Anda di halaman 1dari 11

Rendahnya Moral Peserta Didik Akibat Pergaulan Lingkungan Sosial

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata


kuliah: Kapita Selekta Pendidikan, Nilai, dan Moral
Dosen Pengampu:
Dra. Nina Nurhasanah, M.Pd

Disusun Oleh:

1. Maulana Ilman A. 1107618137


2. Larasati Eka Pratiwi 1107618139
3. Muhammad Mufti C.R 1107618140

Kelas: E 2018

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH


DASAR FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN UNIVERSITAS
NEGERI JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Rendahnya Moral Peserta Didik
Akibat Pergaulan Lingkungan Sosial ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi penugasan
kelompok pada mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan, Nilai, dan Moral yang diampu oleh
Ibu Dra. Nina Nurhasanah, M.Pd. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah
wawasan tentang bagaimana permasalahan pendidikan moral pada siswa sekolah dasar di
Indonesia bagi para pembaca dan juga bagi penulis kami juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Jakarta, 10 Oktober 2020

Penulis (Kelompok 2)

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................... 3
A. Moral........................................................................................................... 3
B. Lingkungan Sosial ....................................................................................... 3
C. Pergaulan ..................................................................................................... 5
D. Moral Peserta Didik Akibat Pergaulan Lingkungan Sosial ........................... 5
BAB III PENUTUP .................................................................................................. 7
A. Kesimpulan ................................................................................................. 7
B. Saran ........................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Moral adalah pengetahuan atau wawasan yang menyangkut budi pekerti manusia
yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik, buruknya perbuatan dan
kelakukan. Moralisasi yaitu uraian “pandangan dan ajaran” tentang perbuatan serta
kelakuan yang baik. Demoralisasi yaitu kerusakan moral. Secara sederhana etika dan
moral keduanya memiliki makna yang sama yaitu bermakna apa yang dianggap baik
dan buruk suatu perbuatan. Lebih tepatnya moral diartikan sebagai akhlak dalam
bahasa agamanya, dan entah itu akhlak bertindak ataupun akhlak berucap. kemudian
disini orang yang berakhlak baik alias mampu mengenali mana yang baik dan buruk
sehingga tidak salah dalam bertindak dan bisa menjaga ucapannya tentu akan
disegani oleh orang-orang disekitarnya terlebih pada mereka yang menjadi sahabat.
Selanjutnya tidak jauh dari akhlak, dimana hal (akhlak) ini dipengaruhi oleh
lingkungan sekitar sehingga dikatakan lingkungan menjadi hal yang bersifat
fundamental dalam memengaruhi segala aspek kehidupan seseorang.
Sosial, budaya, adat, Gaya bahasa, cara bertindak, bahkan memanusiakan
manusia alias memperlakukan sesamanya demikian tidak terlepas dari pengaruh
lingkungan masing-masing orang. Seseorang yang mampu memposisikan moral
dengan tepat disebut orang arif atau bijaksana. Seringkali orang bijaksana bisa
mengukur dengan tepat kapan ia bertindak dan kapan ia berkata, dengan maksud agar
lawan bicaranya dan orang disekitar tidak salah dalam menangkap hasil
penyimakannya terhadap dirinya ketika berbuat dan berkata-kata. Belakangan ini
pendidikan moral sudah mulai luntur atau hampir sudah tidak diajarkan dalam dunia
pendidikan karena akibat dari global warming. Kita bisa menjumpai saat ini banyak
sekolah atau dunia pendidikan yang hanya mementingkan prestasi muridnya dan
mengesampingkan pendidikan moral yang lebih penting dari prestasi tersebut.
Melihat situasi yang semakin tak terkontrol dan semakin menimbulkan banyak

1
penyimpangan yang tak terduga. Pendidikan moral harus ditekankan lagi baik dalam
dunia pendidikan, keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitar.
Dalam hal ini baik dari pendidikan, keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar
harus saling bekerja sama satu sama lain dan saling mendukung untuk mewujudkan
pendidikan moral yang harus diajarkan dan diterapkan sedini mungkin. Dengan
harapan pendidikan moral tersebut tertanam dan menjadi kebiasaan generasi muda
supaya menjadi pedoman dan pondasi pada diri mereka ketika mereka ingin
melakukan sesuatu dan agar mereka tidak menyimpang dari perilaku sosial yang ada.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan moral?
2. Apa yang dimaksud dengan lingkungan sosial?
3. Apa yang dimaksud dengan pergaulan?
4. Bagaimana moral peserta didik akibat pergaulan lingkungan sosial?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui makna dari moral.
2. Mengetahui makna dari lingkungan sosial.
3. Mengetahui makna dari pergaulan
4. Menjelaskan bagaimana moral peserta didik akibat pergaulan lingkungan sosial.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Moral
Kata moral berasal dari bahasa latin Mores, jamak dari kata mos yang
mempunyai arti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Arab, moral diartikan
sebagai Akhlak yang mempunyai makna tabiat, adat istiadat, dan perilaku (Mansyur
Ali Rajab, 1983:11).
Moral atau akhlak merupakan inti dari semua ajaran yang yang diturunkan
Tuhan, sehingga banyak para tokoh agama yang memberikan definisi tentang moral
atau akhlak ini. Seperti Ibnu Miskawaih (932-1030 M) dan Al-Ghazali (1058-1111
M) mendefinisikan akhlak sebagai sikap batin yang memiliki kekuatan untuk
mendorong manusia secara langsung untuk melakukan tindakan kebaikan tanpa
memikirkan pertimbangan terlebih dahulu.
Dalam pengertian umum, moral adalah hal yang berhubungan dengan prinsip-
prinsip pertimbangan antara yang benar dengan yang salah yang berkaitan dengan
tingkah laku dan karakter setiap individu (Abdul Hasim, 2000). Dapat disimpulkan
bahwa moral adalah sesuatu yang mengarah kepada perasaan, sikap, dan tanggung
jawab yang berlandaskan pada pertimbangan benar dan salah yang didasari keyakinan
pribadi setiap individu. Moral setiap individu tidak terlahir begitu saja, pada dasarnya
manusia memiliki dua potensi yaitu potensi baik dan potensi buruk, bahkan potensi
buruk itu cendrung lebih kuat. Potensi buruk tersebut dapat diminimalisir pada diri
individu dengan cara membentuk moral seseorang menjadi baik dengaan usaha-usaha
konkrit, dan peran ini diambil oleh lembaga pendidikan yang dikemas dalam
pendidikan moral.

B. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah tempat dimana masyarakat saling berinteraksi dan
melakukan sesuatu secara bersama-sama antar sesama maupun dengan

3
lingkungannya. Lingkungan sosial terdiri dari beberapa tingkat. Tingkat yang paling
awal adalah keluarga, dari keluarga kita diajari cara, sikap, dan sifat untuk
berinteraksi dengan orang lain di dalam maupun di luar keluarga, contohnya
berinteraksi dengan saudara jauh, tetangga dan orang-orang yang berada di
lingkungan tempat tinggal kita.
Tingkat selanjutnya adalah sekolah, dimana kita bisa mengembangkan
pelajaran bersosialisasi yang diberikan dari keluarga di rumah ke lingkungan sekolah,
kita bisa berinteraksi dengan guru, karyawan sekolah, teman-teman sekolah maupun
pedagang yang menjajakkan jualannya di depan sekolah. Di dalam sekolah itu sendiri
ada organisasi yang bisa kita jadikan tempat untuk bersosialisasi lebih luas lagi seperti
organisasi kelas yang terdiri dari ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris, bendahara,
para seksi-seksi pelengkap kelas, dan siswa kelas itu sendiri, lalu ada osis atau
organisasi siswa yang terdiri dari kumpulan siswa sekolah tersebut, dari berbagai
tingkatan kelas, lalu ada ekskul-ekskul dengan berbagai macam jenis yang terdiri dari
bidang kesenian atau olahraga yang diberikan oleh sekolah, dan organisasi-organisasi
ini tetap diawasi dan dikoordinir oleh para guru dan kepala sekolah sebagai orang tua
di sekolah.
Ada pula dari tingkatan sekolah yang tertinggi yaitu perkuliahan, didalam
perkuliahan inipun ada organisasi-organisasi yang jangkauannya lebih luas dan
kitapun diberikan kebebasan lebih untuk mengungkapkan pendapat kita ke dalam
organisasi ini dan sebagai wadah untuk menyiapkan diri kita untuk terjun ke
lingkungan masyarakat.
Lalu ada tingkatan saat kita berada di lingkungan kerja saat kita sudah mulai
mandiri dan bisa menyumbangkan apresiasi dan ilmu kita ke dalam bidang perkerjaan
yang sesuai dengan kriteria yang ada dalam diri kita, yang kita sukai dan tekuni.
Lingkungan kerja adalah lingkungan yang akan mendekatkan kita ke lingkungan
yang paling luas jangkuannya.
Tingkatan paling akhir adalah lingkungan masyarakat yang kita akan temui
nanti saat kita sudah cukup siap dan dewasa untuk bisa terjun langkung ke dalamnya,
kitapun akan bisa lebih mengetahui bagaimana sikap, sifat dan masalah-masalah di

4
dalam lingkungan masyarakat yang saat kita berada di tingkat keluarga maupun
sekolah belum kita temui dan kita bisa terjun langsung ke dalam masyarakat dengan
bekal apa yang kita pelajari dari lingkungan sosial kita terdahulu yaitu keluarga dan
sekolah.

C. Pergaulan
Pergaulan berasal dari kata gaul. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gaul
adalah hidup berteman (bersahabat). Pergaulan merupakan proses interaksi yang
dilakukan oleh individu dengan individu atau individu dengan kelompok. Artinya,
manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain.
Pergaulan merupakan jalinan hubungan sosial antara seseorang dengan orang lain
yang berlangsung dalam jangka relatif lama sehingga terjadi saling mempengaruhi
satu dengan lainnya. Pergaulan merupakan kelanjutan dari proses interaksi
sosial yang terjalin antara individu dalam lingkungan sosialnya. Kuat lemahnya
suatu interaksi sosial mempengaruhi erat tidaknya pergaulan yang terjalin. Seorang
anak yang selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang lain dalam jangka waktu
relatif lama akan membentuk pergaulan yang lebih. Beda dengan orang yang hanya
sesekali bertemu atau hanya melakukan interaksi sosial secara tidak langsung.

D. Moral peserta didik akibat pergaulan lingkungan sosial


Pergaulan merupakan salah satu sarana bagi siswa untuk mewujudkan
eksistensi dirinya dengan orang lain. Setiap siswa membutuhkan orang lain untuk
membantu dirinya mengenal dan mempelajari lingkungannya. Oleh karena itu,
pergaulan bisa dijadikan ajang bagi siswa untuk melatih dirinya memahami orang
lain dan juga bisa dijadikan sebagai alat untuk membentuk pola kepribadiannya.
Aktivitas belajar tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi karena ada pengaruh atau
rangsangan dari luar dirinya yang memberikan dorongan untuk mengetahuinya.
Disamping itu, dorongan keingintahuan yang kuat dalam diri siswa juga bisa menjadi
pemicu atau faktor pendorong bagi siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

5
Pergaulan sehari-hari diyakini memiliki hubungan yang erat dengan keinginan siswa
untuk melakukan aktivitas belajar. Oleh karena itu, semakin baik pola pergaulan yang
dibangunnya, maka akan semakin baik aktivitas belajar dalam diri siswa. Pergaulan
yang baik akan membawa dampak yang baik bagi aktivitas belajar siswa.
Perkembangan moral siswa senantiasa terjadi selama ia memiliki pergaulan yang
cukup baik. Perkembangan moral sangat erat kaitannya dengan intensitas aktivitas
siswa baik di sekolah maupun dilingkungan tempat tinggalnya. Karena moral
merupakan bagian dari cerminan masyarakat yang dijadikan sebagai pegangan untuk
melakukan aktivitas, juga dijadikan pegangan dalam menentukan baik dan buruk
suatu perilaku atau perbuatan. Ukuran baik dan buruk dalam masyarakat selalu diukur
dengan moral, baik moral yang berasal dari ajaran agama (akhlak) maupun moral
yang berasal dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Aktivitas belajar siswa
baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat tidak terlepas dari pengaruh moral
yang berkembang pada lingkungan masing-masing tersebut. Oleh karena itu,
perkembangan moral diyakini memiliki hubungan yang sangat erat dengan aktivitas
belajar siswa. Semakin baik perkembangan moralnya maka semakin baik pula
aktivitas belajar yang dilakukan siswa.
Dengan demikian pengaruh lingkungan sosial terhadap perubahan moral
dapat disimpulkan bahwa memang memiliki banyak pengaruh. Baik itu berpengaruh
positif maupun negatif sebab lingkungan sosial memiliki peranan penting dalam
pembentukan membentuk pandangan nilai. Sikap anak juga memberikan pengaruh
terhadap perubahan moral. Lingkungan sosial merupakan wadah bagi anak untuk
bergaul ataupun bersosialisasi dengan lingkungan dan warga setempat. Lingkungan
sosial juga memiliki peranan sebagai wahana pendidikan non formal dalam rangka
memberikan ruang sosialisasi, sebab dengan bergaul, bertegur sapa dan
berkomunikasi secara tidak langsung kita dapat berbagi informasi. Lingkungan sosial
juga memungkinkan memberikan dampak atau pengaruh negatif apabila lingkungan
tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan kaidah norma yang
berlaku pada masyarakat.

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan
sosial dan moral. Lingkungan sosial memiliki peranan sebagai wahana pendidikan
non formal dalam rangka perubahan moral anak, sebab dengan bergaul, bertegur sapa
dan berkomunikasi secara tidak langsung kita dapat berbagi informasi.

B. Saran
Untuk menciptakan moral yang baik kita sebagai calon guru yang akan mengajarkan
pentingnya moral bagi generasi penerus bangsa, kita juga harus memiliki moral yang
baik pula. Karena pada dasarnya moral dapat dikembangkan melalu lingkungan sosial
baik itu di lingkungan sosial keluarga, sekolah, baik masyarakat, maka dari itu untuk
menghasilkan genereasi penerus bangsa yang bermoral kita sendiri harus berprilaku
sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang berlaku ketika kita berada di lingkungan
masyarakat sendiri.

7
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.lppm.unila.ac.id/6685/1/JURNAL_BERCHAH_PITOEWAS_UMPO.pdf

https://www.kompasiana.com/alfi43844/5dbbb9cc097f365aa831dc82/rendahnya-moral-
peserta-didik-akibat-problematika-pendidikan-moral-di-sekolah?page=2

http://ejournal.unp.ac.id/index.php/pnfi/article/viewFile/2428/2040