Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu pengobatan dan terapi penyakit sangat banyak kita temui, apalagi saat
ini dengan kemajuan teknologi internet kita dapat mengetahui berbagai hal
khususnya dibidang kesehatan gigi dan mulut. Masyarakat tidak lagi awam
tentang kesehatan gigi dan mulut. Namun dalam kenyataannya masih banyak dari
kita pergi ke dokter gigi untuk mengobati dan bukan untuk mencegah. Hal ini juga
perlu disadari oleh rekan medis agar selalu memberikan petunjuk pencegahan
kepada pasien. Perlu disadari keberhasialan suatu tindakan pengobatan tidak
hanya dapat dicapai oleh satu pihak saja, melainkan harus adanya kerjasama
antara pasien dan dokter itu sendiri.
Merokok sudah merupakan hal yang biasa kita jumpai dimana-mana di
dunia. Kebiasaan ini sudah begitu luas dilakukan baik dalam lingkungan
berpendidikan tinggi maupun berpendidikan rendah. Merokok sudah menjadi
masalah yang kompleks yang menyangkut aspek psikologis dan gejala sosial.
Banyak penelitian dilakukan dan malah disadari bahwa merokok mengganggu
kesehatan tubuh. Tetapi untuk menghentikan kegiatan ini sangat sulit. Merokok
terutama dapat menimbulkan penyakit kardiovaskuler dan kanker, baik kanker
paru-paru, oesophagus, laryng, dan rongga mulut. Kanker di dalam rongga mulut
biasanya dimulai dengan adanya iritasi dari produk-produk rokok yang dibakar
dan dihisap. Iritasi ini menimbulkan lesi putih yang tidak sakit. Selain itu
merokok juga dapat menimbulkan kelainan-kelainan rongga mulut misalnya pada
lidah, gusi, mukosa mulut, gigi dan langit-langit yang berupa stomatitis nikotina
dan infeksi jamur.
 PENGARUH MEROKOK TERHADAP LIDAH
Pada perokok berat, merokok menyebabkan rangsangan pada
papilafiliformis (tonjolan/juntai pada lidah bagian atas) sehingga menjadi
lebih panjang (hipertropi). Disini hasil pembakaran rokok yang berwarna
hitam kecoklatan mudah dideposit, sehingga perokok sukar merasakan rasa
pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa.
 PENGARUH MEROKOK TERHADAP GUSI
Jumlah karang gigi pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang
bukan perokok. Karang gigi yang tidak dibersihkan dapat menimbulkan
berbagai keluhan seperti gingivitis atau gusi berdarah. Disamping itu hasil
pembakaran rokok dapat menyebabkan gangguan sirkulasi peredaran darah ke
gusi sehingga mudah terjangkit penyakit.

 PENEBALAN MUKOSA AKOBAT MEROKOK


Merokok merupakan salah satu faktor penyebab Leukoplakia yaitu suatu
bercak putih atau plak pada mukosa mulut yang tidak dapat dihapus. Hal ini
bisa dijumpai pada usia 30-70 tahun yang mayoritas penderitanya pria
terutama yang perokok. Menurut penelitian Silverman dari semua kasus
Leukoplakia 95% adalah perokok. Iritasi yang terus menerus dari hasil
pembakaran tembakau menyebabkan penebalan pada jaringan mukosa mulut.
Sebelum gejala klinis terlihat, iritasi dari asap tembakau ini menyerang
sel-sel epitel mukosa sehingga aktifitasnya meningkat. Gejala ini baru terlihat
bila aktifitas selluler bertambah dan epitel menjadi tebal, terutama tampak
pada mukosa bukal (mukosa yang menghadap pipi) dan pada dasar mulut.
Perubahan mukosa mulut terlihat sebagai bercak putih. Bercak putih tersebut
mungkin disebabkan karena epitel yang tebal jenuh dengan saliva (air ludah).
Para ahli mengatakan bahwa leukoplakia merupakan lesi pra-ganas di dalam
mulut. Perubahan leukoplakia menjadi ganas 3-6%.

 NODA ATAU STAIN KARENA TEMBAKAU


Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Pada mulanya noda ini
dianggap disebabkan oleh nikotin, tetapi sebetulnya adalah hasil pembakaran
tembakau yang berupa ter. Nikotin sendiri tidak berwarna dan mudah larut.
Shafer dan kawan-kawan mengatakan bahwa warna coklat terjadi pada
perokok biasa, sedang warna hitam terjadi pada perokok yang menggunakan
pipa. Noda-noda tersebut mudah dibersihkan karena hanya terdapat di dataran
luar gigi. Tetapi pada orang yang merokok selama hidupnya, noda tersebut
dapat masuk ke lapisan email gigi bagian superficial dan sukar untuk
dihilangkan. Kebiasaan merokok sangat mempengaruhi kesehatan mulut
terutama perubahan mukosa (selaput lendir). Kebanyakan, kanker di dalam
mulut dimulai dengan perubahan mukosa. Perubahan ini tidak menimbulkan
rasa sakit (lesi pra-ganas) sehingga tidak diperhatikan sampai keadaan menjadi
lanjut. Oleh karena itu jika terdapat bercak putih, sedini mungkin datang ke
dokter gigi. Biasakan memeriksa gigi setiap 6 bulan sekali, meskipun tidak
mengalami keluhan. Dan yang paling penting adalah kemauan yang keras
untuk menghilangkan kebiasaan merokok, jika perlu konsultasi dengan dokter.

1.2 Rumusan Masalah


● Penyakit apa sajakah yang dapat ditimbulkan oleh rokok???
● Bagaimana dampak rokok terhadap pengaruh kesehatan gigi dan
mulut???
● Perawatan apa yang dianjurkan kepada pasien perokok untuk berhenti
merokok???

1.3 Tujuan dan Manfaat


1.3.1 Tujuan Penulisan
Memberikan informasi terhadap para perokok tentang bahaya
rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut.
1.3.2 Manfaat Penulisan
 Untuk mengetahui penyakit mulut yang dapat ditimbulkan oleh
rokok.
 Untuk mengetahui dampak rokok terhadap pengaruh kesehatan
gigi dan mulut.
 Memberikan informasi perawatan terhadap pasien perokok
untuk berhenti merokok.

1.4 Ruang Lingkup Masalah


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Rokok

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga


120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang
berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu
ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada
ujung lainnya. Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau
kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak
beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai
pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang
dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan
jantung(walapun pada kenyataanya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali
dipatuhi).

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku


bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh.
Pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari
para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian
membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di
kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok
untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-
mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan
merokok mulai masuk negara-negara Islam. Dampak perokok pada non perokok
(perokok pasif) sudah lama diketahui. Namun bahaya mengenai orangtua perokok
pada kesehatan anak-anak baru kini mengemuka. Dari penelitian yang dilakukan
oleh Dr Paolo Vineis disejumlah negara Eropa diketahui bahwa anak-anak
mengalami dampak paling tinggi.

Setiap batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih 4 000


bahan kimia beracun yang membahayakan dan boleh membawa kematian.
Dengan ini setiap hisapan itu menyerupai satu hisapan maut. Di antara kandungan
asap rokok termasuklah bahan radioaktif (polonium-201) dan bahan-bahan yang
digunakan di dalam cat (acetone), pencuci lantai (ammonia), ubat gegat
(naphthalene), racun serangga (DDT), racun anai-anai (arsenic), gas beracun
(hydrogen cyanide) yang digunakan di “kamar gas maut”. Bagaimanapun, racun
paling penting adalah Tar, Nikotin dan Karbon Monoksida. Tar mengandung
sekurang-kurangnya 43 bahan kimia yang diketahui menjadi penyebab kanker
(karsinogen). Bahan seperti benzopyrene yaitu sejenis policyclic aromatic
hydrocarbon (PAH) telah lama disahkan sebagai penyebab kanker.

Nikotin, seperti najis dadah heroin, amfetamin dan kokain, bertindak balas
di dalam otak dan mempunyai kesan kepada sistem mesolimbik yang menjadi
penyebab utama ketagihan. Nikotin turut menjadi punca utama risiko serangan
penyakit jantung dan strok. Hampir satu perempat pasien penyakit jantung adalah
karena kebiasaan merokok. Karbon Monoksida pula adalah gas beracun yang
biasanya dikeluarkan oleh knalpot kendaraan. Apabila racun rokok itu memasuki
tubuh manusia , akan membawa kerusakkan pada setiap organ yang dilaluinya,
bermula dari hidung, mulut, tenggorokan, saluran pernafasan, paru-paru, saluran
darah, jantung, organ reproduksi, sehinggalah ke saluran kencing dan kandung
kemih , yaitu apabila sebahagian dari racun-racun itu dikeluarkan dari badan
dalam bentuk air seni.

2.2 Jenis Rokok

Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan ini didasarkan


atas bahan pembungkus rokok, bahan baku atau isi rokok, proses pembuatan
rokok, dan penggunaan filter pada rokok.

2.2.1 Rokok berdasarkan bahan pembungkus

 Klobot : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung.

 Kawung : rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.

 Sigaret : rokok yang bahan pembungkusnya dari kertas.

 Cerutu :rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau


2.2.2 Rokok berdasarkan bahan baku atau isi

 Rokok Putih: rokok yang bahan baku atau isinya


hanya daun tembakau yang diberi saus untuk
mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

 Rokok Kretek: rokok yang bahan baku atau


isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang
diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan
aroma tertentu.

 Rokok Klembak: rokok yang bahan baku atau


isinya berupa daun tembakau, cengkeh,
dan kemenyan yang diberi saus untuk
mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

2.2.3 Rokok berdasarkan proses pembuatannya

 Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses


pembuatannya dengan cara digiling atau
dilinting dengan menggunakan tangan dan atau
alat bantu sederhana.

 Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses


pembuatannya menggunakan mesin.
Sederhananya, material rokok dimasukkan ke
dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang
dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok
batangan. Saat ini mesin pembuat rokok telah
mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu
sampai delapan ribu batang rokok per menit.
Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan
dengan mesin pembungkus rokok sehingga
keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa
rokok batangan namun telah dalam bentuk pak.
Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu
menghasilkan keluaran berupa rokok dalam pres,
satu pres berisi 10 pak. Sayangnya, belum
ditemukan mesin yang mampu menghasilkan
SKT karena terdapat perbedaan diameter
pangkal dengan diameter ujung SKT. Pada
SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar ujung
rokok sama besar.

2.2.4 Rokok berdasarkan penggunaan filter

 Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian


pangkalnya terdapat gabus.

 Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada


bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

2.3 Definisi Gigi

Gigi adalah bagian keras yang terdapat di dalam mulut dari


banyak vertebrata. Mereka memiliki struktur yang bervariasi yang memungkinkan
mereka untuk melakukan banyak tugas. Fungsi utama dari gigi adalah untuk
merobek dan mengunyah makanan dan pada beberapa hewan, terutama karnivora,
sebagai senjata. Akar dari gigi tertutup oleh gusi. Gigi memiliki struktur
pelindung yang disebut email gigi, yang membantu mencegah lubang di
gigi. Pulp dalam gigi menciut dan dentin terdeposit di tempatnya. Gigi merupakan
bagian paling membedakan di jenis mamalia yang berbeda, dan salah satu yang
bisa menjadi fosil dengan baik. Paleontologismenggunakannya untuk
mengidentifikasi jenis fosil dan seringkali hubungan di antaranya. Bentuk gigi
berhubungan dengan jenis makanan hewan tersebut. Misalnya herbivora memiliki
banyak gigi geraham untuk mengunyah karena rumput sulit untuk
dicerna. Karnivora membutuhkan taring untuk membunuh dan merobek, dan
karena daging mudah untuk dicerna, maka mereka dapat menelan makanan
tersebut tanpa membutuhkan geraham untuk mengunyah makanan tersebut
terlebih dahulu.
2.3.1 Bagian-bagian gigi

 Lapisan email, merupakan lapisan yang paling


keras.

 Tulang gigi (dentin), di dalamnya terdapat


saraf dan pembuluh darah.

 Rongga gigi (pulpa), merupakan bagian antara


corona dan radiks.

 Akar gigi atau radiks, merupakan bagian yang


tertanam pada tulang rahang. Akar gigi
melekat pada tulang rahang dengan
perantaraan semen gigi.

 Semen gigi melapisi akar gigi dan membantu


menahan gigi agar tetap melekat pada gusi.

Secara umum kita mengetahui rokok yang ada di Indonesia ada 2 jenis,
rokok dengan filter dan tanpa filter ( lebih dikenal dengan rokok kretek). Rokok
tanpa filter cenderung lebih cepat merubah warna gigi dari pada rokok dengan
filter.Sekarang mari kita ikuti jejak asap rokok kenapa begitu banyak organ”
tubuh yang dirugikan. Saat kita menghisap rokok asap yang keluar dari sebatang
rokok menuju rongga mulut, beberapa detik asap rokok dengan jutaan zat” kimia
berada dalam rongga mulut dan mempengaruhi jaringan dan organ yang ada
dalam rongga mulut termasuk gigi itu sendiri.

Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut


merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah dan
mengurangi pengeluaran ludah. Akibatnya rongga mulut menjadi kering dan lebih
an-aerob (suasana bebas zat asam) sehingga memberikan lingkungan yang sesuai
untuk tumbuhnya bakteri an-aerob dalam plak. Dengan sendirinya perokok
beresiko lebih besar terinfeksi bakteri penyebab penyakit jaringan pendukung gigi
dibandingkan mereka yang perokok.Gusi seorang perokok juga cenderung
mengalami penebalan lapisan tanduk. Daerah yang mengalami penebalan ini
terlihat lebih kasar dibandingkan jaringan di sekitarnya dan berkurang
kekenyalannya. Penyempitan pembuluh darah yang disebabkan nikotin
mengakibatkan berkurangnya aliran darah di gusi sehingga meningkatkan
kecenderungan timbulnya penyakit gusi.

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

4.1 Penyakit karena Rokok


Dampak positif dari merokok belum ada ditemukan di dalam sebuah
artikel atau opini publik kecuali keuntungan bagi produsen dan pedagangnya.
Yang ada hanya himbauan dan seruan dari berbagai pihak untuk menghindari
yang namanya rokok. Namun demikian, sampai hari ini, meskipun sudah banyak
himbauan dan peringatan akan bahaya merokok, tetapi tetap saja banyak orang di
muka bumi ini yang merokok.Padahal, semua orang tahu bahwa dampak negatif
dari merokok sangat banyak dan beragam bagi kesehatan tubuh manusia. Seperti
kandungan tar, nikotin, zat dan gas kimia dalam rokok sudah menjadi rahasia
umum berpotensi membenihkan sekian penyakit. Di bungkusnya saja sudah ada
peringatan.
Di pasaran saat ini banyak juga ditemui rokok yang mengklaim produknya
memiliki kandungan tar dan nikotin lebih rendah. Tetapi tetap saja gas yang
ditimbulkan sebagai efek samping merokok berpotensi membahayakan bagi si
perokok (aktif) dan bagi orang disekitamya (pasif). Menurut penelitian ada 10 tipe
kanker yang disebabkan oleh rokok. Selain itu disebutkan juga bahwa pria
perokok akan meninggal 13,2 tahun lebih muda dibandingkan yang bukan
perokok sedangkan wanita perokok meninggal 14,5 tahun lebih muda.
Merokok dapat menyebabkan kanker mulut, pita suara dan esofagus.
Wanita perokok memiliki kemungkinan 13 kali lebih tinggi kena kanker paru-paru
dibanding yang tidak merokok. Sedangkan pria perokok 23 kali lebih tinggi
terkena kanker paru-paru dibanding yang tidak merokok.Kanker perut dan
lambung, kanker ginjal, kanker pankreas, bila fatal dapat menyebabkan diabetes
mellitus I kencing manis, kanker leher rahim, kanker darah/leukemia.
Perokok beresiko 3 kali lebih tinggi menderita katarak yang dapat
menyebabkan kebutaan. Rokok dapat menjadi penyebab utama terjadinya stroke
dan kerusakan otak. Perokok beresiko 10 kali lebih tinggi menderita periodontitis
(gusi terbakar yang mengarah ke infeksi) sehingga dapat merusak jaringan halus
dari tulang.Dampak lainnya dapat terjadi pneumonia, bronchitis, ashma, batuk
kronis, gagal jantung, serangan jantung, hipertensi, dan stroke. Kemandulan, bayi
lahir prematur, bayi lahir berat badan kurang (BBLR) dan ganguan pernapasan.

Untuk mencegah dampak buruk dari masuk dan tertimbunya bahan berbahaya
rokok ke dalam saluran pernapasan, sebaiknya perokok mengkonsumsi sumber
sumber Chlorophyl dan antioxidan secara teratur. Tidak lupa tentunya saran yang
paling tepat adalah mulai berubah, mengurangi, dan menghilangkan kebiasaan
hidup yang kurang baik seperti merokok.
Selain perokok, di negeri kita tercinta ini jumlah perokok pasif ternyata sangat
banyak. Survei sosial ekonomi nasional tahun 2001 menunjukkan, 91,8 persen
penduduk mengaku merokok di rumah ketika sedang bersama keluarganya.
Akibatnya, 97,5 juta orang dengan mudah mengisap asap rokok di rumah. Dari
jumlah itu, 43 juta di antaranya adalah bayi hingga anak-anak berusia 14 tahun.
Merokok merupakan perilaku adiksi yang telah mewabah secara global dan
endemis di Indonesia. Ini menjadikan masalah bersama yang perlu ditanggulangi.
Sebagian besar keluarga di Indonesia mempunyai anggota keluarga yang pernah
atau sedang menjadi perokok aktif. Bila perilaku merokok menjadi adiktif pada
salah satu anggota keluarga, maka anggota keluarga yang lain akan terkena
dampak buruknya, termasuk janin yang masih di dalam kandungan.
Karena itu, jika Anda seorang perokok, maka berhenti merokok merupakan
langkah yang sangat terpuji. Ini artinya, Anda tak hanya menyayangi diri Anda
sendiri, tapi juga menyayangi sesama. Memang, tidak mudah bagi orang yang
sudah kecanduan rokok untuk menghentikan kebiasaan buruk ini. Banyak
kalangan sampai hari ini tidak pernah patah arang untuk mengingatkan orang agar
menghindari rokok.

Berhenti Merokok
Merasa sulit berhenti merokok, banyak perokok yang berusaha mengurangi
bahaya rokok dengan beralih ke rokok rendah tar. Mereka menganggap, rokok
jenis ini memiliki risiko yang lebih ringan terhadap kesehatan, atau dengan kata
lain, rokok rendah tar merupakan rokok yang ‘ramah’ terhadap kesehatan. Tapi
benarkah rokok rendah tar lebih aman? Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah yang
menyatakan bahwa rokok rendah tar menurunkan risiko gangguan terhadap
kesehatan.
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Rasanya, tak ada pilihan yang lebih baik
kecuali berhenti merokok. Karena, banyak manfaat yang akan Anda peroleh jika
berhenti merokok. Salah satunya, kualitas dan kuantitas hidup Anda akan
meningkat. Begitu pun kualitas dan kuantitas hidup orang-orang yang tinggal
bersama Anda, akan meningkat pula. Ini bisa dipahami karena mereka yang
selama ini terpaksa ikut mengisap asap rokok dari Anda, kini terbebas dari asap
berbahaya itu.
Bagi masyarakat, hal itu akan mengurangi pengeluaran biaya pengobatan penyakit
akibat rokok, serta mengurangi mangkir karena sakit akibat rokok. Diantara zat
kimia itu yang terpenting dan sudah ada kaitannya dengan penyakit adalah tar,
nikotin, dan karbon monoksida. Tar sebagai getah tembakau adalah zat berwarna
coklat berisi berbagai jenis hidrokarbon aromatik polisiklik, amin aromatik dan N-
nitrosamine. Tar yang dihasilkan asap rokok akan menimbulkan iritasi pada
saluran napas, menyebabkan bronchitis, kanker nasofaring dan kanker paru.

Kanker
Nikotin adalah bahan alkaloid toksik yang merupakan senyawa amin tersier,
bersifat basa lemah dengan pH 8,0. Pada pH fisiologis, sebanyak 31% nikotin
berbentuk bukan ion dan dapat melalui membran sel. Asap rokok pada umumnya
bersifat asam (pH 5,5). Pada pH ini nikotin berada dalam bentuk ion dan tidak
dapat melewati membran secara cepat sehingga di mukosa pipi hanya terjadi
sedikit absorpsi nikotin dari asap rokok.
Pada perokok yang menggunakan pipa, cerutu dan berbagai macam sigaret Eropa,
asap rokok bersifat basa dengan pH 8,5 dan nikotin pada umumnya tidak dalam
bentuk ion dan dapat diabsorpsi dengan baik melalui mulut.
Nikotin juga berpengaruh terhadap pembuluh darah yakni merusak endotel
pembuluh darah dan terhadap trombosit dengan meningkatkan agregasi trombosit.
Nikotin diduga sebagai penyebab ketagihan merokok.
Karbon monoksida (CO) adalah gas beracun yang mempunyai afinitas kuat
terhadap hemoglobin pada sel darah merah, sehingga membentuk karboksi
hemoglobin mencapai tingkat tertentu akan dapat menyebabkan kematian.
Akibat buruk dari kebiasaan merokok bagi kesehatan menurut salah satu
penelitian kohort prospektif oleh Doll & Hill di Inggris tahun 1951, yang
berlangsung hingga tahun 1990-an. Penelitian melibatkan 34.439 dokter sebagai
responden, sepuluh ribu responden tersebut telah meninggal dunia dalam periode
20 tahun pertama penelitian (1951-1971).
Sementara 10.000 orang lainnya meninggal dalam 20 tahun kedua (1971-1991)
sejak penelitian itu sampai tahun 1990 ada sekitar 50 juta orang yang meninggal
akibat kebiasaan merokok. Sedangkan dari tahun 1995 sampai tahun 2000
diperkirakan ada setidaknya 15 juta orang yang meninggal akibat kebiasaan
merokok. Doll dan Hill melaporkan penyakit yang disebabkan oleh merokok:
kanker paru, kanker esofagus, kanker saluran napas lainnya, bronchitis kronik dan
emfisema, penyakit jantung paru.
Weir dan Dunn melaporkan hasil penelitian terhadap 68.153 laki-laki dan
mendapatkan risiko yang lebih tinggi pada perokok untuk mendapatkan kanker
paru, kanker mulut, kanker laring, kanker esophagus. Penyakit lain yang
berhubungan dengan merokok ialah ulkus peptikum, emfisema, aneurisma,
arteriosclerosis.
Kebiasaan merokok akan memeprcepat penurunan faal paru. Penurunan volume
ekspirasi paksa detik 1 (VEP 1), pertahun adalah 28,7 ml, 38,4 ml dari 41,7 ml
masing-masing untuk non perokok, bekas perokok dan perokok aktif.
Kebiasaan merokok mempengaruhi terjadinya penyakit paru akibat kerja seperti
fibrosis paru akibat paparan aluminium, paparan radon, polimer FUME fever.
Pengaruh asap rokok dapat lebih besar daripada pengaruh debu tambang.
Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh buruk debu hanya sekitar sepertiga dari
pengaruh buruk rokok.