Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

SANGKETA PAJAK DAN PENYELESAIAN SANGKETA PAJAK

Oleh :

Riska Junianda
11970325389

PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1


FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikanrahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan
makalah ini dengan topik “Sangketa Pajak dan Penyelesaian Sangketa Pajak ”. Makalah ini
berisikan tentang bentuk usaha di Indonesia dan apa saja aspek perpajakannya, bentuk
pemilihan usaha orang pribadi dan badan, pengaruh bentuk usaha untuk alternatif perpajakan.

Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada pembaca makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu untuk kesempurnaan makalah ini.
Demikian, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Pekanbaru, 27 November 2020

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I.........................................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................5
1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................5
BAB II........................................................................................................................................6
2.1 pengertian sangketa pajak.......................................................................................6

2.2 cara penyelesaian sangketa pajak…………………………..........................................6

BAB III.....................................................................................................................................10
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................10

DAFTAR ISI............................................................................................................................11

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pajak merupakan sumber utama pendapatan Negara yang dipungut berdasarkan
Undang-Undang perpajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang telah memenuhi
syarat dan terdaftar sebagai wajib pajak, baik secara perorangan maupun melalui entitas
badan usaha. Pemungutan pajak dilakukan pemerintah untuk menunjang kegiatan
penyelenggaraan Negara, pembangunan infrastruktur fisik berupa jalan, jembatan dan
transportasi massal, serta program-program pemerintah yang diperuntukkan guna
mensejahterakan masyarakat seperti pemberian subsidi maupun bantuan social lainnya.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menargetkan realisasi pendapatan Negara
yang bersumber dari penerimaan perpajakan dapat mengalami peningkatan yang cukup
signifikan terhadap anggaran pendapatan Negara. Akan tetapi pada kenyataanya realisasi
penerimaan perpajakan secara keseluruhan belum pernah mencapai target yang
ditetapkan. Berdasarkan sumber yang diperoleh dari Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
untuk tahun 2019, realisasi pendapatan Negara yang bersumber dari penerimaan
perpajakan hanya mencapai 86,5 % terhadap total penerimaan perpajakan yang
dianggarkan. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sendiri
membagi jenis penerimaan perpajakan kedalam dua kelompok, yaitu pendapatan dalam
Negeri dan pendapatan pajak perdagangan Internasional. Adapun realisasi pendapatan
pajak dalam negeri Tahun 2019 adalah sebesar 86,55% , jika dibandingkan dengan
capaian tahun 2018, realisasi pendapatan Negara tahun 2019 tumbuh sebesar 0,7 %
sedangkan pendapatan pajak perdagangan internasional sebesar 94,75 %. Walaupun
pendapatan Negara yang berasal dari penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan
yang lebih baik, pemerintah masih mencatat adanya deficit pada Laporan Realisasi APBN
disebabkan tidar tercapainya realisasi penerimaan perpajakan terhadap anggaran tahun
berjalan serta besarnya belanja Negara melebihi pendapatan Negara.
Indonesia merupakan Negara yang menerapkan Sistem pemungutan pajak
berdasarkan prinsip Self Assesment System. Prinsip ini memberikan kewenangan secara
penuh bagi wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang, mulai
dari menghitung, menyetor sampai dengan melaporkan sendiri kewajiban perpajakannya
kepada pemerintah. Pemerintah dalam hal ini fiskus hanya bertindak sebagai pengawas
dan tidak memiliki kewenangan apapun untuk ikut menvampuri pemenuhan kewajiban

3
perpajakan dari wajib pajak. Pemberlakukan prinsip Self Assesment System dapat
memberikan keleluasaan kepada wajib pajakdalam menentukan metode pencatatan
akuntansi yang digunakan serta merencanakan perpajakannya.
Dalam kondisi tertentu pemerintah dapat melakukan pemeriksaan pajak untuk
menguji kepatuhan wajib pajak melaksanakan kewajiban perpajakannya. Dengan
diterbitkannya SE-15/PJ/2018 tentang kebijakan pemeriksaan, kementerian keuangan
melalui Direktorat Jendral Pajak akan melakukan revitalisasi pemeriksaan pajak untuk
meningkatkan keadilan , kualitas dan tata kelola dalam pemeriksaan pajak (liputan6.com
diakses 6 juni 2019). Revitalisasi pemeriksaan pajak perlu dilakukan disebabkan
pemeriksaan pajak merupakan suatu hal yang sering menimbulkan sangketa pajak antara
Direktorat Jendral Pajak dan Wajib Pajak.
Adanya ketidak cocokan perhitungan pajak antara wajib pajak dan pemeriksa pajak,
maupun kesalahan penerapan peraturan perpajakan merupakan penyebab yang sering
ditemui pada saat dilakukan pemeriksaan pajak. Wajib pajak yang merasa tidak puas
dengan hasil pemeriksaan akibat diterbitkannya surat ketetapan pajak maupun
pelaksanaan penagihan pajak sering kali berakhir dengan mengajukan banding maupun
gugatan kepada badan peradilan pajak.
Berdasarkan data statistic Sekretariat Pengadilan Pajak menunjukan jumlah berkas
sangketa pajak yang masuk menurut terbanding/tergugat di tahun 2019 sebanyak 15048
berkas, sementara berkas yang masuk pada tahun 2018 sebanyak 11.436 berkas.
Tabel I.1
Jumlah berkas Sangketa Pajak Menurut Terbanding/Tergugat Tahun 2013-2019

Tabel I.1 menjelaskan data statistic yang diperoleh melalui Sekretariat Pengadilan Pajak
dalam dalam website setpp.kemenkeu.go.id mulai tahun 2013 sampai tahun 2019. Dalam
tujuh tahun terakhir hingga tahun 2019, jumlah berkas sangketa pajak yang masuk ke
Direktorat Jendral Pajak mencapai 53.629 berkas. Sedangkan jumlah berkas yang masuk

4
di dirjen bead an cukai mencapai 22569 berkas dan Pemerintah daerah sebanyak 78.114
berkas.
Otoritas pajak dalam beberapa kasus sangketa pajak kalah dari wajib pajak di tingkat
pengadilan pajak sampai putusan Mahkamah Agung (MA). Hasilnya pemerintah wajib
mengembalikan pajak atau merestitusi kepada wajib pajak, setelah dinyatakan sebagai
haknya. Berdasarkan data direktorat jendral pajak (DJP) Kementrian Keuangan
(KemenKeu), sepanjang Januari-Maret 2020 Jumlah pengembalian pajak yang diberikan
kepada wajib pajak karena hasil putusan keberatan atau banding sebesar Rp. 11,7 Triliun.
( Kontan.co.id)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas ditemukan rumusan masalah yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan sangketa pajak?


2. Bagaimana cara penyelesaian sangketa pajak

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui maksud dari sangketa pajak
2. Untuk menjelaskan bagaimana cara penyelesaian sangketa pajak

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian sangketa pajak

Sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara


Wajib Pajak atau penanggung Pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan Banding atau Gugatan kepada
Pengadilan Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk
Gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa.

Upaya Hukum yang dapat ditempuh oleh Wajib Pajak adalah sebagai berikut:

1. Keberatan
2. Banding
3. Gugatan
4. Peninjauan Kembali

2.2 Cara Penyelesaian Sangketa Pajak


Dalam Hukum Pajak Indonesia penyelesaian sengketa pajak diselesaikan melalui
beberapa saluran/lembaga, yaitu keberatan, banding, gugatan, dan peninjauan
kembali. Ketentuan tentang lembaga tertentu guna menyelesaikan sengketa pajak
tersebut diaturecara tegas dalam Hukum Pajak formal. Penyelesaian sengketa pajak
melalui lembaga keberatan, banding, gugatan dan peninjauan kembali dilakukan
oleh institusi tertentu yang ditentukan oleh undang-undang pajak.
1. Keberatan
Keberatan atas penetapan pajak merupakan hak wajib pajak yang dijamin oleh
undang-undang dalam rangka keadailan dalam pemenuhan kewajiban pajak.
Keberatan dapat diajukan oleh wajib pajak apabila wajib pajak merasa tidak pua atas
penetapan pajak yang dilakukan oleh fiscus. Adanya hak mengajukan keberatan
membuat terjadinya keseimbangan antara wajib pajak dan fiscus serta menjamin
wajib pajak terhindar darai kesewenangan fiscus.
Dalam hukum pajak Indonesia ketentuan tentang keberatan diatur dalam beberapa

6
undang-undang pajak, yaitu Undang Undang KUP, Undang Undang PBB, Undang
Undang BPHTB, dan Undang Undang PDRD. Pengaturan keberatan pajak pusat
diatur dalam tiga undang-undang yang disesuaikan dengan jenis pajak pusat yang
diajukan keberatan. Sedangkan untuk jenis pajak daerah keberatan diatur dalam
Undang Undang PDRD dan peraturan daerah yang memberlakukan pajak daerah
pada suatu provinsi, kabupaten, atau kota.

2.Banding
Surat keputusan keberatan yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak untuk jenis
pajak pusat maupun yang diterbitkan oleh kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk
itu disampaikan kepada wajib pajak untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya
Apabila wajib pajak tidak setuju dengan isi Surat Keputusan Keberatan yang
diterimanya, ia memiliki hak untuk mengajukan banding kepada badan peradilan
pajak yang ditunjuk atau ditentukan oleh undang-undang pajak. Ketentuan tentang
banding diatur dalam Undang Undang KUP , Undang Undang PBB dan Undang
Undang BPHTB untuk jenis pajak pusat, sedangkan untuk pajak daerah diatur dalam
Undang Undang PDRD maupun peraturan daerah tentang pemberlakukan suatu jenis
pajak daerah di suatu provinsi, kabupaten atau kota.

3. Gugatan dan Sanggahan


a. Gugatan
Umumnya gugatan diajukan wajib pajak yang merasa dirugikan atas tindakan fiscus
dalam melakukan tindakan penagihan pajak terhadap wajib pajak maupun
penanggung pajak. Gugatan diatur secara tegas dalam Hukum Pajak Indonesia untuk
melindungi kepentingan wajib pajak dari tindakan fiscus yang menurut wajib pajak
tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang pajak yang berlaku. Hak wajib pajak
untuk mengajukan gugatan diatur dalam Undang Undang KUP untuk semua jenis
pajak pusat. Selain itu karena gugatan ini dilakukan oleh wajib pajak terkait dengan
pelaksanaan penagihan pajak maka diatur juga dalam Undang Undang PPSP.
Mengingat bahwa Undang Undang PPSP berlaku juga sebagai dasar hukum untuk
penagihan pajak daerah, maka wajib pajak daerah yang merasa dirugikan oleh fiscus
dalam pelaksanaan penagihan pajak daerah juga dapat mengajukan gugatan.
b. Sanggahan

7
Pihak ketiga yang merasa dirugikan dalam pelaksanaan penagihan pajak dengan
Surat paksapada dasarnya dilindungi dalam Hukum Pajak Indonesia. Dalam keadaan
tersebut di atas pihak ketiga tersebut memiliki hak untuk melakukan perlawanan
hukum terhadap tindakan fiscus. Hak tersebut diwujudkan dalam bentuk sanggahan
atas kepemilikan barang yang disita. Menurut pasal 38 Undang Undang KUP,
sangghan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita hanya dapat
diajukan kepada Pengadilan Negeri. Pengadilan Negeri yang menerima surat
sanggahan memberitahukan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang
melaksanakan penagihan pajak. Pejabat menangguhkan pelaksanaan penagihan
pajak hanya terhadap barang yang disanggah kepemilikannya sejak menerima
pemberitahuan sanggahan. Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang
yang disita tidak dapat diajukan setelah lelang dilaksanakan.
4. Lembaga Peradilan pajak
Badan peradilan pajak yang dimaksudkan sebagai institusi hukum yang berwenang
untuk menyelesaikan sengketa pajak antar wajib pajak dan fiscus dalam Hukum
Pajak Indonesia mengalami perubahan dari masa ke masa. Perubahan dimaksud
dilakukan sesuai dengan kebijakan dari pemerintah yang berkuasa dan persetujuan
perwakilan rakyat. Badan tersebut adalah :
a. Majelis Pertimbangan Pajak (MPP), yang berlaku sejak zaman Hindia Belanda
hingga tahun 1997.
b. Sejak 1 Januari 1998 sampai 11 April 2002 berlaku Badan Penyelesaian Sengketa
Pajak (BPSP)
5. Pengadilan Pajak
Berdasarkan Undang Undang Nomor 14 tahun 2002, Pengadilan Pajak mempunyai
tugas dan wewenang memeriksa dan memutus sengketa pajak. Pengadilan pajak
dalanm hal banding hanya memeriksa dan memutus sengketa atas keputusan
keberatan, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain itu, dapat pula memeriksa dan memutus permohonan banding atas
keputusan/ketetapan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang sepanjang aturan
perundang-undangan yang terkait mengatur demikian. Pengadilan Pajak merupakan
pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus sengketa
pajak.,
6. Peninjauan Kembali

8
Apabila para pihak yang bersengketa tidak puas dengan keputusan yang diambil
oleh majelis hakim Pengadilan Pajak dapat mengajukan peninjauan kembali atas
putusan Pengadilan pajak kepada Mahkamah Agung. Salah satu kemungkinan
Putusan Peninjauan Kembali adalah dikabulkan, baik sebagian maupun seluruhnya.
Hal ini tentunya mengakibatkan pajak terutang menjadi lebih kecil dari surat
ketetapan pajak yang telah diterbitkan oleh fiscus.

9
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sengketa pajak muncul sebagai akibat wajib pajak tidak puas dengan besarnya
utang pajak yang ditentukan oleh fiscus, serta kemingkinan lain adalah
penerapan peraturan perundangan pajak yang tidak tepat, sehingga wajib pajak
merasa dirugikan. Mengingat hukum pajak adalah membahas hak dan kewajiban
baik bagi wajib pajak maupun fiscus, maka ketika wajib pajak merasa dirugikan
oleh keputusan fiscus, maka adalah hak wajib pajak untuk menuntut
penyelesaian. Berkait dengan penyelesaian sengketa pajak, wajib pajak dapat
menempuh beberapa jalan, yaitu:keberatan,banding, gugatan dan sanggahan,
hingga mengajuka gugatan ke pengadilan pajak, dan seandainya belum puas dan
mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Itu semua dalam
rangka memberikan ras keadilan pada masyarakat dan menumbuhkan rasa
percaya masyarakat sebagai wajib pajak atas kinerja fiscus, serta prinsip dasar
bahwa pajak dipungut demi kesejahteraan rakyat karena dipergunakan untuk
membiayai pengeluaran negara.

10
DAFTAR PUSTAKA

https://www.bphn.go.id/data/documents/naskah_akademik_ruu_tentang_peruba
han_atas_uu_no._14_tahun_2002_tentang_pengadilan_pajak.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/23266-ID-penyelesaian-sengketa-
pajak.pdf

https://pajak.go.id/id/penyelesaian-sengketa-pajak

11