAH SASTRA

Sastra adalah karya estetis imajinatif yang sulit untuk didefinisikan secara penuh. Hal ini
mengingat perkembangan teori sastra mengikuti perkembangan kreasi sastra yang konvensinya
selalu berkembang dan berubah. Akan tetapi, jika dijabarkan karya sastra meliputi beberapa hal
khusus yang membedakan dari bidang lain.

Sastra adalah ekspresi estetis-imajinatif dari seorang individu yang dimaksudkan


untuk menyampaikan ide atau tanggapan terhadap lingkungannya.

Dari dua komponen definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sejarah sastra adalah sejarah
perkembangan sastra yang terdiri atas rangkaian peristiwa dalam periode-periode perkembangan
sastra suatu bangsa mulai lahir sampai perkembangan terakhir.

Berdasarkan pengertian tersebut, sejarah sastra Indonesia, secara khusus, adalah studi sastra
yang mengungkap rangkaian kejadian-kejadian dalam periode-periode perkembangan
kesusastraan Indonesia mulai kelahiran sampai perkembangan terakhir.

C. PENDEKATAN – PENDEKATAN SEJARAH SASTRA

Adapun Pendekatan-Pendekatan Sejarah Sastra, yaitu :

1. Pendekatan Tradisional
Sejarah sastra dikembangkan terutama pada abad kesembilan belas. Pendekatan yang digunakan
beragam.
Berikut beberapa pendekatan yang utama.
a. Pendekatan yang mengacu pada sejarah umum
b. Pendekatan yang mengacu pada karya dan atau tokoh besar sastra
c. Pendekatan yang mengacu pada tema-tema karya sastra dan perkembangannya

30
d. Pendekatan yang mengacu pada asal usul karya sastra

2. Pendekatan Lain

a. Pendekatan Jenis sastra


Pendekatan ini mempertimbangkan hal-hal berikut.
1) Konsep jenis sastra modern yang dinamik, yaitu bahwa karya sastra tidak hanya mengikuti
konvensi, tetapi juga sering merombaknya.
2) Fungsi jenis sastra tertentu tidak hanya ditentukan oleh ciri-ciri intrinsiknya, tetapi juga oleh
kaitan atau pertentangan dengan jenis lain.

3) Hubungan ambigu antara karya individual dan normanorma jenis sastra, yaitu hubungan
intertekstual karyakarya individual.
4) Sejarah sastra selalu berkaitan dengan sejarah umum.
5) Penerimaan (resepsi) sastra oleh masyarakat pembaca dari masa ke masa menentukan
dinamikan sejarah sastra (Teeuw, 1984: 311-329).

BAB II PERIODISASI DAN ANGKATAN


DALAM SASTRA

A. PERIODISASI ATAU ANGKATAN

Periodisasi berasal dari kata periode. Periode berarti kurun waktu atau lingkaran waktu (masa)
(KBI, 2008:). Lebih detil lagi dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary dinyatakan bahwa
periode adalah porsi waktu dalam hidup seseorang, bangsa, peradaban, dsb. Wellek (dalam
Pradopo, 2007: 2) menyatakan bahwa periode – dalam kesusastraan – adalah sebuah bagian
waktu yang dikuasai oleh suatu sistem norma-norma sastra, standar-standar, dan konvensi-
konvensi sastra yang kemunculannya, penyebarannya, keberagaman, integrasi dan
kelenyapannya dapat dirunut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 44), angkatan
diartikan sebagai kelompok orang yang lahir sezaman (sepaham dsb).

31
Dari pembahasan kedua istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa periode memiliki pengertian
lebih luas. Periode meliputi pula angkatan di dalamnya. Periode lebih menekankan rentang
perkembangan sebuah karya sastra pada masa tertentu dari berbagai sudut pandang: pengaruh
politik, pengaruh perubahan paradigma sastrawan, perkembangan sastra dsb.

Angkatan lebih menekankan pada peran pengarang atau sastrawan dalam mengembankan
kesusastraan sebagai tanggapan terhadap angkatan sebelumnya.

B. DASAR – DASAR YANG DIGUNAKAN DALAM PENENTUAN PERIODESASI

Adapun Dasar-Dasar yang Digunakan Dalam Penentuan Periodesasi :

1. Aspek Realitas

Aspek ini meliputi berbagai hal, antara lain tema, setting dalam realitas, dan nilai komunal yang
tercermin dalam karya, misalnya kawin paksa, pertentangan tua muda, dsb. Dalam hal setting
realitas sebuah karya menceritakan waktu tertentu dan tempat tertentu yang ditiru dari dunia
nyata. Aspek mimetik ini dalam sebuah karya bisa membedakan sebuah periode, misalnya pada
zaman Balai Pustaka setting yang ditampilkan adalah kehidupan Minangkabau pada zaman
kolonial. Sekilas hal ini termasuk dalam unsur pembangun karya. Tetapi yang dimaksud dalam
pembahasan ini adalah faktor eksternal karya yaitu realitas kehidupan nyata yang ditiru oleh
karya tersebut.

2. Kepengarangan

Aspek kepengarangan berkenaan dengan ciri khas karya seorang pengarang dan pengaruh-
pengaruh yang mempengaruhi pengarang. Ciri khas pengarang adalahkreativitas unik yang
hanya dimiliki oleh seseorang yang berbeda dengan orang lain. Akan tetapi, dalam keunikannya,
ada ciri-ciri umum yang sama pengaruh zamannya. Sehingga pada periode atau rentang waktu
yang sama beberapa pengarang memiliki kesamaan dalam konvensi kesusastraannya. Selain itu,
pengaruh ideologi yang berkembang juga menentukan pilihan pengarang.

32
3. Fungsi Sosial Karya Sastra

Fungsi sosial karya sastra sulit untuk diketahui secara langsung. Karya sastra masuk ke dalam
mindset seseorang bukan sebagai sesuatu yang langsung terdefinisi. Nilai dalam karya sastra
masuk melalui cerita direfleksikan terhadap diri sendiri menghasilkan pemahaman yang unik
bergantung kepada apa yang tersimpan dalam kepala pembaca yang dikumpulkan melalui
pengalaman-pengalaman selama hidupnya. Yang paling jelas adalah fungsi pembuatan karya.
Seorang pengarang menulis sebuah karya paling tidak untuk dibaca. Pengaruhnya bisa
ditunjukkan misalnya mengapa Rendra ditahan hanya karena membaca puisi? Jika puisi
tidak berpengaruh pada masyarakat, Rendra tidak akan ditahan. Mengapa pula ketika orang
mengatakan cinta sejati, mereka langsung menyimbolkan dengan romeo dan juliet?
Mengapa pula ketika orang Indonesia berbicara tentang kawin paksa, mereka mengatakan, “Ini
bukan jaman Sitti Nurbaya”?

4. Unsur Pembangun Karya

Unsur pembangun karya adalah unsur yang secara eksplisit dan implisit terkandung dalam
sebuah karya. Penggambaran sastra dengan pendekatan ini mendeskripsikan ciri-ciri yang bisa
ditemukan dalam teks sastra.

C. PERIODISASI SASTRA INDONESIA

Periodisasi dalam tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu sastra lama, sastra
peralihan, dan sastra baru.

Berikut akan dihadirkan periodisasi-periodisasi yang dilakukan oleh


penulis-penulis sejarah sastra.
1. Masa Animisme-Dinamisme
2. Masa Hindu
3. Masa Islam

33
4. Masa Peralihan / Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
5. Angkatan Balai Pustaka
6. Angkatan Pujangga Baru
7. Kesusastraan Zaman Jepang
8. Angkatan 45
9. Angkatan 66
10. Angkatan 80
11. Angkatan 2000

1. SASTRA LAMA

Sastra lama menurut para ahli meliputi kesusastraan zaman purba, kesusastraan zaman
Hindu, dan kesusastraan zaman Islam. Meskipun periodisasi ini diakui oleh hampir semua
penulis sejarah sastra Indonesia, namun rentang tahun yang digunakan berbeda-beda. Nugroho
Notosusanto membagi dua periode, yaitu kesusastraan Melayu lama dan kesusastraan
Melayu modern. Rentang waktu sastra Melayu lama sejak masa dahulu yang tidak terbatas
sampai periode 1920-an. Rentang waktu ini juga sama dengan yang dinyatakan oleh Ajip Rosidi,
dan H.B Jassin. Penulis lain menyelipkan, di antara kesusastraan Melayu lama dan kesusastraan
Melayu baru, ada kesusastraan Peralihan. Hal inilah yang membedakan rentang waktu tersebut.
Sebagian penulis memasukkan masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi ke dalam satra lama,
sastra peralihan, dan ada yang memasukkan ke dalam kesusastraan Indonesia baru.

a. Kesusastraan Zaman Purba/Kuno

Kesusastraan pada periode ini adalah kesusastraan yang mencerminkan zaman sebelum adanya
pengaruh India, yaitu kesusastraan berupa doa, mantra, silsilah, adat-istiadat, dongeng,
kepercayaan masyarakat, dan sebagainya. Kesusastraan zaman ini merupakan kesusastraan yang
berdasarkan medianya merupakan sastra lisan.

b. Kesusastraan Zaman Hindu

34
Pada periode ini masuk cerita-cerita dari India yang merupakan bagian dari ajaran agama Hindu.
J.S. Badudu memasukkan zaman Hindu menjadi satu periode dengan kesusastraan zaman Islam,
yaitu zaman Hindu- Islam. Hal senada juga terdapat dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik
karya Liau Yock Fang. Dalam buku tersebut kesusastraan zaman purba disebut kesusastraan
rakyat. Kesusastraan Hindu tidak dimasukkan dalam pembahasan hanya kesusastraan zaman
peralihan Hindu-Islam dan kesusastraan zaman Islam. Dalam buku ini hanya kelengkapan
pembahasan yang menjadi titik tumpu mengingat buku ini ditujukan pada pelajar pemula.

c. Kesusastraan Zaman Islam

Periode ini berlangsung setelah masuknya Islam di Indonesia. Ada ahli yang menggantikan kata
Islam dengan Arab. Penamaan ini kurang tepat mengingat dalam sastra Indonesia tidak ada
terlalu banyak pengaruh sastra Arab. Pengaruh tersebut terjadi dalam konteks ke-Islaman yang
ditunjukkan dengan perubahan beberapa naskah Hindu yang disesuaikan dengan nilai-nilai
Islam. Syair yang merupakan sastra Arab asli masuk bukan semata-mata karena sastra tetapi
menjadi kebiasaan ulama-ulama Islam untuk menulis syair dalam pelajaran bahasa, dan
sebagainya.

2. KESUSTRAAN PERALIHAN
Kesusastraan peralihan ini terjadi pada zaman Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Pada masa ini
sudah ada pengaruh barat terhadap kesusastraan Indonesia (Melayu). Sabaruddin Ahmad
memasukkan periode ini kedalam kesusastraan baru. Kesusastraan zaman ini juga disebut dengan
kesusastraan zaman Abdullah. Penamaan ini dengan mempertimbangkan setidak-tidaknya dua
hal. Pertama, perubahan corak kesusastraan itu dipelopori oleh Abdullah bin Abdulkadir
Munsyi. Kedua, kesusastraan pada zaman itu tidak berkembang dan hanya merupakan karya
Abdullah sendiri karena tanpa pengikut.

3. KESUSASTRAAN BARU

Periode ini dimulai sejak berdirinya Balai Pustaka sampai saat ini. Periode-periode tersebut
seperti yang tersusun sebagai berikut.

35
1. Angkatan 20
Angkatan 20-an disebut juga angkatan Balai Pustaka karena karya sastra yang termasuk dalam
angkatan ini adalah terbitan Balai Pustaka. Angkatan ini juga disebut Angkatan Siti Nurbaya
karena dalam periode ini roman Siti Nurbaya sangat melegenda.

2. Angkatan 33
Angkatan 33 disebut juga angkatan Pujangga Baru karena penggagas aliran baru tersebut
terkumpul dalam majalah Pujangga Baru.

3. Kesusastraan Zaman Jepang


Kesusastraan ini lahir pada 1942-1945, yaitu dalam masa penjajahan Jepang di Indonesia.
Pengaruh penjajahan ini berpengaruh terhadap sastra pada saat itu. Pengaruh tersebut disebabkan
adanya batasan-batasan karya yang boleh diterbitkan

4. Angkatan 45
Angkatan 45 disepakati hampir semua penulis sejarah sastra dengan nama yang sama. Periode ini
dimulai sejak zaman kemerdekaan sampai dengan 1966

5. Angkatan 66
Angkatan 66 adalah angkatan yang popular dan diakui hampir semua penulis sejarah sastra.
Angkatan ini timbul bersama terbitnya majalah Horison yang murni menerbitkan tulisan tentang
sastra.

BAB III SASTRA INDONESIA KLASIK


A.PERBEDAAN PENDAPAT DALAM PERIODISASI SASTRA KLASIK

Dalam periodisasi sastra klasik, para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda. Berikut akan
disajikan beberapa pendapat penulis-penulis buku sejarah sastra.

36
Sastra Lama:

Wirjosoedarmo :

• Masa Purba
• Masa Hindu
• Masa Islam
• Masa Peralihan/ Abdullah bin Abdulkadir Munsyi

Liau Yock Fang :


• Kesusastraan Rakyat
• Zaman Peralihan Hindu-Islam
• Zaman Islam

J.S. Badudu :
• Kesusastraan Masa Purba
• Kesusastraan Masa Hindu-Arab
• Kesusastraan Peralihan
• Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
• Angkatan Balai Pustaka

Sabarudin Ahmad :
• Kesusastraan Animisme Dinamisme
• Hinduisme
• Islamisme

Sastra Baru:

Sabarudin Ahmad :
• Kesusastraan Baru
• Abdullah Abdulkadir Munsyi

37
Dalam buku ini pendapat yang digunakan adalah pendapat Liau Yock Fang. Pendapat ini lebih
konkret menampilkan kesusastraan Indonesia klasik karena didasarkan pada bukti-bukti sejarah
berupa naskah-naskah klasik yang masih bisa ditelusuri keberadaannya. Pembagian ini juga
memisahkan kesusastraan masa peralihan dalam bab tersendiri.

B.KESUSASTRAAN RAKYAT

Awalnya penamaan periode ini adalah kesusastraan zaman animisme-dinamisme. Penamaan ini
didasarkan pada kepercayaan yang dianut masyarakat pada waktu itu. Namun penamaan ini
kurang tepat jika ditinjau dari isi kesusastraan pada zaman ini tidak semua mengandung nilai
animisme-dinamisme. Hal ini berbeda dengan zaman sesudahnya yang mengandung nilai-nilai
ajaran Hindu dan Islam. Dengan pertimbangan ini, kesusastraan zaman awal ini diberi nama
kesusastraan rakyat.

Kesusastraan rakyat adalah kesusastraan yang berkembang di kalangan rakyat yang


kebanyakan tidak bias membaca. Kesusastraan rakyat, dengan demikian, diturunkan secara lisan
dari generasi ke generasi, misalnya oleh ibu terhadap anaknya, tukang cerita kepada
pendudukpenduduk kampung, dsb. Kesusastraan rakyat ini berbeda dengan kesusastraan istana.
Jika kesusastraan rakyat diturunkan dengan media lisan, kesusastraan istana ditulis, disimpan,
dan bisa diturunkan dengan membaca.

Kesusastraan rakyat ini termasuk dalam kajian yang lebih luas yang disebut folklor. Dalam
folklor, ada tiga bagian besar yang menjadi kajiannya, yaitu folklor lisan, sebagian lisan, dan
bukan lisan.

Yang termasuk dalam kajian ini hanya folklor lisan (Danandjaya, 1991), yaitu :

1. Sajak atau Puisi Rakyat

38
Sajak atau puisi rakyat biasanya berupa bentuk terikat. Bentuknya antara lain ungkapan
tradisional (peribahasa), mantra, dan pantun. Ketiga bentuk puisi rakyat ini dibahas sebagai
berikut :

a. Peribahasa
Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunanya, ringkas, padat dan biasanya
mengiaskan maksud tertentu, misalnya nasihat, prinsip hidup, dsb. Dalam peribahasa terdapat
bidal, pepatah, dan ungkapan.

b. Mantra
Mantra adalah sejenis puisi yang berkaitan dengan kepercayaan (Simanjuntak, 1955: 59). Mantra
berfungsi sebagai salah saru ritual pada kepercayaan tersebut. Kebanyakan mantra berisi
pemujaan, kutukan, dan larangan. Dalam bentuknya, mantra tidak mewajibkan rima
atau persajakan akhir. Kata-katanya terpilih. Sebagian disusun dengan kata-kata yang sama.
Yang terpenting dari semuanya adalah susunan kata yang enak didengar.

Yang cape datang bertongkat,


Yang buta meraba-raba,
Yang tuli lekas bertanya,
Yang kecil terambil lintang,
Yang jarak tolak-tolakan,
Yang pendek bertinjau-tinjau,
Yang kura mengekur angin,
Yang pekak membakar meriam,
Yang buta mengembus lesung,
Yang lumpuh penghalau ayam,
Yang pekong penjemuran,
Yang kurap pemikul buluh. (Hikayat Raja Muda)

d.Pantun

39
Pantun adalah salah satu bentuk puisi terikat asli Indonesia. Seperti kebanyakan sastra lama,
pantun juga merupakan seni kolektif masyarakat Indonesia. Hampir semua daerah di Indonesia
mengenal pantun dengan sebutan yang berbeda-beda sesuai bahasa daerahnya. Di Madura,
misalnya, pantun disebut sendèlan [səndεlan], di Jawa ada yang disebut pari’an, dsb.

Dalam kesusastraan Indonesia baru, pantun masih ditemukan dalam periode balai pustaka atau
yang lebih terkenal dengan Angkatan Balai Pustaka. Pada periode ini pantun sering ditemukan
pada karya berbentuk prosa, misalnya pada Sitti Nurbaya karya Marah Rusli yang cenderung
dipaksakan. Dalam roman ini, pantun menjadi ucapan-ucapan mesra dalam dialog antara Sitti
Nurbaya dan Samsul Bahri.

1) Definisi Pantun
Pantun berarti misal, umpama, ibarat, dan tamsil. Pantun adalah salah satu bentuk puisi lama
Indonesia yang terdiri atas empat baris. Dua baris pertama adalah sampiran dan dua bait terakhir
adalah isi. Keempat baris tersebut dihubungkan dengan persamaan bunyi suku kata terakhir yang
disebut rima atau sajak.

2) Syarat-Syarat Pantun
Pantun dengan berbagai jenisnya harus memiliki syarat-syarat berikut :
Terdiri atas sejumlah baris yang jumlahnya genap, yaitu 2 (karmina), 4 (pantun), dan 6 atau
lebih (talibun).
Dalam satu baris biasanya terdiri atas 4 sampai 6 kata atau 8 sampai 12 suku kata.
Separuh baris pertama disebut sampiran; separuh kedua disebut isi.
Tiap-tiap baris dihubungkan dengan persamaan bunyi suku terakhir dan kemiripan bunyi pada
suku kedua sebelum akhir yang disebut rima atau sajak.

Persajakan sebuah pantun, seperti persajakan sastra lama lainnya, terdiri atas sajak akhir (rima),
sajak tengah, dan sajak depan. Di antara ketiganya, sajak akhir merupakan inti dari persajakan.
Sajak tengah dan sajak depan merupakan penyempurna sajak akhir.

2. Prosa Rakyat

40
Prosa Indonesia, secara historis, dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu prosa Indonesia lama
dan prosa Indonesia baru. Prosa baru akandijelaskan pada kesempatan lain.

Rincian pembagian tersebut tersusun


sebagai berikut :

Prosa Indonesia Lama

Prosa Asli
❖ Dongeng
❖ Epos
❖ Parabel
❖ Cerita lucu
❖ Cerita didaktis
❖ Pelipur lara
❖ Cerita sejarah, dsb.

Danandjaya (1991) menggunakan pembagian


yang berbeda dalam prosa lama Indonesia :

1.Mite adalah cerita rakyat yang dianggap pernah terjadi dan dianggap suci oleh yang empunya
cerita. Mite ditokohi oleh dewa atau makhluk setengah dewa. Mite Indonesia biasanya bercerita
tentang terjadinya alam semesta (cosmogony), susunan atau dunia para dewa (pantheon),
manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan (culture hero), terjadinya makanan pokok
untuk pertama kalinya, dan sebagainya.

2.Legenda adalah prosa rakyat yang dianggap pernah terjadi oleh yang empunya cerita.
Perbedaan dengan mite adalah legenda bersifat sekuler (keduniawian) terjadi pada waktu yang
tidak begitu yang beragam. Harold Brunvand (dalam Danandjaya, 1991: 65) menggolongkan

41
legenda menjadi empat kelompok. Keempat kelompok itu adalah legenda keagamaan,
legenda perseorangan, legenda alam gaib, dan legenda setempat.

• Legenda keagamaan adalah legenda yang bercerita tentang hal-hal yang berhubungan
dengan agama di luar kitab suci. Termasuk dalam legenda jenis ini adalah legenda
orang(-orang) suci. Legenda jenis ini, misalnya, kisah Wali Sanga di Jawa. Selain
tentang orang-orang suci, terdapat pula legenda-legenda tentang kemu’jizatan,
kekeramatan, wahyu, permintaan melalui doa, ikrar yang terkabul dan sebagainya. Selain
itu ada “kitab suci rakyat” yang termasuk dalam legenda keagamaan.
• Legenda perseorangan adalah cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh
yang empunya cerita benar-benar terjadi. Cerita Panji adalah salah satu jenis legenda ini
yang berasal dari Jawa. Di Madura ada Bangsacara-Ragapadmi, Joko Tole,
Ke’Lesap, dan sebagainya.

3.Dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan
terutama untuk hiburan. Namun, selain sebagai hiburan, banyak dongeng yang melukiskan
kebenaran, berisi pelajaran hidup, atau bahkan sindiran. Anti Aarne dan Stith Thomson (1964:
19-20, dalam Danandjaya, 1991: 86) membagi dongeng dalam empat golongan besar, yaitu
dongeng binatang, dongeng biasa, lelucon dan anekdot, dan dongeng berumus.

• Dongeng binatang disebut juga fabel. Dongeng ini ditokohi oleh binatang peliharaan
dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata, ikan, dan
serangga. Binatang tersebut dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia. Tokoh
fabel terpenting di Indonesia adalah kancil dan kera. Kedua ini adalah hewan yang
dianggap cerdik dan licik.
• Dongeng biasa adalah dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka
duka seseorang. Di Indonesia dongeng biasa yang paling populer bertipe Cinderella.
Tipe ini bersifat universal dan tersebar di seluruh dunia. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur
ada Ande-Ande Lumut, di Jakarta ada Bawang Putih dan Bawang Merah, dan di Bali ada
I Kesuna lan I Bawang.

42
• Lelucon dan anekdot adalah dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa
menggelikan hati sehingga menyebabkan tawa baik bagi yang mendengar maupun bagi
yang menceritakan. Perbedaan antara lelucon dan anekdot adalah jika anekdot
menyangkut kisah fiktif lucu pribadi seorang atau beberapa orang tokoh, lelucon
menyangkut kisah fiktif lucu anggota suatu kolektif, seperti suku, golongan, agama, dan
ras.
• Dongeng berumus adalah dongeng yang strukturnya mengalami pengulangan. Dongeng
jenis ini dibagi menjadi tiga subtipe, yaitu dongeng kumulatif (cumulative tale), dongeng
mempermainkan (catch tale), dan dongeng tanpa akhir (endless tale). Berikut adalah
contoh contoh dongeng berumus.

C. KESUSASTRAAN ZAMAN HINDU

Meskipun ada pengaruh Hindu dalam sastra Melayu lama tetapi sastra Hindu tersebut ditulis
pada saat setelah agama Islam masuk ke Indonesia (1990: 35). Ini terbukti dalam sastra melayu
yang ditulis dengan huruf Arab Melayu atau jawi.
Karya-karya masa ini disajikan sebagai berikut.
1. Mahabarata
2. Ramayana
3. Pancatantra

D. KESUSASTRAAN ZAMAN ISLAM

Wirjosoedarmo menamakan sastra masa Islam yaitu masa ketika Islam menjadi agama negara.
Dengan sedikit berbeda, Liau Yock Fang (1991) menamakan kesusastraan zaman Islam. Dua
nama ini bisa dianggap sama, yaitu sastra Indonesia (Melayu) yang dipengaruhi sastra yang
dibawa oleh penyebar agama Islam.

Tokoh-Tokoh Kesusastraan Zaman Islam Berikut tokoh-tokoh yang termasuk dalam


kesusasraan zaman Islam :
1. Tun Muhammad atau Tun Seri Lanang
2. Hamzah Fansuri
3. Syamsuddin al-Sumatrani

43
4. Nuruddin ar-Raniri
5. Bukhari al Jauhari, dsb

BAB IVKESUSASTRAAN PERALIHAN KESUSASTRAAN ZAMAN ABDULLAH

A. PENGERTIAN
Kesusastraan pada masa ini disebut kesusastraan peralihan karena adanya gejala-gejala masa
peralihan, antara sastra lama dan sastra baru yang mendapat pengaruh dari Barat. Kesusastraan
zaman ini dipelopori oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi.

B. ISI
Perbandingan antara sastra lama dan sastra peralihan dapat dilihat dibawah ini :
• Lama. Berkisah tentang sesuatu yang fantastis: penuh keajaiban, dunia yang
antahberantah dan tokoh-tokoh yang hidupnya seperti dewa. Pusat penceritaan adalah
istana atau orang-orang istana.
• Peralihan. Berkisah tentang realitas sehari-hari. Tokohnya orangorang biasa, termasuk
pengarang. Peristiwa yang diceritakan adalah peristiwa yang menarik. Pusat penceritaan
adalah orang-orang biasa.

C. BAHASA
Dalam segi bahasa Abdullah berusaha mengurangi penggunaan-penggunaan klise dan kata-kata
Arab yang terlalu banyak digunakan pada waktu itu. Namun, pada persambungan paragraph
masih ditemui kata-kata seperti: maka, syahdan, hatta, arkian, kalakian, sebermula, dan
sebagainya.

D. RIWAYAT HIDUP ABDULLAH DAN KARYANYA


Beliau dilahirkan di Malaka pada tahun 1796 dan meninggal di Jedah pada tahun 1854. Moyang
laki-lakinya bernama syaikh Abdulkadir berasal dari Yaman dan moyang perempuannya berasal
dari Nagore, India. Kakek nenek Abdullah menjadi guru agama di Malaka. Ayah beliau selain

44
menjadi guru agama berprofesi sebagai pedagang. Abdullah, dilihat dari asal-usul keturunan
campuran yang beragam. Karena itu ia disebut peranakan Melayu.

Abdullah dapat menulis karya yang berbeda dari sastra lama karena pergaulannya dengan orang-
orang barat. Beliau kenal karya-karya barat yang kemudian
mempengaruhi karyanya. Karya-karya Abdullah yang ditulis selama hidupnya antara lain:
1. Hikayat Abdullah
2. Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdulkadir Munsyi ke Kelantan
3. Singapura Dimakan Api
4. Hikayat Panjatanderan
5. Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah

BAB V KESUSASTRAAN ZAMAN BALAI PUSTAKA

A. LATAR BELAKANG
Latar belakang berdirinya Balai Pustaka di Indonesia erat hubungannya dengan kebijaksanaan
pemerintah Belanda jauh sebelumnya. Kaum Liberal yang berkuasa di Negeri Belanda
memandang perlu untuk meningkatkan taraf hidup rakyat bumiputera (rakyat Indonesia dahulu).
Lahirlah politik Etis (yang bertalian dengan moral) pada tahun 1870. Politik Etis ini meliputi
edukasi (pendidikan), transmigrasi, dan irigasi (pengairan).

Di bidang pendidikan, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah seperlunya,


terutama di pulau Jawa. Tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf berpikir segelintir rakyat
Indonesia. Karena pendidikan ini, sebagian kecil rakyat bias baca-tulis. Hal ini menimbulkan
kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda kalau-kalau kepandaian rakyat ini melunturkan
kepercayaan dan kesetiaan kepada pemerintah.

Pada tanggal 14 September 1908 dengan surat keputusan pemerintah no. 12 berdirilah sebuah
komisi yang bernama Commissie voor de Inlandsche School (Komisi Bacaan Sekolah Bumi
Putra dan Rakyat). Komisi ini beranggotakan 6 orang yang dikepalai oleh Dr. G.A.J.

45
Hazeu. Komisi ini berkewajiban pula member pertimbangan kepada Directuuur Onderwijs
(Bagian Pengajaran) untuk memilih buku-buku yang baik bagi murid-murid di sekolah.

B. BERDIRINYA BALAI PUSTAKA


Pada tanggal 22 September 1917 komisi tersebut menjadi Kantoor voor de Volkslectuur(Kantor
Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan Balai Pustaka. Balai artinya bangunan atau
tempat yang luas untuk melakukan kegiatan dan Pustaka artinya buku-buku. Balai Pustaka ini
beralamat di jalan Dr. Wahidin, Jakarta Pusat. Tugas Balai Pustaka berkenaan dengan
karangmengarang dan pencetakan buku bacaan dan buku-buku lain.

Usaha Balai Pustaka dalam memajukan kesusastraan antara lain:


1. Mengumpulkan atau menghimpun cerita-cerita (dongeng) daerah dan mengalihkannya ke
dalam bahasa Melayu.
2. Menerjemahkan cerita-cerita Eropa atau cerita asing lainnya ke dalam bahasa Melayu.
3. Menerbitkan majalah dalam bahasa daerah yaitu: Panji Pustaka (Melayu), Parahiayangan
(Sunda), dan Kejawen (Jawa).
4. Menerbitkan buku Almanak Rakyat yang berisi ilmu pengetahuan praktis untuk kehidupan
rakyat sehari-hari dengan harga murah.
5. Membuka perpustakaan rakyat melalui sekolah-sekolah di pelosok tanah air.

C. DAMPAK BERDIRINYA BALAI PUSTAKA


Balai Pustaka sangat berperan dalam perkembangan sejarah Indonesia sebelum kemerdekaan.

Jasa-jasa Balai Pustaka antara lain:


1. Mempercepat pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan Indonesia.
2. Perkembangan dan kemajuan sastra menjadi pesat karena naskah karangan yang disusun
pengarang dapat terbit dengan biaya Balai Pustaka.
3. Pertumbuhan dan perkembangan bahasa lebih terpelihara karena hanya naskah cerita yang
bahasanya baik yang dapat diterbitkan.
4. Membangkitkan semangat pengarang-pengarang muda dan mengembangkan bakat mereka.
5. Sampai sekarang merupakan gelanggang karangmengarang dan cetak mencetak buku.

46
Hal-hal yang berdampak buruk tersebut antara lain:
1. Pengarang tidak bebas mengemukakan pikiran dan perasaan karena harus menyesuaikan
dengan ketentuan-ketentuan pemerintah Hindia Belanda, misalnya naskah tidak boleh berbau
politik, harus netral dan tidak boleh menyinggung suatu golongan.
2. Staf redaksi sebagai pengemban kemauan pemerinth Hindia Belanda sangat menentukan nasib
sebuah naskah. Tidak jarang naskah yang terbit itu sudah berbeda jauh dari aslinya karena
disesuaikan dengan selera staf redaksi.

D. BALAI PUSTAKA SEBAGAI NAMA ANGKATAN


Angkatan Balai Pustaka diambil dari nama penerbit ini karena sebagian besar pengarang pada
periode ini berkumpul pada lembaga penerbitan ini. Sebelum dicetak Balai Pustaka berhak
memperbaiki baik isi maupun bahasanya. Karena perana Balai Pustaka terhadap karya periode
ini, angkatan tersebut disebut Angkatan Balai Pustaka.

E. PEMBAHARUAN YANG DILAKUKAN OLEH BALAI PUSTAKA


Dalam prosa, angkatan Balai Pustaka telah bergerak jauh berbeda dari sastra Melayu lama. Dari
segi isi, prosa periode ini mengambil bahan cerita dari Minangkabau. Hal ini berbeda dengan
prosa lama yang kebanyakan mengambil setting istana dangan tempat negeri “antah berantah”
yang tidak bisa ditelusuri tempat sebenarnya.

F. KARAKTERISTIK BALAI PUSTAKA


a. Ciri-ciri struktur estetik
1) Gaya bahasanya menggunakan perumpamaan klise (yang paling banyak dalam deskripsi
fisik), pepatahpepatah, dan peribahasa, namun menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang
lain dari bahasa hikayat sastra lama. Perumpamaan klise ditemukan pada kutipan roman Sitti
Nurbaya. Selain perumpamaan klise, dalam roman Balai Pustaka sering ditemukan kutipan
kutipan pepatah yang disampaikan secara eksplisit oleh pengarang.

2) Alur roman sebagian besar alur lurus. Ada juga yang menggunakan alur sorot balik tapi
sedikit, misalnya pada Azab dan Sengsara dan Di Bawah Lindungan Kaabah.

47
3) Teknik penokohan dan perwatakannya banyak mempergunakan analisis langsung (direct
author analysis).

4) Tokoh-tokohnya berwatak datar (flat character).


5) Setting berlatar kedaerahan. Selain itu setting yang digunakan adalah saat ini dan pada sebuah
tempat tertentu di masa kini, bukan dahulu kala di negeri antahberantah.

6) Pusat pengisahan pada umumnya mempergunakan metode orang ketiga atau diaan. Ada juga
yang menggunakan orang pertama atau akuan misalnya Kehilangan Mestika dan Di Bawah
Lindungan Kaabah.

7) Banyak terdapat digresi, yaitu sisipan yang tidak secara langsung berkaitan dengan cerita,
misalnya uraian adat, dongeng-dongeng, syair, pantun, dsb.Digresi tersebut terdapat, misalnya,
dalam kutipan-kutipan berikut.

8) Bersifat didaktis. Ciri-ciri didaktis ini merupakan karakteristik utama angkatan Balai Pustaka.
Pendapat ini diambil dengan menilik fungsi pendirian Balai Pustaka, latar belakang penulis-
penulis balai pustaka yang sebagian besar adalah guru, digresi yang dipakai untuk melestarikan
sastra tradisional seperti pantun, syair, pepatah, peribahasa, dsb. Dengan demikian tidak bias
dipungkiri bahwa angkatan ini benar-benar menganut paham “seni bertendens.”

9) Bercorak romantis sentimental.

b. Ciri-ciri ekstra estetik


1) Pertentangan paham antara golongan tua dan golongan muda soal adat lama dan kemodernan.
2) Tidak mempermasalahkan nasionalisme dan rasa kebangsaan.

G. PENGARANG-PENGARANG ANGKATAN BALAI PUSTAKA


a. Berasal dari Sumatera
1) Abdul Muis

48
2) Adinegoro (Djamaluddin)
3) Aman Datuk Madjoindo
4) Hamidah
5) Hamka, dsb

b. Berasal dari daerah lain


6) H.S.D. Muntu (Sulawesi)
7) I Gusti Nyoman Panji Tisna (Bali)
8) Marius Ramis Dayoh (Sulawesi)
9) L. Wairata (Pulau Seram)
10) Paulus Supit (Sulawesi)
11) Sutomo Djauhar Arifin (Jawa), dsb

BAB VI ANGKATAN PUJANGGA BARU

A. AWAL KELAHIRAN PUJANGGA BARU


Pujangga Baru dilatarbelakangi semangat persatuan yang hidup dalam msyarakat Indonesia.
Semangat ini dipelopori oleh kaum muda yang pada tanggal 28 Oktober 1928 telah mencetuskan
Sumpah Pemuda. Pujangga Baru adalah salah satu gerakan dalam bidang kebudayaan yang di
dalamnya mencakup sastra. Majalah Pujangga Baru ini bertujuan untuk membawa atau
menyebarkan semangat baru dalam lapangan kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan social
yang tujuan akhirnya adalah terbentuknya persatuan bangsa.

Semboyan-semboyan Pujangga Baru:


Menuju dan berjuang untuk memajukan kesusastraan baru (mulai tahun 1933)
Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan dan soal masyarakat umum
(mulai tahun 1935)
Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan
persatuan Indonesia (mulai tahun 1936)

B. PUJANGGA BARU SEBAGAI NAMA ANGKATAN

49
Pujangga Baru dengan latar belakangnya tidak diragukan memiliki karakteristik yang khusus.
Karakter khusus ini berbeda dari angkatan Balai Pustaka yang merupaka angkatan pendahulunya.
Karena karakteristik ini. Pujangga Baru dapat dimasukkan dalam periode tersendiri dalam
sejarah sastra Indonesia. Karena laihir pada tahun tiga puluhan, angkatan ini juga disebut
angkatan tiga puluhan.

C. PENGARUH PENGARUH YANG TERDAPAT DALAM ANGKATAN PUJANGGA


BARU

a. Pengaruh dari Belanda


Pujangga Baru dipengaruhi angkatan 1880 dari negeri Belanda, yaitu De Tachtigers. Angkatan
ini mengadakan revolusi besar di bidang kesusastraan Belanda. Hal itu sebagai reaksi atas
“kesusastraan pendeta” dan kesenian sebelumnya yang bersifat lambat dan dikemudikan oleh
pikiran yang berhati-hati.

b. Pengaruh India, Parsi, dan Jawa


Pengaruh ini nampak pada karya-karya Sanusi Pane dan Amir Hamzah.

D. ANGKATAN PUJANGGA BARU DAN PELOPORNYA


Sebuah angkatan sastra dilatarbelakangi ide yang merupakan antithesis dari ide sebelumnya.
Sebuah ide merupakan motor penggerak sebuah pergerakan yang keluar dari manusia tertentu.
Hal ini terjadi pula pada Pujangga Baru. Pujangga Baru dipelopori oleh empat orang tokoh,
yaitu Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Amir Hamzah. Corak dan aliran
Pujangga Baru nampak pada corak dan aliran keempat tokoh ini.

E. KONSEPSI-KONSEPSI PUJANGGA BARU DALAM BEBERAPA


BIDANG
a. Konsepsi Mengenai Semangat Masyarakat Baru
1) Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat ru bahwa agar bangsa Indonesia maju ke depan dan
sederajat dengan bangsa-bangsa barat, masyarakat Indonesia yang statis itu harus diubah menjadi
masyarakat yang dinamis seperti masyarakat barat.

50
2) Sanusi Pane berpendapat bahwa hidup harus mementingkan rohani dan keselarasan jasmani
dengan alam. Pandangan ini dipengaruhi ajaran mistik India.

b. Konsepsi menganai kebudayaan Indonesia baru


1) Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia harus terlahir dari
semangat keindonesiaan, bukan merupakan sambungan dari kebudayaan Jawa, Sunda, Melayu,
dan kebudayaaan suku-suku lain di Indonesia.
2) Sanusi Pane berpendapat kebudayaan harus bersendikan kebudayaan lama dari timur yang
diramu dengan kebudayaan maju dari barat.

c. Konsepsi mengenai seni


1) Sutan Takdir Alisyahbana dengan tegas bersemboyan seni untuk masyarakat dan menolak
semboyan seni untuk seni.
2) Sanusi Pane lebih cenderung pada seni untuk seni atau l’art pour l’art. Akan tetapi secara
umum semboyan Pujangga Baru adalah seni untuk masyarakat.

d. Konsepsi mengenai kesusastraan baru


Dalam hal ini semua tokoh dalam Pujangga Baru sependapat bahwa kesusastraan Indonesia baru
harus memancarkan jiwa yang dinamis, individualisme, dan tidak menghiraukan tradisi yang
menghambat kemajuan.

F.KARAKTERISTIK SASTRA ANGKATAN PUJANGGA BARU

a. Puisi
1) Unsur Estetik
Karakteristik unsur estetika puisi Pujangga Baru sebagai berikut :
a) Puisi mulai meninggalkan konvensi puisi lama, pantun dan syair. Namun dalam bebagai sisi,
gaya lama tetap digunakan tapi tidak dengan kaku;
b) Puisi jenis soneta mulai dikenal dan ditulis sastrawan pada masa tersebut;
c) Puisi jenis balada tidak terlalu signifikan;
d) Pilihan kata-kata diwarnai dengan kata-kata nan indah;

51
e) Bahasa kiasan utama adalah perbandingan;
f) Bentuknya simetris; ada periodisitas dari awal sampai akhir sajak, tiap barisnya pada
umumnya terdiri atas dua periodus dua kata;
g) Gaya ekspresi aliran romantik tampak dalam gaya pengucapan perasaan; pelikisan alam indah,
tentram, dan sebagainya;
h) Gaya sajak diafan atau polos, hubungan antara kalimat jelas, kata-katanya serebral, hampir tak
digunakan katakata yang ambigu seperti simbolik dan metafora implisit; dan
i)Persajakan merupakan sarana kepuitisan utama.

b. Prosa
Prosa Pujangga Baru terdiri atas roman, novel, dan cerpen.
1) Unsur Estetika
Karakteristik unsur ekstraestetika puisi Pujangga Baru sebagai berikut :
a) Alur lurus;
b) Teknik perwatakan sudah mulai dengan watak bulat; teknik perwatakan tidak analisis
langsung seperti roman Balai Pustaka, dsekripsi fisik sedikit;
c) Tidak banyak digresi seperti roman Balai Pustaka sehingga alurnya menjadi lebih erat;
d) Pusat pengisahan dengan orang ketiga objektif;
e) Gaya romantik;
f) Bahasa yang digunakan adalah “Bahasa Indonesia”; dibandingkan dengan bahasa Balai
Pustaka yang menggunakan bahasa Melayu tinggi, bahasa Pujangga Baru menggunakan bahasa
Indonesia yang juga memasukkan bahasa daerah lain dari seluruh Indonesia.
g) Gaya bahasa yang digunakan tidak menggunakan perumpamaan klise; dan
h) Tidak lagi menyitir peribahasa seperti pada Balai Pustaka.

2) Unsur Ekstraestetik
Karakteristik unsur ekstraestetika puisi Pujangga Baru sebagai berikut :
a) Masalahnya bersangkutan dengan kehidupan masyarakat kota, misalnya masalah emansipasi,
masalah pemilihan kerja, masalah individu manusia, dan sebagainya;
b) Ide nasionalisme dan cita-cita kebangsaan banyak mewarnai kesastraan Pujangga Baru; dan
c) Bersifat didaktis.

52
d) Bersifat romantis idealistis.

c. Drama
Drama Pujangga Baru tidak begitu dominan. Drama pada jaman ini bertema tentang kebesaran
sejarah Indonesia yang sesuai dengan gerakan Pujangga Baru yang memperjuangkan rasa
kebangsaan Indonesia.

G. TOKOH-TOKOH PUJANGGA BARU


Dalam Pujangga Baru terdapat tokoh-tokoh yang sangat berperan. Tokoh-tokoh tersebut tersusun
sebagai berikut :
1. A. Hasymi
2. A.M. Daeng Mijala
3. Amir Hamzah
4. Armiyn Pane
5. Asmara Hadi, dsb

BAB VII KESUSASTRAAN PERIODE 42-45

A. LATAR BELAKANG
Pada periode ini kesusastraan dipengaruhi oleh pendudukan Jepang di Indonesia. Secara politis
Jepang tidak hanya mengatur urusan pemerintahan tetapi juga kebudayaan. Pada masa ini Jepang
mewajibkan bahasa Indonesia sebagai pengantar sekaligus melarang penggunaan bahasa
Belanda. Pelarangan ini memantapkan posisi bahasa Indonesia dalam masyarakat.
Keimin Bunka Shidosho adalah Kantor Pusat Kebudayaan yang didirikan jepang untuk
mengumpulkan pengarang serta seniman lain. Maksud penyatuan ini berkenaan dengan
kepentingan Jepang untuk menguasai Asia, yaitu memesan lagu-lagu, lukisan, lukisan,
sloganslogan, sajak-sajak, sandiwara-sandiwara, bahkan film untuk membangkitkan semangat
dan menunjukkan keungggulan Jepang.

B. 42 SEBAGAI NAMA ANGKATAN?

53
Sastra periode ini tidak pernah menjadi nama angkatan. Periode ini biasanya dimasukkan pada
Angkatan 45 yang dibagi dua menjadi sebelum dan sesudah penjajahan Jepang.

C. KARAKTERISTIK SASTRA
1. Jenis Sastra (Genre)
Pada masa ini, dua jenis karya yang paling dominan tumbuh subur, yaitu cerpen dan drama. Pada
masa ini hanya sedikit Roman yang terbit. Balai Pustaka, misalnya hanya menerbitkan dua
roman yaitu Cinta Tanah Air karangan Nur Sutan Iskandar dan Palawija (1944) karangan Karim
Halim. Selain itu, seperti masa sebelumnya puisi juga berkembang.

2. Sifat
Sastra pada periode ini bersifat realistis. Sifat ini dibagi tiga yaitu realistis propaganda, realistis
tersembunyi, dan realistis simbolis.

D. TOKOH-TOKOH
Pada masa ini tokoh-tokohnya dirangkum sebagai berikut.
1. Usmar Ismail
2. El Hakim
3. Rosihan Anwar
4. Amal Hamzah
5. Maria Amin, dsb

BAB VIII PERIODE ANGKATAN 45

A. LATAR BELAKANG
Periode Angkatan 45 dimulai tahun 1942, tidak lama sesudah masuknya Jepang ke Indonesia.
Periode ini merupakan pengalaman dan saat yang penting dalam sejarah bangsa dan juga sastra
Indonesia. Pada masa ini, Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan diganti dengan
bahasa Melayu. Hal ini memberi dampak pada intesifikasi pada penggunaan bahasa Melayu
(Indonesia) dan, tentu saja, mengintensifkan perkembangan kesusastraan Indonesia.

54
Awalnya, banyak seniman yang dengan penuh semangat menerima panyatuan di bawah satu
organisasi. Namun, bersama lalunya waktu, para seniman tersebut sadar bahwa mereka diperalat
untuk kepantingan propaganda Jepang yang sedang berusaha menguasai seluruh Asia. Kesadaran
tersebut muncul setelah mengetahui janji-janji kosong, kekejaman, dan penindasan yang
dilakukan oleh Jepang.

B. 45 SEBAGAI NAMA ANGKATAN


Penamaan angkatan ini dengan nama Angkatan 45 didasarkan pada peristiwa politik, yaitu
kemerdekaan Indonesia.

Sebagai sebuah angkatan, Angkatan 45 adalah sebuah rentang waktu dalam kesusastraan
Indonesia. Rentang waktu angkatan ini adalah antara 1942-1953. Periode ini dibagi menjadi dua,
yaitu masa penjajahan Jepang dan masa sesudah penjajahan Jepang. Masa penjajahan Jepang
antara 1942-1945 dan masa sesudah penjajahan Jepang antaara 1945-1953.

C. KARAKTERISTIK ANGKATAN 45
1. Karakteristik Struktur
a. Puisi
1) Puisi bebas, tak terikat pembagian bait, jumlah baris, dan persajakan.
2) Gayanya ekspresionisme.
3) Aliran dan gayanya realisme.
4) Diksi mencerminkan pengalaman batin yang dalam dan untuk intensitas arti mempergunakan
kosa kata bahasa sehari-hari sesuai dengan aliran realisme.
5) Bahasa kiasan yang dominan metafora dan simbolik; kata-kata, frasa, dan kalimat-kalimat
ambigu menyebabkan arti ganda dan banyak tafsir.
6) Gaya sajaknya prismatis dengan kata-kata yang ambigu dan simbolik, hubungan baris-baris
dan kalimatkalimatnya implisit.
7) Gaya pernyataan pikiran berkembang (nantinya gaya ini berkembang menjadi gaya sloganis).
8) Gaya ironi dan sinisme menonjol.

b. Prosa

55
1) Alur sorot balik lebih banyak dari periode sebelumnya.
2) Alur padat dan digresi tidak digunakan lagi.
3) Dalam menggambarkan perwatakan/penokohan, analisis fisik tidak dipentingkan, yang
ditonjolkan analisis kejiwaan, tetapi tidak dengan analisis langsung, melainkan dengan cara
dramatik: dengan arus kesadaran dan cakapan antar tokoh.
4) Seperti juga dalam puisi, gaya ironi dan sinisme banyak digunakan.
5) Gaya realisme dan dan naturalisme: penggambaran kehidupan sewajarnya.

2. Karakteristik Pandangan Hidup


1) Pandangan hidup angkatan 45 adalah humanism universal. Hal ini, secara implisit,
ditunjukkan pada studi-studi mereka terhadap sastra dunia antara lain Prancis, Rusia, Inggris, dan
Amerika.
2) Individualisme menonjol dalam genre puisi; kesadaran akan eksistensi diri terpancar kuat
dalam sajak-sajak periode ini.
3) Dalam filsafat, periode ini banyak mengindikasikan adaya pengaruh eksistensialisme.

3. Tema
1) Dalam puisi, periode ini menghadirkan karya yang berbicara tentang kehidupan batin/jiwa
manusia melalui peneropongan diri sendiri.
2) Menggambarkan masalah kemasyarakatan, di antaranya ketimpangan sosial dalam
masyarakat, kemiskinan, dsb.
3) Pemecahan masalah dengan menyajikan pandangan hidup dan pemikiran pribadi.
4) Zaman peperangan merupakan tema utama dalam kebanyakan prosa terutama peranga
kemerdekaan melawan Belanda dan Jepang.

D. SASTRAWAN-SASTRAWAN ANGKATAN 45

1. A.S. Dharta
2. Abu Hanifah (El-Hakim)
3. Achdiat K. Miharja
4. Aoh Kartahadimaja

56
5. Amal Hamzah, dsb

BAB IX PERIODE ANGKATAN 66

A. LATAR BELAKANG
Nama Angkatan 66 digunakan pertama kali oleh H.B. Jassin dalam Angkatan 66: Prosa dan
Puisi. Lahirnya angkatan ini dilatarbelakangi oleh perlawanan terhadap penyelewengan-
penyelewengan pimpinanpimpinan negara demi kepentingan pribadi dan golongan.
Penyelewengan tersebut antara lain pelanggaran terhadap Pancasila sebagai dasar negara dengan
memasukkan komunis sebagai sebuah nilai keindonesiaan yang, tentu saja, melanggar sila
pertama,pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup yang tidak sesuai dengan
prinsip demokrasi, penyampaian slogan-slogan tak berisi, dsb.
Akhirnya, perlawanan dilakukan oleh semua kalangan yang diawali oleh gerakan mahasiswa,
selain pemberontakan-pemberontakan di daerah-daerah seluruh Indonesia.

B. 66 SEBAGAI NAMA ANGKATAN


Nama ini populer dengan buku kumpulan prosa dan puisi berjudul Angkatan 66: Prosa dan
Puisidengan pernyataan tentang lahirnya sebuah angkatan oleh H.B. Jassin.Ia berpendapat bahwa
angkatan 66 dimulai 1953.

C. KARAKTERISTIK ANGKATAN 66

Puisi
1. Struktur Estetik
a. Gaya epik (bercerita) berkembang dengan berkembangnya puisi cerita dan balada
b. Gaya mantra mulai tampak dalam balada-balada
c. Gaya ulangan (paralelisme) mulai berkembang
d. Gaya puisi liris pada umumnya masih meneruskan gaya angkatan 45
e. Gaya slogan dan retorik makin berkembang (Pradopo, 2007: 30-1)

57
2. Struktur Ekstraestetik
a. Tema
1) Sesuai dengan sejarah nasional, tema utama dalam Angkatan 66 adalah perlawanan terhadap
tirani pemerintah orde lama, misalnya sajak-sajak demonstrasi dari Taufiq Ismail, Mansur
Samin, Slamet Kirnanto, Bur Rasuanto, dsb.
2) Tema kemuraman karena menggambarkan hidup yang penuh penderitaan.
3) Sajak-sajak yang mengungkapkan masalahmasalah sosial seperti kemiskinan, pengangguran,
kesenjangan yang tinggi antara kaya dan miskin, dan kemakmuran yang tidak merata.
4) Cerita-cerita rakyat menjadi tema-tema balada.

Prosa
1. Struktur Estetik
a. Pada umumnya struktur estetik angkatan 66 masih melanjutkan angkatan 45
b. Cerita hanya murni bercerita, yaitu tidak menyisipkan komentar, pikiran-pikiran sendiri, atau
pandanganpandangan tertentu.

2. Struktur Ekstraestetik
a. Cerita perang sudah mulai berkurang
b. Menggambarkan kehidupan masyarakat sehari-hari
c. Kehidupan pedesaan dan daerah mulai digarap, misalnya novel Pulang karya Toha Mochtar,
Penakluk Ujung Dunia karya Bokor Hutasuhut, dsb.
d. Banyak menceritakan pertentangan-pertentangan politik.

D. TOKOH-TOKOH ANGKATAN 66
1. A.A. Navis
2. A. Bastari Asnin
3. Abdul Wahid Situmeang
4. Ajip Rosidi
5. Alwan Tafsiri, dsb

58
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 KEUNGGULAN ISI BUKU

No Aspek Buku I Buku II


1. Cover Buku Cover buku kedua cukup Cover buku kedua cukup
menarik. Walupun buku menarik. Walupun buku
kedua berbentuk pdf, namun kedua berbentuk pdf, namun
cover dari pdf tersebut cover dari pdf tersebut
sudah baik. sudah baik.

2. Keterkaitan Pada buku utama Pada buku pembanding


antar Bab
menjelaskan keterkaitan menjelaskan keterkaitan
pada setiap pada setiap
paragrafnya.Penyusun isi paragrafnya.Penyusunan
setiap paragraf terstruktur tiap paragraf menarik dan
dan menarik sehingga struktu kebahasaan yang
memudahkan seseorang tidak berbelit-belit.
membaca buku tersebut.
3. Origanilitas Buku ini dinilai sudah cukup Buku kedua juga dinilai
isi buku
keoriginalitasannya,karena sudah dapat dibuktikan
buku ini diperkuat dengan keoriginalitasannya,karena
teori-teori yang dapat teori-teori yang dimuat
diterapkan pada zaman sudah terbukti
sekarang kebenarannya,yang relevan
untuk diterapkan pada
zaman sekarang.

59
4. Kemutakhira Bab-bab pada buku pertama Buku kedua kemutakhiran
n Isi Buku
sudah memiliki nya masih bisa diterapkan
kemutakhiran pada zaman pada zaman
sekarang.Teori-teori yang sekarang.Karena teori-teori
dijadikan acuan,merupakan tersebut mengacu pada
teori-teori yang dapat pendapat para ahli
diterapkan pada zaman ini.
4. Kelengkapan Buku pertama ini dinilai Buku kedua ini juga dinilai
isi buku
sudah lengkap.Buku ini sudah lengkap,baik dari segi
memiliki tujaun tujuan materi dan uraian-
pembelajaran dari setiap bab uraian setiap materi, serta
dan uraian materi contoh-contoh yang terkait
pembelajaran.Selain dalam pembelajaran
itu,dalam buku ini
disertakan contoh-contoh
dari materi pembelajaran

3.2 KELEMAHAN ISI BUKU

No Aspek Buku I Buku II


1. Cover Buku Saya tidak menemukan Saya juga tidak menemukan
kelemahan terhadap cover buku kelemahan cover pada buku
pertama kedua
2. Keterkaitan Pada buku pertama,saya tidak Pada buku kedua,keterkaitan
antar bab menemukan kelemahan dari segi antara bab nya kurang
keterkaitan antar bab pada sistematis.Karena penulis
buku.Karena semua bab sudah memjelaskan aspek-aspek
tersusun secara sistematis.Hal ini pertumbuhan dan
bisa kita lihat dimana pada buku perkembangan pada bab
ini penulis menjelaskan materi pertama,tanpa menjelaskan
ini secara runtut dimulai dari pengertiannya terlebih dahulu.

60
definisi dan seterusnya.
3. Originalitas isi Materi dalam buku pertama Isi buku kedua sudah cukup
Buku sudah cukup original,karena original karena teori-teorinya
penulis membuat pendapat para juga berdasarkan pendapat
ahli menjadi acuan dalam para ahli.
membuat teori-teori dalam buku
ini.
4. Kemuktahiran Tidak terdapat kelemahan dari Buku kedua ini sudah dinilai
Isi Buku aspek kemuktahiran buku memiliki kemuktahiran yang
ini.Teori-teorinya masih cukup.Karena dari beberapa
diterapkan pada zaman sekarang teorinya masih dipergunakan
hingga saat ini.
5. Kelengkapan Isi Tidak terdapat kelemahan pada Buku ini sudah lengkap
Buku buku ini dari segi kelengkapan hampir tidak memiliki
buku.Karena buku ini memiliki kekurangan dalam
keunggulan dibidang kelengkapan buku.Hanya
kelengkapan buku saja,akan lebih baik jika
materinya ditambah seperti
materi dalam buku pertama.

61
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Dari kedua buku yang telah dinilai,maka dapat disimpulkan bahwa buku yang berjudul
“Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa” karya Prof. DR. Henry Guntur Tarigan
sudah dapat memenuhi kebutuhan peserta didik akan pengetahuan berbicara. Dan buku
berjudul “Keterampilan Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa” yang
diterbitkan oleh Uhamka Press Jakarta juga sudah dapat memenuhi pengetahuan peserta
didik dalam aspek pengetahuan berbahasa.

4.2 SARAN

Buku apapun yang kita miliki atau kita gunakan dalam belajar, jadikanlah itu sebagai
sumber ilmu pengetahuan dalam menambah wawasan kita.Maka kita harus bisa dalam
memahami suatu bahasa agar kita dapat memahami materinya.

62