Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL JURNAL REVIEW

TEORI SEJARAH SASTRA

DOSEN PENGAMPU: Elly Prihasty, S.Pd., M.Pd.

DISUSUN OLEH:
NAMA : YOHANA LOISA SIMANGUNSONG
NIM : 2203111028
KELAS : REGULER C
PRODI : PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


2020

-1-
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha Esa, atas berkat kasih
dan karunia-Nya maka Critical Jurnal Review mata kuliah Keterampilan Bahasa Reseptif
ini diselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam kesempatan ini saya sebagai penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu selesainya pembuatan Critical Jurnal Review ini. Saya
menyadari bahwa dalam penyusunan ini tidak terlepas dari kesalahan dan sangat jauh
dari sempurna. Oleh sebab itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi sempurnanya Critical Jurnal Review ini.

Saya berharap semoga Critical Jurnal Review ini dapat digunakan sebagaimana mestinya
dan bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga Tuhan yang maha Esa
mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua

Medan, 13 November 2020

Yohana Loisa Simangunsong

-2-
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................ 2
DAFTAR ISI...........................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 4


A. Rasionalisasi pentingnya Critical Journal Review.....................................................4
B. Tujuan Critical Journal Review.....................................................................................4
C. Manfaat Critical Journal Review.................................................................................. 4
D. Identitas Jurnal............................................................................................................... 5

BAB II RINGKASAN JURNAL............................................................................................ 5


A. Jurnal Utama................................................................................................................... 5
B. Jurnal Pembanding........................................................................................................ 9

BAB III KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN....................................................................14


A. Keunggulan dan Kelemahan Jurnal Utama............................................................... 14
B. Keunggulan dan Kelemahan Jurnal Pembanding.....................................................14

BAB IV PENUTUP............................................................................................................... 15
A. Simpulan.......................................................................................................................... 15
B. Saran .............................................................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………… 16

-3-
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya Critical Journal Review


Critical Journal Review (CJR) adalah sebagai evaluasi terhadap suatu jurnal yang
akan di-review serta untuk mengevaluasi, seperti mengulas atau me-review,
menginterprestasi serta menganalisis isi sebuah jurnal, yang menitik beratkan pada
evaluasi ( penjelasan, interprestasi dan analisis) mengenai keunggulan dan
kelemahan jurnal, apa yang menarik dari jurnal tersebut, bagaimana isi jurnal tersebut
bisa mempengaruhi cara berfikir pembaca dan menambah pemahaman pembaca
terhadap suatu bidang kajian tertentu. Dengan kata lain, melalui CJR ini pembaca
menguji pikiran pengarang atau penulis berdasarkan sudut pandang pembaca
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

B. Tujuan Penulisan Crtical Journal Review


Adapun tujuan penulisan Critical Journal Review ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk pemenuhan salah satu tugas dari 6 tugas kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI)
2) mata kuliah Teori dan Sejarah Sastra.
3) Untuk menambah ilmu pengetahuan mahasiswa tentang cara pembentukan
karakter dari belajar sejarah sastra.
4) Untuk meningkatkan kemampuan daya nalar mahasiswa dalam menganalisa
dalam mengetahui kelemahan dan kelebihan dari jurnal yang dikritis serta untuk
mengetahui keunikan dari jurnal ini.
5) Untuk memperkuat pemahaman pembaca terhadap teori atau pembahasan yang
terdapat dalam jurnal tersebut dan dapat mengaplikasikannya.

C. Manfaat Critical Journal Review


Adapun manfaat penulisan Critical Journal Review ini adalah sebagai berikut:
1) Bagi reviewer : untuk menambah pengetahuan mengenai pembuatan Critical
Journal Review.
2) Bagi pembaca : untuk menambah pengetahuan mengenai pengaruh pelajaran
sejarah sastra terhadap karakter anak serta jurnal yang relevan untuk menjadi
sumber kajian materi.
3) Bagi penulis : untuk dapat memperbaiki karya-karya jurnalnya di terbitan
berikutnya

-4-
D. Identitas Jurnal Yang Di Review
1. Jurnal Utama
1. Judul Artikel : Sastra Dalam Pembentukan Karakter Siswa
2. Nama Jurnal : Jurnal Edukasi Kultura
3. Edisi Terbit : September 2015
4. Pengarang Artikel : Ririn Ayu Wulandari
5. Penerbit : Universitas Negeri Medan
6. Kota Terbit : Medan
7. ISSN :-
8. Volume : 2 No. 2
9. Halaman : 63-73
10. Alamat Situs :
https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/kultura/article/view/5181

2. Jurnal Pembanding
1. Judul Artikel : Pembelajaran Sastra Sebagai Salah Satu Wujud Implementasi
Pendidikan Berkarakter
2. Nama Jurnal :-
3. Edisi Terbit :-
4. Pengarang Artikel : Yosi Abdian Tindaon
5. ISSN :-
6. Halaman : 1-9
7. AlamatSitus: :
https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/basastra/article/view/198

-5-
BAB II
RINGKASAN JURNAL

A. Ringkasan jurnal Utama

PENDAHULUAN
Pembentukan karakter siswa sangat penting karena keadaan dalam kehidupan
bermasyarakat saat ini sangat memprihatinkan. Hal tersebut seperti adanya perkelahian,
pembunuhan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, perampokan, korupsi, pelecehan
seksual, penipuan, dan fitnah terjadi di manamana. Hal itu juga dapat diketahui lewat
berbagai media cetak atau elektronik, seperti surat kabar, televisi, dan internet.
Pendapat masyarakat terhadap pendidikan karakter pun berbeda-beda. Di kalangan guru
muncul pendapat tentang perlunya pendidikan budi pekerti, sedangkan para ulama
berpendapat dengan perlunya penguatan pendidikan agama sejak dini. Mereka yang
berada di bidang politik mengusulkan revitalisasi pendidikan Pancasila. Dalam hal ini,
Kemendiknas telah merespon berbagai pendapat itu dengan membentuk Tim
Pengembang Pendidikan Karakter (Haryadi, 2011: 1). Karakter dapat diartikan sebagai
tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Menurut
Suyanto (2009) mendefinisikan ”karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang
menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, maupun negara”. Karakter juga sebagai sesuatu yang berkaitan
dengan kebiasaan hidup individu yang bersifat menetap dan cenderung positif (Pritchard
dalam Haryadi, 2011: 1).

PEMBAHASAN
1. Pendidikan karakter
Menurut Zulhan (2010: 2-5) karakter ada dua yaitu karakter positif baik dan karakter
buruk . Tergolong karakter baik yaitu:
(1) Afiliasi tinggi: mudah menerima orang lain sebagai sahabat, toleran, mudah berkerja
sama,
(2) Power tinggi: cenderung menguasai teman-temannya dalam arti positif (pemimpin)
(3) Achieve: selalu termotivasi untuk berprestasi
(4) Asserte: lugas, tegas, tidak banyak bicara
(5) Adventure: suka petualangan, suka mencoba hal baru.
Sementara itu, karakter kurang sehat yaitu:

-6-
(1) Nakal: suka membuat ulah, memancing kemarahan
(2) Tidak teratur, tidak teliti, tidak cermat, meskipun kadang tidak disadari
(3) Provokator: cenderung membuat ulah, mencari garagara, ingin mencari perhatian,
(4) Penguasa: cenderung menguasai temanteman, mengintimidasi
(5) Pembangkang: bangga kalau berbeda dengan orang lain, tidak ingin melakukan hal
yang sama dengan orang lain, cenderung membangkang.
Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional (2011:10) juga telah merumuskan
materi pendidikan karakter yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut yaitu religius,
jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan, dan peduli sosial, tanggung jawab.

2. Sastra dan Pendidikan Karakter


Bahasa Indonesia berperan penting untuk membetuk karakter dan kepribadian Indonesia
melalui penggunaannya Bahasa Indonesia seperti keterampilan berbicara, menyimak,
membaca, dan menulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang benar. Semakin
intensif penggunaan bahasa, semakin teliti, dan benar pilihan bahasa yang digunakan
diyakini semakin tinggi karakter dan kepribadian orang yang menggunakannya.
Kepribadian masyarakat Indonesia banyak diilhami oleh Sastra Indonesia sebagai
sumber inspirasi bagi terwujudnya bangsa, bahasa, dan tanah air Indonesia. Oleh karena
itu, membaca sastra Indonesia hingga melek sastra diyakini dapat memperkuat identitas
dan kepribadian Indonesia (Solin, 2011: 1).
Terkait peran sastra dalam pembelajaran bagi siswa, yang diungkapkan oleh Tarigan
(1995: 10) menyatakan bahwa sastra sangat berperan dalam pendidikan anak, yaitu:
1. Perkembangan bahasa,
2. Perkembangan kognitif,
3. Perkembangan kepribadian
4. Perkembangan sosial.
Dalam perkembangan bahasa, para siswa secara langsung maupun tidak langsung
setelah membaca atau menyimak karya sastra, kosakata mereka bertambah dan memiliki
karakter yang lebih baik lagi. Hal ini dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa
dalam berinteraksi sehari-hari. Pengalaman yang diperoleh melalui membaca karya
sastra dapat memotivasi serta menunjang perkembangan kognitif atau penalaran siswa.
Dengan begitu kepribadian siswa akan jelas pada saat mereka mencoba memeroleh
kemampuan untuk mengekspresikan emosi, empatinya terhadap orang lain, dan
mengembangkan perasaannya mengenai harga diri dan jati dirinya. Dengan demikian,
siswa dapat hidup bermasyarakat dengan baik dan memiliki budi pekerti yang baik pula.

-7-
Sastra secara etimologis berasal dari kata ‘sas’ dan ‘tra’. Akar kata sasberarti mendidik,
mengajar, memberikan instruksi, sedangkan akhiran –tra menunjuk pada alat. Jadi,
sastra secara etimologis berarti alat untuk mendidik, alat untuk mengajar, dan alat untuk
memberi petunjuk. Oleh karena itu, sastra pada masa lampau bersifat mendidik.
3. Sastra sebagai Media Pembentukan Karakter
Karya sastra dapat berfungsi sebagai media katarsis (pembersih diri). Aristoteles seorang
filsuf dan ahli sastra menyatakan salah satu fungsi sastra adalah sebagai media katarsis
atau pembersih jiwa bagi penulis maupun pembacanya. Sastra sebagai media katarsis
dalam pembelajaran sastra dapat dimanfaatkan secara reseptif (bersifat menerima) dan
ekspresif (kemampuan mengungkapkan) dalam pendidikan karakter. Pemanfaatan
secara reseptif karya sastra sebagai media pendidikan karakter dilakukan dengan dua
langkah yaitu pemilihan bahan ajar dan pengelolaan proses pembelajaran.
Adapun pemanfaatan secara ekspresif karya sastra sebagai media pendidikan karakter
dapat ditempuh melalui jalan mengelola emosi, perasaan, semangat, pemikiran, ide,
gagasan dan pandangan siswa ke dalam bentuk kreativitas menulis karya sastra dan
bermain drama, teater, atau film. Siswa dibimbing mengelola emosi, perasaan, pendapat,
ide, gagasan, dan pandangan untuk diinternalisasi dalam diri kemudian dituangkan ke
dalam karya sastra yang akan mereka hasilkan berupa puisi, pantun, drama, novel, dan
cerpen. Perasaan emosi, ketidakpuasan terhadap suatu sistem yang berlaku, rasa marah
yang ingin berdemontrasi, dan sejenisnya terhadap sesuatu hal dapat diaktualisasikan
dalam karya sastra, seperti puisi, drama, maupun prosa. Pada kegiatan apresiasi sastra
pikiran, perasaan, dan kemampuan motorik dilatih dan dikembangkan. Melalui kegiatan
semacam itu pikiran menjadi kritis, perasaan menjadi peka dan halus, memampuan
motorik terlatih. Semua itu merupakan modal dasar yang sangat berarti dalam
pengembangan pendidikan karakter.

4. Tema Karya Sastra dalam Pembentukan Karakter Siswa


Produk sastra yang berupa puisi, cerpen, drama, maupun novel mengungkap berbagai
tema yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Tema-tema produk sastra
dapat dikelompok-kelompokkan untuk dijadikan media pendidikan karakter (secara
reseptif), kemudian dibuat simulasi (metode latihan yang memperagakan sesuatu dalam
bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya) di dalam kelas atau di luar
kelas (bisa di halaman kelas, di auditorium, atau ruang pertemuan). Hal ini akan menarik
bagi siswa dalam kaitannya dengan penanaman nilai-nilai karakter. Melalui karya sastra
yang mengetengahkan berbagai tema, siswa dapat diajak untuk mengenali dan
memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya sendiri. Setelah siswa mengenali
dan memahami kualitas tingkatan karakternya, maka guru harus membimbing atau
mengarahkan kualitas tingkatan karakter siswa tersebut ke arah yang lebih baik,

-8-
KESIMPULAN
Berdasarkan unsur-unsur yang telah dikaji, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Sastra sangat berperan dalam pendidikan karakter peserta didik (manusia), yaitu
dalam perkembangan bahasa, perkembangan kognitif, perkembangan kepribadian, dan
perkembangan sosial
2. Sastra sebagai media katarsis dalam pembelajaran sastra dapat dimanfaatkan secara
reseptif (menerima) dan ekspresif (kemampuan mengungkapkan) dalam pendidikan
karakter untuk membentuk karakter siswa
3. Karya sastra yang mengetengahkan berbagai tema dapat dijadikan media siswa untuk
mengenali dan memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya sendiri.
4. Karya sastra yang mengisahkan dan melukiskan berbagai tipe karakter tokoh, dapat
dijadikan media pendidikan karakter bagi siswa, yakni memberikan teladan kualitas
tingkatan watak atau kepribadian tokoh yang harus ditiru.
Peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa tidak hanya didasarkan pada nilai
yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat
dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton karya
sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas.
Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan sehingga pembaca
cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.

B. RINGKASAN JURNAL PEMBANDING


1. PENDAHULUAN
Selama ini pendidikan yang dilaksanakan kepada peserta didik adalah sebatas
bagaimana menciptakan peserta didik yang mempunyai pengetahuan yang banyak,
tanpa harus menerapkan pengetahuannya tersebut. Tetapi perlu diingat bahwa untuk
bisa mengaplikasikan itu diperlukan pengetahuan dan hafalan atas konstruksi ilmu
tersebut. Sehingga pengetahuan yang dimiliki tidak sebatas pada sifat normatif saja tetapi
harus di implementasikan dalam kehidupan sehariharinya. Terlalu banyak bidang ilmu
yang menjadi bahan pembelajaran di sekolah membuat banyak pihak lengah akan suatu
hal yang tidak kalah pentingnya bagi seorang peserta didik, yaitu pendidikan sikap dan
karakter.
Pendidikan di Indonesia dianggap belum berkarakter dan belum mampu melahirkan
warga negara yang berkualitas, baik prestasi belajar maupun berperilaku baik. Hal ini
terlihat dari merebaknya sikap hidup yang buruk, kekerasan yang kerap terjadi,
penyimpangan norma oleh para pelajar, dan sikap santun dan luhur yang semakin
menipis. pembelajaran sastra dianggap penting karena pembelajaran sastra dapat
membantu pembentukan watak. Dalam nilai pembelajaran sastra ada dua tuntutan yang

-9-
dapat diungkapkan sehubungan dengan pembentukan watak ini. Pertama, pembelajaran
sastra hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam. Seseorang yang telah
banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya memiliki perasaan yang lebih peka
untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai. Tuntutan kedua,
bahwa pembelajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha
mengembagkan berbagai kualitas kepribadian siswa yang antara lain meliputi ketekunan,
kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.
Pengajaran sastra Indonesia di berbagai jenjang pendidikan selama ini sering diaggap
kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi pada guru yang pengetahuan
dan apresiasi sastranya rendah. Hal ini menyebabkan mata pelajaran yang idealnya
menarik dan besar sekali manfaatnya bagi para siswa ini disajikan hanya sekedar
memenuhi tuntutan kurikulum, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat
tempat di hati siswa.

2. PEMBAHASAN
1) Pembelajaran Sastra
Badan Standar Nasional Pendidikan pada tahun 2006 menyempurnakan Standar
Kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia bahwa “standar kompetensi mata
pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap
positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.” Berdasarkan pernyataan di atas dapat
disimpulkan bahwa peserta didik harus memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra.
Menurut (Oemarjati, 1992) yaitu, Pengajaran sastra pada dasarnya mengemban misi
efektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap
peristiwaperistiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menumbuhkan,
dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan
rasa hormatnya terhadap tata nilai, baik dalam konteks individual, maupun sosial.

Tujuan dan Manfaat Pembelajaran Sastra


Pembelajaran apresiasi sastra bertujuan agar siswa mampu memahami, menikmati, dan
memanfaatkan karya sastra guna mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan
kehidupan, meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa (Depdiknas, 2001).
Menurut Lazar (2002: 15-19), manfaat pembelajaran sastra antara lain:
1) Memberikan motivasi kepada siswa
2) Memberi akses pada latar belakang budaya
3) Memberi akses pada pemerolehan bahasa
4) Memperluas perhatian siswa terhadap bahasa
5) Mengembangkan kemampuan interpretatif siswa

- 10 -
6) Mendidik siswa secara keseluruhan.

2) Pendidikan Berkarakter
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Sedangkan istilah pendidikan
karakter adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembelajaran kepada
siswa dengan mengembangkan beragam perilaku seperti moral, sopan santun,
berperilaku baik, sehat, kritis, sukses, sesuai atau diterima secara makhluk sosial.
Tujuan pendidikan karakter untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar
kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara
mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan
menginternalisasi serta mempersonalisasi nilainilai karakter dan akhlak mulia sehingga
terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Nilai-nilai dalam Pendidikan Berkarkter


Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2010), nilai-nilai dalam pendidikan karakter
adalah sebagai berikut:
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya,
toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu
dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap,
dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peraturan.
5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peraturan.
6. Kreatif

- 11 -
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu
yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya
dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan
meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa
dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa
dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan
kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan
alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan
alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab

- 12 -
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan
budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
3) Pembelajaran Sastra dan Pendidikan Berkarakter
Membantu siswa menstimulasikan imajinasi, mengembangkan kemampuan kritis dan
meningkatkan perhatian emosionalnya. Apabila siswa diminta untuk memberikan respon
secara personal terhadap teks sastra yang dibaca, siswa akan menjadi lebih percaya diri
dalam mengekspresikan ide mereka, dan mengekspresikan emosinya. Selain itu, siswa
termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya dalam menguasai teks sastra dan
memahami bahasa, serta dalam menghubungkan teks sastra yang dibaca tersebut
dengan nilai-nilai dan tradisi dari masyarakatnya. Dapat disimpulkan bahwa sastra
memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan. Sejalan dengan itu, pembelajaran sastra
dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai
kehidupan dan kearifan dalam menghadapi lingkungan, realitas kehidupan, dan sikap
pendewasaan. Melalui pembelajaran sastra, diharapkan siswa tumbuh menjadi manusia
dewasa yang berbudaya, mandiri, sanggup mengekspresikan diri dengan pikiran dan
perasaannya dengan baik, berwawasan luas, kritis, berkarakter, halus budi pekerti, dan
santun. Dari berbagai karakter yang dapat dibentuk melalui pembelajaran sastra,
diharapkan siswa mampu membentuk dirinya menjadi manusia yang seutuhnya, lengkap
dengan keunikannya, sehingga dapat hidup di tengah-tengah masyarakat dengan terus
berkarya demi mengisi kehidupan yang bermanfaat dan bermakna.

3. PENUTUP
1. Simpulan
Pendidikan Karakter merupakan proses pembelajaran yang dengan menitikberatkan
pada implementasi pengetahuan berlandaskan 18 nilai-nilai karakter. Melalui pendidikan
karakter semua pihak berkomitmen untuk menumbuh-kembangkan peserta didik menjadi
pribadi yang utuh untuk menginternalisasi nilai-nilai kebajikan dan terbiasa mewujudkan
kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu berbagai upaya dapat dilakukan para
pengajar untuk mengimplementasikan pendidikan berkarakter melelui pengajaran sastra.
Kegiatan apresiasi sastra tidak hanya diajarkan dalam bentuk pembacaan karya sastra
oleh siswa. Kegiatan ini dapat juga diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan dengan
berbagai teknik pembelajaran. Kegiatan deklamasi, lomba penulisan puisi, musikalisasi
puisi, dramatisasi puisi, mendongeng, pembuatan sinopsis, bermain peran, penulisan
kritik dan esei, dan berbagai kegiatan lain dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan
apresiasi sastra pada siswa. Berbagai kegiatan tersebut dijamin akan menumbuhkan
penghayatan, pencintaan, dan penghargaan yang relatif baik pada para siswa terhadap
mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

- 13 -
BAB III
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN

A. Keunggulan dan Kelemahan Jurnal Utama


 Keunggulan Jurnal
1. Berdasarkan isi jurnal sudah cukup lengkap karena terdapat abstrak,kata kunci,
pendahuluannya, kajian teorinya, dan simpulan.
2. Dari segi kebahasaan jurnal ini sangat baik karena menggunakan ketepatan
struktur kalimat dan keefektifan kalimat sehingga jurnal mudah dipahami
3. Dari segi penyajian, jurnal ini tergolong baik karena penyajian penelitiannnya
akurat

 Kelemahan Jurnal
1. Pada jurnal tidak dilengkapi dengan ISSN sehingga belum memenuhi standart
jurnal.
2. Kurangnya penyajian teori-teori dari beberapa ahli.
3. Pembahasan pada jurnal kurang meluas sehingga referensi untuk pembaca
terlalu sedikit.
4. Tidak terdapat metodologi penelitian pada jurnal

B. Keunggulan Dan Kelemahan Jurnal Pembanding


 Keunggulan Jurnal
1. Berdasarkan isi kelengkapan nya tergolong baik karena dalam jurnal terdapat
abstrak dari bahasa inggris, terdapat kata kunci nya, pendahuluan, kajian teori,
dan hasil penelitian dan simpulan
2. Dari segi kebahasaannya jurnal memiliki keefektifan kata dalam penulisan
sehingga bahasa mudah dipahami dan dimengerti
3. Terdapat banyak daftar pustaka sehingga banyak inspirasi atau
sumber-sumber dalam penulisan jurnal tersebut

 Kelemahan Jurnal
1. Sangat tidak lengkapnya identitas dari pada jurnal

- 14 -
2. Pada abstrak jurnal hanya menggunakan bahasa inggris tidak membuat
terjemahan ke bahasa indonesia nya.
3. Belum sesuai dengan standar jurnal karena belum ada ISSN nya
4. Tidak terdapat metodologi penelitian pada jurnal.
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa tidak hanya didasarkan pada nilai
yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat
dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton karya
sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas.
Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan sehingga pembaca
cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.Melalui pendidikan karakter
semua pihak berkomitmen untuk menumbuh-kembangkan peserta didik menjadi pribadi
yang utuh untuk menginternalisasi nilai-nilai kebajikan dan terbiasa mewujudkan
kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu berbagai upaya dapat dilakukan para
pengajar untuk mengimplementasikan pendidikan berkarakter melelui pengajaran sastra.
Kegiatan apresiasi sastra tidak hanya diajarkan dalam bentuk pembacaan karya sastra
oleh siswa. Kegiatan ini dapat juga diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan dengan
berbagai teknik pembelajaran. Kegiatan deklamasi, lomba penulisan puisi, musikalisasi
puisi, dramatisasi puisi, mendongeng, pembuatan sinopsis, bermain peran, penulisan
kritik dan esei, dan berbagai kegiatan lain dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan
apresiasi sastra pada siswa.

B. Saran
Kedua jurnal tersebut sangat disarankan sebagai referensi atau inspirasi untuk
mengetahui bagaimana cara pembentukan karakter anak melalui pelajaran sejarah sastra.
Dan juga saran untuk jurnal pembanding perlu nya identitas yang lengkap agar dapat
meyakinkan pembaca.

- 15 -
DAFTAR PUSTAKA

Wulandari, R. A. Sastra Dalam Pembentukan Karakter Siswa. Jurnal Edukasi


Kultura. 2(2). 63-73

Tindaon, Y. A. Pembelajaran Sastra Sebagai Salah Satu Wujud Implementasi


Pendidikan Berkarakter. 1-9

- 16 -