Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

Kurkumin merupakan polifenol hidrofobik yang berasal dari rimpang tanaman kunyit
(Curcuma Longa) (Grynkiewicz & Slifirski 2012). Kurkumin memiliki aktivitas farmakologi
yang luas dan secara tradisional telah dimanfaatkan dalam penyembuhan berbagai penyakit.
Kurkumin menunjukkan aktivitas antioksidan, antikanker, antiinflamasi dan hepatoprotektif
(Ravindran et al. 2009; Shahani et al. 2010). Kurkumin telah banyak mengalami modifikasi agar
didapatkan senyawa yang lebih stabil dan memiliki aktivitas yang lebih spesifik terhadap protein
target (Fitriasari 2008).

Inflamasi adalah proses kompleks yang terjadi melalui beberapa mekanisme yang
menyebabkan perubahan di dalam aliran darah lokal dan pelepasan beberapa mediator inflamasi.
Mediator-mediator inflamasi ini menyebabkan terjadinya vasodilatasi, peningkatan permeabilitas
vaskuler, dan migrasi leukosit menuju tempat terjadinya inflamasi. Terdapat lima tanda utama
(cardinal signs) yang umumnya muncul saat terjadinya inflamasi, yaitu nyeri (dolor), panas
(calor), kemerahan (rubor), bengkak (tumor), dan hilangnya fungsi (functio laesa). Terjadinya
panas dan kemerahan disebabkan oleh meningkatnya aliran darah, bengkak disebabkan oleh
akumulasi cairan, nyeri disebabkan oleh pelepasan berbagai senyawa yang merangsang syaraf
nyeri, dan hilangnya fungsi dipengaruhi oleh bermacam- macam sebab (Chandrasoma &
Taylor,2006).

Kurkuminoid (kurkumin, deme-toksikurkumin dan bisdemetoksi-kurkumin) dalam


rhizoma kunyit dan temulawak, selama ini banyak digunakan sebagai obat tradisional oleh
masyarakat. Berbagai penelitian ilmiah telah banyak dilaporkan tentang aktivitas kurkumin
antara lain sebagai antioksidan, anti inflamasi, antibakteri, dan antikanker (Ritmaleni dan Ari
Simbara, 2010). Mekanisme kurkumin sebagai antiinflamasi adalah dengan menghambat
produksi prostaglandin yang dapat diperantarai melalui penghambatan aktivitas enzim
siklooksigenase (Erlina et al., 2007).

Dalam perkembangannya, modifikasi terhadap senyawa tersebut terus dilakukan untuk


memperoleh senyawa yang lebih potensial, stabil, aman, dan memiliki aktivitas yang lebih
spesifik (Ritmaleni dan Ari Simbara, 2010). Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap
analog senyawa kurkumin ini dengan tujuan melakukan virtual screening kandidat obat yang
potensial berdasarkan kemampuan interaksinya (interaksi inhibisi) dengan enzim yang berkaitan
dengan aktivitasnya.

Pada penelitian ini, dilakukan pendekatan secara in silico terhadap senyawa kurkumin
dan analognya. Pendekatan ini dipilih karena memiliki keuntungan tersendiri dibandingkan
pendekatan in vivo maupun in vitro. Keuntungan tersebut antara lain adalah waktu penelitian
yang lebih sedikit dan biaya yang jauh lebih murah. Sintesis tradisional dari senyawa obat baru
mengunakan kombinasi kimiawi dan screening skala besar merupakan proses yang
membutuhkan biaya besar dan waktu yang lama, sedangkan screening database molekul dari
senyawa model dapat dijadikan proses alternatif dalam desain obat (Ekins et al., 2007).

Docking merupakan interaksi penambatan antara ligan dan protein yang digunakan untuk
prediksi posisi dan orientasi ligan ketika terikat pada reseptor protein (Girija et al. 2010). Dari
proses docking akan diperoleh energi ikatan (ΔG) yang merupakan parameter kestabilan
konformasi antara ligan dengan reseptor androgen. ligan-reseptor yang saling berinteraksi akan
cenderung berada pada kondisi energi yang paling rendah, kondisi tersebut menyebabkan
molekul akan berada pada keadaan yang stabil sehingga semakin kecil harga ΔG interaksi ligan
dengan reseptor akan semakin stabil. Interaksi molekul pada Ligan-reseptor mencakup interaksi
elektrostatik, interaksi hidrofobik, dan ikatan hidrogen yang berkontribusi pada harga energy
ikatan (ΔG) dari ligan-reseptor (Girija et al. 2010).

Konsep farmakofor pertama kali diperkenalkan pada tahun 1909 oleh Ehrlich yang
mendefinisikan farmakofor sebagai kerangka molekul yang membawa (phoros) fitur penting
yang bertanggungjawab terhadap aktivitas biologis obat (Yang, 2010).

Farmakofor menurut IUPAC adalah faktor sterik dan elektronik yang diperlukan untuk
memastikan terjadinya interaksi molekuler secara optimal dengan struktur target biologis spesifik
sebagai penginduksi atau penghambat respon biologis (Mannhold dkk, 2006).
Daftar Pustaka

Chandrasoma P, Taylor CR. 2006. Ringkasan patologi anatomi, Edisi ke−2. Jakarta: EGC. hlm.
230.

Ekins, S., J. Mestres, and B. Testa. 2007. In silico Pharmacology for Drug Discovery:
Application to Targets and Beyond. British Journal of Pharmacology Review 152:21-37.

Erlina, R., I. Atmasari, dan Yanwirasti. 2007. Efek anti inflamasi ekstrak etanol kunyit (curcuma
domestica val.) pada tikus putih jantan galur wistar. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi
2(12):112-115.

Fitriasari A, Wijayanti NK, Ismiyati N, Dewi D, Kundarto W, Sudarmanto BA, Meiyanto E.


2008. Studi potensi kurkumin dan analognya sebagai Selective Estrogen Receptor
Modulators (SERMs): Docking pada reseptor estrogen β. Pharmacon. 9(1): 27-32.

Girija CR, Karunakar P, Poojari CS, Begum NS, Syed AA. 2010. Molecular docking studies of
curcumin derivative with multiple protein targets for procarcinogen activating enzyme
inhibition. J Proteomics Bioinform. 3(6): 200-203.

Grynkiewicz & Slifirski 2012. Curcumin and curcuminoids in quest for medicinal status. Acta
Biochim. Pol. 59(2): 201-212.

Mannhold, R., H. Kubinyi, G. Folkers,2006, Pharmacophore and Pharmacophore Searches,


Wiley – VCH, Weinheim, 3

Ravindran J, Prasad S, Aggarwal BB. 2009. Curcumin and cancer cells: how many ways can
curry kill tumor cells selectively. AAPS J. 11(3): 495-510.

Ritmaleni dan S. Ari. 2010. Sintesis tetrahidro pentagamavunon-0. Majalah Farmasi Indonesia
21(2):100-105.

Shahani K, Swaminathan SK, Freeman D. 2010. injectable sustained release microparticles of


curcumin: a new concept for cancer chemoprevention. cancer res. 70: 4443-4452.

Yang, S.-Y., 2010, Pharmacophore Modelling and Applications in Drug Discovery: Challenges
and Recent Advances, Drug Discovery Today, 15, 444-450.