Anda di halaman 1dari 29

Universitas

Muhannadiyah
Malang

BAB I

GERAKAN ISLAMISASI NUSANTARA 1

A.Pendahuluan.

Islam adalah Agama yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw yang
berkembang di Jazirah Arab pada abad ke 7 M. Nabi Muhammad Saw
menyiarkan Islam dua tahap, yaitu tahap pertama yang dinamakan dengan periode
Mekah selama 13 tahun dan tahap kedua periode Madinah selama 10 tahun dalam
masa yang relatif singkat Jazirah Arab telah tunduk dibawah kekuasaan Islam
dan ketika Nabi Muhammad saw wafat kepemimpinan Islam
dilanjutkan oleh para pengikutnya yang dikenal dengan Chulafaur Rasyidin tahun
613- 656 M yaitu Abu bakar Sidiq ( 11 H- 13 H /632-634 M) kemudian diganti
oleh Umar bin Khottab ( 13-23 H /634- 644 M) setelah Umar dilanjutkan oleh
Usman bin Affan ( 23-35 H/644-656 M) dan setelah Usman terbunuh
kepemimpinan dilanjutkan oleh Ali bin Abu Thalib ( 35-40 H/656- 661 ) setelah
Ali terbunuh kepemimpinan dilanjutkan oleh Putranya Hasan bin Ali, demi
menjaga keutuhan Umat Islam Hasan bin Ali menyerahkan kepemimpinan
kepada Muawiyah bin Abu Sofyan disinilah berakhirnya sistem
Demokrasi/musyawarah dan dimulai dengan sistem baru yaitu dinasty, sistem
kerajaan Khalifah dipegang secara turun temurun, dinasti Umayyah berkuasa
sampai tahun 750 M yang kemudian dilanjutkan oleh Bani Abbasyiah sampai
tahun 1258 M ketika Bagdad dikuasai oleh bangsa Mongol, masa inilah
berakhirnya kejayaan Islam. Perkembangan Islam sangat pesat dari Zaman Nabi
Muhammad sampai berakhirnya kejayaan Islam, perkembangan Islam pada masa
nabi sampai dengan Zaman Abasyiyah selalu dengan kekuatan militer disamping
itu faktor-faktor yang
menyebabkan ekspansi itu demikian cepat antara lain :
1. Islam disamping mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, juga agama
yang mementingkan soal pembentukan masyarakat.

' Materi untuk kuliah daring AIK-3 pada platform Moddle http:/ kuliah-aik.umm.ac.id/

A1-Is1am&Kemuhammadiyahan(A1K)-UMM|1
2. Dalam dada para sahabat Nabi tertanam keyakinan tebal tentang kewajiban
menyerukan ajaran Islam (dakwah ) seluruh dunia .Disamping itu,suku-
suku bangsa Arab gemar berperang .Semangat dakwah dan kegemaran
berperang tersebut membentuk satu kesatuan yang terpadu dalam diri umat
Islam
3. Islam datang kedaerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap simpatik
dan toleransi, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya dan
masuk Islam (Badri yatim 1993 : 41 )
Sebelum memulai pembahasaaan Islamisasi di Indonesia perlu dibedakan
”Kedatangan Islam” Penetrasi (Penyebaran Islam ) dan Islamisasi ” Kedatangan
Islam dapat dibuktikan peninggalan-peninggalan sejarah seperti Prasasti, batu bertulis
dan lain-lain dari bukti inilah diperkirakan awal kedatangan Islam di Indonesia.
Kedatangan Islam pada suatu daerah bukan berarti masyarakat itu sudah memeluk
Islam, proses masyarakat setempat menganut Islam membutuhkan waktu yang
panjang dan membutuhkan pengenalan secara mendalam tentang Islam oleh
masyarakat setempat. Sedangkan Islamisasi merupakan suatu proses panjang yang
berlangsung selama berabad -abad bahkan sampai sekarang yang selain
mengandung arti mengajak untuk memeluk Islam juga mengandung arti upaya
pemurnian atau purifikasi ajaran Islam dari unsur-unsur tahayul, bidah, khurafat
dengan demikian Islamisasi menyangkut pemurnian atau pembaharuan atau
modernisasi agama Islam (Helmiati M.Ag 2001 :2 )
Makna pemurniaan Agama Islam mengandung pengertian kembali kepada
kemurnian Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai sumber utama
dan pertama yang menjadi rujukan Agama Islam demikian makna pemurnian
yang lain merubah pola berfikir umat Islam dari tradisional kepola berfikir yang
modern..
Sedangkan Nusantara ialah nusa itu pulau atau kepulauan, sedangkan
antara adalah antara dua benua yaitu utara benua Asia dan benua Australia dan
dua buah Samudara yaitu Samudra Pasifik dan Samudra India dari segi inilah
letak posisi Indonesia disebut posisi silang atau posisi yang sangat strategis
sehingga pengaruh dari luar sangatlah besar baik dari India maupun Timur
Tengah bahkan pengaruh
Barat juga sangatlah besar sekali dalam perjalanan sejarah Indonesia sejak
sebelum masehi sampai sekarang. Karena posisi Indonesia sebagai jalur
perdagangan Internasional.

B. Teori-Teori Islamisasi Nusantara


Sejauh menyangkut kedatangan Islam di nusantara, terdapat diskusi dan
perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok : Tempat asal
kedatangan Islam, Para pembawanya, dan Waktu kedatangannya. Berbagai teori
dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga masalah pokok ini jelas belum
tuntas, tidak hanya karena kurangnya data yang dapat mendukung suatu suatu
teori tertentu, tetapi juga karena sifat sepihak dari berbagai teori yang ada.
Terdapat kecenderungan kuat, suatu teori tertentu menekankan hanya aspek-aspek
khusus dari ketiga masalah pokok, sementara mengabaikan aspek-aspek lainnya.
Karena itu, kebanyakan teori yang ada dalam segi-segi tertentu gagal menjelaskan
kedatangan Islam, konvensi agama yang terjadi, dan proses-proses Islamisasi yang
terlibat di dalamnya. Bukannya tidak biasa jika suatu teori tertentu tidak mampu
menjawab pertanyaan- pertanyaan tandingan yang di ajukan teori-teori lain.

1. Teori Gujarat
Sejumlah sarjana, kebanyakan asal Belanda, memegang teori bahwa asal-
muasal Islam di nusantara adalah Anak Benua India, bukanya Persia atau Arabia.
Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel, ahli dari
Universitas Leiden. Dia mengaitkan asal-muasal Islam di Nusantara dengan
wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut dia, adalah orang-orang Arab bermazhab
Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian
membawa Islam ke Nusantara. Moquette, seorang sarjana Belanda lainnya,
berkesimpulan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. la
mendasarkan kesimpulan ini setelah mengamati bentuk batu nisan di Pasai,
kawasan utara Sumatra, khususnya yang bertanggal 17 Dzul Al-Hijjah 831 H/ 27
September 1428M. batu nisan yang kelihatannya mirip
Universitas
Muhannadiyah
Malang

dengan batu nisan lain yang di temukan di makam Maulana Malik Ibrahim (822
H/1419 M) di Gresik, Jawa timur ternyata sama bentuknya dengan batu nisan
yang terdapat di Cambay, Gujarat. Berdasarkan contoh-contoh batu nisan ini ia
berkesimpulan, bahwa batu nisan di Gujarat dihasilkan bukan hanya untuk pasar
lokal, tetapi juga untuk impor ke kawasan lain, termasuk Sumatra dan Jawa.
Selanjutnya, dengan mengimpor batu nisan dari Gujarat, orang-orang Nusantara
juga mengambil Islam dari sana.
Kesimpulan Moquette ini di tentang keras oleh fatimi yang beragumen
bahwa keliru mengaitkan seluruh batu nisan di Pasai, termasuk batu nisan Malik
Al-Shalih, dengan batu nisan di Gujarat. Menurut penelitiannya, bentuk dan gaya
batu nisan Malik Al-Shalih berbeda sepenuhnya dengan batu nisan yang terdapat
di Gujarat dan batu-batu nisan lain yang ditemukan di Nusantara. Fatimi
berpendapat, bentuk dan gaya batu nisan itu justru mirip dengan batu nisan yang
terdapat di Bengal. Ini menjadi alasan utamanya untuk menyimpulkan, bahwa asal
Islam yang datang ke Nusantara adalah wilayah Bengal. Dalam kaitannya dengan
“teori batu nisan “ ini, Fatimi mengeritik para ahli yang kelihatannya
mengabaikan batu nisan Siti Fatimah (bertanggal 475H/1082M) yang di temukan
di Leran, Jawa Timur.
Teori yang dikemukakan Marisson kelihatan mendukung pendapat yang di
pegang Arnold. Menulis jauh sebelum Marisson, Arnold berpendapat bahwa Islam
di bawa ke nusantara antara lain juga dari Coromandel dan Malabar. Ia
menyokong teori ini dengan menunjuk kepada persamaan mazhab fiqih di antara
kedua wilayah tersebut. Mayoitas Muslim di Nusantara adalah pengikut mazhab
Syafi'i, yang juga cukup dominan di wilayah Coromandel dan Malabar, seperti di
saksikan oleh Ibn Bathuthah ketika ia mengunjungi kawasan ini. Menurut Arnold,
para pedagang dari Coromandel dan Malabar mempunyai peran penting dalam
perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini mendatangi
pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu-Indonesia di mana mereka ternyata
tidak hanya terlibat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam.

A1-Islam&Kemuhammadiyahan(A1K)-UMM|4
Tetapi penting dicatat, menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan
satu- satunya tempat asal Islam di bawa, tetapi juga dari Arab. Dalam
pandanganya, para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka
dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi.
Meski tidak terdapat catatan-catatan kegiatan mereka dalam penyebaran Islam,
cukup pantas mengasumsikan bahwa mereka terlibat pula dalam penyebaran Islam
kepada penduduk Nusantara. Sebagian orang-orang Arab melakukan perkawinan
dengan wanita lokal, sehingga membentuk sebuah komunitas Muslim yang terdiri
dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal. Menurut Arnold, anggota-
anggota komunitas Muslim ini juga melakukan kegiatan-kegiatan penyebaran
Islam.
Teori tentang Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara terbukti
mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Ini dibuktikan misalnya oleh Marison.
Ia beraguman, meski batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di
Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau dari Bengal. Seperti di kemukakan
Fatimi itu tidak lantas berarti Islam juga didatangkan dari sana. Marison
mematahkan teori ini dengan menunjukan kepada kenyataan bahwa pada masa
Islamisasi Samudra-Pasai, yang raja pertamanya wafat pada 698 H/1297M,
Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian 699
H/1298M cambay, Gujarat ditaklukan kekuasaan Muslim. Jika Gujarat adalah
pusat Islam, yang dari tempat itu para penyebar Islam datang ke Nusantara, maka
Islam pastilah telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum kematian Malik
Al-Shalih, tegasnya sebelum 698/1297. marrison selanjutnya mencatat, meski
lancar Muslim menyerang Gujarat beberapa kali, masing-masing 415H/1024M,
574H/1178M, dan 595H/1197M, raja Hindu di sana mampu mempertahankan
kekuasaannya hingga 698H/1297M. mempertimbangkan semua ini, Marrison
mengemukakan teorinya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujarat,
melainksn di bawa para penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad
ke-13.

2. Teori Makkah
Teori ini dicetuskan oleh Hamka dalam pidatonya pada Dies Natalis
PTAIN ke-8 di Yogyakarta (1958), sebagai antitesis untuk tidak mengatakan
sebagai koreksi- teori sebelumnya, yakni teori Gujarat. Di sini Hamka menolak
pandangan yang mengatakan, bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13
dan berasal dari Gujarat. Selanjutnya Hamka dalam Seminar Sejarah Masuknya
Agama Islam di Indonesia (1963), lebih menguatkan teorinya dengan
mendasarkan pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa agama
Islam ke Indonesia, kemudian diikuti oleh orang Persia dan Gujarat. Gujarat
dinyatakan sebagai tempat singgah semata, dan Makkah sebagai pusat, atau Mesir
sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.
Hamka menolak pendapat yang mengatakan, bahwa Islam baru masuk
pada abad 13, karena kenyataanya di Nusantara pada abad itu telah berdiri suatu
kekuatan politik Islam, maka sudah tentu Islam masuk jauh sebelumnya yakni
abad ke-7 Masehi atau pada abad pertama Hijriyah.
Guna mengikuti lebih lanjut mengenai pendapat tentang masuknya Islam
ke Nusantara abad ke-7, perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu tentang
peranan bangsa Arab dalam perdagangan di Asia yang dimulai sejak abad ke-2
SM. Peranan ini tidak pernah dibicarakan oleh penganut teori Gujarat. Tinjauan
teori Gujarat menghapuskan peranan bangsa Arab dalam perdagangan dan
kekuasaannya di lautan, yang telah lama mengenal samudera Indonesia dari pada
bangsa-bangsa lainnya.
T.W. Arnold dalam The Preaching of Islam: a History of the Propagation
of the Muslim Faith menulis bahwa bangsa Arab sejak abad ke-2 SM telah
menguasai perdagangan di Ceylon. Pendapat ini sama dengan pandangan Cooke
seperti yang dikutip oleh Abdullah bin Nuh dan D. Shahab, ketika menjadi
pembanding dalam "Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia". Memang
dalam informasi sejarah tersebut, tidak disebutkan lebih lanjut tentang sampainya
di Indonesia, tetapi menurut Suryanegara bila dihubungkan dengan penjelasan
kepustakaan Arab kuno di dalamnya disebutkan al-Hind sebagai India atau pulau-
pulau sebelah timurnya sampai ke Cina, dan Indonesia pun disebut sebagai pulau-
pulau Cina, maka besar
kemungkinan pada abad ke-2 SM, bangsa Arab telah sampai ke Indonesia.
Bahkan sebagai bangsa asing yang pertama datang ke Nusantara. Karena bangsa
India dan Cina baru mengadakan hubungan dengan Indonesia pada abad 1 M.
Sedangkan hubungan Arab dengan Cina terjadi jauh lebih lama, melalui jalan
darat menggunakan "kapal sahara", jalan darat ini sering disebut sebagai "jalur
sutra", berlangsung sejak 500 SM.
Kalau demikian halnya hubungan antara Arab dengan negara-negara Asia
lainnya, maka tidaklah mengherankan bila pada 674 M telah terdapat
perkampungan perdagangan Arab Islam di Pantai Barat Sumatera, bersumber dari
berita Cina. Kemudian berita Cina ini ditulis kembali oleh T.W. Arnold (1896),
J.C. van Leur (1955) dan Hamka (1958). Timbulnya perkampungan perdagangan
Arab Islam ini, karena ditunjang oleh kekuatan laut Arab.
Dari keterangan tentang peranan bangsa Arab dalam dunia perniagaan
seperti di atas, kemudian dikuatkan dengan kenyataan sejarah adanya
perkampungan Arab Islam di pantai barat Sumatera di abad ke-7, maka terbukalah
kemungkinan peranan bangsa Arab dalam memasukkan Islam ke Nusantara.
Selain itu, Hamka juga mempunyai argumentasi lain yang menjadikan
dirinya begitu yakin, bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari daerah
asalnya; Timur Tengah, yaitu pengamatannya pada masalah madzhab Syafi'i,
sebagai madzhab yang istimewa di Makkah dan mempunyai pengaruh terbesar di
Indonesia. Analisis pada madzhab Syafi'i inilah, yang menjadikan Hamka berbeda
dengan sejarawan Barat atau orientalis. Pengamatan ini dilupakan oleh para
sejarawan Barat sebelumnya, sekalipun mereka menggunakan sumber yang sama,
yakni laporan kunjungan Ibnu Battutah ke Sumatera dan Cambay. Tetapi karena
titik analisisnya adalah permasalahan perdagangan, sehingga yang terbaca adalah
barang yang diperdagangkan dan jalur perdagangannya. Sebaliknya Hamka lebih
tajam lagi merasuk pada permasalahan madzhab, yang menjadi bagian isi laporan
kunjungan tersebut.
Argumentasi Hamka ini tidak lepas dari kritik, diantaranya ialah adanya
kesulitan dalam membedakan antara ajaran Syi'ah dengan madzhab Syafi'i. Juga
adanya kenyataan peninggalan upacara Syi'ah dalam masyarakat Indonesia
seperti, peringatan 10 Muharram atau Asyura dan Tabut Hasan Husain. Cara
membaca al- Qur’an pun lebih mempunyai kesamaan dengan Persia dibandingkan
dengan Arab.
Menanggapi kritikan di atas, Hamka mengingatkan kembali tentang sikap
umat Islam Indonesia yang menyukai sejarah Hasan Husain, dan juga
menampakkan kecintaan yang dalam terhadap keluarga Nabi Muhammad, tetapi
hal itu tidak berarti menganut paham Syi'ah. Selain itu, Hamka juga mengakui
adanya peninggalan ajaran Syi'ah di Indonesia, tetapi ia menolak dengan keras
usaha sementara sarjana terutama para orientalis yang mencoba memberikan
informasi sejarah, yang bertujuan memisahkan Islam Indonesia dengan Makkah
dan Arab dengan bahasa Arabnya.
Selain Hamka para sarjana barat Juga mengemukakan beberapa pendapat, bahwa
Islam juga di bawah langsung dari Arabia di pegang pula oleh Crawfurd,
walaupun ia menyarankan bahwa interaksi pnduduk Nusantara dengan kaum
Muslimin yang berasal dari pantai timur India juga merupakan faktor penting
dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara itu, Keijzer memandang Islam
di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan
penduduk Muslim di kedua wilalayah kepada mazhab Syafi’i. Teori Arab ini juga
dipegang oleh Niemanndan De Hollander dengan sedikit revisi; mereka
memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan
Hadhramaut. Sebagian ahli Indonesia setuju dengan “Teori Arab” ini . Dalam
seminar yang diselenggarakan pada 1969 dan 1978 tentang kedatangan Islam ke
Indonesia mereka menyimpulkan, Islam datang langsung dari Arabia, tidak dari
India, tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan dalam abad pertama hijriah
atau abad ke-7 Masehi.

3. Teori Persia
Pencetus teori ini adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat. Teori ini
berpendapat bahwa agama Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia,
singgah ke Gujarat,
sedangkan waktunya sekitar abad ke-13. Nampaknya fokus Pandangan teori ini
berbeda dengan teori Gujarat dan Makkah, sekalipun mempunyai kesamaan
masalah Gujaratnya, serta Madzhab Syafi'i-nya. Teori yang terakhir ini lebih
menitikberatkan tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan
masyarakat Islam Indonesia, yang dirasakan memiliki persamaan dengan Persia
(Morgan, 1963: 139-140). Di antaranya persamaan tersebut adalah: Pertama,
Peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syi'ah atas
syahidnya Husein. Peringatan ini berbentuk pembuatan bubur Syura. Di
Minangkabau bulan Muharram disebut bulan Hasan- Husein. Di Sumatera Tengah
sebelah barat disebut bulan Tabut, dan diperingati dengan mengarak keranda
Husein untuk dilemparkan ke sungai. Keranda tersebut disebut tabut diambil dari
bahasa Arab.
Kedua, adanya kesamaan ajaran antara Syaikh Siti Jenar dengan ajaran
Sufi Iran al-Hallaj, sekalipun al-Hallaj telah meninggal pada 310H/922M, tetapi
ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan Syeikh
Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.
Ketiga, penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab,
untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian al-Qur’an tingkat awal:
Bahasa Iran Bahasa Arab
jabar - zabar fathah
jer - ze-er kasrah
p'es - py'es dhammah

Huruf Sin yang tidak bergigi berasal dari Persia, sedangkan Sin bergigi
berasal dari Arab.
Kritikan untuk teori Persia ini dilontarkan oleh K.H. Saifuddin Zuhri. Ia
menyatakan sukar untuk menerima pendapat tentang kedatangan Islam ke
Nusantara berasal dari Persia. Alasannya, bila kita berpedoman pada masuknya
Islam ke Nusantara pada abad ke-7, hal ini berarti terjadi pada masa kekuasaan
Khalifah Umayyah. Saat itu kepemimpinan Islam di bidang politik, ekonomi dan
kebudayaan
berada di tangan bangsa Arab, sedangkan pusat pergerakan Islam berkisar di
Makkah, Madinah, Damaskus dan Bagdad, jadi belum mungkin Persia menduduki
kepemimpinan dunia Islam (Zuhri, 1979: 188).
Dari uraian tentang tiga teori masuknya Islam ke Nusantara di atas, dapat
dilihat beberapa perbedaan dan kesamaan yang dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, teori Gujarat dan Persia mempunyai persamaan pandangan
mengenai masuknya agama Islam ke Nusantara; yaitu berasal dari Gujarat.
Perbedaannya terletak pada teori Gujarat yang melihat ajaran Islam di Indonesia
mempunyai kesamaan ajaran dengan mistik di India. Sedangkan teori Persia
memandang adanya kesamaan dengan ajaran Sufi di Persia. Gujarat dipandangnya
sebagai daerah yang dipengaruhi oleh Persia, dan menjadi tempat singgah ajaran
Syi'ah ke Indonesia.
Kedua, dalam hal Gujarat sebagai tempat singgah, teori Persia mempunyai
persamaan dengan teori Makkah, tetapi yang membedakannya adalah teori
Makkah memandang Gujarat sebagai tempat singgah perjalanan perjalanan laut
antara Indonesia dengan Timur Tengah, sedangkan ajaran Islam diambilnya dari
Makkah atau dari Mesir.
Ketiga, teori Gujarat dan Persia keduanya tidak memandang peranan
bangsa Arab dalam perdagangan, juga tidak dalam islamisasi di Nusantara. Dalam
hal ini keduanya lebih memandang pada peranan orang India Muslim. Oleh
karena itu, bertolak dari laporan Marco Polo, keduanya meyakini Islam masuk di
Nusantara pada abad ke-13. Sebaliknya teori Makkah lebih meyakini Islam masuk
di Nusantara pada abad ke-7, karena abad ke-13 dianggap sebagai saat-saat
perkembangan Islam di Nusantara.
Keempat, dalam melihat sumber negara yang mempengaruhi Islam di
Nusantara, teori Makkah lebih berpendirian pada Makkah dan Mesir dengan
mendasarkan tinjauannya pada besarnya pengaruh madzhab Syafi'i di Indonesia.
Sedangkan teori Persia, meskipun mengakui pengaruh madzhab Syafi'i di
Indonesia, tetapi bagi teori ini, hal itu merupakan pengaruh madzhab Syafi'i yang
berkembang di
Malabar, oleh karena itu teori ini lebih menunjuk India sebagai negara asal Islam
Indonesia.
Walaupun analisa perbandingan terhadap tiga teori di atas, lebih
menampakkan tajamnya perbedaan dari pada persamaan, namun ada titik temu
yang bisa disimpulkan yakni, bahwa pertama, Islam masuk dan berkembang di
Nusantara melalui jalan damai (infiltrasi kultural), dan kedua, Islam tidak
mengenal adanya missi dalam ajaran Islam kewajiban berdakwah dan
menyampaikan pesan Ilahi adalah kewajiban setiap orang beriman bagaimana
dimana saja dan kapan saja karena reward yang begitu tinggi diberikan Allah
kepada orang Islam berhasil mengajak non Muslim masuk Islam tidak seperti
dijalankan oleh kalangan Kristen dan Katolik.
Yang mempunyai misi dan orang-orang tertentu yang telah disiapkan untuk
menjalankan misi yaitu mengkristenkan Pribumi

C. Tahap-tahap Perkembangan Islam di Nusantara

Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia

Sejarah mencatat bahwa kaum pedagang memegang peranan penting dalam


persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak Indonesia yang strategis
menyebabkan timbulnya bandar bandar perdagangan yang turut membantu
mempercepat persebaran tersebut. Di samping itu, cara lain yang turut berperan
ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh.

a. Penyebaran Islam melalui Peranan Kaum Pedagang

Permulaan saluran Islamisasi adalah perdagangan karena jiwa yang dimiliki


umat Islam khususnya bangsa Arab sejak zaman sebelum Islam dan didukung
semangat Islam menyebarkan Islam merupakan jihad mendorong Umat Islam
terlibat dalam dunia perdagangan sambil berdagang mereka mempunyai
berkewajiban untuk
menyebarkan agama yang mereka yakini kebenaran yaitu Islam yang dibawah
oleh Muhammad saw

Nusantara merupakan daerah yang terletak pada jalur perdagangan


Internasional sejak abad pertama masehi terus berlangsung pada Abad ke 7
hadirnya Islam di tanah Arab sampai abad ke 16 Masehi membuat pedagang-
pedagang muslim (Arab,Persia,dan India ) turut ambil bagian dalam perdagangan
dari negeri- negeri bagian barat tenggara timur benua asia .Saluran perdagangan
ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam
kegaitan perdagangan bahkan mereka memiliki saham dan kapal ( Badri Yatim
1993: 191 )
Seperti halnya penyebaran agama Hindu-Buddha, kaum pedagang
memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam, baik pedagang
dari luar Indonesia maupun para pedagang Indonesia. Para pedagang itu datang
dan berdagang di pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir. Malaka merupakan
pusat transit para pedagang. Di samping itu, bandar-bandar di sekitar Malaka
seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi para pedagang. Mereka tinggal di
tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk menunggu datangnya angin
musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran antar pedagang dari
berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk setempat. Terjadilah
kegiatan saling memperkenalkan adat- istiadat, budaya bahkan agama. Bukan
hanya melakukan perdagangan, bahkan juga terjadi asimilasi melalui perkawinan.
Mengutip pendapat Tomes Pires berkenaan dengan saluran Islamisasi
melalui perdagangan ini pesisir pulau Jawa .Uka Tjandrasasmita menyebutkan
bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukim dipesisir pulau Jawa yang
penduduknya masih kafir (Badri Yatim 1993 : 201 ) Di antara para pedagang
tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang umumnya beragama
Islam. Mereka mengenalkan agama dan budaya Islam kepada para pedagang lain
maupun kepada penduduk setempat. Maka, mulailah ada penduduk Indonesia
yang memeluk agama
Islam. Lama-kelamaan penganut agama Islam makin banyak. Bahkan kemudian
berkembang perkampungan para pedagang Islam di daerah pesisir.
Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian
menyebarkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya.
Akhirnya, Islam mulai berkembang di masyarakat Indonesia. Di samping itu para
pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah dengan penduduk setempat
sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam. Hal ini berlangsung terus
selama bertahun-tahun sehingga akhirnya muncul sebuah komunitas Islam, yang
setelah kuat akhirnya membentuk sebuah pemerintahaan Islam. Dari situlah lahir
kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

b. Penyebaran Islam melalui Peranan Bandar-Bandar di Indonesia

Bandar merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-


kapal dagang. Bandar juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga digunakan
sebagai tempat tinggal para pengusaha perkapalan. Sebagai negara kepulauan
yang terletak pada jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki banyak
bandar. Bandar- bandar ini memiliki peranan dan arti yang penting dalam proses
masuknya Islam ke Indonesia. Di bandar-bandar inilah para pedagang beragama
Islam memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada
penduduk setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu masuk dan pusat
penyebaran agama Islam ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-kota
pusat kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan
muara sungai.

Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh


menjadi kota bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai,
Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik,
Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore. Banyak pemimpin bandar yang
memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian banyak memeluk
agama Islam. Peranan bandar- bandar sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat
jejaknya. Para pedagang di dalam
kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri yang penempatannya ditentukan
atas persetujuan dari penguasa kota tersebut, misalnya di Aceh, terdapat
perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina, Gujarat, Arab, dan Pegu. Begitu
juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa kota- kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam
memiliki ciri-ciri yang hampir sama antara lain letaknya di pesisir, ada pasar, ada
masjid, ada perkampungan, dan ada tempat para penguasa (sultan).

c. Penyebaran Islam melalui Perkawinan

Para pedagang selain melakukan kontak perdagangan antara penduduk


pribumi mereka juga melakukan perkawinan karena perdagangan Internasional
membutuhkan waktu yang lama apalagi kapal yang digunakan untuk berlayar
sangat tergantung pada angin sehingga cukup lama mereka harus menunggu,
sebagai manusia yang normal tentu membutuhkan teman hidup sebagai saluran
biologis sekaligus untuk mempertahankan keturunan Dari sudut ekonomi para
pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari pada kebanyakan
pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama puteri-puteri bangsawan tertarik
untuk menjadi isteri saudagar- saudagar itu. Sebelum pernikahan mereka wajib di-
Islamkan lebih dahulu karena itu merupakan hukumnya wajib bagi yang mau
menikahkan terutama perempuan pribumi yang mau menjadi Isteri orang Islam
yang mendampingi pedagang Muslim. Setelah perkawinan mereka mempunyai
keturunan, maka lingkungan semakin luas
.Akhirnya dalam proses yang lama terbentuklah perkampungan, daerah-daerah
dan pada akhirnya timbul kerajaan-kerajaan Islam.Jalur perkawinan ini lebih
menguntungkan apalagi terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan
atau anak raja dan anak adipati, karena raja adipati atau bangsawan itu kemudian
turut mempercepat proses Islamisasi .Demikan yang terjadi antara Raden Rahmat
atau sunan Ngampel dengan Nyai Manila Sunan Gunung Jati dengan puteri
Kawunganten.Brawijaya dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah
(raja pertama Demak dan lain-lain (Badri Yatim 1993: 202 ).

d.. Penyebaran Islam melalui peran Para Wali dan Ulama

Salah satu cara penyebaran agama Islam ialah dengan cara berdakwah. Di
samping sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh.
Ada juga para mubaligh yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya.
Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama
mendatangi masyarakat sebagai objek dakwah, dengan menggunakan pendekatan
sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis
budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu,
para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan
Islam.

Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9


wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam
mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana.
Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik
tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan. Karena dekat dengan kalangan istana,
mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi).
Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut :

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang
ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik.
Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya,
Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.
3. Sunan Derajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama
di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.
4. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan
Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.
5. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang.
Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan
filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan
setempat.
6. Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura,
Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode
bermain.
7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah.
Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung
Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat
dengan rakyat jelata.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten,
Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar

e. Penyebaran Islam melalui Pondok Pesantren.

Sejak awal perkembangan Islam, pendidikan mendapat prioritas utama


masyarakat Islam .Disamping karena besarnya arti pendidikan, kepentingan
Islamisasi mendorong umat Islam melakukan pengajaran Islam kendati, sistem
yang sederhana dimana pengajaran yang diberikan dengan cara halaqah yang
dilakukankan ditempat-tempat ibadah semacam masjid, musholla bahkan
dirumah- rumah ulama (Hanun Asrohah 2001 : 144 )

Disamping tersebut diatas pendidikan Islam dilaksanakan secara informal


Seperti dikemukan didepan bahwa kedatangan Islam di Nusantara dibawah oleh
para pedagang muslim. Setiap ada kesempatan mereka memberikan pendidikan
dan ajaran Islam, pendidikan mereka berikan dengan perbuatan berupa contoh dan
suri teladan
sehingga masyarakat menghormati menyebabkan masyarakat tertarik dengan
Ajaran Islam. Begitulah para penganut Islam setiap ada kesempatan dimana saja,
kapan saja dan siapa saja .Sementara itu hampir setiap perkampungan Islam
ditempati kaum muslimin mereka mendirikan masjid untuk mendirikan shalat
wajib dan bahkan tiap- tiap kampung mereka mendirikan langgar untuk mengaji
Al-Qur’an dan tempat mengerjakan shalat wajib maupun shalat sunnat

Disamping langgar dan surau sebagai tempat proses Islamisasi dengan


mengenal dan membaca Al-qur’an yang diajarkan guru gaji tanpa dibayar dan
dipungut biaya. Dipusat pendidikan seperti ini surau dan langgar atau masjid
bahkan diserambi rumah guru berkumpul sejumlah murid besar dan kecil duduk
dilantai menghadap sang guru belajar mengaji hal seperti ini lebih dikenal adalah
halaqah (Hasbullah 1995 :23-24 )

Disampng peran para wali Sanga dan peran para guru-guru ngaji maka
penyebaran Islam juga dilakukan melalui Pondok pesantren. Pesantren yang
diselenggaraqkan oleh para guru agama maupun kiyai-kiyai dan ulama-ulama
.Dipondok pesanteren itulah para santri itu dibina diajarkan ilmu-ilmu agama
melalui pondok pesantren .Pondok istilah ini diambil dari bahasa Arab :Al-
Funduk yang berarti tempat bermalam atau penginapan (Arifin 1987: 185 )

Pondok Pesantren berkembang pada masa Islam itu terdiri dari rumah kecil
yang terletak disekitar masjid, pondok-pondok ini didirikan dengan uang wakaf
Pesantren sebagai suatu sistem pendidikan memiliki beberapa elemen (1 ) Pondok
(2 ) Masjid (3 ) Pengajaran Kitab Klasik (4 ) Santri dan (5 ) Kiyai .(Dhofir 1982 :
44)

1. Pondok adalah tempat tinggal para santri yang berwujud bangunan


semacam barak yang didalamnya dipisahkan atas bilik-bilik sebagai tempat
tempat tinggal para santri .Pondok ini biasanya terletak dilingkungan
pesantren tempat tinggal kiyai ,akan tetapi bisa dibangun masyarakat .
2. Masjid .Merupakan pusat kegiatan bagi pendidikan pondok pesantren
disamping sebagai tempat ibadah sholat 5 kali sehari semalam dan sholat
sunnah masjid juga digunakan tempat kegiatan lain yaitu ceramah dll.
3. Pengajaran kitab Klasik,kitab-kitab itu ditulis dalam huruf arab gundul
yang sering disebut kitab Kuning disamping itu juga diajarkan bahasa Arab
,Tafsir Al-Qur’an,Ilmu Kalam sampai pada Ilmu Thasawuf (mistik )
Didalam Pesanteren yang diajarkan hanya ilmu-ilmu Agama saja.
4. Santri adalah murid yang tinggal dipesantren para santri ini bermukim dan
menyerahkan diri pada para kiyai yang memungkinkan anak didik kiyai
dan mendapat kerelaan kiyai ini disebut barakah, karena menjadi jelas
tempat berpijak santri dalam menuntut ilmu (Arifin 1987 : 189 ) Para
santri ada dua macam ada santri kalong dan santri Mukim .Santri kalong
adalah santri yang bertempat tinggal dirumah orang tuanya sedangkan
santri mukim adalah santri yang bertempat tinggal dipondok
5. Kiyai merupakan satuan yang esensiel dari pesantren karena kiyai
merupakan sumber mutlak dari kekuasaan dan wewenang yang berlaku
dalam pesantren .Dari peranan Kiyai yang besar inilah mereka memperoleh
ngelmu . Hal ini dapat dilaksanakan karena umumnya Kyai memiliki
kepribadian yang kuat, terutama tekun dan pengusaan diri sehingga
tumbuh kharisma Kyai dihadapan para santrinya serta menjadi tokoh
kharismatik dihadapan santri dan masyarakat

Pesantren merupakan lembaga sosial dibidang pendidikan dan keagamaan


yang mengajarkan dan mengembangkan serta menyebarluaskan agama Islam
melalui pondok kepada santri santrinya .Kalau santri telah memenuhi persyaratan
tertentu dalam menguasai kitab kuning dan oleh kyai dianggap sudah memiliki
kemampuan menguasai Ilmu agama Islam maka diberi wewenang untuk
mendirikan pondok pesantren ditempat yang baru atau tempat asal mereka dan
dari sinilah terus menerus
perkembangan Islam yang disebarkan melalui pesantren dan malalui santri demi
santri.

Tersebarnya Islam sangat pesat, sehingga ini merupakan komponen yang


sangat strategis dalam menyiapkan kaderisasi ulama dan penyebaran Islam secara
pesat sampai sekarang bahkan dari pesantren melahirkan tokoh —tokoh yang
berkaliber Nasional maupun Internasional juga menjadi pemimpin Formal dan
Informal .

Kapan muncul pesantren pertama kali pertanyaan ini sulit dijawab, sebab
tidak ada bukti-bukti yang menunjukan kepada pesantren dalam pengertian
pesantren pesantren sekarang. Pada abad ke15 M, pesantren telah didirikan para
penyebar agama Islam, diantaranya Wali Sanga. Untuk menyebarkan agama
Islam, mereka mendirikan mesjid dan asrama untuk santri-santri. Dalam Babat
Tanah Djawi, dijelaskan bahwa di Ampel Denta Sunan Ampel telah mendirikan
lembaga pendidikan Islam sebagai tempat ngelmu atau ngaos pemuda Islam.
Sunan Giri setelah ngelmu kepada sunan Ampel mendirikan lembaga pendidikan
Islam di Giri. Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan Islam semakin
terebar sehingga dapat dikatakan bahwa lembaga-lembaga ini merupakan anak
panah penyebaran Islam di Jawa (Ashroha 1999: 145 )

Adapun lembaga pesantren yang dianggap paling awal dan telah


memainkan peranannya pada awal abad ke 19 adalah dua pesantren sebagaimana
tercatat dalam serat Centini :Pesantren Kara di Banten dan pesantren
Wanammarta di Jawa Timur
,kemudian sekitar seperempat akhir abad ke 19 berdiri pesantren Tegalsari di Jawa
Tengah (Dhofier dalam bukunya Nur Hakim 2003 :199 )

f. Penyebaran Islam melalui Tasawuf.


Penyebaran Islam melalui Tasawuf merupakan cara yang sangat efektif
untuk menarik pribumi masuk kedalam agama Islam, para Sufi atau pengajar-
pengajar Tasawuf mengajarkan Teosofi yang bercampur dengan ajaran yang
sudah dikenal lama masyarakat Indonesia. Mereka mahir soal-soal magis dan
mempunyai kekuatan yang menyembuhkan. Diantara mereka ada juga mengawini
putri-putri bangsawan setempat. Dengan tasawuf “bentuk” Islam yang diajarkan
kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka
yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah
dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahli Tasawuf yang memberikan ajaran
yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam adalah
Hamzah fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa.
ajaran mistik ini masih berkembang di Abad ke-19 bahkan diabad ke 20 M ini.
(Badri Yatim 1993: 202-203 )

g. Penyebaran Islam melalui kesenian.

Para Ulama kyai maupun para Sunan berusaha agar Islam mudah diterima
dengan berbagai metode diantaranya adalah melalui Kesenian,karena kesenian itu
merupakan hiburan bagi masyarakat pada zamannya sehingga kesenian ini
memiliki daya tarik yang sangat besar bagi kaum pribumi yang fungsinya adalah
menghibur sekaligus mengajak orang-orang yang menganut agama lama,masuk
Agama baru Yaitu Agama Islam, karena perbedaan yang sangat menyolok antara
Islam dengan agama Hindu yang dianggap sangat diskrimatif Islam datang dengan
membawa rahmat bagi Penduduk Asli Indonesia, salah satu kesenian yang
digunakan Sunan Kalijaga yang sangat mahir dalam mementaskan wayang
.Pementasan wayang ini bagi Penonton tidak dipungut biaya,tetapi ia meminta
para penonton mengikutinya mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda
masuk Islam, persyaratan masuk Islam cukup mengucapkan dua kalimat syahadat
inilah memudahkan para Penduduk masuk Islam.(Badri Yatiml903 )
Ceritra yang pertunjukan wayang sebagian diambil dari kisah ceritra
Mahabrata dan Ramayana .Epos Ramayana yang didalamnya menggambarkan
betapa hebatnya kerusakan suatu negara akibat dilampiaskan nya nafsu kelamin
yang dipresentasikan oleh tokoh “Rahwana “Demikian pula Epos Mahabrata yang
didalamnya menggambarkan betapa dahsyatnya kehancuran suatu negara akibat
diumbarnya keserakahan duniawi yang kelewat batas tanpa mengenal norma
sebagaimana yang diprsentasikan oleh tokoh permissieveness “Duryudana “
(Musthofa Kamal 2009 :139 ) Dalam cerita itu disisipkan ajaran Islam dan nama-
nama para pahlawan Islam .Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat Islamisasi
seperti sastera ( hikayat,babad dan sebagainya ),seni bangunan, dan seni ukir (
Badri Yatim 1993 :203.)

h. Penyebaran Islam melalui Kekuasaan (Politik )

Kekuasaan politik pada suatu masyarakat sangat menentukan


berkembangnya Agama Islam karena dengan kekuasaan inilah perkembangan
Islam mendapat dukungan dari para penguasa tanpa ada hambatan bahkan justru
mendapat angin segar dalam penyebarannya dan merupakan faktor yang sangat
penting dalam proses Islamisasi dalam masyarakat, pengaruh dari seorang pejabat
atau raja sangatlah dominan ketika raja memilih agama sebagai agama keyakinan
dan pilihannya maka rakyat pun berbondong-bondong mengikuti jejak
pemimpinnya Di Maluku dan Sulawesi Selatan kebanyakan rakyatnya masuk
Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu .Pengaruh politik Raja
sangat membantu tersebarnya Islam didaerah ini. Disamping itu baik di Sumatera
dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan Politik kerajaan-
kerajaan Islam memerangi kerajaan —kerajaan non Muslim. Kemenangan kerajaan
Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk
Islam (Badri Yatim 1993: 203 )
Kerajaan-Kerajaan Islam pertama di Indonesia yaitu Samudra Pasai yang
berdiri pada abad ke 13 masehi .pada abad ke 15 dan 16 secara menyolok
bermunculan. Kerajaan-kerajaan Islam dikepulauan Nusantara seperti Malaka
Jambi,Demak,Cirebon,Banten,Ternate,dan Tidore,Banjarmasin,Mataram,dan
kerajaan Islam di Sulawesi Selatan seperti Gowa,Bone, dan lain-lain Kerajaan
kerajaan Islam di kepulaauan Nusantara pada abad ke 17 mencapai
puncak kejayaan seperti di Aceh ,Banten
Mataram,Gowa,Bone,Tallo,dan Ternate yang diikuti era kemunduran pada
abad ke 18 terutama kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa (Abdullah 1991:42 )

Sejak itu Islam terus berkembang dikepulauan Nusantara hingga


membentuk masyarakat muslim terbesar di Indonesia. Saat ini keberhasilan Islam
menjadi kekuatan mayoritas dan membentuk kebudayaan muslim yang
berpengaruh tidak lepas dari proses Islamisasi atau penyebarluasan Islam yang
berjalan secara cultural selain melalui kerajaan —kerajaan Islam, Islamisasi di
Nusantara merupakan bentuk penyebaran Islam melalui proses sosial-kultural dan
sosial —ekonomi yang dilakukan para penyebar dan saudagar Muslim di Nusantara.
(Kartodirjo,1993: 7 ). Islamisasi bukan sekedar berarti penerimaan ajaran secara
doktrinal tetapi sekaligus pengorbanan untuk akomodasi terhadap perubahan dan
tuntutan zaman dalam proses akultrasi yang normal tanpa kehilangan esensi dan
prinsip ajaran (Haedar Nashir 2010 : 54 ).

Apapun proses dan model Islamisasi itu berlangsung tetapi satu hal tidak
terbantahkan bahwa Islam telah memberikan pengaruh kuat dalam kebudayaan
masyarakat Indonesia setelah sebelumnya bersentuhan dengan pengaruh
animisme,dinamisme ,dan agama Hindu yang telah hadir sebelum kedatangan
Islam. Namun demikian proses Islamisasi itu tidak pernah selesai,sehingga corak
Islam yang hadir kepulauan nusantara juga menunjukan keragaman sejalan
dengan proses historis yang membentuk dan melatarbelakangi kehadiran Islam itu
disejumlah
lingkungan masyarakat dan kebudayaan ketika Islam itu hadir .Apa yang
diketemukan dalam Agama Jawa dalam istilah lain yaitu Kejawen Pergumulan
Islam ditengah pengaruh agama sebelumnya dan lingkungan kebudayaan yang
melingkari nya. Kendati dibelakang hari ketika Islam yang bercorak ortodiksi,
masuk dari Jazirah Arab pasca terbentuknya kekuasaan Saudi Arabiyah yang
bersinergi dengan Gerakan Wahabiyah,apa yang disebut agama orang Jawa atau
kejawen itu menjadi persoalan sendiri dalam proses Islamisasi lanjutan, yang
melahirkan dikhotomi atau polarisasi Islam santri versus Islam abangan
sebagaimana tesis Geertz (Haedar Nasdhir 2010 : 55 ).

Disamping itu temuan Koentyaraningrat, bahwa Islam telah menjadi


kekuatan integrasi nasional dalam sejarah kehidupan masyarakat Indonesia
lahirnya The Religion of Jawa sebagaimana tesis Clifford Geert, dari sisi lain
menunjukkan wajah damai dan kultural dari kehadiran Islam di Indonesia, kendati
sampai batas tertentu dari segi yang lain lagi menyisahkan ketegangan teologis
antara Islam puritan dan Islam jawa (Kejawen ) dalam proses dakwah Islam.
Dengan demikian secara keseluruhan kehadiran Islam di kepulauan Nusantara
menjadi faktor penting dan strategis dalam membangun integritas nasional dan
kebudayaan masyarakat Indonesia yang lebih relijius saleh dan harmonis.,
penyebaran Islam di Indonesia tidaklah statis dan linier, tetapi mengalami
dinamika proses yang gradual dalam pergumulan antara ajaran Islam dengan
bermacam-macam kebudayaan. Dalam kontek pergantian atau perubahan fase
sejarah yang dilalui Islam selalu terdapat kontinyuitas dan perubahan baik dalam
proses Islamisasi maupun kondisi atau keadaan umat Islam itu sendiri.(Haedar
Nashir 2010 : 60 ).

D. Corak Islam di Indonesia

Islam di Indonesia pada dasarnya memiliki corak dan karakter yang


beragam, baik dari sisi pemikiran maupun gerakan. Keragaman ini tercermin dari
jumlah
organisasi keislaman dan kelompok kepentingan atas nama Islam yang dari waktu
ke waktu semakin bervariasi.

Dari sisi gerakan dan organisasi massa, kita mengenal ada Nahdlatul
Ulama, Muhammadiyah, Persis, al-Washliyyah, al-Irsyad, Nahdlatul Wathan,
Perti, DDI, al- Khairat, Ijabi, dan lain-lain. Dalam organisasi kepemudaan, ada
PMII, HMI, IMM, Hima Persis, PII, KAMMI, dan sejenisnya. Sedangkan dalam
kelompok kepentingan, ada Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jama’ah
(pimpinan Ja’far Umar Thalib), DDII, FPI, Hizbut Tahrir, KISDI, Lasykar Jihad,
PPMI, Ikhwanul Muslimin, Majlis Mujahidin, dan lain-lain. Dalam partai politik,
ada PKB, PNU, PKNU, PKS, PPP, PSI, PMB, PAN, PBB, dan lain-lain.

Sedangkan dari sisi pemikiran, kita mengenal ada sejumlah kategori yang
biasa dilekatkan dalam pemikiran Islam di Indonesia, yakni Islam tradisionalis,
Islam modernis, Islam neo-tradisionalis, Islam neo-modernis, Islam liberal, Islam
post- tradisionalis, Islam radikal, Islam ekstrim, Islam moderat, Islam
fundamentalis, Islam kanan, Islam kiri, dan sebagainya.

Semua varian yang disebutkan di atas dalam sejarah keindonesiaan tidak


jarang satu sama lain mengalami benturan, ketegangan, pergesekan, dan
persaingan yang sangat dinamis. Dinamika itu terjadi didorong oleh banyak
faktor. Di antara faktor yang dominan adalah perebutan kekuasaan (akses) politik
dan ekonomi. Relasi antar organisasi ini juga tidak simetris atau paralel, tetapi
seperti sarang laba-laba yang satu titik dengan titik lain bisa saling berhubungan.
Jaring laba-laba ini bukan untuk memperkuat atau melemahkan, melainkan
semata-mata untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Perubahan kultur dan orientasi keagamaan terjadi cukup signifikan di


negara- negara yang berpenduduk Muslim, terutama setelah terjadinya perubahan
geopolitik dunia pasca kolonialisme. Usai perang dunia ke-2, umpamanya, dunia
Islam, atau
tepatnya negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim, mulai melepaskan
diri dari kolonialisasi negara-negara Eropa dan kemudian menjadi negara yang
‘mandiri.’ Namun, seiring dengan semakin kuatnya ‘independensi’ politik
tersebut, sebagian besar dunia Islam justru semakin memperkuat sistem sosial-
politik yang mereka miliki dengan cara mengadopsi sistem yang telah eksis di
negara-negara Barat. Dalam konteks respons mereka terhadap modernisasi inilah,
di satu sisi, dan upaya untuk tetap menampilkan identitas tradisi mereka, di sisi
lain, varian baru muncul di kalangan Muslim.

Varian-varian baru Muslim yang muncul sebagai akibat dari respons yang
berbeda terhadap modernisasi tersebut muncul di berbagai negara, termasuk
Indonesia. Kasus di Indonesia boleh di bilang unik. Meski dianggap Islam
peripheral, Indonesia menyandang predikat negeri dengan populasi Muslim
terbesar di dunia. Sebagai negara yang sudah “mandiri” secara politik, Indonesia,
seperti halnya beberapa negara berpenduduk Muslim lainnya yang pernah menjadi
negara-negara Eropa, telah mengadopsi dan mereformulasi sistem sosial-politik
yang berkembang di Barat, dan pada saat yang sama Indonesia mengadopsi sistem
nilai berbasis agama dan moral-tradisi lokal. Tak pelak, Indonesia acap disebut
bukan negara sekular dan bukan pula “negara agama.” Posisinya yang seperti itu
jelas memberi peluang lebih besar untuk terjadinya pergulatan di kalangan
Muslim dalam mendefinisikan universalisme agama dan
mengimplementasikannya dalam ruang publik. Apalagi fakta menunjukkan bahwa
Indonesia juga adalah negara yang sangat plural dan multikultural.
Penulis ingin menekankan bahwa selain globalisasi modernitas, fenomena
yang berkembang saat ini menunjukkan terjadi pula “globalisasi agama” atau
sebagaimana Olivier Roy, dalam kajiannya tentang Islam, menyebutnya dengan
“internasionalisasi Islam” (l’internationale islamique) yang mengusung solidaritas
Muslim antar bangsa-bangsa (sur toutes les nations existantes et appellent a la
solidarité musulmane) melalui konsep umat yang memang menepikan batas
kebangsaan, etnis, dan kesukuan. Bila kita projeksikan lebih spesifik, boleh jadi
bahwa yang dimaksud dengan “internasionalisasi agama” (Islam) sesungguhnya
merupakan derivasi dari paham universalisme Islam yang dalam bahasa agama
diakomodasi melalui istilah rahmatan li al-‘alamin dan ummah. Konsep-konsep
universalisme bernuansa religius tersebut mau tidak mau harus berhadapan
dengan realitas masyarakat modern yang sudah terlebih dahulu meletakkan
institusi-institusi non-agama sebagai institusi formal mereka. Dan ini jelas
menjadi tantangan tersendiri bagi kaum Muslim yang memiliki cita-cita untuk
mengimplementasikan konsep universalisme Islam. Sebagaimana Fazlur Rahman
menyatakan, “the real challenge that the Muslim society has had to face and is still
facing is at the level of social institutions and social ethics...”[8] Ungkapan
Rahman tersebut tidaklah keliru ketika saat ini masih terbukti bahwa
mengimplementasikan gagasan universalisme agama secara formal dalam
institusi-instusi sosial dalam masyarakat Indonesia yang multikultural dan
multireligius, masih mengundang perdebatan di tingkat konsep maupun
aplikasinya.

Sebelum beranjak lebih jauh membahas konfigurasi pemikiran Islam di


Indonesia kontemporer, perlu dicatat bahwa di dunia Islam, proses modernisasi
terjadi di berbagai level. Fazlur Rahman mencermati tiga level modernisme yang
terjadi di dunia Islam, yakni modernisme intelektual, modernisme politik-hukum,
dan modernisme sosial-budaya. Ketiganya terkait dan berkelindan, meskipun
memiliki konsep dan objek pembaruan sendiri-sendiri. Sebagai contoh, reformasi
politik, hukum, sosial, dan budaya memberikan ruang terlebih dahulu untuk
adanya reformasi yang murni bersifat intelektual. Reformasi sosial dan budaya
seperti tentang individu, keluarga, dan institusi sosial lainnya juga membutuhkan
perubahan perangkat pendampingnya, yakni kebijakan politik dan hukum. Dalam
konteks inilah kita akan mencermati pergulatan intelektual di kalangan
masyarakat Islam di Indonesia yang menyangkut institusi sosial dan politik,
termasuk di dalamnya persoalan ruang publik dan ruang privat.
DAFTAR PUSTAKA

A.Syalabi ,Sejarah dan Kebudayaan Islam 1 Al Husna Zikra (Mutiara Sumber


Widya,Jakarta 1997.
Amir Hamzah,Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam,Perti,Persatuan
Bangil 1969.
Ahmad Mansur Menemukan Sejarah Penerbit Mizan 1995 Bandung
Asrohah Hanun, Sejarah Pendidikan Islam,logos Jakarta 2001.
Badri Yatim PT Raja Grafindo Persada Jakarta 2000
Clifford Geertz,Abangan,Santri,Priyai dalam masyarakat Jawa,Jakarta Pustaka Jaya
Helmiati ,Sejarah Islam Asia Tenggara Penerbit Zanafa 2011 Bandung.
Moh Nurhakim,Sejarah dan Peradaban Islam UMM Pres 2003
MT Arifin Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah Dalam Pendidikan Pustaka Jaya
1987 Jakarta
Harry J.Benda “Kontinyutas Dan Perobahan Dalam Islam Di
Indonesia:dalam Taufik Abdullah,editor Islam Di Indonesia
,Jakarta,Tintamas Indonesia,1974. Haedar Nashir,Muhammadiyah Gerakan
Pembaharu,Suara Muhammadiyah
Yogyakarta 2010.
Hasbullah ,Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia Penerbit RajaGrafindo Persada
Jakarta 1999
Koentyaraningrat,Kebudayaan Jawa Balai Pustaka Jakarta 1984.
Michael H.Hart Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah
,Pustaka Jakarta (Diterjemahkan oleh H.Mahbub Djunaidi 1982 .
Musthofa Kamal Pasha dkk Fikih Islam,Citra Karya Mandiri Yogyakarta
2002 Nurdin Hasan ‘Pendidikan Muhammadiyah Kontemporer Kajian Visi
dan
Implementasinya (Tesis Pasca Sarjana) UMM 2000 .
Taufik Abdullah editor,Islam di Indonesia ,Jakarta .Tintamas 1974.
Sartono Kartodirjo,Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500- 1900
dari
Imperium Sampai Imperium,Jilid 1,Jakarta ,Gramedia ,1993.
http://id.wikipedia.org/wiki/islam di Indonesia
http://ayuna.abatasa .com/post/detail/2196/sejarah-lahirnya-Islam-di-Indonesia.