Anda di halaman 1dari 13

CRITICAL JOURNAL REVIEW

JURNAL 1 : Pengembangan Model Pembelajaran Sastra Berbasis Karakter dan Lokalitas


Dalam Mata Kuliah Drama, Jurusan Pend. Bahasa Inggris Universitas Pend. Ganesha Singaraja
JURNAL 2 : Pengembangan Model Pembelajaran Sastra Indonesia Berbasis Pendidikan
Karakter di SMA/SMK Kab. Klaten

OLEH :

NAMA MAHASISWA : SEPTI BUTARBUTAR


NIM : 2202411020
KELAS : REGULER C
DOSEN PENGAMPU : ELLY PRIHASTY, S.Pd., M.Pd
MATA KULIAH : TEORI DAN SEJARAH SASTRA

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat-Nya, hasil critical jurnal ini dapat terselesaikan tepat waktu. Hasil critical
jurnal ini ditulis guna memenuhi tugas mata kuliah Teori dan Sejarah Sastra pada
semester ini. Semoga dengan terselesaikannya hasil critical jurnal ini dapat
bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah


membantu penulis dalam pembuatan CJR ini, khususnya kepada Ibu Elly Prihasty
selaku dosen pengampu mata kuliah Teori dan Sejarah Sastra.

Penulis menyadari bahwa hasil kritikan jurnal ini jauh dari kata sempurna,
maka kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan guna
penyempurnaan penulisan ini. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

Porsea, Oktober 2020

Septi Butarbutar
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ 2

DAFTAR ISI...................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 4
A. RASIONALISASI CJR........................................................................... 4
B. TUJUAN CJR ....................................................................................... 4
C. MANFAAT CJR..................................................................................... 4
BAB II IDENTIFIKASI JURNAL....................................................................... 5
A. IDENTITAS JURNAL............................................................................ 5
B. RINGKASAN JURNAL.......................................................................... 6
BAB III PEMBAHASAN REVIEW JURNAL.................................................... 10
A. ANALISIS REVIEW JURNAL............................................................... 10
B. EVALUASI REVIEW JURNAL.............................................................. 12
BAB IV PENUTUP............................................................................................. 13
A. KESIMPULAN......................................................................................... 13
B. SARAN.....................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. RASIONALISASI CJR
Critical Journal Review secara singkat dapat diartikan sebagai evaluasi terhadap suatu
buku maupun artikel.Critical Journal Review bukan hanya merupakan laporan atau
tulisan tentang isi suatu buku atau artikel, tetapi lebih kepada evaluasi, seperti mengulas
atau mereview, menginterpretasi serta menganalisis. Di dalam perkuliahan, tugas
diberikan dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai keinginan untuk membaca dan
berpikir sistematis dan kritis serta dapat memberikan pendapat melalui tulisannya.
Dalam hal ini, akan sangat membantu mahasiswa yang kurang memiliki ability dalam
mengungkapkan pendapat secara lisan. Tidak hanya itu, dengan menulis Critical Journal
Review ,mahasiswa akan dituntut untuk dapat membaca berbagai literatur, dan menggali
hal-hal yang dianggap unik di dalam artikel atau buku yang dipilih untuk menambah
pemahaman yang lebih terhadap suatu kajian tertentu.
Dan yang paling penting, dengan menulis Critical Journal Review para reviewer dapat
menguji pikiran pengarang atau penulis berdasarkan sudut pandang penulis dan
pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki. Adapun tujuan penulis di dalam makalah
ini adalah untuk menguraikan tentang kelebihan dan kekurangan dari sebuah jurnal, hal
ini dilakukan demi memenuhi tugas matakuliah Teori dan Sejarah Sastra.. Dalam
makalah Critical Journal Review ini tidak ada maksud untuk menyudutkan beberapa
pihak tertentu. Dengan demikian, diharapkan tidak ada pihak-pihak yang tersinggung
atas penyajian makalah ini.

B. TUJUAN CJR
1. Meningkatkan Kemampuan Nalar dan Berpikir dalam mencari Informasi dalam
sebuah penelitian
2. Memenuhi tugas Mata Kuliah Teori dan Sejarah Sastra
3. Menambah wawasan mahasiswa dalam menggali informasi dan menganalisis gagasan
dalam sebuah penelitian
4. Mengetahui kelebihan dan kelemahan jurnal
5. Melatih kemampuan penulis dalam mengkritisi atau mereview suatu jurnal

C. MANFAAT CJR
1. Kita dapat mengetahui jurnal mana yang cocok diterapkan dalam pembelajaran.
2. Kepada penulis dapat mengetahui kesalahan-kesalahan dari jurnal ini sehingga nanti
ketika menulis tidak mengulangi kesalahan lagi, dan dapat mengambil pelajaran dari
kritik yang diberikan reviewer atau pembaca.
BAB II

IDENTIFIKASI JURNAL

A. IDENTITAS JURNAL
JURNAL UTAMA
Judul : Pengembangan Model Pembelajaran Sastra Berbasis Karakter dan
Lokalitas Dalam Mata Kuliah Drama, Jurusan Pend. Bahasa Inggris
Universitas Pend. Ganesha Singaraja

Nama Jurnal : Jurnal pendidikan Indonesia


Penulis : Kadek Sonia Piscayanti
Vol / No :1/2
Halaman : 79–90
Penerbit : Jurnal Pendidikan Indonesia
Tahun Terbit : 2012
ISSN : 2303-288X

JURNAL PEMBANDING
Judul : Pengembangan Model Pembelajaran Sastra Indonesia Berbasis

Pendidikan Karakter di SMA/SMK Kab. Klaten

Nama Jurnal :–

Penulis : Esti Ismawati; Gunawan Budi Santosa; dan Abdul Ghofir

Vol / No :9/2

Halaman : 185–200

Penerbit : METASASTRA

Tahun Terbit : 2016

ISSN :–
B. RINGKASAN JURNAL

JURNAL UTAMA
PENDAHULUAN
Sastra adalah mata kuliah yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa. Sastra
memperkaya, memperdalam, memperluas daya pikir, daya analisis kritis, dan imajinasi
manusia. Bahasa dalam sastra tak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan ide,
namun juga menyampaikan pesan. Pesan yang ingin disampaikan dalam sastra adalah sebuah
nilai. Nilai yang dimaksud bisa berupa nilai moral, pembentukan karakter, dan nilai-nilai
budaya yang teinsersi di dalam karya sastra. Pada intinya sebuah karya sastra adalah cermin
budaya bangsa dan negara. Melalui sastra, kita dapat bercermin pada apa yang terjadi dalam
sebuah budaya bangsa. Mata kuliah sastra di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris terbagi
menjadi dua yakni literature 1 (prose fiction dan poetry) dan literature 2 (drama). Mata kuliah
drama berbahasa Inggris selama ini menggunakan sumber-sumber yang didapat dari luar
negeri, misalnya buku-buku, naskah, referensi dan rujukan lain. Namun ketika menyimak
naskah-naskah tersebut, ada sebuah gap yang sangat lebar antara mahasiswa dan teks yang
dibaca dan dimainkannya. Ada jurang yang sangat lebar antara mahasiswa dan teks.
Berdasarkan analisa kebutuhan melalui observasi dan wawancara yang dilakukan pada
beberapa mahasiswa yang telah mengambil mata kuliah ini, didapatkan hasil bahwa
mahasiswa memerlukan model pembelajaran sastra dan bahan ajar berbasis karakter dan
lokalitas. Meskipun pembelajaran dalam mata kuliah drama sudah berjalan dengan baik dan
efektif namun dapat lebih ditingkatkan dengan memberikan pengembangan model
pembelajaran berbasis karakter dan lokalitas. Pembelajaran berbasis sastra adalah
pembelajaran berbasis karya narasi dan ekspositori sebagai bahan pendukung utama dalam
pembelajaran yang menumbuhkembangkan literasi siswa (Sorensen dan Lehman, 1995).
Sastra adalah sumber belajar utama. Karya sastra yang dimaksud dapat berupa puisi, prosa
maupun drama. Karya sastra yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah naskah drama.
Pembelajaran berbasis sastra adalah pembelajaran berbasis karya narasi dan ekspositori
sebagai bahan pendukung utama dalam pembelajaran yang menumbuhkembangkan literasi
siswa (Sorensen dan Lehman, 1995). Sastra adalah sumber belajar utama. Karya sastra yang
dimaksud dapat berupa puisi, prosa maupun drama. Karya sastra yang menjadi fokus dalam
penelitian ini adalah naskah drama.
METODE
Desain penelitian menggunakan desain pengembangan Dick, Carey and Carey (2001
dalam Dewi, (2010)) yang berorientasi pada pengetahuan dan hasil. Model Dick, Carey and
Carey terdiri dari 9 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi
perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain.
Kesembilan langkah pada model Dick, Carey and Carey menunjukan hubungan yang sangat
jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain,
system yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari
satu urutan ke urutan berikutnya. Langkah–langkah desain pembelajarannya adalah sebagai
berikut:
a. Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran, dimana tahap ini bertujuan untuk
menentukan tujuan pembelajaran dalam hal ini adalah perkuliahan drama
b. Melaksanakan analisis pembelajaran, dimana tahap ini bertujuan untuk menentukan tahap-
tahap pembelajaran yang penting untuk dilaksanakan di perkuliahan
c. Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, dimana tahap ini dilakukan
untuk mengetahui karakteristik peserta perkuliahan dan mengetahui minat dan bakat mereka
sehingga memudahkan mengarahkan ke tujuan pembelajaran
d. Merumuskan tujuan performansi, dimana tahap ini dilakukan untuk mengetahui rumusan
evaluasi produk yaitu berupa performance (drama), hal ini akan menjadi acuan untuk
penilaian karya mahasiswa
e. Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan, adalah tahap dimana aspek-aspek evaluasi
dinilai dan dikembangkan
f. Mengembangkan strategi pembelajaran adalah tahap untuk memilih dan menentukan serta
mengembangkan strategi pembelajaran
g. Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, dimana tahap ini dilakukan untuk
menyesuaikan materi dan tujuan pembelajaran
h. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif, dimana tahap ini dilakukan untuk
mengetahui hasil pembelajaran ketika pembelajaran masih berlangsung dalam satu semester
misalnya tes tengah semester
i. Merevisi bahan pembelajaran, untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran
Penelitian riset dan pengembangan ini adalah jenis penelitian yang mixed antara metode
penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian kualitatifnya berada pada tahap awal
pengembangan yaitu survai dan pengumpulan data awal tentang sebuah kondisi yang ingin
dibidik. Sedangkan penelitian kuantitatifnya bertugas menguji validitas produk dan
reliabilitas produk.Untuk mengumpulkan data survei, dibutuhkan informasi tentang tujuan
pembelajaran, proses pembelajaran, karakteristik warga belajar dan lingkungannya, tujuan
khusus. Informasi tentang tujuan pembelajaran didapatkan dari analisis dokumen yaitu
analisis silabus. Silabus yang digunakan adalah silabus berbasis kompetensi. Observasi
dilakukan untuk mengetahui secara langsung apa yang terjadi di dalam perkuliahan, proses
pembelajaran yang terjadi, serta model-model pembelajaran dan bahan ajar yang digunakan.

JURNAL PEMBANDING
PENDAHULUAN
Sastra Indonesia sebagai sesuatu yang dipelajari atau sebagai pengalaman kemanusiaan
dapat dijadikan bahan renungan dan penilaian, dua hal yang terkait dengan pendidikan
karakter. Disamping melatih keterampilan berbahasa, sastra dapat menambah pengetahuan
tentang pengalaman hidup manusia, membantu mengembangkan pribadi, membantu
pembentukan watak, memberi kepuasan batin, memberi kenyamanan, dan meluaskan dimensi
kehidupan (Disick dalam Ismawati, 2013). Sastra diakui juga sebagai salah satu alat untuk
menyampaikan pengajaran (pendidikan) yang berguna dan menyenangkan (dulce et utile). Di
sisi lain, pendidikan harus mampu merangsang seseorang “berpikir kritis” dan mampu
memilih alasan yang tepat dalam setiap aktivitasnya. Pendidikan harus mampu “membentuk
karakter” setiap pribadi siswa. Melatih siswa berpikir kritis sangat penting karena berpikir
kritis akan menghasilkan sikap keberpihakan. Karakter sangat erat kaitannya dengan sikap
dan pilihan cara bertindak. Berdasarkan pandangan tersebut, sangat penting untuk segera
melakukan pengembangan model pembelajaran sastra Indonesia berbasis pendidikan
karakter. Menurut survei awal yang dilakukan Esti Ismawati (dipresentasikan dalam seminar
internasional dalam rangka PIBSI di UNNES, 2011: 5), pengajaran sastra Indonesia yang
dilakukan para guru di Klaten ternyata belum berbasis pendidikan karakter. Pemilihan bahan
ajar serta pemilihan strategi dan evaluasi dalam pengajaran sastra Indonesia masih terbatas
dan menempatkan pengajaran sastra Indonesia sama halnya dengan mata pelajaran lain yang
berfokus pada aspek kogintif semata. PadahalPadahal seharusnya aspek afektiflah yang harus
banyak disentuh dalam pengajaran sastra Indonesia, dengan cara melibatkan rasa dan
kepekaan siswa. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran
sastra Indonesia berbasis pendidikan karakter sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai karakter
di SMA/SMK di Kabupaten Klaten.
METODE PENELITIAN
2.1 Model Pembelajaran Sastra Indonesia
Model pembelajaran sastra Indonesia yang akan dihasilkan dari luaran penelitian ini
adalah model pembelajaran sastra Indonesia yang terpadu dengan penerapan pendidikan
karakter. Keterpaduan ini sudah dimulai ketika guru mengembangkan tujuan pembelajaran,
mengembangkan alat evaluasi, mengembangkan bahan ajar, dan memilih strategi yang akan
digunakan. Keempat komponen pembelajaran tersebut didesain oleh peneliti menjadi satu
konsep yang utuh, yakni “Model Pembelajaran Sastra Indonesia Berbasis Pendidikan
Karakter”. Pengajaran sastra yang ideal berorientasi pada sikap apresiasi. Apresiasi sastra
dimaknai sebagai kegiatan menggauli, menggeluti, memahami, dan menikmati karya cipta
sastra hingga tumbuh pengetahuan, pengertian, kepekaan, pemahaman, penikmatan, dan
penghargaan terhadap karya cipta sastra. Apresiasi berhubungan dengan sikap dan nilai
(aspek afektif). Apresiasi merupakan tingkat terakhir yang dapat dicapai dalam domain
afektif yang pencapaiannya memerlukan waktu yang sangat panjang (tidak bisa instan) serta
prosesnya berlangsung terus-menerus (bahkan) setelah proses pendidikan formal berakhir
(Ismawati, 2013 37:). Hal ini diungkapkan pula oleh Oemarjati (2005: 5) bahwa
pembelajaran apresiasi sastra pada dasarnya mengemban misi afektif, yaitu memperkaya
pengalaman siswa dan menjadikan siswa lebih mantap terhadap peristiwa-peristiwa di
sekelilingnya. Proses menuju apresiasi sastra yang ideal dapat dibagi menjadi empat
tingkatan, yakni tingkat menggemari, tingkat menikmati, tingkat mereaksi (menyatakan
pendapat tentang cipta sastra yang dibacanya), dan tingkat mereproduksi (menghasilkan)
karya cipta sastra. Pengajaran sastra yang ideal tidak menekankan pada penguasaan aspek
kognitif semata, tetapi pada aspek penghayatan dan pemahaman terhadap karya cipta sastra
(aspek afektif) yang wilayah sasaran dan tujuannya seiring dan sejalan dengan pendidikan
karakter. Oleh karena itu, pendidikan karakter dapat diintegrasikan ke dalam pengajaran
sastra.
2.2 Pengajaran Sastra Indonesia Berbasis Karakter
Pengajaran sastra Indonesia berbasis pendidikan karakter mensyaratkan adanya guru
sastra yang dapat dijadikan model, teladan, serta contoh bagi peserta didiknya dalam dua hal
yang terkait, yakni dalam hal apresiasi sastra dan dalam hal mewujudkan nilai-nilai
pendidikan karakter. Ia dapat membaca puisi dengan baik, membaca cerpen dengan baik,
menulis karya sastra dengan baik, rajin menghadiri diskusi-diskusi sastra, rajin menghadiri
pembahasan buku-buku sastra baru, rajin menonton pementasan drama, dan seterusnya.
Disamping itu, ia dapat diteladani sikap dan perilakunya yang menyangkut nilai-nilai
religiositas, kejujuran, tanggung jawab, nasionalisme, dan nilai-nilai lainnya (20
nilaipendidikan karakter, Depdikbud).
2.3. Metodologi Penelitian
Penelitian ini berorientasi pada pengembangan produk yang berbentuk model
pembelajaran sastra berbasis pendidikan karakter yang menghasilkan produk berupa buku
ajar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah R & D yang
dikembangkan oleh Gall & Borg. SecaraSecara prosedural, penelitian ini melalui empat
tahapan, yakni (1) studi pendahuluan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap pengujian model,
dan (4) diseminasi hasil (Gall & Borg, 2003). Produk akhir penelitian berupa model
pembelajaran sastra Indonesia berbasis pendidikan karakter dan penerbitan buku
Pembelajaran Sastra Indonesia Berbasis Pendidikan Karakter di SMA/SMK.

BAB III
PEMBAHASAN REVIEW JURNAL

A. ANALISIS REVIEW JURNAL

JURNAL UTAMA
Hasil penelitian meliputi hasil analisis dokumen dan literatur, hasil wawancara, hasil
asesmen diri, hasil observasi, dan hasil kuesioner. Hasil analisis dokumen dan literatur adalah
sebagai berikut. Tujuan umum pembelajaran drama ada dua. Pertama, untuk membangun
pengetahuan. Kedua, untuk membangun pengalaman. Tujuan pertama, membangun
pengetahuan drama, dijabarkan sebagai berikut.
- Untuk mengetahui konsep teater, dan ciri-ciri teater
- Untuk mengetahui elemen-elemen teater dan hubungan mereka
Tujuan kedua, memberikan pengalaman nyata berteater dengan memaksimalkan pengetahuan
kognitif yang telah dikuasai. Hasil wawancara dengan Drs. Hardiman, M.Si adalah sebagai
berikut. Proses pembelajaran drama dapat dibagi menjadi dua yaitu soal apa itu bermain
drama, dan bagaimana mengajarkan drama. Hasil asesmen diri adalah sebagai berikut.
Pertama, efektifitas pembelajaran ditentukan oleh kualitas proses pembelajaran. Selama ini
proses pembelajaran sudah berjalan efektif namun perlu ditingkatkan. Misalnya perlu
kombinasi antara proses belajar individu dan kelompok. Demikian pula perlu kombinasi
antara ceramah dosen dan presentasi mahasiswa.Sementara itu hasil observasi menunjukkan
bahwa karakteristik pebelajar mata kuliah drama sangat beragam. Mereka datang dari
berbagai latar budaya daerah masing-masing dan mereka tidak memiliki dasar seni drama
dalam bahasa Inggris. Sementara itu hasil analisis kuesioner dibagi menjadi lima bagian
yaitu: efektivitas mata kuliah drama, materi pembelajaran kuliah drama, proses pembelajaran
dan model pembelajaran, nilai-nilai karakter yang dikembangkan dan asesmen. Kuesioner ini
telah diuji validitas dan reliabilitasnya dan ada tiga butir yang gugur dalam uji validitas.
Tahap selanjutnya adalah melaksanakan evaluasi formatif. Tes yang digunakan
sebelumnya diujicobakan untuk menguji validitas dan reliabilitasnya. Setelah tes dinyatakan
valid dan reliabel, maka tes ini digunakan untuk menguji efektivitas pembelajaran. Ada dua
kelas yang dibandingkan yaitu kelas yang tidak diberi pengajaran pembelajaran drama
berbasis karakter (kelas A) dan kelas yang diberi pembelajaran berbasis karakter dan lokalitas
(kelas B). Dari analisis statistik deskriptif, didapatkan data bahwa nilai rata-rata kelas B
(86.50) jauh lebih baik dari kelas A (80.00). Kelompok mahasiswa yang diajarkan dengan
model pembelajaran sastra lebih baik daripada kelompok mahasiswa yang tidak diajarkan
dengan model pembelajaran drama. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan rata-rata nilai yang
diraih kedua kelompok. Kelompok B memiliki rata-rata nilai jauh lebih tinggi daripada
kelompok A.
JURNAL PEMBANDING
Pertama, dari 18 karakter yang wajib dibelajarkan (religius, jujur, toleransi, disiplin,
kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu [curiousity], semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, peduli lingkungan, peduli sosial), ternyata baru 14
karakter yang terinternalisasi dalam pribadi guru dan siswa di Klaten. Empat karakter yang
belum dimiliki oleh siswa, justru karakter yang mencerminkan kesiapan manusia Indonesia
untuk menghadapi era mondial, yakni kreatif, rasa ingin tahu (curiousity), cinta tanah air, dan
gemar membaca. Empat karakter inilah yang membedakan manusia lama dan baru. Kedua,
karakter dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) hanya ditempelkan saja, tanpa
ditindaklanjuti dengan komponen lain seperti bahan ajar, evaluasi, dan proses pembelajaran.
Mestinya sejak pemetaan indikator, pembuatan silabus pembelajaran, RPP, pengembangan
materi dan media, LKS (Lembar Kerja Siswa), kisi-kisi soal (blue print), instrumen penilaian,
unjuk kerja, dan proses pembelajaran, sudah mengedepankan karakter yang akan disasar.
Ketiga, bahan ajar kurikulum bahasa Indonesia 2013 yang berbasis teks yang terdiri atas teks
deskripsi, teks penceritaan (recount), teks prosedur kompleks, teks laporan, teks eksplanasi,
teks eksposisi, teks diskusi, teks surat, teks iklan, teks catatan harian, teks negosiasi, teks
pantun, teks dongeng, teks anekdot, teks fiksi sejarah, yang dapat dikelompokkan ke dalam
tiga kelompok: (1) Teks cerita, yang terdiri atas teks sastra yang meliputi teks naratif dan teks
non naratif; (2) Teks faktual,yang terdiri atas teks laporan dan teks prosedural; (3) Teks
tanggapan yang terdiri atas teks transaksional dan teks ekspositori (kategori teks nonsastra)
belum juga mengaitkan materi dengan karakter yang akan disasar. Keempat, 4 tahap
pembelajaran Bahasa Indonesia, yakni (1) pembangunan konteks, dilakukan guru dan siswa
untuk mengarahkan pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada setiap
pelajaran; (2) pemodelan teks, berisi pembahasan teks yang disajikan sebagai model
pembelajaran, meliputi pembahasan semua aspek kebahasaan; (3) pembuatan teks secara
bersama-sama. Di sini guru dan siswa menyusun teks seperti dalam model;(4) pembuatan
teks secara mandiri.
Mengenai kemampuan bersastra, khususnya kemampuan menulis puisi, dari lima SMA
dan SMK Negeri di kabupaten Klaten rata-rata belum memiliki kemampuan yang baik,
namun mereka mempunyai ketaatan dan minat yang tinggi terhadap sastra khususnya puisi.
Perbedaan nyata yang tampak antara puisi karya siswa SMAN I Klaten dengan siswa sekolah
lain terletak pada segi kuantitas dan segi kualitas. Dari segi kuantitas, puisi siswa SMA
Negeri I Klaten cenderung lebih banyak barisnya, lebih panjang puisinya dibandingkan
dengan siswa sekolah lain. Dari segi kualitas isi, puisi siswa SMAN I Klaten mampu
menangkap tema yang harus ada di dalam puisinya. MerekaMereka cepat sekali menuangkan
tema ke dalam puisi sehingga hampir seluruh puisi siswa SMAN I Klaten bertema
sebagaimana 18 karakter yang harus dimiliki.

B. EVALUASI REVIEW JURNAL

JURNAL UTAMA
Kelebihan Jurnal
• Dari segi penulisan dan tata bahasa, jurnal tersebut sudah bagus, rapi dan mudah
dipahami.
• Terdapat pernyataan para ahli yang lebih memperjelas pembahasan pada jurnal tersebut
• Terdapat data dalam bentuk diagram dan angka yang memperjelas data hasil penelitian.
• Identitas jurnal sudah lengkap dan jelas
• Pembahasan dalam jurnal mudah dipahami dengan metode-metode yang dicantumkan
Kelemahan Jurnal
• Didalam jurnal tidak memaparkan rumus-rumus untuk memperkuat data penelitian
• Sumber bacaan atau referensi kurang banyak yang membuat jurnal kurang lengkap.

JURNAL PEMBANDING
Kelebihan Jurnal
• Dari segi penulisan dan tata bahasa, jurnal tersebut sudah bagus, rapi dan mudah
dipahami
• Terdapat gambar dalam bentuk kerangka yang memperjelas dan membuat pembaca
lebih mudah memahami penelitian dalam jurnal
• Terdapat pernyataan para ahli yang lebih memperjelas pembahasan dalam jurnal
tersebut

Kelemahan Jurnal
• Identitas jurnal kurang lengkap karena ISSN tidak ada dalam jurnal
• Sumber bacaan atau referensi kurang banyak yang membuat jurnal kurang
• Pembahasannya sangat luas sehingga agak sulit dimengerti

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan jurnal utama, pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa
pembelajaran berbasis sastra, karakter dan lokalitas memiliki peluang besar untuk
berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar di masa depan. Pembelajaran berbasis
sastra, karakter dan lokalitas mengandung akar budaya dan nilai-nilai karakter yang
membumi. Dengan model pembelajaran berbasis sastra, karakter dan lokalitas,
mahasiswa lebih memahami karakter dirinya dan karakter yang diperankannya.
Kedua, bahan ajar berupa naskah drama berbasis karakter dan lokalitas perlu
diperkenalkan kepada mahasiswa agar mahasiswa lebih memahami karakter dan
lokalitas budaya sendiri.
Berdasarkan jurnal pembanding, hasil analisis dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran sastra Indonesia berbasis pendidikan karakter belum mencapai hasil
maksimal sesuai dengan indikator yang ditetapkan. Hal itu dapat dilihat pada empat
aspek berikut: pada tataran penyusunan RPP, pemilihan bahan, pemilihan strategi atau
metode, dan pada tataran evaluasi. Saran yang direkomendasikan adalah perlunya
pembentukan jejaring atau networking antara LPTK dan sekolah secara nyata, dan
pendampingan dari Perguruan Tinggi (khususnya IKIP, STKIP, FKIP, dan LPTK)
untuk memperbarui model pembelajaran sastra Indonesia berbasis pendidikan
karakter.

B. SARAN
Kedua jurnal tersebut sudah cukup bagus dari segi pembahasannya, tetapi ada
baiknya jika lebih menambah referensi dan sumber bacaan agar informasi lebih
banyak lagi dan untuk jurnal yang kurang lengkap identitasnya agar dapat diperbaiki
untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Esti Ismawati dkk. 2016. Pengembangan Model Pembelajaran Sastra Indonesia Berbasis
Pendidikan Karakter di SMA/SMK Kab. Klaten. Vo. 9 No. 2

Kadek Sonia Piscayanti 2012. Pengembangan Model Pembelajaran Sastra Berbasis Karakter dan
Lokalitas Dalam Mata Kuliah Drama, Jurusan Pend. Bahasa Inggris Universitas Pend. Ganesha
Singaraja. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vo 1 No. 2